Backpacker atau dalam bahasa Indonesia mungkin dapat saya artikan sebagai wisatawan ransel adalah sebutan untuk para wisatawan yang (biasanya) menggunakan ransel dalam bepergian. Bisa juga saya artikan sebagai mereka wisatawan yang cenderung suka memanfaatkan fasilitas-fasilitas murah, baik itu penginapan ataupun alat transportasi. Backpacker juga biasanya diterjemahkan sebagai mereka yang akrab berwisata dengan kendaraan umum yang relatif lebih murah ketimbang mencarter atau menggunakan kendaraan pribadi.
Belakangan ini istilah backpacker sedang populer, terutama bagi anak-anak muda yang suka berpetualang. Namun makin kesini saya justru melihat ada 2 macam backpacker: pertama, backpacker yang benar-benar backpacker dan kedua, backpacker wannabe, atau seperti itulah saya menyebutnya.
Backpacker sejati atau mereka yang benar-benar seorang backpacker adalah mereka yang umumnya tidak berkeberatan untuk menggunakan moda transportasi umum yang paling murah sekalipun. Katakanlah seperti Kereta Api Kelas Ekonomi yang dengan telinga saya sendiri mendengar beberapa orang menganggapnya sebagai kelas orang miskin dan tempat duduknya amit-amit (walaupun bagi saya kelas ekonomi jauh lebih nyaman ketimbang Metromini di Jakarta), adalah salah satu moda transportasi favorit para backpacker. Tidak masalah bagi seorang backpacker saat mereka harus menggunakan moda transportasi murah selama berjam-jam seperti Kereta Api Ekonomi ataupun Kapal Pelni. Jika menggunakan bus pun, seorang backpacker saya yakin tidak akan keberatan menggunakan bus ekonomi tanpa AC yang mungkin bagi beberapa backpacker wanna-be sungguh tidak manusiawi.
Sebenarnya karakteristik backpacker itu sendiri sudah tergambar dalam namanya sendiri: backpacker. Kenapa backpacker? Istilah ini merujuk pada sebuah alat yang bernama backpack, atau ransel dalam bahasa Indonesia. Backpack ini sifatnya praktis: efisien, mobile, serta kuat. Efisien karena dia hanya cukup digendong di punggung dan bisa membawa barang banyak serta tidak merepotkan kedua tangan kita. Mobile karena backpack mudah dibawa dan ditaruh. Kuat karena seperti yang kita tahu bahwa tas ransel itu bisa membawa hampir apapun, mulai dari kertas, baju hingga barang-barang lainnya. Karakteristiknya yang efisien, mobile dan kuat inilah yang menggambarkan seorang backpacker.
Backpacker harus mobile, karena dia tidak bisa dimanjakan oleh alat transportasi pribadi. Backpacker harus siap sedia kapanpun kendaraan umum (dan kesempatan tentunya) akan membawanya. Backpacker harus efisien, kedua tangannya tidak boleh direpotkan karena memegang tas koper atau travel bag karena bisa asja tangannya harus memegang kompas, map, handphone, air minum atau peralatan lain yang digunakan untuk berpetualang. Backpacker, pastinya, harus kuat mental dan fisik: secara mental dia harus bersiap dengan segala kemungkinan yang tidak baik (mulai dari korban tindak kejahatan, keterlambatan angkutan, masalah dengan orang lain dll) dan begitupun dengan fisiknya (jalan kaki, berdiri dalam kendaraan umum, tidur dimanapun uang dan waktu mengizinkan dll).
Masalahnya kini adalah banyak orang mengklaim diri sebagai backpacker namun tidak kuat secara fisik dan mental untuk bisa disebut backpacker. Bukan masalah sih, tapi terkadang suka geli dan lucu sendiri melihat orang gembar gembor kesana-kemari sebagai backpacker tapi baru naik kereta api ekonomi jarak jauh sekali langsung menyerah dan kapok. Kalau memang seorang backpacker itu nyaman dan santai, untuk apa diberi nama backpacker yang identik dengan backpack? Kalau backpack nyaman dan santai, toh bisa saja menggunakan koper jinjing atau travel bag yang kalah praktis dengan backpack, dan tentunya tidak perlu memakai istilah backpacker.
Bagiku, backpacking adalah sebuah proses berpetualang yang menempa mental dan fisik kita tentunya. Walaupun kita semua mungkin menyukai petualangan, secara mental dan fisik, tingkatannya berbeda dan tidak semua orang sanggup menjalaninya. Saya telah membuktikan sendiri, melihat dengan mata kepala sendiri bahwa beberapa orang (setidaknya kawan-kawanku) yang mengklaim diri sebagai backpacker namun ternyata mereka sama persis seperti traveller koper lainnya. Beberapa orang menganggap kesulitan dalam perjalanan adalah bagian dari petualangan itu sendiri dan mereka menikmatinya, sedangkan beberapa orang lainnya yang aku sebut sebagai backpacker wannabe, melihat kesulitan sebuah sebuah kesusahan yang seharusnya tidak mereka dapatkan.
Agak menjengkelkan sejujurnya backpacker wannabe ini dalam pengalaman pribadiku. Bukan menjengkelkan karena mereka tidak biasa menggunakan moda transportasi dan penginapan seadanya, tapi menjengkelkan karena mereka malah merepotkan partner trip yang lain. Contohnya beberapa waktu lalu saat saya dan rombongan mengunjungi beberapa kota di Pulau Jawa. Saya dan kawan-kawan ini sudah membuat jadwal dan list kendaraan apa saja yang harus kami pergunakan. Namun sayang seribu sayang, salah seorang dari kami tidak kuat dengan perjalanan ini dan meminta kami menginap di hotel (ya hotel, bukan wisma atau homestay) dan menggunakan kendaraan pribadi (sewa mobil) dan pulang naik bus eksekutif (yang tentu saja diluar rencana finansial kami). Tentu saja orang ini membuat jadwal kami berantakan semuanya, karena kami harus mengantarkan dia ke hotel dan mencari bus (mustahil ditinggal karena dia perempuan). Hasilnya, beberapa tujuan wisata yang tadinya hendak kami kunjungi terpaksa harus dibatalkan karena kita harus mengejar jadwal kendaraan umum yang telah kami beli tiketnya.
Saran saya sebelum mencap diri sebagai backpacker, baiknya siapapun anda untuk dengan bijaksana menilai kemampuan diri anda sendiri. Apalagi jika harus berpetualang dengan pasangan, pahami bahwa "keribetan" anda di jalan nantinya juga akan banyak mengganggu partner anda. Lebih baik mengakui bahwa diri anda bukan seorang petualang daripada anda merepotkan partner-partner perjalanan anda nantinya.
Pacarmu (Bukan) Barangmu
Pacar...siapa dari kita yang pernah mempunyai pacar? Sebuah hubungan romantis yang indah (kadangkala) yang biasanya dilakukan pemuda-pemudi karena memang belum cukup usia dan kemampuan ekonomi untuk menikah. Pacaran, dilakukan oleh dua orang (lebih dari dua bisa dibilang selingkuhan). Seringkali yang saya temukan, baik itu pria ataupun wanita, memperlakukan pacar sebagai possession, atau dalam bahasa indonesianya: memperlakukan pacar sebagai sebuah barang miliknya. Yap, seperti anggapan populer yang mengatakan bahwa sekarang banyak pria yang memperlakukan pacarnya seperti Barbie Doll: mendandaninya, menelanjanginya, membantingnya sesuka hati. Bedanya, Boneka Barbie yang akan kubahas dalam tulisan ini cakupannya lebih luas untuk pria ataupun wanita.
Aku sebenarnya tidak merasa cukup qualified untuk menulis sebuah postingan blog dengan topik percintaan seperti ini, namun karena terinspirasi dari 2 hal: postingan blog kawanku mengenai "kepemilikan" pacar dan pengalaman diriku sendiri baik dimasa lalu ataupun kini yang sedang terjadi, maka aku memutuskan untuk menuliskan sebuah cerita yang samasekali bukan keahlianku namun sedang ingin kutulis....paling tidak menurutku.
Memperlakukan pacar sebagai barang, entah itu pria ataupun wanita, apakah dapat dibenarkan? Urusan benar salah adalah urusan eskatologis alias sesuatu diawang-awang (seperti prinsip dalam ilmu filsafat: Tidak ada sesuatu yang bersifat absolut), dan hal itu jelas bukan kapasitasku untuk menjustifikasi secara mutlak sebagai manusia biasa. Namun bagaimanapun, dalam opini pribadiku, memperlakukan pacar/kekasih sebagai barang milik adalah sesuatu yang kurang tepat. Well, kenapa?
Pertama, manusia bukan barang. Memperlakukan manusia sebagai sebuah barang yang dapat "dimiliki" oleh lain terdengar kurang bagus. Beberapa orang beranggapan bahwa dengan status pacar berarti si dia adalah miliknya mungkin mengalami penyakit sindrom halusinasi parah. Mungkin, ini mungkin lho ya, seorang yang menganggap pacarnya adalah barang adalah seorang megalomaniak yang terobsesi menjadi seorang diktator seperti Hitler, Stalin atau Caligula yang menguasai hajat hidup rakyat banyak namun tidak kesampaian, walhasil pacarnya lah yang menjadi "korban" atas obsesinya tersebut dengan cara dimiliki kebebasannya oleh sang megalomaniak itu tadi.
Manusia baik pria dan wanita adalah makhluk bebas, terlepas dari agama apapun yang lahir di planet bumi ini. Dalam konteks hubungan pacaran, yang bahkan dalam ilmu psikologi sama sekali tidak dianggap penting, manusia masih merupakan makhluk bebas. Seorang pacar tidak punya hak untuk mengatur hidup dan freewill pasangannya. Pacarmu adalah manusia, bukan barang: dia bisa saja ingin bermain bersama kawan-kawan lawan jenis, dia bisa saja bosan kepadamu, dia bisa saja menyukai lawan jenis lain selain dirimu, dia bisa marah, kecewa, sedih, senang, cinta kepada siapapun yang dia mau. Dan ketika itu terjadi, kita tidak bisa mengatur apapun apapun dari dia, karena sekali lagi: dia adalah manusia!
Kesetiaan manusia terhadap pasangan tidak bisa diukur dari kesetiaan saat berpacaran, karena sekali lagi, hubungan berpacaran dianggap sama dengan single dalam dunia psikologi. Sepanjang saya membaca literatur dan artikel psikologi yang berkaitan dengan cinta (dan saya bukan orang psikologi, silahkan konfirmasi ke mereka yang pakar psikologi), tidak ada satupun artikel yang menjabarkan penelitian yang membuktikan bahwa seorang yang tidak setia dengan pacarnya juga tidak setia dengan suami/istrinya saat telah menikah. Ketidaksetiaan pasangan suami istri lebih banyak didominasi masalah sexual dan perilaku pasangan, bukan karena latar belakang gonta ganti pacar.
Kadang saya pribadi lucu melihat orang yang memperlakukan pacar sebagai barangnya. Di Indonesia, kasus seperti itu masih sangat banyak dilakukan pria ataupun wanita, bahkan beberapa kawan dekatku "pernah" melakukannya (tapi sekarang sih kebanyakan teman-temanku single). Seorang pacar melarang pasangannya untuk ini itu sampai seakan-akan hidupnya hanya untuk pacarnya saja, kebebasan untuk melanglang buana seakan telah habis. Gemas dan kesal melihatnya, tapi apa daya, itu pilihan dia untuk hidup terkekang hanya demi seorang pacar. Well, pacar bukan suamimu yang mempunyai ikatan sosial, kamu masih bebas melakukan apapun dan mencintai siapapun yang kamu cintai.
Kedua, pacarmu itu siapamu? Hanya menembak dengan bunga, kata-kata manis, gombalan, puisi dan lain sebagainya lantas dia bisa dan merasa berhak untuk mengatur dan membatasi akses orang lain terhadap hidup mu? Maaf-maaf saja, bagiku dan bagi banyak orang lain di bumi, pacar itu bukan siapa-siapa. Bagi mereka yang berpikir bahwa pacar itu adalah hak milik ya silahkan saja, tapi jangan lupa bahwa ada orang lain dengan jumlah yang relatif sama yang berpikir sebaliknya sehingga mereka merasa sah-sah saja mendekati pacar orang lain tanpa ada rasa bersalah. Seorang kawanku (semoga dia membaca tulisan ini) berkata bahwa "selama belum menjadi istri, pacar orang lain itu berada dalam zona pasar persaingan sempurna, siapapun berhak mencintai dan dicintai dengan level yang sama tingkat akses terhadap dirinya yang sama pula".
Ada pengalaman sedikit beberapa tahun lalu saat saya masih mempunyai seorang pacar. Well, pacarku termasuk wanita populer dan banyak yang mendekati dia di kampusnya, dan saya tahu tentang hal ini. Namun saya tidak pernah sekalipun membatasi dia untuk dekat atau bergaul dengan siapapun. Bahkan ketika salah seorang yang menyukainya sejak dari SMA mengajaknya jalan, kuperbolehkan saja karena memang hak dia mau jalan dengan siapa. Kemudian saat dikampus dia ditembak pria lain, kupersilahkan dia memilih pria itu atau diriku, tanpa marah atau kondisi tegang dan bahkan saat membicarakan hal ini kami sedang makan-makan di Pizza Hut. Bahkan saat dia ketahuan menyukai pria lain (secara tidak sengaja ketahuan), saya hanya berkata bahwa itu adalah hak dia untuk mencintai siapapun jadi tidak perlu khawatir saya akan marah.
Mungkin beberapa orang akan beranggapan bahwa saya seakan-akan tidak mempertahankan cintaku padanya. In fact, saya masih sangat mencintainya saat itu dan saya pun juga sedih saat dia mulai menyukai pria lain. Tapi saya sadar sepenuhnya bahwa dia bukan siapa-siapaku, dia hanya pacarku. Dia bukan anakku, bukan istriku, bukan pula adikku. Dia hanyalah orang asing yang mempunyai hubungan intim denganku, that's all. Saat dia memutuskan untuk berteman dengan pria lain atau bahkan mencintai pria lain, maka itu adalah keputusannya dan kebebasan yang menjadi hak dia sebagai manusia yang bebas. Bagiku, mempertahankan cinta tidak termanifestasikan dalam larangan ini itu, apalagi larangan mencintai pria lain. Mempertahankan cinta bagiku adalah bagaimana bersikap, berperilaku yang baik sehingga sang pacar tetap nyaman berada dekat dengan kita. Bagaimana mau mempertahankan cinta jika sang pacar suka memukuli, berkata kasar atau kotor, mengekang dan sebagainya?
Saya tidak pernah mengenal istilah "merebut pacar orang". Istilah merebut pacar orang mempunyai makna seakan-akan manusia telah dimiliki manusia lain dalam hubungan pacar, dan ada orang lain yang merebut (mengambil secara paksa) pacar itu. Padahal kalau memang pacarmu ternyata menyukai wanita/pria lain itu artinya wanita/pria lain itu lebih baik darimu (bisa dalam berbagai hal: fisik, kecerdasan, harta benda, lokasi, perilaku, sifat, dll) atau memang ada sesuatu yang salah denganmu baik itu sengaja ataupun tidak disengaja. Akui saja bahwa hidup ini kejam, wanita/pria yang lebih unggul-lah yang akan menang, sesuai dengan teori Evolusi Darwin dan pasar persaingan sempurna Adam Smith. Jadi menurutku, tidak ada yang salah dengan arti dari istilah ngaco "merebut pacar orang" karena memang pacar itu bukan siapa-siapa.
Demikianlah kira-kira opiniku mengenai hubungan pacar yang sesungguhnya. Saya bisa saja salah atau bisa saja benar. Makna dari tulisanku ini kembali kepada kita masing-masing, apakah kita menganggap pacar itu benda atau makhluk bebas :)
Aku sebenarnya tidak merasa cukup qualified untuk menulis sebuah postingan blog dengan topik percintaan seperti ini, namun karena terinspirasi dari 2 hal: postingan blog kawanku mengenai "kepemilikan" pacar dan pengalaman diriku sendiri baik dimasa lalu ataupun kini yang sedang terjadi, maka aku memutuskan untuk menuliskan sebuah cerita yang samasekali bukan keahlianku namun sedang ingin kutulis....paling tidak menurutku.
Memperlakukan pacar sebagai barang, entah itu pria ataupun wanita, apakah dapat dibenarkan? Urusan benar salah adalah urusan eskatologis alias sesuatu diawang-awang (seperti prinsip dalam ilmu filsafat: Tidak ada sesuatu yang bersifat absolut), dan hal itu jelas bukan kapasitasku untuk menjustifikasi secara mutlak sebagai manusia biasa. Namun bagaimanapun, dalam opini pribadiku, memperlakukan pacar/kekasih sebagai barang milik adalah sesuatu yang kurang tepat. Well, kenapa?
Pertama, manusia bukan barang. Memperlakukan manusia sebagai sebuah barang yang dapat "dimiliki" oleh lain terdengar kurang bagus. Beberapa orang beranggapan bahwa dengan status pacar berarti si dia adalah miliknya mungkin mengalami penyakit sindrom halusinasi parah. Mungkin, ini mungkin lho ya, seorang yang menganggap pacarnya adalah barang adalah seorang megalomaniak yang terobsesi menjadi seorang diktator seperti Hitler, Stalin atau Caligula yang menguasai hajat hidup rakyat banyak namun tidak kesampaian, walhasil pacarnya lah yang menjadi "korban" atas obsesinya tersebut dengan cara dimiliki kebebasannya oleh sang megalomaniak itu tadi.
Manusia baik pria dan wanita adalah makhluk bebas, terlepas dari agama apapun yang lahir di planet bumi ini. Dalam konteks hubungan pacaran, yang bahkan dalam ilmu psikologi sama sekali tidak dianggap penting, manusia masih merupakan makhluk bebas. Seorang pacar tidak punya hak untuk mengatur hidup dan freewill pasangannya. Pacarmu adalah manusia, bukan barang: dia bisa saja ingin bermain bersama kawan-kawan lawan jenis, dia bisa saja bosan kepadamu, dia bisa saja menyukai lawan jenis lain selain dirimu, dia bisa marah, kecewa, sedih, senang, cinta kepada siapapun yang dia mau. Dan ketika itu terjadi, kita tidak bisa mengatur apapun apapun dari dia, karena sekali lagi: dia adalah manusia!
Kesetiaan manusia terhadap pasangan tidak bisa diukur dari kesetiaan saat berpacaran, karena sekali lagi, hubungan berpacaran dianggap sama dengan single dalam dunia psikologi. Sepanjang saya membaca literatur dan artikel psikologi yang berkaitan dengan cinta (dan saya bukan orang psikologi, silahkan konfirmasi ke mereka yang pakar psikologi), tidak ada satupun artikel yang menjabarkan penelitian yang membuktikan bahwa seorang yang tidak setia dengan pacarnya juga tidak setia dengan suami/istrinya saat telah menikah. Ketidaksetiaan pasangan suami istri lebih banyak didominasi masalah sexual dan perilaku pasangan, bukan karena latar belakang gonta ganti pacar.
Kadang saya pribadi lucu melihat orang yang memperlakukan pacar sebagai barangnya. Di Indonesia, kasus seperti itu masih sangat banyak dilakukan pria ataupun wanita, bahkan beberapa kawan dekatku "pernah" melakukannya (tapi sekarang sih kebanyakan teman-temanku single). Seorang pacar melarang pasangannya untuk ini itu sampai seakan-akan hidupnya hanya untuk pacarnya saja, kebebasan untuk melanglang buana seakan telah habis. Gemas dan kesal melihatnya, tapi apa daya, itu pilihan dia untuk hidup terkekang hanya demi seorang pacar. Well, pacar bukan suamimu yang mempunyai ikatan sosial, kamu masih bebas melakukan apapun dan mencintai siapapun yang kamu cintai.
Kedua, pacarmu itu siapamu? Hanya menembak dengan bunga, kata-kata manis, gombalan, puisi dan lain sebagainya lantas dia bisa dan merasa berhak untuk mengatur dan membatasi akses orang lain terhadap hidup mu? Maaf-maaf saja, bagiku dan bagi banyak orang lain di bumi, pacar itu bukan siapa-siapa. Bagi mereka yang berpikir bahwa pacar itu adalah hak milik ya silahkan saja, tapi jangan lupa bahwa ada orang lain dengan jumlah yang relatif sama yang berpikir sebaliknya sehingga mereka merasa sah-sah saja mendekati pacar orang lain tanpa ada rasa bersalah. Seorang kawanku (semoga dia membaca tulisan ini) berkata bahwa "selama belum menjadi istri, pacar orang lain itu berada dalam zona pasar persaingan sempurna, siapapun berhak mencintai dan dicintai dengan level yang sama tingkat akses terhadap dirinya yang sama pula".
Ada pengalaman sedikit beberapa tahun lalu saat saya masih mempunyai seorang pacar. Well, pacarku termasuk wanita populer dan banyak yang mendekati dia di kampusnya, dan saya tahu tentang hal ini. Namun saya tidak pernah sekalipun membatasi dia untuk dekat atau bergaul dengan siapapun. Bahkan ketika salah seorang yang menyukainya sejak dari SMA mengajaknya jalan, kuperbolehkan saja karena memang hak dia mau jalan dengan siapa. Kemudian saat dikampus dia ditembak pria lain, kupersilahkan dia memilih pria itu atau diriku, tanpa marah atau kondisi tegang dan bahkan saat membicarakan hal ini kami sedang makan-makan di Pizza Hut. Bahkan saat dia ketahuan menyukai pria lain (secara tidak sengaja ketahuan), saya hanya berkata bahwa itu adalah hak dia untuk mencintai siapapun jadi tidak perlu khawatir saya akan marah.
Mungkin beberapa orang akan beranggapan bahwa saya seakan-akan tidak mempertahankan cintaku padanya. In fact, saya masih sangat mencintainya saat itu dan saya pun juga sedih saat dia mulai menyukai pria lain. Tapi saya sadar sepenuhnya bahwa dia bukan siapa-siapaku, dia hanya pacarku. Dia bukan anakku, bukan istriku, bukan pula adikku. Dia hanyalah orang asing yang mempunyai hubungan intim denganku, that's all. Saat dia memutuskan untuk berteman dengan pria lain atau bahkan mencintai pria lain, maka itu adalah keputusannya dan kebebasan yang menjadi hak dia sebagai manusia yang bebas. Bagiku, mempertahankan cinta tidak termanifestasikan dalam larangan ini itu, apalagi larangan mencintai pria lain. Mempertahankan cinta bagiku adalah bagaimana bersikap, berperilaku yang baik sehingga sang pacar tetap nyaman berada dekat dengan kita. Bagaimana mau mempertahankan cinta jika sang pacar suka memukuli, berkata kasar atau kotor, mengekang dan sebagainya?
Saya tidak pernah mengenal istilah "merebut pacar orang". Istilah merebut pacar orang mempunyai makna seakan-akan manusia telah dimiliki manusia lain dalam hubungan pacar, dan ada orang lain yang merebut (mengambil secara paksa) pacar itu. Padahal kalau memang pacarmu ternyata menyukai wanita/pria lain itu artinya wanita/pria lain itu lebih baik darimu (bisa dalam berbagai hal: fisik, kecerdasan, harta benda, lokasi, perilaku, sifat, dll) atau memang ada sesuatu yang salah denganmu baik itu sengaja ataupun tidak disengaja. Akui saja bahwa hidup ini kejam, wanita/pria yang lebih unggul-lah yang akan menang, sesuai dengan teori Evolusi Darwin dan pasar persaingan sempurna Adam Smith. Jadi menurutku, tidak ada yang salah dengan arti dari istilah ngaco "merebut pacar orang" karena memang pacar itu bukan siapa-siapa.
Demikianlah kira-kira opiniku mengenai hubungan pacar yang sesungguhnya. Saya bisa saja salah atau bisa saja benar. Makna dari tulisanku ini kembali kepada kita masing-masing, apakah kita menganggap pacar itu benda atau makhluk bebas :)
Subscribe to:
Comments (Atom)

