Gonjang-ganjing berita Internasional mengenai ancaman serangan AS ke Iran karena masalah pengembangan energi Nuklir dibawah rezim "anti-AS" Iran yang dipimpin oleh Ahmadinejad. Dengan alasan ancaman bahwa pengembangan energi nuklir tersebut dapat disalahgunakan untuk pengembangan senjata nuklir, maka AS (dan Israel) mengancam akan menyerang Iran dengan konsep full scale attack (penyerangan dengan kekuatan penuh angkatan darat, laut dan udara). Penyerangan ke Iran ini kemungkinan akan dibantu negara-negara anggota NATO seperti Inggris, Prancis & Jerman (walaupun pemerintah Jerman telah menyatakan menolak intervensi militer ke Iran). Sebaliknya, potensi penyerangan ke Iran ini ditolak oleh dua negara besar lain, yaitu Rusia dan Cina. Terlepas dari sikap negara-negara di dunia terhadap rencana penyerangan AS ke Iran, ada 2 pertanyaan utama yang saya yakin banyak terlintas dalam benak kita: Mengapa AS sedemikian getol untuk menyerang Iran dan Apakah AS benar-benar berani untuk menyerang negara Iran?
Alasan AS Perlu Menyerang Iran
Ada beberapa alasan utama mengapa AS merasa perlu untuk menyerang Iran. Pertama adalah potensi Iran menjadi sebuah negara kuat karena mempunyai kemampuan deterrence (ancaman) yang bersumber dari senjata nuklirnya (seandainya memang mereka mengembangkan senjata nuklir). Dengan kepemilikan senjata nuklir, maka kemampuan resistensi Iran dari tekanan AS beserta sekutunya menjadi semakin kuat. Resistensi yang meningkat ini membuat posisi tawar AS terhadap kebijakan Iran, yang ada kemungkinan untuk mengancam eksistensi negara Israel dan pengaruh politik AS di Timur tengah, menjadi semakin lemah. Melemahnya pengaruh AS di Timur tengah dapat membawa 2 ancaman bagi negara AS. Pertama adalah makin terancamnya ketersediaan sumber cadangan minyak bumi AS yang notabenenya berasal dari negara-negara Timur Tengah. Kedua adalah terancamnya keamanan nasional (National Security) AS karena dengan melemahnya pengaruh AS di Timteng maka semakin kuat gerakan-gerakan anti-AS, baik VNA (Violent Non-State Actor) seperti Al-Qaeda ataupun dalam level negara.
Selain itu, dengan kemampuan Iran yang dikhawatirkan mampu menciptakan dan menggunakan senjata nuklir, maka eksistensi negara Israel, yang merupakan salah satu negara sekutu terdekat AS, dapat terancam. Karena seperti yang kita tahu bersama bahwa Iran adalah salah satu negara yang paling vokal menentang berdirinya negara Israel. Tentu saja ancaman terhadap Israel dipandang sangat berbahaya bagi politik luar negeri AS terkait dengan posisinya sebagai sekutu terdekat Israel.
Kedua adalah mencegah terjadi bipolarisme/multipolarisme. Amerika Serikat yang kini tengah memimpin kontelasi unipolarisme global tentu berkepentingan untuk terus menjaga dominasinya dan mencegah terjadinya bipolarisme ataupun multipolarisme global. Iran, dengan kemampuan untuk menguasai teknologi nuklir dapat menjadi ancaman potensial untuk menjadi negara kuat lain setelah Cina (yang kini Cina telah dianggap mendekati kekuatan AS). Amerika Serikat tidak ingin masa-masa perang dingin, dimana mereka harus bersaing pengaruh dengan Uni Soviet, terulang kembali sekarang. Apalagi jika harus bersaing dengan dua negara sekaligus (Cina & Iran) yang tentu saja akan semakin memojokkan dan menyulitkan posisi AS dalam pengaruh global, terutama di wilayah Asia dan Afrika Utara.
Cina dan Iran dianggap sebagai "saingan" AS adalah karena kedua negara tersebut mempunyai falsafah (idealisme) politik yang berbeda dengan AS. Cina dengan ideologi komunis, Iran dengan ideologi Teokrasi sedangkan Amerika Serikat sendiri dengan ideologi demokrasi liberal. Perbedaan ideologi inilah yang menyebabkan Cina dan Iran mempunyai posisi dan kapasitas yang berbeda dengan negara-negara seperti Prancis dan Inggris. Prancis dan Inggris walaupun secara teknologi setara dengan AS, namun AS tidak melihat negara-negara tersebut sebagai ancaman karena secara ideologi mereka semua sama-sama menganut demokrasi liberal.
Ketiga, Iran memegang peranan kunci bagi sumber energi Cina. Cina yang kini adalah merupakan salah satu negara pesaing terdekat AS mengandalkan pasokan energi minyak buminya dari Iran. Diharapkan dengan berhasil dikuasainya ladang-ladang minyak di Iran maka pasokan minyak bumi ke Cina dapat dikendalikan oleh AS sekaligus AS juga mengamankan cadangan sumber minyak buminya. Bahasa sederhananya, AS berkepentingan untuk menguasai Iran agar mereka mendapatkan cadangan BBM lebih banyak untuk "bertempur" melawan Cina yang juga mengandalkan stok BBM nya dari Iran.
Keberanian AS Berperang
Perlu diketahui bahwa Iran bukanlah negara lemah di Timur tengah. Kekuatan militer mereka, berdasarkan pada analisis Global Firepower, adalah urutan ke 12 dunia, selisih 2 peringkat dengan Israel yang berada di posisi 10 atau berada 1 tingkat diatas Jerman yang berada di posisi 13 dunia. Hal ini menunjukkan bahwa Iran bukan negara yang akan mudah takluk seperti Irak versi perang Teluk II oleh tentara AS beserta sekutu ataupun Israel sekalipun. Dengan jumlah tentara aktif sekitar setengah juta personil dan 40 juta orang yang bisa diperbantukan untuk mobilisasi umum, serangan ke Iran dapat kita pastikan akan sangat berdarah. Selain itu juga, cadangan minyak bumi mereka sebesar 137 milyar barel yang mana angka tersebut sangat fantastis karena AS sendiri hanya memiliki cadangan minyak bumi 18 milyar barel. Cadangan minyak ini sangat berguna karena digunakan untuk menggerakkan semua mesin-mesin perang dan kegiatan produksi yang menunjang kegiatan ekonomi bilamana perang terjadi.
Cina sendiri tampaknya juga tidak akan tinggal diam bilamana AS dan Israel benar-benar menyerang Iran. Dengan mengandalkan sumber BBM nya dari Iran, dominasi AS atas Iran bilamana Iran kalah perang dengan AS dan Israel tentu akan sangat menghambat atau bahkan menghancurkan cita-cita Cina untuk menjadi negara adidaya seperti AS. Iran adalah "ladang gandum" bagi Cina, dan semestinya Cina tidak akan sudi kehilangan sumber pangannya yang diambil oleh saingannya (AS). Namun kita juga menyadari bahwa militer Cina belum setangguh AS, sehingga perang terbuka sepertinya tidak akan dilakukan oleh Cina. Hal paling logis & realistis yang dapat Cina lakukan untuk menghambat AS menyerang Iran pertama adalah dengan menarik semua bentuk investasinya di AS, baik dalam bentuk kegiatan bisnis ataupun investasi mata uang (dollar). Dengan konfrontasi ekonomi semacam itu Cina dapat menghalangi AS untuk menyerang Iran atau paling tidak dapat membuat AS tidak dapat memenangkan perang melawan Iran (karena tekanan finansial).
Kondisi selanjutnya yang menjadi bahan pertimbangan AS sebelum menyerang Iran adalah kondisi ekonomi AS yang sedang lesu. Krisis akitab bubbling kredit rumah yang macet beberapa tahun lalu masih terasa dampaknya hingga saat ini. Dana-dana kesejahteraan rakyat yang minim sehingga Obama pun terpaksa memangkas anggaran militer tahun 2011-2012 bahkan masih dirasa kurang cukup untuk memperbaiki kondisi ekonomi AS. Jika AS benar-benar jadi berperang melawan Iran maka akan ada pemotongan anggaran dari dana kesejahteraan rakyat, yang mana ini adalah hal buruk bagi publik AS. Belum lagi prakiraan dana perang yang dapat dipastikan jauh lebih tinggi ketimbang saat AS menyerang Afghanistan dan Irak 1 dekade silam.
Pertimbangan lain yang sebenarnya patut diperhatikan AS sebelum menyerang Iran adalah keberpihakan negara-negara di dunia yang dapat beralih begitu gejala-gejala konflik ekonomi dari Cina atau dari negara-negara lain di dunia muncul. Negara-negara strategis seperti Indonesia, Vietnam, Thailand, negara-negara Amerika latin akan sangat memperhatikan dan mengikuti perkembangan di Iran ini. Bila terlihat kecenderungan bahwa AS akan kolaps maka negara-negara tersebut akan justru condong ke Cina dan ini sama saja bunuh diri bagi AS. Belum bila kita memperhitungkan Rusia, negara yang dalam banyak kesempatan bertentangan dengan kebijakan pemerintah AS terhadap negara lain. Bukan tidak mungkin Rusia juga memanfaatkan kesempatan melemahnya AS untuk menghajar dominasi AS di Eropa bagian timur. Sedangkan di selatan, negara-negara seperti Kuba & Venezuela juga tidak akan tinggal diam bila melihat kecenderungan melemahnya kekuatan AS.
Walaupun demikian, semua ini tergantung kepada partai yang berkuasa di tanah Amerika Serikat sendiri. Partai Republik yang beraliran neo-konservatif melihat bahwa perang di Iran ini adalah "investasi". Investasi karena bila AS berhasil menguasai Iran maka AS akan memperoleh tambahan cadangan minyak, memperkokoh pengaruhnya di Timur tengah dan menghalangi serta menghambat ambisi Cina untuk menjadi pesaing terdekat AS. Sedangkan partai demokrat yang cenderung moderat melihat kondisi Iran ini sebagai suatu hal yang lebih kompleks: di satu sisi bila mereka membiarkan Iran maka dapat terjadi perimbangan kekuasaan antara Cina dan AS dikemudian hari. Tapi disisi lain bila mereka menyatakan perang terhadap Iran maka konsekuensinya adalah kolapsnya nama baik AS di Timur tengah yang selama ini dibangun oleh Presiden Obama.
Jadi kesimpulannya, berani atau tidaknya AS menyerang Iran tergantung dari hasil pemilu presiden AS selanjutnya. Bila partai Republik yang menang maka hampir dapat dipastikan bahwa AS akan menyerang Iran bersama-sama dengan Israel. Namun bila tetap partai Demokrat yang memegang kuasa di AS maka ada kemungkinan perang dapat dihindarkan.
Selain itu, dengan kemampuan Iran yang dikhawatirkan mampu menciptakan dan menggunakan senjata nuklir, maka eksistensi negara Israel, yang merupakan salah satu negara sekutu terdekat AS, dapat terancam. Karena seperti yang kita tahu bersama bahwa Iran adalah salah satu negara yang paling vokal menentang berdirinya negara Israel. Tentu saja ancaman terhadap Israel dipandang sangat berbahaya bagi politik luar negeri AS terkait dengan posisinya sebagai sekutu terdekat Israel.
Kedua adalah mencegah terjadi bipolarisme/multipolarisme. Amerika Serikat yang kini tengah memimpin kontelasi unipolarisme global tentu berkepentingan untuk terus menjaga dominasinya dan mencegah terjadinya bipolarisme ataupun multipolarisme global. Iran, dengan kemampuan untuk menguasai teknologi nuklir dapat menjadi ancaman potensial untuk menjadi negara kuat lain setelah Cina (yang kini Cina telah dianggap mendekati kekuatan AS). Amerika Serikat tidak ingin masa-masa perang dingin, dimana mereka harus bersaing pengaruh dengan Uni Soviet, terulang kembali sekarang. Apalagi jika harus bersaing dengan dua negara sekaligus (Cina & Iran) yang tentu saja akan semakin memojokkan dan menyulitkan posisi AS dalam pengaruh global, terutama di wilayah Asia dan Afrika Utara.
Cina dan Iran dianggap sebagai "saingan" AS adalah karena kedua negara tersebut mempunyai falsafah (idealisme) politik yang berbeda dengan AS. Cina dengan ideologi komunis, Iran dengan ideologi Teokrasi sedangkan Amerika Serikat sendiri dengan ideologi demokrasi liberal. Perbedaan ideologi inilah yang menyebabkan Cina dan Iran mempunyai posisi dan kapasitas yang berbeda dengan negara-negara seperti Prancis dan Inggris. Prancis dan Inggris walaupun secara teknologi setara dengan AS, namun AS tidak melihat negara-negara tersebut sebagai ancaman karena secara ideologi mereka semua sama-sama menganut demokrasi liberal.
Ketiga, Iran memegang peranan kunci bagi sumber energi Cina. Cina yang kini adalah merupakan salah satu negara pesaing terdekat AS mengandalkan pasokan energi minyak buminya dari Iran. Diharapkan dengan berhasil dikuasainya ladang-ladang minyak di Iran maka pasokan minyak bumi ke Cina dapat dikendalikan oleh AS sekaligus AS juga mengamankan cadangan sumber minyak buminya. Bahasa sederhananya, AS berkepentingan untuk menguasai Iran agar mereka mendapatkan cadangan BBM lebih banyak untuk "bertempur" melawan Cina yang juga mengandalkan stok BBM nya dari Iran.
Keberanian AS Berperang
Perlu diketahui bahwa Iran bukanlah negara lemah di Timur tengah. Kekuatan militer mereka, berdasarkan pada analisis Global Firepower, adalah urutan ke 12 dunia, selisih 2 peringkat dengan Israel yang berada di posisi 10 atau berada 1 tingkat diatas Jerman yang berada di posisi 13 dunia. Hal ini menunjukkan bahwa Iran bukan negara yang akan mudah takluk seperti Irak versi perang Teluk II oleh tentara AS beserta sekutu ataupun Israel sekalipun. Dengan jumlah tentara aktif sekitar setengah juta personil dan 40 juta orang yang bisa diperbantukan untuk mobilisasi umum, serangan ke Iran dapat kita pastikan akan sangat berdarah. Selain itu juga, cadangan minyak bumi mereka sebesar 137 milyar barel yang mana angka tersebut sangat fantastis karena AS sendiri hanya memiliki cadangan minyak bumi 18 milyar barel. Cadangan minyak ini sangat berguna karena digunakan untuk menggerakkan semua mesin-mesin perang dan kegiatan produksi yang menunjang kegiatan ekonomi bilamana perang terjadi.
Cina sendiri tampaknya juga tidak akan tinggal diam bilamana AS dan Israel benar-benar menyerang Iran. Dengan mengandalkan sumber BBM nya dari Iran, dominasi AS atas Iran bilamana Iran kalah perang dengan AS dan Israel tentu akan sangat menghambat atau bahkan menghancurkan cita-cita Cina untuk menjadi negara adidaya seperti AS. Iran adalah "ladang gandum" bagi Cina, dan semestinya Cina tidak akan sudi kehilangan sumber pangannya yang diambil oleh saingannya (AS). Namun kita juga menyadari bahwa militer Cina belum setangguh AS, sehingga perang terbuka sepertinya tidak akan dilakukan oleh Cina. Hal paling logis & realistis yang dapat Cina lakukan untuk menghambat AS menyerang Iran pertama adalah dengan menarik semua bentuk investasinya di AS, baik dalam bentuk kegiatan bisnis ataupun investasi mata uang (dollar). Dengan konfrontasi ekonomi semacam itu Cina dapat menghalangi AS untuk menyerang Iran atau paling tidak dapat membuat AS tidak dapat memenangkan perang melawan Iran (karena tekanan finansial).
Kondisi selanjutnya yang menjadi bahan pertimbangan AS sebelum menyerang Iran adalah kondisi ekonomi AS yang sedang lesu. Krisis akitab bubbling kredit rumah yang macet beberapa tahun lalu masih terasa dampaknya hingga saat ini. Dana-dana kesejahteraan rakyat yang minim sehingga Obama pun terpaksa memangkas anggaran militer tahun 2011-2012 bahkan masih dirasa kurang cukup untuk memperbaiki kondisi ekonomi AS. Jika AS benar-benar jadi berperang melawan Iran maka akan ada pemotongan anggaran dari dana kesejahteraan rakyat, yang mana ini adalah hal buruk bagi publik AS. Belum lagi prakiraan dana perang yang dapat dipastikan jauh lebih tinggi ketimbang saat AS menyerang Afghanistan dan Irak 1 dekade silam.
Pertimbangan lain yang sebenarnya patut diperhatikan AS sebelum menyerang Iran adalah keberpihakan negara-negara di dunia yang dapat beralih begitu gejala-gejala konflik ekonomi dari Cina atau dari negara-negara lain di dunia muncul. Negara-negara strategis seperti Indonesia, Vietnam, Thailand, negara-negara Amerika latin akan sangat memperhatikan dan mengikuti perkembangan di Iran ini. Bila terlihat kecenderungan bahwa AS akan kolaps maka negara-negara tersebut akan justru condong ke Cina dan ini sama saja bunuh diri bagi AS. Belum bila kita memperhitungkan Rusia, negara yang dalam banyak kesempatan bertentangan dengan kebijakan pemerintah AS terhadap negara lain. Bukan tidak mungkin Rusia juga memanfaatkan kesempatan melemahnya AS untuk menghajar dominasi AS di Eropa bagian timur. Sedangkan di selatan, negara-negara seperti Kuba & Venezuela juga tidak akan tinggal diam bila melihat kecenderungan melemahnya kekuatan AS.
Walaupun demikian, semua ini tergantung kepada partai yang berkuasa di tanah Amerika Serikat sendiri. Partai Republik yang beraliran neo-konservatif melihat bahwa perang di Iran ini adalah "investasi". Investasi karena bila AS berhasil menguasai Iran maka AS akan memperoleh tambahan cadangan minyak, memperkokoh pengaruhnya di Timur tengah dan menghalangi serta menghambat ambisi Cina untuk menjadi pesaing terdekat AS. Sedangkan partai demokrat yang cenderung moderat melihat kondisi Iran ini sebagai suatu hal yang lebih kompleks: di satu sisi bila mereka membiarkan Iran maka dapat terjadi perimbangan kekuasaan antara Cina dan AS dikemudian hari. Tapi disisi lain bila mereka menyatakan perang terhadap Iran maka konsekuensinya adalah kolapsnya nama baik AS di Timur tengah yang selama ini dibangun oleh Presiden Obama.
Jadi kesimpulannya, berani atau tidaknya AS menyerang Iran tergantung dari hasil pemilu presiden AS selanjutnya. Bila partai Republik yang menang maka hampir dapat dipastikan bahwa AS akan menyerang Iran bersama-sama dengan Israel. Namun bila tetap partai Demokrat yang memegang kuasa di AS maka ada kemungkinan perang dapat dihindarkan.

No comments:
Post a Comment