FPI Dan Manifestasi Kebodohan

Bukan FPI namanya jika tidak mencari sensasi. Entah disengaja atau tidak, organisasi massa yang mengatasnamakan Islam ini (saya tidak pernah dan tidak akan pernah menyebut FPI sebagai organisasi Islam, organisasi yang memperjuangkan Islam dan semacamnya) sering sekali melakukan aksi vandalisme, tidak perduli di kota besar atau kampung-kampung. Nama FPI sudah sangat melekat dengan aksi yang berorientasikan pada otot alih-alih otak, walaupun perlu diakui bahwa tidak semua aksi FPI selalu berkaitan dengan Sweeping dan tawuran. Namun ada satu hal yang pasti adalah saya yakin se-yakin yakinnya saya dalam kapasitas sebagai manusia adalah keyakinan bahwa FPI adalah sebuah organisasi yang banyak diisi oleh orang "bodoh".

Saya bilang bodoh karena FPI telah memanifestasikan kebodohannya sendiri melalui aksi-aksinya. Hanya orang bodoh yang mengutamakan kekuatan otot dan mengatasnamakan agama untuk mencari pembenaran atas perilaku kebinatangannya. Ya sederhana saja, bagi saya dan bagi beberapa orang lain di luar sana, perilaku FPI yang sering melakukan pengerusakan sudah lebih dari cukup untuk disebut dan dikategorikan sebagai implementasi insting kebinatangan manusia yang mengklaim dirinya beragama. Namun yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah "Apakah saya menyalahkan para manusia setengah hewan yang bodoh itu?"

"Apakah saya menyalahkan anggota FPI yang bodoh itu?", jawabannya adalah "Tidak". Mereka adalah manusia bodoh dan maka dari itu saya memahami dan mengerti perilaku bodoh itu. Orang bodoh hanya bisa melakukan hal bodoh, mana ada manusia bodoh yang bisa bertindak pintar? Saya maklum mereka sanggup melakukan hal yang paling tidak masuk akal sekalipun karena memang mereka tidak dikarunai (atau tidak memanfaatkan karunia) kecerdasan akal dari Allah SWT untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang bermanfaat bagi umat manusia dan mana yang tidak bermanfaat bagi umat manusia. Justru yang terjadi adalah saya merasa kasihan kepada mereka, kasihan karena mereka telah tanpa sadar dengan sukses dibodohi oleh para big boss FPI yang cerdas.

Saya yakin para dedengkot dan big boss FPI adalah orang-orang yang cerdas. Kalau tidak cerdas mana mungkin FPI bisa berdiri dan bisa lolos dari jeratan hukum selama ini? Para dedengkot dan big boss FPI ini dengan cerdasnya memanfaatkan segerombolan manusia-manusia bodoh untuk melakukan agenda dan kepentingannya. Perduli setan apa agenda dan kepentingan mereka apakah itu mereguk kekayaan, kekuasaan atau ingin menjadikan Indonesia seperti Afghanistan dengan Taliban-nya, yang pasti mereka telah sukses menggunakan manusia-manusia bodoh ini sebagai alat.

Maka dari itu jika saya ingin menyalahkan FPI, alih-alih menyalahkan mereka yang hobi berkelahi di jalanan saya cenderung untuk menyalahkan para big boss nya. Mereka lah otak dan biang keladi yang selama ini termanifestasikan oleh FPI dalam bentuk kekerasan fisik dan vandalisme. Mereka lah aktor dibelakang semua perilaku biadab FPI. Mereka yang menggerakkan segerombolan massa Kerbau-dicocok-hidung itu berbuat apa yang mereka inginkan dengan menggunakan iming-iming dan bujuk rayu agama...

Jadi marilah kita yang masih waras dan sehat secara jiwa ini berhenti mengutuki anggota FPI yang suka merusuh di jalan itu. Mereka hanyalah korban yang mengenaskan. Mereka adalah korban dari kebodohannya. Kita justru seharusnya merasa kasihan kepada mereka karena faktanya mereka telah diperalat oleh para dedengkot FPI yang tertawa lucu karena melihat kekonyolan anggotanya di jalan. Saat kita melihat tingkah polah anggota FPI yang "menggemaskan" itu di TV ataupun diberita, perasaan yang melintas ke pikiran kita pertama kalinya seharusnya adalah "Kasihan...". Tujukkanlah kemarahan dan kekesalan kita untuk Habib Rizieq, Munarman dan para Godfather diatasnya yang dengan tega memperalat orang-orang bodoh yang malang itu.

Jadi intinya, tak perlu menyalahkan anggota FPI yang merusuh dijalanan, mereka hanya korban dari kebodohan mereka sendiri sehingga mereka bisa dengan mudah dibodohi oleh para big boss diatasnya yang terbukti sukses membodohi mereka dengan melakukan aksi vandalisme. Mereka terlalu bodoh untuk tahu mana yang salah dan mana yang benar, dan mereka juga terlalu bodoh untuk menyadari bahwa mereka itu bodoh. Bahkan mungkin mereka terlalu bodoh untuk memahami tulisan bodoh ini.

No comments:

Post a Comment