Siapa sih dari kita yang belum pernah jatuh cinta? Bahkan anak berumur dibawah 10 tahun saja kini sudah mengerti perkataan cinta. Kata Titik Puspa dalam lagunya, jatuh cinta itu berjuta rasanya: ada senang, ada sedih, ada bahagia, ada rindu...pokoknya Nano-nano rasanya! Namun yakinkah kita bahwa jatuh cinta memang benar-benar sebuah "cinta" yang selama ini tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan? Disini penulis ingin bahas sedikit tentang fakta gelap jatuh cinta yang pernah tertulis dalam berbagai artikel ilmiah mulai dari psikologi, biologi, hingga kimia. So, prepare yourself for the shock!
Manusia, layaknya makhluk hidup lain, mempunyai insting untuk mempertahankan keturunan. Sebagian besar manusia tidak perduli dimanapun dia berada selalu menginginkan seorang anak. Hal ini adalah wajar karena memang insting kita sebagai Homo sapiens adalah berkembang biak dan mempertahankan spesies kita (Homo sapiens). Namun bagaimanapun, kita sedikit berbeda dengan hewan atau tumbuhan yang jika memang sudah saatnya menghasilkan keturunan ya lakukan saja (berkopulasi) tanpa tedeng aling-aling. Manusia sebagai makhluk yang super cerdas membuat proses menghasilkan keturunan ini menjadi lebih rumit.
Langkah 1: Rasa Ketertarikan
Seperti hewan, faktor utama yang membuat kita tertarik dengan lawan jenis adalah pengelihatan. Untuk pria, jika kita melihat perempuan dengan paras cantik maka kita akan langsung tertarik. Begitupun dengan wanita yang melihat pria tampan juga akan tertarik. Sebenarnya prinsip kerja melalui pengelihatan ini juga dilakukan oleh binatang: Seekor burung Merak hanya akan tertarik dengan buruk merak lain yang mempunyai bulu terindah. Seekor Harimau hanya memilih Harimau lain yang punya tubuh sehat dan terlihat bugar.
Pertanyaannya adalah: Mengapa?
Sesuai dengan teori survival of the fittest Charles Darwin, dimana hanya mereka yang terbaik yang layak untuk meneruskan keturunan, maka ketertarikan manusia dengan manusia lain yang mempunyai penampilan terbaik adalah wajar. Hal ini kita lakukan demi menghasilkan keturunan (anak) yang mempunyai daya saing tinggi sehingga kemungkinan untuk bertahan dalam persaingan hidup (seleksi alam) cukup tinggi.
Yang membuat kita berbeda dengan hewan adalah kita menempatkan instrumen-instrumen tambahan lain seperti kecerdasan, kekayaan, karakteristik individu, kemapanan, ras, suku dll sebagai kondisi ideal manusia yang layak untuk mendapatkan rasa tertarik kita. Karakter fisik bukan penentu segalanya bagi kita dalam menetapkan rasa tertarik kepada individu lain seperti layaknya hewan. Manusia hidup di bumi tidak mengandalkan kemampuan fisik semata tapi juga kecerdasan, skill, kekayaan dan lain-lain, dimana hal itu secara tidak langsung telah mengkonsepsikan standar kualifikasi manusia "unggul" yang berbeda dengan dunia hewan.
Langkah 2: Pendekatan
Setelah kita tertarik dengan seseorang, maka langkah selanjutnya adalah pendekatan. Di dunia hewan, pendekatan ini dilakukan oleh pejantan kepada para betina. Di dunia manusia, kurang lebih juga terjadi hal yang sama walaupun dalam budaya kontemporer telah sering terjadi pembiasan terhadap perilaku ini (wanita yang mendekati pria). Di dunia hewan, pendekatan yang dilakukan adalah, sekali lagi, melalui peragaan fisik semata: Seekor Bison jantan "pamer" kekuatan dengan para betina dengan cara beradu kekuatan dengan pejantan lain. Seekor burung Cendrawasih jantan menari-menari dan menunjukkan keindahan bulunya saat musim kawin kepada para betina.
Di dunia manusia, pendekatan tidak melulu menggunakan peragaan fisikal. Karena seperti yang telah dijelaskan tadi bahwa standar ketertarikan manusia juga termasuk kecerdasan, kekayaan dll, maka dalam pendekatan ini Pria juga bisa memaksimalkan semua potensi kecerdasaan, kekayaan dan lain-lain yang dia miliki untuk menarik wanita. Misalnya seorang pria yang tertarik dengan seorang wanita maka pria itu akan membuat si wanita terkesan dengan cara mengajaknya kencan, bersikap menarik, memakai mobil bagus, menggunakan pakaian yang bagus dan lain sebagainya.
Langkah 3: Menghasilkan Keturunan
Bila proses pendekatan ini sudah berjalan dan berhasil alias kedua pihak sama-sama saling tertarik, maka proses selanjutnya adalah menghasilkan keturunan. Dalam dunia hewan, "penebaran" benih sperma kedalam ovum betina bisa dilakukan dimanapun, mulai dari pinggir jalan sampai di tengah lapangan tergantung habitatnya. Hewan juga melakukan proses penebaran benih sperma (baca: kopulasi) ini tanpa ikatan tertentu diantara mereka: selesai berkopulasi maka selesai sudah semuanya tak ada ikatan tersisa (walaupun beberapa binatang merupakan monogami yang hanya punya 1 pasangan seumur hidup, namun mereka melakukan itu murni karena insting).
Manusia sebagai makhluk berbudaya, yang dimana mayoritas budaya mengatur bahwa aktivitas sexual hanya dapat dilakukan secara legal dengan ikatan pernikahan. Pernikahan adalah sebuah aktivitas evolusioner yang hanya dilakukan manusia dalam rangka legalisasi hubungan intim. Walaupun diskursus pernikahan ini telah mengalam reduksi urgensitas dengan banyaknya hubungan sex yang dilakukan tanpa landasan pernikahan, namun tetap saja pernikahan adalah solusi dominan dalam pembentukan keturunan manusia di bumi.
Itu adalah langkah-langkah yang bikin kita "merasa" sedang jatuh cinta yang sebenarnya adalah permainan otak kita saja untuk mendapatkan keturunan.
Ada lagi pertanyaan mengapa kita bisa deg-degan saat ketemu orang yang kita suka, terus kenapa bisa merasa kangen, tenang dan lain sebagainya yang katanya tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Well, sebenarnya itu hanya permainan hormon saja, dimana hormon ini mempengaruhi psikologi kita juga dalam rangka menghasilkan keturunan (baca: anak). Berikut adalah 6 hormon yang mungkin selama ini kita pikir sebagai "cinta"....
1. Dopamin
Punya efek yang sama seperti kokain: menimbulkan rasa ketagihan. Dengan hormon inilah kenapa kau dan pacar/kekasihmu merasa "ketagihan" untuk selalu ingin bertemu setiap saat.
2. Fenylethylamin.
Membuat efek deg-degan, keringat dingin & merasa senang. Persis waktu zaman kita SMA (atau sampai sekarang? bertemu gebetan atau orang yang kita suka.
3. Adrenalin.
Hampir mirip dengan Fenylethylamin plus rasa lapar yang berkurang.
4. Endorfin.
Menciptakan rasa senang/bahagia. Inilah hormon yang bikin kenapa kita merasa senang saat jatuh cinta
5. Vasopressin.
Menciptakan rasa setia (itulah mengapa manusia cenderung monogami) dan mencegah ejakulasi dini (pria)
6. Oxitosin.
Terkenal dengan nama hormon cinta: menciptakan rasa terikat dengan orang yang kita kasihi.
Gabungan dari 6 hormon inilah yang membuat kita manusia bisa merasa "Jatuh Cinta" yang pada akhirnya, dalam konteks insting dasar manusia, bertujuan untuk menghasilkan keturunan.
Jadi, selamat jatuh cinta! Semoga sukses menghasilkan keturunan!

No comments:
Post a Comment