Menarik sesungguhnya melihat fenomenon kampanye pemilu kali ini. Dalam sejarah republik Indonesia, belum pernah ada sebuah pemilu yang dipilih secara langsung oleh 100 jutaan konstituen dengan hanya melibatkan 2 calon presiden yang bisa saya bilang hampir seimbang elektabilitasnya. Minimnya jumlah capres ini tentu saja membuat dikotomi gaya kampanye mereka menjadi hal yang tidak sulit. Salah satu hal yang saya perhatikan benar-benar sejak awal kampanye ini adalah metode kampanye yang dilakukan oleh timses mereka.
Sebagai seseorang yang tertarik dengan sejarah, saya menganalogikan kedua timses capres ini sebagai negara Jerman & Uni Soviet semasa perang dunia kedua. Mungkin para pembaca sekalian sudah tahu mengenai kisah perang dunia II dimana pasukan Nazi Jerman berduel dengan Pasukan Merah Uni Soviet di front Timur, sebuah front pertempuran yang paling berdarah-darah dalam sejarah peradaban umat manusia. Hal ini juga berlaku untuk pemilu kali ini dimana kedua kubu, baik itu Prabowo ataupun Jokowi sama-sama "berdarah-darah", mati-matian untuk memenangkan front pertempuran pemilu 2014 ini.
Sama hal seperti pasukan Jerman & Uni Soviet dalam strategi perangnya, masing-masing kubu baik itu Prabowo ataupun Jokowi punya cara masing-masing dalam strategi mereka. Dalam tulisan ini saya hanya akan membahas mengenai rekrutmen juru kampanye (campaigner) yang merupakan "Tentara" dalam "Perang" pemilu 2014 ini. Dalam tulisan ini akan ditampilkan perbedaan besar diantara strategi mereka berdua tanpa harus menjustifikasi mana yang benar dan mana yang salah.
Pertama-tama, ada 2 istilah yang akan saya pergunakan disini, yakni "Standing Army" dan "Drafted Army". Mengingat tidak ada padanan bahasa indonesia untuk kedua istilah itu, maka saya akan jabarkan lebih dulu mengenai apa arti dari kedua istilah itu.
"Standing Army" adalah sebuah konsep dalam dunia militer yang menjelaskan sebuah pasukan yang terlatih. Standing Army, singkatnya, adalah sebuah pasukan yang sudah terdidik dan terlatih dalam latihan yang teratur dan terukur serta bersifat profesional. Gaya Standing Army ini digunakan oleh Jerman pada masa perang dunia II. TNI di Indonesia juga mengadopsi gaya Standing Army ini.
"Drafted Army" atau Conscription (Konskripsi) adalah sebuah komsep dalam dunia militer yang menjelaskan sebuah pasukan yang semi- terlatih. Drafted Army, singkatnya, adalah sebuah pasukan yang tidak terlatih dalam latihan yang regular dan bersifat non- profesional. Anggota Drafted Army bisa diambil dari kondisi Wajib Militer (Seperti di Korsel & Amerika Serikat semasa perang Vietnam) atau organisasi para-militer (seperti Hamas). Gaya Drafted Army ini digunakan oleh Uni Soviet di perang dunia II.
Prabowo - Hatta, pasangan Capres-Cawapres nomor 1, menganut gaya "Standing Army". Hal ini terlihat dari jurkam-jurkam mereka yang banyak memanfaatkan tenaga ahli. Jubir pasangan ini sendiri memang mengakui bahwa banyak dari juru kampanye mereka adalah lulusan Sarjana, baik itu dalam negeri ataupun Luar negeri. Gaya bicara juru kampanye ini pun bisa menunjukkan bahwa mereka adalah orang berpendidikan tinggi. Pemilihan pasangan ini untuk mengadopsi gaya "Standing Army" mungkin saja disebabkan karena faktor Prabowo yang memang mempunyai kecerdasan tinggi dan juga mantan lulusan terbaik Taruna.
Sedangkan Jokowi - Jusuf kalla, pasangan Capres-Cawapres nomor 2, cenderung menganut gaya "Drafted Army". Hal ini terlihat dari jurkam-jurkam mereka yang diisi masyarakat kelas-kelas bawah. Jubis pasangan inipun mengakui jika banyak dari juru kampanye mereka adalah kalangan orang biasa rata-rata di Indonesia. Dari jumlah sebaran jurkam pasangan ini pun bisa dilihat bahwa mereka hanya orang-orang biasa. Pemilihan pasangan ini untuk mengadopsi gaya "Drafted Army" mungkin karena disebabkan faktor Jokowi yang dalam sejarahnya lekat dengan kemiskinan.
Masing-masing gaya tentu saja punya kelebihannya masing-masing. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan "Standing Army" dan "Drafted Army"
Standing Army
(+)Think Tank yang hebat. Dengan pendidikan tinggi, kemampuan deduktif dan dialektik jurkam ini juga menjadi lebih baik. Serangan-serangan terhadap pasangan capres ini dapat dijawab dengan baik oleh mereka. Jurkam jenis ini juga bisa memaparkan program-program capresnya dengan lebih meyakinkan.
(+)Kemampuan menjaring kelas menengah yang tinggi. Kelas menengah, selaku kelas yang paling dengan rasio tingkat konsumsi tertinggi di Indonesia, memegang peranan yang cukup penting dalam jalannya roda pemerintahan, terutama perekonomian. Sebagai kelas yang esensial, tidak heran kedua capres ini berebut simpati dari kelas menengah. Keunggulan jurkam jenis adalah dia mampu meyakinkan kelas menengah, dengan pendekatan yang ilmiah, untuk memilih capres bernomor 1 ini.
(+)akses ke berbagai media yang sangat luas. Jurkam ini juga bisa dan cerdas dalam memanfaatkan berbagai media, termasuk media online. Bahkan tidak menutup kemungkinan jurkam jenis ini secara profesional mengolah kampanye dalam berbagai media-media dengan fitur premium. Misal: membuat website yang apik, membuat iklan yang bagus di TV, memanfaatkan jasa agensi dalam mengolah iklan di media sosial internet dll.
(+)Lebih terkoordinasi. Jurkam jenis ini juga lebih terkoordinasi dalam proses kampanye nya. Dengan lebih terkoordinasi, maka miskomunikasi antar juru kampanye dapat diminimalisir, sehingga dapat menghasilkan output seperti yang diharapkan.
(-)Mahal. Dikarenakan merekrut para ahli/profesional membutuhkan biaya yang tidak murah, jelas jenis pasukan Jurkam ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
(-)Relatif sedikit. Memerlukan gelar sarjana tentu bukan hal yang tersedia banyak di Indonesia. Mungkin karena itulah, secara kuantitatif jurkam jenis ini jumlahnya relatif lebih sedikit ketimbang Jurkam Drafted Army.
(-)Kemampuan menjaring kelas bawah yang kurang. Dikarenakan individu yang terlibat adalah kaum terpelajar dan kelas menengah, maka akses ke masyarakat kelas bawah agak terhambat. Entah itu dikarenakan faktor lingkungan ataupun skeptisme (kecemburuan) antar kelas sosial..
(-)Cenderung monoton. Adanya otoritas yang membawahi jurkam-jurkam yang beroperasi di lapangan, tentu membuat variasi berkurang. Ide-ide kampanye yang muncul harus diseleksi dan tidak semua ide itu akan disetujui, sehingga ide kampanye yang muncul adalah ide-ide si pemegang otoritas.
Drafted Army
(+)Murah. Karena sifatnya yang sukarela, maka biaya yang dikeluarkan relatif kecil. Masing-masing juru kampanye bergerak sesuai dengan kemampuannya tanpa perlu dipimpin oleh otoritas tertentu.
(+)Berjumlah banyak. Karena jurkam jenis ini mudah direkrut (tanpa memerlukan CV yang bagus), maka jumlahnya relatif lebih banyak daripada jurkam "Standing Army". Dengan jumlah yang relatif banyak ini maka jurkam Standing Army punya jangkauan yang lebih banyak pula.
(+)Kemampuan menjaring kelas bawah yang tinggi. Karena sifatnya sukarela dan cenderung berasal dari masyarakat bawah (tidak terdidik), maka cakupannya pun lebih dekat dengan masyarakat kelas bawah di Indonesia yang jumlahnya lebih banyak ketimbang kelas menengah.
(+)variatif. Berjumlah banyak berarti semakin banyak otak yang terlibat, semakin banyak otak yang terlibat berarti semakin banyak
pula cara-cara unik yang bisa dilakukan, sesuai dengan selera masing-masing individu jurkam tersebut.
(-)Mempunyai kemampuan dialektik yang relatif kurang. Dengan Jurkam yang berasal dari masyarakat kelas bawah / tidak terpelajar, membuat jurkam tipe ini cenderung
sulit menjawab serangan-serangan yang ditujukan kepada capresnya. Pemaparan program capres yang dilakukan oleh Jurkam jenis ini juga sangat mendasar dan kurang teknis, dan lebih bersifat umum saja.
(-)Kemampuan menjaring kelas menengah yang rendah. Berhubungan dengan poin di atas, jurkam ini biasanya sulit menjaring kelas menengah yang bersifat kritis. Ketidakmampuan memberikan argumen yang mendetil dan teknis biasanya tidak bisa memuaskan kelompok dari kelas menengah.
(-)Akses ke berbagai media yang cenderung gratisan. Karena sifatnya yang sukarela, maka biaya yang dikeluarkan sangatlah minim atau malah gratis samasekali. Tentu saja pemanfaatan media yang mengandalkan fitur gratisan atau murah tidak se- eye catching jurkam yang memanfaatkan fitur premium.
(-)Kurang terkoordinasi. Jurkam tipe ini, karena mereka bergerak secara seporadis, maka tidak ada/sedikit sekali koordinasi yang dilakukan. Kurang koordinasi tentu saja berpotensi berbahaya karena bisa saja ada kampanye yang melanggar ketentuan KPU, tumpang tindih, black campaign dan semacamnya.
Seperti yang kita lihat di atas, masing-masing tipe Jurkam punya kelebihan dan kekurangannya. Satu jenis Jurkam tidak lebih unggul dibanding jenis jurkam lainnya sehingga muncul tebak-tebakan liar siapa yang akan menang pemilu 2014 hanya dari jenis rekrutmen Jurkam ini. Masing-masing kubu juga tidak hanya murni memanfaatkan 1 jenis Rekrutmen juga, misalnya Kubu Prabowo juga memanfaatkan Jurkam Drafted Army untuk menjaring masyarakat kelas bawah dan begitupun halnya dengan kubu Jokowi yang juga memanfaatkan Jurkam Standing Army untuk mereguk suara kelas menengah.
Tentu saja tulisan diatas tidak sempurna dan tidak menyeluruh karena toh saya bukan seorang konsultan atau ahli politik, dan saya juga bukan sedang menulis sebuah karya ilmiah, ini hanya tulisan garis besarnya saja dari observasi saya dilapangan. Namun demikian, mungkin dari anda sekalian ada yang ingin menjadikan jenis jurkam ini sebagai referensi dalam memilih siapa calon presiden anda untuk 5 tahun, maka saya persilahkan saja. Yang penting mari kita tetap berkampanye secara santun, dan jangan menyebar berita-berita yang tidak dapat dipastikan kebenarannya.

No comments:
Post a Comment