Kereta Api Dan Repotnya Jadi Rakyat Kecil

Pada saat siang hari
Dua hari belakangan ini, yaitu Minggu 1 Juli dan Selasa 3 Juli hidup saya banyak diwarnai dengan berdesak-desakkan di St. Pasar Senen. Berdesakan hanya mendapatkan 6 buah lembar tiket kereta menuju Surabaya dan pulang kembali ke Jakarta untuk liburan pasca lebaran bulan Agustus nanti. Pada hari Minggu itu saya mengantri sendirian dari pukul 3 pagi hingga akhirnya tiket bisa saya dapatkan pukul 14.10 siang hari dengan total lama antrian sekitar 11,5 jam. Pada hari Selasa kemarin, kawan saya mengantri dari pukul 15.00 sore sebelum akhirnya mendapat tiket pada pukul 21.00 malam (saya menggantikannya mengantri hanya sekitar 1 jam).

Dari 2 hari yang luar biasa itu, saya memperhatikan banyak pelajaran berharga dan kejadian unik yang saya belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Melihat lautan manusia mengantri hingga sepanjang seratusan meter sebanyak 10 saf lebih adalah bukan sebuah pemandangan yang tidak bisa temui setiap hari. Pria wanita bercampur baur menjadi, tidak perduli ras dan agama lagi. Panasnya siang dan dinginnya malam seakan terabaikan begitu saja demi mendapatkan lembaran tiket yang maksimal berjumlah 4 tiket per orang itu. Kelas yang kami perebutkan adalah kelas ekonomi, sebuah kasta terendah dalam tingkatan kelas perkeretaapian Indonesia. Untuk kelas lain yang lebih mahal seperti Bisnis dan Eksekutif relatif lebih nyaman karena bisa dibeli secara online atau di Indomaret/Alfamart.

Apakah memang menjadi sebuah postulat bahwa orang miskin atau orang pas-pasan seperti saya ini ditakdirkan untuk hidup sulit, bahkan mungkin dipersulit untuk mengakses suatu alat transportasi? Khusus untuk dunia perkeretaapian di Indonesia, jadwal dan ongkos kereta kelas ekonomi saja tidak dimasukkan ke website resmi PT. KAI, yang mana membuat saya harus bergerilya berjam-jam mengumpulkan data-data terupdate tentang jadwal kereta ekonomi di Internet. Padahal apa sulitnya memasukkan informasi jadwal dan ongkos kereta ekonomi kedalam website sih?, saya saja yang anak ingusan dalam dunia website saja bisa melakukan hal itu dalam waktu tidak sampai sehari (tentu saja kalau PT. KAI memintanya).

PT. KAI pun sangat diskriminatif dalam distribusi tiket KA ekonomi. Disaat tiket bisnis, ekonomi AC dan eksekutif disebar dipenjuru Jawa melalui franchise Indomaret, Alfamart dan beberapa online ticketing lainnya, hanya ekonomi sendiri yang "memaksa" penumpangnya untuk mengantri seharian demi 4 lembar tiket (maksimal). Antriannya pun tidak manusiawi: antri paling cepat adalah 4 jam, itupun harus dilakukan tengah malam hingga subuh. Kalau siang hari bisa lebih parah lagi, 6 jam lebih. Atau seperti yang saya alami sendiri yaitu 10 Jam dari pagi hingga sore.

Antrian Malam
Mungkin bagi pengurus PT. KAI sudah menjadi resiko bagi orang miskin untuk hidup sulit. Tapi nanti dahulu, apakah semua penumpang ekonomi adalah orang berkemampuan ekonomi rendah? Nyatanya tidak. Banyak penumpang kelas ekonomi, termasuk kawan-kawan saya yang termasuk orang kaya ternyata yang juga suka menggunakan kelas ekonomi. Alasannya terdengar klise namun masuk akal: dengan kelas ekonomi perjalanan akan lebih terasa ketimbang naik eksekutif atau bisnis bahkan pesawat. Saya sendiri secara pribadi dari kecil dulu sudah lebih suka memakai ekonomi ketimbang bisnis, apalagi eksekutif atau pesawat...that's a big NO!. Bagiku pesawat atau kereta eksekutif adalah wahana hanya untuk mereka yang terburu-terburu atau untuk orang tua yang sudah terlalu lemah berjibaku dalam panas dan dinginnya kereta ekonomi.

Generalisasi PT. KAI bahwa konsumen kelas ekonomi adalah orang kelas bawah yang tidak paham atau tidak mempunyai akses untuk melakukan reservasi online adalah sebuah kesalahan yang berakibat pada kebijakan tidak manusiawi seperti yang saya rasakan kemarin itu. Orang, tidak perduli berangkat hari apa (tidak harus masa lebaran), ditumpuk menjadi satu dengan mereka yang ingin mudik lebaran. Mungkin PT. KAI berpikir bahwa tidak perduli berapapun tanggalnya, pokoknya kalau ekonomi ya sudah menjadi kodratnya untuk antri berjam-jam.

Ah entahlah apa yang ada dipikiran PT. KAI, yang penting bagi saya sekarang adalah sudah mendapatkan tiket pulang pergi untuk wisata ke Bromo dan Jogja akhir Agustus. Mengharap PT. KAI akan berbenah diri, khususnya dalam memanusiakan penumpang ekonomi tampaknya masih jauh dari panggang, betulkah begitu?

No comments:

Post a Comment