Menerjemahkan Arti Iman

Seperti yang sudah saya pernah tuliskan berkali-kali sebelumnya, setiap manusia mempunyai pandangan unik terhadap definisi dan instrumen "Tuhan". Saking luasnya konsep Tuhan itu sendiri, dan setiap orang secara langsung dan tidak langsung mempunyai hubungan dengan entitas Tuhan, membuat mau tidak mau, suka tidak suka membuat diversifikasi penerjemahan arti Tuhan. Waktu SD kita mungkin diajari bahwa Tuhan adalah Dia yang menciptakan kita dan alam semesta. Namun semakin berkembang dan dewasa seorang manusia, maka definisi sederhana semacam itu sudah tidak dapat memuaskan dahaga rasa penasaran akan apa itu Tuhan sesungguhnya. Sebagai seorang yang berlatar belakang ilmu sosial dan politik, Tuhan pun tidak luput sebagai salah satu subjek studi saya.

Dalam mengartikan Tuhan, saya cenderung menerjemahkan Dia sebagai sosok transenden yang menciptakan alam semesta dengan segala dimensi nya (ruang dan waktu) dan isinya. Tuhan harus merupakan entitas yang sempurna tanpa cela karena dia berada diatas alam semesta ini, diatas kesempurnaan alam semesta ini. Dia adalah kausalitas (sebab) utama dari semua akibat yang terjadi di alam semesta beserta isinya ini. Eksistensinya tidak terelakkan, terbukti dari segala keteraturan mekanis yang terjadi di jagat raya ini. Kecepatan revolusi terhadap bintang, kemiringan sumbu, jarak, percepatan gravitasi, tekanan udara, kandungan udara para planet yang sangat presisi dan teratur merupakan produk dari suatu bentuk intelegensia alih-alih kebetulan semata. Walaupun keberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan melalui pengamatan indera manusia, namun eksistensinya dapat diketahui melalui penalaran.

Absennya kemampuan indera manusia dalam menangkap eksistensi Tuhan inilah yang kemudian kita menciptakan istilah "Iman". Iman, dalam definisi populer, adalah sebuah keyakinan dan kepercayaan terhadap suatu sosok Tuhan dan segala perintahnya yang terkompilasi dalam suatu ajaran yang disebut dengan "Agama". Iman diartikan sebagai alogika: sebuah kondisi dimana suatu hal yang tidak membutuhkan penalaran logika. Iman tidak perlu logika, katanya. Iman adalah sebuah fenomena ghaib dimana hati manusia disadarkan oleh Tuhan untuk menyembah dan mempercayainya. Hampir semua agama, kecuali Buddha  (karena memang Budha tidak mempunyai konsep entitas Tuhan), mempunyai definisi yang sama mengenai Iman, terutama agama-agama Samawi (Islam, Kristen dan Yahudi).

Definisi Iman mainstream ini, bagi saya, sangat merendahkan derajat kita sebagai manusia yang diberi kemampuan berpikir yang luar biasa. Tuhan telah menganugrahi manusia otak terbesar dari semua makhluk hidup di planet bumi untuk berpikir tanpa batas. Tidak restriksi (larangan) yang di-inject dalam otak kita untuk berpikir suatu hal. Tidak ada larangan yang tertulis di otak kita yang berbunyi "Dilarang berpikir tentang A". Otak kita adalah kebebasan kita, bahkan seorang budak belian pun, seterkekang apapun dia, masih dengan bebas berpikir apapun yang dia mau dan dia suka, walaupun nihil implementasi. Tuhan menciptakan otak kitapun tanpa restriksi. Kehebatan & kecerdasan yang dikandung otak manusia menciptakan konsekuensi logis bahwa kebebasan berpikir menjadi sebuah kekuatan yang tidak terhindarkan.

Saya kira, mengingat posisi Tuhan yang luar biasa, Dia pasti sudah berpikir bahwa manusia akan berpikir sedemikian kritis terhadap semua hal bahkan sebelum manusia berpikir tentang hal tersebut. Tuhan telah mengekspektasikan bahwa kita manusia akan sanggup berpikir sedemikian kreatif luar biasa, bahkan dalam mengartikan Tuhan sekaligus. Dalam konteks bahwa Tuhan adalah Maha Tahu, maka Dia pasti sudah paham konsekuensi bahwa makin tinggi pemikiran suatu makhluk maka semakin kritis pula daya pikirnya. Dan mengingat bahwa Tuhanku adalah Maha Logis (didasarkan pada fakta biblikal/kitab suci), maka saya mengasumsikan bahwa Tuhan mempunyai tanda-tanda yang masuk akal (logis) dalam menjelaskan dan menunjukkan eksistensinya.

Namun dalam tulisan saya sebelumnya, saya telah mengatakan bahwa terjemahan atas agama itu tergantung dari manusia di bumi. Beberapa kelompok manusia menerjemahkan bahwa "Tuhan melarang kita berpikir tentangNya". Saya akui ini adalah sebuah bentuk proses dialektika, dan wajar. Yang menjengkelkan adalah saat tesis ini, yang mengatakan "Tuhan melarang kita berpikir tentangNya", dianggap sebagai tesis absolut dan melarang adanya anti-tesis. Padahal mereka juga mengatakan bahwa manusia bisa saja salah karena memang manusia bukan makhluk super transenden. Inkonsistensi sikap ini menimbul polemik yang seringkali membuat kaum-kaum terpelajar menghindari berbicara ilmu pengetahuan dengan membawa agama. (Saya sendiri sedang berdialektika disini dan saya terbuka terhadap semua anti-thesis yang mungkin datang sebagai reaksi atas tulisan ini.)

Lalu bagaimana pandangan saya mengenai iman?. Bagi saya, iman adalah sebuah keyakinan yang berlandaskan logika terhadap eksistensi Tuhan beserta apa yang kita pikirkan sebagai perintahnya. Iman kepada Tuhan adalah saya meyakini Tuhan versi saya (Allah dalam Islam) adalah karena Dia terbentuk dalam logika melalui proses-proses yang logis. Mengapa saya tidak mengimani Tuhan agama lain? alasannya merupakan kebalikan dari iman terhadap Tuhan saya: Tuhan agama lain tidak dapat saya temukan/raih melalui proses-proses logis.

Kedua adalah iman terhadap ajaran Tuhan. Dalam status saya sebagai seorang muslim, ajaran Islam adalah ajaran yang paling logis menurut saya, walaupun saya akui ada polemik dalam pemikiran saya terkait apa yang disebut sebagai ajaran Islam (nanti akan saya bahas). Islam, menurut pendekatan logika saya, adalah kompilasi aturan yang paling masuk akal dan universal dari semua ajaran lain dimuka bumi. Istilahnya dalam dunia otomotif, bagi saya Islam adalah mobil Range Rover: multi fungsi, bisa mengangkut barang, mengangkut manusia, mengangkut hewan, bisa digunakan dalam segala medan, bisa untuk city car sekaligus untuk overland tour. Namun sama seperti mobil itu tadi, semua hanya masalah selera. Bagi saya Range Rover mungkin baik, tapi bagi orang lain, dengan logika sendiri, mungkin lebih menyukai mobil Kijang Innova atau merek-merek lain.

Polemik dalam ajaran agama, seperti yang saya tulis diatas, tidak dapat saya sangkal sering terjadi dalam hidup saya. Seperti aksi-aksi terorisme yang juga selalu mengatasnamakan Tuhan (dan juga tertulis dalam kitab suci & Hadist) kadang membuat saya "terpaksa" harus berpikir super kritis dalam menyikapi perintah agama saya sendiri. Contohnya seperti "betulkah orang kafir yang terang-terangan memusuhi Islam harus dibunuh?". Argumen Islam-islam ekstrim yang mengatakan demikian ternyata juga melandaskan pemikirannya kepada kitab-kitab Islam. Disinilah saya menggunakan daya kritisi saya. Saya memperbandingkan statemen tersebut (Orang kafir yang terang-terangan memusuhi Islam harus dibunuh) dengan berbagai macam pendekatan studi: mulai dari sejarah, sosiologi, psikologi, antropologi, hingga filosofi dan saya berkesimpulan bahwa statemen tersebut sangan kondisional dan tergantung kepada situasi (tidak absolut). Walaupun kelompok ekstrim yang meyakini bahwa statemen ini benar dan mengancam saya masuk neraka jika tidak percaya pada statemen tersebut, namun berdasarkan logika saya, statemen itu tidak dapat diterima akal sehat. Toh, mereka bukan pemilik neraka....

Tidak hanya sampai disitu, saya pun sering berpikir kritis terhadap ayat-ayat Quran yang saya baca, walaupun so far so good. Mungkin yang kerap saya temui polemik adalah di dalam Hadis. Namun mengingat dosen komunikasi saya pernah berkata "hadis itu ditulis oleh manusia dan didengar oleh manusia, jadi bisa saja salah", maka saya berpikir wajar bila ada kesalahan dalam hadis. Tapi sebelumnya, marilah kita hentikan polemik dalam hadis dan bergeser membahas hal selanjutnya, yaitu distorsi antara komunikator (Tuhan) dengan komunikan (saya dan manusia lain disaat sekarang), yang mana saya disini menggunakan landasan berpikir pada teori ilmu komunikasi.

Dalam teori ilmu komunikasi, distorsi yang terjadi dalam medium komunikasi adalah yang lumrah terjadi. Dalam bentuk komunikasi, terutama komunikasi tidak langsung seperti Tuhan dengan umatnya, peran medium komunikasi memegang peranan sangat krusial. Sayangnya, medium komunikasi tidak selalu 100% secara sempurna mampu membawa partikel-partikel pesan yang dimaksudkan oleh Komunikator. Kita ambil contoh dalam Islam, perintah Allah kepada saya sekarang ini melalui banyak sekali medium, pertama adalah Jibril, disusul Muhammad, kemudian sahabat dan para Hafidzh, sistem rezim Turki Utsmani (yang bertanggungjawab atas pembakaran beberapa jenis Mushaf Quran), distributor Quran, rezim kerajaan Arab Saudi, rezim Hindia Belanda (yang kemudian tergantikan oleh rezim Indonesia), pencetak Quran, distributor dan akhirnya penjual. Banyaknya medium itu mengakibatkan semakin tingginya potensi distorsi (gangguan) dari isi Quran. Klaim sepihak Quran yang menjamin bahwa isi Quran tidak akan berganti juga merupakan falasi, karena siapapun manusia dibumi bisa menuliskan klaim seperti itu jika memang dia pernah mengedit isi Quran. Distorsi terparah menurut saya pribadi adalah pembakaran & pemusnahan mushaf-mushaf Quran yang punya versi berbeda dengan yang diakui oleh rezim Turki Utsmani.

Distorsi-distorsi tersebut diatas merupakan pesan implisit kepada kita bahwa belum tentu apa yang kita pikir sebagai sebuah kebenaran adalah benar secara mutlak. Di dunia nyata, tidak ada yang disebut dengan kebenaran mutlak, bahkan apa yang saya tulis disini juga belum tentu tepat. Yang bisa manusia lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada kebenaran adalah dengan apa yang tadi kita sebut sebagai proses dialektika. Proses dialektika secara sederhana dapat saya artikan sebagai sebuah proses berdiskusi dalam rangka mendekatkan diri kepada kebenaran. Saya mengimplementasikan prinsip dialektika ini dalam berbagai hal dalam hidup saya, termasuk agama. Kalau memang agama dan Tuhan ku adalah yang benar, maka proses dialektika tidak akan berpengaruh apapun.

Kembali ke masalah Iman: Bagaimana iman diperoleh? Kelompok tradisionalis mengatakan bahwa iman diperoleh melalui suatu proses eskatologis, sebuah proses ghaib yang tidak terjelaskan oleh manusia. Iman dipandang sebagai rahasia Tuhan. Untuk kelompok reliji muslim mengatakan bahwa iman kepada Allah dapat diperoleh melaksanakan rukun Islam dan Iman dengan baik dan benar. Kelompok kristen mengatakan bahwa iman kepada Tuhan dapat diperoleh dengan melaksanakan ajaran Yesus di alkitab dan sering memohon kepadaNya. Begitupun untuk agama-agama lainnya. Penjelasan semacam itu dapat memuaskan rasa penasaran kenapa keimanan itu ada. Alih-alih disebut sebagai Iman, aku melihat definisi "Iman" semacam itu lebih mirip kepada Fanatik. Karena baik "fanatik" ataupun "Iman" menurut kelompok tradisionalis mempunyai esensi yang sama: Kepercayaan penuh terhadap sesuatu yang bersifat mutlak, tanpa ada kritik dan ada cela, tidak perduli itu masuk akal atau tidak.

Bagiku, Iman dapat diperoleh melalui ilmu pengetahuan. Terutama sekali dalam agamaku, Islam, umatnya diperintahkan untuk menuntut ilmu pengetahuan tanpa batas dalam hal apapun (tidak terbatas). Bagiku, perintah tersebut mengandung arti bahwa hanya dengan ilmu pengetahuan lah maka kita dapat memahami makna sesungguhnya dari Islam (agama) dan hanya dengan ilmu pengetahuan lah maka manusia dapat menemukan, memahami, mencintai, dan mengimani Tuhannya.

Sikapku yang tidak sealiran dengan orang kebanyakan di lingkunganku membuat beberapa orang menyatakan bahwa saya sesat atau bahkan atheist, yang mana hal itu tentu saja ngawur besar. Justru dengan melalui tahap-tahapan logis untuk menemukan Tuhanku, kini saya dapat memahami dan mengimani Tuhanku (Allah) dengan benar. Saya telah mencapai tingkatan dimana pada akhirnya saya meyakini dengan kemampuan nalarku bahwa memang Allah adalah penciptaku. Namun demikian, tidak masalah dengan agama lain karena seperti yang pernah saya tuliskan dalam tulisanku sebelum ini, semua agama sama saja, yakni menyembah sosok Tuhan yang satu tidak perduli siapapun nama dan panggilannya.

Melihat Agama Dan Tuhan

Agama adalah suatu hal yang sederhana bagiku. Dia (Agama) adalah sebuah instrumen untuk menuju entitas Tuhan. Dia adalah serangkaian tata cara, peraturan, hukum yang bertujuan memposisikan diri sebagai "pengikut" suatu aliran theistik (berketuhanan). Agama adalah masalah lingkungan hidup dan selera. Aku tidak akan bilang agama adalah masalah "Iman" karena aku tidak pernah percaya dengan konsep Iman mainstream (pasaran). Agama tidak rumit tidak pula eksklusif. Agama adalah global, universal, umum, publik. Dia tidak terkotak-kotak dalam kemajemukan yang pluralist, karena manusialah yang membuatnya terkotak-kotak. Perspektif manusia di bumi telah me-reposisikan agama sebuah sebuah hal yang eksklusif dan terkhususkan sebagai sebuah instrimen partikular tertentu.


Iman bagiku adalah sebuah kesimpulan yang diraih karena pendekatan-pendekatan logika. Iman itu tidak buta, bukan pula sekedar agama turunan orang tua: Iman itu dapat membedakan antara baik buruk dan salah benar. Kebutaan apa yang diklaim sebagai Iman bagiku hanya fanatisme belaka, dan sifat fanatisme telah men-degradasi-kan martabat kita sebagai manusia yang diberkahi oleh kemampuan berlogika. Iman itu lahir dari sifat kritis, seperti layaknya Ibrahim (Abraham) yang mempertanyakan eksistensi Tuhan. Apakah dia disebut kurang ajar karena mempertanyakan entitas Tuhan? Justru karena mempertanyakan Tuhan itulah dia menemukan Tuhannya dan mengimaninya. Proses mencapai keimanan itu harus melalui keterbukaan pikiran, bersedia menerima berbagai masukan-masukan. Layaknya Ibrahim yang berhipotesis bahwa Tuhan adalah Matahari, Bulan dan sebagainya: sebagai pengikut salah satu percabangan agama Ibrahim (Abrahamic Religion: agama dengan Tuhan Allah, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi), aku berusaha mencontoh beliau, yaitu dengan berhipotesis mengenai berbagai macam konsep dan bentuk Tuhan dan akhirnya berimanlah aku terhadap suatu Tuhan. Itulah mengapa dalam agamaku, Islam, sangat mengagungkan pentingnya menuntut ilmu pengetahuan: untuk meningkatkan kemampuan berlogika umat manusia, yang pada akhirnya dapat digunakan untuk mengenal Tuhannya.

Namun entah bagaimana, "Iman" telah mengalami pergeseran implementasi. Iman diartikan sebagai sebuah "pencerahan" yang tidak dapat dipahami secara spesifik: Pencerahan oleh siapa? Bagaimana? Kapan? Dari Siapa? bagaimana kita tahu itu pencerahan alih-alih hanya sebuah mimpi atau khayalan kita sendiri?. Penjelasan eskatologis yang membawa determinan ke-ghaib-an tidak dapat aku terima sebagai seorang yang mengutamakan logika. Kalaupun kita memaksa menggunakan kata "pencerahan", maka bagiku pencerahan itu adalah sebuah ide, pemikiran, ilham baik itu yang bersifat seketika ataupun proses pemikiran bertahun-tahun yang telah menemukan konsep Tuhannya.

Faktanya, kita manusia justru adalah pihak yang seakan-akan berkuasa penuh atas bagaimana agama itu bertindak. Lihat bagaimana Kristen Katolik pada zaman kegelapan membantai kaum Kristen Protestan dengan cap "Heresy" atau Penistaan agama. Lihat pula bagaimana beberapa kelompok agama di Indonesia seakan-akan punya "License to Kill" (Lisensi untuk membunuh) terhadap kelompok-kelompok kepercayaan lain, katakanlah seperti Ahmadiyah atau Islam Syiah. Dengan cap Penistaan agama, kelompok agama dan orang-orang di dalamnya seakan-akan mewakili ke-agung-an Tuhan di muka bumi.

Tanpa kita sadari, kita telah, sedang dan akan selalu mengartikan perintah Tuhan menurut logika kita yang tidak absolut. Contohnya aku, seorang muslim, akan menjalankan ibadah umat Muslim sesuai yang aku tahu dan yakini, sedangkan hal-hal yang aku tahu tidaklah bersifat absolut (mutlak). Contohnya aku Solat, walaupun menurutku Solat adalah perintah Tuhan, namun apakah Allah dalam Islam mengatakan demikian langsung dari mulutnya? Dalam teori komunikasi kita tentu tahu distorsi (gangguan, halangan) dalam medium komunikasi. Ucapan Allah hingga ke telinga dan mata saya telah melalui banyak sekali medium (Jibril, Muhammad, Sahabat, Penulis Quran, Birokrasi Rezim Turki Utsmani, penghafal Quran, Editor, dan percetakan). Semakin banyak pihak yang menjadi medium, maka makin pula resiko distorsi nya. Kita mungkin bisa saja yakin bahwa Quran atau kitab suci apapun dijamin keasliannya oleh Allah atau Tuhan, namun hal itu merupakan falasi. Saya bisa saja, seandainya saya hidup 1000 tahun lalu, mengedit Quran atau kitab suci dan mengatakan (menuliskan dalam kitab tersebut) bahwa kitab ini dijamin keasliannya oleh Tuhan....sangat mudah.

Interpretasi terhadap agama dan kebenaran sangatlah beraneka ragam, maka dari itulah tercipta proses dialektika untuk mendekatkan diri kepada kebenaran (walaupun kebenaran mutlak itu tidak akan pernah didapat). Dari sinilah muncul istilah bahwa "Tuhan berada dalam pikiran kita masing-masing". Maksudnya, bagaimana kita menerjemahkan Tuhan dan segala perangkatnya (termasuk agama, kitab suci dll) adalah berbeda untuk masing-masing orang. Ada yang menerjemahkan bahwa Tuhan itu maha mengasihi dan melarang balas dendam, ada yang menerjemahkan Tuhan itu tegas dan galak, ada yang menerjemahkan Tuhan itu suka berbalas dendam, dan lain sebagainya. Terjemahan-terjemahan itu mungkin saja berbeda untuk setiap orangnya. Jangankan dengan agama lain, untuk sesama agama saja banyak aliran-aliran yang terbentuk. Islam misalnya ada Syiah dan Sunni. Syiah itu sendiri masih terbagi lagi, begitupun dengan Sunni. Bagiku, itu bukan masalah karena memang tiap orang mempunyai interpretasi yang spesifik partikular terhadap konsep Tuhan dan ajarannya.

Ketidakmampuan umat beragama untuk memahami diversifikasi interpretasi inilah yang menyebabkan agama, selain sebagai sebuah sumber kedamaian, juga berperan sebagai sumber peperangan. Perang salib yang berlangsung selama berabad-abad adalah produk egoisme manusia yang merasa agamanya paling benar (walaupun pada tingkat elitenya mempunyai motivasi berbeda, yaitu motivasi ekonomi). Rakyat kedua kubu, Rakyat Eropa dan Rakyat Timur Tengah, merasa bahwa perang memperebutkan Jerusalem adalah perang suci untuk membela Tuhannya masing-masing. Itu hanya salah satu contoh, ada banyak perang lainnya yang tercipta karena mengatasnamakan agama.

Konflik agama bukanlah hal baru. Sejak turunnya agama Samawi yang pertama, Yahudi, konflik reliji sudah menjadi makanan sehari-hari peradaban di muka bumi. Karen Armstrong dalam bukunya "Sejarah Para Tuhan" menulis bahwa karena sifatnya yang universal (diperuntukkan untuk semua manusia di dunia), agama Samawi lebih mempunyai sifat intoleran dan memaksa terhadap agama lain. Agama Samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) adalah agama yang etnosentris, merasa dirinya paling benar, tanpa cela, dan melihat agama lain selalu salah. Disinilah sumber masalahnya, dengan sifat-sifatnya tersebut diatas, agama-agama Samawi sangat rawan gesekan...dimana gesekan-gesekan itu seringkali menjadi konflik terbuka.

Dan disinilah kesimpulan sementara saya.....

Dalam opini saya pribadi, semua agama sama saja. Sama saja dalam artian menuju Tuhan, tidak ada agama yang menuju kekuatan Setan atau Iblis. Untuk ritual keagamaan tentu saja semua agama berbeda: Islam Solat di Masjid, Kristen kebaktikan di Gereja, Yahudi berdoa di Sinagog dan lain-lain. Nama Tuhan dan Jumlahnya pun berbeda: Islam, Kristen & Yahudi mempunyai jumlah Tuhan 1 (meskipun Kristen mengenal konsep Trinitas). Namun inti agama itu sendiri, yakni menuju kepada zat transenden (penyebab utama dari semua akibat), adalah sama untuk semua agama. Maka, debat agama apalagi hingga konflik terbuka antar agama sungguh suatu hal yang tidak diperlukan karena bagaimana kita sama-sama makhluk ciptaan Dia, Sang Pencipta yang super.

Berbicara Mengenai Israel Dan Palestina

Israel kembali menggempur Palestina, Gaza tepatnya. Puluhan orang telah tewas, baik itu di pihak Israel ataupun Palestina (meskipun jumlah korban dari Palestina jauh lebih banyak ketimbang jumlah korban dari pihak Israel). Masyarakat dunia seakan terbagi menjadi dua kubu dalam melihat tragedi ini: Mereka yang membela Israel dan mereka yang membela Palestina. Debat tidak berkesudahan mewarnai berbagai macam forum, sementara setiap harinya selalu ada korban di Israel - Palestina.


Baik di Indonesia ataupun di AS, saya tidak menyalahkan opini publik mainstream yang membela salah satu negara. Indonesia misalnya yang sebagian besar warganya membela Palestina, entah itu karena rasa kesamaan agama atau karena murni rasa kemanusiaan. Di AS pun demikian, sebagian besar rakyat Amerika setia untuk membela Israel, entah itu juga karena rasa kesamaan latar belakang agama atau murni rasa kemanusiaan. Bagiku, masalah Israel - Palestina adalah sebuah polemik super kompleks yang terlah mengalami distorsi dalam pesan-pesan tersiratnya kepada rakyat dunia oleh awak media.

Pertama kita lihat di Indonesia. Mengapa sebagian rakyat Indonesia membela Palestina? jawaban pertama jelas adalah karena faktor agama. Baik Indonesia dan Palestina adalah sama-sama negara dengan mayoritas penduduk Islam Sunni. Kesamaan agama ini tidak dapat kita ingkari sebagai sebuah pengikat rasa senasib sepenanggungan antara rakyat Indonesia muslim dengan rakyat Palestina. Rakyat Indonesia melihat Palestina adalah sebuah bangsa berdaulat yang dengan seenaknya diserang, dibagi-bagi, dan menjadi korban aneksasi Inggris dan Israel. Rakyat Indonesia juga melihat Palestina sebagai sebuah negara yang banyak menjadi korban pelanggaran HAM oleh Israel, dibombardir setiap hari tanpa henti oleh militer Israel.

Di Amerika Serikat (AS), opini yang beredar berkebalikan. Rakyat AS melihat Palestina sebagai kelompok teroris yang menganggu keamanan Israel. Segala bentuk serangan roket Hamas ke wilayah Israel dilihat sebagai aksi terorisme yang wajib diberantas oleh aparat Israel. Serangan Israel ke wilayah Palestina dianggap hanya sebagai serangan balasan atas roket-roket Hamas. AS juga melihat bahwa Israel secara sah bisa menempati wilayahnya sekarang karena merupakan pemberian Inggris. Selain itu seperti halnya di Indonesia, sentimen reliji menjadi faktor utama mengapa negara Paman Sam ini membela Israel.

Saya sendiri adalah seorang muslim Indonesia yang pernah sempat berdiri dalam konsep Good (Palestina) vs Evil (Israel) ini. Saya melihat bahwa Palestina dengan Hamasnya adalah "All good" dan Israel adalah "All wrong". Namun kini, saya melihat ternyata banyak hal-hal yang ternyata jauh lebih kompleks daripada apa yang pernah saya pikirkan. Everything is not as simple as it seen.

Hal pertama yang paling saya khawatirkan adalah tendensi media. Di AS, media seperti CNN, Fox, BBC dan lain-lain cenderung untuk tidak memberitakan jumlah dan kondisi korban sipil dari pihak Palestina. Katakanlah CNN yang nyaris tidak pernah mengcover berita dari wilayah Gaza. CNN hanya menampilkan korban sipil Israel akibat dari roket-roket Hamas. Sebaliknya, media-media Timur seperti Al-Jazeera, yang mana Al-Jazeera ini banyak menjadi referensi satu-satunya media di wilayah Timur, hanya mengcover berita dari pihak Palestina. Al-Jazeera banyak menampilkan paparan visual atas korban-korban di Palestina (anak kecil yang tewas, mayat-mayat masyarakat sipil Palestina dll) namun tidak mengcover bagaimana korban sipil dari masyarakat Israel.

Opini publik pun tercipta dari tendensi 2 jenis media ini. CNN dkk yang lebih banyak beroperasi dibelahan bumi bagian barat berhasil menggiring opini masyarakat Amerika Utara dan Eropa bahwa Israel adalah korban dari terorisme Hamas yang bercokol dan bahkan dilindungi oleh rakyat Palestina. Sedangkan Al-Jazeera dkk yang banyak disiarkan dibelahan bumi bagian timur (dan negara-negara Islam) dengan sukses menciptakan opini publik mayoritas penduduk Asia bahwa Palestina adalah negara yang sedang dijajah oleh agresor Israel. Perbedaan cara pandang ini, menurut pendapat saya, adalah biang kerok dari tidak selesainya permasalahan di Palestina - Israel selama berpuluh-puluh tahun. Masing-masing pihak (Opini publik) merasa paling benar dengan pengetahuan yang sangat terbatas (hanya bersumber dari media yang tendensius) tanpa mencover kedua sisi.

Kekhawatiran saya yang kedua adalah kesengajaan untuk memelihara perang ini. Mungkin bagi pembaca yang pernah belajar tentang bisnis Internasional atau studi Hubungan Internasional akan sangat paham bahwa sesungguhnya perang itu adalah bisnis. Bisnis senjata adalah bisnis raksasa yang bernilai ratusan milyar dollar, hampir setara dengan bisnis perminyakan. Kelompok kapitalis yang oportunistik tentu sangat tergiur untuk mengambil untung dari isu-isu perang yang seksi, seperti Palestina - Israel ini contohnya. Disatu sisi, Palestina mempersenjatai dengan senjata-senjata produksi Rusia. Sedangkan disisi lain Israel mempersenjatai diri dengan persentajaan produksi Eropa dan AS. Semua senjata masing-masing pihak tersebut dibeli dengan harga yang pastinya tidak murah. Untuk menjaga sumber utama kehidupan bisnis senjatanya, masing-masing perusahaan persenjataan tentu ingin agar perang terus berlangsung. Berbagai bentuk manuver, salah satunya yang dapat dengan mudah kita temui adalah lobi-lobi ke pemerintah negara yang terlibat dalam perang atau negara-negara yang punya peran penting dalam suatu peperangan.

Kekhawatiran terakhir dan yang paling menyeramkan adalah sentimen agama. Suka tidak suka, sentimen agama memainkan peranan yang sangat krusial dalam membentuk opini atas masalah di Palestina - Israel. Kelompok Eropa dan Amerika yang didominasi Kristen rata-rata membela kebijakan Israel, sedangkan kelompok Timur tengah & Asia Tenggara yang didominasi Islam rata-rata membela perjuangan kemerdekaan Palestina. Dalam beberapa kondisi tertentu, beberapa orang bahkan mulai berpikir ekstrim bahwa perang Palestina - Israel tidak akan pernah berakhir hingga akhir zaman karena Biblical Prophecy  (ramalan kitab suci). Pesimisme dan sikap permisif atas perang tentu suatu hal yang sangat berbahaya bagi peradaban manusia, dan parahnya, skeptisme tersebut "disokong" oleh ajaran agama. Entah mungkin interpretasi atas suatu statemen dalam kitab suci yang salah atau memang begitu apa adanya.

Sebagai orang Indonesia yang berjarak ribuan kilometer dari zona perang di Palestina - Israel, prinsip pertama yang perlu kita camkan dalam benak kita adalah baik itu rakyat Palestina atau Israel, mereka semua adalah manusia. Tidak semua rakyat Israel adalah Yahudi, disana juga ada orang Islam, Buddha, Kristen dan sebagainya. Rakyat Israel itu, yang terdiri dari banyak agama, selama bertahun-tahun menjadi korban roket-roket Hamas. Begitupun di Palestina, tidak selamanya yang menjadi korban adalah orang Islam, banyak orang Kristen & Yahudi, dan bahkan beberapa gereja juga menjadi korban bom Israel hingga hancur total. Dari sedikit gambaran ini maka dapat kita pahami bahwa perang tidak mengenal agama dan kepercayaan. Apapun agamamu, jika roket sudah diluncurkan dan bom telah dijatuhkan maka siapapun bisa menjadi korban.

Korban tidak hanya dari pihak Palestina, tapi Israel pun mengalami kerugian korban jiwa yang tidak sedikit (walaupun secara jumlah lebih banyak korban Palestina). Namun apakah kita mempermasalahkan jumlah korban lantas bersikap permisif terhadap konflik berkepanjangan seperti di Palestina - Israel ini? Membiarkan perang berlangsung selama beberapa dekade hanya karena nafsu balas dendam menyamakan jumlah Korban? Dalam status kita yang mempunyai KTP Islam, lantas kita merasa harus menyamakan jumlah korban antara pihak Palestina yang jumlahnya ratusan dengan jumlah korban pihak Israel yang sejauh ini hanya berjumlah 10 orang?

Kitapun harus membuka mata bahwa Hamas, salah satu faksi kuat di Palestina tidak selamanya sempurna. Hamas adalah kelompok militer yang berlindung dibalik perisai manusia rakyat sipil Palestina. Mereka meluncurkan roket ke arah tanah Israel namun sesaat setelahnya mereka membaurkan diri diantara rakyat sipil Palestina. Begitupun saat peristiwa tembak menembak, mereka menembak pasukan Israel dari balik bangunan sipil...bahkan Masjid dan Gereja, berlindung dibalik perisai manusia sipil yang tidak tahu apapun.

Saya memang tidak menuliskan kejahatan dari Pihak Israel karena di Indonesia sangat mudah menemukan artikel-artikel semacam itu, maka saya tidak perlu menuliskan kembali.

Intinya saya hanya ingin mengatakan bahwa untuk melihat masalah Palestina - Israel ini kita harus melihat dengan cara pandang yang lebih luas, lebih lebar alih-alih hanya melihatnya dalam perspektif yang sempit. Kita harus dapat melihat dari perspektif masyarakat Israel dan Palestina sekaligus. Karena kenyataannya, konflik Palestina - Israel ini tidak sesederhana yang mungkin selama ini kita bayangkan.