Delapan tahun setelah invasi AS dan sekutunya ke Irak dan beberapa minggu setelah bombardir pasukan NATO di Libya, telah menunjukkan kepada dunia bahwa Abad 21 bukanlah abad perdamaian. Amerika Serikat yang digadang-gadang sebagai sebuah negara yang berperan sebagai Polisi dunia justru banyak menimbulkan kekacauan dimana-mana. Amerika Serikat yang notabenenya bertugas menjaga stabilitas global justru mengacaukan banyak kelompok masyarakat di negara-negara yang diperanginya.
Sebenarnya apa tujuan AS? Mengapa mereka menyerang negara-negara itu? Dalam postingan ini saya tidak berbicara mengenai propaganda AS yang mengatakan ingin menegakkan HAM, menghapus senjata pemusnah massal (atau senjata kimia-biologis), memerangi terorisme dari permukaan bumi dan lain sebagainya. Yang saya bicarakan adalah "hidden agenda" dibalik kebijakan ekpansif AS tersebut.
Perlu diketahui bahwa AS adalah 1 dari 3 negara yang mempunyai agenda politik luar negeri (selain Inggris dan Prancis). Maksud dari politik luar negeri adalah kepentingan politis yang dibawa negara yang bersangkutan untuk diimplementasikan kepada negara lain demi kepentingan negaranya. Tiap negara memang mempunyai national interest (kepentingan nasional), tapi hanya AS, Inggris & Prancis yang melakukan intervensi politik negara lain demi kepentingan negaranya, terutama Amerika Serikat.
Dengan fakta tersebut diatas,maka dapat dipahami bahwa segala kebijakan AS yang berkaitan dengan negara lain selalu berlandaskan pada keuntungan negaranya, termasuk dalam serangan ke Irak, Libya dan Afghanistan (juga). Sulit dipercaya bahwa AS melakukan itu semata hanya demi nilai-nilai kemanusiaan atau nilai demokrasi. Sulit juga untuk saya pribadi membayangkan bahwa AS melakukan itu semua dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan suatu apapun. Kenapa saya berpikir seperti itu? Mari ikat lihat unsur-unsur yang terlibat dalam perang tersebut:
1. Industri Senjata. Industri senjata global mulai berkembang pada saat perang dunia II. Para kapitalis mulai menyadari bahwa alat-alat perang adalah komoditi ekonomi yang sangat menguntungkan. Pada hari ini, Industri senjata (militer) AS adalah salah satu industri yang paling menguntungkan (profitable) dan salah satu dari berbagai industri yang terbesar di dunia. Perusahaan-perusahaan seperti Boeing, Lockheed Martin, McDonell Douglas dan lain-lain menghasilkan keuntungan bersih hingga ratusan milyar dollar/tahun dari penjualan mesin-mesin pembunuhnya keseluruh dunia. Industri senjata ini, bagaimanapun adalah korporasi kapitalis. Korporasi kapitalis berprinsip untuk mencari keuntungan (baik itu keuntungan finansial, promosi ataupun opini). Nilai-nilai humanitarian hanya ditempatkan sebagai pendukung promosi atas opini publik (seperti CSR di Indonesia). Namun tetap, tujuan dasarnya adalah memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan modal seminimal mungkin.
Dalam mengadakan Perang, industri-industri militer inilah yang memproduksi alat perangnya. Mungkin kita banyak mengira industri-industri itu dikelola 100% oleh negara (semacam BUMN di Indonesia), padahal kenyataannya Industri militer mereka dipegang sepenuhnya oleh swasta kapitalis. Dengan prinsip kapitalistik yang telah saya tulis di paragraf sebelumnya, korporasi produsen senjata ini tentu orientasinya adalah mencari keuntungan dari setiap perang yang terjadi. Logika sederhananya, makin banyak perang di dunia, maka makin besar keuntungan perusahaannya karena akan makin banyak pihak yang membeli hasil produksinya. Kurang masuk akal rasanya jika kita mengharap perang di bumi ini usai sebelum pabrik-pabrik senjata itu menghentikan aktivitas produksinya.
2. Minyak Bumi. Perang oleh Amerika Serikat yang banyak terjadi di Negara Timteng (Iraq & Libya Contohnya) bukannya tanpa alasan. Mungkin kita semua sudah tahu sejak SD bahwa wilayah Mideast adalah wilayah yang sangat kaya dengan minyak bumi. Minyak adalah komoditas ekonomi yang sangat seksi selain industri senjata itu sendiri. Dapat dikatakan negara manapun yang mempunyai akses ke SDA Minyak Bumi maka negara itu otomatis mempunyai kekuatan secara ekonomi-politik dalam dinamika global. Negara penguasa minyak mempunyai "kekuatan" untuk mengendalikan harga minyak dunia, mempunyai cadangan devisa yang sangat besar (karena trend harga minyak yang semakin tinggi tiap tahunnya) dan kemampuan untuk menggerakkan mesin-mesin industrinya.
Melihat potensi yang dimiliki oleh si Emas hitam (baca: Minyak bumi) inilah yang membuat banyak negara/korporasi minyak saling berlomba-lomba memperebutkan wilayah yang kaya akan minyak bumi, seperti wilayah timur tengah misalnya. Negara-negara anti-Amerika seperti Iran & Irak tentu saja "menghalangi" kepentingan AS untuk menguasai ladang-ladang minyak di negara tersebut., maka timbul-lah gesekan kepentingan nasional antara AS dan negara-negara seperti Iran dan Irak. Gesekan ini, didukung oleh Industri persenjataan + potensi yang terkandung dalam minyak bumi menciptakan sebuah kombinasi sempurna untuk alasan berperang.
3.Polarisasi Global. Dengan kondisi dinamika politik-ekonomi global yang unipolar, tentu saja AS tidak akan membiarkan terjadinya Bipolaritas seperti era 1945-1990 atau bahkan multipolaritas. AS selalu berusaha menanamkan hagemoninya (pengaruhnya) di berbagai wilayah dan negara di dunia. Afghanistan yang pada awal perjuangannya dibantu AS untuk melawan Soviet (pada rezim Taliban) agar tertanam pengaruh AS disana ternyata mengkhianati AS pada abad ke 21. Maka dari itu, AS pada tahun 2001 lalu berbalik menghajar rezim Taliban supaya AS dapat berpengaruh di Afghanistan. Begitupun di Irak, pada waktu perang Irak - Iran, AS membantu Irak, tapi sejak Irak berbalik melawan AS maka habislah nasib rezim Saddam Hussein pada tahun 2003. Di Iran, sejak terjadi revolusi Iran yang menggulingkan rezim Pahlevi yang pro-AS, AS berbalik memusuhi Iran. Semua dinamika tersebut dilakukan AS dalam menjaga pengaruhnya di dunia, dan menjaga agar AS menjadi satu-satunya kekuatan utama di dunia ini, baik secara politis, ekonomi ataupun militer.
Melihat 3 faktor utama tersebut diatas, maka dapat diprediksi bahwa negara selanjutnya yang menjadi tujuan invasi AS dan sekutunya adalah negara-negara yang cenderung "melawan" kebijakan AS & sekaligus negara yang kaya dengan minyak bumi, yaitu Iran.
Pilihan saya jatuh ke Iran sebagai negara paling berpotensi diserang oleh AS untuk beberapa waktu kedepan. Kenapa? Karena seperti yang saya jelaskan tadi, Iran adalah salah satu negara yang paling vokal menentang kebijakan-kebijakan agresif AS di seluruh dunia. Kedua, Iran adalah salah satu negara yang banyak menyimpan potensi kekayaan minyak bumi. Ketiga, Iran dianggap belum mempunyai senjata nuklir sehingga collateral damage yang telalu besar dapat terhindarkan. Keempat, interdependensi ekonomi negara-negara timur tengah sangat rendah, dibawah 10%, sehingga instabilitas disalah satu negara timur tengah tidak akan begitu mempengaruhi kondisi ekonomi negara-negara tetangganya, sehingga instabilitas ekonomi regional Timur Tengah (yang mengakibatkan melambungnya harga minyak) dapat terhindarkan.
Kenapa bukan Venezuela? walaupun Venezuela sama-sama negara yang vokal menentang AS dan kaya dengan minyak bumi namun interdependensi Amerika selatan terlalu tinggi. Perang di wilayah tersebut akan menimbulkan ekses negatif ke seluruh wilayah Amerika selatan. AS yang sedang dilanda krisis ekonomi tentu tidak ingin hal ini terjadi.
Lalu kenapa bukan Korea Utara? Jelas menyerang Korea Utara adalah suatu aksi super berbahaya. Korea Utara diperkirakan mempunyai beberapa hulu ledak nuklir berkekuatan besar dan rudal-rudal jelajah jarak jauh yang bahkan bisa mencapai pesisir barat (west coast) AS. Selain itu Korea Utara tidak punya kekayaan minyak bumi (Korut mengimport minyak dari Rusia).
Jadi cukup beralasan mengapa saya memilih Iran sebagai negara yang selanjutnya akan diserang AS dan sekutunya. Terlalu riskan bagi AS untuk membiar Iran makin kuat, baik secara ekonomi atau militer....
Melihat potensi yang dimiliki oleh si Emas hitam (baca: Minyak bumi) inilah yang membuat banyak negara/korporasi minyak saling berlomba-lomba memperebutkan wilayah yang kaya akan minyak bumi, seperti wilayah timur tengah misalnya. Negara-negara anti-Amerika seperti Iran & Irak tentu saja "menghalangi" kepentingan AS untuk menguasai ladang-ladang minyak di negara tersebut., maka timbul-lah gesekan kepentingan nasional antara AS dan negara-negara seperti Iran dan Irak. Gesekan ini, didukung oleh Industri persenjataan + potensi yang terkandung dalam minyak bumi menciptakan sebuah kombinasi sempurna untuk alasan berperang.
3.Polarisasi Global. Dengan kondisi dinamika politik-ekonomi global yang unipolar, tentu saja AS tidak akan membiarkan terjadinya Bipolaritas seperti era 1945-1990 atau bahkan multipolaritas. AS selalu berusaha menanamkan hagemoninya (pengaruhnya) di berbagai wilayah dan negara di dunia. Afghanistan yang pada awal perjuangannya dibantu AS untuk melawan Soviet (pada rezim Taliban) agar tertanam pengaruh AS disana ternyata mengkhianati AS pada abad ke 21. Maka dari itu, AS pada tahun 2001 lalu berbalik menghajar rezim Taliban supaya AS dapat berpengaruh di Afghanistan. Begitupun di Irak, pada waktu perang Irak - Iran, AS membantu Irak, tapi sejak Irak berbalik melawan AS maka habislah nasib rezim Saddam Hussein pada tahun 2003. Di Iran, sejak terjadi revolusi Iran yang menggulingkan rezim Pahlevi yang pro-AS, AS berbalik memusuhi Iran. Semua dinamika tersebut dilakukan AS dalam menjaga pengaruhnya di dunia, dan menjaga agar AS menjadi satu-satunya kekuatan utama di dunia ini, baik secara politis, ekonomi ataupun militer.
Melihat 3 faktor utama tersebut diatas, maka dapat diprediksi bahwa negara selanjutnya yang menjadi tujuan invasi AS dan sekutunya adalah negara-negara yang cenderung "melawan" kebijakan AS & sekaligus negara yang kaya dengan minyak bumi, yaitu Iran.
Pilihan saya jatuh ke Iran sebagai negara paling berpotensi diserang oleh AS untuk beberapa waktu kedepan. Kenapa? Karena seperti yang saya jelaskan tadi, Iran adalah salah satu negara yang paling vokal menentang kebijakan-kebijakan agresif AS di seluruh dunia. Kedua, Iran adalah salah satu negara yang banyak menyimpan potensi kekayaan minyak bumi. Ketiga, Iran dianggap belum mempunyai senjata nuklir sehingga collateral damage yang telalu besar dapat terhindarkan. Keempat, interdependensi ekonomi negara-negara timur tengah sangat rendah, dibawah 10%, sehingga instabilitas disalah satu negara timur tengah tidak akan begitu mempengaruhi kondisi ekonomi negara-negara tetangganya, sehingga instabilitas ekonomi regional Timur Tengah (yang mengakibatkan melambungnya harga minyak) dapat terhindarkan.
Kenapa bukan Venezuela? walaupun Venezuela sama-sama negara yang vokal menentang AS dan kaya dengan minyak bumi namun interdependensi Amerika selatan terlalu tinggi. Perang di wilayah tersebut akan menimbulkan ekses negatif ke seluruh wilayah Amerika selatan. AS yang sedang dilanda krisis ekonomi tentu tidak ingin hal ini terjadi.
Lalu kenapa bukan Korea Utara? Jelas menyerang Korea Utara adalah suatu aksi super berbahaya. Korea Utara diperkirakan mempunyai beberapa hulu ledak nuklir berkekuatan besar dan rudal-rudal jelajah jarak jauh yang bahkan bisa mencapai pesisir barat (west coast) AS. Selain itu Korea Utara tidak punya kekayaan minyak bumi (Korut mengimport minyak dari Rusia).
Jadi cukup beralasan mengapa saya memilih Iran sebagai negara yang selanjutnya akan diserang AS dan sekutunya. Terlalu riskan bagi AS untuk membiar Iran makin kuat, baik secara ekonomi atau militer....
No comments:
Post a Comment