Beberapa hari belakangan ini sosmed sedang habis-habisan heboh berita
soal Gaza. Jalur Gaza, yang merupakan bagian dari negeri Palestina
(yang tentu saja berafiliasi erat dengan Islam), sedang diserang
habis-habisan oleh Israel. Tidak perduli kau sedang membuka facebook
atau pun twitter, maka yang kau temui adalah gambar-gambar anak kecil
yang mengalami luka atau cacat permanen akibat serangan pasukan Israel.
Tapi ada sedikit yang mengganjal dalam euforia dukungan terhadap
Palestina, ganjalan yang semoga saja bukan saya saja yang merasakannya.
Ada
2 hal yang ingin saya tuangkan dalam tulisan sederhana ini, pertama:
Hipokrisi warga kita menyikapi masalah Palestina vs ISIS, dan kedua:
Standar ganda dalam menyikapi masalah Palestina dan Papua.
Minat Baca Mahasiswa Dan Maraknya Kampanye Hitam
Sungguh menjijikan nan menyedihkan melihat kawan-kawan di facebook dan twitter kini mempunyai sebuah hobi baru yang kurang sedap dipandang mata: menjelek-jelekkan salah satu pasang capres - cawapres tertentu, entah itu Prabowo - Hatta ataupun Jokowi - JK. Sejak dari sebulan yang lalu hingga sekarang aku menulis cerita ini, banyak (tidak semua) orang-orang yang menjadi kawanku di facebook & twitter, entah itu hanya berkenal di dunia maya atau memang kenal di alam nyata, mendadak menjadi juru kampanye yang berilmu dangkal atau singkatnya, menjadi pelaku kampanye hitam.
Saya jelaskan dulu apa makna makna dari kampanye hitam. Menurut penjelasan Effendi Ghazali, kampanye hitam atau Black Campaign adalah bentuk kampanye yang mempunyai konten mengeksploitasi kekurangan/kelemahan seseorang tanpa ada bukti atau tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Dalam tulisan ini saya cenderung ingin memperluas definisi itu menjadi: Kampanye hitam atau Black Campaign adalah bentuk kempanye yang mempunyai konten mengeksploitas kekurangan/kelemahan seseorang yang bersifat non-kontekstual terhadap permasalahan yang sedang disinggung, dan/atau hal-hal yang tidak mempunyai bukti/tak bisa dibuktikan. Dalam tulisan ini akan saya pergunakan definisi kampanye hitam yang kedua.
Saya jelaskan dulu apa makna makna dari kampanye hitam. Menurut penjelasan Effendi Ghazali, kampanye hitam atau Black Campaign adalah bentuk kampanye yang mempunyai konten mengeksploitasi kekurangan/kelemahan seseorang tanpa ada bukti atau tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Dalam tulisan ini saya cenderung ingin memperluas definisi itu menjadi: Kampanye hitam atau Black Campaign adalah bentuk kempanye yang mempunyai konten mengeksploitas kekurangan/kelemahan seseorang yang bersifat non-kontekstual terhadap permasalahan yang sedang disinggung, dan/atau hal-hal yang tidak mempunyai bukti/tak bisa dibuktikan. Dalam tulisan ini akan saya pergunakan definisi kampanye hitam yang kedua.
Menelisik Gaya Jurkam Prabowo dan Jokowi ala Rekrutmen Tentara
Menarik sesungguhnya melihat fenomenon kampanye pemilu kali ini. Dalam sejarah republik Indonesia, belum pernah ada sebuah pemilu yang dipilih secara langsung oleh 100 jutaan konstituen dengan hanya melibatkan 2 calon presiden yang bisa saya bilang hampir seimbang elektabilitasnya. Minimnya jumlah capres ini tentu saja membuat dikotomi gaya kampanye mereka menjadi hal yang tidak sulit. Salah satu hal yang saya perhatikan benar-benar sejak awal kampanye ini adalah metode kampanye yang dilakukan oleh timses mereka.
Sebagai seseorang yang tertarik dengan sejarah, saya menganalogikan kedua timses capres ini sebagai negara Jerman & Uni Soviet semasa perang dunia kedua. Mungkin para pembaca sekalian sudah tahu mengenai kisah perang dunia II dimana pasukan Nazi Jerman berduel dengan Pasukan Merah Uni Soviet di front Timur, sebuah front pertempuran yang paling berdarah-darah dalam sejarah peradaban umat manusia. Hal ini juga berlaku untuk pemilu kali ini dimana kedua kubu, baik itu Prabowo ataupun Jokowi sama-sama "berdarah-darah", mati-matian untuk memenangkan front pertempuran pemilu 2014 ini.
Sama hal seperti pasukan Jerman & Uni Soviet dalam strategi perangnya, masing-masing kubu baik itu Prabowo ataupun Jokowi punya cara masing-masing dalam strategi mereka. Dalam tulisan ini saya hanya akan membahas mengenai rekrutmen juru kampanye (campaigner) yang merupakan "Tentara" dalam "Perang" pemilu 2014 ini. Dalam tulisan ini akan ditampilkan perbedaan besar diantara strategi mereka berdua tanpa harus menjustifikasi mana yang benar dan mana yang salah.
Pertama-tama, ada 2 istilah yang akan saya pergunakan disini, yakni "Standing Army" dan "Drafted Army". Mengingat tidak ada padanan bahasa indonesia untuk kedua istilah itu, maka saya akan jabarkan lebih dulu mengenai apa arti dari kedua istilah itu.
"Standing Army" adalah sebuah konsep dalam dunia militer yang menjelaskan sebuah pasukan yang terlatih. Standing Army, singkatnya, adalah sebuah pasukan yang sudah terdidik dan terlatih dalam latihan yang teratur dan terukur serta bersifat profesional. Gaya Standing Army ini digunakan oleh Jerman pada masa perang dunia II. TNI di Indonesia juga mengadopsi gaya Standing Army ini.
"Drafted Army" atau Conscription (Konskripsi) adalah sebuah komsep dalam dunia militer yang menjelaskan sebuah pasukan yang semi- terlatih. Drafted Army, singkatnya, adalah sebuah pasukan yang tidak terlatih dalam latihan yang regular dan bersifat non- profesional. Anggota Drafted Army bisa diambil dari kondisi Wajib Militer (Seperti di Korsel & Amerika Serikat semasa perang Vietnam) atau organisasi para-militer (seperti Hamas). Gaya Drafted Army ini digunakan oleh Uni Soviet di perang dunia II.
Prabowo - Hatta, pasangan Capres-Cawapres nomor 1, menganut gaya "Standing Army". Hal ini terlihat dari jurkam-jurkam mereka yang banyak memanfaatkan tenaga ahli. Jubir pasangan ini sendiri memang mengakui bahwa banyak dari juru kampanye mereka adalah lulusan Sarjana, baik itu dalam negeri ataupun Luar negeri. Gaya bicara juru kampanye ini pun bisa menunjukkan bahwa mereka adalah orang berpendidikan tinggi. Pemilihan pasangan ini untuk mengadopsi gaya "Standing Army" mungkin saja disebabkan karena faktor Prabowo yang memang mempunyai kecerdasan tinggi dan juga mantan lulusan terbaik Taruna.
Sedangkan Jokowi - Jusuf kalla, pasangan Capres-Cawapres nomor 2, cenderung menganut gaya "Drafted Army". Hal ini terlihat dari jurkam-jurkam mereka yang diisi masyarakat kelas-kelas bawah. Jubis pasangan inipun mengakui jika banyak dari juru kampanye mereka adalah kalangan orang biasa rata-rata di Indonesia. Dari jumlah sebaran jurkam pasangan ini pun bisa dilihat bahwa mereka hanya orang-orang biasa. Pemilihan pasangan ini untuk mengadopsi gaya "Drafted Army" mungkin karena disebabkan faktor Jokowi yang dalam sejarahnya lekat dengan kemiskinan.
Masing-masing gaya tentu saja punya kelebihannya masing-masing. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan "Standing Army" dan "Drafted Army"
Standing Army
(+)Think Tank yang hebat. Dengan pendidikan tinggi, kemampuan deduktif dan dialektik jurkam ini juga menjadi lebih baik. Serangan-serangan terhadap pasangan capres ini dapat dijawab dengan baik oleh mereka. Jurkam jenis ini juga bisa memaparkan program-program capresnya dengan lebih meyakinkan.
(+)Kemampuan menjaring kelas menengah yang tinggi. Kelas menengah, selaku kelas yang paling dengan rasio tingkat konsumsi tertinggi di Indonesia, memegang peranan yang cukup penting dalam jalannya roda pemerintahan, terutama perekonomian. Sebagai kelas yang esensial, tidak heran kedua capres ini berebut simpati dari kelas menengah. Keunggulan jurkam jenis adalah dia mampu meyakinkan kelas menengah, dengan pendekatan yang ilmiah, untuk memilih capres bernomor 1 ini.
(+)akses ke berbagai media yang sangat luas. Jurkam ini juga bisa dan cerdas dalam memanfaatkan berbagai media, termasuk media online. Bahkan tidak menutup kemungkinan jurkam jenis ini secara profesional mengolah kampanye dalam berbagai media-media dengan fitur premium. Misal: membuat website yang apik, membuat iklan yang bagus di TV, memanfaatkan jasa agensi dalam mengolah iklan di media sosial internet dll.
(+)Lebih terkoordinasi. Jurkam jenis ini juga lebih terkoordinasi dalam proses kampanye nya. Dengan lebih terkoordinasi, maka miskomunikasi antar juru kampanye dapat diminimalisir, sehingga dapat menghasilkan output seperti yang diharapkan.
(-)Mahal. Dikarenakan merekrut para ahli/profesional membutuhkan biaya yang tidak murah, jelas jenis pasukan Jurkam ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
(-)Relatif sedikit. Memerlukan gelar sarjana tentu bukan hal yang tersedia banyak di Indonesia. Mungkin karena itulah, secara kuantitatif jurkam jenis ini jumlahnya relatif lebih sedikit ketimbang Jurkam Drafted Army.
(-)Kemampuan menjaring kelas bawah yang kurang. Dikarenakan individu yang terlibat adalah kaum terpelajar dan kelas menengah, maka akses ke masyarakat kelas bawah agak terhambat. Entah itu dikarenakan faktor lingkungan ataupun skeptisme (kecemburuan) antar kelas sosial..
(-)Cenderung monoton. Adanya otoritas yang membawahi jurkam-jurkam yang beroperasi di lapangan, tentu membuat variasi berkurang. Ide-ide kampanye yang muncul harus diseleksi dan tidak semua ide itu akan disetujui, sehingga ide kampanye yang muncul adalah ide-ide si pemegang otoritas.
Drafted Army
(+)Murah. Karena sifatnya yang sukarela, maka biaya yang dikeluarkan relatif kecil. Masing-masing juru kampanye bergerak sesuai dengan kemampuannya tanpa perlu dipimpin oleh otoritas tertentu.
(+)Berjumlah banyak. Karena jurkam jenis ini mudah direkrut (tanpa memerlukan CV yang bagus), maka jumlahnya relatif lebih banyak daripada jurkam "Standing Army". Dengan jumlah yang relatif banyak ini maka jurkam Standing Army punya jangkauan yang lebih banyak pula.
(+)Kemampuan menjaring kelas bawah yang tinggi. Karena sifatnya sukarela dan cenderung berasal dari masyarakat bawah (tidak terdidik), maka cakupannya pun lebih dekat dengan masyarakat kelas bawah di Indonesia yang jumlahnya lebih banyak ketimbang kelas menengah.
(+)variatif. Berjumlah banyak berarti semakin banyak otak yang terlibat, semakin banyak otak yang terlibat berarti semakin banyak
pula cara-cara unik yang bisa dilakukan, sesuai dengan selera masing-masing individu jurkam tersebut.
(-)Mempunyai kemampuan dialektik yang relatif kurang. Dengan Jurkam yang berasal dari masyarakat kelas bawah / tidak terpelajar, membuat jurkam tipe ini cenderung
sulit menjawab serangan-serangan yang ditujukan kepada capresnya. Pemaparan program capres yang dilakukan oleh Jurkam jenis ini juga sangat mendasar dan kurang teknis, dan lebih bersifat umum saja.
(-)Kemampuan menjaring kelas menengah yang rendah. Berhubungan dengan poin di atas, jurkam ini biasanya sulit menjaring kelas menengah yang bersifat kritis. Ketidakmampuan memberikan argumen yang mendetil dan teknis biasanya tidak bisa memuaskan kelompok dari kelas menengah.
(-)Akses ke berbagai media yang cenderung gratisan. Karena sifatnya yang sukarela, maka biaya yang dikeluarkan sangatlah minim atau malah gratis samasekali. Tentu saja pemanfaatan media yang mengandalkan fitur gratisan atau murah tidak se- eye catching jurkam yang memanfaatkan fitur premium.
(-)Kurang terkoordinasi. Jurkam tipe ini, karena mereka bergerak secara seporadis, maka tidak ada/sedikit sekali koordinasi yang dilakukan. Kurang koordinasi tentu saja berpotensi berbahaya karena bisa saja ada kampanye yang melanggar ketentuan KPU, tumpang tindih, black campaign dan semacamnya.
Seperti yang kita lihat di atas, masing-masing tipe Jurkam punya kelebihan dan kekurangannya. Satu jenis Jurkam tidak lebih unggul dibanding jenis jurkam lainnya sehingga muncul tebak-tebakan liar siapa yang akan menang pemilu 2014 hanya dari jenis rekrutmen Jurkam ini. Masing-masing kubu juga tidak hanya murni memanfaatkan 1 jenis Rekrutmen juga, misalnya Kubu Prabowo juga memanfaatkan Jurkam Drafted Army untuk menjaring masyarakat kelas bawah dan begitupun halnya dengan kubu Jokowi yang juga memanfaatkan Jurkam Standing Army untuk mereguk suara kelas menengah.
Tentu saja tulisan diatas tidak sempurna dan tidak menyeluruh karena toh saya bukan seorang konsultan atau ahli politik, dan saya juga bukan sedang menulis sebuah karya ilmiah, ini hanya tulisan garis besarnya saja dari observasi saya dilapangan. Namun demikian, mungkin dari anda sekalian ada yang ingin menjadikan jenis jurkam ini sebagai referensi dalam memilih siapa calon presiden anda untuk 5 tahun, maka saya persilahkan saja. Yang penting mari kita tetap berkampanye secara santun, dan jangan menyebar berita-berita yang tidak dapat dipastikan kebenarannya.
Sebagai seseorang yang tertarik dengan sejarah, saya menganalogikan kedua timses capres ini sebagai negara Jerman & Uni Soviet semasa perang dunia kedua. Mungkin para pembaca sekalian sudah tahu mengenai kisah perang dunia II dimana pasukan Nazi Jerman berduel dengan Pasukan Merah Uni Soviet di front Timur, sebuah front pertempuran yang paling berdarah-darah dalam sejarah peradaban umat manusia. Hal ini juga berlaku untuk pemilu kali ini dimana kedua kubu, baik itu Prabowo ataupun Jokowi sama-sama "berdarah-darah", mati-matian untuk memenangkan front pertempuran pemilu 2014 ini.
Sama hal seperti pasukan Jerman & Uni Soviet dalam strategi perangnya, masing-masing kubu baik itu Prabowo ataupun Jokowi punya cara masing-masing dalam strategi mereka. Dalam tulisan ini saya hanya akan membahas mengenai rekrutmen juru kampanye (campaigner) yang merupakan "Tentara" dalam "Perang" pemilu 2014 ini. Dalam tulisan ini akan ditampilkan perbedaan besar diantara strategi mereka berdua tanpa harus menjustifikasi mana yang benar dan mana yang salah.
Pertama-tama, ada 2 istilah yang akan saya pergunakan disini, yakni "Standing Army" dan "Drafted Army". Mengingat tidak ada padanan bahasa indonesia untuk kedua istilah itu, maka saya akan jabarkan lebih dulu mengenai apa arti dari kedua istilah itu.
"Standing Army" adalah sebuah konsep dalam dunia militer yang menjelaskan sebuah pasukan yang terlatih. Standing Army, singkatnya, adalah sebuah pasukan yang sudah terdidik dan terlatih dalam latihan yang teratur dan terukur serta bersifat profesional. Gaya Standing Army ini digunakan oleh Jerman pada masa perang dunia II. TNI di Indonesia juga mengadopsi gaya Standing Army ini.
"Drafted Army" atau Conscription (Konskripsi) adalah sebuah komsep dalam dunia militer yang menjelaskan sebuah pasukan yang semi- terlatih. Drafted Army, singkatnya, adalah sebuah pasukan yang tidak terlatih dalam latihan yang regular dan bersifat non- profesional. Anggota Drafted Army bisa diambil dari kondisi Wajib Militer (Seperti di Korsel & Amerika Serikat semasa perang Vietnam) atau organisasi para-militer (seperti Hamas). Gaya Drafted Army ini digunakan oleh Uni Soviet di perang dunia II.
Prabowo - Hatta, pasangan Capres-Cawapres nomor 1, menganut gaya "Standing Army". Hal ini terlihat dari jurkam-jurkam mereka yang banyak memanfaatkan tenaga ahli. Jubir pasangan ini sendiri memang mengakui bahwa banyak dari juru kampanye mereka adalah lulusan Sarjana, baik itu dalam negeri ataupun Luar negeri. Gaya bicara juru kampanye ini pun bisa menunjukkan bahwa mereka adalah orang berpendidikan tinggi. Pemilihan pasangan ini untuk mengadopsi gaya "Standing Army" mungkin saja disebabkan karena faktor Prabowo yang memang mempunyai kecerdasan tinggi dan juga mantan lulusan terbaik Taruna.
Sedangkan Jokowi - Jusuf kalla, pasangan Capres-Cawapres nomor 2, cenderung menganut gaya "Drafted Army". Hal ini terlihat dari jurkam-jurkam mereka yang diisi masyarakat kelas-kelas bawah. Jubis pasangan inipun mengakui jika banyak dari juru kampanye mereka adalah kalangan orang biasa rata-rata di Indonesia. Dari jumlah sebaran jurkam pasangan ini pun bisa dilihat bahwa mereka hanya orang-orang biasa. Pemilihan pasangan ini untuk mengadopsi gaya "Drafted Army" mungkin karena disebabkan faktor Jokowi yang dalam sejarahnya lekat dengan kemiskinan.
Masing-masing gaya tentu saja punya kelebihannya masing-masing. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan "Standing Army" dan "Drafted Army"
Standing Army
(+)Think Tank yang hebat. Dengan pendidikan tinggi, kemampuan deduktif dan dialektik jurkam ini juga menjadi lebih baik. Serangan-serangan terhadap pasangan capres ini dapat dijawab dengan baik oleh mereka. Jurkam jenis ini juga bisa memaparkan program-program capresnya dengan lebih meyakinkan.
(+)Kemampuan menjaring kelas menengah yang tinggi. Kelas menengah, selaku kelas yang paling dengan rasio tingkat konsumsi tertinggi di Indonesia, memegang peranan yang cukup penting dalam jalannya roda pemerintahan, terutama perekonomian. Sebagai kelas yang esensial, tidak heran kedua capres ini berebut simpati dari kelas menengah. Keunggulan jurkam jenis adalah dia mampu meyakinkan kelas menengah, dengan pendekatan yang ilmiah, untuk memilih capres bernomor 1 ini.
(+)akses ke berbagai media yang sangat luas. Jurkam ini juga bisa dan cerdas dalam memanfaatkan berbagai media, termasuk media online. Bahkan tidak menutup kemungkinan jurkam jenis ini secara profesional mengolah kampanye dalam berbagai media-media dengan fitur premium. Misal: membuat website yang apik, membuat iklan yang bagus di TV, memanfaatkan jasa agensi dalam mengolah iklan di media sosial internet dll.
(+)Lebih terkoordinasi. Jurkam jenis ini juga lebih terkoordinasi dalam proses kampanye nya. Dengan lebih terkoordinasi, maka miskomunikasi antar juru kampanye dapat diminimalisir, sehingga dapat menghasilkan output seperti yang diharapkan.
(-)Mahal. Dikarenakan merekrut para ahli/profesional membutuhkan biaya yang tidak murah, jelas jenis pasukan Jurkam ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
(-)Relatif sedikit. Memerlukan gelar sarjana tentu bukan hal yang tersedia banyak di Indonesia. Mungkin karena itulah, secara kuantitatif jurkam jenis ini jumlahnya relatif lebih sedikit ketimbang Jurkam Drafted Army.
(-)Kemampuan menjaring kelas bawah yang kurang. Dikarenakan individu yang terlibat adalah kaum terpelajar dan kelas menengah, maka akses ke masyarakat kelas bawah agak terhambat. Entah itu dikarenakan faktor lingkungan ataupun skeptisme (kecemburuan) antar kelas sosial..
(-)Cenderung monoton. Adanya otoritas yang membawahi jurkam-jurkam yang beroperasi di lapangan, tentu membuat variasi berkurang. Ide-ide kampanye yang muncul harus diseleksi dan tidak semua ide itu akan disetujui, sehingga ide kampanye yang muncul adalah ide-ide si pemegang otoritas.
Drafted Army
(+)Murah. Karena sifatnya yang sukarela, maka biaya yang dikeluarkan relatif kecil. Masing-masing juru kampanye bergerak sesuai dengan kemampuannya tanpa perlu dipimpin oleh otoritas tertentu.
(+)Berjumlah banyak. Karena jurkam jenis ini mudah direkrut (tanpa memerlukan CV yang bagus), maka jumlahnya relatif lebih banyak daripada jurkam "Standing Army". Dengan jumlah yang relatif banyak ini maka jurkam Standing Army punya jangkauan yang lebih banyak pula.
(+)Kemampuan menjaring kelas bawah yang tinggi. Karena sifatnya sukarela dan cenderung berasal dari masyarakat bawah (tidak terdidik), maka cakupannya pun lebih dekat dengan masyarakat kelas bawah di Indonesia yang jumlahnya lebih banyak ketimbang kelas menengah.
(+)variatif. Berjumlah banyak berarti semakin banyak otak yang terlibat, semakin banyak otak yang terlibat berarti semakin banyak
pula cara-cara unik yang bisa dilakukan, sesuai dengan selera masing-masing individu jurkam tersebut.
(-)Mempunyai kemampuan dialektik yang relatif kurang. Dengan Jurkam yang berasal dari masyarakat kelas bawah / tidak terpelajar, membuat jurkam tipe ini cenderung
sulit menjawab serangan-serangan yang ditujukan kepada capresnya. Pemaparan program capres yang dilakukan oleh Jurkam jenis ini juga sangat mendasar dan kurang teknis, dan lebih bersifat umum saja.
(-)Kemampuan menjaring kelas menengah yang rendah. Berhubungan dengan poin di atas, jurkam ini biasanya sulit menjaring kelas menengah yang bersifat kritis. Ketidakmampuan memberikan argumen yang mendetil dan teknis biasanya tidak bisa memuaskan kelompok dari kelas menengah.
(-)Akses ke berbagai media yang cenderung gratisan. Karena sifatnya yang sukarela, maka biaya yang dikeluarkan sangatlah minim atau malah gratis samasekali. Tentu saja pemanfaatan media yang mengandalkan fitur gratisan atau murah tidak se- eye catching jurkam yang memanfaatkan fitur premium.
(-)Kurang terkoordinasi. Jurkam tipe ini, karena mereka bergerak secara seporadis, maka tidak ada/sedikit sekali koordinasi yang dilakukan. Kurang koordinasi tentu saja berpotensi berbahaya karena bisa saja ada kampanye yang melanggar ketentuan KPU, tumpang tindih, black campaign dan semacamnya.
Seperti yang kita lihat di atas, masing-masing tipe Jurkam punya kelebihan dan kekurangannya. Satu jenis Jurkam tidak lebih unggul dibanding jenis jurkam lainnya sehingga muncul tebak-tebakan liar siapa yang akan menang pemilu 2014 hanya dari jenis rekrutmen Jurkam ini. Masing-masing kubu juga tidak hanya murni memanfaatkan 1 jenis Rekrutmen juga, misalnya Kubu Prabowo juga memanfaatkan Jurkam Drafted Army untuk menjaring masyarakat kelas bawah dan begitupun halnya dengan kubu Jokowi yang juga memanfaatkan Jurkam Standing Army untuk mereguk suara kelas menengah.
Tentu saja tulisan diatas tidak sempurna dan tidak menyeluruh karena toh saya bukan seorang konsultan atau ahli politik, dan saya juga bukan sedang menulis sebuah karya ilmiah, ini hanya tulisan garis besarnya saja dari observasi saya dilapangan. Namun demikian, mungkin dari anda sekalian ada yang ingin menjadikan jenis jurkam ini sebagai referensi dalam memilih siapa calon presiden anda untuk 5 tahun, maka saya persilahkan saja. Yang penting mari kita tetap berkampanye secara santun, dan jangan menyebar berita-berita yang tidak dapat dipastikan kebenarannya.
Mengungkap Modus Pamer Di Jagad Sosial Media
Sebelum Sosmed berkembang, orang-orang pamer biasanya dengan cerita atau barang yang mereka pakai (by chat and by stuffs). Mulai dari cerita dia pernah ke luar negeri, cerita dia lulus dari kampus X, cerita ini itu dan sebagainya. Untuk barang bisa macam-macam: mulai dari sepatu bermerek hingga mobil mewah. Cara pamer klasik seperti ini memang masih dilakukan seperti ini, namun seiring dengan perkembangan dunia maya, Sosial media khususnya, manusia semakin kreatif untuk menggunakan metode-metode baru demi bisa memamerkan dirinya.
Berikut adalah modus-modus yang umum digunakan baik oleh penulis sendiri atau orang-orang yang banyak penulis temui di Sosmed.
1. Pamer Dengan Foto.
Ini adalah cara pamer yang cukup mainstream di Facebook, mengingat facebook cukup baik dalam fitur fotonya. Pamer dengan foto ini punya berbagai jenis:
A. Pamer foto di suatu Hotspot.
Biasanya pamer saat dia berada di suatu tempat yang cukup bergengsi, ex: Luar negeri atau daerah wisata tertentu dalam negeri yang "not affordable by everyone" (Tidak semua orang bisa membayarnya) seperti di Bali, dalam Caffee Star*****, atau di tempat-tempat eksklusif lainnya. Sepengetahuan dan sepengalaman penulis, sangat jarang ada orang yang memamerkan foto saat mereka makan dirumah atau di warung-warung makan kecil-kecilan.
B. Pamer foto barang yang digunakan.
Pamer ini memanfaat barang yang dimilikinya (tidak perduli dibeli oleh orang tuanya atau miliknya sendiri atau bahkan hanya meminjam milik orang lain). Barang yang di"manfaatkan" kebanyakan adalah gadget (Handphone, tablet, dll), mobil atau kamera SLR.
C. Pamer foto transkrip skor/nilai/prestasi/penghargaan dll.
Entah bangga atau hanya ingin pamer (atau mungkin kombinasi keduanya), ada beberapa orang yang hobi memamerkan foto barang hasil kecerdasannya seperti transkrip nilai/skor, penghargaan, piagam, atau bahkan judul skripsi/tesisnya. Mungkin orang semacamnya ini ingin mengaskan kepada orang lain (setidaknya kawan-kawannya) bahwa dia berbeda dan lebih cerdas ketimbang orang lain.
D. Pamer foto dengan orang terkenal.
Pamer ini sebenarnya jarang penulis lihat di sosmed, namun memang ada orang yang seperti ini. Orang-orang tipe ini suka memerkan fotonya saat bersama orang-orang terkenal macam artis atau politikus yang sedang nge-hit.
2. Pamer Dengan Status
Pamer ini dengan status adalah jenis pamer yang paling mainstream di semua media sosial tenar seperti Facebook dan Twitter karena memang ini adalah cara pamer paling sederhana, mudah dan cepat. Namun demikian, pamer dengan Status ini masih bisa kita pilah-pilah lagi kategorinya...
A. Pamer dengan status mengeluh
Pamer ini menyembunyikan unsur kepamerannya dengan sebuah atau lebih keluhan. Contoh:
"Rencana mau ketemu <tulis nama artis terkenal disini> di Korea gagal total gara-gara Garuda delay sampai 5 jam, Kecewa!"
"Yah ipad nya ngga sengaja kedudukan sampai retak kacanya, males banget mau servis.. jauh!"
B. Pamer dengan status Galau.
Pamer ini menyamarkan unsur kepamerannya dengan sebuah kondisi yang penuh kegalauan. Contoh:
"Dapat job baru dengan tambahan gaji 5 juta, tapi lokasi kerjanya jauh dari rumah... jadi bingung"
"Pilih stay Apartemen apa Kontrakan ya.. huff"
C. Pamer dengan status "mau kemana"
Pamer ini mengaburkan unsur kepamerannya dengan status yang menunjukkan lokasi yang dia tuju. Contoh:
"Hari ini ke Medan, besok langsung fly ke Singapur 2 hari, habis itu langsung ke Gili, semangat!"
"Jkt ~> Sing ~> Semarang ~> Jkt"
D. Pamer dengan Status posisi.
Pamer ini melapisi unsur kepamerannya dengan posisi ybs, dimana spot tersebut berafiliasi dengan hal tertentu yang bersifat eksklusif (not affordable by everyone). Contoh:
"Akhirnya setelah berjibaku dengan banjir di tol, sampai juga di bandara!"
"At kopiti** cafe MOI with Tono, Budi & Banu"
E. Pamer dengan status doa/rasa bersyukur
Pamer jenis ini menutupi unsur kepamerannya dengan doa/rasa bersyukur kepada Tuhannya. Contoh:
"Alhamdulillah banget akhirnya tahun depan fix pergi umroh sama papa mama.. Ya Allah, bersyukur banget"
"Puji Tuhan akhirnya akhir bisa beli rumah sendiri.."
F. Pamer dengan bahasa asing.
Pamer ini memanfaatkan bahasa asing sebagai ajang untuk pamer bahwa dia bisa berbahasa asing dengan fasih. Contoh:
Inggris: "I wonder if there's someone who supposedly be with me till the very end of my breath, oh dear Lord, please send me an Angel"
Prancis: "Le plus bel amour ne va pas loin si on le regarde courir. Mais plutôt il faut le porter à bras comme un enfant chéri."
3. Pamer dengan Geotagging.
Pamer dengan geotagging ini adalah pamer yang lebih canggih karena membutuhkan fitur GPS di ponsel ybs. Geotagging ini bisa dilakukan di facebook, twitter dan terutama path. Pamer tipe ini lah yang paling amelioratif karena seakan-akan menunjukkan si empu account hanya menjelaskan dia ada dimana, padahal yang dituliskan, sekali lagi, not affordable by everyone. Contoh:
"At Grand Indonesia with X, Y, Z"
"At Changi Airport"
4. Pamer Forum/Konfrensi Internasional
Pamer tipe terakhir ini mungkin adalah pamer tipe tereksklusif, terelit dan termutakhir. Pamer konfrensi internasional ini pun relatif baru karena baru dikenal 4-5 tahun belakangan ini saat acara-acara semacam forum model UN, konfrensi A, B, C dll menjadi sangat populer. Pamer tipe ini biasanya menggunakan kombinasi modus-modus foto, status dan geotagging.
5. Pamer dengan Tulisan.
Pamer ini adalah jenis pamer yang paling jarang di temui oleh penulis, terutama di dua raksasa sosmed: Twitter dan Facebook. Modus pamer ini juga merupakan modus pamer yang menurut pendapat pribadi penulis adalah pamer yang paling bermanfaat bagi orang lain dan dirinya sendiri. Pamer jenis ini sebenarnya sudah tersedia medianya, yakni (salah satunya) blogspot, namun tampaknya pengguna blogspot Indonesia kalah jauh dengan pengguna medsos lainnya
Tentu saja semua modus-modus yang biasa dilakukan para user sosmed disini tidaklah sempurna. Mungkin masih ada cara-cara kreatif lain yang belum saya tuliskan disini mengingat penggunaan sosmed baik itu di Indonesia atau di berbagai negara lain cukup signifikan dan pengunanya pun semakin kreatif mencari cara untuk menunjukkan eksistensinya.
Akhir kata, mohon maaf bila tulisan ini sedikit banyak menyinggung anda sekalian yang menggunakan sosmed. Tapi niscayalah bahwa kita semua sama karena penulis sendiri juga melakukan, setidaknya pernah melakukan, beberapa atau semua modus yang tadi disebutkan diatas.
Subscribe to:
Comments (Atom)


