Berawal dari pertanyaan seorang kawan lama, kawan SMA tepatnya, yang bertanya kepada saya "kenapa kamu ngga nulis cerita jie?". Pertanyaan yang diajukan karena kami sama sama tahu bahwa kami berdua suka menulis. Pertanyaan itu tidak langsung saya jawab, karena jujur saja, saya juga bingung dengan jawaban yang akan saya berikan. Dia sendiri adalah seorang penulis amatir yang sangat suka menulis cerita-cerita fiksi, yang beberapa kali sudah masuk media online. Sedangkan saya juga seorang penulis amatir yang justru lebih suka menulis non-fiksi ketimbang fiksi. Dari pertanyaan itulah (yang mana sampai hari ini belum saya jawab), saya akan mencoba menjawabnya dalam tulisan ini untuk diri saya sendiri.
Sebenarnya bertahun-tahun silam, saya suka menulis cerita-cerita fiksi seperti orang lain kebanyakan. Saat SD - SMP saya bahkan sudah bisa menulis cerita sepanjang 30 halaman ukuran A4, yang bercerita tentang perang Robot dimasa depan (entah hilang kemana naskah itu sekarang). Ceritanya cukup bagus menurut saya untuk ukuran anak SD. Selain cerita perang robot itu, saya juga banyak menulis cerita-cerita fantasi di buku tulis sekolah saya. Biasanya saya menulis saat jam istirahat atau jam pelajaran yang banyak nganggurnya. Saya mencicil tulisan-tulisan itu bertahun-tahun sehingga menghasilkan lusinan cerita fiksi versi anak SD - SMP.
Saya sempat rehat sejenak dari kegiatan tulis menulis saat memasuki kelas 3 SMP. Selain disibukkan oleh tugas-tugas sekolah, kegiatan les yang padat juga membuat saya tidak bisa melanjutkan kegiatan hobi saya itu. Well, disaat itulah naskah naskah "berharga" saya mulai hilang. Di kelas 3 SMP inilah saya menjadi tergila-gila dengan pelajaran Sejarah, terutama pada topik perang dunia. Selain membaca buku sejarah dari sekolah, saya juga menghabiskan uang jajan hanya untuk beli buku-buku sejarah di toko buku. Buku-buku sejarah tentang perang dunia I dan II yang berisi ratusan bahkan ribuan halaman itu kulahap semua. Dan tampaknya, disinilah titik balik antara kesukaanku dengan cerita fiksi yang kemudian beralih ke cerita non-fiksi.
Memasuki SMA, praktis saya absen dari kegiatan tulis menulis. Tidak ada waktu samasekali untuk menulis karena selain sibuk kegiatan sekolah, saya juga disibukkan dengan bisnis warnet yang sangat menghabiskan waktu saya.
Baru saat memasuki dunia perkuliahan, hasrat menulis saya kembali lahir. Bedanya, kali ini saya tidak tertarik menulis cerita-cerita fiksi dan justru menggilai tulisan-tulisan ilmiah. Saya kerap menghabiskan uang untuk pergi ke pasar buku bekas Senen dan membeli buku-buku politik-sosial disana. Semester-semester akhir masa perkuliahan saya, saya memperluas objek bacaan saya yang tadinya buku-buku berbahasa Indonesia saja menjadi jurnal-jurnal asing berbahasa Inggris (ini juga diakibatkan faktor ekonomi: Jurnal berbahasa Inggris dapat gratis diunduh dari internet, sedangkan buku berbahasa Indonesia harus beli).
Dan kini saat saya sudah berada di dunia kerja, saya sempat kembali tergoda untuk menulis fiksi. Selain karena pasar yang cukup menjanjikan, beberapa kawan penulis juga membujuk saya untuk menulis cerita fiksi. Sempat tertarik sih, tapi pada akhirnya saya berprinsip untuk tetap teguh berkonsentrasi pada karya tulis non-fiksi saya. Ada beberapa alasan mengapa saya tetap bersiteguh menulis non-fiksi:
Pertama adalah kecintaan saya pada dunia pendidikan. Saya yakin, paling tidak menurut pendapat saya, bahwa salah satu cara untuk mendukung dunia pendidikan Indonesia adalah dengan menulis karya tulis yang bermanfaat pagi wawasan manusia. Mengingat dunia pendidikan di Indonesia yang masih sangat tertinggal ketimbang negara-negara lain, hal terkecil yang dapat saya lakukan adalah dengan turut menyumbangkan pemikiran saya melalui tulisan-tulisan semi ilmiah dan ilmiah. Saya juga menyadari bahwa referensi ilmiah lokal bagi ilmu politik dan sosial di Indonesia masih sangat rendah (berdasarkan pada pengalaman pribadi saat menulis essay dan skripsi) dan menyulitkan bagi akademisi-akademisi kita untuk menyusun karya ilmiah. Maka dari itu, saya pribadi merasa akan lebih bermanfaat bila saya bisa menyajikan tulisan-tulisan baik ilmiah ataupun semi-ilmiah untuk memperluas wawasan pelajar-pelajar Indonesia.
Kedua, saya melihat bahwa kita sudah terlalu banyak penulis fiksi. Dalam tulisan saya di Kita Terlalu Banyak Menelan Fiksi saya sudah cukup menjelaskan jurang perbedaan antara pasar fiksi dan non-fiksi. Dengan banyaknya penulis fiksi yang bertebaran di bumi Indonesia, tidak perlu lagi saya menambah jumlah penulis fiksi tersebut. Walaupun saya sadari bahwa jumlah penulis tersebut belum cukup untuk permintaan pasar buku fiksi Indonesia yang luar biasa banyak, namun paling tidak sampai hari saya menulis blog ini, saya belum tertarik untuk mengikuti permintaan pasar.
Ketiga, saya merasa lebih baik saya tidak menulis cerita fiksi apapun ketimbang menghasilkan cerita yang sampah. Tentu kita semua tahu tidak semua buku-buku cerita fiksi yang kita temui di toko buku adalah buku cerita berkualitas dan bermisi, sebagian diantaranya hanya kisah kisah mainstream yang minus nilai moral. Mengingat kemampuan menulis fiksi saya dibawah rata-rata (menurut pendapat saya pribadi), maka lebih baik saya serahkan cerita fiksi-fiksi berkualitas itu kepada orang yang lebih berkompeten.
Fiksi dan Non-fiksi adalah dua hal yang saling melengkapi, disatu sisi dapat melengkapi kemampuan berlogika dan objektifitas dan disisi lain dapat memupuk sifat humanisme kita. Perbedaannya hanyalah, saya lebih berdiri pada pihak yang berfungsi untuk mengembangkan logika dan objektifitas, itu saja.
Dari tulisan ini setidaknya saya sudah menjawab pertanyaan kawan lama saya tersebut diatas untuk diri saya sendiri. Sedangkan jawaban untuk kawan saya tersebut kurang lebih akan sama dengan jawaban untuk diri saya, hanya saja saya belum sempat menemuinya.

No comments:
Post a Comment