Sebelumnya tanpa bermaksud membela pemerintah ataupun meremehkan penderitaan rakyat kecil (karena saya bukan pendukung SBY dan saya juga bagian dari rakyat kecil), pembenaran saya terhadap kenaikan BBM menjadi Rp. 6000 adalah murni karena hitung-hitungan ekonomi berdasarkan data yang diberikan oleh oleh pemerintah di media (wallahu alam kalau data itu bohong atau palsu).
Uang negara dalam bentuk APBN bisa dihemat (katanya) sebesar Rp. 137 Trilyun/per tahun jika BBM naik menjadi Rp. 6000/liter (premium). Banyak argumen diluar sana yang mengatakan bahwa 137 Trilyun per tahun adalah angka yang sangat kecil bila dibandingkan dengan potensi-potensi lain seperti pajak rokok atau perampingan birokrasi yang bila benar-benar terpenuhi akan mencapai angka jauh diatas 137 trilyun/tahun. Atau ada juga yang berargumen bahwa pengembang energi alternatif seperti solar panel (energi masa depan) atau BBG (Bahan Bakar Gas) yang bersifat mandiri bisa jadi pemecah kebuntuan untuk krisis energi ini. Namun bagaimanapun, bagi saya pribad, hal-hal alternatif tersebut diatas adalah tujuan jangka panjang atau paling tidak belum bisa dilakukan sesegera mungkin.
Contoh pajak rokok. Bila pajak rokok katakanlah kita naikkan 100% agar bisa mencapai angka lebih 137 trilyun/tahun, maka kemungkinan besar perusahaan rokok menengah kebawah akan gulung tikar dan menyebabkan meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia. Sedangkan energi alternatif seperti solar panel tampaknya masih sangat jauh dari harapan kita bangsa Indonesia. Dan yang terakhir, yaitu solusi BBG: selama kita masih belum bisa (atau tidak mau) memproduksi Mobil Nasional maka selama itu juga BBG tidak bisa dimanfaatkan menjadi mesin penggerak otomotif di Indonesia karena mobil import yang masuk ke Indonesia belum ada yang memanfaatkan gas sebagai bahan bakarnya.
Sedangkan dalam menyikapi kenaikan harga minyak bumi yang diakibatkan oleh ketegangan di Timteng dan eskalasi ketegangan hubungan Cina - AS di Asia Timur diperlukan suatu respon yang bersifat cepat. Kenaikan BBM adalah solusi "instant" yang dapat menutupi beban APBN atas subsidi BBM. Walaupun dari rasa kemanusiaan saya tidak tega bila harga BBM naik dan juga dari perspektif pribadi saya akan sangat mengalami kesulitan bila harga BBM naik. Beban APBN yang berkurang ini diharapkan dapat digunakan untuk membangun sarana dan prasarana umum seperti sekolah, jalan raya, jembatan, puskesmas dan lain-lain (dengan asumsi Zero-sum Game).
Jadi intinya untuk tahun ini, bulan ini dan dengan kondisi global saat ini, saya menyetujui kenaikan harga BBM secepat mungkin.

No comments:
Post a Comment