Cintaku Dalam Almari

Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film "Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013.

Tiga belas tahun lalu aku berjalan dalam diam. Hening, dengan iringan gemerisik Beringin rimbun. Tiga meter depanku berjalan sesosok gadis berambut panjang hitam. Kala kulihat dia pertama, tak pernah terbesit dalam nalarku bahwa gadis berambut hitam legam ini yang kelak menjadi cinta tak berkesudahanku.

Dua tahun kemudian, kelas terakhirku dengan celana pendek biru, aku dipadu bersatu dengan Putri dalam sebuah kelas. Kami dekat dan kami teman, tidak lebih. Inilah juga saat dia memberiku Pensil itu, sebuah pensil penanda awal cinta abadiku padanya 11 tahun silam. Pensil yang masih kusimpan hingga detik aku menulis kisah ini tanpa pernah kugunakan kembali.

Pertemuanku dengan Putri singkat saja, terpisah oleh status pelajar bercelana biru yang telah usai. Aku tinggalkan biru untuk Sang abu-abu, menderu maju demi hidup baru. Namun tak pernah kukira, diriku kembali bersatu padu dengan Putri dalam kelas. Tak pernah timbul kesempatan & nyali untuk berkata rasa hatiku pada yang terkasih. Ku hanya mampu berkirim puisi tanpa nama, terpampang dalam mading sekolah yang hingga hari ini tak ada yang tahu itulah aku sang pujangga puisi.

Perpisahan tak pelak berlangsung, walaupun hatiku tak pernah terpisah. Perbedaan almameter pun bukan penghalang, antara Jakarta dan Depok, cinta ini tetap bersemi. Saat diriku memiliki kekasih, Mawar, relung hati tergelapku tak pernah bisa memisahkan Putri dari cintaku. Pertemuan pertama setelah 3 tahun kujalani dengan Mawar & Putri disebuah kantin penuh kenangan, diwarnai dengan keelokan Sang Putri yang makin mempesona & melenakan hati ini. Aku jahat, memang, saat masih menyimpan rasa Putri dengan kekasih nyata Mawar. Namun ku bukan Tuhan yang berkuasa atas rasa, ku manusia yang penuh nista dan suka.

Tak terhitung berapa tahun tak bertemu Putri sejak itu, namun ku tak pernah kehilangan asa atas Putri. Putri kini berada 5000 kilometer dari tempatku, sebuah negeri yang umum disebut negeri Gingseng, menuntut ilmu. Tak tahu apakah Putri akan kembali ke tempatnya besar yang terenggang hanya 0,8 kilometer dari gubug kecilku, ku bulatkan niat untuk melamarnya jika ia kembali ke tanah airnya, menetapkan cinta abadiku padanya tanpa ragu.

Dan Putri pun kembali

Ku tetapkan hati, beranikan diri, ikhlaskan hati untuk menjadikannya sebagai landasan cinta terakhirku. Ku ragu dia akan mau, tapi ku tak pantang maju. Hari itu pun tiba, dengan hentakan jantung yang nyaris meluluhlantakkan seluruh rusuk, ku nyatakan rasa yang telah terpendam 13 tahun lamanya dalam tirai besi hati. Dengan cincin berkaligrafikan My Angel, sebutan yang kupakai sebagai penanda arti dirinya bagiku, ku curahkan segala rasa dan cita ku padanya.

Dia menolakku

"Maaf aku tak bisa...aku harus kembali ke Korea, lanjutkan studi"

Baik apapun alasannya, Putri telah menolakku.

"Nanti saat sekolahku usai, mungkin..."

Apa? Sebuah Isyarat?

Baiklah Putri, seperti harapanmu, aku akan mencoba lagi nanti.

Jadi kini cincin dan pensil kenanganku dengan Putri masih ku simpan dalam almari, disebuah kardus kenangan. Sang cincin yang menunggu untuk disematkan ke dalam jari manisnya, dan sang pensil yang menunggu untuk kembali digunakan oleh pemiliknya yang terdahulu. Aku tak pernah sedikit pun merubah asa ini, bahwa cita cintaku ada dalam almari.

Jadi aku disini Putri, menunggu sediamu, karena cintaku belum usai.

Cintaku Dalam Almari

"Tidak perduli sejauh apa kita pergi, akan ada saat kita akan kembali ke kamar dan membuka Sang Almari, kadang untuk menyimpan barang berharga yang kita miliki..."

Banyak orang bilang, cinta anak kecil itu cinta monyet: bisa benar tapi juga tidak mungkin selalu benar. Aku tidak tahu apakah jika waktu kecil jatuh cinta dengan orang lain maka aku adalah monyet atau bagaimana, pastinya secara biologi aku tidak pernah masuk ke dalam spesies monyet

Namun lupakanlah sejenak perihal kemonyet-monyetan itu, dimana cerita ini semua bermula berbelas tahun silam saat aku masih duduk dengan polosnya dengan kemeja putih bersematkan kuningnya logo Tut Wuri Handayani. Saat diri ini masih kecil dan pemalu, saat itulah aku pertama kali merasa jatuh cinta. Bukan jatuh cinta biasa yang jatuh melayang lalu sakit menghantam bumi. Bukan pula cinta 1 Cawu yang akan terhempas ke tong sampah begitu terbang ke Cawu berikutnya. Cinta ini adalah cinta yang dengan sombongnya aku proklamasikan sebagai cinta seumur hidup!

Bunga, itulah nama perempuan itu. Pertama kali kulihat Bunga saat dia berjalan denganku disebuah gang menuju sekolah. Aku belum tahu namanya, apalagi tertarik padanya. Kami berdua saja berjalan dalam sunyi diiringi desir pohon Beringin yang kini telah ditebang. Aku hanya memperhatikannya sembari mengucap dalam sanubari:

"Cewek aneh ini suka aksesori yang serba besar, resliting tas yang besar dan jam tangan yang gigantisme".

Tidak pernah terlintas dalam pikiranku kala itu bahwa Perempuan yang kusebut aneh inilah yang sukses membuatku jatuh cinta hingga belasan tahun mendatang...

***

Di sebuah kelas yang diklaim oleh kepala sekolahku secara sepihak sebagai kelas unggulan yang berisi 39 manusia + 1 guru di sebuah sekolah menengah di Jakarta, disitulah aku duduk dengan malu-malunya. Terkejut namun biasa saja, saat tahu si gadis penyuka aksesori besar yang sering berpadu dalam gang sekolah kini bersatu ruang denganku.

Benih ketertarikan itu mulai lahir, walaupun belum ada sebuah percakapan pun muncul dari kami karena posisi duduk yang terpisah lorong antar meja. Tercetak dengan jelas dalam otak ini, ucapan pertama yang tinggal landas dari mulutku dan meluncur dengan kecepatan 350 meter per detik menuju telinga Bunga adalah:

"Bunga, pinjam pensilnya dong kalau ada?"

5 jam kemudian saat aku nawaitu mengembalikan si pensil, dia bilang

"Ambil aja, buat lw ngga apa apa, gw udah ada ini"

Dan mulai dari benda sesederhana pensil itulah Sang benih ketertarikan mulai bertunas.

Pensil itu masih kusimpan hingga hari ini, tanpa pernah kugunakan lagi....

***

Seminggu kemudian aku pindah tempat duduk, yang secara menegangkan, berada tepat dibelakang Bunga. Hanya terpisahkan oleh meja kayu yang bolong sana-sini, cukup menyenangkan untuk bisa melihat Bunga, walaupun sebagian besar hanya menatap geraian rambut panjangnya yang hitam pekat. Tidak butuh waktu lama untuk mendekatkan diri kepadanya, karena dia ternyata seorang sangat periang dan bersahabat.

Waktu berlalu dan kini tunas rasa suka terhadap Bunga telah tumbuh menjadi sebuah pohon. Pohon kecil yang masih tertutup belukar gengsi dan takut. Pohon yang masih terpayungi rimbunnya sensasi hormon masa pra-remaja. Meskipun demikian, pohon ini tidak pernah benar-benar kuabaikan dan justru kupelihara dengan penuh kasih sayang.

Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan telah berlalu. Ujian Sekolah telah usai dan aku sadar ketika itu bahwa kesempatanku bercengkerama dengan Bunga tinggal sebanyak hitungan jari manusia, tidak termasuk jari kaki. Dan saat perpisahan itu tiba, aku bahkan tak sempat mengatakan kepada Bunga bahwa selama ini aku telah menyimpan rasa padanya, rasa yang belum berani kusebut cinta.

Ya semua terlewat begitu saja, seakan benih dan tunas romansa itu tidak pernah terciptakan....

Tiba-tiba, aku sudah duduk dengan pakaian putih abu-abu!

***

Ini lah aku, dalam dunia baru, tanpa ragu meninggalkan yang biru dan menyongsong Sang abu-abu. Bukan sulap bukan juga sihir, hanya proses penuaan yang normal. Yang tidak normal adalah, aku kembali berada dalam satu sekolah dengan Bunga. Meskipun begitu kami tidak sekelas, untuk tahun pertama. Dan selama tahun pertama ini, aku hanya bisa menatap Bunga dari seberang kelasnya lewat celah pintu yang terbuka.

Ketidaknormalan mulai muncul saat tahun kedua masuk. Tanpa ada firasat apapun, aku masuk ke kelas baru dengan mahkluk-makhluk penghuninya yang asing bagiku. Namun aku tercenung saat menjejak lantai kelas, terdiam sedetik dua detik saat melihat sebuah wajah yang kukenal baik, sangat baik malah: Bunga!

Hormon Fenylethylamine dan Adrenalin mengalir deras dalam sistem peredaran darahku. Detak jantung yang melonjak seketika, keringat yang bercucuran secara drastis padahal cuaca masih dingin melengkapi kegelisahan. Seorang Bunga, yang selama setahun belakangan hanya bisa kucuri pandang tanpa bisa mencuri hatinya, kini sedang duduk tepat di dalam kelas yang sama denganku, hanya terpisah oleh 3 tempat duduk.

Namun dengan bodohnya, bagaikan keledai yang terperosok pada lubang yang sama, aku kembali gagal menyatakan rasa yang ku miliki kepada Bunga. Dan kembali terulang: setahun telah terlewati, dan aku pun kembali terpaut jarak yang jauh saat memasuki tahun ketiga. Kami kembali berbeda kelas. Tak bisa disesali, satu tahun yang indah bersama Bunga telah kusia-siakan.

Sadar tak dapat bisa terus berlaku pengecut, cepat harus kusampaikan ledakan rasa yang terus mengembang tiap harinya. Pertama, aku mengirimkan sebuah kode: sebuah puisi. Sebuah puisi picisan sederhana yang dengan bantuan juniorku berhasil kusematkan ke dalam Mading sekolah. Sebuah puisi anonim yang sempat menjadi gosip 1 angkatan, walaupun pada akhirnya mereka tidak pernah tahu siapa penulis puisi itu, kecuali 6 orang kawanku yang entah dapat wangsit dari siapa bisa tahu bahwa puisi itu adalah ulahku. Namun gosip yang sudah menjalar menyebut bahwa puisi itu buatan orang lain. Biarkanlah, ku tak perduli, tak perlu tahu khalayak siapa penulisnya.

Akhirnya terlepaslah seragam abu-abu itu, melepas haru biru dalam hidup baru, namun tak bisa ku terus bisu pada pujaan hatiku. Akhirnya, dengan provokasi seorang sahabat yang sudah kuanggap seperti adik sendiri walaupun beda ayah ibu, kunyatakan luapan rasa yang selama 4 tahun terakhir kusimpan rapat dalam tirai besi hati. Melalui telpon Nokia prasejarah, kukatakan semuanya kepada Bunga.

Reaksi Bunga? kalimat pertama yang dia lontarkan:

"Terima kasih Ki..."

Dan seterusnya kami bicara hingga kurang lebih 5 menit dengan paket telepon im3. Aku memang tak pernah meminta dia jadi kekasihku, ku hanya katakan bahwa aku punya rasa padanya sejak dulu, dan itu sudah lebih dari cukup.

***

Tahun demi tahun telah terlewati dengan sukses, tiga tahun tepatnya. Aku telah memiliki seorang kekasih, Mawar. Mawar tahu dengan jelas walau kita berstatus, namun dia faham selalu ada Bunga dalam hatiku. Jahat? Iya mungkin, namun diriku pun tak kuasa enyahkan jejak Bunga, harus bagaimana?

Bahkan pada tahun itu adalah tahun aku bertemu kembali tatap muka dengan Bunga setelah sekian lama. Berada di Kantin Sastra UI bersama Sang kekasih, menikmati semilir angin sore dengan segelas es teh dan sepiring Siomay, tak pernah terpikir bahwa Bunga akan hadir diantara kami.

Bunga mendadak lewat, dengan kaus putih, celana jeans hitam, rambut poni kuda dan kalung etnik yang besar dan pancaran pesona yang tidak berubah sedikitpun sejak dulu pertama ku melihatnya. Dia melihatku dan langsung menghampiri. Mungkin dia ingin bicara juga denganku, sebagai kawan lama tentunya. Dengan susah payah kusembunyikan rasa bahagia dan gugup, kami bertiga akhirnya menikmati senja indah bersama. Tak kusangka Mawar dan Bunga bisa akrab dan berteman cukup lama, bahkan hingga diriku berpisah dengannya 7 bulan kemudian.

enam puluh bulan telah berlalu sejak terakhir aku bertemu Bunga dan Mawar pun sudah menjadi kekasih pria lain. Bunga sedang berada di negeri Gingseng, menuntut ilmu, 5000 kilometer dari tempatku berada, entah dia akan disana selamanya atau akan kembali ke rumahnya yang terenggangkan 0,8 kilometer dari gubugku. Selama empat tahun terakhir, tak pernah kutemui celah dimana aku bisa mengenyahkan Bunga dari pikiranku walau kami tak pernah bersua, begitupun mendapat penggantinya. Tak pernah pula ku berhasil mengalihkan rasa ini dari Bunga, walaupun sudah banyak wanita yang menjadi pelampiasan. Bilakah aku berhasil melupakannya?

***

Tidak ingat lagi berapa tahun semenjak terakhir aku pertama kali bertemu Bunga, kini semuanya tampak seperti kilatan mimpi. Bagai menatap layar perak saat semua cerita teringkas dalam 90 menit, seluruh ceritaku dengan Sang Bunga juga seakan terekspos dalam guratan waktu yang begitu singkat dalam realita maya.

Berawal dari pulangnya Bunga dari negeri Korea, semua cerita ini mulai berubah...

Bunga bukan lagi bunga yang dulu. Dia berganti menjadi seorang Bunga yang jauh lebih elok: Cerdas, mempesona, periang, ramah, sebuah kondisi yang akan membuat pria manapun jatuh hati, termasuk aku sejak belasan tahun silam. Namun sebagai pria yang punya ego tinggi, aku tak pernah menyerah sebelum mencoba. Aku akan mencoba, walaupun dalam relung hati terdalam aku yakin gagal, untuk memintanya menjadi cinta pertama dan terakhirku...

Dengan mengandalkan kemampuan stalking dan insting detektif picisanku, aku tahu Bunga telah pulang kembali ke Jakarta, untuk selamanya, setidaknya menurut asumsiku. Disinilah mungkin kesempatan pertamaku terbentang, tanpa perlu kembali menjadi Keledai dungu yang terjembab di kubangan yang sama untuk ketiga kalinya.

Aku bersiap secara mental, spiritual dan fisikal untuk memintanya menjadi landasan tempat jangkar cintaku berlabuh. Mengadakan meeting darurat dengan para sahabat dalam rangka menyukseskan mega proyek ini, modal yang kukeluarkan tidak pernah sedikit, terutama untuk konsumsi para konsultan lamaran ini. Akhirnya disetujuilah proposal untuk melamar Bunga dengan memanfaatkan sebuah moment buka bersama. Dengan alibi acara buka bersama kawan-kawan dekat sekelas dulu, aku dengan suksesnya mengundang Bunga untuk hadir dalam acara yang kelak menentukan jalan hidup ku hingga liang lahat.

Tibalah hari H, dengan tingkat kegugupan yang belum pernah kurasakan seumur hidup, aku menunggu Bunga di restoran tempat acara "bukber" dan lamaran ini berlangsung. Semua peserta kecuali Bunga sudah paham bahwa acara ini adalah sejatinya sebuah acara konspirasi tingkat tinggi. Berkali-kali memandangi cincin emas entah berapa karat yang berukirkan tulisan "My Angel", aku menunggu sembari berharap cemas.

Akhirnya Bunga menunjukkan dirinya...

Sambil berakting seakan tidak ada agenda super rahasia yang akan kujalankan, aku menunggu waktu paling pas, yakni saat acara ini sudah hampir berakhir.

Dan tibalah waktu itu....

Kuhampiri dia dengan langkah kaku dan degup jantung yang nyaris meluluhlantakkan seluruh rusuk dadaku.

"Bunga, kau tahu aku dengan baik. Kau tahu apa rasaku padamu. Dan kau tahu, rasa itu tidak pernah hilang...berubah pun tidak"

Dia diam

"Dan kurasa kini saatnya aku menyingkap seluruh niat yang kumau atas dirimu..."

Bunga masih terdiam, begitupun hadirin yang berada di tempat itu

"Maka dengan ini aku ingin menanyakan suatu hal...."

suasana masih hening, mengalahkan heningnya pemakaman

"Maukah dirimu.....menemaniku dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, dalam sedih ataupun senang selama sisa hidupku?"

tidak ada suara, sepi, mencekam

dia menjawab lima detik kemudian, yang terasa seperti jutaan tahun....

"Terimakasih ki, terimakasih banget.... tapi sejujurnya, aku masih belum ingin berada dalam komitmen keluarga....."

sebuah jeda

".....selain itu aku juga akan segera kembali ke Korea, Sekolahku belum selesai disana. Aku ingin selesai sekolah dulu baru setelahnya aku berpikir hal lain"

Oke aku telah ditolak, persis seperti apa yang aku yakini.

"Jujur aku belum ada gambaran menikah..mungkin suatu saat nanti, yang pasti bukan sekarang"

Hah?!

Kalimat terakhir seakan menampilkan sebuah sandi tertentu bagi telingaku, namun bias. Antara yakin dan tidak yakin, pikiranku sibuk melayang dalam upaya menerjemahkan kalimat terakhirnya. Aku sampai pada sebuah ikhtisar, Bunga tidak mau menjadi kekasihku, untuk sekarang. Aku setengah meyakinkan diriku bahwa Bunga telah memancarkan isyarat bahasa, yang merupakan keahliannya, kepadaku untuk mencoba lagi di lain waktu.

Baiklah Bunga, seperti harapanmu, aku akan mencoba lagi nanti.

Jadi, hingga hari ini cincin dan pensil kenanganku dengan Bunga masih ku simpan dalam almari. Sang cincin yang menunggu untuk disematkan ke dalam jari manisnya, dan sang pensil yang menunggu untuk kembali digunakan oleh pemiliknya yang terdahulu. Aku tak pernah sedikit pun merubah asa ini, bahwa cita cintaku ada dalam almari.

Jadi aku disini Bunga, menunggu sediamu.


versi pendeknya (Competition Mode) di http://www.dagelanwayang.com/2013/06/cintaku-dalam-almari_27.html

Hizbut Tahrir Indonesia: Demokrasi Dan Khilafah

Sebagai orang luar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) saya kerap mendengar dan membaca mengenai konsep Khilafah yang dibicarakan oleh anggota HTI. Terlepas dari apa agama, kepercayaan, dan aliran saya, secara jujur saya akui perbincangan mengenai Khilafah ini cukup menarik untuk diikuit dan (kini) dikritisi. Namun saya menyadari dengan posisi saya sebagai orang luar dari keluarga dan lingkungan HTI, informasi dan pemahaman komprehensif saya mengenai campaign Khilafah yang dibawakan HTI ini sangatlah terbatas dan selalu ada kemungkinan tidak lengkap. Maka dari itu tulisan ini saya batasi pada sumber-sumber bawah (akar rumput) yang langsung saya terima dalam kehidupan sehari-hari saya

Salah satu substansi yang sering dibicarakan oleh kelompok HTI selain Khilafah adalah anti-demokrasi. Bahkan beberapa ustadz populer juga turut berbicara tentang anti-demokrasi ini (walaupun saya tidak tahu apakah beliau anggota HTI atau bukan) Beberapa bulan lalu, hashtag (istilah dalam dunia twitter) #antidemokrasi bahkan sempat melejit menjadi trending topicTwitter, dan dipopulerkan oleh seorang ustadz mualaf yang tidak perlu saya sebut namanya. Kelompok HTI menganggap bahwa demokrasi adalah suatu dosa: produk gagal dari kebudayaan barat yang liberal dan jauh dari peraturan keislaman. Mereka memberikan contoh kondisi Indonesia sekarang ini sebagai bukti kegagalan demokrasi dalam misi membawa kesejahteraan bagi komunitas muslim. Karena itulah HTI melihat bahwa demokrasi tidak cocok bagi bangsa Indonesia dan mulai mengkampanyekan Khilafah sebagai sistem pemerintahan alternatif bagi Indonesia.

Satu hal yang menjadi pertanyaan besar saya: Demokrasi apakah yang mereka maksud?. Bagi pembaca yang pernah belajar ilmu politik atau pernah kuliah FISIP tentu tahu bahwa makna demokrasi itu sangat luas: mulai dari komunisme hingga republik, dari fasisme hingga monarki semuanya bisa disebut demokrasi. Memang ada semacam stigma dalam masyarakat awam bahwa demokrasi adalah sistem politik ala Amerika Serikat dimana selalu ada Presiden, parlemen, parlemen daerah, pemilu, pembagian kekuasaan dan lain-lain, dan stigma inilah yang menurut asumsi saya, digunakan oleh HTI untuk mengkampanyekan ide anti demokrasi.

Apakah hal itu salah? Bagi saya hal itu adalah kesalahan besar dan fatal. Secara peyoratif bahkan saya bisa katakan hal itu adalah proses pembodohan publik yang dilakukan oleh HTI kepada anggotanya sendiri. Karena dengan mengkampanyekan anti demokrasi tanpa penjelasan lebih lanjut (yang terbukti dari tidak pahamnya para anggota HTI akar rumput tentang substansi demokrasi) maka HTI telah menjebak anggotanya dalam suatu kondisi paradoks: membenci demokrasi tapi menggunakan produk demokrasi.

Sederhananya seperti ini: HTI kemarin (02-06-2013) menggelar muktamar akbar di Senayan dengan topik sama, Khilafah. Dalam muktamar itu tentu saja ada selipan-selipan kalimat yang bernuansa anti demokrasi. Lucu sebenarnya, karena mereka bisa menggelar Muktamar adalah berkat lingkungan demokrasi di Indonesia. Bila kita turunkan level demokrasi itu, katakanlah seperti di Korea Utara, mana mungkin HTI bisa menggelar muktamar? Bicara didepan publik saja bisa ditembak mati apalagi muktamar akbar yang dihadiri ribuan orang? HTI bisa berdemo, bisa berkhotbah, melakukan muktamar, melakukan pertemuan dan bahkan mendirikan organisasi HTI itu sendiri adalah berkat demokrasi Indonesia pasca reformasi 1998. Andaikan kita menganut demokrasi komunisme ala China, belum tentu HTI bisa lahir ke bumi.

HTI juga kembali melakukan blunder besar dengan mengkampanyekan ide anti demokrasi namun mendukung Khilafah. Apakah Khilafah adalah demokrasi? Sebenarnya saya pun kurang mengerti konsep sistem politik Khilafah karena memang sebenarnya (sepengetahuan saya) tidak ada yang namanya sistem politik Islam. Yang ada adalah sistem politik kontemporer dengan landasan hukum Islam. Jikapun HTI ingin menggunakan Khilafah sebagai sistem operasi negara Indonesia, maka sistem politik yang dipakaipun bisa macam-macam mulai demokrasi parlementer, demokrasi presidensial, monarki absolut, monarki konstitusional, komunisme, despotisme (monarki absolut), negara federal dan lain sebagainya.

Argumen jawaban mereka yang menjawab sistem khilafah adalah sistem pemerintahan yang digunakan oleh Baginda Rasullullah ketika memimpin Medinah dan Mekah, maka itu jelas adalah demokrasi. Nabi Muhammad yang dalam pemerintahannya mendengar aspirasi pengikutnya secara langsung dari mulut ke telinga sebenarnya sudah masuk dalam demokrasi, walaupun dalam bentuk primitif (demokrasi langsung). Lantas apakah HTI ingin mempraktekkan demokrasi langsung di Indonesia? Silahkan saja kalau sang pemimpin siap (dan mampu) mendengarkan kritik, masukan, kecaman dari 210 juta rakyat Indonesia secara satu per satu tanpa perwakilan dan tanpa agregasi kepentingan yang mana menurut akal sehat saya sebagai manusia tidak mungkin bisa dilakukan manusia.

Ide HTI tentang anti demokrasi dan khilafah terdengar dangkal dan jujur saja, menjadi bahan olok-olok mahasiswa dan dosen-dosen politik karena konsepnya yang tidak jelas dan kabur seperti yang telah sedikit saya tuliskan diatas. Ada baiknya HTI memperdalam konsepnya mengenai khilafah Indonesia yang disintesiskan dengan demokrasi, karena khilafah itu sendiri adalah demokrasi. Kecuali jika kaum intelek HTI mampu membuat sebuah teori dan ide baru yang diakui oleh komunitas ilmuwan ilmu politik internasional mengenai sebuah sistem politik dan sistem pemerintahan yang terpisah dari demokrasi dan sesuai dengan istilah Khilafah mereka. Atau HTI sederhanakan saja idenya, tidak perlu muluk-muluk kampanye anti demokrasi namun cukup kampanyekan ide mengenai hukum Islam di Indonesia. Tidak lucu bagi organisasi sebesar HTI saat kader-kader dibawahnya berapi-api menyuarakan anti demokrasi tapi ternyata ide khilafah dan perilaku mereka sendiri memanfaatkan lingkungan demokrasi.

Sekian kritik saya mengenai gagasan HTI mengenai Demokrasi dan Khilafah, semoga menjadi masukan berguna untuk gerakan HTI kedepannya bila memang HTI serius ingin merubah sistem pemerintahan dan hukum bangsa ini.