Beberapa hari belakangan ini saya sering "diusik" oleh berbagai macam argumen yang berseliweran di dunia maya, baik itu twitter, facebook, media online atau apapun itu yang bisa diakses dari internet berkaitan dengan ide Irshad Manji yang kontroversial (setidaknya bagi mainstream rakyat Indonesia), perilaku FPI yang berangasan dan peran negara yang sepertinya tidak lagi berdaulat atas kondisi internalnya sendiri. Argumen-argumen yang berseliweran di ranah maya itu, seperti biasa, ada yang ilmiah tapi juga ada yang hominem atau bahkan ada yang bernada menghina. Dengan kondisi-kondisi tersebut, maka akhirnya kini saya sudah "tidak tahan" lagi untuk tidak mengomentari bagaimana pandangan saya terhadap pemikiran Irshad Manji.
IRSHAD MANJI
Pertama-tama saya akan membahas mengenai Irshad Manji itu sendiri, yang juga mungkin akan menjadi cerita terpanjang dalam tulisan ini. Bagi saya pribadi, buku Irshad Manji yang berjudul "The Problem with Islam Today" samasekali tidak ada pertanggungjawaban ilmiahnya. Buku ini hanya sebuah buku "cerita" seperti Alice in Wonderland, Harry Potter and The Chamber of Secret, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck atau bahkan kalau ingin kita perbandingkan dengan buku non-fiksi lain maka buku Irshad Manji ini sama saja dengan buku Mein Kampf nya Adolf Hitler: Tidak ada dasar ilmiahnya. Komparasi yang dilakukan Manji terhadap Muhammad dengan Osama Bin Laden samasekali tidak berdasar, bahkan analisa historisnya begitu tendensius. Sebagai seorang penulis buku non-fiksi yang mendunia, seharusnya Irshad Manji mampu melakukan dialektika dalam bukunya alih-alih hanya ber"kampanye" dengan satu pemahaman saja. Contoh, Manji mempermasalahkan ketaatan yang dituntut dari seorang muslim kepada Tuhannya yang dibawa oleh Muhammad, yang menurut argumen dia: membatasi kebebasan manusia dalam berpikir.
Manji menerjemahkan ketaatan Muhammad sebagai bentuk dari rendahnya free-will atau kebebasan atas diri sendiri. Menurut Manji, manusia adalah makhluk merdeka yang bahkan punya kemerdekaan atas Tuhannya sendiri. Interpretasi tekstual terhadap Quran dan hadis Muhammad yang berkaitan dengan pembatasan terhadap free-will dilihat Manji sebagai sebuah "Masalah" dalam Islam. Islam dilihat sebagai sebuah ide yang membatasi kebebasan manusia, sehingga harus dilakukan reformasi. Dia melihat Islam membatasi manusia melalui fatwa "wakil Tuhan" terkait hal-hal peran wanita, kebebasan bicara, kritik dan lain sebagainya. Lebih jauh, dia juga mempersalahkan Muhammad sebagai aktor yang memposisikan wanita sebagai kelompok yang tertindas dalam Islam.
Ide awalnya itu cukup baik untuk dipertimbangkan, tapi sayangnya, Manji hanya melihatnya dari sisi pribadi dia sendiri: Dia melihat dari perspektif ketimur-tengahan yang menjadi landasan idenya. Dia tidak memperlebar wawasannya atau subjek analisanya objektifnya (thesis-anti thesis) ke wilayah Islam lain, seperti Indonesia atau Muslim Inggris contohnya. Kalaupun dia ambil contoh dari wilayah lain, dia hanya mengambil contoh yang mendukung argumennya, bukannya contoh yang dapat menguji argumennya sendiri (contoh: kenapa dia ambil contoh muslim Nigeria untuk menjelaskan masalah perbudakan muslim alih-alih Muslim Indonesia yang jelas menjadi indikator Muslim dunia: Hillary Clinton, 2010). Bahayanya, dengan perspektif yang menyempit ini, dia menggeneralisasikannya seakan-akan itulah yang terjadi pada seluruh muslim di dunia. Dia juga lupa mempertimbangkan faktor waktu yang mana menjadi determinan penting dalam menganalisa sebuah ideologi tua. Dia tidak mempertimbangkan negara Madinah, Kekhalifahan Ustmani dan Mekkah pasca okupasi Islam: Dia berkesimpulan dari sekolahnya, keluarga dan desanya dalam dimensi waktunya sendiri lalu menggeneralisasikannya untuk masyarakat global dalam rentang waktu yang bahkan tidak dia jelaskan dalam bukunya. Manji terlalu menyederhanakan Islam sebagai sebuah sistem sosial yang juga dapat berasimilasi dan berevolusi dengan sistem sosial lainnya.
Ide Manji terkait keterbatasan kebebasan manusia akibat Islam ini akan coba saya ujikan dalam argumen sebagai berikut. Manusia adalah sebuah entitas yang tidak berdiri sendiri: Manusia terciptakan (tidak perduli oleh Tuhan atau Mother Nature nya evolusionist), Manusia berinteraksi dengan alam dan manusia lain, manusia berkorelasi dengan alam semesta, manusia adalah unsur jagad raya. Manusia tidak dapat berdiri sendiri: unsur-unsur yang membentuk kesadaran manusia adalah unsur-unsur yang bersumber dari alam semesta. Maka dari itu, sifat manusia tidak mungkin merdeka 100% dari hal-hal lain yang membentuk kesadarannya.
Dengan pertimbangan bahwa kesadaran manusia "terciptakan" (tidak timbul secara kebetulan,tapi karena suatu keteraturan timbul akibat keteraturan yang mengaturnya), maka manusia merupakan bentuk kesadaran yang merupakan hasil kerja keteraturan yang lain, yang selanjutnya akan saya sebut dengan keteraturan super. Sebagai keteraturan yang merupakan hasil ciptaan keteraturan super, manusia secara moral, layaknya "berhutang budi" kepada keteraturan super yang telah mengatur partikel-partikel dalam alam agar menjadi bentuk kita sekarang ini. Kalaupun anda seorang evolusionis yang tidak percaya pada teori penciptaan, itu juga tidak masalah: Hutang budi kaum evolusionis ditujukkan kepada alam semesta yang telah secara kebetulan menciptakan kesadaran dirinya.
Contoh dari ide hutang budi yang masuk kedalam isu kontemporer adalah pemeliharaan lingkungan. Berkaca dari pengalaman manusia di masa-masa terdahulu yang sangat merusak lingkungan, sekarang muncul kesadaran dalam manusia untuk memulai gerakan yang menjaga lingkungan. Eksistensi manusia yang terciptakan dari alam membuat manusia juga merasakan kerugian saat alam dirusak. Singkatnya, kita adalah bagian dari alam, sehingga saat alam dirusak maka kitapun juga akan "rusak". Dengan perilaku kita yang bertujuan menjaga alam, maka kebebasan diri kita pun juga pun berkurang. Dulu mungkin kita dapat mengeksploitasi air bersih sesuka hati kita tanpa batas, tapi kini kita mulai membatasi diri dalam penggunaan air bersih. Dulu mungkin kita dapat menebang pepohonan dengan bebasnya untuk dijadikan rumah atau kayu bakar, tapi kini kita membatasi diri kita sendiri untuk mulai menghemat kayu.
Pembatasan diri yang tersebut diatas itulah yang juga diadopsi dalam perspektif Islam. Allah (Tuhan) dilihat sebagai sebuah hal yang mempengaruhi kehidupan manusia (sebagai pencipta keteraturan), maka sudah seharusnya manusia "membalas budi" Allah dengan cara "menjaga" ajaranNya. Atau supaya lebih mudahnya kita analogikan seperti ini: Islam melihat Allah (sebagai keteraturan super) mempunyai hak untuk mengatur keteraturan dibawahnya. Dia dilihat sebagai sebuah manager yang punya hak untuk mengatur kewajiban, peran dan posisi anak buah atau ciptaannya. Sebagai manager, Allah punya hak untuk mengatur kebebasan anak buahnya, persis seperti kita dikantor. Sebagai manager, Allah memberikan hak kepada kita untuk berpikir dan berinovasi demi kemajuan "perusahaan" (umat manusia). Sedangkan Sebagai bawahan, selain terdapat peraturan formal untuk menghormati atasan, terdapat juga beban moral untuk menghormati sang manager. Kita juga wajib menaati aturan-aturan yang dibuat manager sebagai bentuk balas budi upah yang manager telah berikan kepada kita.
Perlu dicatat bahwa kebebasan mutlak berbeda dengan kebebasan: kebebasan mutlak adalah saat kita melepaskan diri dari semua perangkat yang berafiliasi dengan kita: agama, moral, budaya, pengalaman, etika, ilmu pengetahuan dan lain-lain. Sedangkan kebebasan adalah kondisi dimana kita bisa melakukan hal-hal yang kita inginkan tapi tetap sesuai dengan koridor hal-hal yang berafiliasi dengan kita seperti agama, moral, budaya, etika, pengalaman dan iptek. Bagaimana cara memisahkan antara kebebasan absolut dengan kebebasan? Prinsipnya mudah saja: dengan proses dialektika ilmiah. Selama masih berada dalam koridor keilmiahan maka iptek itu sendiri pada akhirnya akan menunjukkan perbedaan antara kebebasan absolut dengan kebebasan. Dengan kondisi buku yang tidak ilmiah ini otomatis memposisikan argumen Manji dalam twilight zone: tidak jelas apakah apakah ini kebebasan atau kebebasan mutlak.
Dalam tingkat analisanya yang bersumber pada Quran Manji pun melakukan kesalahan. Manji memotong-motong ayat Quran persis seperti Media memotong-motong pidato Marzuki Alie mengenai PTN. Dia melakukan analisa teks alih-alih analisa kontekstual. Quran dan hadis adalah dua substansi yang saling mendukung, Quran adalah garis besar dan Hadis adalah detailnya. Bahkan antar ayat dalam Quran pun tidak bisa dianalisa kata per kata, atau kalimat perkalimat karena saling berkorelasi. Tapi Manji dengan gamblangnya memaparkan dalam bukunya tentang kejamnya Quran, seperti kutipan ayat tentang perbudakan, peperangan dan lain-lain yang sifatnya parsial. Paradoxnya, sebelum dia menjustifikasi kekejaman ayat-ayat Quran dia sendiri menulis bahwa Quran adalah ayat yang kompleks baik dari segi bahasa ataupun relevansi antar ayat, sehingga mustahil bagi sebagian orang untuk mampu memahami Quran dalam waktu yang cepat, termasuk dia sendiri. Ketidak-konsekuenan ini sudah mengurangi kadar keilmiahan dari sosok Manji itu sendiri. Teks Quran yang dia analisapun tidak jelas terjemahan siapa (yang mana ini menyulitkan saya melakukan verifikasi). Singkatnya, Manji meninterpretasikan teks Quran persis sama seperti seorang Osama Bin Laden menginterpretasikan teks Quran
Kesimpulannya, kebebasan mutlak yang diidamkan Manji adalah hal yang terlalu muluk-muluk. Kita bukan sebuah materi yang berdiri sendiri di alam semesta. Kita saling berkorelasi, baik itu dengan alam semesta atau dengan keteraturan super. Korelasi itu membentuk hubungan transaksional sebagai konsekuensi logis dari eksistensi kita yang merupakan unsur dari jagad raya. Dari cara penulisan juga layak dikritik bahwa Manji melihat kebebasan yang terkooptasikan antara Pria dan Wanita adalah salah Islam alih-alih budaya tempat dimana Islam itu berkembang. Dia mereformasi jauh dalam akarnya, merubah dasar akidah Islam dalam rangka meraih kebebasan yang sebenarnya apa yang dia cari itu sudah tersedia di depan matanya sejak 1400 tahun lalu. Pemikiran Manji bersifat kritis dan itu adalah hal baik dalam perkembangan sains, tapi dia tidak cukup terbuka untuk menerima fakta di luar lingkungannya atau diluar lingkungan yang dia inginkan. Metode penelitiannya pun nihil: dia melakukan hipotesa tanpa mengujinya, kalaupun dia mengujinya itupun hanya berdasarkan pengalamannya yang sangat terbatas. Dia juga tidak melakukan pengujian atas argumen-argumen pakar lainnya, yang menurut saya justru memperlemah argumen Manji sendiri. Analisanya pun cacat: Generalisasi, asumsi, miskinnya variabel yang dia masukkan dalam analisa dan kalimat-kalimat justifikasi tendensius (yang hampir saya selalu temukan setiap halaman) adalah kesalahan-kesalahan fatal dalam pembuatan buku non-fiksi. Kalimatnya pun paradoxial: disatu halaman dia berkata bahwa Quran kaya makna dan rumit dalam pemahamannya (karena bahasa Arab memang sangat kompleks), tapi dalam halaman lain dia melakukan justifikasi dalam beberapa ayat Quran tanpa mempertimbangan interpretasi alternatifnya dan tanpa proses dialektis. Dari kelemahan-kelemahan ini, saya berkesimpulan bahwa buku Irshad Manji adalah buku tidak layak baca bagi kritikus Islam sekalipun yang perduli pada metode keilmuan, bahkan buku ini tidak layak dikaji oleh Civitas akademika. Masih banyak buku terbitan luar diluar sana yang lebih objektif dan ilmiah dalam mengkritik Islam atau agama lain tanpa ada tendensi (silahkan kunjungi perpustakaan UIN).
Tapi tetap ada beberapa hal yang saya sukai dari buku tersebut. Paling tidak buku tersebut secara implisit menunjukkan kepada kita bahwa daya kritis itu harus dimiliki oleh setiap orang kepada setiap hal, termasuk agama sekalipun. Keimanan kita kepada agama tidak boleh hanya taken for granted atau ditelan mentah-mentah, tapi juga harus melalui proses berpikir yang logis. Dalam hal ini, saya sepemikiran dengan Manji bahkan sebelum saya mengenal siapa Irshad Manji itu.
Tulisan ini sebenarnya pada awalnya berjudul "Irshad Manji, FPI, dan Negara Indonesia" yang ingin menuliskan 3 komponen dalam konflik di Salihara beberapa waktu lalu. Tapi karena saya menemukan hipotesa baru saat sedang menulis ini terkait FPI dan Negara (yang mana sebelumnya tidak terpikirkan samasekali oleh saya dan sangat berlawanan dengan berlawanan dengan ide baru ini), maka tulisan tentang 2 hal tersebut terpaksa saya tunda untuk di post kan dilain waktu.
No comments:
Post a Comment