Cintaku Dalam Almari

Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film "Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013.

Tiga belas tahun lalu aku berjalan dalam diam. Hening, dengan iringan gemerisik Beringin rimbun. Tiga meter depanku berjalan sesosok gadis berambut panjang hitam. Kala kulihat dia pertama, tak pernah terbesit dalam nalarku bahwa gadis berambut hitam legam ini yang kelak menjadi cinta tak berkesudahanku.

Dua tahun kemudian, kelas terakhirku dengan celana pendek biru, aku dipadu bersatu dengan Putri dalam sebuah kelas. Kami dekat dan kami teman, tidak lebih. Inilah juga saat dia memberiku Pensil itu, sebuah pensil penanda awal cinta abadiku padanya 11 tahun silam. Pensil yang masih kusimpan hingga detik aku menulis kisah ini tanpa pernah kugunakan kembali.

Pertemuanku dengan Putri singkat saja, terpisah oleh status pelajar bercelana biru yang telah usai. Aku tinggalkan biru untuk Sang abu-abu, menderu maju demi hidup baru. Namun tak pernah kukira, diriku kembali bersatu padu dengan Putri dalam kelas. Tak pernah timbul kesempatan & nyali untuk berkata rasa hatiku pada yang terkasih. Ku hanya mampu berkirim puisi tanpa nama, terpampang dalam mading sekolah yang hingga hari ini tak ada yang tahu itulah aku sang pujangga puisi.

Perpisahan tak pelak berlangsung, walaupun hatiku tak pernah terpisah. Perbedaan almameter pun bukan penghalang, antara Jakarta dan Depok, cinta ini tetap bersemi. Saat diriku memiliki kekasih, Mawar, relung hati tergelapku tak pernah bisa memisahkan Putri dari cintaku. Pertemuan pertama setelah 3 tahun kujalani dengan Mawar & Putri disebuah kantin penuh kenangan, diwarnai dengan keelokan Sang Putri yang makin mempesona & melenakan hati ini. Aku jahat, memang, saat masih menyimpan rasa Putri dengan kekasih nyata Mawar. Namun ku bukan Tuhan yang berkuasa atas rasa, ku manusia yang penuh nista dan suka.

Tak terhitung berapa tahun tak bertemu Putri sejak itu, namun ku tak pernah kehilangan asa atas Putri. Putri kini berada 5000 kilometer dari tempatku, sebuah negeri yang umum disebut negeri Gingseng, menuntut ilmu. Tak tahu apakah Putri akan kembali ke tempatnya besar yang terenggang hanya 0,8 kilometer dari gubug kecilku, ku bulatkan niat untuk melamarnya jika ia kembali ke tanah airnya, menetapkan cinta abadiku padanya tanpa ragu.

Dan Putri pun kembali

Ku tetapkan hati, beranikan diri, ikhlaskan hati untuk menjadikannya sebagai landasan cinta terakhirku. Ku ragu dia akan mau, tapi ku tak pantang maju. Hari itu pun tiba, dengan hentakan jantung yang nyaris meluluhlantakkan seluruh rusuk, ku nyatakan rasa yang telah terpendam 13 tahun lamanya dalam tirai besi hati. Dengan cincin berkaligrafikan My Angel, sebutan yang kupakai sebagai penanda arti dirinya bagiku, ku curahkan segala rasa dan cita ku padanya.

Dia menolakku

"Maaf aku tak bisa...aku harus kembali ke Korea, lanjutkan studi"

Baik apapun alasannya, Putri telah menolakku.

"Nanti saat sekolahku usai, mungkin..."

Apa? Sebuah Isyarat?

Baiklah Putri, seperti harapanmu, aku akan mencoba lagi nanti.

Jadi kini cincin dan pensil kenanganku dengan Putri masih ku simpan dalam almari, disebuah kardus kenangan. Sang cincin yang menunggu untuk disematkan ke dalam jari manisnya, dan sang pensil yang menunggu untuk kembali digunakan oleh pemiliknya yang terdahulu. Aku tak pernah sedikit pun merubah asa ini, bahwa cita cintaku ada dalam almari.

Jadi aku disini Putri, menunggu sediamu, karena cintaku belum usai.

2 comments:

  1. Sayang kalo namanya Bunga sama Mawar. Kalo dikasih nama yang lebih mencirikan (atau nama khas yang unik) kayaknya lebih baus, Jie. Ini deadlinenya kapan? :O

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh gitu, okeh. Yang satu lagi lebih bagus, versi panjang (ketentuan lomba 500 kata doang amit dah). Deadline hari ini.

      Delete