"Anti-Kritik" adalah sebuah kata yang paling tepat menggambarkan perilaku penganut Islam, sebuah agama yang kuanut sejak lahir, yang sejauh ini sering aku temui. Mulai dari keluarga, sekolah, mimbar keagamaan hingga organisasi religius yang aku temui semua mendewakan pendapat atas kebenaran personal absolut dan menolak proses dialektik dalam implementasi ajaran eskatologis Islam ke dalam kehidupan. Aku dilarang bertanya mengenai apapun yang mungkin menurut para anti-kritis membahayakan absolutisme kebenaran yang sebenarnya ada pendapat mereka saja. Satu-satunya tempat aku bisa berpikir dan mengucap pendapat kritis mengenai agama Islam adalah di dalam sebuah kelas kampusku, 5 tahun lalu
Sikap anti-kritik yang ditunjukkan orang-orang inilah yang menjauhkan diriku dari kegiatan keagamaan massa di masyarakat, kecuali sholat jumat tentunya. Aku menolak ikut acara pengajian, atau bahkan mendengarkan ceramah lokal karena mengalami kondisi traumatik dimana aku yakin saat orang merasa dirinya paling benar, termasuk merasa paling benar dalam beragama, adalah orang yang sudah mengangkat derajat dirinya menjadi Demigod (setengah Tuhan) dan menjadi bebal terhadap masukan dan saran orang lain. Para penceramah, walaupun aku tahu tidak semua, sering melakukan justifikasi negatif terhadap manusia atau kelompok manusia dengan ciri khusus yang tidak sesuai dengan pendapat mereka. Ini yang benar-benar aku benci.
Saat agama mematikan kemampuan berpikir penganutnya, maka disitulah agama akan menuju pada instabilitasnya. Hal ini tampak pada agama kristen yang terbelah 2: Katolik & Protestan. Kristen Protestan lahir karena ketidakpuasan masyarakat dan tokoh intelektual terhadap perilaku semena-mena gereja yang secara tidak langsung mematikan daya kritis umatnya. Mulai hukuman mati bagi ilmuwan-ilmuwan yang berseberangan pendapat dengan gereja hingga hukuman kurungan bagi mereka yang berani mengkritik gereja. Islam kini, bagiku, sedang mengarah pada arah itu. Sepertinya umat islam tidak pernah belajar pada sejarah bahwa masa-masa keemasan Islam adalah pada saat daya kritis manusia dibiarkan berkembang dengan pesat...
Kerajaan Turki Utsmani adalah kerajaan yang menggambarkan superioritas Islam di masa silam. Tidak ada kerajaan lain di muka bumi pada saat itu yang sanggup menandingi kehebatan Turki Utsmani, bahkan kerajaan-kerajaan Eropa pun bertekuk lutut dibawah kedigdayaan Turki Utsmani. Ilmu berkembang pesat saat itu mulai dari Matematika hingga Astronomi, mulai dari Sosiologi hingga filsafat. Ilmu pengetahuan berkembang pesat kala itu seakan tanpa batasan. Ilmuwan dibiarkan berpikir, masyarakat dibiarkan bertindak kritis agar terjadi proses dialektik dan akhirnya kita semua mencatat bahwa Turki Utsmani (Abbasiyah) hingga Ottoman adalah era keemasan Islam yang mungkin tak akan kembali lagi di masa depan.
Lihatlah sekarang, organisasi Islam besar justru adalah organisasi yang melarang perbedaan berpikir. Seperti MUI (MUI sudah mulai menampakkan gejala penyeragaman perbedaan pendapat), FPI, HTI semua organisasi-organisasi "robot" (aku sebut robot karena melarang perbedaan berpendapat) yang berkuasa di negeri ini. Akupun sudah cukup kenyang mendengarkan ceramah di masjid yang cenderung berbau rasis dan tidak mengenal perbedaan dalam perbedaan cara pandang. Walaupun aku tahu ada organisasi Islam besar seperti Muhammadiyah yang tidak anti-dialektis, namun sayangnya dan sialnya aku tak pernah berurusan dengan organisasi seperti itu.
Mediapun sama saja. Walaupun ada Republika yang lebih moderat, namun ada 2 media lainnya yang sangat ekstrim yakni Arrahmah dan VOA-Islam. Arrahmah dan VOA-Islam adalah 2 media kiri yang sangat ekstrim dan tidak objektif dalam menulis beritanya. Sayangnya, kawanku banyak yang lebih menyukai islam versi Arrahmah dan VOA-Islam ketimbang Republika atau media moderat lainnya.
Ketaatan penuh terhadap peraturan agama memang diperlukan, tapi sikap kritis tetap diperlukan. Kita manusia di bumi perlu sikap kritis karena Allah tidak menurunkan pasukan malaikatnya untuk memberitahukan hal-hal apa sajakah yang perlu dilakukan dan yang jangan dilakukan. Kita manusia dibiarkan berkeliaran di muka bumi hanya dengan kitab suci Quran yang bahkan mempunyai banyak tafsiran (dan parahnya masing-masing penafsir merasa tafsirannya paling benar). Tidak ada polisi, tidak ada hakim Allah di bumi yang mengingatkan kita mana yang salah yang benar. Kita hanya mengandalkan para ulama yang mana kini banyak dari mereka yang sudah masuk ke ranah ekstrimisme. Bahkan dalam tulisan terdahuluku dengan gamblang aku menemukan kesalahan fatal seorang da'i, berusaha menghubunginya namun seperti yang aku katakan tadi, dia seorang anti kritik dan tidak merespon protesku.
Teroris lahir karena ketaatan buta tanpa akal. Dia hanya tahu bahwa kiai-nya menyuruhnya membuat bom atas nama Allah dan si teroris pun menurutinya karena otaknya tidak dipakai. Dia tidak berani mengkritisi ucapan propaganda kiai-nya karena embel-embel kata "Islam". Dengan paradigma bahwa apapun yang berhubungan dengan Islam, bahkan itu hanya simbol sekalipun, dilarang di kritik, maka manusia telah jatuh kedalam lubang kebodohan yang sedalam-dalamnya: Itulah teroris yang mengatasnamakan Islam.
Itulah mengapa aku selalu menjauhi perbincangan mengenai agama, karena menurutku itu samasekali tidak menyenangkan. Tidak ada yang bisa didiskusikan, semuanya sudah ditentukan secara subjektif oleh mereka yang merasa benar. Aku tidak tahu sejak kapan manusia, terutama umat islam, merasa dirinya menjadi Tuhan (karena merasa paling benar) dan mulai mau menyaingi Tuhan Allah. Lihat saja perilaku habib-habib yang beberapa diantara sok berkuasa, bahkan memperlakukan orang lain seperti binatang. Atas nama Tuhan mereka bertingkah polah seenaknya: menginjak harkat martabat orang lain tanpa kata maaf dan tetap dengan bangga menggunakan gelar "habib" mereka, menyedihkan!
Bisa dibilang aku adalah seorang muslim yang tidak percaya dengan sesama muslim lainnya, apalagi organisasi-organisasi keislaman di Indonesia. Aku tidak akan mau percaya dengan seonggok "mesin berdaging" tanpa kemampuan berpikir yang akan mudah diprovokasi menjadi sebuah mesin pembunuh efisien bila dibacakan hadis atau Quran yang bahkan tafsirnya bisa beranekaragam.

No comments:
Post a Comment