Unjuk Kekuatan Rusia Di Suriah

Rusia, secara terang-terangan dan mengeksposnya ke Media massa Internasional, mengirimkan kapal induk terbarunya, Admiral Kuznetsov, ke perairan Suriah beserta dengan beberapa kapal perang lainnya menyusul ketegangan antara Suriah dengan Negara-negara Arab (Arab League) dan negara-negara NATO. Rusia mengirimkan kapal induk & kapal perangnya dalam rangka memberi reaksi balasan atas ancaman AS dan sekutu untuk menyerang Suriah. Beberapa pertanyaan muncul, seperti: "Mengapa Rusia terang-terangan unjuk kekuatan militer di Suriah?" dan "Apakah AS dkk akan tetap berani menggelar aksi militer di Suriah dengan adanya kapal-kapal perang Rusia?".

Suriah adalah salah satu negara Timur tengah/Mid-east yang sedang dilanda instabilitas politik. Sejak awal tahun 2011 hingga hari ini, demonstrasi massa menuntut pergantian rezim (yang sekarang berada di bawah kekuasaan Bashar al-assad) menuju rezim yang lebih demokratis. Namun sayangnya, Suriah adalah sebuah negara yang tidak terbiasa dengan aksi-aksi jalanan yang menuntut sang pemimpinnya untuk mundur, walhasil aksi represif aparat keamanan pun dilakukan untuk membubarkan aksi demonstrasi. Namun alih-alih meredam gelombang unjuk rasa, aksi represif aparat keamanan Syria justru memperparah gelombang unjuk rasa yang semakin meluas di Suriah.

Amerika Serikat yang digadang-gadang sebagai negara pembela HAM terbesar di dunia sekaligus negara yang punya kepentingan luar biasa besar di wilayah Mid-east tentu tidak bisa tinggal diam melihat fenomena ini. AS pun mulai mengumpulkan dukungan sekutunya untuk menggelar operasi militer di Suriah, dan tampaknya sekutu-sekutu AS menyambutnya dengan baik kecuali Jerman. Langkah AS ini direspon negatif oleh 2 negara besar lainnya, Cina dan Rusia. Cina dan Rusia sama-sama beranggapan bahwa intervensi militer ke Suriah hanya akan memperburuk masa depan negara tersebut dan juga stabilitas Mid-east.

Kemudian baru beberapa hari yang lalu, Kapal Induk Rusia dikirim ke perairan Suriah. Pertanyaannya adalah "mengapa?". Mengapa Rusia justru mengirimkan armada angkatan lautnya ke negara yang terancam di invasi oleh AS dan sekutunya?

Rusia mempunyai sejarah yang kurang baik dengan AS, terutama ketika perang dingin berlangsung. Selama 50 tahun Rusia (Uni Soviet) mempunyai hubungan yang "dingin" dengan AS. Propaganda kebencian dan persaingan sengit dalam segala sektor membuat negara ini ketika itu dianggap sebagai "anti-thesis" nya AS. Baru sekitar 20 tahun yang lalu Soviet mulai "berbaik hati" membuka diri kepada AS dan "kelihatannya" menjalin hubungan yang baik dengan AS. Namun apakah rakyat Rusia telah sedemikian menerima kekalahannya dengan AS? Ada seorang kawan saya yang mengambil jurusan Sastra Rusia. Dia pernah bertanya kepada seorang kawannya yang asli berkebangsaan Rusia mengenai perasaannya kepada AS. Ternyata kawan Rusianya itu menyatakan bahwa mereka tidak menyukai AS, begitupun pula dengan orang-orang sebaya dirinya. Ada rasa ketidaksukaan terhadap bangsa AS yang mungkin mirip dengan rasa tidak suka sebagian masyarakat Indonesia terhadap Malaysia.

Secara politis, Rusia pun sedikit banyak berselisih pendapat dengan AS mengenai kebijakan-kebijakan AS di luar negeri. Perang di Irak, Afghanistan dan Libya, semuanya itu ditentang dengan keras oleh pihak Moskow. Rusia juga pernah menghentikan ekspor minyak mentahnya ke Eropa karena NATO (yang dipimpin oleh AS) pernah merencanakan menempatkan rudal-rudalnya di Polandia. Mengenai Iran, Rusia justru menawarkan Iran untuk mengembangkan teknologi nuklirnya di tanah Rusia, yang artinya AS, Israel atau negara-negara sekutu tidak akan bisa mengganggu fasilitas pengayaan uranium Iran. Rusia pun sering mengecam AS dan Korsel yang sering mengadakan latihan perang yang dekat perbatasan Korut. Intinya, Rusia seringkali menjadi pihak yang menentang hampir segala kebijakan politis AS terhadap negara lain di dunia.

Lalu yang jadi pertanyaan bersama adalah mengapa Rusia terang-terangan unjuk kekuatan di kasus Suriah? Pertama adalah karena Suriah adalah negara pengimport senjata dari Rusia terbesar di dunia. Rusia tentu saja tidak mau terancam kehilangan sumber pendapatannya seandainya AS benar-benar menyerang Suriah dan menggulingkan rezim Bashar yang pro Rusia. Selain masalah sumber pendapatan, Rusia juga menginginkan pengaruhnya tetap ada di Timur tengah dan tidak sepenuhnya dikuasai oleh AS. Hal ini karena Timur tengah memegang peranan penting bagi dinamika proses ekonomi berbagai negara, yaitu melalui minyak buminya. Tentunya Rusia tidak ingin seluruh aset minyak bumi di Timur tengah dikuasai seluruhnya oleh AS karena dapat membahayakan posisi tawar Rusia terhadap AS dikemudian hari. Faktor lainnya adalah karena pada krisis Suriah ini, Rusia mendapatkan kesempatan untuk pamer kekuatan terhadap dunia, terutama negara-negara NATO yang selama ini seringkali mengusik Rusia melalui deployment rudal-rudal nya di wilayah Timur Eropa.

Amerika Serikat sendiri tampaknya tidak cukup nekat untuk tetap menyerang Suriah saat ada kapal-kapal perang Rusia yang berlabuh disana. Apalagi banyak instalasi-instalasi militer Rusia yang dipasang di Suriah yang tentu harus dihancurkan/dirusak AS saat mereka menyerbu Suriah. Dalam kasus Suriah ini, AS benar-benar skakmat alias mati langkah, sama seperti di Korut. Ketika mereka tidak menyerang Suriah, maka dunia (terutama negara barat) akan mempertanyakan komitmen AS atas penegakkan HAM dan demokrasi dan wibawa AS pun akan semakin jatuh di mata internasional. Sebaliknya, jika mereka tetap nekat menyerang Suriah, ada kemungkinan mereka akan berperang juga dengan Rusia, dan itu berarti perang dunia III. Namun saya rasa sih, AS tidak akan segila itu untuk nekat perang dengan Suriah - Rusia....

Manusia, Tuhan Dan Agama

Dari semua keunikan manusia dibanding makhluk hidup lainnya di Bumi, mungkin salah satu yang paling mencolok perbedaannya adalah kemampuan manusia untuk berpikir mengenai asosiasi dirinya dengan suatu bentuk agama tertentu. Lebih mendasar lagi, manusia adalah makhluk unik yang mampu "menciptakan" agama. Tidak seperti hewan yang hidup murni berdasarkan insting-insting dasarnya saja, manusia telah mampu melakukan proses berpikir yang lebih kompleks mengenai eksistensi dirinya, alam semesta dan after-death life.

Mengapa manusia menciptakan agama? atau mungkin lebih tepatnya: Mengapa manusia menciptakan (mempunyai) konsep Tuhan? Bicara tentang alasan mengapa manusia menciptakan maka kita akan membahas ke awal-awal kehidupan manusia purba puluhan/ratusan ribu tahun silam.

Homo neanderthalensis (atau manusia purba lain yang berada dalam 1 zaman dengannya), spesies manusia purba yang secara morfologis dan fisiologis hampir identik dengan manusia modern seperti sekarang ini. Yang menjadi perbedaan adalah bahwa manusia Neanderthal ini tidak mempunyai kecerdasan atau kemampuan untuk berpikir mengenai faktor-faktor deistik. Berdasarkan bukti-bukti arkeologis yang ada, manusia neanderthal tidak mengenal konsep "sang pencipta" atau sosok transenden dalam kehidupan ini. Walaupun demikian, manusia neanderthal telah mengenal perilaku penghormatan untuk orang yang telah meninggal. Bukti-bukti dari adanya upacara untuk menghormati anggota suku yang meninggal telah dikenal pada saat itu.

Berkembang ke fase selanjutnya, yaitu Homo sapiens, atau disebut manusia modern. Pada tingkat ini, otak manusia sudah membesar dan tingkat kecerdasannyapun telah meningkat drastis ketimbang Homo neanderthalensis. Manusia modern, dengan tingkat kecerdasan yang sudah tinggi, mulai berpikir mengenai eksistensinya di dunia: Awal penciptaan, tujuan dan akhir hidupnya telah mulai mampu dipikirkan. Manusia modern juga sudah mulai mampu berpikir mengenai lingkungannya (alam semesta). Dengan kemampuan seperti ini, manusia modern mulai menciptakan sosok transenden untuk menjelaskannya, dan muncullah konsep Tuhan untuk pertama kalinya.
FYI: Ada dua teori yang berkembang menyangkut konsep Tuhan awal dalam sejarah peradaban manusia. Satu teori mengatakan bahwa awal mula kehidupan manusia adalah manusia yang hidup dengan konsep Monotheisme. Teori yang lain mengatakan bahwa awal mula kehidupan manusia adalah manusia dengan konsep animisme-dinamisme. Dalam blog ini saya menggunakan teori yang pertama, yaitu monotheisme karena teori ini menyertakan bukti yang lebih banyak ketimbang teori yang menyebutkan tentang animisme-dinamisme.(ref: Sejarah Para Tuhan, Karen Armstrong)
Manusia ketika itu menciptakan penjelasan mengenai adanya sosok yang transenden (kausalitas utama). Dia mulai berpikir bagaimana dirinya diciptakan, bagaimana lingkungannya tercipta, bagaimana kesadarannya nanti setelah dia mati dan lain sebagainya. Dengan pemikiran-pemikiran filsafat seperti itu, manusia mulai menyadari bahwa ada entitas yang menciptakan dan mengatur dirinya beserta seluruh alam semesta.

Selain itu manusia juga mulai menciptakan konsep Tuhan sebagai perwujudan rasa ketidaktahuan dan rasa lemah atas fenomena di lingkungannya. Hujan, badai, banjir, erupsi gunung berapi, gempa, tsunami, salju dan berbagai kejadian alam lainnya yang tidak dapat dijelaskan oleh pengetahuan manusia kala itu menjadi salah satu alasan mengapa manusia menciptakan entitas Tuhan. Sosok "Tuhan" dalam bayangan mereka adalah sebuah variabel diluar normal (supranatural) yang mampu mengendalikan berbagai hal dengan cara yang tidak bisa dijelaskan melalui nalar mereka. Dengan memiliki Tuhan, maka manusia-manusia purba kala itu telah memiliki tempat berlindung dari rasa takutnya terhadap lingkungannya. Sederhananya, manusia kala itu menciptakan Tuhan karena mereka butuh sosok yang sanggup memberikan rasa aman dan perlindungan dari segala marabahaya.

Tuhan pelindung itu haruslah lebih kuat dari segala makhluk hidup dan lingkungan tempat mereka tinggal. Tuhan awal ini belumlah berasosiasi dengan konsep agama karena orang-orang memujanya dengan cara yang sangat sederhana. Mereka hanya menyebutnya dengan nama unik yang disematkan kepada Tuhan yang mereka puja itu (contoh modern-nya: Allah, Yesus, Yahweh dll), sehingga alih-alih menyebut dirinya umat agama tertentu, mereka menyebut dirinya sendiri dengan sebutan yang berasosiasi dengan nama Tuhan personal langsung (contoh: Hamba Yesus, Hamba Allah dll).

Monotheisme Purba inilah awal dari lahirnya Tuhan yang esa (satu) atau yang lebih familiar dengan sebutan "Monotheisme" yang kita kenal hari ini......

Polytheisme
Seiring dengan perkembangan kebudayaan manusia, maka masalah yang dihadapi manusia semakin banyak, kompleks dan rumit. Kompleksitas masalah ini membuat sosok Tuhan yang tunggal tidak lagi dianggap dapat menjadi tempat berlindung bagi manusia. Tuhan yang Esa begitu ekslusif: Sempurna, tanpa cela, tinggi dan mulia sehingga manusia berpikir Tuhan tidak dapat merasakan penderitaan manusia dan menjadi jauh dengan manusia itu sendiri, padahal manusia semakin butuh rasa tenang dari Tuhan karena permasalahan yang semakin kompleks.

Dari perasaan terasing dari sang pencipta itulah, manusia mulai menciptakan "dewa-dewa" kecil. Konsep dewa-dewa ini pada awalnya berbentuk animisme-dinamisme: percaya bahwa roh nenek moyang akan tetap hidup untuk melindungi mereka dan tinggal di tempat-tempat tertentu seperti goa, air terjun, bebatuan dan lain sebagainya. Orang-orang ini menganggap Dewa-dewa kecil ini merupakan manifestasi kekuatan Tuhan utama (Tuhan monotheisme purba) di lingkungan mereka. Analogi sederhananya, Tuhan utama adalah seorang raja dan dewa-dewa kecil adalah adipatinya: mereka lebih dekat dengan rakyat (manusia), lebih berempati - simpati kepada manusia dan lebih paham perasaan dan penderitaan manusia.

Selama ribuan tahun hal ini berlangsung, evolosi agama pun berlangsung. Berangsur-angsur Tuhan utama mulai lenyap eksistensinya dan digantikan oleh dewa-dewa kecil. Perhatikan peradaban-peradaban kuno besar seperti Yunani, Kartago, Romawi, Mesir kuno, Kekaisaran Cina, Macedonia, Persia dan lain sebagainya yang mempunyai bermacam-macam dewa ataupun dewi dalam sistem religinya. Ada dewa laut, dewa bumi, dewa langit, dewa api, dewa perang, dewa keberuntungan dan berbagai macam dewa-dewi lain yang terspesifikasi dalam bidang-bidang tertentu. Pada masa kejayaannya, era Polytheisme ini telah melahirkan sebuah agama Polytheistik yang terus bertahan hingga hari ini dan merupakan agama dengan jumlah pemeluk terbesar nomor 4 di dunia, agama Hindu.

Hagemoni Polytheisme dalam sejarah dunia berlangsung cukup lama. Menurut catatan sejarah, masa-masa emas Polytheisme berlangsung dari 6000 tahun SM sampai turunnya agama Yahudi sekitar 1000 tahun SM (walaupun sebenarnya Yahudi pada ketika itu masih bisa bisa dikategorikan sebagai Sub-Monotheisme karena pada awal perkembangannya, Yahweh adalah dewa dari para dewa). Suburnya pertumbuhan Polytheisme bukan tanpa alasan: Peradaban manusia ketika itu maju begitu pesatnya. Negara-Kota tumbuh subur diseluruh bagian bumi, terutama di wilayah Timur tengah. Majunya peradaban dan teknologi membuat permasalahan, baik itu dalam level individu ataupun komunitas semakin beragam dan kompleks. Dalam konteks komunitas, permasalahan yang tadinya (sebelum memasuki era-sejarah) hanya seputar bagaimana mencari tempat tinggal dan sumber makanan berkembang ke arah permasalahan ekonomi lokal, perdagangan dengan bangsa asing, politik, militer dan lain sebagainya. Dengan permasalahan-permasalahan tersebut, Tuhan yang tunggal dirasa kurang bisa "menenangkan" manusia, jadi terciptalah Tuhan-tuhan yang berkonsentrasi di suatu bidang saja. Tujuannya adalah supaya manusia dapat memohon suatu hal secara spesifik kepada Tuhan (dewa) yang spesifik juga. Contoh: ketika terjadi gempa bumi maka manusia dapat berdoa dan memohon perlindungan kepada dewa bumi. Ketika dalam keadaan berperang, manusia dapat berdoa dan memohon perlindungan kepada dewa perang. Jadi sederhananya, manusia dapat memilih dewa/Tuhan apa yang dimintai perlindungan.

Monotheisme
Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, alih-alih menciptakan dewa-dewi yang lebih banyak lagi, manusia mulai mereduksi jumlah Tuhan (Dewa) nya. Hal ini dikarenakan manusia telah mengenal ilmu pengetahuan yang lebih modern dan telah dapat menjelaskan berbagai fenomena yang tadinya dianggap ghaib. Dengan kemampuan tersebut, maka rasa ketergantungan manusia terhadap faktor transenden yang ghaib (Tuhan/Dewa) semakin berkurang dan jumlah Tuha/Dewa yang tadinya banyak (Polytheist) semakin menyusut dan muncullah Tuhan yang Esa (Monotheist).

Masa kejayaan Monotheisme adalah saat mulai turunnya agama Yahudi, Kristen dan Islam (Agama Samawi) atau juga terkenal dengan sebutan agama Ibrahim (Abrahamic Religions). Dikatakan sebagai Agama Ibrahim adalah karena Ibrahim dianggap sebagai bapak dari konsep ke-esa-an Tuhan. Seribu delapan ratus tahun sebelum masehi, Ibrahim mengajarkan kemanunggalan Tuhan untuk pertama kalinya, dan lahirlah agama Yahudi. Sebagai agama modern pertama yang mengadopsi konsep Tuhan yang satu, Yahweh (Tuhan Yahudi) masih dianggap Tuhan dari para Dewa-dewa, yang artinya mereka masih percaya pada bentuk Tuhan-tuhan kecil selain Yahweh.

Ketergantungan manusia terhadap Tuhan terkait ketenangan batin juga telah dapat disubstitusikan oleh ilmu Psikologi. Sedikit banyak psikologi telah menggantikan peran ilahiah (Ketuhanan) dalam menciptakan rasa aman, tentram dan tenang bagi umat manusia. Dengan rasa ketergantungan yang berkurang itu pula manusia merasa "tidak perlu" menciptakan Tuhan-tuhan kecil ribuan tahun setelah agama Abrahamic pertama muncul.

Tuhan yang esa (dan sempurna) muncul karena manusia telah merasa Tuhan-tuhan kecil terlalu bersifat manusiawi, sehingga alih-alih melindungi dan menentramkan manusia, dewa-dewa itu malah cenderung memanfaatkan kekuataannya untuk memenuhi hawa nafsunya dan merugikan manusia (baca cerita-cerita mitologi). Hasrat manusia yang menginginkan sosok transendental yang maha sempurna dan ideal mulai menghapuskan dewa-dewi kecil yang penuh kesalahan itu, dan lahirlah "kembali" Tuhan yang satu, Tuhan yang ekslusif dari segala kehidupan manusia, Tuhan yang maha berkuasa.

Inti pertanyaan awal kita tadi, yaitu mengapa manusia mempunyai sekaligus berpikir mengenai Tuhan? Jawabannya telah saya tuliskan diatas, tergantung konsep Tuhan apa yang anda pertanyakan: Polytheisme atau Monotheisme kah?

Dari Pemuda Untuk Papua

Melanjutkan postingan blog saya kemarin mengenai apatisme pemuda terhadap masalah di Papua, ada seorang kawan di twitter yang menanyakan apa yang bisa dilakukan pemuda untuk, paling tidak, membantu masyarakat Papua sebagai rekan dan saudara kita sesama bangsa Indonesia. Good Question menurut saya, pertanyaan yang tidak saya kira datang sedemikian cepat usai kultwit saya.

Sebenarnya banyak yang bisa dilakukan pemuda Indonesia untuk membantu masyarakat Papua, beberapa diantaranya mungkin terdengar sangan politis (karena memang background pendidikan saya adalah politik) namun sebagian lagi cukup realistis, hal-hal tersebut adalah:

1. Tekanan terhadap Pemerintah (Eksekutif)
Ini adalah yang paling mudah yang bisa dilakukan pemuda kita untuk membantu Papua (walaupun tidak efektif). Demonstrasi/unjuk rasa adalah sebuah aktivitas, yang menurut saya pribadi, bisa dilakukan oleh semua jenis pemuda manapun karena relatif mudah dan relatif tidak perlu kemampuan intelektual. Walaupun saya salah seorang yang kurang setuju dengan demonstrasi jalanan (situasional), namun dalam konteks "hal termudah yang bisa dilakukan pemuda", saya rasa unjuk rasa adalah hal yang paling mudah dan sederhana walaupun tidak efektif.

2. Counter-Propaganda via mass media
Pemerintah selama ini mempropagandakan bahwa situasi telah aman terkendali di Papua. Bahkan belakangan ini ada seorang petinggi partai yang berkuasa di pemerintahan mengatakan bahwa tidak ada pelanggaran HAM di Papua. Terlepas dari benar atau tidak, tapi hal-hal semacam itu dapat dikategorikan sebagai propaganda karena bertujuan mempengaruhi opini publik. Dampaknya pun terlihat, pemuda kita yang sebelumnya dalam beberapa tweet saya sebut sebagai apatis, ada kemungkinan mereka berpikir Papua itu makmur dan sejahtera karena iklan-iklan di TV ataupun statement pemerintah. Sebenarnya kita sebagai pemuda bisa memanfaatkan hal ini untuk balik mempropagandakan (counter-Propaganda) kondisi di Papua. Kenapa saya sebut Counter-Propaganda? karena tujuan kita tetap sama yaitu untuk mempengaruhi opini publik terlepas dari benar atau salahnya dan dalam rangka membalas propaganda versi pemerintah (counter). Caranya? Mudah, banyak pemuda-pemuda yang jago menulis dan punya koneksi ke banyak media massa. Begitupun aktivis-aktivis pemuda yang bahkan sudah go International, hal-hal tersebut adalah potensi luar biasa untuk melakukan Counter-Propaganda.

Dengan strategi Counter-Propaganda lewat media massa ini,pemuda tidak lagi hanya bersuara kepada sesama pemuda tapi juga telah mempengaruhi opini publik secara luas,baik tua ataupun muda, pria ataupun wanita. Selanjutnya, efek dari opini publik terhadap solusi Papua tidak akan saya tulis disini karena akan keluar dari konteks judul postingan saya ini.

3.Melobi Legislator (Parlemen)
Mengingat masalah Papua adalah masalah politik murni, maka kerjasama dengan institusi negara tidak dapat dilepaskan sepenuhnya. Salah satu cara (paling tidak yang dilegalkan & disarankan menurut UU) adalah dengan menyuarakan suara kita via parlemen di Komisi X DPR. Hal ini perlu juga menjadi pertimbangan karena bagaimanapun adalah DPR yang mempunyai kekuatan legislasi sekaligus mengawasi kinerja pemerintah (eksekutif) Mengingat pemuda adalah konstituen atau kader bahkan simpatisan yang sangat potensial untuk keberlangsungan sebuah parpol, maka atensi kader-kader parpol ybs di DPR terhadap pemuda relatif lebih besar ketimbang atensi mereka ke generasi tua. Potensi-potensi yang terkandung pada pemuda-pemuda inilah yang membuat kita sebagai pemuda bisa dikatakan memiliki "special privileges" , kalau memang kita bisa memanfaatkannya. Namun dengan catatan bahwa langkah ketika ini jauh lebih sulit ketimbang cara 1 dan 2 karena faktor eksternal (prestasi, reputasi dan skill anggota dewan kita).

4.Mengunjungi Papua
Dari semua cara-cara diatas, mungkin cara ini adalah cara yang bisa kita lakukan untuk membantu Papua, yaitu dengan cara mengunjunginya. Alih-alih kita mengunjungi Afrika, Haiti, Kep. Bahama dan lain-lain (bagi mereka yang suka wisata alam tropis), ada baiknya kita mengelilingi Indonesia dahulu, salah satunya adalah ke Papua. Dengan mengunjungi Papua artinya kita telah menjadi saksi hidup bagaimana kondisi alam sekaligus kondisi sosial disana. Perhatikan bagaimana kehidupan sosial disana, mulai dari kegiatan ekonomi, kegiatan keseharian, cara bicara, cara berinteraksi dan lain-lain. Dengan mengunjungi Papua, secara tidak langsung kita telah melahirkan rasa integrasi kita dengan Papua sebagai bangsa Indonesia. Rasa empati dan simpati pun akan tercipta melalui kunjungan kita itu. Selain itu juga mengunjungi Papua akan membuat kita lebih baik dalam menjalankan point berikutnya.

5.Menulis
Cara paling sederhana sekaligus paling efektif (menurut saya) adalah dengan menulis, persis seperti yang sedang saya lakukan sekarang. Sayangnya saya tidak (belum) mengunjungi Papua sehingga saya tidak dapat menulis detail tentang Papua. Namun dari menulis kita dapat menyebarkan ide-ide tentang Papua semua kalangan dan golongan. Dengan menulis kita bisa menyatukan opini dan ide mengenai Papua dan menyinkronisasikan gerakan terkait dengan Papua, termasuk sinkronisasi gerakan pada point-point sebelumnya.

Tentunya masih banyak kontribusi nyata lain yang bisa berikan untuk saudara-saudara kita di Papua, tidak hanya lima poin diatas. Kita ini masih muda, kreatifitas kita untuk membantu dapat dikatakan nyaris tak terbatas. Jadi silahkan kamu, saya dan kita semua memikirkan cara-cara kreatif lain untuk membantu Papua, karena bagaimanapun mereka bukan Komodo atau Orangutan, mereka adalah manusia seperti dan yang utama: mereka adalah bagian dari NKRI.

Komodo Vs. Papua

Akhirnya selesai sudah proses voting via sms untuk memilih 7 keajaiban dunia baru versi organisasi New7wonders. Komodo untuk sementara ini (13 November 2011) meraih urutan pertama dalam jumlah voting. Namun terlepas dari apakah Komodo menjadi juara atau tidak dalam kompetisi ini, patut diperhatikan betapa promosi/pengiklanan/himbauan untuk memilih begitu heboh di berbagai media. Mulai dari media massa seperti koran & iklan-iklan yang menghimbau masyarakat untuk memilih Komodo via SMS (yang hanya Rp.1,-/sms) hingga socmed (social media) seperti Twitter & Facebook. Bahkan promosi untuk memilih Komodo banyak menyebar via BBM (Blackberry Messenger).

Namun kita lupa, lebih jauh ke arah Timur Indonesia, saudara-saudara kita sesama manusia juga sedang memerlukan dukungan kita semua rakyat Indonesia: mereka adalah rakyat Papua. Rakyat Papua yang selama ini dianaktirikan oleh pemerintah kita sendiri, rakyat Papua yang selama ini dilanggar hak-hak sipilnya, rakyat Papua yang selama ini "dieksploitasi" secara murah baik oleh korporasi asing hingga pemerintah kita sendiri. Namun apakah kita perduli?

Jujur saya belum pernah sekalipun melihat bentuk kepedulian kita (atau paling tidak pemuda-pemuda di lingkungan saya) yang perduli atas masalah Papua. Tidak ada campaign atau publikasi mengenai dukungan untuk rakyat Papua baik itu di Twitter ataupun di Facebook. Dari semua orang yang saya follow di Twitter, hanya sebagian kecil orang (dan itupun bukan kawan saya) yang menyuarakan masalah-masalah di Papua. Justru mereka lebih vokal menyuarakan himbauan untuk mendukung SMS Rp.1,- untuk Komodo. Di Facebook lebih parah, tidak ada satupun friend yang membicarakan masalah Papua samasekali, bahkan untuk statement sederhana saja.

Mungkin yang jadi pertanyaan kita, lebih penting mana antara mendukung Komodo dengan mendukung rakyat Papua? Mari kita bahas satu per satu:

1. Komodo
Komodo adalah spesies unik yang berada di Indonesia, tepatnya di Pulau Komodo NTT. Tidak ada negara lain di dunia yang memiliki spesies Komodo lagi. Dalam komunitas ilmiah asing (terutama Zoology), Komodo dianggap hewan yang sangat penting karena memang satu-satunya di dunia dan jumlah populasinya yang tidak seberapa. Dalam konteks popularitas, Komodo bahkan lebih terkenal diluar negeri sejak belasan (atau bahkan puluhan?) tahun silam, jauh sebelum kita mengenal Komodo. Saya ingat betul ketika masih kelas 3 SD (tahun 1996) 15 tahun silam, saya sering menonton acara dari Discovery Channel Group yang judulnya saya lupa. Yang pasti acara tersebut seringkali membahas mengenai Komodo, paling tidak seminggu sekali (karena memang saya sangat suka melihat acara itu, tidak pernah terlewat setiap harinya). Pada ketika itu, teman-teman saya paling banter hanya tahu tentang Komodo dari gambar di Atlas pada waktu pelajaran IPS.

Pembahasan Komodo oleh Discovery Channel menunjukkan bahwa betapa Komodo ketika itu sudah lebih terkenal di luar ketimbang di dalam negeri kita sendiri. Mengingat Discovery Channel adalah salah satu Channel televisi yang paling banyak ditonton oleh dunia (mencapai lebih dari 50 negara dan lebih dari 100 juta pemirsa), maka saya rasa promosi Komodo pada waktu itupun sudah sangat dahsyat tanpa perlu ikut kompetisi apapun atau membayar uang dalam jumlah berapapun. Selain Discovery Channel coba anda cek ke IMDB.com dan ketik keyword Komodo (atau Comodo), anda akan temukan beberapa film Hollywood yang bercerita tentang Komodo. Ini mempertontonkan kepada kita betapa piciknya kita beranggapan bahwa Komodo tidak terkenal diluar sana.

Tanpa ikut kompetisi New7wonders pun, Komodo sudah sangat terkenal di luar negeri, jauh sebelum rakyat kita kenal Komodo itu sendiri. Kita beranggapan bahwa dengan mengikuti New7wonders Komodo akan terkenal keseluruh dunia, sebuah anggapan yang sebenarnya adalah ekses dari kebodohan kita sendiri. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Pak Jusuf Kalla selaku duta Komodo, saya berpikir bahwa orang-orang yang mendukung Komodo hari ini adalah orang-orang yang tidak pernah menonton Discovery Channel sehingga mereka tidak tahu bahwa ada cara yang jauh lebih efektif dan murah untuk mempromosikan Komodo ke seluruh Dunia ketimbang hanya ikut kompetisi dari New7wonders, sebuah organisasi yang tidak ada apa-apanya ketimbang Discoverry Channel.

Intinya dukungan sms untuk Komodo ini miskin substansi dan nyaris tidak akan membawa pengaruh bagi Komodo ataupun masyarakat yang tinggal disekitarnya.

2. Papua
Sama seperti Komodo, isu Papua ini sudah berkembang sejak puluhan tahun silam. Pelanggaran HAM, ketimpangan ekonomi dan sosial dan eksploitasi dari korporasi asing merupakan masalah klasik dari Papua yang tidak pernah terselesaikan hingga saat ini. Pemerintah pun terkesan asal-asalan dalam menyelesaikan masalah Papua. Kemiskinan dan penderitaan masyarakat Papua seakan bukan isu penting dalam penyelenggaran negara Indonesia.

Kondisi-kondisi tersebut diatas yang mengakibatkan masyarakat Papua sendiri menjadi skeptis terhadap pemerintah Indonesia. Lebih jauh, masyarakat Papua merasa mereka bukan bagian dari NKRI. Bagi kita orang Jawa, Sunda, Bugis, Makassar, Padang, Lampung, Banjar dan lain-lain mungkin sulit membayangkan bagaimana rasanya bukan merupakan bagian dari NKRI karena memang kita telah merasa terintegrasikan dengan Indonesia.

Nihilitas rasa kesatuan sebagai rakyat Indonesia inilah yang mengakibatkan mengapa mereka (rakyat Papua) ingin memerdekakan diri. Selain tidak ada rasanya kesatuan sebagai bangsa Indonesia, opresi dan tekanan militer yang dilakukan pemerintah Indonesia juga menunjang keinginan mereka untuk menciptakan negara sendiri. Eksploitasi tambang berlebihan yang merusak sistem kultur masyarakat Papua oleh sebuah perusahaan asing disana yang dibiarkan oleh pemerintah Indonesia juga semakin memperkuat keinginan untuk lepas dari NKRI.

Parahnya, masyarakat kita yang hidup di Indonesia bagian barat banyak terlihat apatis oleh fenomena di Papua ini, terutama dari kita kaum muda Indonesia. Sangat jarang saya temui obrolan-obrolan pemuda kita yang membicarakan masalah Papua, mulai dari pelanggaran HAM hingga kemiskininan disana.

Dari kedua hal tersebut (Komodo & Papua) yang saya jelaskan diatas, akan tampak mana jenis dukungan yang lebih urgentdibutuhkan. Masyarakat Papua yang tertindas dari berbagai pihak ataukah Komodo yang memang sudah terkenal sejak dulu?

Banyak pemuda (termasuk kawan-kawan saya) yang berdalih bahwa masalah Papua adalah masalah politik dan masalah dukungan Komodo adalah hal yang jauh lebih realis dan murni nasionalisme. Padahal faktanya, Dukungan komodo ini adalah juga urusan politis. Coba anda baca buku-buku S. Gill, J. Bhagwati tentang globalisasi atau baca juga Edwards, M. & Hulme, D tentang transparansi dan agenda NGO, anda akan paham bahwa NGO seperti New7wonders juga punya agenda-agenda politik dibelakangnya atau bahkan dia sendiri (new7wonders) adalah agenda politik. Bahkan kalau dilihat tingkat kompleksitas kerangka berpikirnya, masalah politik di Papua jauh lebih sederhana ketimbang organisasi New7wonders ini. Jadi saya rasa alasan bahwa masalah Papua adalah masalah politik yang lebih kompleks ketimbang memilih Komodo di New7wonders adalah alasan yang tidak dapat diterima (atau mungkin alasan karena ketidaktahuan?).

Namun inti dari tulisan saya disini adalah mengkritisi betapa pragmatisnya anak muda Indonesia dimasa sekarang. Kita mudah percaya apa kata pemerintah, padahal kita tahu pemerintah itu adalah komuniti yang suka berbohong (Ingat ketika kampanye awal pemerintah support terhadap New7wonders, sebelum akhirnya berbalik melawannya). Kita suka ikut arus saja: karena kita dapat BBM banyak yang menyuruh kita mendukung Komodo maka kita juga ikut-ikutan tanpa berani atau tertarik untuk tahu apa dibaliknya. Kita juga tidak (kurang) perduli tentang nasib saudara-saudara kita di Papua sana. Kita disini meributkan Komodo yang sudah terkenal dan hidup tentram disana, sedangkan saudara-saudara sebangsa kita di Papua sana yang hidup menderita justru kita tidak perdulikan. Bisa dibilang, mungkin, rasa kebersamaan kita sebagai manusia (warga Papua) lebih rendah daripada rasa kebersamaan kebinatangan kita (Komodo).

American War and Who's the Next Victim?

Delapan tahun setelah invasi AS dan sekutunya ke Irak dan beberapa minggu setelah bombardir pasukan NATO di Libya, telah menunjukkan kepada dunia bahwa Abad 21 bukanlah abad perdamaian. Amerika Serikat yang digadang-gadang sebagai sebuah negara yang berperan sebagai Polisi dunia justru banyak menimbulkan kekacauan dimana-mana. Amerika Serikat yang notabenenya bertugas menjaga stabilitas global justru mengacaukan banyak kelompok masyarakat di negara-negara yang diperanginya.

Sebenarnya apa tujuan AS? Mengapa mereka menyerang negara-negara itu? Dalam postingan ini saya tidak berbicara mengenai propaganda AS yang mengatakan ingin menegakkan HAM, menghapus senjata pemusnah massal (atau senjata kimia-biologis), memerangi terorisme dari permukaan bumi dan lain sebagainya. Yang saya bicarakan adalah "hidden agenda" dibalik kebijakan ekpansif AS tersebut.

Perlu diketahui bahwa AS adalah 1 dari 3 negara yang mempunyai agenda politik luar negeri (selain Inggris dan Prancis). Maksud dari politik luar negeri adalah kepentingan politis yang dibawa negara yang bersangkutan untuk diimplementasikan kepada negara lain demi kepentingan negaranya. Tiap negara memang mempunyai national interest (kepentingan nasional), tapi hanya AS, Inggris & Prancis yang melakukan intervensi politik negara lain demi kepentingan negaranya, terutama Amerika Serikat.

Dengan fakta tersebut diatas,maka dapat dipahami bahwa segala kebijakan AS yang berkaitan dengan negara lain selalu berlandaskan pada keuntungan negaranya, termasuk dalam serangan ke Irak, Libya dan Afghanistan (juga). Sulit dipercaya bahwa AS melakukan itu semata hanya demi nilai-nilai kemanusiaan atau nilai demokrasi. Sulit juga untuk saya pribadi membayangkan bahwa AS melakukan itu semua dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan suatu apapun. Kenapa saya berpikir seperti itu? Mari ikat lihat unsur-unsur yang terlibat dalam perang tersebut:

1. Industri Senjata. Industri senjata global mulai berkembang pada saat perang dunia II. Para kapitalis mulai menyadari bahwa alat-alat perang adalah komoditi ekonomi yang sangat menguntungkan. Pada hari ini, Industri senjata (militer) AS adalah salah satu industri yang paling menguntungkan (profitable) dan salah satu dari berbagai industri yang terbesar di dunia. Perusahaan-perusahaan seperti Boeing, Lockheed Martin, McDonell Douglas dan lain-lain menghasilkan keuntungan bersih hingga ratusan milyar dollar/tahun dari penjualan mesin-mesin pembunuhnya keseluruh dunia. Industri senjata ini, bagaimanapun adalah korporasi kapitalis. Korporasi kapitalis berprinsip untuk mencari keuntungan (baik itu keuntungan finansial, promosi ataupun opini). Nilai-nilai humanitarian hanya ditempatkan sebagai pendukung promosi atas opini publik (seperti CSR di Indonesia). Namun tetap, tujuan dasarnya adalah memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan modal seminimal mungkin.

Dalam mengadakan Perang, industri-industri militer inilah yang memproduksi alat perangnya. Mungkin kita banyak mengira industri-industri itu dikelola 100% oleh negara (semacam BUMN di Indonesia), padahal kenyataannya Industri militer mereka dipegang sepenuhnya oleh swasta kapitalis. Dengan prinsip kapitalistik yang telah saya tulis di paragraf sebelumnya, korporasi produsen senjata ini tentu orientasinya adalah mencari keuntungan dari setiap perang yang terjadi. Logika sederhananya, makin banyak perang di dunia, maka makin besar keuntungan perusahaannya karena akan makin banyak pihak yang membeli hasil produksinya. Kurang masuk akal rasanya jika kita mengharap perang di bumi ini usai sebelum pabrik-pabrik senjata itu menghentikan aktivitas produksinya.

2. Minyak Bumi. Perang oleh Amerika Serikat yang banyak terjadi di Negara Timteng (Iraq & Libya Contohnya) bukannya tanpa alasan. Mungkin kita semua sudah tahu sejak SD bahwa wilayah Mideast adalah wilayah yang sangat kaya dengan minyak bumi. Minyak adalah komoditas ekonomi yang sangat seksi selain industri senjata itu sendiri. Dapat dikatakan negara manapun yang mempunyai akses ke SDA Minyak Bumi maka negara itu otomatis mempunyai kekuatan secara ekonomi-politik dalam dinamika global. Negara penguasa minyak mempunyai "kekuatan" untuk mengendalikan harga minyak dunia, mempunyai cadangan devisa yang sangat besar (karena trend harga minyak yang semakin tinggi tiap tahunnya) dan kemampuan untuk menggerakkan mesin-mesin industrinya.

Melihat potensi yang dimiliki oleh si Emas hitam (baca: Minyak bumi) inilah yang membuat banyak negara/korporasi minyak saling berlomba-lomba memperebutkan wilayah yang kaya akan minyak bumi, seperti wilayah timur tengah misalnya. Negara-negara anti-Amerika seperti Iran & Irak tentu saja "menghalangi" kepentingan AS untuk menguasai ladang-ladang minyak di negara tersebut., maka timbul-lah gesekan kepentingan nasional antara AS dan negara-negara seperti Iran dan Irak. Gesekan ini, didukung oleh Industri persenjataan + potensi yang terkandung dalam minyak bumi menciptakan sebuah kombinasi sempurna untuk alasan berperang.

3.Polarisasi Global. Dengan kondisi dinamika politik-ekonomi global yang unipolar, tentu saja AS tidak akan membiarkan terjadinya Bipolaritas seperti era 1945-1990 atau bahkan multipolaritas. AS selalu berusaha menanamkan hagemoninya (pengaruhnya) di berbagai wilayah dan negara di dunia. Afghanistan yang pada awal perjuangannya dibantu AS untuk melawan Soviet (pada rezim Taliban) agar tertanam pengaruh AS disana ternyata mengkhianati AS pada abad ke 21. Maka dari itu, AS pada tahun 2001 lalu berbalik menghajar rezim Taliban supaya AS dapat berpengaruh di Afghanistan. Begitupun di Irak, pada waktu perang Irak - Iran, AS membantu Irak, tapi sejak Irak berbalik melawan AS maka habislah nasib rezim Saddam Hussein pada tahun 2003. Di Iran, sejak terjadi revolusi Iran yang menggulingkan rezim Pahlevi yang pro-AS, AS berbalik memusuhi Iran. Semua dinamika tersebut dilakukan AS dalam menjaga pengaruhnya di dunia, dan menjaga agar AS menjadi satu-satunya kekuatan utama di dunia ini, baik secara politis, ekonomi ataupun militer.

Melihat 3 faktor utama tersebut diatas, maka dapat diprediksi bahwa negara selanjutnya yang menjadi tujuan invasi AS dan sekutunya adalah negara-negara yang cenderung "melawan" kebijakan AS & sekaligus negara yang kaya dengan minyak bumi, yaitu Iran.

Pilihan saya jatuh ke Iran sebagai negara paling berpotensi diserang oleh AS untuk beberapa waktu kedepan. Kenapa? Karena seperti yang saya jelaskan tadi, Iran adalah salah satu negara yang paling vokal menentang kebijakan-kebijakan agresif AS di seluruh dunia. Kedua, Iran adalah salah satu negara yang banyak menyimpan potensi kekayaan minyak bumi. Ketiga, Iran dianggap belum mempunyai senjata nuklir sehingga collateral damage yang telalu besar dapat terhindarkan. Keempat, interdependensi ekonomi negara-negara timur tengah sangat rendah, dibawah 10%, sehingga instabilitas disalah satu negara timur tengah tidak akan begitu mempengaruhi kondisi ekonomi negara-negara tetangganya, sehingga instabilitas ekonomi regional Timur Tengah (yang mengakibatkan melambungnya harga minyak) dapat terhindarkan.

Kenapa bukan Venezuela? walaupun Venezuela sama-sama negara yang vokal menentang AS dan kaya dengan minyak bumi namun interdependensi Amerika selatan terlalu tinggi. Perang di wilayah tersebut akan menimbulkan ekses negatif ke seluruh wilayah Amerika selatan. AS yang sedang dilanda krisis ekonomi tentu tidak ingin hal ini terjadi.

Lalu kenapa bukan Korea Utara? Jelas menyerang Korea Utara adalah suatu aksi super berbahaya. Korea Utara diperkirakan mempunyai beberapa hulu ledak nuklir berkekuatan besar dan rudal-rudal jelajah jarak jauh yang bahkan bisa mencapai pesisir barat (west coast) AS. Selain itu Korea Utara tidak punya kekayaan minyak bumi (Korut mengimport minyak dari Rusia).

Jadi cukup beralasan mengapa saya memilih Iran sebagai negara yang selanjutnya akan diserang AS dan sekutunya. Terlalu riskan bagi AS untuk membiar Iran makin kuat, baik secara ekonomi atau militer....