Dari berita-berita dan komentar pengamat yang simpang siur di berbagai media, sebagian besar mengatakan bahwa Jokowi adalah pemimpin sejati, bukan tipe-tipe politikus yang biasanya di identikkan dengan kelompok manusia yang jago bicara tapi implementasi kerjanya sulit dilihat. Namun demikian, menurut saya pribadi, Jokowi adalah seorang pemimpin biasa. Biasa karena memang seperti itulah seharusnya pemimpin. Kebanyakan orang mengelu-elukan Jokowi karena memang harus kita akui bahwa bangsa ini sangat kurang sosok yang bisa jadi panutan. Pemimpin kelas kacangan dan politikus busuk selalu mewarnai kehidupan kita sehari-hari, sehingga saat pemimpin "Normal" seperti Jokowi muncul ke permukaan, terkagum-kagumlah kita semua.
Melihat fenomena Jokowi ini, saya melihatnya dari sisi berbeda. Saya melihat bahwa kekuatan utama dari seorang Joko Widodo adalah kemampuan komunikasinya yang luar biasa, baik komunikasi horizontal (sesama elit politik) ataupun komunikasi vertikal (kepada rakyatnya). Dia bagaikan Adolf Hitler modern versi baik, seorang komunikator politik handal yang mengandalkan karir politiknya melalui kemampuan berkomunikasinya. Dia bukan tipe politikus yang mengandalkan kekuatan uang semata (seperti yang banyak ditunjukkan oleh elit politik kita sekarang ini), dan lebih mengedepankan seni berkomunikasi.
"Pencitraan", itulah apa yang sebagian orang katakan tentang Jokowi. Sejujurnya saya heran mengapa kata "pencitraan" menjadi berkonotasi negatif, padahal pencitraan itu sendiri selalu kita butuhkan. Semua manusia yang pernah terlahir di planet bumi selalu melakukan pencitraan dalam hidupnya, termasuk saya sendiri. Menggunakan pakaian bagus, kendaraan bagus, rumah bagus, berbicara sopan dan lain sebagainya adalah bentuk pencitraan yang kita lakukan sehari-hari. Apalagi orang dengan pekerjaan seperti Polisi, psikolog, guru dan semacamnya yang selalu melakukan pencitraan di depan klien nya. Intinya, pencitraan itu selalu ada dan selalu dibutuhkan.
Namun memang dasarnya Jokowi sekorang komunikator yang jago. Pencitraan yang dia lakukan memperoleh efek berbeda dengan apa yang dilakukan oleh presiden kita Pak SBY. Di saat SBY malang dalam periode kepemimpinannya yang kedua ini justru semakin mendapat banyak kecaman, baik di media ataupun masyarakat, seorang Jokowi yang juga melakukan pencitraan justru semakin mendapat support dan ketenaran yang luar biasa di republik ini. Apa penyebabnya?
Pertama-tama kita bahas SBY dulu....
SBY selaku pemimpin negara sudah sewajarnya melakukan pencitraan, presiden di negara manapun juga akan melakukan pencitraan. Namun kesalahan SBY adalah pencitraan SBY justru mempertontonkan eksklusivisme pejabat. SBY memperlihatkan kepada ratusan juta rakyat Indonesia bahwa seorang presiden selalu dikawal dengan super ketat kemanapun dia pergi, selalu memperoleh keistimewaan (termasuk keistimewaan bebas macet di jalanan Jakarta) dimanapun dia berada. SBY terlihat seperti jauh dari kenyataan rakyat Indonesia masih banyak hidup sulit dan menderita. Seperti raja-raja feodal di masa silam yang jauh dari penderitaan rakyatnya, SBY dianggap tidak dekat dengan rakyat.
Lihatlah saat SBY mengunjungi sebuah kota diluar Jawa: Jalanan ditutup, pengawalan luar biasa ketat yang membuat rakyat tidak bisa melakukan interaksi langsung dengan presidennya sendiri. Protokol ekstrim yang melingkupi presiden, dari ring 3 hingga ring 1 (lapisan keamanan presiden), membuat sang pemimpin 220 juta ini manusia terlihat seperti dewa yang sulit dijangkau oleh manusia biasa seperti saya. SBY juga kerap menggunakan istilah asing yang rumit saat berpidato, sehingga tidak semua pemirsa yang menyaksikan paham maksud kata-katanya. Kemewahan hidup yang ditunjukkan SBY juga semakin memperparah gap antara dunia khayangan SBY dengan dunia bawah masyarakat Indonesia.
Saya yakin, 100% yakin bahwa seorang SBY sudah bekerja setengah mati demi bangsa ini, namun bekerja tanpa pencitraan, apalagi dalam kapasitasnya sebagai seorang pemimpin politik, adalah sebuah ketidakseimbangan kepemimpinan. Apalagi jika pencitraan yang dilakukan SBY justru 180 derajat berlawanan dengan apa yang diinginkan dari rakyat, hancurlah sudah. Contoh ekses nyata dari ketimpangan antara kerja dengan pencitraan ini adalah saat ada wacana kenaikan harga BBM bersubsidi tahun 2012 silam. Rakyat menolak setengah mati kenaikan harga BBM bersubsidi padahal memang benar subsidi itu sangat membebani APBN. Kenapa? karena tidak ada trust (kepercayaan) rakyat terhadap pemerintah pusat. Pemerintah pusat dilihat rakyat sebagai kelompok demigod (manusia setengah dewa) yang tidak tahu penderitaan rakyat jika harga BBM bersubsidi naik. Pemerintah pusat telah gagal mendapatkan kepercayaan rakyatnya sendiri, sehingga apapun yang dilakukan pemerintah pusat selalu salah dimata rakyat.
"Pencitraan", itulah apa yang sebagian orang katakan tentang Jokowi. Sejujurnya saya heran mengapa kata "pencitraan" menjadi berkonotasi negatif, padahal pencitraan itu sendiri selalu kita butuhkan. Semua manusia yang pernah terlahir di planet bumi selalu melakukan pencitraan dalam hidupnya, termasuk saya sendiri. Menggunakan pakaian bagus, kendaraan bagus, rumah bagus, berbicara sopan dan lain sebagainya adalah bentuk pencitraan yang kita lakukan sehari-hari. Apalagi orang dengan pekerjaan seperti Polisi, psikolog, guru dan semacamnya yang selalu melakukan pencitraan di depan klien nya. Intinya, pencitraan itu selalu ada dan selalu dibutuhkan.
Namun memang dasarnya Jokowi sekorang komunikator yang jago. Pencitraan yang dia lakukan memperoleh efek berbeda dengan apa yang dilakukan oleh presiden kita Pak SBY. Di saat SBY malang dalam periode kepemimpinannya yang kedua ini justru semakin mendapat banyak kecaman, baik di media ataupun masyarakat, seorang Jokowi yang juga melakukan pencitraan justru semakin mendapat support dan ketenaran yang luar biasa di republik ini. Apa penyebabnya?
Pertama-tama kita bahas SBY dulu....
SBY selaku pemimpin negara sudah sewajarnya melakukan pencitraan, presiden di negara manapun juga akan melakukan pencitraan. Namun kesalahan SBY adalah pencitraan SBY justru mempertontonkan eksklusivisme pejabat. SBY memperlihatkan kepada ratusan juta rakyat Indonesia bahwa seorang presiden selalu dikawal dengan super ketat kemanapun dia pergi, selalu memperoleh keistimewaan (termasuk keistimewaan bebas macet di jalanan Jakarta) dimanapun dia berada. SBY terlihat seperti jauh dari kenyataan rakyat Indonesia masih banyak hidup sulit dan menderita. Seperti raja-raja feodal di masa silam yang jauh dari penderitaan rakyatnya, SBY dianggap tidak dekat dengan rakyat.
Lihatlah saat SBY mengunjungi sebuah kota diluar Jawa: Jalanan ditutup, pengawalan luar biasa ketat yang membuat rakyat tidak bisa melakukan interaksi langsung dengan presidennya sendiri. Protokol ekstrim yang melingkupi presiden, dari ring 3 hingga ring 1 (lapisan keamanan presiden), membuat sang pemimpin 220 juta ini manusia terlihat seperti dewa yang sulit dijangkau oleh manusia biasa seperti saya. SBY juga kerap menggunakan istilah asing yang rumit saat berpidato, sehingga tidak semua pemirsa yang menyaksikan paham maksud kata-katanya. Kemewahan hidup yang ditunjukkan SBY juga semakin memperparah gap antara dunia khayangan SBY dengan dunia bawah masyarakat Indonesia.
Saya yakin, 100% yakin bahwa seorang SBY sudah bekerja setengah mati demi bangsa ini, namun bekerja tanpa pencitraan, apalagi dalam kapasitasnya sebagai seorang pemimpin politik, adalah sebuah ketidakseimbangan kepemimpinan. Apalagi jika pencitraan yang dilakukan SBY justru 180 derajat berlawanan dengan apa yang diinginkan dari rakyat, hancurlah sudah. Contoh ekses nyata dari ketimpangan antara kerja dengan pencitraan ini adalah saat ada wacana kenaikan harga BBM bersubsidi tahun 2012 silam. Rakyat menolak setengah mati kenaikan harga BBM bersubsidi padahal memang benar subsidi itu sangat membebani APBN. Kenapa? karena tidak ada trust (kepercayaan) rakyat terhadap pemerintah pusat. Pemerintah pusat dilihat rakyat sebagai kelompok demigod (manusia setengah dewa) yang tidak tahu penderitaan rakyat jika harga BBM bersubsidi naik. Pemerintah pusat telah gagal mendapatkan kepercayaan rakyatnya sendiri, sehingga apapun yang dilakukan pemerintah pusat selalu salah dimata rakyat.
SBY tidak bisa disalahkan sendiri dalam kasus ketidakpercayaan rakyat Indonesia ini, pembantu-pembantunya di kabinet juga ikut berperan aktif dalam memupuk rasa tidak percaya rakyat Indonesia terhadap pemerintah pusat. Bagaimana rakyat mau percaya saat sang menteri berkoar-koar di media massa bahwa rakyat harus mencintai produk dalam negeri sendiri, namun sang menteri sendiri justru memakai pakaian dan aksesoris yang diimport dari luar negeri. Bagaimana rakyat mau percaya saat rakyat dihimbau untuk hemat energi dengan cara naik kendaraan umum dan mematikan listrik rumah yang tidak terpakai namun menteri-menteri termasuk presiden dan wakilnya malah berlomba-lomba menggunakan mobil mewah yang boros energi (bensin). Belum lagi kasus korupsi yang membelit elit kementrian dan partai sang presiden sendiri, habis sudah pencitraan yang dilakukan SBY.
Kesimpulannya, pencitraan yang dilakukan SBY beserta jajaran eksekutifnya telah salah total. Pencitraan yang dilakukan SBY terbalik dengan apa yang diharapkan rakyat dari presidennya. Tidak perduli segencar apapun pencitraan yang dilakukan SBY, namun jika tidak sesuai apa yang rakyat inginkan, hasilnya justru akan berkebalikan dari apa yang diharapkan SBY.
Bagaimana dengan pencitraan Jokowi?
Jokowi juga melakukan pencitraan, sama seperti SBY. Hanya saja bedanya, pencitraan yang dilakukan Jokowi sesuai dengan apa yang diinginkan rakyat, paling tidak untuk rakyat Solo dan Jakarta. Dengan menerobos pakem protokol yang kaku, Jokowi menunjukkan kepada rakyatnya yang jauh lebih sedikit daripada rakyatnya SBY bahwa dia adalah pemimpin yang paham permasalahan mendasar rakyat. Dia menolak berada dalam zona nyaman dibalik mobil mewah dan bodyguard nya. Dengan gaya blusukannya, yang praktis tanpa keistimewaan apapun yang menyertainya (termasuk hanya memakai sepatu kets bututnya dan kaos putih sederhananya yang dibelinya di pasar Klewer Solo), dia mendekatkan diri dengan masyarakat ekonomi terbawah, tanpa jarak samasekali.
Jokowi pun juga dengan sukses mencitrakan dirinya sebagai orang yang apa adanya dan sederhana dalam bertutur kata. Waktu ada warga yang tanya MRT itu apa, dengan spontan dia menjawab "kereta bawah tanah seperti yang di film itu lho", sebuah jawaban yang sangat sederhana namun cepat dimengerti seluruh lapisan rakyat. Bahasa sehari-hari Jokowi saat berinteraksi dengan rakyatnya juga berbeda dengan SBY, bahasanya cenderung bahasa Indonesia yang sangat sederhana plus logat Jawa yang medok. Jika SBY terlihat sangat serius setiap kali berbicara, Jokowi justru dapat dengan cerdas menempatkan diri antara keseriusan dengan humor. Saat blusukan tidak jarang Jokowi mengundang gelak tawa warga sekitar yang mengerubunginya.
Pencitraan Jokowi yang luar biasa ini juga turut dibantu oleh Ahok, sang wakil. Walaupun tidak semahir Jokowi dalam pencitraan, namun setidak pencitraan Ahok juga turut menyumbang kepercayaan rakyat Jakarta terhadap kepemimpinan Jokowi. Rakyat Jakarta yang selama ini sudah muak dengan mark-up biaya pembangunan, direspon dengan baik oleh Ahok. pertama, Ahok menantang dinas PU untuk memotong anggaran sebesar 25% dari anggaran awal atau Ahok sendiri yang akan menghandle proyek tersebut. Walhasil dinas PU tidak berkutik dan terpaksa menyetujui pemotongan anggaran ini. Ahok juga mengancam akan memecat pegawai negeri yang mempersulit warga dalam mengurus surat-surat dan dokumen.
Lalu apa manfaat orang seperti Jokowi melakukan pencitraan? Dalam pengamatan saya, pencitraan yang dilakukan Jokowi adalah mendapatkan kedekatan dan kepercayaan dari rakyat Jakarta. Jokowi tampaknya belajar dengan baik dari kasus SBY yang mana SBY begitu jauh dan tidak dipercayai rakyatnya sendiri sehingga kebijakan krusial yang akan dilakukan rezim SBY justru mendapat tentangan keras dari rakyat (seperti kenaikan harga BBM bersubsidi). Jokowi sepertinya paham bahwa modal awal untuk menjalankan gebrakan-gebrakannya adalah dengan mendapatkan kepercayaan rakyatnya terlebih dahulu. Tanpa kepercayaan rakyatnya, program-programnya diyakini pasti akan mental karena ada kemungkinan dianggap tidak pro-rakyat kecil.
Seperti yang dilakukan Jokowi saat akan merelokasi PKL Banjarsari. Alih-alih hantam kromo langsung menggusur "stand" PKL disana, Jokowi justru mengundang makan para PKL tersebut hingga puluhan kali sebelum akhirnya berbicara mengenai penggusuran. Hal ini tentu saja merupakan pencitraan karena mengundang makan puluhan PKL selama 54 kali tentu memakan biaya sangat banyak dan bukan perkara mudah. Namun pencitraan ini menuai kesuksesan yang indah: PKL Banjarsari bahkan dengan senang hati mau direlokasi ke tempat yang sudah disediakan.
Kalaupun blusukan Jokowi ke kampung-kampung kumuh di Jakarta adalah sebuah pencitraan, so what? Tidak ada yang salah dengan itu karena rakyat pun menyukainya dan merasa dekat dengan Jokowi. Perasaan dekat rakyat dengan Jokowi membuat rakyat tidak akan segan untuk menceritakan uneg-unegnya sekaligus meningkatkan rasa percaya kepada Jokowi, yang pastinya merupakan modal emas dalam memimpin sebuah kota besar seperti Jakarta.
Bonus: Bedanya Pencitraan Jokowi Dengan Abu Rizal Bakrie...
Sedikit membahas perbedaan pencitraan Jokowi dengan Abu Rizal Bakrie (ARB) yang keduanya sama-sama sering masuk media massa (saya tidak menggunakan SBY karena dia justru sering dicecar di media massa).
ARB, pengusaha super kaya sekaligus pemilik TvOne sering melakukan pencitraan di TvOne ataupun ANTV. ARB sering masuk ke berita-berita di portal VIVA group karena memang dia mengiklankan diri disana, secara sengaja tidak perduli rating berita/iklan nya baik atau tidak. Dia mengeluarkan uang untuk menampilkan pencitraan dirinya sendiri di media massa. Wartawan tidak mengejarnya, justru dia yang mengajak wartawan untuk melakukan peliputan (saya yakinnya sih begitu, tapi kadang jika ada berita bagus juga bisa saja wartawan yang mengejarnya).
Sedangkan Jokowi, justru para wartawanlah yang setengah mati mengejarnya. Seperti yang saya katakan di awal tulisan ini bahwa hit views berita tentang Jokowi rata-rata sangat tinggi. Jokowi seperti sebuah barang dagangan yang laris, wartawan sebagai pedagangnya pun berlomba-lomba mengeksposnya tidak perduli fakta bahwa Jokowi sendiri pernah sedikit kesal gara-gara dikuntit wartawan tiap saat.
Lebih bagus yang mana antara pencitraan Jokowi dengan ARB? pilihan saya jelas jatuh ke pencitraan Jokowi. Jokowi diekspos gila-gilaan oleh berbagai media massa dengan GRATIS. Berbeda dengan ARB yang harus bayar untuk syuting dan bayar cameraman (walaupun sedikit), dan tidak semua media mau untuk mengeksposnya (karena memang kurang laku). Jokowi adalah News Maker, bukan self-marketer seperti ARB. Bahkan dibanding pencitraan SBY sang presiden republik inipun, level kemahiran Jokowi dalam melakukan pencitraan diri jauh diatasnya.
Lalu apa manfaat orang seperti Jokowi melakukan pencitraan? Dalam pengamatan saya, pencitraan yang dilakukan Jokowi adalah mendapatkan kedekatan dan kepercayaan dari rakyat Jakarta. Jokowi tampaknya belajar dengan baik dari kasus SBY yang mana SBY begitu jauh dan tidak dipercayai rakyatnya sendiri sehingga kebijakan krusial yang akan dilakukan rezim SBY justru mendapat tentangan keras dari rakyat (seperti kenaikan harga BBM bersubsidi). Jokowi sepertinya paham bahwa modal awal untuk menjalankan gebrakan-gebrakannya adalah dengan mendapatkan kepercayaan rakyatnya terlebih dahulu. Tanpa kepercayaan rakyatnya, program-programnya diyakini pasti akan mental karena ada kemungkinan dianggap tidak pro-rakyat kecil.
Seperti yang dilakukan Jokowi saat akan merelokasi PKL Banjarsari. Alih-alih hantam kromo langsung menggusur "stand" PKL disana, Jokowi justru mengundang makan para PKL tersebut hingga puluhan kali sebelum akhirnya berbicara mengenai penggusuran. Hal ini tentu saja merupakan pencitraan karena mengundang makan puluhan PKL selama 54 kali tentu memakan biaya sangat banyak dan bukan perkara mudah. Namun pencitraan ini menuai kesuksesan yang indah: PKL Banjarsari bahkan dengan senang hati mau direlokasi ke tempat yang sudah disediakan.
Kalaupun blusukan Jokowi ke kampung-kampung kumuh di Jakarta adalah sebuah pencitraan, so what? Tidak ada yang salah dengan itu karena rakyat pun menyukainya dan merasa dekat dengan Jokowi. Perasaan dekat rakyat dengan Jokowi membuat rakyat tidak akan segan untuk menceritakan uneg-unegnya sekaligus meningkatkan rasa percaya kepada Jokowi, yang pastinya merupakan modal emas dalam memimpin sebuah kota besar seperti Jakarta.
Bonus: Bedanya Pencitraan Jokowi Dengan Abu Rizal Bakrie...
Sedikit membahas perbedaan pencitraan Jokowi dengan Abu Rizal Bakrie (ARB) yang keduanya sama-sama sering masuk media massa (saya tidak menggunakan SBY karena dia justru sering dicecar di media massa).
ARB, pengusaha super kaya sekaligus pemilik TvOne sering melakukan pencitraan di TvOne ataupun ANTV. ARB sering masuk ke berita-berita di portal VIVA group karena memang dia mengiklankan diri disana, secara sengaja tidak perduli rating berita/iklan nya baik atau tidak. Dia mengeluarkan uang untuk menampilkan pencitraan dirinya sendiri di media massa. Wartawan tidak mengejarnya, justru dia yang mengajak wartawan untuk melakukan peliputan (saya yakinnya sih begitu, tapi kadang jika ada berita bagus juga bisa saja wartawan yang mengejarnya).
Sedangkan Jokowi, justru para wartawanlah yang setengah mati mengejarnya. Seperti yang saya katakan di awal tulisan ini bahwa hit views berita tentang Jokowi rata-rata sangat tinggi. Jokowi seperti sebuah barang dagangan yang laris, wartawan sebagai pedagangnya pun berlomba-lomba mengeksposnya tidak perduli fakta bahwa Jokowi sendiri pernah sedikit kesal gara-gara dikuntit wartawan tiap saat.
Lebih bagus yang mana antara pencitraan Jokowi dengan ARB? pilihan saya jelas jatuh ke pencitraan Jokowi. Jokowi diekspos gila-gilaan oleh berbagai media massa dengan GRATIS. Berbeda dengan ARB yang harus bayar untuk syuting dan bayar cameraman (walaupun sedikit), dan tidak semua media mau untuk mengeksposnya (karena memang kurang laku). Jokowi adalah News Maker, bukan self-marketer seperti ARB. Bahkan dibanding pencitraan SBY sang presiden republik inipun, level kemahiran Jokowi dalam melakukan pencitraan diri jauh diatasnya.


