Ingat Palestina, Lupa ISIS Dan Papua

Beberapa hari belakangan ini sosmed sedang habis-habisan heboh berita soal Gaza. Jalur Gaza, yang merupakan bagian dari negeri Palestina (yang tentu saja berafiliasi erat dengan Islam), sedang diserang habis-habisan oleh Israel. Tidak perduli kau sedang membuka facebook atau pun twitter, maka yang kau temui adalah gambar-gambar anak kecil yang mengalami luka atau cacat permanen akibat serangan pasukan Israel. Tapi ada sedikit yang mengganjal dalam euforia dukungan terhadap Palestina, ganjalan yang semoga saja bukan saya saja yang merasakannya.

Ada 2 hal yang ingin saya tuangkan dalam tulisan sederhana ini, pertama: Hipokrisi warga kita menyikapi masalah Palestina vs ISIS, dan kedua: Standar ganda dalam menyikapi masalah Palestina dan Papua.


Hipokrisi atau Hypocrite menurut Mirriam Webster dictionary adalah a person who pretends to have virtues, moral or religious beliefs, principles, etc., that he or she does not actually possess, esp. a person whose actions belie stated beliefs (Seseorang yang berpura-pura punya nilai atau moral tertentu, atau keyakinan, prinsip, dsb yang sebenarnya tidak dia miliki. Terutama seseorang yang memungkiri keyakinan umum). Sifat hipokrit inilah, yang setidaknya bagi saya pribadi, sangat memuakkan terkait masalah di Palestina.

Mitologi biblikal, entah itu perang Armageddon, perang akhir zaman, kembalinya Isa Almasih atau perang Jihad bukan barang aneh karena hampir semua kepercayaan punya kisah yang sama. Contohnya seperti kisah Ragnarok di kepercayaan orang-orang viking, atau lengsernya Zeus karena dilawan oleh anak-anaknya sendiri di mitologi Yunani, atau bisa juga kepercayaan Baha'i yang meyakini akan ada Harmagedon (bukan Armageddon) pada akhir zaman nanti. Dalam islam, disebutkan bahwa perang di Palestina akan terus berlangsung hingga akhir zaman antara Yahudi dengan Islam. Inilah mengapa umat muslim Indonesia terutama sangat mudah dimobilisasi untuk berkampanye membela Palestina. Landasan berpikir utama yang dipakai adalah bahwa warga Palestina adalah muslim dan sebagai sesama muslim harus saling membela saudaranya.

Cara berpikir itu sah-sah saja dan tidak ada yang salah. Namun masalah mulai timbul saat dimana masyarakat Muslim memperhatikan muslim Palestina tapi pada saat yang sama mengabaikan muslim yang lain. Seperti yang dilakukan ISIS (Islamic State in Iraq and the Levant) di Irak: 1700 tentara dan warga Irak dibantai pada tanggal 11 & 14 Juni 2014, jauh lebih banyak daripada yang dibunuh oleh tentara Israel kepada warga Palestina dalam invasi terbaru ini. Namun, apa yang kita lihat? Seakan itu bukan masalah besar, kita hampir tidak bisa menemukan berita mengenai pembantaian massal ini di kampanye-kampanye oleh mereka yang kini begitu aktif menyebarkan gambar korban serangan Israel di Palestina.

Mari kita bandingkan jumlah korban yang ditimbulkan, baik oleh ISIS ataupun Israel (tabel hanya bisa dilihat melalui pc):

ISIS


*Sumber: http://www.ucdp.uu.se/gpdatabase/gpcountry.php?id=77&regionSelect=10-Middle_East# (Universitas Uppsala)

Dari tabel di atas dapat kita akumulasikan serta ditambah dengan korban terbaru 2014 ini, setidaknya ada 8978 (jumlah minimal) warga sipil yang menjadi korban dari ISIS dalam rentang waktu 1 dekade, kebanyakan dari mereka adalah warga Irak dan Suriah yang notabene adalah kebanyakan beragama Islam.

Israel


*Sumber: B'tselem, sebuah NGO Hak Asasi Manusia http://www.btselem.org/statistics

Dari tabel di atas, bila kita tambahkan jumlah korban pada perang terbaru 2014 ini, maka jumlah korban adalah sekitar 6717 warga sipil Palestina.

Dari perbandingan di atas dapat kita pahami bahkan untuk jumlah korban pun Israel kalah telak dengan ISIS dalam waktu kurang lebih 1 dekade terakhir ini.

Namun bagaimana gaung kekejaman ISIS di Indonesia? Nyaris nihil. Saya hampir tidak bisa menemukan kawan di facebook yang mengkampanyekan gerakan untuk berjihad melawan ISIS atau mengirim bantuan kepada korban pembantaian ISIS di Irak. Kalau pun ada, justru kebalikannya, yakni berkampanye untuk mendukung ISIS. Di dalam berita pun kita sangat sulit menemukan berita mengenai ISIS, baik di televisi atau pun koran.

Jelas saya tidak bermaksud menyalahkan mereka yang telah membantu Palestina, karena bagaimanapun apapun bentuk bantuan itu dan kepada siapapun bantuan itu diberikan, layak diapresiasi. Yang saya permasalahkan adalah betapa naifnya sebagian muslim Indonesia dalam menyikapi 2 permasalahan yang sama. Seakan ada kecenderungan publik untuk mencari kambing hitam dari pihak agama lain untuk menciptakan perang salib (Crusade) kedelapan. Jujur saja, tidak dapat kita ingkari bahwa mitos reliji mengenai Yahudi yang berhasrat menguasai dunia serta berbagai dongeng konspirasi super elit "Wahyudi, Rheumason & Mamarika" masih banyak mendominasi pemikiran muslim di Indonesia. Dan mungkin karena itulah ada hasrat terpendam untuk "memerangi" konspirasi tersebut, salah satunya dengan perang suci.

Lalu kenapa perang suci harus difokuskan pada Palestina? Sebenarnya jawabannya cukup sederhana, perang suci tidak dapat dihadapkan kepada mereka yang beragama sama (Karen Armstrong, 1998). Harus ada musuh bersama (Common enemies) yang bisa mempersatukan umat suatu agama. Kita ambil contoh pada perang salib, pihak Kristen menganalogikan bahwa kelompok Islam (baik itu kaum Moor, Mesir ataupun Turki) adalah kaum barbar yang agamanya didirikan oleh seorang Anti Kristus (Catatan: Kristen Eropa pada masa itu menganggap Muhammad adalah seorang anti-kristus). Dengan propaganda seperti ini, Eropa yang waktu itu penuh dengan peperangan sesama kerajaan Kristen, bisa bersatu padu menggerakkan pasukan ke Timur (Palestina) dan tercipta kedamaian di tanah Eropa sendiri. Langkah inilah yang kini ingin dicontoh oleh kaum muslim sekarang. Dengan konflik di Palestina yang melibatkan kelompok Yahudi, ada alasan bagi umat Muslim untuk melakukan perang suci versinya sendiri, persis seperti perang salib versi Eropa berabad-abad lalu.

Pada akhirnya sampailah saya pada sebuah hipotesis bahwa sebenarnya kita tak perduli dengan nyawa manusia. Kita hanya perduli pada ego kebangkitan Islam yang dilakukan melalui peperangan. Nyawa sesama Muslim di Irak karena kekejaman ISIS tidak kita hiraukan, begitu juga dengan nyawa mereka yang melayang karena konflik kesukuan di Pakistan dan Afghanistan. Kita hanya perduli dengan sesama muslim ketika mereka disakiti oleh umat agama/kepercayaan lain seperti di Rohingya dan Palestina. Itulah mengapa saya menganggap sifat hipokrit masyarakat kita sangat memuakkan, sebuah sikap naif yang begitu ekstrim, entah karena ketidaktahuan atau memang karena sebuah desain yang sedemikian rupa diciptakan. Namun tentu saja hipotesis saya ini tidak berlaku umum, karena saya tahu masih ada beberapa kawan saya, walaupun jumlahnya lebih sedikit daripada mereka yang naif, yang perduli dengan sesama manusia tidak perduli apa agama ataupun siapa musuhnya.

Mari kita lanjut ke topik kedua, Standar ganda dalam menyikapi masalah Palestina dan Papua.

Papua, sebuah negeri Cendrawasih yang hidup dalam kenistaan dibawah otoritas Jakarta. Sebuah pulau nomor kesekian terbesar di dunia, dengan keindahan alam seperti Raja Ampat dan kekayaan alam seperti tambang emas yang selama beberapa dekade terakhir belakangan dieksploitasi oleh Freeport. Papua, sebuah pulau paling timur NKRI yang seringkali kita perlakukan seakan bukan bagian dari NKRI, entah itu oleh kita rakyat jelata ataupun oleh pemerintah Pusat. Papua, sebuah nama yang begitu akrab dengan penderitaan, opresi serta kemiskinan yang dibiarkan begitu saja oleh pemerintah Indonesia. Maka pun tidak heran jika warga Papua menuntut kemerdekaan penuh dari Indonesia, walau upaya mereka belum membuahkan hasil hingga hari ini.

Bicara masalah kesejahteraan, 31% masyarakat Papua hidup dalam garis kemiskinan, jauh diatas rata-rata provinsi lain di Indonesia yang berkisar di angka 11% (http://www.nabire.net/tingkat-kemiskinan-di-papua-capai-31-dari-jumlah-penduduk/). Masih lebih buruk ketimbang tingkat kemiskinan di wilayah Palestina yang mencapai 25% (http://www.pcbs.gov.ps/site/881/default.aspx). Tingkat melek huruf (literacy level) di Papua juga kalah jauh dengan Palestina: Tingkat melek huruf di Papua menurut BPS adalah 66% bagi usia 15 tahun keatas, sedangkan tingkat melek huruf di palestina menurut CIA world Fact book sudah mencapai 95%. Jumlah dokter juga sama, di Papua ada 1 dokter per 9000 orang dengan 7 rumah sakit (Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Dr. Untung Suseno Sutarjo), sedangkan di Palestina, ada 1,7 dokter per 7000 orang dengan 79 rumah sakit (http://www.pcbs.gov.ps/site/881/default.aspx).

Dari angka-angka diatas pasti kita sudah punya gambaran siapa yang lebih menderita antara warga Palestina dan warga Papua. Namun tentu saja banyak dari kita yang tidak tahu tentang ini karena memang jarang sekali ada media yang memberitakan tentang penderitaan di Papua, kecuali jika memang ada kasus super besar yang kebetulan tersorot pers seperti saat ada kelaparan di Yahukimo. Kalaupun kita sudah tahu, seakan ada kecenderungan untuk kurang perduli dengan Papua. Terlihat dari jarangnya ada campaign mengenai Papua, baik itu di sosmed ataupun gerakan-gerakan solidaritas. Gambaran yang saya amati adalah kita seakan lebih perduli "tetangga" jauh yang jaraknya 10.000 km lebih dari sini daripada tetangga dekat kita yang berjarak hanya 3000 km yang punya penderitaan lebih besar.

Pertanyaan yang mungkin timbul adalah "Kenapa?". Sekali lagi saya menduga disini bahwa penyebabnya adalah subjektifitas dalam melihat agama yang dianut. Papua adalah provinsi dimana mayoritas adalah non-muslim, dengan jumlah penduduk muslim sebesar 15% dari total populasi saja. Dengan jumlah orang Islam sekecil itu, tentu tempat ini bukan sebuah isu yang strategis untuk membangkitkan rasa keislaman dengan membantu atau sekedar melakukan aksi solidaritas untuk Papua. Singkatnya, Papua kalah pamor dengan Palestina walaupun secara statistik menunjukkan bahwa kehidupan di Papua cenderung lebih sulit daripada di Palestina. Kalah pamor karena Papua tidak punya isu agama untuk diangkat layaknya Palestina atau Rohingya.

Namun seperti biasa, ini hanyalah observasi dan pendapat saya yang sangat mungkin salah. Saya dalam tulisan hanya menyajikan data dan mengambil dugaan dari data-data tersebut dengan cara seobjektif mungkin. Dan saya juga tidak menggeneralisasi bahwa semua orang adalah sama seperti yang saya tuliskan, hanya untuk mereka yang merasa saja. Saya juga menolak untuk mengambil sudut pandang eskatologi Islam, karena jelas saya tidak menguasai (dan tidak tertarik) untuk membahas dari sudut pandang dogmatis keagamaan. Akhir kata, mohon maaf sebesar-besarnya jika tulisan ini sedikit menyentil bagi mereka yang merasa, karena memang itulah tujuan saya...

Wassalam..

No comments:

Post a Comment