AHOK?

Ahok, Ahok, & Ahok. Kenapa Ahok? Pertama karena dia Cina. Kedua karena dia Kristen. Ketiga karena dia kasar. Keempat karena dia gubernur. Kelima karena dia tinggal di Indonesia. Seandainya Ahok hanya orang biasa yang tinggal di Swedia, ngga akan ada yang membicarakan dia, termasuk saya, dia, mereka dan anda. Ahok itu AIO atau All In One: enak dipuji tapi juga menarik dihujat, menggoda untuk diberi selamat tapi juga menggairahkan untuk dilaporkan ke penegak hukum, asyik untuk didukung tapi juga seru untuk dilengserkan. Pokoknya Ahok itu komplit, kalau kata iklan permen tahun 90’an: Manis, asam, asin, rame rasanya!
 Posisi gubernur di Jakarta memang seksi, kucing pun bisa mengaum bagai singa jika ditawari kursi gubernur jakarta. Siapa sih yang ngga mau jadi gubernur Jakarta? Orang gila saja banyak yang menyatakan ingin maju jadi cagub Jakarta. Namun coba saja tanyakan kepada mereka apakah mereka bersedia jadi Bupati Yuhukimo di Papua; Pasti jika mereka ditanyakan hal tersebut maka tiba tiba mereka harus mengunjungi klinik THT terdekat. Mungkin hanya orang yang memang tidak tertarik jadi pejabat yang akan menolak jadi gubernur Jakarta, itupun jika ada. Tidak heran orang orang terkenal negeri ini berjubel melamar jadi gubernur Jakarta, baik itu ke Parpol atau ngumpulin KTP secara swadaya, termasuk Ahok sendiri dan para pesaingnya seperti Yusril, Adhyaksa Dault, Sandiaga Uno dan kawan kawan.
Saya ngga perduli kata seseorang di selasar.com bahwa Teman Ahok adalah grand design Ahok dari tahun 2014. Kenapa? Sekarang bayangkan saja anda ingin membangun gedung 30 lantai, apakah anda ujug ujug memerintahkan kuli beserta mandor untuk untuk mulai ngecor semen? Tidak mungkin kan. Anda pasti minta tolong arsitek untuk membuat grand design nya, blueprint dari gedung itu, dan pastinya biaya jasa arsitek tidak murah. Sesuatu yang besar, kompleks & rumit, apalagi seperti gubernur Jakarta yang ribuan kali lebih masif daripada sekedar bangun gedung 30 lantai, mustahil dibuat ujug-ujug. Anak TK juga tahu tidak ada sesuatu buatan manusia yang tiba tiba tercipta, membuat skripsi saja harus ada proposal skripsi apalagi untuk jadi gubernur. Kun Fayakun adalah privilege Tuhan, manusia tidak perlu ikut ikutan bermain jadi Tuhan.
Saya juga sama ngga perdulinya dengan pernyataan Ahok ingin ikut jalur independen atau parpol. Keduanya halal, keduanya dijamin konstitusi, keduanya sudah ratusan kali dilakukan di negeri ini. Mau Ahok ingin ikut Partai Tahu Gejrot atau Partai Tempe Bongkrek tidak akan ada bedanya dalam konteks haram halal hukum Indonesia. Atau jika Ahok ingin ikut jalur independen juga halal hukumnya, entah itu KTP milik siapa asalkan lolos verifikasi oleh KPU maka Ahok bisa ikut pemilu. Negara ini negara hukum: walaupun Ahok menurut Teori konspirasi Wahyudi, Remason dan Mamarika dulu adalah pelaku genosida Yahudi di Auschwitz bersama sama dengan sohibnya, si Mas Hitler, tapi jika tidak ada bukti dan tidak dinyatakan secara hukum maka sah sah saja dia jadi Gubernur atau bahkan Presiden (kalau bisa). Sama halnya dengan Teman Ahok, seandainya pun mereka dituduh sebagai Death Squad Nazi semasa perang dunia II pun tidak akan pengaruh apapun selama tidak terbukti melanggar hukum di pengadilan maka organisasi tersebut halal hukumnya di Indonesia.
Kembali lagi ke statement paragraf pertama. Kenapa Ahok? #1. Dia berasal dari Etnis keturunan Cina dan Cina adalah etnis minoritas di negeri yang penuh sesak dengan orang Jawa, termasuk saya juga penyumbang kesesakan itu. Dimana-mana diseluruh dunia etnis minoritas cenderung sulit menjadi pemimpin, tidak perduli negara dunia ketiga atau negara dunia pertama. Lihat saja Amerika, setelah 200 tahun merdeka baru di abad 21 orang kulit Hitam bisa menjadi Presiden. Di Inggris pun kurang lebih sama, setelah hampir 1 milenium term “Inggris” tercipta, baru kali ini ada orang Islam jadi Walikota London.
Kenapa Ahok? #2. Dia Kristen. Menurut saya ini sudah sangat jelas dan berkaitan dengan Kenapa Ahok? #1 dan tidak perlu saya bahas lagi. Lagi pula saya paling malas membahas apapun itu dari sudut pandang agama dalam tulisan tulisan saya, jadi silahkan cari penulis lain untuk yang satu ini.
Kenapa Ahok? #3. Dia kasar. Ahok memang nyablak, mulutnya tidak terpasang penyaring yang berkualitas. Dengan mayoritas penduduk yang lebih mementingkan Sopan santun daripada keterusterangan, Ahok adalah figur antagonis. Ucapan Ahok yang sering bernada tidak sopan menjadi pendidikan politik yang buruk pagi negeri ini, kata seorang lulusan S2 yang tulisannya kerap muncul di medsos. Ahok bukan Jokowi, Soeharto atau SBY , yang ucapannya kalem, lembut dan terarah pada saat marah sekalipun. Negeri ini belum pernah bertemu figur besar yang berkarakter keras dan kasar sejak dari awal merdeka. Hatta, Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY & Jokowi semua orang orang berperawakan kalem, normal setidaknya. Munculnya Ahok telah mengacak acak persepsi bahwa kesopanan adalah syarat utama bagi seorang pemimpin. Beberapa orang (termasuk saya), yang sama-sama lebih suka memasang filter mulut KW10, tidak ada masalah dengan jenis ucapan kasar seperti Ahok, atau Ruhut Sitompul atau bahkan Sudjiwo Tedjo yang suka jancuk jancuk itu.
Kenapa Ahok? #4 dan #5 adalah kesimpulan dari 3 paragraf di atas. Seandainya Ahok gubernur yang berada di Vietnam atau Singapura pasti tidak akan heboh seperti yang terjadi di Indonesia ini. Bilamana Ahok adalah tukang sol sepatu atau penjual Tahu Bulat alih alih gubernur Jakarta juga pasti tidak akan sepanas ini di media, lagian siapa sih yang perduli dengan tukang sol sepatu dan tukang Tahu Bulat yang beretnis Cina? Yang Jawa saja dicuekin.
Tuduhan Suap Reklamasi, RS Sumber Waras dan lain sebagainya kuat dugaan mengarah ke Ahok, tapi apa perdulinya? Selama belum terbukti bersalah oleh pengadilan maka tidak bisa seseorang kita anggap penjahat. Bisa saja Ahok memang menerima suap hingga dia bisa kaya raya seperti sekarang, hingga Teman Ahok bisa mengumpulkan duit milyaran dari yang katanya merupakan hasil jualan pernak pernik itu, hingga majalah Tempo edisi 20-26 Juni memasukkan tulisan soal “Duit Reklamasi Untuk Teman Teman Ahok”. Tapi ingat: selama janur kuning belum melengkung semua masih mungkin terjadi, selama palu pengadilan belum diketok maka Ahok belum bisa dinyatakan bersalah.
“Kenapa Ahok?” hanya sekedar dinamika lain dalam proses demokratisasi negeri ini. Proses pendewasaan dalam keanekragaman opini, yang mana absen dari negara ini selama 32 tahun dibawah rezim Orde Baru. Nikmatilah argumen mereka yang pro dan anti Ahok sebelum demokrasi ini musnah karena Hizbut Tahrir Indonesia & Ustadz Felix Siauw yang anti-demokrasi itu, karena percayalah, tulisan semacam ini pasti akan dibredel bila saya tinggal di negara non demokrasi seperti Arab Saudi atau Korea Utara. Wassalam.

No comments:

Post a Comment