Caraku Mencari Tuhanku (1)

Bagi orang-orang yang suka berpikir dan bertanya, pasti kadang-kadang (atau seringkali) bertanya tentang makna dan definisi Tuhan: Apakah Tuhan itu? Bagaimana eksistensi Tuhan itu? Apakah peran Tuhan itu? dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin bagi sebagian orang-orang awam suatu bentuk bentuk pertanyaan tabu karena mempertanyakan tentang Tuhan. Tapi jujur, diri saya sendiri sering mempertanyakan semua hal-hal tersebut. Maka dari itu saya menulis ini semua hanya sekedar untuk menyampaikan pendapat saya tentang Tuhan.

 Apakah Tuhan itu? Tuhan itu ada dua: Tuhan sebagai sosok personal dan Tuhan sebagai sosok impersonal. Yang dimaksud dengan sosok personal adalah eksistensi dan peran Tuhan suatu personal/insan. Jadi Tuhan dalam konsep personal ini disamakan dengan sosok yang "ada bentuknya" seperti manusia, yang sifatnya mampu memberi (menganugrahkan, memberkati, memberi mukjizat, memberi dosa, memberi pahala, dsb). Dengan pemahaman sifat Tuhan sebagai personal ini berarti Tuhan dipandang seperti "Superperson" yang secara simsalabim mampu melakukan hal apapun tanpa perlu melewati proses.


 Kedua adalah sosok Tuhan sebagai Impersonal. Dalam konsep impersonal ini, Tuhan dipandang sebagai suatu kekuatan alam (mother nature) yang menyediakan berbagai hal-hal yang diperlukan oleh makhluk hidup untuk kemudian dimanfaatkan atau diproses oleh manusia untuk menciptakan sesuatu hal yang baru. Konseptualisasi Tuhan sebagai sosok impersonal ini tetap mempercayai bahwa Tuhan itu ada, tapi Tuhan dalam bentuk yang beda, yakni sebagai kekuatan mahadahsyat yang membentuk alam semesta beserta isinya dengan mengasumsikan bahwa Dia tidak menciptakan sesuatunya dengan langsung kun fayakun tapi melalui proses berkelanjutan.

Pandangan saya terhadap bentuk Tuhan ini adalah bahwa Tuhan adalah gabungan dari dua konsep tersebut. Tuhan di satu sisi adalah "seseorang" (personal) yang ada untuk mengawasi kita, menghukum kita, memberi kita, menjaga kita dsb layaknya yang seperti dilakukan manusia. Tapi jujur, untuk menerima konsep yang satu ini pada awalnya saya sedikit kesulitan karena bisa dibilang ini agak kurang masuk di akal. Itulah mengapa beberapa Tahun lalu saya sempat menjadi atheis karena sulit menerima hal ini dengan akal sehat. 

Tapi kemudian saya teringat adanya prinsip berlogika yang memang sangat mendukung bahwa Tuhan itu ada dan jumlahnya hanya satu. Dalam prinsip berlogika yang sensible (masuk akal), sesuatu hal/benda yang ada itu pasti diciptakan dari sesuatu yang lebih sempurna dari benda itu sendiri. Ambil contoh benda-benda ciptaan manusia, tidak ada satupun benda buatan manusia yang lebih sempurna daripada manusia itu sendiri kan? Begitupun halnya dengan Sang pencipta manusia dan alam semesta, pastilah Dia sang pencipta jauh lebih sempurna dan lebih baik ketimbang ciptaannya. Tidak peduli ada berapa tingkatan strata pencipta, yang pasti yang saya puja dan saya angkat sebagai Tuhan ada di tingkatan strata tertinggi, yang mempunyai sifat Maha Sempurna. Dan memang, hanya agama Islam yang menggunakan prinsip berlogika seperti ini, jadilah saya penganut agama Islam.

Dalam Islam, sifat Allah adalah Maha Esa, Dia adalah satu mutlak, satu absolut. Segala sifat dan perangkat-perangkat/simbol/atribut dalam diriNya adalah satu dan tidak dapat terbagi-bagi. Sifatnya yang esa inilah yang membedakan dengan agama-agama lain dimuka bumi. Sesuai dengan prinsip berlogika yang telah dijelaskan tadi, bahwa strata tertinggi dari pencipta adalah Maha Sempurna. Definisi maha sempurna adalah sesuatu zat/hal/personal yang tersempurna (paling sempurna) dari yang telah sempurna. Tentu saja bila kita sudah menggunakan kata "paling", jumlahnya mustahil lebih dari satu (dan itu sudah mutlak tentunya). Bandingkan dengan agama lain, adakah agama selain Islam yang sejalan dengan prinsip ini? Jawabannya tentu tidak ada.

Kembali ke masalah konseptualisasi Tuhan.
Masalah Tuhan sebagai personal akhirnya terjawab oleh pikiran saya sendiri dan saya sudah benar-benar mempercayainya apa yang saya telah simpulkan dari konseptualisasi Tuhan sebagai personal ini adalah benar, paling tidak untuk diri saya sendiri.

Kemudian yang selanjutnya adalah konseptuallisasi Tuhan sebagai sosok impersonal. Albert Einstein, bagi orang-orang yang ber-reliji adalah orang atheis tapi bagi orang-orang atheis Einstein adalah orang yang ber-Tuhan. Karena Tuhan menurut Einstein bukan lah seperti Allah dalam Islam dan Yesus dalam Kristen. Tapi Tuhan menurut Einstein adalah himpunan kekuatan-kekuatan di jagad raya (cosmic universe) yang menjadi satu dan membentuk hukum alam. Jadi bisa dibilang bahwa yang menjadi Tuhan bagi Einstein adalah hukum alam, yang dimana hukum alam ini lah yang mengatur segala bentuk kehidupan di muka bumi. Einstein dapat dibilang telah mengartikan definisi Tuhan sebagai sosok impersonal.

Saya lebih dapat menerima konsep Impersonalitas Tuhan ini karena konsep ini jauh lebih mudah dipahami daripada konsep personalitas. Intinya dalam konsep impersonal adalah bahwa alam semesta beserta isinya adalah Tuhan, termasuk juga pikiran kita adalah Tuhan.

Tapi jangan salah mengartikan dulu! Maksud saya pikiran kita adalah Tuhan bukan definisi Tuhan sebagai personal (Allah, Yesus dll), tapi sebagai impersonal. Kita ambil contoh, ketika kita diberikan kebebasan untuk memilih membuat rumah dimana (kita asumsikan bahwa segala faktor eksternal tidak ada/dihilangkan) maka ketika kita sudah memutuskan akan membangun rumah dimana, maka ketika itulah pikiran kita sudah menjadi Tuhan impersonal. Konsep Tuhan secara impersonal ini pernah dikemukakan oleh Syekh Siti Jenar, namun sayang orang-orang salah mengartikan konsep Tuhan-nya dia sehingga dia akhirnya tewas. Jadi, walaupun kita bersikap, berkelakuan dan bertingkah laku sesuai kaidah-kaidah dalam hukum agama kita masing-masing, namun tetap saja kita senantiasa menuhankan pikiran kita.... dapat kita katakan bahwa, "Tuhan ada di dalam pikiran kita masing-masing"

1 comment:

  1. pakdeku yg notabene termasuk kyai masjid setempat mengatakan krg lbh :: menemukan Allah itu bisa dari pintu mana saja.. dan pintu itu sangat banyak..

    artinya sangat bebas kita menentukan bagaimana kita dalam mengenal Tuhan kita..

    digabungkan dengan pengalaman kyai lain :: sambungkan dengan rasa di hati mu dimana hatimu bisa menerima..

    haah.. masi meguru jg sayenya// nais post..

    ReplyDelete