Kegilaan Beragama Indonesia

Kafir, Kristenisasi, Angelina Jolie Masuk Islam, Konspirasi Yahudi & Freemason dan berita berita berkaitan agama penuh sesak mengisi linimasa facebook, sampai-sampai karena merasa enough is enough saya terpaksa mengambil langkah drastis: Unfollow mereka yang sharing berita soal politik agama, tidak perduli saudara, sahabat, teman atau sekedar kenalan; bahkan beberapa akun dengan berat hati harus saya unfriend karena sudah keterlaluan walaupun pada akhirnya saya follow kembali (beberapa diantaranya, demi menjaga tali persaudaraan). But don't get me wrong, saya juga mem-follow page group Facebook seperti FPI, HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), & ICMS (Indonesian Congress of Muslim Students) yang oleh sebagian orang disebut sebagai kelompok konservatif only for the sake of menjaga objektivitas saya melihat permasalahan yang muncul. Ya, dalam tulisan ini seperti biasa saya akan melihat dari kaca mata netral, alias melihat agama hanya sebagai objek observasi dengan melucuti segala afiliasi sistem kepercayaan apapun dengan diri saya.

AHOK?

Ahok, Ahok, & Ahok. Kenapa Ahok? Pertama karena dia Cina. Kedua karena dia Kristen. Ketiga karena dia kasar. Keempat karena dia gubernur. Kelima karena dia tinggal di Indonesia. Seandainya Ahok hanya orang biasa yang tinggal di Swedia, ngga akan ada yang membicarakan dia, termasuk saya, dia, mereka dan anda. Ahok itu AIO atau All In One: enak dipuji tapi juga menarik dihujat, menggoda untuk diberi selamat tapi juga menggairahkan untuk dilaporkan ke penegak hukum, asyik untuk didukung tapi juga seru untuk dilengserkan. Pokoknya Ahok itu komplit, kalau kata iklan permen tahun 90’an: Manis, asam, asin, rame rasanya!

Agamaku Bukan Agamamu

Masih seru soal perda berbau syariah di Serang, Banten. Video seorang ibu penjual warteg yang dagangannya disita oleh Satpol PP hingga si ibu memohon mohon agar dagangannya dikembalikan. Perdebatan pun memanas, publik ada yang membela si Ibu tapi tidak sedikit pula yang membela Perda tersebut. Ngga sedikit pula yang debatnya mulai melenceng kemana-mana; ada mengkritik bahwa si Ibu yang dagangannya disita sebenarnya bukan orang miskin sehingga tidak perlu menerima sumbangan hingga puluhan juta dan disisi lain ada yang mengkritik soal provinsi Banten selaku pembuat perda yang merupakan salah satu provinsi terkorup. Dua jenis kritik terakhir tentu sudah di luar konteks dan merupakan falasi logika dalam perdebatan. Namun terlepas dari itu, bagaimana posisi negara dan agama yang seharusnya?

*Catatan: Bicara soal agama adalah persoalan yang sensitif, maka dari itu, bagi anda yang masih suka mencampuradukkan persoalan agama dengan ilmu pengetahuan dipersilahkan pergi dari halaman ini atau resiko tanggung sendiri.

LGBT: Relativisme Kultural & Kodrat Semu (1)

Bukan, tulisan ini bukan menghakimi soal benar salahnya LGBT/LGBTIQ dari sudut pandang moralitas, bukan pula dari sudut pandang agama. Tulisan ini hanya mencoba mengkaji dari perspektif sosial yang mungkin jarang kita temui di luar sana. LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) atau bisa juga dalam versi lengkapnya disebut LGBTIQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex, Queer) ialah isu kontemporer yang baru terpapar perhatian publik Indonesia. Di negara maju lain, soal LGBT/LGBTIQ ini sudah bukan isu besar lagi dengan banyaknya dari mereka yang sudah mengakuinya. Tapi di Indonesia, isu LGBT/LGBTIQ ini baru geger kembali setelah menyeruaknya berita soal pihak UI yang melarang organisasi LGBT di kampus mereka. Dalam tulisan non-ilmiah ini, saya tidak akan mendebat apakah LGBT itu benar apa salah dengan pendekatan ilmu genetika atau psikologi. Alih-alih saya akan membahas soal pengertian dari “Kodrat” dan “Budaya” yang baik oleh mereka yang pro dan kontra terhadap hak hak LGBT/LGBTIQ sering gunakan dari sudut pandang ilmu sosial dengan pemaparan (yang saya usahakan) sesederhana mungkin dan seringkas mungkin.