Pacar...siapa dari kita yang pernah mempunyai pacar? Sebuah hubungan romantis yang indah (kadangkala) yang biasanya dilakukan pemuda-pemudi karena memang belum cukup usia dan kemampuan ekonomi untuk menikah. Pacaran, dilakukan oleh dua orang (lebih dari dua bisa dibilang selingkuhan). Seringkali yang saya temukan, baik itu pria ataupun wanita, memperlakukan pacar sebagai possession, atau dalam bahasa indonesianya: memperlakukan pacar sebagai sebuah barang miliknya. Yap, seperti anggapan populer yang mengatakan bahwa sekarang banyak pria yang memperlakukan pacarnya seperti Barbie Doll: mendandaninya, menelanjanginya, membantingnya sesuka hati. Bedanya, Boneka Barbie yang akan kubahas dalam tulisan ini cakupannya lebih luas untuk pria ataupun wanita.
Aku sebenarnya tidak merasa cukup qualified untuk menulis sebuah postingan blog dengan topik percintaan seperti ini, namun karena terinspirasi dari 2 hal: postingan blog kawanku mengenai "kepemilikan" pacar dan pengalaman diriku sendiri baik dimasa lalu ataupun kini yang sedang terjadi, maka aku memutuskan untuk menuliskan sebuah cerita yang samasekali bukan keahlianku namun sedang ingin kutulis....paling tidak menurutku.
Memperlakukan pacar sebagai barang, entah itu pria ataupun wanita, apakah dapat dibenarkan? Urusan benar salah adalah urusan eskatologis alias sesuatu diawang-awang (seperti prinsip dalam ilmu filsafat: Tidak ada sesuatu yang bersifat absolut), dan hal itu jelas bukan kapasitasku untuk menjustifikasi secara mutlak sebagai manusia biasa. Namun bagaimanapun, dalam opini pribadiku, memperlakukan pacar/kekasih sebagai barang milik adalah sesuatu yang kurang tepat. Well, kenapa?
Pertama, manusia bukan barang. Memperlakukan manusia sebagai sebuah barang yang dapat "dimiliki" oleh lain terdengar kurang bagus. Beberapa orang beranggapan bahwa dengan status pacar berarti si dia adalah miliknya mungkin mengalami penyakit sindrom halusinasi parah. Mungkin, ini mungkin lho ya, seorang yang menganggap pacarnya adalah barang adalah seorang megalomaniak yang terobsesi menjadi seorang diktator seperti Hitler, Stalin atau Caligula yang menguasai hajat hidup rakyat banyak namun tidak kesampaian, walhasil pacarnya lah yang menjadi "korban" atas obsesinya tersebut dengan cara dimiliki kebebasannya oleh sang megalomaniak itu tadi.
Manusia baik pria dan wanita adalah makhluk bebas, terlepas dari agama apapun yang lahir di planet bumi ini. Dalam konteks hubungan pacaran, yang bahkan dalam ilmu psikologi sama sekali tidak dianggap penting, manusia masih merupakan makhluk bebas. Seorang pacar tidak punya hak untuk mengatur hidup dan freewill pasangannya. Pacarmu adalah manusia, bukan barang: dia bisa saja ingin bermain bersama kawan-kawan lawan jenis, dia bisa saja bosan kepadamu, dia bisa saja menyukai lawan jenis lain selain dirimu, dia bisa marah, kecewa, sedih, senang, cinta kepada siapapun yang dia mau. Dan ketika itu terjadi, kita tidak bisa mengatur apapun apapun dari dia, karena sekali lagi: dia adalah manusia!
Kesetiaan manusia terhadap pasangan tidak bisa diukur dari kesetiaan saat berpacaran, karena sekali lagi, hubungan berpacaran dianggap sama dengan single dalam dunia psikologi. Sepanjang saya membaca literatur dan artikel psikologi yang berkaitan dengan cinta (dan saya bukan orang psikologi, silahkan konfirmasi ke mereka yang pakar psikologi), tidak ada satupun artikel yang menjabarkan penelitian yang membuktikan bahwa seorang yang tidak setia dengan pacarnya juga tidak setia dengan suami/istrinya saat telah menikah. Ketidaksetiaan pasangan suami istri lebih banyak didominasi masalah sexual dan perilaku pasangan, bukan karena latar belakang gonta ganti pacar.
Kadang saya pribadi lucu melihat orang yang memperlakukan pacar sebagai barangnya. Di Indonesia, kasus seperti itu masih sangat banyak dilakukan pria ataupun wanita, bahkan beberapa kawan dekatku "pernah" melakukannya (tapi sekarang sih kebanyakan teman-temanku single). Seorang pacar melarang pasangannya untuk ini itu sampai seakan-akan hidupnya hanya untuk pacarnya saja, kebebasan untuk melanglang buana seakan telah habis. Gemas dan kesal melihatnya, tapi apa daya, itu pilihan dia untuk hidup terkekang hanya demi seorang pacar. Well, pacar bukan suamimu yang mempunyai ikatan sosial, kamu masih bebas melakukan apapun dan mencintai siapapun yang kamu cintai.
Kedua, pacarmu itu siapamu? Hanya menembak dengan bunga, kata-kata manis, gombalan, puisi dan lain sebagainya lantas dia bisa dan merasa berhak untuk mengatur dan membatasi akses orang lain terhadap hidup mu? Maaf-maaf saja, bagiku dan bagi banyak orang lain di bumi, pacar itu bukan siapa-siapa. Bagi mereka yang berpikir bahwa pacar itu adalah hak milik ya silahkan saja, tapi jangan lupa bahwa ada orang lain dengan jumlah yang relatif sama yang berpikir sebaliknya sehingga mereka merasa sah-sah saja mendekati pacar orang lain tanpa ada rasa bersalah. Seorang kawanku (semoga dia membaca tulisan ini) berkata bahwa "selama belum menjadi istri, pacar orang lain itu berada dalam zona pasar persaingan sempurna, siapapun berhak mencintai dan dicintai dengan level yang sama tingkat akses terhadap dirinya yang sama pula".
Ada pengalaman sedikit beberapa tahun lalu saat saya masih mempunyai seorang pacar. Well, pacarku termasuk wanita populer dan banyak yang mendekati dia di kampusnya, dan saya tahu tentang hal ini. Namun saya tidak pernah sekalipun membatasi dia untuk dekat atau bergaul dengan siapapun. Bahkan ketika salah seorang yang menyukainya sejak dari SMA mengajaknya jalan, kuperbolehkan saja karena memang hak dia mau jalan dengan siapa. Kemudian saat dikampus dia ditembak pria lain, kupersilahkan dia memilih pria itu atau diriku, tanpa marah atau kondisi tegang dan bahkan saat membicarakan hal ini kami sedang makan-makan di Pizza Hut. Bahkan saat dia ketahuan menyukai pria lain (secara tidak sengaja ketahuan), saya hanya berkata bahwa itu adalah hak dia untuk mencintai siapapun jadi tidak perlu khawatir saya akan marah.
Mungkin beberapa orang akan beranggapan bahwa saya seakan-akan tidak mempertahankan cintaku padanya. In fact, saya masih sangat mencintainya saat itu dan saya pun juga sedih saat dia mulai menyukai pria lain. Tapi saya sadar sepenuhnya bahwa dia bukan siapa-siapaku, dia hanya pacarku. Dia bukan anakku, bukan istriku, bukan pula adikku. Dia hanyalah orang asing yang mempunyai hubungan intim denganku, that's all. Saat dia memutuskan untuk berteman dengan pria lain atau bahkan mencintai pria lain, maka itu adalah keputusannya dan kebebasan yang menjadi hak dia sebagai manusia yang bebas. Bagiku, mempertahankan cinta tidak termanifestasikan dalam larangan ini itu, apalagi larangan mencintai pria lain. Mempertahankan cinta bagiku adalah bagaimana bersikap, berperilaku yang baik sehingga sang pacar tetap nyaman berada dekat dengan kita. Bagaimana mau mempertahankan cinta jika sang pacar suka memukuli, berkata kasar atau kotor, mengekang dan sebagainya?
Saya tidak pernah mengenal istilah "merebut pacar orang". Istilah merebut pacar orang mempunyai makna seakan-akan manusia telah dimiliki manusia lain dalam hubungan pacar, dan ada orang lain yang merebut (mengambil secara paksa) pacar itu. Padahal kalau memang pacarmu ternyata menyukai wanita/pria lain itu artinya wanita/pria lain itu lebih baik darimu (bisa dalam berbagai hal: fisik, kecerdasan, harta benda, lokasi, perilaku, sifat, dll) atau memang ada sesuatu yang salah denganmu baik itu sengaja ataupun tidak disengaja. Akui saja bahwa hidup ini kejam, wanita/pria yang lebih unggul-lah yang akan menang, sesuai dengan teori Evolusi Darwin dan pasar persaingan sempurna Adam Smith. Jadi menurutku, tidak ada yang salah dengan arti dari istilah ngaco "merebut pacar orang" karena memang pacar itu bukan siapa-siapa.
Demikianlah kira-kira opiniku mengenai hubungan pacar yang sesungguhnya. Saya bisa saja salah atau bisa saja benar. Makna dari tulisanku ini kembali kepada kita masing-masing, apakah kita menganggap pacar itu benda atau makhluk bebas :)

Well said, Sir! Kalo dalam rumah tangga trus kepemilikan udah sah, lalu dibanting dan diinjak, hukumnya beda sama yang ini ya? :O
ReplyDeleteWell, it's different topic.... should write it in another subject.
ReplyDeleteWow...
ReplyDeleteGak sengaja nemuin blog ini dari kompas, dan terkejut sekali ternyata apa yang Anda tulis dan fikirkan sangat mirip dengan yang saya tulis dalam blog saya. Cuma memang, pengalaman dan intelejensi saya masih jauh di bawah Anda pak. Semoga saya dapat belajar banyak dari blog bapak.
Sepertinya banyak org spt kita, hanya saja memang kurang bersuara karena mungkin takut dianggap aneh.
Deletemengenai pengalaman n intelejensi sy kira semua org punya spesifikasi masing2. Salam :)
Borgata Hotel Casino & Spa - MapyRO
ReplyDeleteFind the best prices for Borgata Hotel 남원 출장마사지 Casino & Spa in Atlantic City. Book online or 천안 출장마사지 call (609) 여수 출장마사지 833-7555. For parking reasons, Borgata 포항 출장샵 Casino 통영 출장안마