Pernah kah anda sedang berdebat dengan orang yang ternyata orang yang menjadi lawan debat kita itu ngawur logikanya? Atau mungkin anda sendiri yang ragu apakah ethics berdebat anda sudah benar atau belum?. Untuk kita yang sudah berada di perguruan tinggi, hal tersebut sering mengganggu pikiran kita, terutama saat kita dituntut menulis suatu karya ilmiah atau terlibat dalam perdebatan ilmiah. Atau mungkin saja anda suka merasa risih dengan debat-debat kusir yang kerap kali ditayangkan oleh televisi tapi anda tidak tahu bagian mana yang membuat anda risih? Nah maka dari itu, saya akan menuliskan secara sederhana beberapa fallacy (kesesatan) yang sering terjadi dalam proses debat atau adu argumen. Yah mungkin saja bisa sedikit berguna untuk kita semua....
Pengertian Kesesatan (Falaccy)
Kesesatan (fallacy) adalah kesalahan dalam elemen yang mengacaukan logika berpikir sehingga mengakibatkan suatu diskusi atau perdebatan menjadi tidak objektif dan tidak sah secara keseluruhan. Kesesatan juga bisa dikatakan sebagai kesalahan yang terjadi dalam aktivitas berpikir karena penyalahgunaan bahasa (verbal) dan/atau relevansi (materi). Kesesatan (fallacia, fallacy) merupakan bagian dari logika yang mempelajari beberapa jenis kesesatan penalaran sebagai lawan dari argumentasi logis. Kesesatan karena ketidaktepatan bahasa antara lain disebabkan oleh pemilihan terminologi yang salah sedangkan ketidaktepatan relevansi bisa disebabkan oleh (1) pemilihan premis yang tidak tepat (membuat premis dari proposisi yang salah), atau (2) proses penyimpulan premis yang tidak tepat (premisnya tidak berhubungan dengan kesimpulan yang akan dicari).
Jenis-Jenis Kesesatan
Khusus dalam tulisan ini saya hanya akan membahas mengenai Kesesatan Relevansi, yang mana merupakan jenis kesesatan yang paling banyak (menurut pengalaman saya) terjadi dalam diskusi-diskusi, baik itu di kampus ataupun di televisi.
1. Argumentum ad Hominem abusif
Argumentum ad Hominem abusif adalah argumen diarahkan untuk menyerang manusianya secara langsung. Penerapan argumen ini dapat menggambarkan tindak pelecehan/penghinaan terhadap pribadi individu yang menyatakan sebuah argumen. Hal ini keliru karena ukuran logika dihubungkan dengan kondisi pribadi dan karakteristik personal seseorang yang sebenarnya tidak relevan untuk kebenaran atau kekeliruan dari isi argumennya. Argumen ini juga dapat menggambarkan aspek penilaian psikologis terhadap pribadi seseorang. Hal ini dapat terjadi karena perbedaan pandangan. Ukuran logika (pembenaran) pada argumentum ad hominem jenis ini adalah kondisi pribadi dan karakteristik personal yang melibatkan: gender, fisik, sifat, dan psikologi. Kalimat sederhananya kira-kira seperti ini: alih-alih menyerang argumennya, pelaku hominem abusif justru menyerang si orang yang mengeluarkan pernyataan Contoh dari Hominem abusif ini seperti pernyataan:
"Jangan kamu menasihati kami tentang filsafat, urus saja hidupmu yang kacau itu"
"Untuk apa saya percaya apa kata-katamu? Dasar kau orang Jawa pembohong"
"....Yang rapat-rapat itu kan Preman, ada mantan napi, bekas koruptor dan lain-lain"
2. Argumentum ad Hominem Sirkumstansial
ad Hominem tipe sirkumstansial ini menitikberatkan pada pada hubungan antara argumen yang dikeluarkan dengan kondisi riil orang yang mengeluarkan argumen. Perbedaan hominem abusif dengan hominem sirkumstansial adalah pada hominem abusif, pernyataan yang dikeluarkan murni hanya menghina hal-hal yang menempel (berafiliasi) pada si pembuat argumen dan tidak ada relevansinya dengan keadaan riil argumen yang bersangkutan. Sedangkan pada hominem sirkumstansial, pernyataan yang dikeluarkan juga menghina hal-hal yang menempel pada si pembuat argumen dengan pertimbangan relevansi antara kondisi riil dengan argumennya. Agak rumit ya penjelasannya? Coba perhatikan contoh pernyataan hominem sirkumstansial terhadap suatu argumen:
"Kita tidak perlu mendengarkan kuliah dosen bergama Kristen ini tentang sejarah masuknya Islam di Indonesia"
"Pembelaan si A tentang polisi cabul tidak dapat dipercaya!" : Asumsi bahwa A dan si polisi Cabul adalah sama-sama polisi.
Kedua contoh diatas menunjukkan bahwa ada penyangkalan argumen karena status yang dimiliki oleh kedua orang tersebut: contoh 1: seorang guru Kristen yang mengajari tentang sejarah Islam, dan contoh 2: seorang polisi yang membela seseorang yang kebetulan 1 profesi.
3. Argumentum ad Hominem Tu quoque
Hominem ini adalah hominem yang mungkin saja paling banyak kita alami walaupun tidak diucapkan secara eksplisit (hanya dirasakan saja). Hominem tu quoque artinya, secara harfiah, adalah "Kamu juga". Hominem Tu quoque adalah hominem yang menyerang individu yang mengatakan suatu hal tapi perilaku/kejadian yang dilakukan oleh orang yang bersangkutan berlawanan dengan apa yang dikatakannya. Contoh:
Polisi berkata: "Dilarang parkir disini, siapapun yang parkir disini akan saya tilang!" lalu ada si A yang melancarkan hominem tu quoque: "ah bapak sendiri juga parkir disini!"
4. Argumentum ad feminam
ad Feminam, seperti yang telah tampak dari katanya, adalah kesesatan yang benar-benar sudah jauh melenceng dari konteks, yaitu menyerang jenis kelamin orang yang mengeluarkan argumen (wanita). Kritik ini bersifat irrelevant dan seksis.
Contoh: "Wanita itu tahu apa tentang peperangan? Paling wanita itu cuma tahu urusan dapur saja"
5. Argumentum ad baculum
Adalah kesesatan yang bersifat memaksa dan/atau mengancam dengan tujuan agar menerima suatu kesimpulan atau argumen tertentu. Jenis kesesatan ini, sepengelihatan saya, jarang terjadi dalam suatu diskusi baik itu formal, semi-formal ataupun informal. Sepengetahuan saya argumen tipe ini sering dipakai dalam lobi-lobi politik, baik itu dalam negeri ataupun diplomasi antar bangsa.
Contoh: "Kalau kamu tidak mau mendaftar wajib militer, nanti kamu akan dipenjara!"
6. Argumentum ad populum
"Presiden X dipilih oleh 60% warganya, sudah jelas dia pasti orang yang hebat"
7. Argumentum ad auctoritatis
Adalah kesesatan yang dimana nilai penalaran ditentukan oleh keahlian atau kewibawaan orang yang mengemukakannya. Sederhananya, suatu gagasan/argumen dapat diterima hanya karena gagasan/argumen tersebut dikemukakan oleh seseorang yang sudah terkenal/populer. Sikap semacam ini mengandaikan bahwa kebenaran bukan sesuatu yang berdiri sendiri (otonom), dan bukan berdasarkan penalaran sebagaimana mestinya, melainkan tergantung dari siapa yang mengatakannya (kewibawaan seseorang).
Contoh: "Pak SBY bilang bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diatas 6%, jadi kesimpulannya pertumbuhan ekonomi kita cukup baik"
"Saya yakin dengan ucapan Pak M.D karena beliau adalah orang cerdas yang jujur".
Itulah tadi beberapa kesesatan (fallacy) yang kerap terjadi, baik itu dalam diskusi tatap muka ataupun dalam bentuk tulisan (termasuk karya ilmiah). Kesesatan-kesesatan itu sudah selayaknya harus dihindari dalam proses dialektika, sehingga dapat mengahasilkan output yang berkualitas (kecuali jika kita berdebat hanya untuk kemenangan atau debat kusir).
Mungkin dari kalian ada yang bisa menambahkan kesesatan-kesesatan lain sering dialami?
Pengertian Kesesatan (Falaccy)
Kesesatan (fallacy) adalah kesalahan dalam elemen yang mengacaukan logika berpikir sehingga mengakibatkan suatu diskusi atau perdebatan menjadi tidak objektif dan tidak sah secara keseluruhan. Kesesatan juga bisa dikatakan sebagai kesalahan yang terjadi dalam aktivitas berpikir karena penyalahgunaan bahasa (verbal) dan/atau relevansi (materi). Kesesatan (fallacia, fallacy) merupakan bagian dari logika yang mempelajari beberapa jenis kesesatan penalaran sebagai lawan dari argumentasi logis. Kesesatan karena ketidaktepatan bahasa antara lain disebabkan oleh pemilihan terminologi yang salah sedangkan ketidaktepatan relevansi bisa disebabkan oleh (1) pemilihan premis yang tidak tepat (membuat premis dari proposisi yang salah), atau (2) proses penyimpulan premis yang tidak tepat (premisnya tidak berhubungan dengan kesimpulan yang akan dicari).
Jenis-Jenis Kesesatan
Khusus dalam tulisan ini saya hanya akan membahas mengenai Kesesatan Relevansi, yang mana merupakan jenis kesesatan yang paling banyak (menurut pengalaman saya) terjadi dalam diskusi-diskusi, baik itu di kampus ataupun di televisi.
1. Argumentum ad Hominem abusif
Argumentum ad Hominem abusif adalah argumen diarahkan untuk menyerang manusianya secara langsung. Penerapan argumen ini dapat menggambarkan tindak pelecehan/penghinaan terhadap pribadi individu yang menyatakan sebuah argumen. Hal ini keliru karena ukuran logika dihubungkan dengan kondisi pribadi dan karakteristik personal seseorang yang sebenarnya tidak relevan untuk kebenaran atau kekeliruan dari isi argumennya. Argumen ini juga dapat menggambarkan aspek penilaian psikologis terhadap pribadi seseorang. Hal ini dapat terjadi karena perbedaan pandangan. Ukuran logika (pembenaran) pada argumentum ad hominem jenis ini adalah kondisi pribadi dan karakteristik personal yang melibatkan: gender, fisik, sifat, dan psikologi. Kalimat sederhananya kira-kira seperti ini: alih-alih menyerang argumennya, pelaku hominem abusif justru menyerang si orang yang mengeluarkan pernyataan Contoh dari Hominem abusif ini seperti pernyataan:
"Jangan kamu menasihati kami tentang filsafat, urus saja hidupmu yang kacau itu"
"Untuk apa saya percaya apa kata-katamu? Dasar kau orang Jawa pembohong"
"....Yang rapat-rapat itu kan Preman, ada mantan napi, bekas koruptor dan lain-lain"
2. Argumentum ad Hominem Sirkumstansial
ad Hominem tipe sirkumstansial ini menitikberatkan pada pada hubungan antara argumen yang dikeluarkan dengan kondisi riil orang yang mengeluarkan argumen. Perbedaan hominem abusif dengan hominem sirkumstansial adalah pada hominem abusif, pernyataan yang dikeluarkan murni hanya menghina hal-hal yang menempel (berafiliasi) pada si pembuat argumen dan tidak ada relevansinya dengan keadaan riil argumen yang bersangkutan. Sedangkan pada hominem sirkumstansial, pernyataan yang dikeluarkan juga menghina hal-hal yang menempel pada si pembuat argumen dengan pertimbangan relevansi antara kondisi riil dengan argumennya. Agak rumit ya penjelasannya? Coba perhatikan contoh pernyataan hominem sirkumstansial terhadap suatu argumen:
"Kita tidak perlu mendengarkan kuliah dosen bergama Kristen ini tentang sejarah masuknya Islam di Indonesia"
"Pembelaan si A tentang polisi cabul tidak dapat dipercaya!" : Asumsi bahwa A dan si polisi Cabul adalah sama-sama polisi.
Kedua contoh diatas menunjukkan bahwa ada penyangkalan argumen karena status yang dimiliki oleh kedua orang tersebut: contoh 1: seorang guru Kristen yang mengajari tentang sejarah Islam, dan contoh 2: seorang polisi yang membela seseorang yang kebetulan 1 profesi.
3. Argumentum ad Hominem Tu quoque
Hominem ini adalah hominem yang mungkin saja paling banyak kita alami walaupun tidak diucapkan secara eksplisit (hanya dirasakan saja). Hominem tu quoque artinya, secara harfiah, adalah "Kamu juga". Hominem Tu quoque adalah hominem yang menyerang individu yang mengatakan suatu hal tapi perilaku/kejadian yang dilakukan oleh orang yang bersangkutan berlawanan dengan apa yang dikatakannya. Contoh:
Polisi berkata: "Dilarang parkir disini, siapapun yang parkir disini akan saya tilang!" lalu ada si A yang melancarkan hominem tu quoque: "ah bapak sendiri juga parkir disini!"
4. Argumentum ad feminam
ad Feminam, seperti yang telah tampak dari katanya, adalah kesesatan yang benar-benar sudah jauh melenceng dari konteks, yaitu menyerang jenis kelamin orang yang mengeluarkan argumen (wanita). Kritik ini bersifat irrelevant dan seksis.
Contoh: "Wanita itu tahu apa tentang peperangan? Paling wanita itu cuma tahu urusan dapur saja"
5. Argumentum ad baculum
Adalah kesesatan yang bersifat memaksa dan/atau mengancam dengan tujuan agar menerima suatu kesimpulan atau argumen tertentu. Jenis kesesatan ini, sepengelihatan saya, jarang terjadi dalam suatu diskusi baik itu formal, semi-formal ataupun informal. Sepengetahuan saya argumen tipe ini sering dipakai dalam lobi-lobi politik, baik itu dalam negeri ataupun diplomasi antar bangsa.
Contoh: "Kalau kamu tidak mau mendaftar wajib militer, nanti kamu akan dipenjara!"
6. Argumentum ad populum
Adalah kesesatan yang dianggap benar hanya karena disetujui/ dipraktekkan/ digunakan/ diimplementasikan oleh banyak orang. Argumen ini berprinsip pada vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan) yang menekankan pada kuantitas alih-alih kualitas. Biasanya argumen ini banyak digunakan oleh iklan-iklan di televisi dalam mempromosikan produknya.
Contoh: "Di Indonesia jutaan orang menggunakan Obat Nyamuk ini, pastilah Obat Nyamuk ini bagus kualitasnya""Presiden X dipilih oleh 60% warganya, sudah jelas dia pasti orang yang hebat"
7. Argumentum ad auctoritatis
Adalah kesesatan yang dimana nilai penalaran ditentukan oleh keahlian atau kewibawaan orang yang mengemukakannya. Sederhananya, suatu gagasan/argumen dapat diterima hanya karena gagasan/argumen tersebut dikemukakan oleh seseorang yang sudah terkenal/populer. Sikap semacam ini mengandaikan bahwa kebenaran bukan sesuatu yang berdiri sendiri (otonom), dan bukan berdasarkan penalaran sebagaimana mestinya, melainkan tergantung dari siapa yang mengatakannya (kewibawaan seseorang).
Contoh: "Pak SBY bilang bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diatas 6%, jadi kesimpulannya pertumbuhan ekonomi kita cukup baik"
"Saya yakin dengan ucapan Pak M.D karena beliau adalah orang cerdas yang jujur".
Itulah tadi beberapa kesesatan (fallacy) yang kerap terjadi, baik itu dalam diskusi tatap muka ataupun dalam bentuk tulisan (termasuk karya ilmiah). Kesesatan-kesesatan itu sudah selayaknya harus dihindari dalam proses dialektika, sehingga dapat mengahasilkan output yang berkualitas (kecuali jika kita berdebat hanya untuk kemenangan atau debat kusir).
Mungkin dari kalian ada yang bisa menambahkan kesesatan-kesesatan lain sering dialami?

No comments:
Post a Comment