Perang: Sebuah Anti-tesis Kapitalisme

Kapitalisme, atau sebuah sistem ekonomi yang berbasiskan pada permintaan pasar sering dianggap sebuah sistem ekonomi "Dewa" bagi banyak orang. Kapitalisme itu flawless, tanpa cela, dia selalu konstan dengan pola-pola yang bersifat repetitif. Tapi setelah saya perhatikan dalam special occasion, kapitalisme, terutama bila sudah terasuki oleh kebohongan dan pengawasan pemerintah yang buruk, maka kapitalisme menjadi bumerang bagi negara yang menganutnya.

Yang saya maksud dengan special occasion tersebut diatas adalah dalam kondisi perang. Dengan berlandaskan pada studi psikologi ekonomi, rakyat suatu negara yang terlibat dalam perang cenderung akan melakukan penimbunan barang secara besar-besaran (karena asumsi bahwa barang-barang akan sulit didapat dikemudian hari). Penimbunan barang ini, yang tentu saja dengan jenis yang bervariatif dan jumlah total yang masif, akan merusak kestabilan permintaan pasar. Barang-barang habis diborong (permintaan besar) tapi quota produksi sangat terbatas. Yang terjadi adalah kelangkaan barang dengan permintaan yang besar yang berakibat pada naiknya harga barang (sesuai prinsip ekonomi). Naiknya harga barang, normalnya, akan ditutup oleh pemerintah dengan mengedarkan jumlah uang lebih banyak, yang disatu sisi dapat menghasilkan inflasi.

Dari kalimat diatas dapat kita lihat bahwa kapitalisme terbukti kurang sukses dalam kondisi perang. Pada perang dunia II, negara-negara Eropa yang menganut kapitalisme kolaps dengan mudahnya ketika perang terjadi. Salah satu negara yang masih bertahan, yaitu Inggris, dapat bertahan hanya karena bantuan logistik dari AS hingga ribuan ton setiap harinya. Sedangkan negara-negara kapitalis lain seperti Prancis, Belanda, Polandia, Denmark dll jatuh seketika saat perang terjadi. Sebaliknya, negara-negara non kapitalis seperti Jerman (Fasis) dan Uni Soviet (Komunis) bertahan lebih lama ketimbang negara-negara kapitalis.

Amerika Serikat tidak menjadi bahan pertimbangan saya mengenai negara kapitalis yang kolaps saat PD II karena, pertama: Amerika baru terlibat dalam perang dunia pada tahun 1942, saat diserang oleh kekaisaran Jepang ( di Eropa mulai sejak tahun 1939), kedua: Jarak antara AS dengan theatre of war di Asia dan Eropa relatif cukup jauh, sehingga dampak psikologis peperangan tidak begitu terasa di tanah Amerika. Selain itu, dengan jarak yang cukup jauh, AS aman dari serangan-serangan Jerman dan Jepang. Walaupun Jepang berhasil menghancurkan Pearl harbour, tapi serang itu lebih bersifat provokatif alih alih bertujuan untuk menguasai. Selain itu, AS sendiri sukses mengembalikan kondisi ekonominya pasca-perang melalui program Marshall Plan.

Maka pertanyaan yang mencuat adalah: mengapa sistem ekonomi non-kapitalis lebih sukses dalam kondisi perang? Jawabannya terletak pada otoritas pemerintah yang mempunyai kekuatan besar untuk mengatur pasar. Harga, quota produksi, jumlah permintaan dan stock barang semuanya dikendalikan oleh pemerintah sehingga ekses dari kepanikan rakyat atas perang dapat diminimalisir sebanyak mungkin. Faktor psikologi ekonomi mungkin tetap terjadi pada level masyarakat, tapi dengan otoritas yang kuat, pemerintah cukup punya power untuk mengendalikan pasar sehingga tidak terjadi penimbunan, over pricing atau bahkan over production.

Itulah sedikit opini saya mengapa dalam kondisi perang, sistem ekonomi non-kapitalis cenderung lebih kuat ketimbang negara yang menganut sistem kapitalis. Perlu dicatat bahwa kapitalisme bukanlah sebuah "tesis" yang sempurna, dia masih mempunyai kelemahan dalam keadaan-keadaan tertentu. Meskipun demikian, saya bukanlah orang ekonomi, sehingga mungkin opini saya dalam tulisan ini masih kurang tepat, harap dimaafkan.

No comments:

Post a Comment