Rusia, secara terang-terangan dan mengeksposnya ke Media massa Internasional, mengirimkan kapal induk terbarunya, Admiral Kuznetsov, ke perairan Suriah beserta dengan beberapa kapal perang lainnya menyusul ketegangan antara Suriah dengan Negara-negara Arab (Arab League) dan negara-negara NATO. Rusia mengirimkan kapal induk & kapal perangnya dalam rangka memberi reaksi balasan atas ancaman AS dan sekutu untuk menyerang Suriah. Beberapa pertanyaan muncul, seperti: "Mengapa Rusia terang-terangan unjuk kekuatan militer di Suriah?" dan "Apakah AS dkk akan tetap berani menggelar aksi militer di Suriah dengan adanya kapal-kapal perang Rusia?".
Suriah adalah salah satu negara Timur tengah/Mid-east yang sedang dilanda instabilitas politik. Sejak awal tahun 2011 hingga hari ini, demonstrasi massa menuntut pergantian rezim (yang sekarang berada di bawah kekuasaan Bashar al-assad) menuju rezim yang lebih demokratis. Namun sayangnya, Suriah adalah sebuah negara yang tidak terbiasa dengan aksi-aksi jalanan yang menuntut sang pemimpinnya untuk mundur, walhasil aksi represif aparat keamanan pun dilakukan untuk membubarkan aksi demonstrasi. Namun alih-alih meredam gelombang unjuk rasa, aksi represif aparat keamanan Syria justru memperparah gelombang unjuk rasa yang semakin meluas di Suriah.
Amerika Serikat yang digadang-gadang sebagai negara pembela HAM terbesar di dunia sekaligus negara yang punya kepentingan luar biasa besar di wilayah Mid-east tentu tidak bisa tinggal diam melihat fenomena ini. AS pun mulai mengumpulkan dukungan sekutunya untuk menggelar operasi militer di Suriah, dan tampaknya sekutu-sekutu AS menyambutnya dengan baik kecuali Jerman. Langkah AS ini direspon negatif oleh 2 negara besar lainnya, Cina dan Rusia. Cina dan Rusia sama-sama beranggapan bahwa intervensi militer ke Suriah hanya akan memperburuk masa depan negara tersebut dan juga stabilitas Mid-east.
Kemudian baru beberapa hari yang lalu, Kapal Induk Rusia dikirim ke perairan Suriah. Pertanyaannya adalah "mengapa?". Mengapa Rusia justru mengirimkan armada angkatan lautnya ke negara yang terancam di invasi oleh AS dan sekutunya?
Rusia mempunyai sejarah yang kurang baik dengan AS, terutama ketika perang dingin berlangsung. Selama 50 tahun Rusia (Uni Soviet) mempunyai hubungan yang "dingin" dengan AS. Propaganda kebencian dan persaingan sengit dalam segala sektor membuat negara ini ketika itu dianggap sebagai "anti-thesis" nya AS. Baru sekitar 20 tahun yang lalu Soviet mulai "berbaik hati" membuka diri kepada AS dan "kelihatannya" menjalin hubungan yang baik dengan AS. Namun apakah rakyat Rusia telah sedemikian menerima kekalahannya dengan AS? Ada seorang kawan saya yang mengambil jurusan Sastra Rusia. Dia pernah bertanya kepada seorang kawannya yang asli berkebangsaan Rusia mengenai perasaannya kepada AS. Ternyata kawan Rusianya itu menyatakan bahwa mereka tidak menyukai AS, begitupun pula dengan orang-orang sebaya dirinya. Ada rasa ketidaksukaan terhadap bangsa AS yang mungkin mirip dengan rasa tidak suka sebagian masyarakat Indonesia terhadap Malaysia.
Secara politis, Rusia pun sedikit banyak berselisih pendapat dengan AS mengenai kebijakan-kebijakan AS di luar negeri. Perang di Irak, Afghanistan dan Libya, semuanya itu ditentang dengan keras oleh pihak Moskow. Rusia juga pernah menghentikan ekspor minyak mentahnya ke Eropa karena NATO (yang dipimpin oleh AS) pernah merencanakan menempatkan rudal-rudalnya di Polandia. Mengenai Iran, Rusia justru menawarkan Iran untuk mengembangkan teknologi nuklirnya di tanah Rusia, yang artinya AS, Israel atau negara-negara sekutu tidak akan bisa mengganggu fasilitas pengayaan uranium Iran. Rusia pun sering mengecam AS dan Korsel yang sering mengadakan latihan perang yang dekat perbatasan Korut. Intinya, Rusia seringkali menjadi pihak yang menentang hampir segala kebijakan politis AS terhadap negara lain di dunia.
Lalu yang jadi pertanyaan bersama adalah mengapa Rusia terang-terangan unjuk kekuatan di kasus Suriah? Pertama adalah karena Suriah adalah negara pengimport senjata dari Rusia terbesar di dunia. Rusia tentu saja tidak mau terancam kehilangan sumber pendapatannya seandainya AS benar-benar menyerang Suriah dan menggulingkan rezim Bashar yang pro Rusia. Selain masalah sumber pendapatan, Rusia juga menginginkan pengaruhnya tetap ada di Timur tengah dan tidak sepenuhnya dikuasai oleh AS. Hal ini karena Timur tengah memegang peranan penting bagi dinamika proses ekonomi berbagai negara, yaitu melalui minyak buminya. Tentunya Rusia tidak ingin seluruh aset minyak bumi di Timur tengah dikuasai seluruhnya oleh AS karena dapat membahayakan posisi tawar Rusia terhadap AS dikemudian hari. Faktor lainnya adalah karena pada krisis Suriah ini, Rusia mendapatkan kesempatan untuk pamer kekuatan terhadap dunia, terutama negara-negara NATO yang selama ini seringkali mengusik Rusia melalui deployment rudal-rudal nya di wilayah Timur Eropa.
Amerika Serikat sendiri tampaknya tidak cukup nekat untuk tetap menyerang Suriah saat ada kapal-kapal perang Rusia yang berlabuh disana. Apalagi banyak instalasi-instalasi militer Rusia yang dipasang di Suriah yang tentu harus dihancurkan/dirusak AS saat mereka menyerbu Suriah. Dalam kasus Suriah ini, AS benar-benar skakmat alias mati langkah, sama seperti di Korut. Ketika mereka tidak menyerang Suriah, maka dunia (terutama negara barat) akan mempertanyakan komitmen AS atas penegakkan HAM dan demokrasi dan wibawa AS pun akan semakin jatuh di mata internasional. Sebaliknya, jika mereka tetap nekat menyerang Suriah, ada kemungkinan mereka akan berperang juga dengan Rusia, dan itu berarti perang dunia III. Namun saya rasa sih, AS tidak akan segila itu untuk nekat perang dengan Suriah - Rusia....
Secara politis, Rusia pun sedikit banyak berselisih pendapat dengan AS mengenai kebijakan-kebijakan AS di luar negeri. Perang di Irak, Afghanistan dan Libya, semuanya itu ditentang dengan keras oleh pihak Moskow. Rusia juga pernah menghentikan ekspor minyak mentahnya ke Eropa karena NATO (yang dipimpin oleh AS) pernah merencanakan menempatkan rudal-rudalnya di Polandia. Mengenai Iran, Rusia justru menawarkan Iran untuk mengembangkan teknologi nuklirnya di tanah Rusia, yang artinya AS, Israel atau negara-negara sekutu tidak akan bisa mengganggu fasilitas pengayaan uranium Iran. Rusia pun sering mengecam AS dan Korsel yang sering mengadakan latihan perang yang dekat perbatasan Korut. Intinya, Rusia seringkali menjadi pihak yang menentang hampir segala kebijakan politis AS terhadap negara lain di dunia.
Lalu yang jadi pertanyaan bersama adalah mengapa Rusia terang-terangan unjuk kekuatan di kasus Suriah? Pertama adalah karena Suriah adalah negara pengimport senjata dari Rusia terbesar di dunia. Rusia tentu saja tidak mau terancam kehilangan sumber pendapatannya seandainya AS benar-benar menyerang Suriah dan menggulingkan rezim Bashar yang pro Rusia. Selain masalah sumber pendapatan, Rusia juga menginginkan pengaruhnya tetap ada di Timur tengah dan tidak sepenuhnya dikuasai oleh AS. Hal ini karena Timur tengah memegang peranan penting bagi dinamika proses ekonomi berbagai negara, yaitu melalui minyak buminya. Tentunya Rusia tidak ingin seluruh aset minyak bumi di Timur tengah dikuasai seluruhnya oleh AS karena dapat membahayakan posisi tawar Rusia terhadap AS dikemudian hari. Faktor lainnya adalah karena pada krisis Suriah ini, Rusia mendapatkan kesempatan untuk pamer kekuatan terhadap dunia, terutama negara-negara NATO yang selama ini seringkali mengusik Rusia melalui deployment rudal-rudal nya di wilayah Timur Eropa.
Amerika Serikat sendiri tampaknya tidak cukup nekat untuk tetap menyerang Suriah saat ada kapal-kapal perang Rusia yang berlabuh disana. Apalagi banyak instalasi-instalasi militer Rusia yang dipasang di Suriah yang tentu harus dihancurkan/dirusak AS saat mereka menyerbu Suriah. Dalam kasus Suriah ini, AS benar-benar skakmat alias mati langkah, sama seperti di Korut. Ketika mereka tidak menyerang Suriah, maka dunia (terutama negara barat) akan mempertanyakan komitmen AS atas penegakkan HAM dan demokrasi dan wibawa AS pun akan semakin jatuh di mata internasional. Sebaliknya, jika mereka tetap nekat menyerang Suriah, ada kemungkinan mereka akan berperang juga dengan Rusia, dan itu berarti perang dunia III. Namun saya rasa sih, AS tidak akan segila itu untuk nekat perang dengan Suriah - Rusia....
sy setuju dengan tulisan ini
ReplyDelete