Agama adalah suatu hal yang sederhana bagiku. Dia (Agama) adalah sebuah instrumen untuk menuju entitas Tuhan. Dia adalah serangkaian tata cara, peraturan, hukum yang bertujuan memposisikan diri sebagai "pengikut" suatu aliran theistik (berketuhanan). Agama adalah masalah lingkungan hidup dan selera. Aku tidak akan bilang agama adalah masalah "Iman" karena aku tidak pernah percaya dengan konsep Iman mainstream (pasaran). Agama tidak rumit tidak pula eksklusif. Agama adalah global, universal, umum, publik. Dia tidak terkotak-kotak dalam kemajemukan yang pluralist, karena manusialah yang membuatnya terkotak-kotak. Perspektif manusia di bumi telah me-reposisikan agama sebuah sebuah hal yang eksklusif dan terkhususkan sebagai sebuah instrimen partikular tertentu.
Iman bagiku adalah sebuah kesimpulan yang diraih karena pendekatan-pendekatan logika. Iman itu tidak buta, bukan pula sekedar agama turunan orang tua: Iman itu dapat membedakan antara baik buruk dan salah benar. Kebutaan apa yang diklaim sebagai Iman bagiku hanya fanatisme belaka, dan sifat fanatisme telah men-degradasi-kan martabat kita sebagai manusia yang diberkahi oleh kemampuan berlogika. Iman itu lahir dari sifat kritis, seperti layaknya Ibrahim (Abraham) yang mempertanyakan eksistensi Tuhan. Apakah dia disebut kurang ajar karena mempertanyakan entitas Tuhan? Justru karena mempertanyakan Tuhan itulah dia menemukan Tuhannya dan mengimaninya. Proses mencapai keimanan itu harus melalui keterbukaan pikiran, bersedia menerima berbagai masukan-masukan. Layaknya Ibrahim yang berhipotesis bahwa Tuhan adalah Matahari, Bulan dan sebagainya: sebagai pengikut salah satu percabangan agama Ibrahim (Abrahamic Religion: agama dengan Tuhan Allah, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi), aku berusaha mencontoh beliau, yaitu dengan berhipotesis mengenai berbagai macam konsep dan bentuk Tuhan dan akhirnya berimanlah aku terhadap suatu Tuhan. Itulah mengapa dalam agamaku, Islam, sangat mengagungkan pentingnya menuntut ilmu pengetahuan: untuk meningkatkan kemampuan berlogika umat manusia, yang pada akhirnya dapat digunakan untuk mengenal Tuhannya.
Namun entah bagaimana, "Iman" telah mengalami pergeseran implementasi. Iman diartikan sebagai sebuah "pencerahan" yang tidak dapat dipahami secara spesifik: Pencerahan oleh siapa? Bagaimana? Kapan? Dari Siapa? bagaimana kita tahu itu pencerahan alih-alih hanya sebuah mimpi atau khayalan kita sendiri?. Penjelasan eskatologis yang membawa determinan ke-ghaib-an tidak dapat aku terima sebagai seorang yang mengutamakan logika. Kalaupun kita memaksa menggunakan kata "pencerahan", maka bagiku pencerahan itu adalah sebuah ide, pemikiran, ilham baik itu yang bersifat seketika ataupun proses pemikiran bertahun-tahun yang telah menemukan konsep Tuhannya.
Faktanya, kita manusia justru adalah pihak yang seakan-akan berkuasa penuh atas bagaimana agama itu bertindak. Lihat bagaimana Kristen Katolik pada zaman kegelapan membantai kaum Kristen Protestan dengan cap "Heresy" atau Penistaan agama. Lihat pula bagaimana beberapa kelompok agama di Indonesia seakan-akan punya "License to Kill" (Lisensi untuk membunuh) terhadap kelompok-kelompok kepercayaan lain, katakanlah seperti Ahmadiyah atau Islam Syiah. Dengan cap Penistaan agama, kelompok agama dan orang-orang di dalamnya seakan-akan mewakili ke-agung-an Tuhan di muka bumi.
Tanpa kita sadari, kita telah, sedang dan akan selalu mengartikan perintah Tuhan menurut logika kita yang tidak absolut. Contohnya aku, seorang muslim, akan menjalankan ibadah umat Muslim sesuai yang aku tahu dan yakini, sedangkan hal-hal yang aku tahu tidaklah bersifat absolut (mutlak). Contohnya aku Solat, walaupun menurutku Solat adalah perintah Tuhan, namun apakah Allah dalam Islam mengatakan demikian langsung dari mulutnya? Dalam teori komunikasi kita tentu tahu distorsi (gangguan, halangan) dalam medium komunikasi. Ucapan Allah hingga ke telinga dan mata saya telah melalui banyak sekali medium (Jibril, Muhammad, Sahabat, Penulis Quran, Birokrasi Rezim Turki Utsmani, penghafal Quran, Editor, dan percetakan). Semakin banyak pihak yang menjadi medium, maka makin pula resiko distorsi nya. Kita mungkin bisa saja yakin bahwa Quran atau kitab suci apapun dijamin keasliannya oleh Allah atau Tuhan, namun hal itu merupakan falasi. Saya bisa saja, seandainya saya hidup 1000 tahun lalu, mengedit Quran atau kitab suci dan mengatakan (menuliskan dalam kitab tersebut) bahwa kitab ini dijamin keasliannya oleh Tuhan....sangat mudah.
Interpretasi terhadap agama dan kebenaran sangatlah beraneka ragam, maka dari itulah tercipta proses dialektika untuk mendekatkan diri kepada kebenaran (walaupun kebenaran mutlak itu tidak akan pernah didapat). Dari sinilah muncul istilah bahwa "Tuhan berada dalam pikiran kita masing-masing". Maksudnya, bagaimana kita menerjemahkan Tuhan dan segala perangkatnya (termasuk agama, kitab suci dll) adalah berbeda untuk masing-masing orang. Ada yang menerjemahkan bahwa Tuhan itu maha mengasihi dan melarang balas dendam, ada yang menerjemahkan Tuhan itu tegas dan galak, ada yang menerjemahkan Tuhan itu suka berbalas dendam, dan lain sebagainya. Terjemahan-terjemahan itu mungkin saja berbeda untuk setiap orangnya. Jangankan dengan agama lain, untuk sesama agama saja banyak aliran-aliran yang terbentuk. Islam misalnya ada Syiah dan Sunni. Syiah itu sendiri masih terbagi lagi, begitupun dengan Sunni. Bagiku, itu bukan masalah karena memang tiap orang mempunyai interpretasi yang spesifik partikular terhadap konsep Tuhan dan ajarannya.
Ketidakmampuan umat beragama untuk memahami diversifikasi interpretasi inilah yang menyebabkan agama, selain sebagai sebuah sumber kedamaian, juga berperan sebagai sumber peperangan. Perang salib yang berlangsung selama berabad-abad adalah produk egoisme manusia yang merasa agamanya paling benar (walaupun pada tingkat elitenya mempunyai motivasi berbeda, yaitu motivasi ekonomi). Rakyat kedua kubu, Rakyat Eropa dan Rakyat Timur Tengah, merasa bahwa perang memperebutkan Jerusalem adalah perang suci untuk membela Tuhannya masing-masing. Itu hanya salah satu contoh, ada banyak perang lainnya yang tercipta karena mengatasnamakan agama.
Konflik agama bukanlah hal baru. Sejak turunnya agama Samawi yang pertama, Yahudi, konflik reliji sudah menjadi makanan sehari-hari peradaban di muka bumi. Karen Armstrong dalam bukunya "Sejarah Para Tuhan" menulis bahwa karena sifatnya yang universal (diperuntukkan untuk semua manusia di dunia), agama Samawi lebih mempunyai sifat intoleran dan memaksa terhadap agama lain. Agama Samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) adalah agama yang etnosentris, merasa dirinya paling benar, tanpa cela, dan melihat agama lain selalu salah. Disinilah sumber masalahnya, dengan sifat-sifatnya tersebut diatas, agama-agama Samawi sangat rawan gesekan...dimana gesekan-gesekan itu seringkali menjadi konflik terbuka.
Dan disinilah kesimpulan sementara saya.....
Dalam opini saya pribadi, semua agama sama saja. Sama saja dalam artian menuju Tuhan, tidak ada agama yang menuju kekuatan Setan atau Iblis. Untuk ritual keagamaan tentu saja semua agama berbeda: Islam Solat di Masjid, Kristen kebaktikan di Gereja, Yahudi berdoa di Sinagog dan lain-lain. Nama Tuhan dan Jumlahnya pun berbeda: Islam, Kristen & Yahudi mempunyai jumlah Tuhan 1 (meskipun Kristen mengenal konsep Trinitas). Namun inti agama itu sendiri, yakni menuju kepada zat transenden (penyebab utama dari semua akibat), adalah sama untuk semua agama. Maka, debat agama apalagi hingga konflik terbuka antar agama sungguh suatu hal yang tidak diperlukan karena bagaimana kita sama-sama makhluk ciptaan Dia, Sang Pencipta yang super.

No comments:
Post a Comment