Komodo Vs. Papua

Akhirnya selesai sudah proses voting via sms untuk memilih 7 keajaiban dunia baru versi organisasi New7wonders. Komodo untuk sementara ini (13 November 2011) meraih urutan pertama dalam jumlah voting. Namun terlepas dari apakah Komodo menjadi juara atau tidak dalam kompetisi ini, patut diperhatikan betapa promosi/pengiklanan/himbauan untuk memilih begitu heboh di berbagai media. Mulai dari media massa seperti koran & iklan-iklan yang menghimbau masyarakat untuk memilih Komodo via SMS (yang hanya Rp.1,-/sms) hingga socmed (social media) seperti Twitter & Facebook. Bahkan promosi untuk memilih Komodo banyak menyebar via BBM (Blackberry Messenger).

Namun kita lupa, lebih jauh ke arah Timur Indonesia, saudara-saudara kita sesama manusia juga sedang memerlukan dukungan kita semua rakyat Indonesia: mereka adalah rakyat Papua. Rakyat Papua yang selama ini dianaktirikan oleh pemerintah kita sendiri, rakyat Papua yang selama ini dilanggar hak-hak sipilnya, rakyat Papua yang selama ini "dieksploitasi" secara murah baik oleh korporasi asing hingga pemerintah kita sendiri. Namun apakah kita perduli?

Jujur saya belum pernah sekalipun melihat bentuk kepedulian kita (atau paling tidak pemuda-pemuda di lingkungan saya) yang perduli atas masalah Papua. Tidak ada campaign atau publikasi mengenai dukungan untuk rakyat Papua baik itu di Twitter ataupun di Facebook. Dari semua orang yang saya follow di Twitter, hanya sebagian kecil orang (dan itupun bukan kawan saya) yang menyuarakan masalah-masalah di Papua. Justru mereka lebih vokal menyuarakan himbauan untuk mendukung SMS Rp.1,- untuk Komodo. Di Facebook lebih parah, tidak ada satupun friend yang membicarakan masalah Papua samasekali, bahkan untuk statement sederhana saja.

Mungkin yang jadi pertanyaan kita, lebih penting mana antara mendukung Komodo dengan mendukung rakyat Papua? Mari kita bahas satu per satu:

1. Komodo
Komodo adalah spesies unik yang berada di Indonesia, tepatnya di Pulau Komodo NTT. Tidak ada negara lain di dunia yang memiliki spesies Komodo lagi. Dalam komunitas ilmiah asing (terutama Zoology), Komodo dianggap hewan yang sangat penting karena memang satu-satunya di dunia dan jumlah populasinya yang tidak seberapa. Dalam konteks popularitas, Komodo bahkan lebih terkenal diluar negeri sejak belasan (atau bahkan puluhan?) tahun silam, jauh sebelum kita mengenal Komodo. Saya ingat betul ketika masih kelas 3 SD (tahun 1996) 15 tahun silam, saya sering menonton acara dari Discovery Channel Group yang judulnya saya lupa. Yang pasti acara tersebut seringkali membahas mengenai Komodo, paling tidak seminggu sekali (karena memang saya sangat suka melihat acara itu, tidak pernah terlewat setiap harinya). Pada ketika itu, teman-teman saya paling banter hanya tahu tentang Komodo dari gambar di Atlas pada waktu pelajaran IPS.

Pembahasan Komodo oleh Discovery Channel menunjukkan bahwa betapa Komodo ketika itu sudah lebih terkenal di luar ketimbang di dalam negeri kita sendiri. Mengingat Discovery Channel adalah salah satu Channel televisi yang paling banyak ditonton oleh dunia (mencapai lebih dari 50 negara dan lebih dari 100 juta pemirsa), maka saya rasa promosi Komodo pada waktu itupun sudah sangat dahsyat tanpa perlu ikut kompetisi apapun atau membayar uang dalam jumlah berapapun. Selain Discovery Channel coba anda cek ke IMDB.com dan ketik keyword Komodo (atau Comodo), anda akan temukan beberapa film Hollywood yang bercerita tentang Komodo. Ini mempertontonkan kepada kita betapa piciknya kita beranggapan bahwa Komodo tidak terkenal diluar sana.

Tanpa ikut kompetisi New7wonders pun, Komodo sudah sangat terkenal di luar negeri, jauh sebelum rakyat kita kenal Komodo itu sendiri. Kita beranggapan bahwa dengan mengikuti New7wonders Komodo akan terkenal keseluruh dunia, sebuah anggapan yang sebenarnya adalah ekses dari kebodohan kita sendiri. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Pak Jusuf Kalla selaku duta Komodo, saya berpikir bahwa orang-orang yang mendukung Komodo hari ini adalah orang-orang yang tidak pernah menonton Discovery Channel sehingga mereka tidak tahu bahwa ada cara yang jauh lebih efektif dan murah untuk mempromosikan Komodo ke seluruh Dunia ketimbang hanya ikut kompetisi dari New7wonders, sebuah organisasi yang tidak ada apa-apanya ketimbang Discoverry Channel.

Intinya dukungan sms untuk Komodo ini miskin substansi dan nyaris tidak akan membawa pengaruh bagi Komodo ataupun masyarakat yang tinggal disekitarnya.

2. Papua
Sama seperti Komodo, isu Papua ini sudah berkembang sejak puluhan tahun silam. Pelanggaran HAM, ketimpangan ekonomi dan sosial dan eksploitasi dari korporasi asing merupakan masalah klasik dari Papua yang tidak pernah terselesaikan hingga saat ini. Pemerintah pun terkesan asal-asalan dalam menyelesaikan masalah Papua. Kemiskinan dan penderitaan masyarakat Papua seakan bukan isu penting dalam penyelenggaran negara Indonesia.

Kondisi-kondisi tersebut diatas yang mengakibatkan masyarakat Papua sendiri menjadi skeptis terhadap pemerintah Indonesia. Lebih jauh, masyarakat Papua merasa mereka bukan bagian dari NKRI. Bagi kita orang Jawa, Sunda, Bugis, Makassar, Padang, Lampung, Banjar dan lain-lain mungkin sulit membayangkan bagaimana rasanya bukan merupakan bagian dari NKRI karena memang kita telah merasa terintegrasikan dengan Indonesia.

Nihilitas rasa kesatuan sebagai rakyat Indonesia inilah yang mengakibatkan mengapa mereka (rakyat Papua) ingin memerdekakan diri. Selain tidak ada rasanya kesatuan sebagai bangsa Indonesia, opresi dan tekanan militer yang dilakukan pemerintah Indonesia juga menunjang keinginan mereka untuk menciptakan negara sendiri. Eksploitasi tambang berlebihan yang merusak sistem kultur masyarakat Papua oleh sebuah perusahaan asing disana yang dibiarkan oleh pemerintah Indonesia juga semakin memperkuat keinginan untuk lepas dari NKRI.

Parahnya, masyarakat kita yang hidup di Indonesia bagian barat banyak terlihat apatis oleh fenomena di Papua ini, terutama dari kita kaum muda Indonesia. Sangat jarang saya temui obrolan-obrolan pemuda kita yang membicarakan masalah Papua, mulai dari pelanggaran HAM hingga kemiskininan disana.

Dari kedua hal tersebut (Komodo & Papua) yang saya jelaskan diatas, akan tampak mana jenis dukungan yang lebih urgentdibutuhkan. Masyarakat Papua yang tertindas dari berbagai pihak ataukah Komodo yang memang sudah terkenal sejak dulu?

Banyak pemuda (termasuk kawan-kawan saya) yang berdalih bahwa masalah Papua adalah masalah politik dan masalah dukungan Komodo adalah hal yang jauh lebih realis dan murni nasionalisme. Padahal faktanya, Dukungan komodo ini adalah juga urusan politis. Coba anda baca buku-buku S. Gill, J. Bhagwati tentang globalisasi atau baca juga Edwards, M. & Hulme, D tentang transparansi dan agenda NGO, anda akan paham bahwa NGO seperti New7wonders juga punya agenda-agenda politik dibelakangnya atau bahkan dia sendiri (new7wonders) adalah agenda politik. Bahkan kalau dilihat tingkat kompleksitas kerangka berpikirnya, masalah politik di Papua jauh lebih sederhana ketimbang organisasi New7wonders ini. Jadi saya rasa alasan bahwa masalah Papua adalah masalah politik yang lebih kompleks ketimbang memilih Komodo di New7wonders adalah alasan yang tidak dapat diterima (atau mungkin alasan karena ketidaktahuan?).

Namun inti dari tulisan saya disini adalah mengkritisi betapa pragmatisnya anak muda Indonesia dimasa sekarang. Kita mudah percaya apa kata pemerintah, padahal kita tahu pemerintah itu adalah komuniti yang suka berbohong (Ingat ketika kampanye awal pemerintah support terhadap New7wonders, sebelum akhirnya berbalik melawannya). Kita suka ikut arus saja: karena kita dapat BBM banyak yang menyuruh kita mendukung Komodo maka kita juga ikut-ikutan tanpa berani atau tertarik untuk tahu apa dibaliknya. Kita juga tidak (kurang) perduli tentang nasib saudara-saudara kita di Papua sana. Kita disini meributkan Komodo yang sudah terkenal dan hidup tentram disana, sedangkan saudara-saudara sebangsa kita di Papua sana yang hidup menderita justru kita tidak perdulikan. Bisa dibilang, mungkin, rasa kebersamaan kita sebagai manusia (warga Papua) lebih rendah daripada rasa kebersamaan kebinatangan kita (Komodo).

No comments:

Post a Comment