Cerita Jalanan Antara Motor dan Mobil

Di Jakarta, motor telah menjadi kambing hitam atas kemacetan yang terjadi tiap harinya. Memang tidak bisa disangkal bahwa jumlah kendaraan roda dua yang begitu banyak telah turut menyumbang pada jumlah volume kendaraan di Jakarta (walaupun data statistik menunjukkan bahwa volume kendaraan roda empat lebih banyak).

Kendaraan roda dua sering dipersalahkan atas sikap tidak disiplin dan seringnya bertindak ugal-ugalan di jalanan. Pengendara motor kerap diidentikkan dengan sikap egois, tidak mau mengalah, suka ngebut dan lain sebagainya. Hal ini dapat dimaklumi mengingat begitu mudahnya mendapat kendaraan bermotor dan utamanya izin mendapatkan sim C yang begitu gampangnya (asal ada uang semuanya bisa). Pendidikan berlalu lintas dikesampingkan, yang berimbas pada kelakuan pengguna jalan raya yang cenderung seenaknya sendiri.



Namun perlu diinsyafi tidak selamanya pengemudi motor selalu menjadi pihak yang salah. Sayangnya pemerintah kita pun telah meng-generalisasi bahwa semua kendaraan beroda dua itu salah dan kendaraan beroda empat (atau lebih) itu selalu benar, sehingga muncul wacana peraturan untuk membatasi akses motor di beberapa jalan protokol di Jakarta. Yang saya sayangkan adalah mengapa hanya motor yang dibatasi? Apakah penyumbang kemacetan di Jakarta hanya disebabkan oleh motor semata sehingga harus meng-anak tirikan motor? Alih-alih hanya melakukan kebijakan pembatas akses jalanan untuk motor, bukankah akan lebih baik jika pemerintah melakukan pembatasan akses untuk semua kendaraan pribadi dengan memprioritaskan penggunaan kendaraan umum seperti bus kota atau Transjakarta? Ah entahlah, saya yang bodoh ini hanya bisa mengira-ngira saja mana yang lebih baik.


Tapi bagi anda yang tiap tahunnya melakukan mudik, terutama bagi anda yang menggunakan mobil pribadi dan melewati pantura sejak tahun 1990 (atau sebelum trend mudik dengan motor menjadi populer pada tahun 2005) maka anda akan menemukan kelakuan pengemudi motor Jakarta pada mobil-mobil pribadi yang mudik. Mereka seakan-akan kesurupan roh pengemudi motor Jakarta: ngebut, ugal-ugalan, suka menyelip-nyelip, tidak mau mengalah, suka ngeblong (istilah yang digunakan untuk kendaraan yang menerobos kemacetan lewat jalur kanan atau kiri) dan lain sebagainya. Hal ini dibuktikan dengan tingginya jumlah kecelakaan dipantura tiap tahunnya, baik itu dalam tol atau luar tol. Nah inilah yang menjadi hal unik, ternyata sikap-sikap tidak disiplin tidak hanya dilakukan oleh pengendara motor tapi juga oleh pengendara mobil.


Kenapa sikap tidak disiplin mobil tidak terlihat di Jakarta? Sebenarnya jawabannya hanya satu, yaitu Kesempatan. Di kota Jakarta Jalanannya relatif kecil, banyak terdapat lampu merah, tikungan dan hal-hal lain yang menyebabkan sebuah mobil harus berhenti atau perlahan. Ini menyebabkan si pengemudi mobil tidak bisa mengebut atau menyelip-nyelip karena memang jalanannya kecil dan padat. Sedangkan bagi motor, jalanan di Jakarta ini cukup luas (bahkan sangat luas) sehingga mereka dengan leluasanya bisa menggeber gas nya hingga angka 100km/jam dan menyelip-nyelip diantara mobil atau bahkan memaksakan masuk ke jalur pedestrian (trotoar).

Sedangkan di jalur pantura, jalan ini memang pada dasarnya diciptakan untuk kendaraan berskala besar seperti bus, truk trailer dan mobil, sehingga relatif lebih mudah bagi mobil untuk melakukan manuver-manuver bombastis yang tidak bisa mereka lakukan di jalanan Jakarta, contohnya ya seperti yang telah saya tuliskan pada 2 paragraph di atas. Dengan kondisi jalanan yang memang diciptakan untuk kendaraan besar, mobil-mobil pribadi di pantura menjadi seperti motor di jakarta walaupun memang tidak seekstrim motor karena pada dasarnya mengendarai mobil lebih susah ketimbang mengendarai motor.

Jadi masihkah kita menumpahkan kemacetan kota Jakarta ini semata hanya kepada para pengemudi motor? Miskinnya tingkat kedisiplinan terbukti tidak hanya milik pengendara motor tapi juga milik semua pengguna jalan raya, mulai dari pengendara kendaraan umum bahkan hingga ke pejalan kakinya. Berhentilah menyalahkan satu pihak saja atas suatu masalah, karena masalah lalu lintas tidak sesederhana membalikkan telapak tangan…

You also can read this at http://venomaxus.wordpress.com

1 comment:

  1. hahhaa, nice analyze bro :)

    tapi sekarang gw salut sama Transjakarta yg mulai mendisiplinkan jalur busway. Yah, walau belum sempurna, tapi still a little movement should be appreciate, rite? hohoo

    yopp! gw setuju sama usulan lo yang membatasi semua kendaraan probadi! mau itu motor atau mobil, kalo udah jumlahnya gigan, musti diatur

    ReplyDelete