Have You Ever Been In Love.....

Have you ever been in love for someone you love so much but you know she isn't and will never belong to you?

Kau Pikir Dirimu Jatuh Cinta?

Siapa sih dari kita yang belum pernah jatuh cinta? Bahkan anak berumur dibawah 10 tahun saja kini sudah mengerti perkataan cinta. Kata Titik Puspa dalam lagunya, jatuh cinta itu berjuta rasanya: ada senang, ada sedih, ada bahagia, ada rindu...pokoknya Nano-nano rasanya! Namun yakinkah kita bahwa jatuh cinta memang benar-benar sebuah "cinta" yang selama ini tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan? Disini penulis ingin bahas sedikit tentang fakta gelap jatuh cinta yang pernah tertulis dalam berbagai artikel ilmiah mulai dari psikologi, biologi, hingga kimia. So, prepare yourself for the shock!

Manusia, layaknya makhluk hidup lain, mempunyai insting untuk mempertahankan keturunan. Sebagian besar manusia tidak perduli dimanapun dia berada selalu menginginkan seorang anak. Hal ini adalah wajar karena memang insting kita sebagai Homo sapiens adalah berkembang biak dan mempertahankan spesies kita (Homo sapiens). Namun bagaimanapun, kita sedikit berbeda dengan hewan atau tumbuhan yang jika memang sudah saatnya menghasilkan keturunan ya lakukan saja (berkopulasi) tanpa tedeng aling-aling. Manusia sebagai makhluk yang super cerdas membuat proses menghasilkan keturunan ini menjadi lebih rumit.


Langkah 1: Rasa Ketertarikan
Seperti hewan, faktor utama yang membuat kita tertarik dengan lawan jenis adalah pengelihatan. Untuk pria, jika kita melihat perempuan dengan paras cantik maka kita akan langsung tertarik. Begitupun dengan wanita yang melihat pria tampan juga akan tertarik. Sebenarnya prinsip kerja melalui pengelihatan ini juga dilakukan oleh binatang: Seekor burung Merak hanya akan tertarik dengan buruk merak lain yang mempunyai bulu terindah. Seekor Harimau hanya memilih Harimau lain yang punya tubuh sehat dan terlihat bugar.

Pertanyaannya adalah: Mengapa?

Sesuai dengan teori survival of the fittest Charles Darwin, dimana hanya mereka yang terbaik yang layak untuk meneruskan keturunan, maka ketertarikan manusia dengan manusia lain yang mempunyai penampilan terbaik adalah wajar. Hal ini kita lakukan demi menghasilkan keturunan (anak) yang mempunyai daya saing tinggi sehingga kemungkinan untuk bertahan dalam persaingan hidup (seleksi alam) cukup tinggi.

Yang membuat kita berbeda dengan hewan adalah kita menempatkan instrumen-instrumen tambahan lain seperti kecerdasan, kekayaan, karakteristik individu, kemapanan, ras, suku dll sebagai kondisi ideal manusia yang layak untuk mendapatkan rasa tertarik kita. Karakter fisik bukan penentu segalanya bagi kita dalam menetapkan rasa tertarik kepada individu lain seperti layaknya hewan. Manusia hidup di bumi tidak mengandalkan kemampuan fisik semata tapi juga kecerdasan, skill, kekayaan dan lain-lain, dimana hal itu secara tidak langsung telah mengkonsepsikan standar kualifikasi manusia "unggul" yang berbeda dengan dunia hewan.

Langkah 2: Pendekatan
Setelah kita tertarik dengan seseorang, maka langkah selanjutnya adalah pendekatan. Di dunia hewan, pendekatan ini dilakukan oleh pejantan kepada para betina. Di dunia manusia, kurang lebih juga terjadi hal yang sama walaupun dalam budaya kontemporer telah sering terjadi pembiasan terhadap perilaku ini (wanita yang mendekati pria). Di dunia hewan, pendekatan yang dilakukan adalah, sekali lagi, melalui peragaan fisik semata: Seekor Bison jantan "pamer" kekuatan dengan para betina dengan cara beradu kekuatan dengan pejantan lain. Seekor burung Cendrawasih jantan menari-menari dan menunjukkan keindahan bulunya saat musim kawin kepada para betina.

Di dunia manusia, pendekatan tidak melulu menggunakan peragaan fisikal. Karena seperti yang telah dijelaskan tadi bahwa standar ketertarikan manusia juga termasuk kecerdasan, kekayaan dll, maka dalam pendekatan ini Pria juga bisa memaksimalkan semua potensi kecerdasaan, kekayaan dan lain-lain yang dia miliki untuk menarik wanita. Misalnya seorang pria yang tertarik dengan seorang wanita maka pria itu akan membuat si wanita terkesan dengan cara mengajaknya kencan, bersikap menarik, memakai mobil bagus, menggunakan pakaian yang bagus dan lain sebagainya.

Langkah 3: Menghasilkan Keturunan
Bila proses pendekatan ini sudah berjalan dan berhasil alias kedua pihak sama-sama saling tertarik, maka proses selanjutnya adalah menghasilkan keturunan. Dalam dunia hewan, "penebaran" benih sperma kedalam ovum betina bisa dilakukan dimanapun, mulai dari pinggir jalan sampai di tengah lapangan tergantung habitatnya. Hewan juga melakukan proses penebaran benih sperma (baca: kopulasi) ini tanpa ikatan tertentu diantara mereka: selesai berkopulasi maka selesai sudah semuanya tak ada ikatan tersisa (walaupun beberapa binatang merupakan monogami yang hanya punya 1 pasangan seumur hidup, namun mereka melakukan itu murni karena insting).

Manusia sebagai makhluk berbudaya, yang dimana mayoritas budaya mengatur bahwa aktivitas sexual hanya dapat dilakukan secara legal dengan ikatan pernikahan. Pernikahan adalah sebuah aktivitas evolusioner yang hanya dilakukan manusia dalam rangka legalisasi hubungan intim. Walaupun diskursus pernikahan ini telah mengalam reduksi urgensitas dengan banyaknya hubungan sex yang dilakukan tanpa landasan pernikahan, namun tetap saja pernikahan adalah solusi dominan dalam pembentukan keturunan manusia di bumi.

Itu adalah langkah-langkah yang bikin kita "merasa" sedang jatuh cinta yang sebenarnya adalah permainan otak kita saja untuk mendapatkan keturunan.

Ada lagi pertanyaan mengapa kita bisa deg-degan saat ketemu orang yang kita suka, terus kenapa bisa merasa kangen, tenang dan lain sebagainya yang katanya tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Well, sebenarnya itu hanya permainan hormon saja, dimana hormon ini mempengaruhi psikologi kita juga dalam rangka menghasilkan keturunan (baca: anak). Berikut adalah 6 hormon yang mungkin selama ini kita pikir sebagai "cinta"....

1. Dopamin
Punya efek yang sama seperti kokain: menimbulkan rasa ketagihan. Dengan hormon inilah kenapa kau dan pacar/kekasihmu merasa "ketagihan" untuk selalu ingin bertemu setiap saat.

2. Fenylethylamin.
Membuat efek deg-degan, keringat dingin & merasa senang. Persis waktu zaman kita SMA (atau sampai sekarang? bertemu gebetan atau orang yang kita suka.

3. Adrenalin.
Hampir mirip dengan Fenylethylamin plus rasa lapar yang berkurang.

4. Endorfin.
Menciptakan rasa senang/bahagia. Inilah hormon yang bikin kenapa kita merasa senang saat jatuh cinta

5. Vasopressin.
Menciptakan rasa setia (itulah mengapa manusia cenderung monogami) dan mencegah ejakulasi dini (pria)

6. Oxitosin.
Terkenal dengan nama hormon cinta: menciptakan rasa terikat dengan orang yang kita kasihi.

Gabungan dari 6 hormon inilah yang membuat kita manusia bisa merasa "Jatuh Cinta" yang pada akhirnya, dalam konteks insting dasar manusia, bertujuan untuk menghasilkan keturunan.

Jadi, selamat jatuh cinta! Semoga sukses menghasilkan keturunan!

BLSM "Balsem" Yang Tidak Manjur

Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mengalami perubahan proporsi subsidi dari Rp. 4500/ltr menjadi Rp. 6.500/ltr (Premium) mengundang pro-kontra. Saya sendiri menyetujui pengurangan subsidi ini karena memang tidak efektif, memanjakan rakyat Indonesia yang sudah terkenal malas ini dan membebani APBN. Namun ada hal yang saya kurang suka dari dampak kenaikan harga BBM bersubsidi ini, yaitu pemberian BLSM (banyak orang menyebutnya dengan "Balsem") kepada mereka yang dianggap pemerintah sebagai orang tidak mampu.

Saya tahu pemerintah membagikan Balsem ini adalah untuk meringankan beban rakyat miskin. Namun apakah caranya benar? Bagi saya Balsem ini hanya omong kosong pemerintah rezim SBY dengan alibi membantu orang miskin namun justru menghamburkan uang negara.

Kenapa saya bilang "menghamburkan"?

Pertama, Balsem tidak menyelesaikan masalah kemiskinan. Kemiskinan di Indonesia lahir karena: 1). tidak memiliki pekerjaan/mata pencaharian dan 2). tidak memiliki skill/kemampuan/daya saing.

Ketiadaan pekerjaan bisa ditanggulangi dengan penyediaan lapangan kerja. Istilah "penyediaan lapangan kerja" tidak harus orang miskin itu berstatus pegawai/buruh perusahaan, namun bisa juga mencakup wiraswasta. Dan salah satu syarat sebuah negara menjadi sebuah negara yang kuat secara ekonomi adalah setidaknya 10% rakyatnya adalah pengusaha (berstatus wiraswasta) seperti di AS, Inggris, China dan lain-lain. Di Indonesia sendiri jumlah pengusaha dibawah 1% yang tentu masih jauh sekali dari syarat sebuah negara dengan ekonomi kuat.

Kita juga tahu betapa sering pemerintah Indonesia berwacana menjalankan program-program untuk menambah jumlah pengusaha. Namun wacana hanyalah wacana: Suku bunga kredit perbankan yang setinggi langit (bahkan rencananya bulan depan BI Rate akan naik lagi) dan syarat yang njelimet, serta izin usaha yang luar biasa rumit (antar departemen bahkan kadang harus sampai tingkat kementrian), berbelit-belit dan butuh uang izin (atau uang pelicin?) yang banyak adalah hal-hal yang menghalangi pertumbuhan jumlah pengusaha Indonesia. Gampangnya sih, negara ini samasekali tidak bersahabat bagi pengusaha, itu saja.

Pendidikan juga sejauh ini juga merupakan hal yang mungkin dianggap tidak penting bagi pemimpin bangsa ini. Padahal semua orang tahu bahwa pendidikan menentukan tingkat kemampuan (skill) seseorang serta juga meningkatkan daya saing. Carut marut fasilitas pendidikan mulai dari Sabang sampai Merauke sudah berpuluh-puluh tahun tidak dapat diselesaikan. Tidak perlu melihat jauh ke pelosok luar jawa, di Tangerang - Bekasi yang berjarak hanya beberapa kilometer dari ibu kota negara saja masih banyak sekolah yang rubuh atau mempunyai ruang kelas yang tidak layak (baca: bobrok).

Masalah tidak hanya di fasilitas fisik saja, metode pendidikan kita yang "memesinkan manusia" juga merupakan masalah yang lebih parah. Kompetensi guru yang kesannya abal-abal, kurikulum yang bergonta-ganti namun tidak ada kejelasan hingga metode penilaian kemampuan murid yang murni berdasarkan angka dan beberapa pelajaran yang telah ditentukan dari pusat membuat peserta didik makin merana. Sering saya merasa kasihan dengan anak-anak sekolah yang saya bilang mirip dengan "budak" tanpa bisa mengekspresikan kecerdasan atau kemampuan mereka yang sesungguh dan justru dipaksa melakukan sesuatu yang diluar kemampuannya.

Saya tidak paham nalar pemerintah kita menghambur-hamburkan uang sekian triliun untuk Balsem yang tidak ada dampaknya ini. Triliunan uang "dibuang" begitu saja padahal kebutuhan negara masih banyak mulai dari fasilitas pendidikan, kesehatan, perumahan, pangan dan lain sebagainya. Mereka di pemerintahan adalah orang-orang tercerdas di negeri ini (mungkin) tapi mengapa mereka melakukan tindakan sebodoh ini?

Tidak ada efek positif Balsem, sebut saja jika ada: Membantu orang miskin? Membantu meringankan kemiskinan mereka selama 4 bulan lalu apa? kembali miskin lagi? Bukankah lebih baik jika orang miskin diberi akses kepada sumber mata pencaharian?

Balsem juga tidak bisa mencegah inflasi.

Balsem tidak pula mampu meningkatkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Indonesia.

Sebut saja apa efek positif Balsem jika memang ada!

Balsem ini adalah solusi seporadis, tidak teratur, tidak punya efek ekonomi makro. Tidak masuk akalnya kebijakan Balsem ini tentu saja mengundang kecurigaan banyak pihak, termasuk saya: "Masa sih pemerintah membuat kebijakan segoblok ini? pasti ada sesuatu yang tersembunyi". Prasangka dan tuduhan pun tak bisa terhindarkan: Menyuap rakyat untuk pemilu 2014.

Namun sudahlah, tampaknya pemerintah kita tidak terlalu perduli dengan solusi jangka panjang. Yang penting orang miskin diam selama 4 bulan karena dijejali dengan uang Rp.300.000/bulan yang setelah 4 bulan mau matipun pemerintah tak akan perduli.

Sesuai namanya, BLSM "Balsem" ini hanyalah sebuah Balsem yang tidak bisa mengobati penyakit (kemiskinan) tapi hanya meringankan sementara.

Tinjauan Kritis Terhadap Pandangan Politik Felix Siauw

Saya sangat menghormati Felix Siauw sebagai Da'i dan sebagai saudara muslim yang wajib saling mencintai. Tapi sebagai seorang yang mempunyai latar belakang ilmu dalam bidang politik, saya melihat Felix Siauw, dengan segala hormat, telah menjerumuskan umat awam kedalam lubang kefakiran ilmu politik. Dengan sadar saya memahami posisi beliau yang tidak punya latar belakang studi politik dan mungkin juga dia kurang membaca atau memahami bahwa politik bukan sekedar kira-kira, asumsi apalagi khayalan tapi merupakan sebuah ilmu yang mempunyai pola angka, historik, metodologi dan lain-lain. Maka dari itu tulisan ini bertujuan untuk membuka wawasan saudara Felix Siauw yang saya hormati, mudah-mudahan beliau bisa membaca postingan ini dan bisa bermanfaat kedepannya baik bagi saudara Felix Siauw sendiri ataupun bagi Umat.

Pertama perlu diketahui bahwa saya membahas ini MURNI dari spektrum keilmuan, ilmu politik tepatnya. Saya hanya menganalisa dan meninjau dari sudut pandang ilmu pengatahuan sosial dan politik, tidak ada sangkutpautnya dengan agama dalam konteks eskatologis apalagi menggunakan referensi biblikal (kitab suci).

1. #AntiDemokrasi
Fakta bahwa saudara Felix Siauw (selanjutnya saya singkat dengan inisial FS) pernah menampilkan kultwit yang bertopik #antidemokrasi , maka saya disini mengkritisi mengenai konsep demokrasi apa yang dia maksud. Jujur saya sudah berusaha mendalami maksud beliau dengan "Anti Demokrasi", tapi yang saya dapatkan hanya konsep demokrasi yang menurut saya sebagai non-awam, terlalu di-simplifikasi-kan, cenderung meremehkan mekanisme rumit dalam kehidupan manusia yang serba kompleks dan interdependen.

Demokrasi adalah sebuah "term" atau pengertian yang sangat amat luas. Demokrasi tidak melulu pemilu langsung: datang ke TPS, ambil kertas, coblos foto Capres/Caleg dan siapa Capres/Caleg yang dapat suara terbanyak adalah sang juara. Tidak! Demokrasi lebih luas dari itu. Apakah anda tahu bahwa Fasisme Nazi Jerman, Komunisme Uni Soviet dan Monarki Absolut Arab Saudi masuk ke dalam sistem pemerintahan Demokrasi?

Fasisme NAZI Jerman masuk ke dalam demokrasi karena Jerman kala itu punya perangkat negara/institusi yang "mewakili" suara rakyat Jerman, yaitu partai politik NAZI. Partai NAZI mempunyai perwakilan di tiap distrik (sama seperti Provinsi) hingga tingkatan Kotamadya atau bahkan dibawahnya. Dari hal tersebut itu saja maka NAZI sudah bisa dimasukkan kedalam demokrasi karena mereka memiliki perangkat/alat yang dapat dipergunakan rakyat untuk turut andil dalam jalannya pemerintahan Jerman kala itu. Terlepas dari bagaimana realita dilapangan, dimana alih-alih Partai dapat mengatur negara dan justru Hitler yang mengatur semua sektor bernegara, secara de jure tetap saja Fasisme NAZI masuk dalam demokrasi.

Uni Soviet kurang lebih sama seperti Fasisme NAZI. Dengan partai komunis yang berlaku sebagai partai tunggal dan mempunyai representasi rakyat hingga tingkatan pemerintahan terkecil, telah memenuhi syarat untuk masuk dalam kategori. Terlepas bagaimana implementasinya (de facto), yang pasti komunisme juga masuk ke dalam demokrasi: Ada parlemen tinggi (MPR), ada presiden dan ada perwakilan daerah (DPRD).

Untuk monarki Absolut seperti Arab Saudi, demokrasi nyaris tidak terlihat. Tapi saat dilihat lebih mendalam ternyata unsur demokrasi juga terdapat di Arab Saudi. Ulama-ulama Arab secara unik telah menggantikan posisi Parpol dalam demokrasi kontemporer sebagai perwakilan suara rakyat. Walaupun tidak diatur dalam undang-undang Arab Saudi, namun realitanya Ulama Arab Saudi telah berperan cukup banyak dalam perubahan-perubahan modern di negeri Arab seperti memperbolehkan wanita menyetir mobil, penggunaan fasilitas Socmed dll.

Dari ketiga contoh diatas kita bersama lihat bahwa inti Demokrasi bukan terletak pada mekanismenya (pemilu, parlemen, jumlah parpol, wewenang legislatif, ekesekutif & Yudikatif dll) tapi terletak pada filosofi substruktur bagaimana demokrasi itu muncul: kontrol rakyat terhadap keberlangsungan proses bernegara. Masalah mekanisme itu baru muncul kemudian, apakah itu fasis, komunis, despotis, republik, liberal, demokrasi parlementer, demokrasi presidensial, republik islam, republik rakyat, republik federal, monariki konstitusional, persemakmuran dan lain sebagainya, adalah perkembangan dari demokrasi itu sendiri. (Secara sederhana saya jelaskan seperti itu untuk menghemat waktu dan tulisan. Untuk penjelasan lebih detail mengenai filosofi demokrasi silahkan baca buku Filsafat Ilmu Politik)

FS, dari tulisan-tulisan beliau yang saya simak, seakan-akan menyamaratakan bahwa demokrasi selalu dan pasti pemilu, bebas bicara dan berbuat, rakyat yang seenaknya, ada DPR/MPR dll. Saya tidak tahu darimana FS dapat pengetahuan bahwa Demokrasi selalu identik dengan hal tersebut, namun yang pasti saya bisa katakan bahwa hal itu salah besar. FS sepertinya kurang paham mengenai demokrasi, atau bahkan ilmu politik itu sendiri. Katakanlah FS memang anti-demokrasi, lantas sistem pemerintahan apa yang dia maksud? Saya belajar selama 6 tahun mengenai politik dan saya tak bisa (mungkin karena memang saya dulu mahasiswa bodoh) membayangkan sebuah negara modern, dengan jumlah penduduk 230 juta jiwa, membuat suatu sistem politik yang benar-benar terlepas dari demokrasi.

2. Khilafah
Hal yang lebih membuat saya terbengong-bengong adalah setelah membaca cerita saudara Felix Siauw tentang anti-demokrasi, saya membaca mengenai ide khilafah. Ide khilafah saudara FS adalah menciptakan United Governance atas nama Islam seperti era kekhalifahan. Baik, memang terdengar luar biasa dan bertujuan mulia. Namun yang jadi masalah luar biasa bagi saya adalah inkonsistensi saudara FS dalam penjelasan Khilafah dan demokrasi.

Khilafah, sesuai dengan namanya, adalah sistem politik yang dipraktekan pada era sahabat-sahabat Rasul pasca meninggalnya Rasul. Sistem khilafah ini memang prestasi luar biasa dalam sejarah Islam, membentang dari Persia hingga Eropa, sistem Khilafah mampu mempersatukan semuanya dengan stabilitas politik - ekonomi yang kokoh dan merupakan masa keemasan perkembangan iptek umat manusia. Sistem Khilafah, jika memang Khilafah planet Bumi yang saudara FS maksud, adalah jelas sekali merupakan bagian dari demokrasi.

Khilafah mengandung unsur demokrasi adalah fakta historis. Bila kita runut embrio dari khilafah, yakni pada saat Rasullullah memimpin Medinah & Mekah, dimana Rasullullah menerapkan sistem dimana semua warga, tidak perduli agama/kepercayaannya, mempunyai hak yang sama dalam menyuarakan pendapat kepada Nabi selaku kepala pemerintahan. Rasullullah bersedia mendengar pendapat rakyatnya atau sahabatnya itu sudah termasuk dalam unsur demokrasi, sederhana saja.

Begitupun dengan masa kekhalifahan Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan & Ali bin Abi Thalib) yang kurang lebih menerapkan mekanisme dan prinsip yang sama dengan Rasullullah, yakni demokrasi langsung: mendengarkan keluh kesah rakyatnya secara langsung (tanpa perwakilan/representatif) dimana saat itu demokrasi langsung masih sangat mungkin dilakukan karena jumlah penduduk yang relatif masih sedikit.

Bila kita maju lagi, yakni pada masa Bani Ummayah hingga kekaisaran Usmaniyah, kekhalifahan telah mengalami pergeseran makna. Perang antar-bangsa hingga perang saudara, instabilitas politik, pemberontakan hingga kudeta mewarnai masa-masa ini hingga pada akhirnya runtuh total karena perlawanan dari rakyat sendiri pada awal abad ke 20. (Dari sini terlihat bahwa kekhalifahan hanya sekedar sistem, bukan juru selamat. Dan saat sistem dijalankan oleh manusia yang tidak mampu maka sistem itupun akan beroperasi secara tidak normal).

Jadi bila saudara FS menyuarakan anti demokrasi tapi sekaligus menyuarakan menghidupkan kembali Khilafah maka bagi saya agak menggelikan sekaligus miris. Menggelikan karena paradoks antara ide FS tentang demokrasi - Khalifah dan miris karena secara tidak langsung telah membodohi ummat awam yang mendengarnya.

Kedua, saudara FS juga tidak (mudah-mudahan belum atau memang saya yang tidak bisa menemukan tulisannya) menjelaskan bagaimana mekanisme Khilafah, apakah itu republik federal atau kesatuan, apakah itu Monarki konsitusional atau absolut, apakah itu persemakmuran ataukah negara berdaulat dll. Bagaimana mekanisme penegakkan hukumnya, bagaimana mekanisme memilih pemimpin, bagaimana mekanisme penyuaraan rakyat dan institusi yang menampung suara rakyat dan lain-lain. Jika memang saudara FS tidak menjelaskan ini maka sederhana saja ide Khilafah ini hanya akan jadi wacana dan sebatas mentok di website atau koran saja.

Disinilah kebutuan saya dalam mencari tahu ide Khilafah menurut saudara FS karena tulisan beliau yang berada di websitenya hanya menunjukkan Khilafah dari segi biblikal (Quran) tanpa menjelaskan detilnya. Istilahnya, tulisan dan ide FS sejauh yang saya tahu dan telah baca, hanya terbatas pada dalil-dalil Quranic yang memerintahkan pendirian sistem Khilafah alih-alih menjelaskan bagaimana Khilafah itu sendiri.

3. Statement Tendensius
Walaupun keluar dari topik tulisan ini namun hal inilah yang menjadi kritik terbesar saya terhadap saudara FS karena jujur saja, tendensi FS ini sangat jauh dari prinsip keilmuan yang saya pelajari di kampus. Berikut adalah screenshoot akun twitter Felix Saiuw yang saya tangkap malam ini


Dalam akun twitter terlihat bahwa saudara FS menulis: "Makar dibuat massa anti-pemerintah (baca: anti-islam) di Mesir | namun Allah pasti membuat makar yang lebih baik".

Bagi saya kali ini saudara FS sudah sangat keterlaluan, terlalu berlebihan. Ada puluhan ribu orang yang berdemo anti-pemerintah dan dengan entengnya saudara FS menyebut mereka semua sama dengan Anti-Islam! Saudara FS telah melakukan suatu kesalahan fatal dalam berargumen, yakni generalisasi. Logika yang dipakai FS adalah sama dengan "Mereka tidak suka daging kucing, pasti mereka tidak suka kucing", atau "Kamu benci Tim Sepakbola Arab Saudi, kamu pasti benci Islam", atau "Kamu benci Hitler pasti kamu benci semua orang Jerman", konyol kan?

Saya tidak tahu apakah saudara FS alpha, lupa atau memang sengaja menulis seperti itu. Jika memang alpha atau lupa maka masih bisa saya maklumi, namun jika disengaja maka saudara FS telah berpotensi menggiring umat (followernya) kedalam lubang kebodohan dan prasangka buruk serta fitnah (sebagai orang yang anti Islam) terhadap mereka yang tidak suka dengan Morsi. Dan dalam kapasitasnya sebagai seorang da'i, penggiringan opini semacamnya ini tentu bukan suatu hal yang bisa saya maklumi saat agama yang saya anut dipergunakan untuk menciptakan fitnah berskala massif.

Semoga saja tulisan sederhana ini saja dapat dibaca oleh saudara FS dan dapat menjadi bahan pertimbangan & koreksi untuk berdakwah dikemudian hari. Itupun jika saudara FS bersedia menerima masukan dan kritik dari saya dan mau membaca tulisan ini.

Note: Dalam 24 Jam terakhir sejak tulisan ini diterbitkan, saya sudah beberapa kali meminta saudara Felix Siauw untuk mengoreksi tulisannya mengenai demokrasi dan terutama sekali twitnya mengenai Anti-Islam itu, namun belum ada respon dari yang bersangkutan. Dengan menerbitkan tulisan ini saya bertujuan menarik perhatian saudara FS agar merespon permintaan saya tersebut.

Cintaku Dalam Almari

Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film "Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013.

Tiga belas tahun lalu aku berjalan dalam diam. Hening, dengan iringan gemerisik Beringin rimbun. Tiga meter depanku berjalan sesosok gadis berambut panjang hitam. Kala kulihat dia pertama, tak pernah terbesit dalam nalarku bahwa gadis berambut hitam legam ini yang kelak menjadi cinta tak berkesudahanku.

Dua tahun kemudian, kelas terakhirku dengan celana pendek biru, aku dipadu bersatu dengan Putri dalam sebuah kelas. Kami dekat dan kami teman, tidak lebih. Inilah juga saat dia memberiku Pensil itu, sebuah pensil penanda awal cinta abadiku padanya 11 tahun silam. Pensil yang masih kusimpan hingga detik aku menulis kisah ini tanpa pernah kugunakan kembali.

Pertemuanku dengan Putri singkat saja, terpisah oleh status pelajar bercelana biru yang telah usai. Aku tinggalkan biru untuk Sang abu-abu, menderu maju demi hidup baru. Namun tak pernah kukira, diriku kembali bersatu padu dengan Putri dalam kelas. Tak pernah timbul kesempatan & nyali untuk berkata rasa hatiku pada yang terkasih. Ku hanya mampu berkirim puisi tanpa nama, terpampang dalam mading sekolah yang hingga hari ini tak ada yang tahu itulah aku sang pujangga puisi.

Perpisahan tak pelak berlangsung, walaupun hatiku tak pernah terpisah. Perbedaan almameter pun bukan penghalang, antara Jakarta dan Depok, cinta ini tetap bersemi. Saat diriku memiliki kekasih, Mawar, relung hati tergelapku tak pernah bisa memisahkan Putri dari cintaku. Pertemuan pertama setelah 3 tahun kujalani dengan Mawar & Putri disebuah kantin penuh kenangan, diwarnai dengan keelokan Sang Putri yang makin mempesona & melenakan hati ini. Aku jahat, memang, saat masih menyimpan rasa Putri dengan kekasih nyata Mawar. Namun ku bukan Tuhan yang berkuasa atas rasa, ku manusia yang penuh nista dan suka.

Tak terhitung berapa tahun tak bertemu Putri sejak itu, namun ku tak pernah kehilangan asa atas Putri. Putri kini berada 5000 kilometer dari tempatku, sebuah negeri yang umum disebut negeri Gingseng, menuntut ilmu. Tak tahu apakah Putri akan kembali ke tempatnya besar yang terenggang hanya 0,8 kilometer dari gubug kecilku, ku bulatkan niat untuk melamarnya jika ia kembali ke tanah airnya, menetapkan cinta abadiku padanya tanpa ragu.

Dan Putri pun kembali

Ku tetapkan hati, beranikan diri, ikhlaskan hati untuk menjadikannya sebagai landasan cinta terakhirku. Ku ragu dia akan mau, tapi ku tak pantang maju. Hari itu pun tiba, dengan hentakan jantung yang nyaris meluluhlantakkan seluruh rusuk, ku nyatakan rasa yang telah terpendam 13 tahun lamanya dalam tirai besi hati. Dengan cincin berkaligrafikan My Angel, sebutan yang kupakai sebagai penanda arti dirinya bagiku, ku curahkan segala rasa dan cita ku padanya.

Dia menolakku

"Maaf aku tak bisa...aku harus kembali ke Korea, lanjutkan studi"

Baik apapun alasannya, Putri telah menolakku.

"Nanti saat sekolahku usai, mungkin..."

Apa? Sebuah Isyarat?

Baiklah Putri, seperti harapanmu, aku akan mencoba lagi nanti.

Jadi kini cincin dan pensil kenanganku dengan Putri masih ku simpan dalam almari, disebuah kardus kenangan. Sang cincin yang menunggu untuk disematkan ke dalam jari manisnya, dan sang pensil yang menunggu untuk kembali digunakan oleh pemiliknya yang terdahulu. Aku tak pernah sedikit pun merubah asa ini, bahwa cita cintaku ada dalam almari.

Jadi aku disini Putri, menunggu sediamu, karena cintaku belum usai.

Cintaku Dalam Almari

"Tidak perduli sejauh apa kita pergi, akan ada saat kita akan kembali ke kamar dan membuka Sang Almari, kadang untuk menyimpan barang berharga yang kita miliki..."

Banyak orang bilang, cinta anak kecil itu cinta monyet: bisa benar tapi juga tidak mungkin selalu benar. Aku tidak tahu apakah jika waktu kecil jatuh cinta dengan orang lain maka aku adalah monyet atau bagaimana, pastinya secara biologi aku tidak pernah masuk ke dalam spesies monyet

Namun lupakanlah sejenak perihal kemonyet-monyetan itu, dimana cerita ini semua bermula berbelas tahun silam saat aku masih duduk dengan polosnya dengan kemeja putih bersematkan kuningnya logo Tut Wuri Handayani. Saat diri ini masih kecil dan pemalu, saat itulah aku pertama kali merasa jatuh cinta. Bukan jatuh cinta biasa yang jatuh melayang lalu sakit menghantam bumi. Bukan pula cinta 1 Cawu yang akan terhempas ke tong sampah begitu terbang ke Cawu berikutnya. Cinta ini adalah cinta yang dengan sombongnya aku proklamasikan sebagai cinta seumur hidup!

Bunga, itulah nama perempuan itu. Pertama kali kulihat Bunga saat dia berjalan denganku disebuah gang menuju sekolah. Aku belum tahu namanya, apalagi tertarik padanya. Kami berdua saja berjalan dalam sunyi diiringi desir pohon Beringin yang kini telah ditebang. Aku hanya memperhatikannya sembari mengucap dalam sanubari:

"Cewek aneh ini suka aksesori yang serba besar, resliting tas yang besar dan jam tangan yang gigantisme".

Tidak pernah terlintas dalam pikiranku kala itu bahwa Perempuan yang kusebut aneh inilah yang sukses membuatku jatuh cinta hingga belasan tahun mendatang...

***

Di sebuah kelas yang diklaim oleh kepala sekolahku secara sepihak sebagai kelas unggulan yang berisi 39 manusia + 1 guru di sebuah sekolah menengah di Jakarta, disitulah aku duduk dengan malu-malunya. Terkejut namun biasa saja, saat tahu si gadis penyuka aksesori besar yang sering berpadu dalam gang sekolah kini bersatu ruang denganku.

Benih ketertarikan itu mulai lahir, walaupun belum ada sebuah percakapan pun muncul dari kami karena posisi duduk yang terpisah lorong antar meja. Tercetak dengan jelas dalam otak ini, ucapan pertama yang tinggal landas dari mulutku dan meluncur dengan kecepatan 350 meter per detik menuju telinga Bunga adalah:

"Bunga, pinjam pensilnya dong kalau ada?"

5 jam kemudian saat aku nawaitu mengembalikan si pensil, dia bilang

"Ambil aja, buat lw ngga apa apa, gw udah ada ini"

Dan mulai dari benda sesederhana pensil itulah Sang benih ketertarikan mulai bertunas.

Pensil itu masih kusimpan hingga hari ini, tanpa pernah kugunakan lagi....

***

Seminggu kemudian aku pindah tempat duduk, yang secara menegangkan, berada tepat dibelakang Bunga. Hanya terpisahkan oleh meja kayu yang bolong sana-sini, cukup menyenangkan untuk bisa melihat Bunga, walaupun sebagian besar hanya menatap geraian rambut panjangnya yang hitam pekat. Tidak butuh waktu lama untuk mendekatkan diri kepadanya, karena dia ternyata seorang sangat periang dan bersahabat.

Waktu berlalu dan kini tunas rasa suka terhadap Bunga telah tumbuh menjadi sebuah pohon. Pohon kecil yang masih tertutup belukar gengsi dan takut. Pohon yang masih terpayungi rimbunnya sensasi hormon masa pra-remaja. Meskipun demikian, pohon ini tidak pernah benar-benar kuabaikan dan justru kupelihara dengan penuh kasih sayang.

Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan telah berlalu. Ujian Sekolah telah usai dan aku sadar ketika itu bahwa kesempatanku bercengkerama dengan Bunga tinggal sebanyak hitungan jari manusia, tidak termasuk jari kaki. Dan saat perpisahan itu tiba, aku bahkan tak sempat mengatakan kepada Bunga bahwa selama ini aku telah menyimpan rasa padanya, rasa yang belum berani kusebut cinta.

Ya semua terlewat begitu saja, seakan benih dan tunas romansa itu tidak pernah terciptakan....

Tiba-tiba, aku sudah duduk dengan pakaian putih abu-abu!

***

Ini lah aku, dalam dunia baru, tanpa ragu meninggalkan yang biru dan menyongsong Sang abu-abu. Bukan sulap bukan juga sihir, hanya proses penuaan yang normal. Yang tidak normal adalah, aku kembali berada dalam satu sekolah dengan Bunga. Meskipun begitu kami tidak sekelas, untuk tahun pertama. Dan selama tahun pertama ini, aku hanya bisa menatap Bunga dari seberang kelasnya lewat celah pintu yang terbuka.

Ketidaknormalan mulai muncul saat tahun kedua masuk. Tanpa ada firasat apapun, aku masuk ke kelas baru dengan mahkluk-makhluk penghuninya yang asing bagiku. Namun aku tercenung saat menjejak lantai kelas, terdiam sedetik dua detik saat melihat sebuah wajah yang kukenal baik, sangat baik malah: Bunga!

Hormon Fenylethylamine dan Adrenalin mengalir deras dalam sistem peredaran darahku. Detak jantung yang melonjak seketika, keringat yang bercucuran secara drastis padahal cuaca masih dingin melengkapi kegelisahan. Seorang Bunga, yang selama setahun belakangan hanya bisa kucuri pandang tanpa bisa mencuri hatinya, kini sedang duduk tepat di dalam kelas yang sama denganku, hanya terpisah oleh 3 tempat duduk.

Namun dengan bodohnya, bagaikan keledai yang terperosok pada lubang yang sama, aku kembali gagal menyatakan rasa yang ku miliki kepada Bunga. Dan kembali terulang: setahun telah terlewati, dan aku pun kembali terpaut jarak yang jauh saat memasuki tahun ketiga. Kami kembali berbeda kelas. Tak bisa disesali, satu tahun yang indah bersama Bunga telah kusia-siakan.

Sadar tak dapat bisa terus berlaku pengecut, cepat harus kusampaikan ledakan rasa yang terus mengembang tiap harinya. Pertama, aku mengirimkan sebuah kode: sebuah puisi. Sebuah puisi picisan sederhana yang dengan bantuan juniorku berhasil kusematkan ke dalam Mading sekolah. Sebuah puisi anonim yang sempat menjadi gosip 1 angkatan, walaupun pada akhirnya mereka tidak pernah tahu siapa penulis puisi itu, kecuali 6 orang kawanku yang entah dapat wangsit dari siapa bisa tahu bahwa puisi itu adalah ulahku. Namun gosip yang sudah menjalar menyebut bahwa puisi itu buatan orang lain. Biarkanlah, ku tak perduli, tak perlu tahu khalayak siapa penulisnya.

Akhirnya terlepaslah seragam abu-abu itu, melepas haru biru dalam hidup baru, namun tak bisa ku terus bisu pada pujaan hatiku. Akhirnya, dengan provokasi seorang sahabat yang sudah kuanggap seperti adik sendiri walaupun beda ayah ibu, kunyatakan luapan rasa yang selama 4 tahun terakhir kusimpan rapat dalam tirai besi hati. Melalui telpon Nokia prasejarah, kukatakan semuanya kepada Bunga.

Reaksi Bunga? kalimat pertama yang dia lontarkan:

"Terima kasih Ki..."

Dan seterusnya kami bicara hingga kurang lebih 5 menit dengan paket telepon im3. Aku memang tak pernah meminta dia jadi kekasihku, ku hanya katakan bahwa aku punya rasa padanya sejak dulu, dan itu sudah lebih dari cukup.

***

Tahun demi tahun telah terlewati dengan sukses, tiga tahun tepatnya. Aku telah memiliki seorang kekasih, Mawar. Mawar tahu dengan jelas walau kita berstatus, namun dia faham selalu ada Bunga dalam hatiku. Jahat? Iya mungkin, namun diriku pun tak kuasa enyahkan jejak Bunga, harus bagaimana?

Bahkan pada tahun itu adalah tahun aku bertemu kembali tatap muka dengan Bunga setelah sekian lama. Berada di Kantin Sastra UI bersama Sang kekasih, menikmati semilir angin sore dengan segelas es teh dan sepiring Siomay, tak pernah terpikir bahwa Bunga akan hadir diantara kami.

Bunga mendadak lewat, dengan kaus putih, celana jeans hitam, rambut poni kuda dan kalung etnik yang besar dan pancaran pesona yang tidak berubah sedikitpun sejak dulu pertama ku melihatnya. Dia melihatku dan langsung menghampiri. Mungkin dia ingin bicara juga denganku, sebagai kawan lama tentunya. Dengan susah payah kusembunyikan rasa bahagia dan gugup, kami bertiga akhirnya menikmati senja indah bersama. Tak kusangka Mawar dan Bunga bisa akrab dan berteman cukup lama, bahkan hingga diriku berpisah dengannya 7 bulan kemudian.

enam puluh bulan telah berlalu sejak terakhir aku bertemu Bunga dan Mawar pun sudah menjadi kekasih pria lain. Bunga sedang berada di negeri Gingseng, menuntut ilmu, 5000 kilometer dari tempatku berada, entah dia akan disana selamanya atau akan kembali ke rumahnya yang terenggangkan 0,8 kilometer dari gubugku. Selama empat tahun terakhir, tak pernah kutemui celah dimana aku bisa mengenyahkan Bunga dari pikiranku walau kami tak pernah bersua, begitupun mendapat penggantinya. Tak pernah pula ku berhasil mengalihkan rasa ini dari Bunga, walaupun sudah banyak wanita yang menjadi pelampiasan. Bilakah aku berhasil melupakannya?

***

Tidak ingat lagi berapa tahun semenjak terakhir aku pertama kali bertemu Bunga, kini semuanya tampak seperti kilatan mimpi. Bagai menatap layar perak saat semua cerita teringkas dalam 90 menit, seluruh ceritaku dengan Sang Bunga juga seakan terekspos dalam guratan waktu yang begitu singkat dalam realita maya.

Berawal dari pulangnya Bunga dari negeri Korea, semua cerita ini mulai berubah...

Bunga bukan lagi bunga yang dulu. Dia berganti menjadi seorang Bunga yang jauh lebih elok: Cerdas, mempesona, periang, ramah, sebuah kondisi yang akan membuat pria manapun jatuh hati, termasuk aku sejak belasan tahun silam. Namun sebagai pria yang punya ego tinggi, aku tak pernah menyerah sebelum mencoba. Aku akan mencoba, walaupun dalam relung hati terdalam aku yakin gagal, untuk memintanya menjadi cinta pertama dan terakhirku...

Dengan mengandalkan kemampuan stalking dan insting detektif picisanku, aku tahu Bunga telah pulang kembali ke Jakarta, untuk selamanya, setidaknya menurut asumsiku. Disinilah mungkin kesempatan pertamaku terbentang, tanpa perlu kembali menjadi Keledai dungu yang terjembab di kubangan yang sama untuk ketiga kalinya.

Aku bersiap secara mental, spiritual dan fisikal untuk memintanya menjadi landasan tempat jangkar cintaku berlabuh. Mengadakan meeting darurat dengan para sahabat dalam rangka menyukseskan mega proyek ini, modal yang kukeluarkan tidak pernah sedikit, terutama untuk konsumsi para konsultan lamaran ini. Akhirnya disetujuilah proposal untuk melamar Bunga dengan memanfaatkan sebuah moment buka bersama. Dengan alibi acara buka bersama kawan-kawan dekat sekelas dulu, aku dengan suksesnya mengundang Bunga untuk hadir dalam acara yang kelak menentukan jalan hidup ku hingga liang lahat.

Tibalah hari H, dengan tingkat kegugupan yang belum pernah kurasakan seumur hidup, aku menunggu Bunga di restoran tempat acara "bukber" dan lamaran ini berlangsung. Semua peserta kecuali Bunga sudah paham bahwa acara ini adalah sejatinya sebuah acara konspirasi tingkat tinggi. Berkali-kali memandangi cincin emas entah berapa karat yang berukirkan tulisan "My Angel", aku menunggu sembari berharap cemas.

Akhirnya Bunga menunjukkan dirinya...

Sambil berakting seakan tidak ada agenda super rahasia yang akan kujalankan, aku menunggu waktu paling pas, yakni saat acara ini sudah hampir berakhir.

Dan tibalah waktu itu....

Kuhampiri dia dengan langkah kaku dan degup jantung yang nyaris meluluhlantakkan seluruh rusuk dadaku.

"Bunga, kau tahu aku dengan baik. Kau tahu apa rasaku padamu. Dan kau tahu, rasa itu tidak pernah hilang...berubah pun tidak"

Dia diam

"Dan kurasa kini saatnya aku menyingkap seluruh niat yang kumau atas dirimu..."

Bunga masih terdiam, begitupun hadirin yang berada di tempat itu

"Maka dengan ini aku ingin menanyakan suatu hal...."

suasana masih hening, mengalahkan heningnya pemakaman

"Maukah dirimu.....menemaniku dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, dalam sedih ataupun senang selama sisa hidupku?"

tidak ada suara, sepi, mencekam

dia menjawab lima detik kemudian, yang terasa seperti jutaan tahun....

"Terimakasih ki, terimakasih banget.... tapi sejujurnya, aku masih belum ingin berada dalam komitmen keluarga....."

sebuah jeda

".....selain itu aku juga akan segera kembali ke Korea, Sekolahku belum selesai disana. Aku ingin selesai sekolah dulu baru setelahnya aku berpikir hal lain"

Oke aku telah ditolak, persis seperti apa yang aku yakini.

"Jujur aku belum ada gambaran menikah..mungkin suatu saat nanti, yang pasti bukan sekarang"

Hah?!

Kalimat terakhir seakan menampilkan sebuah sandi tertentu bagi telingaku, namun bias. Antara yakin dan tidak yakin, pikiranku sibuk melayang dalam upaya menerjemahkan kalimat terakhirnya. Aku sampai pada sebuah ikhtisar, Bunga tidak mau menjadi kekasihku, untuk sekarang. Aku setengah meyakinkan diriku bahwa Bunga telah memancarkan isyarat bahasa, yang merupakan keahliannya, kepadaku untuk mencoba lagi di lain waktu.

Baiklah Bunga, seperti harapanmu, aku akan mencoba lagi nanti.

Jadi, hingga hari ini cincin dan pensil kenanganku dengan Bunga masih ku simpan dalam almari. Sang cincin yang menunggu untuk disematkan ke dalam jari manisnya, dan sang pensil yang menunggu untuk kembali digunakan oleh pemiliknya yang terdahulu. Aku tak pernah sedikit pun merubah asa ini, bahwa cita cintaku ada dalam almari.

Jadi aku disini Bunga, menunggu sediamu.


versi pendeknya (Competition Mode) di http://www.dagelanwayang.com/2013/06/cintaku-dalam-almari_27.html

Hizbut Tahrir Indonesia: Demokrasi Dan Khilafah

Sebagai orang luar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) saya kerap mendengar dan membaca mengenai konsep Khilafah yang dibicarakan oleh anggota HTI. Terlepas dari apa agama, kepercayaan, dan aliran saya, secara jujur saya akui perbincangan mengenai Khilafah ini cukup menarik untuk diikuit dan (kini) dikritisi. Namun saya menyadari dengan posisi saya sebagai orang luar dari keluarga dan lingkungan HTI, informasi dan pemahaman komprehensif saya mengenai campaign Khilafah yang dibawakan HTI ini sangatlah terbatas dan selalu ada kemungkinan tidak lengkap. Maka dari itu tulisan ini saya batasi pada sumber-sumber bawah (akar rumput) yang langsung saya terima dalam kehidupan sehari-hari saya

Salah satu substansi yang sering dibicarakan oleh kelompok HTI selain Khilafah adalah anti-demokrasi. Bahkan beberapa ustadz populer juga turut berbicara tentang anti-demokrasi ini (walaupun saya tidak tahu apakah beliau anggota HTI atau bukan) Beberapa bulan lalu, hashtag (istilah dalam dunia twitter) #antidemokrasi bahkan sempat melejit menjadi trending topicTwitter, dan dipopulerkan oleh seorang ustadz mualaf yang tidak perlu saya sebut namanya. Kelompok HTI menganggap bahwa demokrasi adalah suatu dosa: produk gagal dari kebudayaan barat yang liberal dan jauh dari peraturan keislaman. Mereka memberikan contoh kondisi Indonesia sekarang ini sebagai bukti kegagalan demokrasi dalam misi membawa kesejahteraan bagi komunitas muslim. Karena itulah HTI melihat bahwa demokrasi tidak cocok bagi bangsa Indonesia dan mulai mengkampanyekan Khilafah sebagai sistem pemerintahan alternatif bagi Indonesia.

Satu hal yang menjadi pertanyaan besar saya: Demokrasi apakah yang mereka maksud?. Bagi pembaca yang pernah belajar ilmu politik atau pernah kuliah FISIP tentu tahu bahwa makna demokrasi itu sangat luas: mulai dari komunisme hingga republik, dari fasisme hingga monarki semuanya bisa disebut demokrasi. Memang ada semacam stigma dalam masyarakat awam bahwa demokrasi adalah sistem politik ala Amerika Serikat dimana selalu ada Presiden, parlemen, parlemen daerah, pemilu, pembagian kekuasaan dan lain-lain, dan stigma inilah yang menurut asumsi saya, digunakan oleh HTI untuk mengkampanyekan ide anti demokrasi.

Apakah hal itu salah? Bagi saya hal itu adalah kesalahan besar dan fatal. Secara peyoratif bahkan saya bisa katakan hal itu adalah proses pembodohan publik yang dilakukan oleh HTI kepada anggotanya sendiri. Karena dengan mengkampanyekan anti demokrasi tanpa penjelasan lebih lanjut (yang terbukti dari tidak pahamnya para anggota HTI akar rumput tentang substansi demokrasi) maka HTI telah menjebak anggotanya dalam suatu kondisi paradoks: membenci demokrasi tapi menggunakan produk demokrasi.

Sederhananya seperti ini: HTI kemarin (02-06-2013) menggelar muktamar akbar di Senayan dengan topik sama, Khilafah. Dalam muktamar itu tentu saja ada selipan-selipan kalimat yang bernuansa anti demokrasi. Lucu sebenarnya, karena mereka bisa menggelar Muktamar adalah berkat lingkungan demokrasi di Indonesia. Bila kita turunkan level demokrasi itu, katakanlah seperti di Korea Utara, mana mungkin HTI bisa menggelar muktamar? Bicara didepan publik saja bisa ditembak mati apalagi muktamar akbar yang dihadiri ribuan orang? HTI bisa berdemo, bisa berkhotbah, melakukan muktamar, melakukan pertemuan dan bahkan mendirikan organisasi HTI itu sendiri adalah berkat demokrasi Indonesia pasca reformasi 1998. Andaikan kita menganut demokrasi komunisme ala China, belum tentu HTI bisa lahir ke bumi.

HTI juga kembali melakukan blunder besar dengan mengkampanyekan ide anti demokrasi namun mendukung Khilafah. Apakah Khilafah adalah demokrasi? Sebenarnya saya pun kurang mengerti konsep sistem politik Khilafah karena memang sebenarnya (sepengetahuan saya) tidak ada yang namanya sistem politik Islam. Yang ada adalah sistem politik kontemporer dengan landasan hukum Islam. Jikapun HTI ingin menggunakan Khilafah sebagai sistem operasi negara Indonesia, maka sistem politik yang dipakaipun bisa macam-macam mulai demokrasi parlementer, demokrasi presidensial, monarki absolut, monarki konstitusional, komunisme, despotisme (monarki absolut), negara federal dan lain sebagainya.

Argumen jawaban mereka yang menjawab sistem khilafah adalah sistem pemerintahan yang digunakan oleh Baginda Rasullullah ketika memimpin Medinah dan Mekah, maka itu jelas adalah demokrasi. Nabi Muhammad yang dalam pemerintahannya mendengar aspirasi pengikutnya secara langsung dari mulut ke telinga sebenarnya sudah masuk dalam demokrasi, walaupun dalam bentuk primitif (demokrasi langsung). Lantas apakah HTI ingin mempraktekkan demokrasi langsung di Indonesia? Silahkan saja kalau sang pemimpin siap (dan mampu) mendengarkan kritik, masukan, kecaman dari 210 juta rakyat Indonesia secara satu per satu tanpa perwakilan dan tanpa agregasi kepentingan yang mana menurut akal sehat saya sebagai manusia tidak mungkin bisa dilakukan manusia.

Ide HTI tentang anti demokrasi dan khilafah terdengar dangkal dan jujur saja, menjadi bahan olok-olok mahasiswa dan dosen-dosen politik karena konsepnya yang tidak jelas dan kabur seperti yang telah sedikit saya tuliskan diatas. Ada baiknya HTI memperdalam konsepnya mengenai khilafah Indonesia yang disintesiskan dengan demokrasi, karena khilafah itu sendiri adalah demokrasi. Kecuali jika kaum intelek HTI mampu membuat sebuah teori dan ide baru yang diakui oleh komunitas ilmuwan ilmu politik internasional mengenai sebuah sistem politik dan sistem pemerintahan yang terpisah dari demokrasi dan sesuai dengan istilah Khilafah mereka. Atau HTI sederhanakan saja idenya, tidak perlu muluk-muluk kampanye anti demokrasi namun cukup kampanyekan ide mengenai hukum Islam di Indonesia. Tidak lucu bagi organisasi sebesar HTI saat kader-kader dibawahnya berapi-api menyuarakan anti demokrasi tapi ternyata ide khilafah dan perilaku mereka sendiri memanfaatkan lingkungan demokrasi.

Sekian kritik saya mengenai gagasan HTI mengenai Demokrasi dan Khilafah, semoga menjadi masukan berguna untuk gerakan HTI kedepannya bila memang HTI serius ingin merubah sistem pemerintahan dan hukum bangsa ini.

Backpacker atau Backpacker Wanna-be?

Backpacker atau dalam bahasa Indonesia mungkin dapat saya artikan sebagai wisatawan ransel adalah sebutan untuk para wisatawan yang (biasanya) menggunakan ransel dalam bepergian. Bisa juga saya artikan sebagai mereka wisatawan yang cenderung suka memanfaatkan fasilitas-fasilitas murah, baik itu penginapan ataupun alat transportasi. Backpacker juga biasanya diterjemahkan sebagai mereka yang akrab berwisata dengan kendaraan umum yang relatif lebih murah ketimbang mencarter atau menggunakan kendaraan pribadi.

Belakangan ini istilah backpacker sedang populer, terutama bagi anak-anak muda yang suka berpetualang. Namun makin kesini saya justru melihat ada 2 macam backpacker: pertama, backpacker yang benar-benar backpacker dan kedua, backpacker wannabe, atau seperti itulah saya menyebutnya.

Backpacker sejati atau mereka yang benar-benar seorang backpacker adalah mereka yang umumnya tidak berkeberatan untuk menggunakan moda transportasi umum yang paling murah sekalipun. Katakanlah seperti Kereta Api Kelas Ekonomi yang dengan telinga saya sendiri mendengar beberapa orang menganggapnya sebagai kelas orang miskin dan tempat duduknya amit-amit (walaupun bagi saya kelas ekonomi jauh lebih nyaman ketimbang Metromini di Jakarta), adalah salah satu moda transportasi favorit para backpacker. Tidak masalah bagi seorang backpacker saat mereka harus menggunakan moda transportasi murah selama berjam-jam seperti Kereta Api Ekonomi ataupun Kapal Pelni. Jika menggunakan bus pun, seorang backpacker saya yakin tidak akan keberatan menggunakan bus ekonomi tanpa AC yang mungkin bagi beberapa backpacker wanna-be sungguh tidak manusiawi.

Sebenarnya karakteristik backpacker itu sendiri sudah tergambar dalam namanya sendiri: backpacker. Kenapa backpacker? Istilah ini merujuk pada sebuah alat yang bernama backpack, atau ransel dalam bahasa Indonesia. Backpack ini sifatnya praktis: efisien, mobile, serta kuat. Efisien karena dia hanya cukup digendong di punggung dan bisa membawa barang banyak serta tidak merepotkan kedua tangan kita. Mobile karena backpack mudah dibawa dan ditaruh. Kuat karena seperti yang kita tahu bahwa tas ransel itu bisa membawa hampir apapun, mulai dari kertas, baju hingga barang-barang lainnya. Karakteristiknya yang efisien, mobile dan kuat inilah yang menggambarkan seorang backpacker.

Backpacker harus mobile, karena dia tidak bisa dimanjakan oleh alat transportasi pribadi. Backpacker harus siap sedia kapanpun kendaraan umum (dan kesempatan tentunya) akan membawanya. Backpacker harus efisien, kedua tangannya tidak boleh direpotkan karena memegang tas koper atau travel bag karena bisa asja tangannya harus memegang kompas, map, handphone, air minum atau peralatan lain yang digunakan untuk berpetualang. Backpacker, pastinya, harus kuat mental dan fisik: secara mental dia harus bersiap dengan segala kemungkinan yang tidak baik (mulai dari korban tindak kejahatan, keterlambatan angkutan, masalah dengan orang lain dll) dan begitupun dengan fisiknya (jalan kaki, berdiri dalam kendaraan umum, tidur dimanapun uang dan waktu mengizinkan dll).

Masalahnya kini adalah banyak orang mengklaim diri sebagai backpacker namun tidak kuat secara fisik dan mental untuk bisa disebut backpacker. Bukan masalah sih, tapi terkadang suka geli dan lucu sendiri melihat orang gembar gembor kesana-kemari sebagai backpacker tapi baru naik kereta api ekonomi jarak jauh sekali langsung menyerah dan kapok. Kalau memang seorang backpacker itu nyaman dan santai, untuk apa diberi nama backpacker yang identik dengan backpack? Kalau backpack nyaman dan santai, toh bisa saja menggunakan koper jinjing atau travel bag yang kalah praktis dengan backpack, dan tentunya tidak perlu memakai istilah backpacker.

Bagiku, backpacking adalah sebuah proses berpetualang yang menempa mental dan fisik kita tentunya. Walaupun kita semua mungkin menyukai petualangan, secara mental dan fisik, tingkatannya berbeda dan tidak semua orang sanggup menjalaninya. Saya telah membuktikan sendiri, melihat dengan mata kepala sendiri bahwa beberapa orang (setidaknya kawan-kawanku) yang mengklaim diri sebagai backpacker namun ternyata mereka sama persis seperti traveller koper lainnya. Beberapa orang menganggap kesulitan dalam perjalanan adalah bagian dari petualangan itu sendiri dan mereka menikmatinya, sedangkan beberapa orang lainnya yang aku sebut sebagai backpacker wannabe, melihat kesulitan sebuah sebuah kesusahan yang seharusnya tidak mereka dapatkan.

Agak menjengkelkan sejujurnya backpacker wannabe ini dalam pengalaman pribadiku. Bukan menjengkelkan karena mereka tidak biasa menggunakan moda transportasi dan penginapan seadanya, tapi menjengkelkan karena mereka malah merepotkan partner trip yang lain. Contohnya beberapa waktu lalu saat saya dan rombongan mengunjungi beberapa kota di Pulau Jawa. Saya dan kawan-kawan ini sudah membuat jadwal dan list kendaraan apa saja yang harus kami pergunakan. Namun sayang seribu sayang, salah seorang dari kami tidak kuat dengan perjalanan ini dan meminta kami menginap di hotel (ya hotel, bukan wisma atau homestay) dan menggunakan kendaraan pribadi (sewa mobil) dan pulang naik bus eksekutif (yang tentu saja diluar rencana finansial kami). Tentu saja orang ini membuat jadwal kami berantakan semuanya, karena kami harus mengantarkan dia ke hotel dan mencari bus (mustahil ditinggal karena dia perempuan). Hasilnya, beberapa tujuan wisata yang tadinya hendak kami kunjungi terpaksa harus dibatalkan karena kita harus mengejar jadwal kendaraan umum yang telah kami beli tiketnya.

Saran saya sebelum mencap diri sebagai backpacker, baiknya siapapun anda untuk dengan bijaksana menilai kemampuan diri anda sendiri. Apalagi jika harus berpetualang dengan pasangan, pahami bahwa "keribetan" anda di jalan nantinya juga akan banyak mengganggu partner anda. Lebih baik mengakui bahwa diri anda bukan seorang petualang daripada anda merepotkan partner-partner perjalanan anda nantinya.

Pacarmu (Bukan) Barangmu

Pacar...siapa dari kita yang pernah mempunyai pacar? Sebuah hubungan romantis yang indah (kadangkala) yang biasanya dilakukan pemuda-pemudi karena memang belum cukup usia dan kemampuan ekonomi untuk menikah. Pacaran, dilakukan oleh dua orang (lebih dari dua bisa dibilang selingkuhan). Seringkali yang saya temukan, baik itu pria ataupun wanita, memperlakukan pacar sebagai possession, atau dalam bahasa indonesianya: memperlakukan pacar sebagai sebuah barang miliknya. Yap, seperti anggapan populer yang mengatakan bahwa sekarang banyak pria yang memperlakukan pacarnya seperti Barbie Doll: mendandaninya, menelanjanginya, membantingnya sesuka hati. Bedanya, Boneka Barbie yang akan kubahas dalam tulisan ini cakupannya lebih luas untuk pria ataupun wanita.

Aku sebenarnya tidak merasa cukup qualified untuk menulis sebuah postingan blog dengan topik percintaan seperti ini, namun karena terinspirasi dari 2 hal: postingan blog kawanku mengenai "kepemilikan" pacar dan pengalaman diriku sendiri baik dimasa lalu ataupun kini yang sedang terjadi, maka aku memutuskan untuk menuliskan sebuah cerita yang samasekali bukan keahlianku namun sedang ingin kutulis....paling tidak menurutku.

Memperlakukan pacar sebagai barang, entah itu pria ataupun wanita, apakah dapat dibenarkan? Urusan benar salah adalah urusan eskatologis alias sesuatu diawang-awang (seperti prinsip dalam ilmu filsafat: Tidak ada sesuatu yang bersifat absolut), dan hal itu jelas bukan kapasitasku untuk menjustifikasi secara mutlak sebagai manusia biasa. Namun bagaimanapun, dalam opini pribadiku, memperlakukan pacar/kekasih sebagai barang milik adalah sesuatu yang kurang tepat. Well, kenapa?

Pertama, manusia bukan barang. Memperlakukan manusia sebagai sebuah barang yang dapat "dimiliki" oleh lain terdengar kurang bagus. Beberapa orang beranggapan bahwa dengan status pacar berarti si dia adalah miliknya mungkin mengalami penyakit sindrom halusinasi parah. Mungkin, ini mungkin lho ya, seorang yang menganggap pacarnya adalah barang adalah seorang megalomaniak yang terobsesi menjadi seorang diktator seperti Hitler, Stalin atau Caligula yang menguasai hajat hidup rakyat banyak namun tidak kesampaian, walhasil pacarnya lah yang menjadi "korban" atas obsesinya tersebut dengan cara dimiliki kebebasannya oleh sang megalomaniak itu tadi.

Manusia baik pria dan wanita adalah makhluk bebas, terlepas dari agama apapun yang lahir di planet bumi ini. Dalam konteks hubungan pacaran, yang bahkan dalam ilmu psikologi sama sekali tidak dianggap penting,  manusia masih merupakan makhluk bebas. Seorang pacar tidak punya hak untuk mengatur hidup dan freewill pasangannya. Pacarmu adalah manusia, bukan barang: dia bisa saja ingin bermain bersama kawan-kawan lawan jenis, dia bisa saja bosan kepadamu, dia bisa saja menyukai lawan jenis lain selain dirimu, dia bisa marah, kecewa, sedih, senang, cinta kepada siapapun yang dia mau. Dan ketika itu terjadi, kita tidak bisa mengatur apapun apapun dari dia, karena sekali lagi: dia adalah manusia!

Kesetiaan manusia terhadap pasangan tidak bisa diukur dari kesetiaan saat berpacaran, karena sekali lagi, hubungan berpacaran dianggap sama dengan single dalam dunia psikologi. Sepanjang saya membaca literatur dan artikel psikologi yang berkaitan dengan cinta (dan saya bukan orang psikologi, silahkan konfirmasi ke mereka yang pakar psikologi), tidak ada satupun artikel yang menjabarkan penelitian yang membuktikan bahwa seorang yang tidak setia dengan pacarnya juga tidak setia dengan suami/istrinya saat telah menikah. Ketidaksetiaan pasangan suami istri lebih banyak didominasi masalah sexual dan perilaku pasangan, bukan karena latar belakang gonta ganti pacar.

Kadang saya pribadi lucu melihat orang yang memperlakukan pacar sebagai barangnya. Di Indonesia, kasus seperti itu masih sangat banyak dilakukan pria ataupun wanita, bahkan beberapa kawan dekatku "pernah" melakukannya (tapi sekarang sih kebanyakan teman-temanku single). Seorang pacar melarang pasangannya untuk ini itu sampai seakan-akan hidupnya hanya untuk pacarnya saja, kebebasan untuk melanglang buana seakan telah habis. Gemas dan kesal melihatnya, tapi apa daya, itu pilihan dia untuk hidup terkekang hanya demi seorang pacar. Well, pacar bukan suamimu yang mempunyai ikatan sosial, kamu masih bebas melakukan apapun dan mencintai siapapun yang kamu cintai.

Kedua, pacarmu itu siapamu? Hanya menembak dengan bunga, kata-kata manis, gombalan, puisi dan lain sebagainya lantas dia bisa dan merasa berhak untuk mengatur dan membatasi akses orang lain terhadap hidup mu? Maaf-maaf saja, bagiku dan bagi banyak orang lain di bumi, pacar itu bukan siapa-siapa. Bagi mereka yang berpikir bahwa pacar itu adalah hak milik ya silahkan saja, tapi jangan lupa bahwa ada orang lain dengan jumlah yang relatif sama yang berpikir sebaliknya sehingga mereka merasa sah-sah saja mendekati pacar orang lain tanpa ada rasa bersalah. Seorang kawanku (semoga dia membaca tulisan ini) berkata bahwa "selama belum menjadi istri, pacar orang lain itu berada dalam zona pasar persaingan sempurna, siapapun berhak mencintai dan dicintai dengan level yang sama tingkat akses terhadap dirinya yang sama pula".

Ada pengalaman sedikit beberapa tahun lalu saat saya masih mempunyai seorang pacar. Well, pacarku termasuk wanita populer dan banyak yang mendekati dia di kampusnya, dan saya tahu tentang hal ini. Namun saya tidak pernah sekalipun membatasi dia untuk dekat atau bergaul dengan siapapun. Bahkan ketika salah seorang yang menyukainya sejak dari SMA mengajaknya jalan, kuperbolehkan saja karena memang hak dia mau jalan dengan siapa. Kemudian saat dikampus dia ditembak pria lain, kupersilahkan dia memilih pria itu atau diriku, tanpa marah atau kondisi tegang dan bahkan saat membicarakan hal ini kami sedang makan-makan di Pizza Hut. Bahkan saat dia ketahuan menyukai pria lain (secara tidak sengaja ketahuan), saya hanya berkata bahwa itu adalah hak dia untuk mencintai siapapun jadi tidak perlu khawatir saya akan marah.

Mungkin beberapa orang akan beranggapan bahwa saya seakan-akan tidak mempertahankan cintaku padanya. In fact, saya masih sangat mencintainya saat itu dan saya pun juga sedih saat dia mulai menyukai pria lain. Tapi saya sadar sepenuhnya bahwa dia bukan siapa-siapaku, dia hanya pacarku. Dia bukan anakku, bukan istriku, bukan pula adikku. Dia hanyalah orang asing yang mempunyai hubungan intim denganku, that's all. Saat dia memutuskan untuk berteman dengan pria lain atau bahkan mencintai pria lain, maka itu adalah keputusannya dan kebebasan yang menjadi hak dia sebagai manusia yang bebas. Bagiku, mempertahankan cinta tidak termanifestasikan dalam larangan ini itu, apalagi larangan mencintai pria lain. Mempertahankan cinta bagiku adalah bagaimana bersikap, berperilaku yang baik sehingga sang pacar tetap nyaman berada dekat dengan kita. Bagaimana mau mempertahankan cinta jika sang pacar suka memukuli, berkata kasar atau kotor, mengekang dan sebagainya?

Saya tidak pernah mengenal istilah "merebut pacar orang". Istilah merebut pacar orang mempunyai makna seakan-akan manusia telah dimiliki manusia lain dalam hubungan pacar, dan ada orang lain yang merebut (mengambil secara paksa) pacar itu. Padahal kalau memang pacarmu ternyata menyukai wanita/pria lain itu artinya wanita/pria lain itu lebih baik darimu (bisa dalam berbagai hal: fisik, kecerdasan, harta benda, lokasi, perilaku, sifat, dll) atau memang ada sesuatu yang salah denganmu baik itu sengaja ataupun tidak disengaja. Akui saja bahwa hidup ini kejam, wanita/pria yang lebih unggul-lah yang akan menang, sesuai dengan teori Evolusi Darwin dan pasar persaingan sempurna Adam Smith. Jadi menurutku, tidak ada yang salah dengan arti dari istilah ngaco "merebut pacar orang" karena memang pacar itu bukan siapa-siapa.

Demikianlah kira-kira opiniku mengenai hubungan pacar yang sesungguhnya. Saya bisa saja salah atau bisa saja benar. Makna dari tulisanku ini kembali kepada kita masing-masing, apakah kita menganggap pacar itu benda atau makhluk bebas :)

Bedanya Pencitraan Jokowi Dengan SBY

Sepertinya warga Ibu kota tiada bosan-bosannya menyimak sepak terjang gubernur DKI yang baru Joko Widodo. Lihat saja di website www.kompas.com dimana setiap berita yang mempunyai keyword " Jokowi " selalu mendapat hit views yang tinggi, rata-rata 50.000 kali view. Tidak ketinggalan pengamat-pengamat, mulai dari pengamat kawakan hingga pengamat dadakan juga turut berkomentar tentang Jokowi.

Dari berita-berita dan komentar pengamat yang simpang siur di berbagai media, sebagian besar mengatakan bahwa Jokowi adalah pemimpin sejati, bukan tipe-tipe politikus yang biasanya di identikkan dengan kelompok manusia yang jago bicara tapi implementasi kerjanya sulit dilihat. Namun demikian, menurut saya pribadi, Jokowi adalah seorang pemimpin biasa. Biasa karena memang seperti itulah seharusnya pemimpin. Kebanyakan orang mengelu-elukan Jokowi karena memang harus kita akui bahwa bangsa ini sangat kurang sosok yang bisa jadi panutan. Pemimpin kelas kacangan dan politikus busuk selalu mewarnai kehidupan kita sehari-hari, sehingga saat pemimpin "Normal" seperti Jokowi muncul ke permukaan, terkagum-kagumlah kita semua.

Melihat fenomena Jokowi ini, saya melihatnya dari sisi berbeda. Saya melihat bahwa kekuatan utama dari seorang Joko Widodo adalah kemampuan komunikasinya yang luar biasa, baik komunikasi horizontal (sesama elit politik) ataupun komunikasi vertikal (kepada rakyatnya). Dia bagaikan Adolf Hitler modern versi baik, seorang komunikator politik handal yang mengandalkan karir politiknya melalui kemampuan berkomunikasinya. Dia bukan tipe politikus yang mengandalkan kekuatan uang semata (seperti yang banyak ditunjukkan oleh elit politik kita sekarang ini), dan lebih mengedepankan seni berkomunikasi.

"Pencitraan", itulah apa yang sebagian orang katakan tentang Jokowi. Sejujurnya saya heran mengapa kata "pencitraan" menjadi berkonotasi negatif, padahal pencitraan itu sendiri selalu kita butuhkan. Semua manusia yang pernah terlahir di planet bumi selalu melakukan pencitraan dalam hidupnya, termasuk saya sendiri. Menggunakan pakaian bagus, kendaraan bagus, rumah bagus, berbicara sopan dan lain sebagainya adalah bentuk pencitraan yang kita lakukan sehari-hari. Apalagi orang dengan pekerjaan seperti Polisi, psikolog, guru dan semacamnya yang selalu melakukan pencitraan di depan klien nya. Intinya, pencitraan itu selalu ada dan selalu dibutuhkan.

Namun memang dasarnya Jokowi sekorang komunikator yang jago. Pencitraan yang dia lakukan memperoleh efek berbeda dengan apa yang dilakukan oleh presiden kita Pak SBY. Di saat SBY malang dalam periode kepemimpinannya yang kedua ini justru semakin mendapat banyak kecaman, baik di media ataupun masyarakat, seorang Jokowi yang juga melakukan pencitraan justru semakin mendapat support dan ketenaran yang luar biasa di republik ini. Apa penyebabnya?

Pertama-tama kita bahas SBY dulu....
SBY selaku pemimpin negara sudah sewajarnya melakukan pencitraan, presiden di negara manapun juga akan melakukan pencitraan. Namun kesalahan SBY adalah pencitraan SBY justru mempertontonkan eksklusivisme pejabat. SBY memperlihatkan kepada ratusan juta rakyat Indonesia bahwa seorang presiden selalu dikawal dengan super ketat kemanapun dia pergi, selalu memperoleh keistimewaan (termasuk keistimewaan bebas macet di jalanan Jakarta) dimanapun dia berada. SBY terlihat seperti jauh dari kenyataan rakyat Indonesia masih banyak hidup sulit dan menderita. Seperti raja-raja feodal di masa silam yang jauh dari penderitaan rakyatnya, SBY dianggap tidak dekat dengan rakyat.

Lihatlah saat SBY mengunjungi sebuah kota diluar Jawa: Jalanan ditutup, pengawalan luar biasa ketat yang membuat rakyat tidak bisa melakukan interaksi langsung dengan presidennya sendiri. Protokol ekstrim yang melingkupi presiden, dari ring 3 hingga ring 1 (lapisan keamanan presiden), membuat sang pemimpin 220 juta ini  manusia terlihat seperti dewa yang sulit dijangkau oleh manusia biasa seperti saya. SBY juga kerap menggunakan istilah asing yang rumit saat berpidato, sehingga tidak semua pemirsa yang menyaksikan paham maksud kata-katanya. Kemewahan hidup yang ditunjukkan SBY juga semakin memperparah gap antara dunia khayangan SBY dengan dunia bawah masyarakat Indonesia.

Saya yakin, 100% yakin bahwa seorang SBY sudah bekerja setengah mati demi bangsa ini, namun bekerja tanpa pencitraan, apalagi dalam kapasitasnya sebagai seorang pemimpin politik, adalah sebuah ketidakseimbangan kepemimpinan. Apalagi jika pencitraan yang dilakukan SBY justru 180 derajat berlawanan dengan apa yang diinginkan dari rakyat, hancurlah sudah. Contoh ekses nyata dari ketimpangan antara kerja dengan pencitraan ini adalah saat ada wacana kenaikan harga BBM bersubsidi tahun 2012 silam. Rakyat menolak setengah mati kenaikan harga BBM bersubsidi padahal memang benar subsidi itu sangat membebani APBN. Kenapa? karena tidak ada trust (kepercayaan) rakyat terhadap pemerintah pusat. Pemerintah pusat dilihat rakyat sebagai kelompok demigod (manusia setengah dewa) yang tidak tahu penderitaan rakyat jika harga BBM bersubsidi naik. Pemerintah pusat telah gagal mendapatkan kepercayaan rakyatnya sendiri, sehingga apapun yang dilakukan pemerintah pusat selalu salah dimata rakyat.

SBY tidak bisa disalahkan sendiri dalam kasus ketidakpercayaan rakyat Indonesia ini, pembantu-pembantunya di kabinet juga ikut berperan aktif dalam memupuk rasa tidak percaya rakyat Indonesia terhadap pemerintah pusat. Bagaimana rakyat mau percaya saat sang menteri berkoar-koar di media massa bahwa rakyat harus mencintai produk dalam negeri sendiri, namun sang menteri sendiri justru memakai pakaian dan aksesoris yang diimport dari luar negeri. Bagaimana rakyat mau percaya saat rakyat dihimbau untuk hemat energi dengan cara naik kendaraan umum dan mematikan listrik rumah yang tidak terpakai namun menteri-menteri termasuk presiden dan wakilnya malah berlomba-lomba menggunakan mobil mewah yang boros energi (bensin). Belum lagi kasus korupsi yang membelit elit kementrian dan partai sang presiden sendiri, habis sudah pencitraan yang dilakukan SBY.

Kesimpulannya, pencitraan yang dilakukan SBY beserta jajaran eksekutifnya telah salah total. Pencitraan yang dilakukan SBY terbalik dengan apa yang diharapkan rakyat dari presidennya. Tidak perduli segencar apapun pencitraan yang dilakukan SBY, namun jika tidak sesuai apa yang rakyat inginkan, hasilnya justru akan berkebalikan dari apa yang diharapkan SBY.

Bagaimana dengan pencitraan Jokowi?
Jokowi juga melakukan pencitraan, sama seperti SBY. Hanya saja bedanya, pencitraan yang dilakukan Jokowi sesuai dengan apa yang diinginkan rakyat, paling tidak untuk rakyat Solo dan Jakarta. Dengan menerobos pakem protokol yang kaku, Jokowi menunjukkan kepada rakyatnya yang jauh lebih sedikit daripada rakyatnya SBY bahwa dia adalah pemimpin yang paham permasalahan mendasar rakyat. Dia menolak berada dalam zona nyaman dibalik mobil mewah dan bodyguard nya. Dengan gaya blusukannya, yang praktis tanpa keistimewaan apapun yang menyertainya (termasuk hanya memakai sepatu kets bututnya dan kaos putih sederhananya yang dibelinya di pasar Klewer Solo), dia mendekatkan diri dengan masyarakat ekonomi terbawah, tanpa jarak samasekali.

Jokowi pun juga dengan sukses mencitrakan dirinya sebagai orang yang apa adanya dan sederhana dalam bertutur kata. Waktu ada warga yang tanya MRT itu apa, dengan spontan dia menjawab "kereta bawah tanah seperti yang di film itu lho", sebuah jawaban yang sangat sederhana namun cepat dimengerti seluruh lapisan rakyat. Bahasa sehari-hari Jokowi saat berinteraksi dengan rakyatnya juga berbeda dengan SBY, bahasanya cenderung bahasa Indonesia yang sangat sederhana plus logat Jawa yang medok. Jika SBY terlihat sangat serius setiap kali berbicara, Jokowi justru dapat dengan cerdas menempatkan diri antara keseriusan dengan humor. Saat blusukan tidak jarang Jokowi mengundang gelak tawa warga sekitar yang mengerubunginya.

Pencitraan Jokowi yang luar biasa ini juga turut dibantu oleh Ahok, sang wakil. Walaupun tidak semahir Jokowi dalam pencitraan, namun setidak pencitraan Ahok juga turut menyumbang kepercayaan rakyat Jakarta terhadap kepemimpinan Jokowi. Rakyat Jakarta yang selama ini sudah muak dengan mark-up biaya pembangunan, direspon dengan baik oleh Ahok. pertama, Ahok menantang dinas PU untuk memotong anggaran sebesar 25% dari anggaran awal atau Ahok sendiri yang akan menghandle proyek tersebut. Walhasil dinas PU tidak berkutik dan terpaksa menyetujui pemotongan anggaran ini. Ahok juga mengancam akan memecat pegawai negeri yang mempersulit warga dalam mengurus surat-surat dan dokumen.

Lalu apa manfaat orang seperti Jokowi melakukan pencitraan? Dalam pengamatan saya, pencitraan yang dilakukan Jokowi adalah mendapatkan kedekatan dan kepercayaan dari rakyat Jakarta. Jokowi tampaknya belajar dengan baik dari kasus SBY yang mana SBY begitu jauh dan tidak dipercayai rakyatnya sendiri sehingga kebijakan krusial yang akan dilakukan rezim SBY justru mendapat tentangan keras dari rakyat (seperti kenaikan harga BBM bersubsidi). Jokowi sepertinya paham bahwa modal awal untuk menjalankan gebrakan-gebrakannya adalah dengan mendapatkan kepercayaan rakyatnya terlebih dahulu. Tanpa kepercayaan rakyatnya, program-programnya diyakini pasti akan mental karena ada kemungkinan dianggap tidak pro-rakyat kecil.

Seperti yang dilakukan Jokowi saat akan merelokasi PKL Banjarsari. Alih-alih hantam kromo langsung menggusur "stand" PKL disana, Jokowi justru mengundang makan para PKL tersebut hingga puluhan kali sebelum akhirnya berbicara mengenai penggusuran. Hal ini tentu saja merupakan pencitraan karena mengundang makan puluhan PKL selama 54 kali tentu memakan biaya sangat banyak dan bukan perkara mudah. Namun pencitraan ini menuai kesuksesan yang indah: PKL Banjarsari bahkan dengan senang hati mau direlokasi ke tempat yang sudah disediakan.

Kalaupun blusukan Jokowi ke kampung-kampung kumuh di Jakarta adalah sebuah pencitraan, so what? Tidak ada yang salah dengan itu karena rakyat pun menyukainya dan merasa dekat dengan Jokowi. Perasaan dekat rakyat dengan Jokowi membuat rakyat tidak akan segan untuk menceritakan uneg-unegnya sekaligus meningkatkan rasa percaya kepada Jokowi, yang pastinya merupakan modal emas dalam memimpin sebuah kota besar seperti Jakarta.

Bonus: Bedanya Pencitraan Jokowi Dengan Abu Rizal Bakrie...
Sedikit membahas perbedaan pencitraan Jokowi dengan Abu Rizal Bakrie (ARB) yang keduanya sama-sama sering masuk media massa (saya tidak menggunakan SBY karena dia justru sering dicecar di media massa).

ARB, pengusaha super kaya sekaligus pemilik TvOne sering melakukan pencitraan di TvOne ataupun ANTV. ARB sering masuk ke berita-berita di portal VIVA group karena memang dia mengiklankan diri disana, secara sengaja tidak perduli rating berita/iklan nya baik atau tidak. Dia mengeluarkan uang untuk menampilkan pencitraan dirinya sendiri di media massa. Wartawan tidak mengejarnya, justru dia yang mengajak wartawan untuk melakukan peliputan (saya yakinnya sih begitu, tapi kadang jika ada berita bagus juga bisa saja wartawan yang mengejarnya).

Sedangkan Jokowi, justru para wartawanlah yang setengah mati mengejarnya. Seperti yang saya katakan di awal tulisan ini bahwa hit views berita tentang Jokowi rata-rata sangat tinggi. Jokowi seperti sebuah barang dagangan yang laris, wartawan sebagai pedagangnya pun berlomba-lomba mengeksposnya tidak perduli fakta bahwa Jokowi sendiri pernah sedikit kesal gara-gara dikuntit wartawan tiap saat.

Lebih bagus yang mana antara pencitraan Jokowi dengan ARB? pilihan saya jelas jatuh ke pencitraan Jokowi. Jokowi diekspos gila-gilaan oleh berbagai media massa dengan GRATIS. Berbeda dengan ARB yang harus bayar untuk syuting dan bayar cameraman (walaupun sedikit), dan tidak semua media mau untuk mengeksposnya (karena memang kurang laku). Jokowi adalah News Maker, bukan self-marketer seperti ARB. Bahkan dibanding pencitraan SBY sang presiden republik inipun, level kemahiran Jokowi dalam melakukan pencitraan diri jauh diatasnya.