Sebagai orang luar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) saya kerap mendengar dan membaca mengenai konsep Khilafah yang dibicarakan oleh anggota HTI. Terlepas dari apa agama, kepercayaan, dan aliran saya, secara jujur saya akui perbincangan mengenai Khilafah ini cukup menarik untuk diikuit dan (kini) dikritisi. Namun saya menyadari dengan posisi saya sebagai orang luar dari keluarga dan lingkungan HTI, informasi dan pemahaman komprehensif saya mengenai campaign Khilafah yang dibawakan HTI ini sangatlah terbatas dan selalu ada kemungkinan tidak lengkap. Maka dari itu tulisan ini saya batasi pada sumber-sumber bawah (akar rumput) yang langsung saya terima dalam kehidupan sehari-hari saya
Salah satu substansi yang sering dibicarakan oleh kelompok HTI selain Khilafah adalah anti-demokrasi. Bahkan beberapa ustadz populer juga turut berbicara tentang anti-demokrasi ini (walaupun saya tidak tahu apakah beliau anggota HTI atau bukan) Beberapa bulan lalu, hashtag (istilah dalam dunia twitter) #antidemokrasi bahkan sempat melejit menjadi trending topicTwitter, dan dipopulerkan oleh seorang ustadz mualaf yang tidak perlu saya sebut namanya. Kelompok HTI menganggap bahwa demokrasi adalah suatu dosa: produk gagal dari kebudayaan barat yang liberal dan jauh dari peraturan keislaman. Mereka memberikan contoh kondisi Indonesia sekarang ini sebagai bukti kegagalan demokrasi dalam misi membawa kesejahteraan bagi komunitas muslim. Karena itulah HTI melihat bahwa demokrasi tidak cocok bagi bangsa Indonesia dan mulai mengkampanyekan Khilafah sebagai sistem pemerintahan alternatif bagi Indonesia.
Satu hal yang menjadi pertanyaan besar saya: Demokrasi apakah yang mereka maksud?. Bagi pembaca yang pernah belajar ilmu politik atau pernah kuliah FISIP tentu tahu bahwa makna demokrasi itu sangat luas: mulai dari komunisme hingga republik, dari fasisme hingga monarki semuanya bisa disebut demokrasi. Memang ada semacam stigma dalam masyarakat awam bahwa demokrasi adalah sistem politik ala Amerika Serikat dimana selalu ada Presiden, parlemen, parlemen daerah, pemilu, pembagian kekuasaan dan lain-lain, dan stigma inilah yang menurut asumsi saya, digunakan oleh HTI untuk mengkampanyekan ide anti demokrasi.
Apakah hal itu salah? Bagi saya hal itu adalah kesalahan besar dan fatal. Secara peyoratif bahkan saya bisa katakan hal itu adalah proses pembodohan publik yang dilakukan oleh HTI kepada anggotanya sendiri. Karena dengan mengkampanyekan anti demokrasi tanpa penjelasan lebih lanjut (yang terbukti dari tidak pahamnya para anggota HTI akar rumput tentang substansi demokrasi) maka HTI telah menjebak anggotanya dalam suatu kondisi paradoks: membenci demokrasi tapi menggunakan produk demokrasi.
Sederhananya seperti ini: HTI kemarin (02-06-2013) menggelar muktamar akbar di Senayan dengan topik sama, Khilafah. Dalam muktamar itu tentu saja ada selipan-selipan kalimat yang bernuansa anti demokrasi. Lucu sebenarnya, karena mereka bisa menggelar Muktamar adalah berkat lingkungan demokrasi di Indonesia. Bila kita turunkan level demokrasi itu, katakanlah seperti di Korea Utara, mana mungkin HTI bisa menggelar muktamar? Bicara didepan publik saja bisa ditembak mati apalagi muktamar akbar yang dihadiri ribuan orang? HTI bisa berdemo, bisa berkhotbah, melakukan muktamar, melakukan pertemuan dan bahkan mendirikan organisasi HTI itu sendiri adalah berkat demokrasi Indonesia pasca reformasi 1998. Andaikan kita menganut demokrasi komunisme ala China, belum tentu HTI bisa lahir ke bumi.
HTI juga kembali melakukan blunder besar dengan mengkampanyekan ide anti demokrasi namun mendukung Khilafah. Apakah Khilafah adalah demokrasi? Sebenarnya saya pun kurang mengerti konsep sistem politik Khilafah karena memang sebenarnya (sepengetahuan saya) tidak ada yang namanya sistem politik Islam. Yang ada adalah sistem politik kontemporer dengan landasan hukum Islam. Jikapun HTI ingin menggunakan Khilafah sebagai sistem operasi negara Indonesia, maka sistem politik yang dipakaipun bisa macam-macam mulai demokrasi parlementer, demokrasi presidensial, monarki absolut, monarki konstitusional, komunisme, despotisme (monarki absolut), negara federal dan lain sebagainya.
Argumen jawaban mereka yang menjawab sistem khilafah adalah sistem pemerintahan yang digunakan oleh Baginda Rasullullah ketika memimpin Medinah dan Mekah, maka itu jelas adalah demokrasi. Nabi Muhammad yang dalam pemerintahannya mendengar aspirasi pengikutnya secara langsung dari mulut ke telinga sebenarnya sudah masuk dalam demokrasi, walaupun dalam bentuk primitif (demokrasi langsung). Lantas apakah HTI ingin mempraktekkan demokrasi langsung di Indonesia? Silahkan saja kalau sang pemimpin siap (dan mampu) mendengarkan kritik, masukan, kecaman dari 210 juta rakyat Indonesia secara satu per satu tanpa perwakilan dan tanpa agregasi kepentingan yang mana menurut akal sehat saya sebagai manusia tidak mungkin bisa dilakukan manusia.
Ide HTI tentang anti demokrasi dan khilafah terdengar dangkal dan jujur saja, menjadi bahan olok-olok mahasiswa dan dosen-dosen politik karena konsepnya yang tidak jelas dan kabur seperti yang telah sedikit saya tuliskan diatas. Ada baiknya HTI memperdalam konsepnya mengenai khilafah Indonesia yang disintesiskan dengan demokrasi, karena khilafah itu sendiri adalah demokrasi. Kecuali jika kaum intelek HTI mampu membuat sebuah teori dan ide baru yang diakui oleh komunitas ilmuwan ilmu politik internasional mengenai sebuah sistem politik dan sistem pemerintahan yang terpisah dari demokrasi dan sesuai dengan istilah Khilafah mereka. Atau HTI sederhanakan saja idenya, tidak perlu muluk-muluk kampanye anti demokrasi namun cukup kampanyekan ide mengenai hukum Islam di Indonesia. Tidak lucu bagi organisasi sebesar HTI saat kader-kader dibawahnya berapi-api menyuarakan anti demokrasi tapi ternyata ide khilafah dan perilaku mereka sendiri memanfaatkan lingkungan demokrasi.
Sekian kritik saya mengenai gagasan HTI mengenai Demokrasi dan Khilafah, semoga menjadi masukan berguna untuk gerakan HTI kedepannya bila memang HTI serius ingin merubah sistem pemerintahan dan hukum bangsa ini.

Mantappppp!!!!!
ReplyDeleteMas Ajie yang sy Hormati... sy Arlian orang yang belum pernah belajar politik secara formal dan sy juga bukan anggota HTI... sy hanya orang yang sangat prihatin dengan kondisi politik dan pemerintahan negeri ini... dimana aparat negeri ini sebagian BESAR ahlak dan moralnya jauh dari baik sehingga tidak bisa dijadikan tauladan... Kesejahteraan Rakyat yang masih sangat kurang... Hukum yang dapat dipermainkan oleh para penjahat... sy hanya orang yang mendambakan pemerintahan yang dapat mensejahterakan rakyat dan membimbing rakyatnya selamat di dunia maupun akhirat.
ReplyDeleteSaya mencoba menanggapi masalah Demokrasi dan Khilafah... Khilafah jelas berbeda dengan Demokrasi dari pengertian dasarnya adapun jika dalam prakteknya ada kemiripan itu merupakan suatu kebutuhan dalam mendirikan pemerintahan... Khilafah Kedaulatan ada ditangan syariah (Aturan Allah) sedangkan Demokrasi kedaulatan adalah ditangan rakyat dengan demikian Khilafah menggunakan aturan yang dibuat oleh Allah yang Maha Mengetahui apa yang dibutuhkan oleh manusia untuk hidup selamat di dunia dan di akhirat.
Mengenai Sistem Politik yang digunakan didalam Khilafah memang tidak dipelajari dalam ilmu politik formal yang ada di universitas2 manapun karena memang dibuat sedemikian rupa agar kita tidak mengenal ilmu politik Islam yang sesungguhnya, Jadi Khilafah bukan Demokrasi Parlementer, Demokrasi Presidensial atau Monarki Absolut sekalipun karena dalam Khilafah Pimpinan tertingginya bukanlah hasil pilihan rakyat semata tetapi lebih ditekankan kepada orang yang paling taqwa kepada Allah SWT sehingga dia dapat menjalankan hukun Islam didalam pemerintahan dengan baik dan benar. Dan dalam pemerintahan Khilafah tentu saja dibutuhkan berbagai macam alat negara seperti Menteri, Gubernur, Alat pertahanan negara (Militer), Alat pengamanan masyarakat (Polisi) tapi bukan berarti yang seperti ini adalah demokrasi karena landasannya berbeda bukan berdasarkan kedaulatan rakyat tapi kedaulatan hukum Islam. Mungkin hanya itu saja yang saya ketahui mohon maaf apabila kurang memuaskan, jika memang kurang puas bisa tanyakan langsung kepada HTI nya sendiri.
Mas Ajie yang sy Hormati... sy Arlian orang yang belum pernah belajar politik secara formal dan sy juga bukan anggota HTI... sy hanya orang yang sangat prihatin dengan kondisi politik dan pemerintahan negeri ini... dimana aparat negeri ini sebagian BESAR ahlak dan moralnya jauh dari baik sehingga tidak bisa dijadikan tauladan... Kesejahteraan Rakyat yang masih sangat kurang... Hukum yang dapat dipermainkan oleh para penjahat... sy hanya orang yang mendambakan pemerintahan yang dapat mensejahterakan rakyat dan membimbing rakyatnya selamat di dunia maupun akhirat.
ReplyDeleteSaya mencoba menanggapi masalah Demokrasi dan Khilafah... Khilafah jelas berbeda dengan Demokrasi dari pengertian dasarnya adapun jika dalam prakteknya ada kemiripan itu merupakan suatu kebutuhan dalam mendirikan pemerintahan... Khilafah Kedaulatan ada ditangan syariah (Aturan Allah) sedangkan Demokrasi kedaulatan adalah ditangan rakyat dengan demikian Khilafah menggunakan aturan yang dibuat oleh Allah yang Maha Mengetahui apa yang dibutuhkan oleh manusia untuk hidup selamat di dunia dan di akhirat.
Mengenai Sistem Politik yang digunakan didalam Khilafah memang tidak dipelajari dalam ilmu politik formal yang ada di universitas2 manapun karena memang dibuat sedemikian rupa agar kita tidak mengenal ilmu politik Islam yang sesungguhnya, Jadi Khilafah bukan Demokrasi Parlementer, Demokrasi Presidensial atau Monarki Absolut sekalipun karena dalam Khilafah Pimpinan tertingginya bukanlah hasil pilihan rakyat semata tetapi lebih ditekankan kepada orang yang paling taqwa kepada Allah SWT sehingga dia dapat menjalankan hukun Islam didalam pemerintahan dengan baik dan benar. Dan dalam pemerintahan Khilafah tentu saja dibutuhkan berbagai macam alat negara seperti Menteri, Gubernur, Alat pertahanan negara (Militer), Alat pengamanan masyarakat (Polisi) tapi bukan berarti yang seperti ini adalah demokrasi karena landasannya berbeda bukan berdasarkan kedaulatan rakyat tapi kedaulatan hukum Islam. Mungkin hanya itu saja yang saya ketahui mohon maaf apabila kurang memuaskan, jika memang kurang puas bisa tanyakan langsung kepada HTI nya sendiri.
Jika Pak Adjie Marzuki Adnan berkenan silakan kunjungi http://gocodealpha.blogspot.com/2009/04/islam-tidak-demokratis.html. Di tulisan itu, saya petakan sejumlah poin penting perbedaan sistem pemerintahan Islam dengan sistem pemerintahan lain.
ReplyDeleteSaat ini, saya bukan syabab HTI (HT cabang Indonesia), namun saya banyak mengadopsi pemikiran mereka.
Salam hormat,
Adnan
numpang coment mas adji adnan..
ReplyDeletebila mengomentari apalagi memberi tuduhan tanpa landasan yg kuat bisa jadi fitnah... bg org HTI tulisan anda hanya sebagai angin lalu. kecuali anda mw mencari tw ke anggota pengurusnya langsung...
Bila anda bilang islam tk punya sistem politik, maka anda salah besar. justru sistem politik islam lebih mulia (silahkn cari tau, ust. dwi condro triono pengarang buku ilmu retorika mengguncang dunia telh menjelaskan di buku tersebut).
sebenarnya perjuangn syariah dan khilafah adalah bentuk wujud dan konsekuensi keimanan kepada Allah.
bila mencari tau arti demokrasi maka tanyalh kepda pembuatnya... dari kenyataannya istilh demokrasi pengertiannya dri yg melahirkan hanya ada 1 yaitu "dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, kekuasaan tertinggi ad pd rakyat". bila ada perkembangan itu hanya tambahan yg dibuat2. dlm demokrasi, kedaulatan (membuat hukum, dengan DPRx) dan kekuasaan (memilih pemmpin) ad pada rakyat. sedangkan dalam islam kedaulatan ada pada Allah (hukum syara') dan kekuasaan ada pada rakyat.
sy sbg anggota HTI mengatakan bahwa apa yg anda tulis diatas justru sangat dangkal. krena semuanya keliru. HTI mengatakn demikrasi haram itu sudah dngan dasar yg kuat dan objectif. silahkn bnyak baca bukunya dulu dan bertanya kpd ahlinya dri org HTI langsung. bukn bertnya atw mendengar dri yg pemula. terimakasih...
wah, kalau menurut saya demokrasi dan Islam jelas sangat bertentangan dilihat dari prinsip dasarnya pun sudah kelihatan hoho
ReplyDeleteDemokrasi --> kedaulatan di tangan rakyat
Islam --> kedaulatan di tangan syariat (Allah)
dan masih banyak penyimpangannya, jadi tidak bisa disamakan :)
adapun mengenai penggunaan produk demokrasi, setiap benda itu hukumnya mubah, bebas nilai. jadi tidak ada larangan untuk dipakai ^^ kecuali jika ada dalil yang mengharamkan yaa hhohoho
saya rasa meski HTI harus berjuang di sistem komunis pun, mereka akan melakukannya ^^
karena ini seruan dari Allah, karena menerapkan hukum syara adalah wajib ^^
HTI juga setau saya tidak pernah mengatakan demokrasi itu haram, tapi sistem kufur dimana menjadi ketidakbolehan untuk turut bergabung :)
menarik memang membahas masalah ini, mangga jika ada yang belum paham atau kontra disampaikan langsung ke anggota HTI nya, diskusi bersama sehingga didapatlah jawaban yang in sha Allah benar ^^
sehingga kesalahpahaman pun akan terselesaikan
I agree..saya adalah manusia punya potensi akal yang diciptakan untuk mengenal mengapa dia diciptakan demikian, untuk apa digunakan dan konsekwnsi penggunaanya,
ReplyDeletepertama memang kita harus punya iman jalannya dari akal itu sendiri | Proses penciptaan manusia, alam semesta dan kehidupan, Niscaya kita telah tepat menemukan jawabannya | yaa islam yang paling masuk akal, terlogikakan dan menentramkan hati.
Islam tak hanya menyangkut peribadatan layaknya agama lain, namun secara komprehensif, itulah poin penting lainnya mengapa kita bangga akan islam kita. yuk pelajari kembali islam kita, agar menjadi muslim yang selalu berada pada jalan lurusNya | setap membaca Surat Al Fatihah, pasti bila kita sadar membacanya, itulah do'a kita,,
ayolah lihat fakta bagaimana negara kita dengan sistem yang digunakan, anda yang kaya saja sudah dibuat repot, rugi tak menentramkan hati, apalagi kami yang menegah kebawah..
lalu lihatlah sejarah lalu berkata dizaman Khulafaur Rasyidin, Khalifah Umar bin Abdul Aziz.. tak perlu dijelaskan, Iqro'..!