Seperti yang sudah saya pernah tuliskan berkali-kali sebelumnya, setiap manusia mempunyai pandangan unik terhadap definisi dan instrumen "Tuhan". Saking luasnya konsep Tuhan itu sendiri, dan setiap orang secara langsung dan tidak langsung mempunyai hubungan dengan entitas Tuhan, membuat mau tidak mau, suka tidak suka membuat diversifikasi penerjemahan arti Tuhan. Waktu SD kita mungkin diajari bahwa Tuhan adalah Dia yang menciptakan kita dan alam semesta. Namun semakin berkembang dan dewasa seorang manusia, maka definisi sederhana semacam itu sudah tidak dapat memuaskan dahaga rasa penasaran akan apa itu Tuhan sesungguhnya. Sebagai seorang yang berlatar belakang ilmu sosial dan politik, Tuhan pun tidak luput sebagai salah satu subjek studi saya.
Dalam mengartikan Tuhan, saya cenderung menerjemahkan Dia sebagai sosok transenden yang menciptakan alam semesta dengan segala dimensi nya (ruang dan waktu) dan isinya. Tuhan harus merupakan entitas yang sempurna tanpa cela karena dia berada diatas alam semesta ini, diatas kesempurnaan alam semesta ini. Dia adalah kausalitas (sebab) utama dari semua akibat yang terjadi di alam semesta beserta isinya ini. Eksistensinya tidak terelakkan, terbukti dari segala keteraturan mekanis yang terjadi di jagat raya ini. Kecepatan revolusi terhadap bintang, kemiringan sumbu, jarak, percepatan gravitasi, tekanan udara, kandungan udara para planet yang sangat presisi dan teratur merupakan produk dari suatu bentuk intelegensia alih-alih kebetulan semata. Walaupun keberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan melalui pengamatan indera manusia, namun eksistensinya dapat diketahui melalui penalaran.
Absennya kemampuan indera manusia dalam menangkap eksistensi Tuhan inilah yang kemudian kita menciptakan istilah "Iman". Iman, dalam definisi populer, adalah sebuah keyakinan dan kepercayaan terhadap suatu sosok Tuhan dan segala perintahnya yang terkompilasi dalam suatu ajaran yang disebut dengan "Agama". Iman diartikan sebagai alogika: sebuah kondisi dimana suatu hal yang tidak membutuhkan penalaran logika. Iman tidak perlu logika, katanya. Iman adalah sebuah fenomena ghaib dimana hati manusia disadarkan oleh Tuhan untuk menyembah dan mempercayainya. Hampir semua agama, kecuali Buddha (karena memang Budha tidak mempunyai konsep entitas Tuhan), mempunyai definisi yang sama mengenai Iman, terutama agama-agama Samawi (Islam, Kristen dan Yahudi).
Definisi Iman mainstream ini, bagi saya, sangat merendahkan derajat kita sebagai manusia yang diberi kemampuan berpikir yang luar biasa. Tuhan telah menganugrahi manusia otak terbesar dari semua makhluk hidup di planet bumi untuk berpikir tanpa batas. Tidak restriksi (larangan) yang di-inject dalam otak kita untuk berpikir suatu hal. Tidak ada larangan yang tertulis di otak kita yang berbunyi "Dilarang berpikir tentang A". Otak kita adalah kebebasan kita, bahkan seorang budak belian pun, seterkekang apapun dia, masih dengan bebas berpikir apapun yang dia mau dan dia suka, walaupun nihil implementasi. Tuhan menciptakan otak kitapun tanpa restriksi. Kehebatan & kecerdasan yang dikandung otak manusia menciptakan konsekuensi logis bahwa kebebasan berpikir menjadi sebuah kekuatan yang tidak terhindarkan.
Saya kira, mengingat posisi Tuhan yang luar biasa, Dia pasti sudah berpikir bahwa manusia akan berpikir sedemikian kritis terhadap semua hal bahkan sebelum manusia berpikir tentang hal tersebut. Tuhan telah mengekspektasikan bahwa kita manusia akan sanggup berpikir sedemikian kreatif luar biasa, bahkan dalam mengartikan Tuhan sekaligus. Dalam konteks bahwa Tuhan adalah Maha Tahu, maka Dia pasti sudah paham konsekuensi bahwa makin tinggi pemikiran suatu makhluk maka semakin kritis pula daya pikirnya. Dan mengingat bahwa Tuhanku adalah Maha Logis (didasarkan pada fakta biblikal/kitab suci), maka saya mengasumsikan bahwa Tuhan mempunyai tanda-tanda yang masuk akal (logis) dalam menjelaskan dan menunjukkan eksistensinya.
Namun dalam tulisan saya sebelumnya, saya telah mengatakan bahwa terjemahan atas agama itu tergantung dari manusia di bumi. Beberapa kelompok manusia menerjemahkan bahwa "Tuhan melarang kita berpikir tentangNya". Saya akui ini adalah sebuah bentuk proses dialektika, dan wajar. Yang menjengkelkan adalah saat tesis ini, yang mengatakan "Tuhan melarang kita berpikir tentangNya", dianggap sebagai tesis absolut dan melarang adanya anti-tesis. Padahal mereka juga mengatakan bahwa manusia bisa saja salah karena memang manusia bukan makhluk super transenden. Inkonsistensi sikap ini menimbul polemik yang seringkali membuat kaum-kaum terpelajar menghindari berbicara ilmu pengetahuan dengan membawa agama. (Saya sendiri sedang berdialektika disini dan saya terbuka terhadap semua anti-thesis yang mungkin datang sebagai reaksi atas tulisan ini.)
Lalu bagaimana pandangan saya mengenai iman?. Bagi saya, iman adalah sebuah keyakinan yang berlandaskan logika terhadap eksistensi Tuhan beserta apa yang kita pikirkan sebagai perintahnya. Iman kepada Tuhan adalah saya meyakini Tuhan versi saya (Allah dalam Islam) adalah karena Dia terbentuk dalam logika melalui proses-proses yang logis. Mengapa saya tidak mengimani Tuhan agama lain? alasannya merupakan kebalikan dari iman terhadap Tuhan saya: Tuhan agama lain tidak dapat saya temukan/raih melalui proses-proses logis.
Kedua adalah iman terhadap ajaran Tuhan. Dalam status saya sebagai seorang muslim, ajaran Islam adalah ajaran yang paling logis menurut saya, walaupun saya akui ada polemik dalam pemikiran saya terkait apa yang disebut sebagai ajaran Islam (nanti akan saya bahas). Islam, menurut pendekatan logika saya, adalah kompilasi aturan yang paling masuk akal dan universal dari semua ajaran lain dimuka bumi. Istilahnya dalam dunia otomotif, bagi saya Islam adalah mobil Range Rover: multi fungsi, bisa mengangkut barang, mengangkut manusia, mengangkut hewan, bisa digunakan dalam segala medan, bisa untuk city car sekaligus untuk overland tour. Namun sama seperti mobil itu tadi, semua hanya masalah selera. Bagi saya Range Rover mungkin baik, tapi bagi orang lain, dengan logika sendiri, mungkin lebih menyukai mobil Kijang Innova atau merek-merek lain.
Polemik dalam ajaran agama, seperti yang saya tulis diatas, tidak dapat saya sangkal sering terjadi dalam hidup saya. Seperti aksi-aksi terorisme yang juga selalu mengatasnamakan Tuhan (dan juga tertulis dalam kitab suci & Hadist) kadang membuat saya "terpaksa" harus berpikir super kritis dalam menyikapi perintah agama saya sendiri. Contohnya seperti "betulkah orang kafir yang terang-terangan memusuhi Islam harus dibunuh?". Argumen Islam-islam ekstrim yang mengatakan demikian ternyata juga melandaskan pemikirannya kepada kitab-kitab Islam. Disinilah saya menggunakan daya kritisi saya. Saya memperbandingkan statemen tersebut (Orang kafir yang terang-terangan memusuhi Islam harus dibunuh) dengan berbagai macam pendekatan studi: mulai dari sejarah, sosiologi, psikologi, antropologi, hingga filosofi dan saya berkesimpulan bahwa statemen tersebut sangan kondisional dan tergantung kepada situasi (tidak absolut). Walaupun kelompok ekstrim yang meyakini bahwa statemen ini benar dan mengancam saya masuk neraka jika tidak percaya pada statemen tersebut, namun berdasarkan logika saya, statemen itu tidak dapat diterima akal sehat. Toh, mereka bukan pemilik neraka....
Tidak hanya sampai disitu, saya pun sering berpikir kritis terhadap ayat-ayat Quran yang saya baca, walaupun so far so good. Mungkin yang kerap saya temui polemik adalah di dalam Hadis. Namun mengingat dosen komunikasi saya pernah berkata "hadis itu ditulis oleh manusia dan didengar oleh manusia, jadi bisa saja salah", maka saya berpikir wajar bila ada kesalahan dalam hadis. Tapi sebelumnya, marilah kita hentikan polemik dalam hadis dan bergeser membahas hal selanjutnya, yaitu distorsi antara komunikator (Tuhan) dengan komunikan (saya dan manusia lain disaat sekarang), yang mana saya disini menggunakan landasan berpikir pada teori ilmu komunikasi.
Dalam teori ilmu komunikasi, distorsi yang terjadi dalam medium komunikasi adalah yang lumrah terjadi. Dalam bentuk komunikasi, terutama komunikasi tidak langsung seperti Tuhan dengan umatnya, peran medium komunikasi memegang peranan sangat krusial. Sayangnya, medium komunikasi tidak selalu 100% secara sempurna mampu membawa partikel-partikel pesan yang dimaksudkan oleh Komunikator. Kita ambil contoh dalam Islam, perintah Allah kepada saya sekarang ini melalui banyak sekali medium, pertama adalah Jibril, disusul Muhammad, kemudian sahabat dan para Hafidzh, sistem rezim Turki Utsmani (yang bertanggungjawab atas pembakaran beberapa jenis Mushaf Quran), distributor Quran, rezim kerajaan Arab Saudi, rezim Hindia Belanda (yang kemudian tergantikan oleh rezim Indonesia), pencetak Quran, distributor dan akhirnya penjual. Banyaknya medium itu mengakibatkan semakin tingginya potensi distorsi (gangguan) dari isi Quran. Klaim sepihak Quran yang menjamin bahwa isi Quran tidak akan berganti juga merupakan falasi, karena siapapun manusia dibumi bisa menuliskan klaim seperti itu jika memang dia pernah mengedit isi Quran. Distorsi terparah menurut saya pribadi adalah pembakaran & pemusnahan mushaf-mushaf Quran yang punya versi berbeda dengan yang diakui oleh rezim Turki Utsmani.
Distorsi-distorsi tersebut diatas merupakan pesan implisit kepada kita bahwa belum tentu apa yang kita pikir sebagai sebuah kebenaran adalah benar secara mutlak. Di dunia nyata, tidak ada yang disebut dengan kebenaran mutlak, bahkan apa yang saya tulis disini juga belum tentu tepat. Yang bisa manusia lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada kebenaran adalah dengan apa yang tadi kita sebut sebagai proses dialektika. Proses dialektika secara sederhana dapat saya artikan sebagai sebuah proses berdiskusi dalam rangka mendekatkan diri kepada kebenaran. Saya mengimplementasikan prinsip dialektika ini dalam berbagai hal dalam hidup saya, termasuk agama. Kalau memang agama dan Tuhan ku adalah yang benar, maka proses dialektika tidak akan berpengaruh apapun.
Kembali ke masalah Iman: Bagaimana iman diperoleh? Kelompok tradisionalis mengatakan bahwa iman diperoleh melalui suatu proses eskatologis, sebuah proses ghaib yang tidak terjelaskan oleh manusia. Iman dipandang sebagai rahasia Tuhan. Untuk kelompok reliji muslim mengatakan bahwa iman kepada Allah dapat diperoleh melaksanakan rukun Islam dan Iman dengan baik dan benar. Kelompok kristen mengatakan bahwa iman kepada Tuhan dapat diperoleh dengan melaksanakan ajaran Yesus di alkitab dan sering memohon kepadaNya. Begitupun untuk agama-agama lainnya. Penjelasan semacam itu dapat memuaskan rasa penasaran kenapa keimanan itu ada. Alih-alih disebut sebagai Iman, aku melihat definisi "Iman" semacam itu lebih mirip kepada Fanatik. Karena baik "fanatik" ataupun "Iman" menurut kelompok tradisionalis mempunyai esensi yang sama: Kepercayaan penuh terhadap sesuatu yang bersifat mutlak, tanpa ada kritik dan ada cela, tidak perduli itu masuk akal atau tidak.
Bagiku, Iman dapat diperoleh melalui ilmu pengetahuan. Terutama sekali dalam agamaku, Islam, umatnya diperintahkan untuk menuntut ilmu pengetahuan tanpa batas dalam hal apapun (tidak terbatas). Bagiku, perintah tersebut mengandung arti bahwa hanya dengan ilmu pengetahuan lah maka kita dapat memahami makna sesungguhnya dari Islam (agama) dan hanya dengan ilmu pengetahuan lah maka manusia dapat menemukan, memahami, mencintai, dan mengimani Tuhannya.
Sikapku yang tidak sealiran dengan orang kebanyakan di lingkunganku membuat beberapa orang menyatakan bahwa saya sesat atau bahkan atheist, yang mana hal itu tentu saja ngawur besar. Justru dengan melalui tahap-tahapan logis untuk menemukan Tuhanku, kini saya dapat memahami dan mengimani Tuhanku (Allah) dengan benar. Saya telah mencapai tingkatan dimana pada akhirnya saya meyakini dengan kemampuan nalarku bahwa memang Allah adalah penciptaku. Namun demikian, tidak masalah dengan agama lain karena seperti yang pernah saya tuliskan dalam tulisanku sebelum ini, semua agama sama saja, yakni menyembah sosok Tuhan yang satu tidak perduli siapapun nama dan panggilannya.

aaakkk.. panjang kali ma'jang.. baca satu kalimat per paragraph doang ni mencooba mencari kesimpulan hahaha..
ReplyDeleteternyata kita mirip mirip lah.. semacam 44 dan 33 haha..
ReplyDeleteIt's All About OTAK!!
http://fadlilsangaji.wordpress.com/its-all-about/