Paradigma Ngawur Tentang Kritik

Perlu kita akui bersama bahwa Indonesia adalah sebuah negara muda yang masih dalam proses pendewasaan diri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam suasana yang egaliter dan demokratis. Sebelumnya, Indonesia adalah sebuah bangsa primordial yang menjunjung tinggi nilai-nilai feodalisme yang ketat. Karakteristik feodalisme itu salah satu nya adalah anti-kritik, dimana seorang pemimpin, tetua atau orang yang dianggap lebih tua/lebih mulia adalah selalu benar dan bawahan/yang lebih muda selalu salah, sehingga tidak dibenarkan untuk mengeluarkan kritik. Dalam masyarakat feodal seperti Indonesia, kritik seringkali diterjemahkan sebagai penghinaan, meremehkan, kurang ajar, tidak menghormati dan simbol ketidaksukaan.

Paradigma negatif tentang kritik ini terbawa dalam masyarakat Indonesia mulai dari level keluarga hingga negara. Di keluarga contohnya, orang tua tidak terima bila dikritik oleh anaknya. Seorang kakak tidak terima bila dikritik oleh adiknya. Umumnya pelanggaran atas hal tersebut akan membuat si pengkritik akan dicap kurang ajar, tidak mengerti sopan santun atau durhaka. Dalam level negara juga sama saja, adat feodal ini masih terasa sangat kental. Adagium demokrasi dimana seorang pemimpin adalah pelayan rakyat ternyata hanya sampai di ucapan belaka. Di lapangan, pemimpin masih merupakan raja/ratu yang dijunjung sangat tinggi dan serba tahu dimana rakyat dianggap pihak yang tidak tahu apapun. Kritik terhadap pemimpin seringkali terinterpretasikan subjektif sebagai format ketidaksukaan dan penghinaan.

Paradigma inilah yang seharusnya dibuang jauh-jauh dari pemikiran kita semua. Kritik adalah bentuk kepedulian kita terhadap kebenaran. Kritik bukan berarti benci, tapi karena perduli dengan kesalahan yang dilakukan oleh seseorang. Kritik adalah bentuk koreksi terhadap ketidakbenaran yang berusaha menciptakan kebenaran (dialektik). Kritik adalah sebuah anti-tesis yang mempunyai hakikat membangun ide yang lebih mendekati kepada kebenaran.

Anggapan selanjutnya mengenai kritik adalah kritik itu jauh lebih mudah ketimbang melakukan. Seandainya frase tersebut kita ambil sebagai postulat maka niscaya peradaban manusia tidak akan maju seperti sekarang. Kritik adalah salah satu pondasi pembangun peradaban, mencegah ilmu pengetahuan dan teknologi bersifat statis. Kritik menciptakan kondisi dinamis dalam cara berpikir manusia dan inovasi dalam ilmu pengetahuan. Sederhananya, kritik adalah faktor pendukung dalam proses dialektik. Kritik itu sendiri sudah merupakan aktivitas, yaitu aktivitas kritik. Sehinggu pernyataan yang mengatakan kritik adalah lebih mudah dari melakukan adalah pernyataan yang gagal secara logika.

Memperbandingkan sebuah kritik dengan praktek lapangan sama saja memperbandingkan divisi analisa pasar modal dengan divisi marketing. Dalam analisa pasar modal ada 2 fungsi: menganalisa dinamika pergerakan saham yang kemudian diimplementasikan (hasil analisa tersebut) oleh divisi marketing. Divisi analisa pasar modal juga "mengkritik" secara amelioratif terhadap kebijakan dan pekerjaan marketing yang ternyata tidak berhasil dengan merinci kesalahan terkait dengan dinamika pasar modal dan memberi masukan. Memperbandingkan bahwa menjadi analis pasar modal lebih mudah ketimbang menjadi marketing adalah perbandingan yang sia-sia karena semua memiliki kesulitannya masing-masing.

Perbandingan yang lebih dekat adalah kritikus film dan kritikus masakan. Seorang kritikus film banyak mengkritisi film-film kelas atas dunia, tapi mereka belum tentu bisa membuat film paling sederhana sekalipun. Tapi meskipun tidak bisa membuat film, kritikus film mampu memahami apa yang baik dan apa yang buruk dari sebuah film. Dia dapat menentukan secara tepat adegan, cerita, penokohan dan lain lain yang baik ataupun yang buruk dari sebuah film. Sama dengan kritikus masakan, yang ternyata tidak bisa membuat masakan biasa sekalipun tapi bisa membedakan kualitas makanan dan masakan. Dia bisa membedakan antara rasa yang cocok dengan rasa lainnya dalam suatu masakan secara mendetail, suatu hal yang tidak semua orang bisa melakukannya.

Sebaliknya, menjadi seorang kritikus bukan berarti kita bisa mengkritik suatu hal dengan mudah. Seorang kritikus harus mengajukan data anti-tesis yang valid dan meyakinkan mengenai hal ingin dia kritis. Kritiknya pun harus tepat objek dan tepat pada problematikanya. Kritik juga harus berhati-hati dengan argumennya: kesalahan dengan kritik samasaja dengan bunuh diri perlahan-perlahan. Jika pengkritik terlalu banyak melakukan kesalahan dalam krititikannya maka kelamaan orang-orang akan tidak percaya lagi dengan kritiknya, dan hal itu sama saja dengan mengakhiri kehidupannya sebagai pengkritisi.

Kritikus yang serius itu sulit. Riset mendetail, pengamatan yang jeli, argumen yang meyakinkan dan kalimat yang baik (tidak menghina pihak tertentu) adalah komponen utama untuk menjadikan suatu kritik jadi lebih efektif. Kritik tidak semudah mengomentari sebuah berita online di internet dari akun facebook atau twitter. Dalam membuat kritik yang dalam seseorang harus banyak-banyak memutar otaknya, apalagi jika itu berbentuk kritik terhadap karya atau ide ilmiah, maka butuh banyak waktu dan kecerdasan untuk menciptakan kritik.

Jadi, siapa bilang kritik itu mudah? Kalau ada yang bilang kritik itu mudah saya yakin 90% orang tersebut belum pernah mengkritik secara benar dan ilmiah :)

No comments:

Post a Comment