Seandainya Setiap Bulan Adalah Ramadhan....

Jam tangan menunjukkan pukul 17.55, waktunya untuk membatalkan puasa yang membuat haus dan lapar. Namun, kondisi jalan yang macet dan stagnan tidak memungkinkan bagi motor dan mobil bahkan untuk sekedar berhenti berbuka, karena selain tidak ada toko tapi juga tidak membawa bekal puasa. Memang musti kita akui, melakukan puasa di Jakarta bukanlah suatu kegiatan yang mudah....

Namun dari kejauhan terlihat kerumunan motor ke sebelah kiri jalan. Ada apa gerangan? Karena penasaran aku pun mengarahkan motor ke sisi kiri jalan dan ternyata tidak lain dan tidak bukan, ada orang yang membagikan takjil gratis. Takjil ini sangat sederhana, hanya Aqua gelas 1 buah untuk 1 orang. Tidak ada makanan atau cemilan bukan masalah bagi para pengendara motor itu, termasuk bagiku. Cukup menenggak air yang bila kita membeli di toko hanya seharga Rp. 500 itu sudah merupakan kenikmatan tak terkatakan bagiku dan mungkin sama halnya dengan pengendara motor/mobil lainnya yang terjebak dalam keganasan kondisi lalu lintas di Jakarta.

Selesai berbuka dengan segelas Aqua, aku melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Di jalanan lagi-lagi aku disuguhi pemandangan yang praktis hanya bisa aku nikmati saat bulan Ramadhan: Pembagian takjil untuk anak-anak jalanan. Takjil ini jauh lebih komplit daripada yang ku terima barusan, ada nasi, ayam dan lauk lain yang tidak terlihat dari balik helm dan kacamataku. Kebahagiaan terpancar dari wajah anak-anak itu yang mungkin hanya bisa menikmati menu "mewah" seperti itu setahun sekali.

Ya, itulah sekilas gambaran di jalanan tentang apa yang hanya bisa terjadi di bulan puasa. Bulan yang oleh orang Islam disebut sebagai bulan berjuta rakhmat memang benar adanya. Tidak hanya dari segi pahala yang memang tidak kutulis dalam postingan ini, namun juga dari hal lain, yakni "berbagi".

Berbagi adalah hal yang sangat indah, bagiku. Yang kaya berbagi yang miskin, yang mampu berbagi dengan yang tidak mampu, yang kuat berbagi dengan yang lemah, yang hebat berbagi dengan yang kurang hebat adalah keindahan yang jarang dipertontonkan negeri ini. Di saat bulan-bulan lain manusia menjadi "Homo homini lupus" dan   saling menindas satu sama lain, di bulan puasa ini kita ditunjukkan oleh sebuah kondisi yang oleh Karl Marx diamini sebagai sebuah kondisi ideal komunitas manusia. Sebuah kondisi dimana manusia saling membantu sama lain tanpa mengharap "kapital" atau uang, dan hanya murni mengharap suatu ganjaran eskatologis berupa "Pahala".

Belum lagi perihal zakat fitrah yang seandainya pemerintah mau mengaturnya dengan benar dan orang yang mempunyai kepercayaan Islam juga mau melakukannya sesuai dengan regulasi keagamaan yang ada, dapat lumayan membantu orang miskin. Kita hitung saja (hitungan kasar): 3,5 liter beras. Jika dikali dengan jumlah orang dengan pendapatan minimal Rp. 3.000.000,-/bulan saja (kelas menengah hingga atas) yakni sebesar 100.000 juta orang (jauh dibawah hitungan kelas menengah oleh pemerintah RI), maka total beras yang diperoleh adalah 350.000.000 kilogram atau 350.000 ton. Mengingat konsumsi beras rata-rata per kapita nasional RI adalah sebesar 0,14 ton per tahun atau sama dengan 0,02 ton per bulan maka dengan adanya 350 ribu ton dalam sebulan dapat memberi makan sebanyak 17 juta orang dalam waktu sebulan! Suatu kekuatan berbagi yang luar biasa menurutku... bayangkan seandainya itu hal ini terjadi sepanjang tahun, tentu tak akan ada anak negeri ini yang kelaparan.

Aku mungkin hanya bisa berharap dan bahkan cenderung utopis bahwa ada suatu zaman, entah itu atas nama Islam atau agama nanti yang akan terlahir ke bumi ribuan tahun kedepan, dimana ada konsep "Ramadhan" setiap bulannya tanpa perduli suku, ras, agama, kebangasaan dan lain sebagainya. Zaman dimana "saling berbagi" adalah adalah nilai yang dianggap lebih penting ketimbang status sosial berdasarkan kepemilikan harta benda di mata masyarakat. Zaman dimana "kehormatan" tidak lagi dinilai berdasar semahal apa mobil dan rumah yang dia miliki, tapi berdasarkan pada seberapa banyak dia berbagi kepada sesamanya.

Akhir kata, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan! Jangan lupa untuk selalu menghormati mereka yang tidak berpuasa. Wasalam.

No comments:

Post a Comment