Dari semua keunikan manusia dibanding makhluk hidup lainnya di Bumi, mungkin salah satu yang paling mencolok perbedaannya adalah kemampuan manusia untuk berpikir mengenai asosiasi dirinya dengan suatu bentuk agama tertentu. Lebih mendasar lagi, manusia adalah makhluk unik yang mampu "menciptakan" agama. Tidak seperti hewan yang hidup murni berdasarkan insting-insting dasarnya saja, manusia telah mampu melakukan proses berpikir yang lebih kompleks mengenai eksistensi dirinya, alam semesta dan after-death life.
Mengapa manusia menciptakan agama? atau mungkin lebih tepatnya: Mengapa manusia menciptakan (mempunyai) konsep Tuhan? Bicara tentang alasan mengapa manusia menciptakan maka kita akan membahas ke awal-awal kehidupan manusia purba puluhan/ratusan ribu tahun silam.
Homo neanderthalensis (atau manusia purba lain yang berada dalam 1 zaman dengannya), spesies manusia purba yang secara morfologis dan fisiologis hampir identik dengan manusia modern seperti sekarang ini. Yang menjadi perbedaan adalah bahwa manusia Neanderthal ini tidak mempunyai kecerdasan atau kemampuan untuk berpikir mengenai faktor-faktor deistik. Berdasarkan bukti-bukti arkeologis yang ada, manusia neanderthal tidak mengenal konsep "sang pencipta" atau sosok transenden dalam kehidupan ini. Walaupun demikian, manusia neanderthal telah mengenal perilaku penghormatan untuk orang yang telah meninggal. Bukti-bukti dari adanya upacara untuk menghormati anggota suku yang meninggal telah dikenal pada saat itu.
Berkembang ke fase selanjutnya, yaitu Homo sapiens, atau disebut manusia modern. Pada tingkat ini, otak manusia sudah membesar dan tingkat kecerdasannyapun telah meningkat drastis ketimbang Homo neanderthalensis. Manusia modern, dengan tingkat kecerdasan yang sudah tinggi, mulai berpikir mengenai eksistensinya di dunia: Awal penciptaan, tujuan dan akhir hidupnya telah mulai mampu dipikirkan. Manusia modern juga sudah mulai mampu berpikir mengenai lingkungannya (alam semesta). Dengan kemampuan seperti ini, manusia modern mulai menciptakan sosok transenden untuk menjelaskannya, dan muncullah konsep Tuhan untuk pertama kalinya.
FYI: Ada dua teori yang berkembang menyangkut konsep Tuhan awal dalam sejarah peradaban manusia. Satu teori mengatakan bahwa awal mula kehidupan manusia adalah manusia yang hidup dengan konsep Monotheisme. Teori yang lain mengatakan bahwa awal mula kehidupan manusia adalah manusia dengan konsep animisme-dinamisme. Dalam blog ini saya menggunakan teori yang pertama, yaitu monotheisme karena teori ini menyertakan bukti yang lebih banyak ketimbang teori yang menyebutkan tentang animisme-dinamisme.(ref: Sejarah Para Tuhan, Karen Armstrong)
Manusia ketika itu menciptakan penjelasan mengenai adanya sosok yang transenden (kausalitas utama). Dia mulai berpikir bagaimana dirinya diciptakan, bagaimana lingkungannya tercipta, bagaimana kesadarannya nanti setelah dia mati dan lain sebagainya. Dengan pemikiran-pemikiran filsafat seperti itu, manusia mulai menyadari bahwa ada entitas yang menciptakan dan mengatur dirinya beserta seluruh alam semesta.
Selain itu manusia juga mulai menciptakan konsep Tuhan sebagai perwujudan rasa ketidaktahuan dan rasa lemah atas fenomena di lingkungannya. Hujan, badai, banjir, erupsi gunung berapi, gempa, tsunami, salju dan berbagai kejadian alam lainnya yang tidak dapat dijelaskan oleh pengetahuan manusia kala itu menjadi salah satu alasan mengapa manusia menciptakan entitas Tuhan. Sosok "Tuhan" dalam bayangan mereka adalah sebuah variabel diluar normal (supranatural) yang mampu mengendalikan berbagai hal dengan cara yang tidak bisa dijelaskan melalui nalar mereka. Dengan memiliki Tuhan, maka manusia-manusia purba kala itu telah memiliki tempat berlindung dari rasa takutnya terhadap lingkungannya. Sederhananya, manusia kala itu menciptakan Tuhan karena mereka butuh sosok yang sanggup memberikan rasa aman dan perlindungan dari segala marabahaya.
Tuhan pelindung itu haruslah lebih kuat dari segala makhluk hidup dan lingkungan tempat mereka tinggal. Tuhan awal ini belumlah berasosiasi dengan konsep agama karena orang-orang memujanya dengan cara yang sangat sederhana. Mereka hanya menyebutnya dengan nama unik yang disematkan kepada Tuhan yang mereka puja itu (contoh modern-nya: Allah, Yesus, Yahweh dll), sehingga alih-alih menyebut dirinya umat agama tertentu, mereka menyebut dirinya sendiri dengan sebutan yang berasosiasi dengan nama Tuhan personal langsung (contoh: Hamba Yesus, Hamba Allah dll).
Monotheisme Purba inilah awal dari lahirnya Tuhan yang esa (satu) atau yang lebih familiar dengan sebutan "Monotheisme" yang kita kenal hari ini......
Tuhan pelindung itu haruslah lebih kuat dari segala makhluk hidup dan lingkungan tempat mereka tinggal. Tuhan awal ini belumlah berasosiasi dengan konsep agama karena orang-orang memujanya dengan cara yang sangat sederhana. Mereka hanya menyebutnya dengan nama unik yang disematkan kepada Tuhan yang mereka puja itu (contoh modern-nya: Allah, Yesus, Yahweh dll), sehingga alih-alih menyebut dirinya umat agama tertentu, mereka menyebut dirinya sendiri dengan sebutan yang berasosiasi dengan nama Tuhan personal langsung (contoh: Hamba Yesus, Hamba Allah dll).
Monotheisme Purba inilah awal dari lahirnya Tuhan yang esa (satu) atau yang lebih familiar dengan sebutan "Monotheisme" yang kita kenal hari ini......
Polytheisme
Seiring dengan perkembangan kebudayaan manusia, maka masalah yang dihadapi manusia semakin banyak, kompleks dan rumit. Kompleksitas masalah ini membuat sosok Tuhan yang tunggal tidak lagi dianggap dapat menjadi tempat berlindung bagi manusia. Tuhan yang Esa begitu ekslusif: Sempurna, tanpa cela, tinggi dan mulia sehingga manusia berpikir Tuhan tidak dapat merasakan penderitaan manusia dan menjadi jauh dengan manusia itu sendiri, padahal manusia semakin butuh rasa tenang dari Tuhan karena permasalahan yang semakin kompleks.
Dari perasaan terasing dari sang pencipta itulah, manusia mulai menciptakan "dewa-dewa" kecil. Konsep dewa-dewa ini pada awalnya berbentuk animisme-dinamisme: percaya bahwa roh nenek moyang akan tetap hidup untuk melindungi mereka dan tinggal di tempat-tempat tertentu seperti goa, air terjun, bebatuan dan lain sebagainya. Orang-orang ini menganggap Dewa-dewa kecil ini merupakan manifestasi kekuatan Tuhan utama (Tuhan monotheisme purba) di lingkungan mereka. Analogi sederhananya, Tuhan utama adalah seorang raja dan dewa-dewa kecil adalah adipatinya: mereka lebih dekat dengan rakyat (manusia), lebih berempati - simpati kepada manusia dan lebih paham perasaan dan penderitaan manusia.
Selama ribuan tahun hal ini berlangsung, evolosi agama pun berlangsung. Berangsur-angsur Tuhan utama mulai lenyap eksistensinya dan digantikan oleh dewa-dewa kecil. Perhatikan peradaban-peradaban kuno besar seperti Yunani, Kartago, Romawi, Mesir kuno, Kekaisaran Cina, Macedonia, Persia dan lain sebagainya yang mempunyai bermacam-macam dewa ataupun dewi dalam sistem religinya. Ada dewa laut, dewa bumi, dewa langit, dewa api, dewa perang, dewa keberuntungan dan berbagai macam dewa-dewi lain yang terspesifikasi dalam bidang-bidang tertentu. Pada masa kejayaannya, era Polytheisme ini telah melahirkan sebuah agama Polytheistik yang terus bertahan hingga hari ini dan merupakan agama dengan jumlah pemeluk terbesar nomor 4 di dunia, agama Hindu.
Hagemoni Polytheisme dalam sejarah dunia berlangsung cukup lama. Menurut catatan sejarah, masa-masa emas Polytheisme berlangsung dari 6000 tahun SM sampai turunnya agama Yahudi sekitar 1000 tahun SM (walaupun sebenarnya Yahudi pada ketika itu masih bisa bisa dikategorikan sebagai Sub-Monotheisme karena pada awal perkembangannya, Yahweh adalah dewa dari para dewa). Suburnya pertumbuhan Polytheisme bukan tanpa alasan: Peradaban manusia ketika itu maju begitu pesatnya. Negara-Kota tumbuh subur diseluruh bagian bumi, terutama di wilayah Timur tengah. Majunya peradaban dan teknologi membuat permasalahan, baik itu dalam level individu ataupun komunitas semakin beragam dan kompleks. Dalam konteks komunitas, permasalahan yang tadinya (sebelum memasuki era-sejarah) hanya seputar bagaimana mencari tempat tinggal dan sumber makanan berkembang ke arah permasalahan ekonomi lokal, perdagangan dengan bangsa asing, politik, militer dan lain sebagainya. Dengan permasalahan-permasalahan tersebut, Tuhan yang tunggal dirasa kurang bisa "menenangkan" manusia, jadi terciptalah Tuhan-tuhan yang berkonsentrasi di suatu bidang saja. Tujuannya adalah supaya manusia dapat memohon suatu hal secara spesifik kepada Tuhan (dewa) yang spesifik juga. Contoh: ketika terjadi gempa bumi maka manusia dapat berdoa dan memohon perlindungan kepada dewa bumi. Ketika dalam keadaan berperang, manusia dapat berdoa dan memohon perlindungan kepada dewa perang. Jadi sederhananya, manusia dapat memilih dewa/Tuhan apa yang dimintai perlindungan.
Monotheisme
Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, alih-alih menciptakan dewa-dewi yang lebih banyak lagi, manusia mulai mereduksi jumlah Tuhan (Dewa) nya. Hal ini dikarenakan manusia telah mengenal ilmu pengetahuan yang lebih modern dan telah dapat menjelaskan berbagai fenomena yang tadinya dianggap ghaib. Dengan kemampuan tersebut, maka rasa ketergantungan manusia terhadap faktor transenden yang ghaib (Tuhan/Dewa) semakin berkurang dan jumlah Tuha/Dewa yang tadinya banyak (Polytheist) semakin menyusut dan muncullah Tuhan yang Esa (Monotheist).
Masa kejayaan Monotheisme adalah saat mulai turunnya agama Yahudi, Kristen dan Islam (Agama Samawi) atau juga terkenal dengan sebutan agama Ibrahim (Abrahamic Religions). Dikatakan sebagai Agama Ibrahim adalah karena Ibrahim dianggap sebagai bapak dari konsep ke-esa-an Tuhan. Seribu delapan ratus tahun sebelum masehi, Ibrahim mengajarkan kemanunggalan Tuhan untuk pertama kalinya, dan lahirlah agama Yahudi. Sebagai agama modern pertama yang mengadopsi konsep Tuhan yang satu, Yahweh (Tuhan Yahudi) masih dianggap Tuhan dari para Dewa-dewa, yang artinya mereka masih percaya pada bentuk Tuhan-tuhan kecil selain Yahweh.
Ketergantungan manusia terhadap Tuhan terkait ketenangan batin juga telah dapat disubstitusikan oleh ilmu Psikologi. Sedikit banyak psikologi telah menggantikan peran ilahiah (Ketuhanan) dalam menciptakan rasa aman, tentram dan tenang bagi umat manusia. Dengan rasa ketergantungan yang berkurang itu pula manusia merasa "tidak perlu" menciptakan Tuhan-tuhan kecil ribuan tahun setelah agama Abrahamic pertama muncul.
Tuhan yang esa (dan sempurna) muncul karena manusia telah merasa Tuhan-tuhan kecil terlalu bersifat manusiawi, sehingga alih-alih melindungi dan menentramkan manusia, dewa-dewa itu malah cenderung memanfaatkan kekuataannya untuk memenuhi hawa nafsunya dan merugikan manusia (baca cerita-cerita mitologi). Hasrat manusia yang menginginkan sosok transendental yang maha sempurna dan ideal mulai menghapuskan dewa-dewi kecil yang penuh kesalahan itu, dan lahirlah "kembali" Tuhan yang satu, Tuhan yang ekslusif dari segala kehidupan manusia, Tuhan yang maha berkuasa.
Inti pertanyaan awal kita tadi, yaitu mengapa manusia mempunyai sekaligus berpikir mengenai Tuhan? Jawabannya telah saya tuliskan diatas, tergantung konsep Tuhan apa yang anda pertanyakan: Polytheisme atau Monotheisme kah?
Dari perasaan terasing dari sang pencipta itulah, manusia mulai menciptakan "dewa-dewa" kecil. Konsep dewa-dewa ini pada awalnya berbentuk animisme-dinamisme: percaya bahwa roh nenek moyang akan tetap hidup untuk melindungi mereka dan tinggal di tempat-tempat tertentu seperti goa, air terjun, bebatuan dan lain sebagainya. Orang-orang ini menganggap Dewa-dewa kecil ini merupakan manifestasi kekuatan Tuhan utama (Tuhan monotheisme purba) di lingkungan mereka. Analogi sederhananya, Tuhan utama adalah seorang raja dan dewa-dewa kecil adalah adipatinya: mereka lebih dekat dengan rakyat (manusia), lebih berempati - simpati kepada manusia dan lebih paham perasaan dan penderitaan manusia.
Selama ribuan tahun hal ini berlangsung, evolosi agama pun berlangsung. Berangsur-angsur Tuhan utama mulai lenyap eksistensinya dan digantikan oleh dewa-dewa kecil. Perhatikan peradaban-peradaban kuno besar seperti Yunani, Kartago, Romawi, Mesir kuno, Kekaisaran Cina, Macedonia, Persia dan lain sebagainya yang mempunyai bermacam-macam dewa ataupun dewi dalam sistem religinya. Ada dewa laut, dewa bumi, dewa langit, dewa api, dewa perang, dewa keberuntungan dan berbagai macam dewa-dewi lain yang terspesifikasi dalam bidang-bidang tertentu. Pada masa kejayaannya, era Polytheisme ini telah melahirkan sebuah agama Polytheistik yang terus bertahan hingga hari ini dan merupakan agama dengan jumlah pemeluk terbesar nomor 4 di dunia, agama Hindu.
Hagemoni Polytheisme dalam sejarah dunia berlangsung cukup lama. Menurut catatan sejarah, masa-masa emas Polytheisme berlangsung dari 6000 tahun SM sampai turunnya agama Yahudi sekitar 1000 tahun SM (walaupun sebenarnya Yahudi pada ketika itu masih bisa bisa dikategorikan sebagai Sub-Monotheisme karena pada awal perkembangannya, Yahweh adalah dewa dari para dewa). Suburnya pertumbuhan Polytheisme bukan tanpa alasan: Peradaban manusia ketika itu maju begitu pesatnya. Negara-Kota tumbuh subur diseluruh bagian bumi, terutama di wilayah Timur tengah. Majunya peradaban dan teknologi membuat permasalahan, baik itu dalam level individu ataupun komunitas semakin beragam dan kompleks. Dalam konteks komunitas, permasalahan yang tadinya (sebelum memasuki era-sejarah) hanya seputar bagaimana mencari tempat tinggal dan sumber makanan berkembang ke arah permasalahan ekonomi lokal, perdagangan dengan bangsa asing, politik, militer dan lain sebagainya. Dengan permasalahan-permasalahan tersebut, Tuhan yang tunggal dirasa kurang bisa "menenangkan" manusia, jadi terciptalah Tuhan-tuhan yang berkonsentrasi di suatu bidang saja. Tujuannya adalah supaya manusia dapat memohon suatu hal secara spesifik kepada Tuhan (dewa) yang spesifik juga. Contoh: ketika terjadi gempa bumi maka manusia dapat berdoa dan memohon perlindungan kepada dewa bumi. Ketika dalam keadaan berperang, manusia dapat berdoa dan memohon perlindungan kepada dewa perang. Jadi sederhananya, manusia dapat memilih dewa/Tuhan apa yang dimintai perlindungan.
Monotheisme
Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, alih-alih menciptakan dewa-dewi yang lebih banyak lagi, manusia mulai mereduksi jumlah Tuhan (Dewa) nya. Hal ini dikarenakan manusia telah mengenal ilmu pengetahuan yang lebih modern dan telah dapat menjelaskan berbagai fenomena yang tadinya dianggap ghaib. Dengan kemampuan tersebut, maka rasa ketergantungan manusia terhadap faktor transenden yang ghaib (Tuhan/Dewa) semakin berkurang dan jumlah Tuha/Dewa yang tadinya banyak (Polytheist) semakin menyusut dan muncullah Tuhan yang Esa (Monotheist).
Masa kejayaan Monotheisme adalah saat mulai turunnya agama Yahudi, Kristen dan Islam (Agama Samawi) atau juga terkenal dengan sebutan agama Ibrahim (Abrahamic Religions). Dikatakan sebagai Agama Ibrahim adalah karena Ibrahim dianggap sebagai bapak dari konsep ke-esa-an Tuhan. Seribu delapan ratus tahun sebelum masehi, Ibrahim mengajarkan kemanunggalan Tuhan untuk pertama kalinya, dan lahirlah agama Yahudi. Sebagai agama modern pertama yang mengadopsi konsep Tuhan yang satu, Yahweh (Tuhan Yahudi) masih dianggap Tuhan dari para Dewa-dewa, yang artinya mereka masih percaya pada bentuk Tuhan-tuhan kecil selain Yahweh.
Ketergantungan manusia terhadap Tuhan terkait ketenangan batin juga telah dapat disubstitusikan oleh ilmu Psikologi. Sedikit banyak psikologi telah menggantikan peran ilahiah (Ketuhanan) dalam menciptakan rasa aman, tentram dan tenang bagi umat manusia. Dengan rasa ketergantungan yang berkurang itu pula manusia merasa "tidak perlu" menciptakan Tuhan-tuhan kecil ribuan tahun setelah agama Abrahamic pertama muncul.
Tuhan yang esa (dan sempurna) muncul karena manusia telah merasa Tuhan-tuhan kecil terlalu bersifat manusiawi, sehingga alih-alih melindungi dan menentramkan manusia, dewa-dewa itu malah cenderung memanfaatkan kekuataannya untuk memenuhi hawa nafsunya dan merugikan manusia (baca cerita-cerita mitologi). Hasrat manusia yang menginginkan sosok transendental yang maha sempurna dan ideal mulai menghapuskan dewa-dewi kecil yang penuh kesalahan itu, dan lahirlah "kembali" Tuhan yang satu, Tuhan yang ekslusif dari segala kehidupan manusia, Tuhan yang maha berkuasa.
Inti pertanyaan awal kita tadi, yaitu mengapa manusia mempunyai sekaligus berpikir mengenai Tuhan? Jawabannya telah saya tuliskan diatas, tergantung konsep Tuhan apa yang anda pertanyakan: Polytheisme atau Monotheisme kah?
No comments:
Post a Comment