Berkaitan dengan tulisan saya sebelumnya mengenai Tinjauan Kritis Terhadap Universalisme Gerakan Feminisme yang memancing beberapa perdebatan, saya melihat ada beberapa hal menarik yang terjadi pasca publikasi tulisan saya itu, ada yang positif dan ada yang negatif. Hal-hal negatif tersebut diantaranya adalah stigamatisasi bahwa saya anti-kesetaraan gender, asumsi saya seorang konservatif, diskusi yang mandeg karena sikap yang tekstual, seorang yang anti terhadap hak-hak asasi manusia dan lain sebagainya. Bahkan ada yang mencap saya mempunyai pola pikir seperti teroris (garis keras/ekstrim yang menolak hak asasi manusia).
Sebenarnya saya sudah jelaskan dalam tulisan saya tersebut diatas bahwa saya, secara pribadi, BUKAN seorang anti kesetaraan Gender apalagi anti penegakkan HAM. Saya bukan seorang seperti Adolf Hitler, Joseph Stalin, ataupun Benito Mussolini yang samsekali tidak mengakui ada Hak-hak yang melekat dalam individu. Saya bahkan pernah gabung di sebuah organisasi yang salah satunya adalah memperjuangkan HAM. Saya menulis tulisan tersebut untuk menguji teori feminisme itu dan mengkritisi sikap paradoxial antara implementasi HAM dan prinsip ideal HAM. Tulisan saya mengenai feminisme dan kritik-kritik lain yang berkaitan dengan HAM adalah murni merupakan perspektif akademik saya yang berlatar pendidikan ilmu sosial dan politik, bukan perspektif pribadi dan privat saya.
Sayangnya, masih banyak orang kurang memahami ini dan langsung berkesimpulan yang aneh-aneh. Sebelum kejadian ini, saya pikir orang-orang yang berkecimpung dalam isu-isu kontemporer adalah orang-orang yang cerdas dan berwawasan ilmiah. Namun belajar dari kejadian ini, anggapan saya tersebut sedikit banyak berubah mengenai orang-orang yang berkonsentrasi di isu-isu ini. Sama saja dengan orang-orang awam yang tidak terdidik lainnya, mereka beberapa juga tidak bisa membedakan antara perspektif pribadi dengan perspektif akademik. Mereka tidak bisa membedakan mana bentuk argumen yang ilmiah dan mana yang bukan ilmiah.
Argumen Kontekstual Vs. Argumen Tekstual
Ada beberapa pihak yang menyamakan ketidaksetujuan akademik saya terhadap teori feminisme dan konsep HAM dengan tipikal orang-orang relijius yang hanya berbasis pada teks-teks di kitab suci alih-alih pada makna teks kitab suci tersebut (bukan orang yang memahami kitab suci secara kontekstual). Menurut saya orang-orang tersebut tidak paham dengan perbedaan antara argumen ilmiah dan tidak ilmiah.
Sangat jelas dalam tulisan saya tercantum teori-teori dari para ahli serta bukti nyata yang bisa dilihat oleh mata kepala sendiri mengenai relativisme moral dan relativisme kultural. Teori-teori tersebut yang saya tahu belum terbantahkan oleh teori lain yang bersifat anti-thesis. Belum ada teori yang bisa menyanggah teori relativisme kultural dan relativisme moral yang telah saya tulis dalam tulisan saya sebelumnya (setidaknya itu yang saya tahu). Berbeda dengan kaum tekstual reliji yang mendasarkan argumennya pada teks-teks di Ayat suci, orientasi pemaknaan teks-teks tersebut biasanya bersifat eskatologis: tidak bisa dilihat, diraba atau dirasakan oleh indra apapun, sehingga bukti otentiknya pun tidak ada.
Kalau memang ingin berdiskusi secara ilmiah, berilah saya bukti, model dan contoh riil mengenai hal yang saya utarakan sebelumnya. Berikanlah saya model dan teori yang bisa membungkam teori relativitas moral dan kultural yang saya tuliskan, alih-alih hanya ber-hominem ria terhadap poin-poin dalam tulisan saya. Berilah saya bukti bahwa implementasi HAM terkait dengan local wisdom tidak melanggar prinsip HAM sedikit pun.
Konteks
Konteks adalah nyawa dalam bentuk diskusi: tanpa dibatasi oleh konteks maka diskusi hanya akan menjadi debat kusir dan tidak jelas tanpa tujuan. Konteks dalam tulisan "Tinjauan Kritis Terhadap Universalisme Gerakan Feminisme" adalah sikap ambigu yang ditunjukkan oleh praktisi HAM dalam menegakkan HAM itu sendiri. Konteks kedua dalam tulisan tersebut adalah relativitas dalam berbagai kultur dan nilai-nilai moral di seluruh dunia. Sayangnya, beberapa pihak langsung meracau begitu saja dan langsung melakukan kesesatan dengan memberikan perumpamaan kepada diri saya, contoh: "Kalau ibu anda dipotong tangan hanya karena mencuri 1 buah tahu dari tukang gorengan apa anda masih membela relativitas?!". Ini samasekali bukan statemen yang ilmiah, ini jelas adalah hominem sirkumstansial.
Utopian Vs. Machiavellian
Utopian, secara sederhana dapat diartikan sebagai paham yang mencari kebajikan semata. Sedangkan Machiavellian adalah apa adanya dan berorientasi pada hasil alih-alih proses. Dalam proses diskusi saya dalam tulisan saya sebelumnya, kaum Utopian "macet" dalam memberikan argumen saat disinggung mengenai sikap paradox yang diperlihatkan antara praktisi HAM dan prinsip ideal HAM. Saya berikan mereka alternatif bahwa dalam menengakkan HAM secara tidak langsung kita juga harus melanggar prinsip ideal HAM itu sendiri, tapi mereka menolaknya sekaligus tidak memberikan alternatif yang lebih baik (seperti yang terjadi dalam diskusi saya di politikana.com). Sedangkan kaum Machiavellian setuju dengan "pelanggaran prinsip ideal HAM" yang terjadi dalam rangka menegakkan HAM itu sendiri.
Menurut saya, pemikiran kaum Machiavellian lebih mudah dipahami ketimbang kaum Utopian yang terjebak dalam "lingkaran-setan"nya sendiri. Machiavelian yang berorientasi pada hasil jauh lebih realistis untuk diimplementasikan dan tidak paradox ketimbang mereka yang utopis yang ingin menjaga prinsip ideal HAM sekaligus ingin menegakkan HAM secara penuh, yang mana menurut saya pribadi sangat sulit untuk terjadi.
Sikap Kritis
Salah satu hal paling fatal terkait respon-respon kontradiktif yang menghujani saya dari artikel feminisme sebelumnya adalah sikap kritis. Konsep HAM (termasuk teori feminisme) kita copy paste dari Eropa, yang mana sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa HAM sangat terkait dengan kultur yang sangat beranekaragam di dunia ini. Kita menolak untuk mengkritisi dan mempelajari serta membuktikan lebih dalam konsep dan teori tersebut. Bahasa mudahnya, kita "plek-plekan" mencontek konsep yang diciptakan orang Eropa tanpa ada ide atau pendapat dari perwakilan kultur region lain (Afrika dan Karibia misalnya). Seakan-akan segala hal yang datang dari Eropa adalah selalu benar dan flawless, padahal nyatanya lumayan banyak teori-teori sosial yang datang dari daratan Eropa yang ternyata tidak cocok dengan benua-benua lain.
Baiklah, itu sedikit jawab saya atas respon-respon negatif yang selama ini saya peroleh, sebenarnya masih banyak yang ingin saya tulis tapi saya kira hal itu cukup disimpan saja untuk disampaikan secara langsung kepada mereka yang bertanya (mungkin).

No comments:
Post a Comment