![]() |
| Leopard 2A4 |
Beberapa saat yang lalu banyak terdengar diberbagai media bahwa TNI ingin membeli seratus tank Leopard 2A4 buatan Jerman yang cukup terkenal itu. Tapi apa daya, ternyata niatan TNI AD tersebut harus terganjal oleh Komisi I DPR. Alasan mengapa komisi 1 menolak pembelian Tank Leopard itu adalah karena "katanya" tidak cocok dengan kondisi infrastruktur transportasi Indonesia dan kondisi tanah Indonesia yang lumayan gembur. Kata mereka sih, analisis terhadap kelayakan Tank Leopard itu sudah dilakukan oleh para ahlinya, entah lebih ahli mana antara DPR/pengamat militer dengan TNI/pengamat militer yang direkrut angkatan bersenjata kita sendiri.
Nah yang jadi pertanyaan saya dan anda mungkin, bener ga sih kalau tank Leopard itu nggak cocok dipakai di Indonesia? Sebenarnya saya bukan analis atau pengamata militer ataupun orang yang akrab dengan tank. Saya hanya seorang yang tertarik dengan cerita-cerita sejarah perang, dan saya punya ketertarikan khusus dengan alat perang yang dalam bahasa Jermannya disebut Panzer ini. Ketertarikan saya, terutama sekali, adalah pada tank-tank utama Jerman semasa perang dunia II seperti Pz IV, Pz VI dan lain sebagainya.
Tank Leopard adalah salah satu tank "elit" benua Eropa, yang mungkin bisa disandingkan dengan Challenger dari Inggris dan T-90 dari Rusia. Varian pertama tank Leopard ini pertama kali digunakan tahun 1979 oleh AD Jerman dengan tujuan mengimbangi kemampuan tempur dari T-90 buatan Rusia. Segera saja setelah menunjukkan hasil memuaskan di beberapa teater pertempuran, Tank Leopard menjadi tank andalan NATO dan juga tank andalan di banyak negara di dunia. Kanada, Chili, Denmark, Turki, Swiss, Singapura dan banyak negara lainnya telah mengimport Tank Leopard ini dari berbagai varian dan terbukti cukup memuaskan konsumennya.
Leopard 2A4 mempunyai berat rata-rata 65 ton, termasuk dengan awak dan full armament. Kecepatan maksimumnya sekitar 72 km/jam (tidak diketahui kecepatan rata-rata cross country dan jalanan beraspalnya). Leopard memerlukan 4 orang kru untuk menjalankannya dalam pertempuran. Persenjataan utama Leopard 2A4 adalah 120 mm Rheinmetall L55 42 peluru (senjata standar MBT/Main Battle Tank) dan persenjataan keduanya adalah 2 x 7.62 mm MG3A1 4750 peluru.
Kita coba lihat alasan komisi I DPR mengapa mereka menolak Leopard 2A4, yaitu karena alasan berat. Memang sih bagi kita yang awam, 65 ton terdengar sangat berat, tapi ketahuilah bahwa itu adalah berat rata-rata MBT (Main Battle Tank) tersohor, kecuali untuk T-90 buatan Rusia yang hanya 50 ton (Buatan Jepang pun hanya 50 ton, tapi kurang terkenal di dunia per-Tank-an). Namun saya rasa alasan kontur tanah yang terlalu gembur untuk bobot 65 ton terdengar agak mengada-ada. Kita bandingkan dengan kereta diesel yang setiap harinya hilir mudik di seluruh pulau Jawa: Lokomotif CC200 buatan tahun 1953 bobot bersihnya (tanpa solar dan kru) adalah sekitar 93 ton. Sedangkan lokomotif yang lebih modern yaitu CC201 yang kini digunakan hampir semua kereta diesel di Indonesia berbobot 84 ton..nah apa pernah kita dengar ada kereta atau lokomotif yang ambles di Indonesia? (Perhitungkan juga bobot gerbong-gerbong barang/penumpang yang langsung mengikuti dibelakangnya)
Untuk kelas jalan sendiri, rata-rata jalan di Indonesia mempunyai kelas 3A yang artinya bobot maksimal yang bersumber dari sumbu lingkaran roda yang dapat diterima jalan adalah 8 ton. Anda tahu roda kan? kita ambil contoh roda truck peti kemas yang punya 18 ban yang masing-masing berdiameter 32 cm, yang artinya truk dengan bobot 30 ton (berat kotor) hanya ditampung oleh sumbu sepanjang 32 cm dan lebar +- 2cm x 18 (jumlah roda).... tapi apakah kita pernah dengar ada truk trailer yang ambles? (kecuali kalau ada longsor tentunya). Sekarang kita bandingkan dengan track (rantai-roda) tank Leopard. Track tank Leopard, tidak perlu repot-repot menghitung karena sudah ada datanya, yakni 830 kg/meter persegi dan masih berada dibawah batas sumbu jalan saat kita konversikan ke milimeter persegi (0,00083 kg/milimeter persegi). Ini menunjukkan bahwa jalanan di Indonesia masih layak untuk menampung berat tank Leopard 2A4, walaupun yah mungkin jalanannya akan retak/rusak (kita tahu sendiri kualitas aspal jalan negeri ini).
Kondisi alam (non-tanah) Indonesia pun sebagian lumayan cocok untuk Leopard. Catat bahwa Leopard adalah tank dengan jangkauan membunuh (killing range) jarak menengah. Di Eropa timur sana, dimana banyak padang rumput terbuka yang sangat luas, jika Leopard dihadapkan dengan T-90 maka Leopard akan kalah telak. Kenapa? karena pada jarak dimana Leopard belum mampu mengenai sasaran secara tepat dan melewati batas maksimum momentum peluru, T-90 sudah mampu mengenai sasaran secara tepat dengan momentum peluru maksimumnya (karena ukuran barrel T-90 yang lebih panjang). Perlu dicatat walaupun kalah dalam hal killing range, tapi armor (lapisan baja) Leopard lebih baik ketimbang T-90. Jadi jika dihadapkan masing-masing tank dalam jarak dekat dan mengadu tembakan, maka kemungkinan besar Leopard lah yang akan menang. Maka dari itu, dengan mempertimbangkan kondisi alam di Indonesia yang berbukit-bukit dan banyak terdapat pepohonan (yang tentunya menghalangi pandangan dan peluru), maka medium range killer seperti Leopard sangatlah cocok.
Nah, kira-kira itulah analisis abal saya mengenai kelayakan Leopard di Indonesia. Yang pasti, intinya adalah Indonesia sudah mutlak perlu memiliki MBT. Menciptakan MBT sendiri tentu bukan jawaban bagus karena kita samasekali belum pernah memiliki ataupun melakukan riset mengenai MBT (berbeda dengan pesawat tempur atau kapal perang yang berpotensi dapat kita ciptakan sendiri karena memang kita sudah banyak memilikinya) sehingga masih butuh waktu lama jika kita benar-benar murni menciptakan MBT tanpa mau membelinya. Paling tidak untuk keamanan nasional Indonesia 10-20 tahun mendatang, pembelian Leopard 2A4 cukup masuk akal.
![]() |
| T-90 Buatan Rusia |
Nah, kira-kira itulah analisis abal saya mengenai kelayakan Leopard di Indonesia. Yang pasti, intinya adalah Indonesia sudah mutlak perlu memiliki MBT. Menciptakan MBT sendiri tentu bukan jawaban bagus karena kita samasekali belum pernah memiliki ataupun melakukan riset mengenai MBT (berbeda dengan pesawat tempur atau kapal perang yang berpotensi dapat kita ciptakan sendiri karena memang kita sudah banyak memilikinya) sehingga masih butuh waktu lama jika kita benar-benar murni menciptakan MBT tanpa mau membelinya. Paling tidak untuk keamanan nasional Indonesia 10-20 tahun mendatang, pembelian Leopard 2A4 cukup masuk akal.


