Berbicara Mengenai Israel Dan Palestina

Israel kembali menggempur Palestina, Gaza tepatnya. Puluhan orang telah tewas, baik itu di pihak Israel ataupun Palestina (meskipun jumlah korban dari Palestina jauh lebih banyak ketimbang jumlah korban dari pihak Israel). Masyarakat dunia seakan terbagi menjadi dua kubu dalam melihat tragedi ini: Mereka yang membela Israel dan mereka yang membela Palestina. Debat tidak berkesudahan mewarnai berbagai macam forum, sementara setiap harinya selalu ada korban di Israel - Palestina.


Baik di Indonesia ataupun di AS, saya tidak menyalahkan opini publik mainstream yang membela salah satu negara. Indonesia misalnya yang sebagian besar warganya membela Palestina, entah itu karena rasa kesamaan agama atau karena murni rasa kemanusiaan. Di AS pun demikian, sebagian besar rakyat Amerika setia untuk membela Israel, entah itu juga karena rasa kesamaan latar belakang agama atau murni rasa kemanusiaan. Bagiku, masalah Israel - Palestina adalah sebuah polemik super kompleks yang terlah mengalami distorsi dalam pesan-pesan tersiratnya kepada rakyat dunia oleh awak media.

Pertama kita lihat di Indonesia. Mengapa sebagian rakyat Indonesia membela Palestina? jawaban pertama jelas adalah karena faktor agama. Baik Indonesia dan Palestina adalah sama-sama negara dengan mayoritas penduduk Islam Sunni. Kesamaan agama ini tidak dapat kita ingkari sebagai sebuah pengikat rasa senasib sepenanggungan antara rakyat Indonesia muslim dengan rakyat Palestina. Rakyat Indonesia melihat Palestina adalah sebuah bangsa berdaulat yang dengan seenaknya diserang, dibagi-bagi, dan menjadi korban aneksasi Inggris dan Israel. Rakyat Indonesia juga melihat Palestina sebagai sebuah negara yang banyak menjadi korban pelanggaran HAM oleh Israel, dibombardir setiap hari tanpa henti oleh militer Israel.

Di Amerika Serikat (AS), opini yang beredar berkebalikan. Rakyat AS melihat Palestina sebagai kelompok teroris yang menganggu keamanan Israel. Segala bentuk serangan roket Hamas ke wilayah Israel dilihat sebagai aksi terorisme yang wajib diberantas oleh aparat Israel. Serangan Israel ke wilayah Palestina dianggap hanya sebagai serangan balasan atas roket-roket Hamas. AS juga melihat bahwa Israel secara sah bisa menempati wilayahnya sekarang karena merupakan pemberian Inggris. Selain itu seperti halnya di Indonesia, sentimen reliji menjadi faktor utama mengapa negara Paman Sam ini membela Israel.

Saya sendiri adalah seorang muslim Indonesia yang pernah sempat berdiri dalam konsep Good (Palestina) vs Evil (Israel) ini. Saya melihat bahwa Palestina dengan Hamasnya adalah "All good" dan Israel adalah "All wrong". Namun kini, saya melihat ternyata banyak hal-hal yang ternyata jauh lebih kompleks daripada apa yang pernah saya pikirkan. Everything is not as simple as it seen.

Hal pertama yang paling saya khawatirkan adalah tendensi media. Di AS, media seperti CNN, Fox, BBC dan lain-lain cenderung untuk tidak memberitakan jumlah dan kondisi korban sipil dari pihak Palestina. Katakanlah CNN yang nyaris tidak pernah mengcover berita dari wilayah Gaza. CNN hanya menampilkan korban sipil Israel akibat dari roket-roket Hamas. Sebaliknya, media-media Timur seperti Al-Jazeera, yang mana Al-Jazeera ini banyak menjadi referensi satu-satunya media di wilayah Timur, hanya mengcover berita dari pihak Palestina. Al-Jazeera banyak menampilkan paparan visual atas korban-korban di Palestina (anak kecil yang tewas, mayat-mayat masyarakat sipil Palestina dll) namun tidak mengcover bagaimana korban sipil dari masyarakat Israel.

Opini publik pun tercipta dari tendensi 2 jenis media ini. CNN dkk yang lebih banyak beroperasi dibelahan bumi bagian barat berhasil menggiring opini masyarakat Amerika Utara dan Eropa bahwa Israel adalah korban dari terorisme Hamas yang bercokol dan bahkan dilindungi oleh rakyat Palestina. Sedangkan Al-Jazeera dkk yang banyak disiarkan dibelahan bumi bagian timur (dan negara-negara Islam) dengan sukses menciptakan opini publik mayoritas penduduk Asia bahwa Palestina adalah negara yang sedang dijajah oleh agresor Israel. Perbedaan cara pandang ini, menurut pendapat saya, adalah biang kerok dari tidak selesainya permasalahan di Palestina - Israel selama berpuluh-puluh tahun. Masing-masing pihak (Opini publik) merasa paling benar dengan pengetahuan yang sangat terbatas (hanya bersumber dari media yang tendensius) tanpa mencover kedua sisi.

Kekhawatiran saya yang kedua adalah kesengajaan untuk memelihara perang ini. Mungkin bagi pembaca yang pernah belajar tentang bisnis Internasional atau studi Hubungan Internasional akan sangat paham bahwa sesungguhnya perang itu adalah bisnis. Bisnis senjata adalah bisnis raksasa yang bernilai ratusan milyar dollar, hampir setara dengan bisnis perminyakan. Kelompok kapitalis yang oportunistik tentu sangat tergiur untuk mengambil untung dari isu-isu perang yang seksi, seperti Palestina - Israel ini contohnya. Disatu sisi, Palestina mempersenjatai dengan senjata-senjata produksi Rusia. Sedangkan disisi lain Israel mempersenjatai diri dengan persentajaan produksi Eropa dan AS. Semua senjata masing-masing pihak tersebut dibeli dengan harga yang pastinya tidak murah. Untuk menjaga sumber utama kehidupan bisnis senjatanya, masing-masing perusahaan persenjataan tentu ingin agar perang terus berlangsung. Berbagai bentuk manuver, salah satunya yang dapat dengan mudah kita temui adalah lobi-lobi ke pemerintah negara yang terlibat dalam perang atau negara-negara yang punya peran penting dalam suatu peperangan.

Kekhawatiran terakhir dan yang paling menyeramkan adalah sentimen agama. Suka tidak suka, sentimen agama memainkan peranan yang sangat krusial dalam membentuk opini atas masalah di Palestina - Israel. Kelompok Eropa dan Amerika yang didominasi Kristen rata-rata membela kebijakan Israel, sedangkan kelompok Timur tengah & Asia Tenggara yang didominasi Islam rata-rata membela perjuangan kemerdekaan Palestina. Dalam beberapa kondisi tertentu, beberapa orang bahkan mulai berpikir ekstrim bahwa perang Palestina - Israel tidak akan pernah berakhir hingga akhir zaman karena Biblical Prophecy  (ramalan kitab suci). Pesimisme dan sikap permisif atas perang tentu suatu hal yang sangat berbahaya bagi peradaban manusia, dan parahnya, skeptisme tersebut "disokong" oleh ajaran agama. Entah mungkin interpretasi atas suatu statemen dalam kitab suci yang salah atau memang begitu apa adanya.

Sebagai orang Indonesia yang berjarak ribuan kilometer dari zona perang di Palestina - Israel, prinsip pertama yang perlu kita camkan dalam benak kita adalah baik itu rakyat Palestina atau Israel, mereka semua adalah manusia. Tidak semua rakyat Israel adalah Yahudi, disana juga ada orang Islam, Buddha, Kristen dan sebagainya. Rakyat Israel itu, yang terdiri dari banyak agama, selama bertahun-tahun menjadi korban roket-roket Hamas. Begitupun di Palestina, tidak selamanya yang menjadi korban adalah orang Islam, banyak orang Kristen & Yahudi, dan bahkan beberapa gereja juga menjadi korban bom Israel hingga hancur total. Dari sedikit gambaran ini maka dapat kita pahami bahwa perang tidak mengenal agama dan kepercayaan. Apapun agamamu, jika roket sudah diluncurkan dan bom telah dijatuhkan maka siapapun bisa menjadi korban.

Korban tidak hanya dari pihak Palestina, tapi Israel pun mengalami kerugian korban jiwa yang tidak sedikit (walaupun secara jumlah lebih banyak korban Palestina). Namun apakah kita mempermasalahkan jumlah korban lantas bersikap permisif terhadap konflik berkepanjangan seperti di Palestina - Israel ini? Membiarkan perang berlangsung selama beberapa dekade hanya karena nafsu balas dendam menyamakan jumlah Korban? Dalam status kita yang mempunyai KTP Islam, lantas kita merasa harus menyamakan jumlah korban antara pihak Palestina yang jumlahnya ratusan dengan jumlah korban pihak Israel yang sejauh ini hanya berjumlah 10 orang?

Kitapun harus membuka mata bahwa Hamas, salah satu faksi kuat di Palestina tidak selamanya sempurna. Hamas adalah kelompok militer yang berlindung dibalik perisai manusia rakyat sipil Palestina. Mereka meluncurkan roket ke arah tanah Israel namun sesaat setelahnya mereka membaurkan diri diantara rakyat sipil Palestina. Begitupun saat peristiwa tembak menembak, mereka menembak pasukan Israel dari balik bangunan sipil...bahkan Masjid dan Gereja, berlindung dibalik perisai manusia sipil yang tidak tahu apapun.

Saya memang tidak menuliskan kejahatan dari Pihak Israel karena di Indonesia sangat mudah menemukan artikel-artikel semacam itu, maka saya tidak perlu menuliskan kembali.

Intinya saya hanya ingin mengatakan bahwa untuk melihat masalah Palestina - Israel ini kita harus melihat dengan cara pandang yang lebih luas, lebih lebar alih-alih hanya melihatnya dalam perspektif yang sempit. Kita harus dapat melihat dari perspektif masyarakat Israel dan Palestina sekaligus. Karena kenyataannya, konflik Palestina - Israel ini tidak sesederhana yang mungkin selama ini kita bayangkan.

4 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  3. JOIN ROYALQQ.POKER sekarang juga!
    Menangkan JACKPOT puluhan hingga ratusan juta...

    Ditunggu ya bosq sayang^^v

    ReplyDelete
  4. Bosan main poker sama ROBOT? Kapan untungnya?
    Kini Hadir Game Terbaru ===>> GAME SAKONG
    Mari.. bergabung bersama kami di ROYALQQ, main poker tanpa Robot 100% player vs player.
    Deposit Minimum Rp. 15.000
    www,royalqq,poker
    Support Bank BCA, MANDIRI, BNI, BRI
    add 2B68D666

    ReplyDelete