Minat Baca Mahasiswa Dan Maraknya Kampanye Hitam
Saya jelaskan dulu apa makna makna dari kampanye hitam. Menurut penjelasan Effendi Ghazali, kampanye hitam atau Black Campaign adalah bentuk kampanye yang mempunyai konten mengeksploitasi kekurangan/kelemahan seseorang tanpa ada bukti atau tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Dalam tulisan ini saya cenderung ingin memperluas definisi itu menjadi: Kampanye hitam atau Black Campaign adalah bentuk kempanye yang mempunyai konten mengeksploitas kekurangan/kelemahan seseorang yang bersifat non-kontekstual terhadap permasalahan yang sedang disinggung, dan/atau hal-hal yang tidak mempunyai bukti/tak bisa dibuktikan. Dalam tulisan ini akan saya pergunakan definisi kampanye hitam yang kedua.
Menelisik Gaya Jurkam Prabowo dan Jokowi ala Rekrutmen Tentara
Sebagai seseorang yang tertarik dengan sejarah, saya menganalogikan kedua timses capres ini sebagai negara Jerman & Uni Soviet semasa perang dunia kedua. Mungkin para pembaca sekalian sudah tahu mengenai kisah perang dunia II dimana pasukan Nazi Jerman berduel dengan Pasukan Merah Uni Soviet di front Timur, sebuah front pertempuran yang paling berdarah-darah dalam sejarah peradaban umat manusia. Hal ini juga berlaku untuk pemilu kali ini dimana kedua kubu, baik itu Prabowo ataupun Jokowi sama-sama "berdarah-darah", mati-matian untuk memenangkan front pertempuran pemilu 2014 ini.
Sama hal seperti pasukan Jerman & Uni Soviet dalam strategi perangnya, masing-masing kubu baik itu Prabowo ataupun Jokowi punya cara masing-masing dalam strategi mereka. Dalam tulisan ini saya hanya akan membahas mengenai rekrutmen juru kampanye (campaigner) yang merupakan "Tentara" dalam "Perang" pemilu 2014 ini. Dalam tulisan ini akan ditampilkan perbedaan besar diantara strategi mereka berdua tanpa harus menjustifikasi mana yang benar dan mana yang salah.
Pertama-tama, ada 2 istilah yang akan saya pergunakan disini, yakni "Standing Army" dan "Drafted Army". Mengingat tidak ada padanan bahasa indonesia untuk kedua istilah itu, maka saya akan jabarkan lebih dulu mengenai apa arti dari kedua istilah itu.
"Standing Army" adalah sebuah konsep dalam dunia militer yang menjelaskan sebuah pasukan yang terlatih. Standing Army, singkatnya, adalah sebuah pasukan yang sudah terdidik dan terlatih dalam latihan yang teratur dan terukur serta bersifat profesional. Gaya Standing Army ini digunakan oleh Jerman pada masa perang dunia II. TNI di Indonesia juga mengadopsi gaya Standing Army ini.
"Drafted Army" atau Conscription (Konskripsi) adalah sebuah komsep dalam dunia militer yang menjelaskan sebuah pasukan yang semi- terlatih. Drafted Army, singkatnya, adalah sebuah pasukan yang tidak terlatih dalam latihan yang regular dan bersifat non- profesional. Anggota Drafted Army bisa diambil dari kondisi Wajib Militer (Seperti di Korsel & Amerika Serikat semasa perang Vietnam) atau organisasi para-militer (seperti Hamas). Gaya Drafted Army ini digunakan oleh Uni Soviet di perang dunia II.
Prabowo - Hatta, pasangan Capres-Cawapres nomor 1, menganut gaya "Standing Army". Hal ini terlihat dari jurkam-jurkam mereka yang banyak memanfaatkan tenaga ahli. Jubir pasangan ini sendiri memang mengakui bahwa banyak dari juru kampanye mereka adalah lulusan Sarjana, baik itu dalam negeri ataupun Luar negeri. Gaya bicara juru kampanye ini pun bisa menunjukkan bahwa mereka adalah orang berpendidikan tinggi. Pemilihan pasangan ini untuk mengadopsi gaya "Standing Army" mungkin saja disebabkan karena faktor Prabowo yang memang mempunyai kecerdasan tinggi dan juga mantan lulusan terbaik Taruna.
Sedangkan Jokowi - Jusuf kalla, pasangan Capres-Cawapres nomor 2, cenderung menganut gaya "Drafted Army". Hal ini terlihat dari jurkam-jurkam mereka yang diisi masyarakat kelas-kelas bawah. Jubis pasangan inipun mengakui jika banyak dari juru kampanye mereka adalah kalangan orang biasa rata-rata di Indonesia. Dari jumlah sebaran jurkam pasangan ini pun bisa dilihat bahwa mereka hanya orang-orang biasa. Pemilihan pasangan ini untuk mengadopsi gaya "Drafted Army" mungkin karena disebabkan faktor Jokowi yang dalam sejarahnya lekat dengan kemiskinan.
Masing-masing gaya tentu saja punya kelebihannya masing-masing. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan "Standing Army" dan "Drafted Army"
Standing Army
(+)Think Tank yang hebat. Dengan pendidikan tinggi, kemampuan deduktif dan dialektik jurkam ini juga menjadi lebih baik. Serangan-serangan terhadap pasangan capres ini dapat dijawab dengan baik oleh mereka. Jurkam jenis ini juga bisa memaparkan program-program capresnya dengan lebih meyakinkan.
(+)Kemampuan menjaring kelas menengah yang tinggi. Kelas menengah, selaku kelas yang paling dengan rasio tingkat konsumsi tertinggi di Indonesia, memegang peranan yang cukup penting dalam jalannya roda pemerintahan, terutama perekonomian. Sebagai kelas yang esensial, tidak heran kedua capres ini berebut simpati dari kelas menengah. Keunggulan jurkam jenis adalah dia mampu meyakinkan kelas menengah, dengan pendekatan yang ilmiah, untuk memilih capres bernomor 1 ini.
(+)akses ke berbagai media yang sangat luas. Jurkam ini juga bisa dan cerdas dalam memanfaatkan berbagai media, termasuk media online. Bahkan tidak menutup kemungkinan jurkam jenis ini secara profesional mengolah kampanye dalam berbagai media-media dengan fitur premium. Misal: membuat website yang apik, membuat iklan yang bagus di TV, memanfaatkan jasa agensi dalam mengolah iklan di media sosial internet dll.
(+)Lebih terkoordinasi. Jurkam jenis ini juga lebih terkoordinasi dalam proses kampanye nya. Dengan lebih terkoordinasi, maka miskomunikasi antar juru kampanye dapat diminimalisir, sehingga dapat menghasilkan output seperti yang diharapkan.
(-)Mahal. Dikarenakan merekrut para ahli/profesional membutuhkan biaya yang tidak murah, jelas jenis pasukan Jurkam ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
(-)Relatif sedikit. Memerlukan gelar sarjana tentu bukan hal yang tersedia banyak di Indonesia. Mungkin karena itulah, secara kuantitatif jurkam jenis ini jumlahnya relatif lebih sedikit ketimbang Jurkam Drafted Army.
(-)Kemampuan menjaring kelas bawah yang kurang. Dikarenakan individu yang terlibat adalah kaum terpelajar dan kelas menengah, maka akses ke masyarakat kelas bawah agak terhambat. Entah itu dikarenakan faktor lingkungan ataupun skeptisme (kecemburuan) antar kelas sosial..
(-)Cenderung monoton. Adanya otoritas yang membawahi jurkam-jurkam yang beroperasi di lapangan, tentu membuat variasi berkurang. Ide-ide kampanye yang muncul harus diseleksi dan tidak semua ide itu akan disetujui, sehingga ide kampanye yang muncul adalah ide-ide si pemegang otoritas.
Drafted Army
(+)Murah. Karena sifatnya yang sukarela, maka biaya yang dikeluarkan relatif kecil. Masing-masing juru kampanye bergerak sesuai dengan kemampuannya tanpa perlu dipimpin oleh otoritas tertentu.
(+)Berjumlah banyak. Karena jurkam jenis ini mudah direkrut (tanpa memerlukan CV yang bagus), maka jumlahnya relatif lebih banyak daripada jurkam "Standing Army". Dengan jumlah yang relatif banyak ini maka jurkam Standing Army punya jangkauan yang lebih banyak pula.
(+)Kemampuan menjaring kelas bawah yang tinggi. Karena sifatnya sukarela dan cenderung berasal dari masyarakat bawah (tidak terdidik), maka cakupannya pun lebih dekat dengan masyarakat kelas bawah di Indonesia yang jumlahnya lebih banyak ketimbang kelas menengah.
(+)variatif. Berjumlah banyak berarti semakin banyak otak yang terlibat, semakin banyak otak yang terlibat berarti semakin banyak
pula cara-cara unik yang bisa dilakukan, sesuai dengan selera masing-masing individu jurkam tersebut.
(-)Mempunyai kemampuan dialektik yang relatif kurang. Dengan Jurkam yang berasal dari masyarakat kelas bawah / tidak terpelajar, membuat jurkam tipe ini cenderung
sulit menjawab serangan-serangan yang ditujukan kepada capresnya. Pemaparan program capres yang dilakukan oleh Jurkam jenis ini juga sangat mendasar dan kurang teknis, dan lebih bersifat umum saja.
(-)Kemampuan menjaring kelas menengah yang rendah. Berhubungan dengan poin di atas, jurkam ini biasanya sulit menjaring kelas menengah yang bersifat kritis. Ketidakmampuan memberikan argumen yang mendetil dan teknis biasanya tidak bisa memuaskan kelompok dari kelas menengah.
(-)Akses ke berbagai media yang cenderung gratisan. Karena sifatnya yang sukarela, maka biaya yang dikeluarkan sangatlah minim atau malah gratis samasekali. Tentu saja pemanfaatan media yang mengandalkan fitur gratisan atau murah tidak se- eye catching jurkam yang memanfaatkan fitur premium.
(-)Kurang terkoordinasi. Jurkam tipe ini, karena mereka bergerak secara seporadis, maka tidak ada/sedikit sekali koordinasi yang dilakukan. Kurang koordinasi tentu saja berpotensi berbahaya karena bisa saja ada kampanye yang melanggar ketentuan KPU, tumpang tindih, black campaign dan semacamnya.
Seperti yang kita lihat di atas, masing-masing tipe Jurkam punya kelebihan dan kekurangannya. Satu jenis Jurkam tidak lebih unggul dibanding jenis jurkam lainnya sehingga muncul tebak-tebakan liar siapa yang akan menang pemilu 2014 hanya dari jenis rekrutmen Jurkam ini. Masing-masing kubu juga tidak hanya murni memanfaatkan 1 jenis Rekrutmen juga, misalnya Kubu Prabowo juga memanfaatkan Jurkam Drafted Army untuk menjaring masyarakat kelas bawah dan begitupun halnya dengan kubu Jokowi yang juga memanfaatkan Jurkam Standing Army untuk mereguk suara kelas menengah.
Tentu saja tulisan diatas tidak sempurna dan tidak menyeluruh karena toh saya bukan seorang konsultan atau ahli politik, dan saya juga bukan sedang menulis sebuah karya ilmiah, ini hanya tulisan garis besarnya saja dari observasi saya dilapangan. Namun demikian, mungkin dari anda sekalian ada yang ingin menjadikan jenis jurkam ini sebagai referensi dalam memilih siapa calon presiden anda untuk 5 tahun, maka saya persilahkan saja. Yang penting mari kita tetap berkampanye secara santun, dan jangan menyebar berita-berita yang tidak dapat dipastikan kebenarannya.
Mengungkap Modus Pamer Di Jagad Sosial Media
Akhir kata, mohon maaf bila tulisan ini sedikit banyak menyinggung anda sekalian yang menggunakan sosmed. Tapi niscayalah bahwa kita semua sama karena penulis sendiri juga melakukan, setidaknya pernah melakukan, beberapa atau semua modus yang tadi disebutkan diatas.
Kelas Menengah dan Kaum Buruh "Ngehe"
Perkenalkan saya Mr. Pelari Marathon, saya beritahu dulu ya kalau saya tidak pernah menganggap saya kelas proletarian (buruh), kelas menengah kebawah, kelas menengah sedeng, kelas menengah atas, kelas atas ataupun kelas atas banget. Kalau sampeyan bilang saya adalah kelas menengah ngehek, ya monggo kulo persilahken, kalau sampeyan nuduh saya orang kelas atas sombong yang saya hanya bisa berdoa semoga itu jadi kenyataan (bagian sombongnya enggak lho), kalau sampeyan nganggep saya kelas bawah yang bodoh, sok tahu dan ngga ngerti apa-apa ya saya terima dengan senang hati juga
Sanikem, si penulis yang ngakunya bernama seperti itu, mengaku sebagai seorang buruh menyindir soal menutup jalan karena acara Jakarta Marathon. Beliau membandingkannya dengan penutupan jalan yang dilakukan para buruh yang berdemonstrasi. Maaf ya mas/mbak Sanikem yang terhormat, tapi jujur saja, yang namanya manusia itu human nature nya (alaminya) lebih rela berkorban untuk hiburan dari pada hal lainnya. Lihat saja, berapa juta manusia yang rela mengeluarkan uang lebih untuk wisata, beli telepon genggam, beli motor CBR yang dipakai buruh-buruh berdemo dari pada untuk amal atau disumbang ke Panti Asuhan, ya tho? Kalau belanja baju menjelang lebaran gila-gilaan, tapi begitu mau amal Rp. 20.000 saja rasanya berat sekali. Beli HP harga 2 juta kuat, tapi saat mau kurban kambing Rp. 1.500.000 rasanya seperti mau mati. Mau kelas bawah kek sampai kelas atas semuanya ya sama saja, lebih suka menghambur-hamburkan untuk hiburan.
Mbandingin demonstrasi kok dengan Jakarta Marathon ya jauh toh mas/mbak Sanikem. Yang satu bikin macet untuk kepentingan kelompok tertentu, yang satu bikin macet karena hiburan untuk semua kalangan (situ aja yang mengidap inferiority complex sehingga merasa tidak pantas ikut Jakarta Marathon, padahal anak kampung pinggir Ciliwung kawan saya juga banyak yang ikut dengan modal sepatu 60 ribuan sepasang), ya jauh tho mas/mbak. Orang lebih rela jalan ditutup untuk acara hiburan. Coba situ rasain aja, saat jalan kampung sampeyan ditutup karena buat acara pasar kaget malam. Pasti tingkat kekesalannya lebih rendah dari pada kalau jalanan ditutup untuk kawinan satu orang doang, ya kan? Situ tidak suka? Ya mau apa, toh situ juga melakukan hal yang sama, begitupun halnya dengan milyaran manusia lain di bumi (walaupun mungkin tidak semuanya) yang lebih suka berkorban demi hiburan.
Selanjutnya mas/mbak Sanikem ini juga menyentil soal hidup layak. Maaf sebelumnya, tapi kalau memang tidak mampu ya sudah tidak perlu belagu sok kaya. Kalau miskin, ngga kuat beli mobil atau motor baru, ya belilah motor bekas yang irit, kan bisa? Ngaku miskin, bodoh, teraniaya tapi kredit motor 2 juta per bulan selama 2 tahun kuat, ya bagaimana orang mau simpati? Maunya dianggap orang teraniaya, tapi beli telepon genggam Blackberry atau Iphone 3 - 4 atau Android Nexus/Samsung... bagaimana orang mau memahami perjuangan sampeyan? Mbok kalau berjuang tuh yang sinkron dengan gaya hidup gitu lho supaya orang-orang bisa bersimpati
Mas/Mbak Sanikem yang terhormat, definisi "Layak" itu subjektif mas/mbak Sanikem. Bagi saya yang pas-pasan ini, telepon genggam Nokia Asha 500 ribuan sudah lebih dari cukup (Kalau ndak dibayari kantor saya untuk wajib beli hp sekarang ini, saya juga ndak akan beli hp saya yang sekarang ini). Bagi saya yang "hidup tidak layak" ini ini, Mio sporty lawas tahun 2008 yang harganya 5,5 juta sudah lebih dari cukup untuk pergi mencari nafkah, ndak perlu berlagak seperti orang kaya naik motor 150 cc ke atas.
Maaf mas/Sanikem, hitungan Komponen Hidup Layak Buruh (KHL-Buruh) 2014 yang anda tuntut ke pemerintah itu tidak masuk akal. Sampeyan kok tega-teganya memasukkan TV 19 inch per tiga tahun? Lha wong saya punya TV tabung kotak sudah 6 tahun lebih saja ngga rusak-rusak kok, situ mau nonton TV apa nimbun TV? Situ juga minta dompet kulit 1 biji per tahun, lha wong dompet saya sudah 8 tahun sejak SMA sampai sekarang ngga pernah ganti saja tidak apa-apa kok, hayo ngaku saja, situ mau jualan dompet kan?! Belum lagi Jam tangan, jam dinding, payung dan topi yang masing-masing satu buah per tahun.... situ mau bikin toko kelontong ya?
Untuk lebih jelas hitung-hitungan KHL ala Buruh yang teraniaya ini, silahkan intip di http://forum.detik.com/-t824552.html untuk lebih jelasnya. Yang pasti, bila semua poin itu dijadikan acuan hidup layak di Indonesia, bisa disimpulkan bahwa hidup saya masih sangat jauh dari kata layak, saya bilang sangat lho yah, bukan hanya jauh.
Sentilan Sanikem tentang demonstrasi juga perlu saya kritisi. Kalau demo 1-2 kali yah saya masih bisa saya maklumi, tapi kalau kita ikuti berita mulai dari 2 minggu terakhir ini (Oktober - November), demonstrasi buruh yang hampir terjadi setiap hari. Saya jadi kepikiran bagaimana perusahaan mau tidak bangkrut kalau kerja pegawainya hanya demo, demo dan demo? Mungkin mas/mbak Sanikem dan buruh lainnya tidak tahu kalau yang namanya pabrik tidak beroperasi satu hari saja kerugiannya sudah bisa milyaran rupiah, apalagi kalau berhari-hari, ya bisa gulung tikar itu tempatmu bekerja. Tapi situ ndak perduli, situ hanya dengar propaganda "majikan" KSPI tentang gaji besar, persis seperti tikus yang terjebak lem tikus gara-gara iming-iming makanan: Kepingin makan tapi malah semaput, kepingin gaji besar malah kena PHK.
Situ juga ndak mau tahu toh pada semester pertama 2013 (Januari - Juni), 44 ribu rekan-rekan buruh sampeyan sudah di PHK karena perusahaan tempat mereka bernaung mengalami kerugian karena tingginya UMP. Saya tahu situ mikirnya semua orang yang punya pabrik pasti kaya: ya memang kaya, tapi kalau pengeluaran lebih besar dari pemasukan ya tetap saja ujung-ujungnya gulung tikar karena rugi.
Mas/mbak Sanikem juga "mungkin" lupa bahwa yang punya hak bukan hanya sampeyan para buruh lho, pengusaha juga punya hak. Kalo sampeyan punya hak nuntut gaji besar (menurut saya 3,7 juta itu besar lho), maka pengusaha (investor, atau gampangnya si bos yang memberi sampeyan pekerjaan) juga punya hak untuk pindah pabrik kemanapun yang dia mau. Kalau si pengusaha berpendapat kondisi di Jabotabek sudah sudah tidak kondusif (buruh minta gaji besar, sering bolos demonstrasi, kinerja loyo, infrastruktur buruk dan lain-lain), bisa saja si pengusaha memindahkan pabriknya ke Jawa tengah, Jawa timur atau provinsi-provinsi lain di luar Jawa. Atau bahkan kalau memang kondisi se-Indonesia sudah tidak kondusif semua, boleh-boleh saja si pengusaha kabur ke luar negeri dengan kondisi yang lebih kondusif seperti Malaysia, Thailand atau Vietnam. Jangan lupa mas/mbak Sanikem, sekarang zamannya sudah terbuka, justru negara lain rebutan investor dari negara kita. Jadi maaf ya mas/mbak Sanikem, yang punya hak bukan hanya sampeyan, jangan mentang-mentang situ wong cilik lantas yang orang kaya (yang memberi sampeyan pekerjaan) jadi tidak punya hak.
Yang terhormat mas/mbak Sanikem, waktu sampeyan menutup jalan, yang protes bukan cuma kelas menengah ngehe dan orang kaya yang penghasilannya lebih besar dari sampeyan lho. Apakah mas/mbak Sanikem lupa bahwa ada ribuan kendaraan umum, mulai dari Metromini, angkot hingga Transjakarta yang juga terhalangi saat sampeyan memblokir jalan? Sampeyan tahu manusia-manusia yang mengisi kendaraan-kendaraan umum itu banyak yang penghasilannya jauh dibawah sampeyan? Sampeyan tahu kan satu bus mini (Metromini/kopaja) bisa diisi berapa puluh manusia? Nah, apa sampeyan berpikir mereka juga tidak misuh-misuh saat kendaraan umum yang mereka tumpangi harus berhenti karena demo sampeyan? Mereka yang gajinya lebih kecil dari sampeyan, kalau sampai mereka terlambat kerja dengan ancaman pemotongan gaji, skorsing atau bahkan pecat, apa sampeyan juga mikir sampai situ? Kecuali kalau sampeyan memblokir jalan khusus mobil dan motor, sedangkan kendaraan umum tetap boleh lewat, maka baru situ boleh nuduh kelas menengah yang misuh-misuh, tapi situ ngga pernah kan? Wong mobil Jenazah & Ambulan saja tetap anda larang lewat kok.
Belum lagi kalau sampeyan demonstrasi suka memaksa buruh yang rajin bekerja untuk turut serta. Melakukan sweeping ke pabrik-pabrik, seperti preman saja. Saya kasih tahu ya mas/mbak Sanikem serta para buruh yang terhormat, yang namanya manusia itu berbeda-beda, termasuk gaji. Ada buruh yang kerja di perusahaan besar sehingga memang gajinya diatas sampeyan sehingga merasa ndak perlu ikut demonstrasi lagi. Ada juga buruh yang memang lebih suka bekerja ketimbang demonstrasi dengan gaji yang sama dengan sampeyan. Sampeyan ngga perlu maksa orang lain mengikuti kemauan sampeyan atau majikan KSPI kalian itu, orang ingin bekerja kok dilarang, wong edyan! Satu lagi, saya emoh menyebut mereka yang sweeping itu OKNUM, ratusan orang kok disebut oknum.
Maaf lho mas/mbak Sanikem, situ menyebut "kelas menengah ngehe" tapi situ sendiri mengikuti gaya hidup kelas menengah. Situ menulis kalau kelas menengah belagu gaya-gayaan pakai kendaraan/gadget mahal lebih dari kemampuannya, lah tapi kok sampeyean memakai alasan tersebut untuk membenarkan sifat konsumtif kalian untuk kredit barang mahal diluar kemampuan kalian, ya ndak salah kalau saya bilang sampeyan adalah "kelas proletarian ngehe" dong? Artinya kalian para buruh podo wae dengan kelas menengah yang kalian benci itu: "Saya ngehe, anda ngehe, kita semua ngehe"
Maaf lho mas/mbak Sanikem dan para buruh yang terhormat bila ada yang tersinggung karena tulisan ini. Sekali lagi, saya persilahkan para hadirin kelas proletarian ngehe untuk mencaci maki saya karena tulisan ini. Seperti yang sudah saya sebutkan di awal, saya ndak keberatan dihujat, sudah biasa kok seumur hidup saya. Sebagai catatan, Saya, Mr. Pelari Marathon, penghasilan saya lebih kecil dari sampeyan yang nuntut 3,7 juta perbulan, tapi saya ngga pernah menganggap diri saya kelas menengah, kelas buruh atau kelas atas. Saya juga ndak selera demonstrasi bukan karena ndak berani seperti yang sampeyan tuduh, tapi karena saya merasa cukup dengan gaji sekian. Saya juga ndak merasa berkewajiban untuk beli motor baru, beli gadget baru tiap tahun, beli baju di department store setiap bulan, beli jam tangan dan jam dinding tiap tahun (wong jam dinding saya sudah 23 tahun lebih masih jalan kok), beli TV 19 inch tiap 3 tahun, mesin cuci setiap 3 tahun dan lain-lain. Alhamdulillah sejauh ini cukup untuk hidup di kota Jakarta yang keras ini. Kadang saya juga nyambi jualan baju online untuk nambah-nambah uang, lumayanlah untuk bayar premi asuransi hari tua saya.
Cukuplah sekian tulisan saya kali ini, semoga para kelas proletarian ngehe dan kelas menengah ngehe bisa memahami maksud tulisan saya ini terlepas dari gaya bahasa yang, maaf sekali, agak blak-blakan ini. Mohon dimaafkan juga bila ada salah tulis atau hal-hal yang terlewat, saya hanya Homo sapiens biasa yang tidak lepas dari kesalahan
Salam
Mr. Pelari Marathon.
Rebutan Surga Macam Anak TK Rebutan Mainan!!!
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِي
Saya mo nanya nih kumendan?
Siapa yang dapat menentukan anda atau saya yang akan masuk surga? Jika saya katakan anda masuk surga apakah benar anda akan masuk surga? jika saya katakan saya masuk surga apakah benar saya nanti akan masuk surga? jika anda doakan saya masuk surga apakah benar nanti saya akan masuk surga? yakiiin bisa?? — pede banget yak –
Jadi siapa sesungguhnya yang berhak menentu suatu makhluk itu masuk ke dalam surga? Anda kah?? saya kah?? Nabi saw kah?? atau hanya Allah semata ??
Kajian Bib Novel Al Aydrus setelah solat tarawih di Majelis Ar Raudhah Solo, yang juga dapat panjenengan nikmati melalui link berikut ::
http://www.ar-raudhah.info/mp3-kajian/mp3-ramadhan-1434-h2013-m/ dengan spesifik file mp3 bisa anda donlod disini http://www.ar-raudhah.info/unduh/KajianRamadhan1434H-HikmahKisahNabiSulaimanBag2.mp3
Tidak ada orang yang masuk surga kecuali dengan rahmad Nya, bukan dengan amalNya. Apakah engkau ya Rasulullah. Aku juga begitu, aku juga tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmad Nya, hanya saja Allah sudah melingkupi dengan Rahmad Nya.
Hoorootooo,, Nabi saw yang ibadahnya luar biasa masih menyampaikan begitu, masuk surga bukan dengan amalan ibadah nya Rasulullah saw, padahal ibadahnya Beliau saw adalah panutan seluruh manusia..
lha saya ini ibadah e awur awuran mau claim paling berhak masuk surga.. ini parahhh pake superr paraahhh.. Lha Nabi saw saja tidak bisa memasukkan seseorang kedalam surga apalagi panjenengan.. lak pede tingkat pake akuttt njenengan kie…
Jadi pertanyaannya adalah… *kata2 temen2 sy yg sering nanya ini tentang ini dan itu hehe..
Apa urusan anda mengatakan amalan ibadah saya ini tidak lebih baik dari amalan anda. Apa jaminan anda mengatakan amalan anda paling baik atau setidaknya lebih baik dari amalan saya? trus kalo ada pernyataan begitu apa efeknya antara saya anda dan ridhanya Allah.
Saya tanya bener inii.. ada yang tau nda amalan kita itu pasti benar benar dan sungguh diterima Allah swt, selain diterima kemudian Allah ridha dengan amalan itu?? njenengan tau kaaahhhhhhhhh? ciyus banget nanya iniii……
Apakah Anda tau amalan seseorang itu diterima Allah??
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِالله
~ :: ~
ِإِلهِي لََسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاَ# وَلاَ أَقوى عَلَى النّارِ الجَحِيم
Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi
Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim
فهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذنوبِي # فَإنّكَ غَافِرُ الذنْبِ العَظِيْم
Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi
Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar
ذنوبِي مِثلُ أَعْدَادٍ الرّمَالِ # فَهَبْ لِي تَوْبَةً يَاذَاالجَلاَل
Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali
Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan
وَعُمْرِي نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ # وَذنْبِي زَائِدٌ كَيفَ احْتِمَالِي
Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumi wa dzambii zaa-idun kaifah timaali
Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya
َإلهي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذنوبِ وَقَدْ دَعَاك
Ilaahii ‘abdukal ‘aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qad da’aaka
Wahai, Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu
َفَإِنْ تَغْفِرْ فَأنْتَ لِذاك أَهْلٌ # فَإنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاك
Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun wa in tathrud faman narjuu siwaaka
Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni. Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?
Tulisan asli dari posting blog ini dapat anda baca di http://fadlilsangaji.wordpress.com/2013/07/26/rebutan-surga-macam-anak-tk-rebutan-mainan/
Something That Will Kill You
FPI Dan Manifestasi Kebodohan
Jadi marilah kita yang masih waras dan sehat secara jiwa ini berhenti mengutuki anggota FPI yang suka merusuh di jalan itu. Mereka hanyalah korban yang mengenaskan. Mereka adalah korban dari kebodohannya. Kita justru seharusnya merasa kasihan kepada mereka karena faktanya mereka telah diperalat oleh para dedengkot FPI yang tertawa lucu karena melihat kekonyolan anggotanya di jalan. Saat kita melihat tingkah polah anggota FPI yang "menggemaskan" itu di TV ataupun diberita, perasaan yang melintas ke pikiran kita pertama kalinya seharusnya adalah "Kasihan...". Tujukkanlah kemarahan dan kekesalan kita untuk Habib Rizieq, Munarman dan para Godfather diatasnya yang dengan tega memperalat orang-orang bodoh yang malang itu.
Sedikit Pertanyaan Mengenai Khilafah
Satu hal yang saya yakini dan saya pelajari selama 6 tahun di kampus terkait dengan sistem politik adalah tidak ada sistem politik yang sempurna, termasuk khilafah. Semua sistem politik yang pernah lahir di muka bumi mempunyai tingkat dan ciri permasalahannya masing-masing tidak perduli itu komunisme, demokrasi liberal, monarki dan lain sebagainya. Khilafah, seperti halnya sistem politik lain, juga mempunyai kendalanya sendiri. Namun dalam tulisan ini saya tak akan menjelaskan kendala apa yang terjadi bila "seandainya" kita menerapkan Khilafah, saya hanya akan merinci beberapa pertanyaan sederhana (beberapa, tidak semua. Mustahil saya menulis pertanyaan yang berkaitan dengan sistem politik karena akan sangat panjang lebar) yang terkandung dalam sebuah sistem Khilafah yang mana selama ini hampir selalu diabaikan oleh mereka yang mengkampanyekan penerapan sistem politik Khilafah.
1. Pembagian Kekuasaan.
Pembagian kekuasaan adalah hal yang menurut saya mutlak diperlukan dalam proses berjalannya suatu negara agar tidak terjadi apa yang disebut dengan penyalahgunaan kekuasaan lembaga negara. Dalam dunia modern, ada 3 kekuasaan terpisah dalam menjalankan negara: A. Eksekutif. B. Legislatif. C. Yudikatif.
1.A Eksekutif.
Lembaga Eksekutif, sesuai dengan namanya, adalah eksekutor dari kebijakan dalam sebuah negara. Eksekutif dipimpin oleh seorang kepala negara yang sebutannnya bisa beraneka ragam, mulai dari presiden hingga kanselir. Dalam sistem yang tidak menganut pembagiaan kekuasaan, kepala negara ekskutif juga membawahi lembaga Legislatif dan Yudikatif. Di negara monarki absolut seperti Arab Saudi misalnya, seorang raja berhak untuk membuat undang-undang sekaligus mengeksekusinya tanpa ada kontrol dari siapapun menurut peraturan perundang-undangan Arab Saudi. Jadi bila terjadi penyimpangan dalam eksekusi kebijakan maka tidak ada yang bisa mengawasi dan mengontrolnya karena semua hak tersebut telah dikuasai oleh eksekutif (Raja).
Konsep Khilafah yang diusung selama ini belum menjawab sub-poin ini. Apakah khilafah akan menerapkan kekuasaan kepala negara tidak terbatas seperti Arab Saudi atau pembagian kekuasaan seperti banyak negara lain di dunia? Jika menerapkan kekuasaan kepala negara tidak terbatas maka apakah jaminan bahwa terdapat controller agar sang kepala negara tidak menyalahgunakan kekuasaannya? Badan/lembaga/institusi apakah yang dapat mengontrol kinerja Eksekutif? Bagaimanakah mekanisme pemilihan kepala negara? Apakah berdasarkan keturunan (heredity) seperti negara Inggris, Brunei Darussalam dll atau dengan cara lainnya?
Bila Khilafah menerapkan prinsip pembagian kekuasaan maka pertanyaannya siapakah yang berhak mengawasi kinerja Eksekutif? Apa pula hak-hak dan kewajiban lembaga pengontrol tersebut? Lalu apa kewenangan lembaga pengontrol ini terhadap eksekutif? Bisakah lembaga pengontrol ini intervensi terhadap susunan kepemimpinan eksekutif? Bila iya, maka sejauh apa intervensi itu bisa dilakukan?
1.B Legislatif
Legislatif, sebagaimana namanya, adalah lembaga legislature atau lembaga pembuat undang-undang. Namun faktanya, lembaga ini tidak hanya berkewajiban membuat dan mengawasi pelaksanaan undang-undang namun juga merupakan representasi dari rakyat suatu negara. Keanekaragaman bentuk dari lembaga legislatif ini jauh lebih banyak ketimbang eksekutif: mulai dari jumlah partai (Unipartai, bipartai hingga multipartai) hingga jumlah kamar dalam parlemen (Unikameral & Bikameral), dari mekanisme teknis terpilihnya seorang anggota lembaga legislatif dan lain-lain sebagainya.
Detail inilah yang banyak tidak dibahas oleh kampanye penerapan sistem Khilafah. Tidak masalah jika memang ingin menerapkan non-pembagian kekuasaan (absolutisme eksekutif), namun tentu akan menjadi sebuah masalah besar bila ingin menerapkan pembagian kekuasaan. Apakah perlemen berfungsi ganda? yakni sebagai pembuat undang-undang dan perwakilan rakyat atau hanya mempunyai fungsi salah satunya saja? Bagaimana dengan keanggotaan parlemen? Apakah melalui partai politik ataukah independen? Bagaimana teknis pelaksaan pemilihan anggota parlemen? Bagaimana pengesahaan keanggotaan parlemen? dan lain sebagainya. Belum masalah tingkat keterwakilan masyarakat, apakah itu provinsi, kotamadya, kotapraja atau yang lainnya.
1.C Yudikatif
Yudikatif seperti yang kita tahu adalah lembaga yang bertugas mengawasi jalannya pemerintahan dan negara secara keseluruhan, mengintepretasikan undang-undang bila terjadi sengketa serta menjatuhkan sanksi bagi lembaga ataupun perseorangan yang melanggar undang-undang. Peran Yudikatif adalah peran moderat yang bisa disubstitusikan (dibeberapa negara) oleh Eksekutif maupun Legislatif. Namun demikian seperti halnya di Indonesia, Yudikatif dibuat terpisah adalah lembaga yang dibuat secara sengaja terpisah dari Eksekutif dan Legislatif karena dia mempunyai potensi mempunyai wewenang, seperti yang tercantum dalam UU, untuk menuntut secara hukum kedua lembaga tersebut sekaligus merdeka dalam melakukan aktivitas dari pengaturan kedua lembaga lainnya.
Ada beberapa pertanyaan sederhana yang mencuat seputar lembaga Yudikatif ini bilamana Khilafah dijalankan. Apakah Khilafah akan melahirkan lembaga Yudikatif atau tidak? Bila ya, maka bagaimana mekanisme penunjukkan ketua MK & MA? Apakah dilakukan oleh parlemen dan presiden seperti di Indonesia ataukah berbeda? Bila tidak ada, maka siapakah yang berperan sebagai "hakim" bila terjadi persengketaan dalam undang-undang, terutama yang berkaitan dengan pihak pemerintah (Eksekutif)? Bagaimana penjabaran teknis kekuasaan Yudikatif terkait hukum negara?
Hal tersebut adalah beberapa hal yang bisa dipertanyakan terkait implementasi Khilafah di Indonesia. Tentu saja pertanyaan tersebut sangat sedikit, kemungkinan tidak ada seperseratus dari seluruh pertanyaan yang bisa diajukan terkait 3 Lembaga negara...
2. Sistem Hukum
Dengan menggunakan sistem politik Khilafah, maka otomatis negara juga akan menerapkan hukum Islam. Hukum islam jauh lebih mendetail dan komprehensif dalam penjelasannya ketimbang Sistem politik Khilafah yang menurutku agak seperti "disembunyikan" beberapa elemennya. Hukum Islam, merujuk pada kebijakan Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin sudah cukup lengkap, walaupun ada beberapa yang perlu diperjelas kembali.
Seperti masalah terkait Hak Asasi Manusia (HAM). Tidak perlu ribut HAM itu buatan barat karena makna "HAM" itu sendiri esensinya adalah Hak dasar manusia yang juga terdapat dalam Islam. Hak untuk mempunyai keluarga, hak untuk mendapat ilmu pengetahuan, hak untuk hidup, hak untuk hidup bebas dan lain-lain yang dijelaskan dalam UDHR "Versi barat" juga dijelaskan dalam Islam. Namun demikian ada beberapa unsur Hak manusia yang juga belum begitu mendetail dijelaskan dalam Islam seperti Hak para narapidana, hak-hak dalam pengadilan (seperti Pledoi, hak didampingi oleh kuasa hukum dll), hak dalam proses penyelesaian sengketa hukum baik pidana ataupun perdata dan lain sebagainya.
Yang saya sesalkan adalah tidak adanya penjelasan mengenai hukum dalam konteks negara Khilafah. Sejauh ini para pendukung Khilafah hanya membatasi dirinya dalam sebuah wacana yang tak kunjung berkembang, itu itu saja. Hanya dijelaskan bahwa Khilafah akan berlandaskan hukum Islam, hukum Islam yang apa? Bagaimana dengan hukum-hukum yang mungkin (belum) di jelaskan dalam dunia Islam?
3. Sistem Ekonomi
Sistem ekonomi yang digunakan dalam negara Khilafah adalah sistem Syariah yang berazaskan pada prinsip berbagi. Menurutku, sistem ekonomi Syariah adalah yang paling masuk akal sejauh ini ketimbang Sistem politik & hukum Islam (Khilafah) karena banyak buku yang telah menjelaskan prinsip kerja ekonomi Syariah. Namun mengingat bahwa konstelasi dunia saat ini bukan berdasarkan pada Syariah, maka harus dipertimbangan cara menciptakan hubungan ekonomi antara sistem Syariah dan sistem kapitalis yang telah ada saat ini. Bagi saya adalah hal mustahil bagi negara Khilafah untuk mengisolasi diri 100% dari negara lain dalam bidang ekonomi dalam era yang serba interdependen seperti saat ini.
Jikalaupun hubungan itu berhasil dibangun, maka negara Khilafah juga harus memikirkan regulasi yang mengatur dinamika pasar: apakah bersifat sentralistik atau melepas sesuai permintaan pasar sepenuhnya, atau apakah disertai kontrol pemerintah. Penentuan harga pasar dilakukan berdasarkan tingkat permintaan-penawaran ataukah pemerintah yang sudah menentukan. Dengan ditutupnya pasar modal (karena dianggap tidak sesuai dengan Syar'i) maka bentuk inventasi alternatif apakah yang bisa digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar yang butuh investasi raksasa?
Demikian sedikit pertanyaan yang meradang di otak penulis karena tak kunjung mendapat update mendetail mengenai negara Khilafah. Sebenarnya saya sudah cukup lama mengikuti dan tertarik dengan konsep negara Khilafah ini, yakni sejak 5 - 6 tahun lalu. Namun karena ide ini tidak pernah berkembang, maka hilang sudah ketertarikan itu dan yang muncul justru rasa skeptis dan menganggap ide Khilafah sekarang yang banyak di kampanyekan sekarang adalah sebuah ide konyol yang alih-alih berdasarkan pada sains namun lebih kepada mimpi nostalgia.
Bila memang pengusung ide khilafah berniat serius mendirikan kembali kekuatan khilafah seperti pada masa Khulafaur Rasyidin, maka ada baiknya dimulai dengan menjawab pertanyaan sangat sederhana dan sangat sedikit yang terdapat dalam tulisan ini. Namun perlu kuingatkan bahwa pertanyaan dalam tulisan ini, seandainya dituliskan dalam sebuah buku, maka jumlahnya mungkin hanya kurang dari 2% dari pertanyaan-pertanyaan yang dapat mencuat terkait implementasi negara Khilafah.
Ketika Agama Mematikan Akal Manusia
Sikap anti-kritik yang ditunjukkan orang-orang inilah yang menjauhkan diriku dari kegiatan keagamaan massa di masyarakat, kecuali sholat jumat tentunya. Aku menolak ikut acara pengajian, atau bahkan mendengarkan ceramah lokal karena mengalami kondisi traumatik dimana aku yakin saat orang merasa dirinya paling benar, termasuk merasa paling benar dalam beragama, adalah orang yang sudah mengangkat derajat dirinya menjadi Demigod (setengah Tuhan) dan menjadi bebal terhadap masukan dan saran orang lain. Para penceramah, walaupun aku tahu tidak semua, sering melakukan justifikasi negatif terhadap manusia atau kelompok manusia dengan ciri khusus yang tidak sesuai dengan pendapat mereka. Ini yang benar-benar aku benci.
Saat agama mematikan kemampuan berpikir penganutnya, maka disitulah agama akan menuju pada instabilitasnya. Hal ini tampak pada agama kristen yang terbelah 2: Katolik & Protestan. Kristen Protestan lahir karena ketidakpuasan masyarakat dan tokoh intelektual terhadap perilaku semena-mena gereja yang secara tidak langsung mematikan daya kritis umatnya. Mulai hukuman mati bagi ilmuwan-ilmuwan yang berseberangan pendapat dengan gereja hingga hukuman kurungan bagi mereka yang berani mengkritik gereja. Islam kini, bagiku, sedang mengarah pada arah itu. Sepertinya umat islam tidak pernah belajar pada sejarah bahwa masa-masa keemasan Islam adalah pada saat daya kritis manusia dibiarkan berkembang dengan pesat...
Kerajaan Turki Utsmani adalah kerajaan yang menggambarkan superioritas Islam di masa silam. Tidak ada kerajaan lain di muka bumi pada saat itu yang sanggup menandingi kehebatan Turki Utsmani, bahkan kerajaan-kerajaan Eropa pun bertekuk lutut dibawah kedigdayaan Turki Utsmani. Ilmu berkembang pesat saat itu mulai dari Matematika hingga Astronomi, mulai dari Sosiologi hingga filsafat. Ilmu pengetahuan berkembang pesat kala itu seakan tanpa batasan. Ilmuwan dibiarkan berpikir, masyarakat dibiarkan bertindak kritis agar terjadi proses dialektik dan akhirnya kita semua mencatat bahwa Turki Utsmani (Abbasiyah) hingga Ottoman adalah era keemasan Islam yang mungkin tak akan kembali lagi di masa depan.
Lihatlah sekarang, organisasi Islam besar justru adalah organisasi yang melarang perbedaan berpikir. Seperti MUI (MUI sudah mulai menampakkan gejala penyeragaman perbedaan pendapat), FPI, HTI semua organisasi-organisasi "robot" (aku sebut robot karena melarang perbedaan berpendapat) yang berkuasa di negeri ini. Akupun sudah cukup kenyang mendengarkan ceramah di masjid yang cenderung berbau rasis dan tidak mengenal perbedaan dalam perbedaan cara pandang. Walaupun aku tahu ada organisasi Islam besar seperti Muhammadiyah yang tidak anti-dialektis, namun sayangnya dan sialnya aku tak pernah berurusan dengan organisasi seperti itu.
Mediapun sama saja. Walaupun ada Republika yang lebih moderat, namun ada 2 media lainnya yang sangat ekstrim yakni Arrahmah dan VOA-Islam. Arrahmah dan VOA-Islam adalah 2 media kiri yang sangat ekstrim dan tidak objektif dalam menulis beritanya. Sayangnya, kawanku banyak yang lebih menyukai islam versi Arrahmah dan VOA-Islam ketimbang Republika atau media moderat lainnya.
Ketaatan penuh terhadap peraturan agama memang diperlukan, tapi sikap kritis tetap diperlukan. Kita manusia di bumi perlu sikap kritis karena Allah tidak menurunkan pasukan malaikatnya untuk memberitahukan hal-hal apa sajakah yang perlu dilakukan dan yang jangan dilakukan. Kita manusia dibiarkan berkeliaran di muka bumi hanya dengan kitab suci Quran yang bahkan mempunyai banyak tafsiran (dan parahnya masing-masing penafsir merasa tafsirannya paling benar). Tidak ada polisi, tidak ada hakim Allah di bumi yang mengingatkan kita mana yang salah yang benar. Kita hanya mengandalkan para ulama yang mana kini banyak dari mereka yang sudah masuk ke ranah ekstrimisme. Bahkan dalam tulisan terdahuluku dengan gamblang aku menemukan kesalahan fatal seorang da'i, berusaha menghubunginya namun seperti yang aku katakan tadi, dia seorang anti kritik dan tidak merespon protesku.
Teroris lahir karena ketaatan buta tanpa akal. Dia hanya tahu bahwa kiai-nya menyuruhnya membuat bom atas nama Allah dan si teroris pun menurutinya karena otaknya tidak dipakai. Dia tidak berani mengkritisi ucapan propaganda kiai-nya karena embel-embel kata "Islam". Dengan paradigma bahwa apapun yang berhubungan dengan Islam, bahkan itu hanya simbol sekalipun, dilarang di kritik, maka manusia telah jatuh kedalam lubang kebodohan yang sedalam-dalamnya: Itulah teroris yang mengatasnamakan Islam.
Itulah mengapa aku selalu menjauhi perbincangan mengenai agama, karena menurutku itu samasekali tidak menyenangkan. Tidak ada yang bisa didiskusikan, semuanya sudah ditentukan secara subjektif oleh mereka yang merasa benar. Aku tidak tahu sejak kapan manusia, terutama umat islam, merasa dirinya menjadi Tuhan (karena merasa paling benar) dan mulai mau menyaingi Tuhan Allah. Lihat saja perilaku habib-habib yang beberapa diantara sok berkuasa, bahkan memperlakukan orang lain seperti binatang. Atas nama Tuhan mereka bertingkah polah seenaknya: menginjak harkat martabat orang lain tanpa kata maaf dan tetap dengan bangga menggunakan gelar "habib" mereka, menyedihkan!
Bisa dibilang aku adalah seorang muslim yang tidak percaya dengan sesama muslim lainnya, apalagi organisasi-organisasi keislaman di Indonesia. Aku tidak akan mau percaya dengan seonggok "mesin berdaging" tanpa kemampuan berpikir yang akan mudah diprovokasi menjadi sebuah mesin pembunuh efisien bila dibacakan hadis atau Quran yang bahkan tafsirnya bisa beranekaragam.
Seandainya Setiap Bulan Adalah Ramadhan....
Namun dari kejauhan terlihat kerumunan motor ke sebelah kiri jalan. Ada apa gerangan? Karena penasaran aku pun mengarahkan motor ke sisi kiri jalan dan ternyata tidak lain dan tidak bukan, ada orang yang membagikan takjil gratis. Takjil ini sangat sederhana, hanya Aqua gelas 1 buah untuk 1 orang. Tidak ada makanan atau cemilan bukan masalah bagi para pengendara motor itu, termasuk bagiku. Cukup menenggak air yang bila kita membeli di toko hanya seharga Rp. 500 itu sudah merupakan kenikmatan tak terkatakan bagiku dan mungkin sama halnya dengan pengendara motor/mobil lainnya yang terjebak dalam keganasan kondisi lalu lintas di Jakarta.
Selesai berbuka dengan segelas Aqua, aku melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Di jalanan lagi-lagi aku disuguhi pemandangan yang praktis hanya bisa aku nikmati saat bulan Ramadhan: Pembagian takjil untuk anak-anak jalanan. Takjil ini jauh lebih komplit daripada yang ku terima barusan, ada nasi, ayam dan lauk lain yang tidak terlihat dari balik helm dan kacamataku. Kebahagiaan terpancar dari wajah anak-anak itu yang mungkin hanya bisa menikmati menu "mewah" seperti itu setahun sekali.
Ya, itulah sekilas gambaran di jalanan tentang apa yang hanya bisa terjadi di bulan puasa. Bulan yang oleh orang Islam disebut sebagai bulan berjuta rakhmat memang benar adanya. Tidak hanya dari segi pahala yang memang tidak kutulis dalam postingan ini, namun juga dari hal lain, yakni "berbagi".
Berbagi adalah hal yang sangat indah, bagiku. Yang kaya berbagi yang miskin, yang mampu berbagi dengan yang tidak mampu, yang kuat berbagi dengan yang lemah, yang hebat berbagi dengan yang kurang hebat adalah keindahan yang jarang dipertontonkan negeri ini. Di saat bulan-bulan lain manusia menjadi "Homo homini lupus" dan saling menindas satu sama lain, di bulan puasa ini kita ditunjukkan oleh sebuah kondisi yang oleh Karl Marx diamini sebagai sebuah kondisi ideal komunitas manusia. Sebuah kondisi dimana manusia saling membantu sama lain tanpa mengharap "kapital" atau uang, dan hanya murni mengharap suatu ganjaran eskatologis berupa "Pahala".
Belum lagi perihal zakat fitrah yang seandainya pemerintah mau mengaturnya dengan benar dan orang yang mempunyai kepercayaan Islam juga mau melakukannya sesuai dengan regulasi keagamaan yang ada, dapat lumayan membantu orang miskin. Kita hitung saja (hitungan kasar): 3,5 liter beras. Jika dikali dengan jumlah orang dengan pendapatan minimal Rp. 3.000.000,-/bulan saja (kelas menengah hingga atas) yakni sebesar 100.000 juta orang (jauh dibawah hitungan kelas menengah oleh pemerintah RI), maka total beras yang diperoleh adalah 350.000.000 kilogram atau 350.000 ton. Mengingat konsumsi beras rata-rata per kapita nasional RI adalah sebesar 0,14 ton per tahun atau sama dengan 0,02 ton per bulan maka dengan adanya 350 ribu ton dalam sebulan dapat memberi makan sebanyak 17 juta orang dalam waktu sebulan! Suatu kekuatan berbagi yang luar biasa menurutku... bayangkan seandainya itu hal ini terjadi sepanjang tahun, tentu tak akan ada anak negeri ini yang kelaparan.
Aku mungkin hanya bisa berharap dan bahkan cenderung utopis bahwa ada suatu zaman, entah itu atas nama Islam atau agama nanti yang akan terlahir ke bumi ribuan tahun kedepan, dimana ada konsep "Ramadhan" setiap bulannya tanpa perduli suku, ras, agama, kebangasaan dan lain sebagainya. Zaman dimana "saling berbagi" adalah adalah nilai yang dianggap lebih penting ketimbang status sosial berdasarkan kepemilikan harta benda di mata masyarakat. Zaman dimana "kehormatan" tidak lagi dinilai berdasar semahal apa mobil dan rumah yang dia miliki, tapi berdasarkan pada seberapa banyak dia berbagi kepada sesamanya.
Akhir kata, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan! Jangan lupa untuk selalu menghormati mereka yang tidak berpuasa. Wasalam.








