Nama memang boleh sama-sama "VOA", tapi VOA yang ini bukan Voice Of America melainkan Voice Of Al-Islam. Media VOA Islam ini memang sudah lama saya perhatikan karena isi artikelnya yang lebih mirip opini subjektif yang penuh asumsi atau prasangka tanpa bukti riil ketimbang sebuah berita yang objektif. Media ini juga sangat provokatif, penggunaan kata-kata bermakna negatif terhadap kelompok sosial atau reliji tertentu dalam hampir setiap artikelnya. Terakhir kemarin yang saya baca adalah artikel mengenai hubungan antara rezim Syiah Iran dengan AS & Israel terkait dengan tragedi pembantaian di Suriah sekarang ini. (link berita: http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/07/18/19923/permusuhan-rezim-syiah-dengan-israel-hanyalah-drama-pengalihan-isu/?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter ) yang menurut saya sebagai seorang lulusan Politik Internasional sangat jauh dari cara berpikir seorang akademisi Hubungan Internasional. Tulisan ini, dengan berdasarkan pada ilmu saya, tidak ada unsur keilmiahannya sama sekali. Si Pembicara yang juga merupaka sumber utama berita ini terlihat sangat miskin pemahaman kaedah-kaedah keilmuan dalam dinamika politik antar-bangsa.
Pertama adalah klaim dari Ustadz Bambang Sukirno yang mengatakan bahwa Iran diam saja melihat pembantaian di Suriah. Pernyataan ini salah besar: Iran telah mengeluarkan kecaman dan kutukan resmi kepada pemerintah Suriah dan meminta segera menghentikan kekerasan di negara tersebut. Bambang Sukirno berpendapat bahwa kutukan dan kecaman adalah bukan apa-apa, hanya sekedar retorika. Mungkin pernyataan ini keluar dari mulut seorang Ustadz seperti beliau karena ketidaktahuan nilai esensi sebuah pernyataan resmi kepala negara terhadap kondisi negara lain. Suatu pernyataan kecaman menunjukkan ketidaksukaan negara si pembuat statemen dengan negara yang dituju. Ketidaksukaan ini berpengaruh kepada sentimen pasar modal atau kegiatan ekonomi secara umum (investasi antar negara yang bersangkutan). Jadi sederhananya, kecaman dalam level negara tidak bisa dianggap sebagai "omong doang" atau tadi disebut sebagai retorika, tapi juga memberikan ekses ke tingkat hubungan ekonomi antar negara.. Kecaman negara adalah sebuah aksi yang mempunyai konsekuensi nyata dan riil, cepat atau lambat, positif atau negatif.
Maka kesimpulan yang dapat kita ambil disini adalah pernyataan Ustadz Bambang Sukirno sama sekali tidak tepat dalam kenyataan dilapangan. Tidak ada gejala yang menunjukkan bahwa kecaman dari Iran kepada Suriah adalah sekedar retorika, karena ternyata terdapat sebuah konsekuensi ekonomi-politik yang terkandung di dalamnya.
Kedua adalah pernyataan mengenai kutukan Iran kepada Israel hanya menaikkan posisi tawar Iran terhadap AS (atau negara barat lainnya). Argumennya adalah dengan mengeluarkan pernyataan kutukan kepada Israel, maka pencitraan Iran di dunia Islam semakin membaik dan pada akhirnya mempunyai posisi tawar yang tinggi terhadap AS. Memang benar bahwa pencitraan Iran sebagai pihak yang berani melawan AS telah menarik perhatian dari berbagai komunitas Muslim di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Nama Iran dengan presidennya Ahmadinejad menjadi terkenal karena keberaniannya menentang hagemoni AS dan negara-negara barat lainnya. Apakah pencitraan ini menaikkan posisi tawar Iran terhadap AS? Jelas. Dengan makin dikenalnya Iran (dalam artian positif) maka mikin tinggi pula posisi tawar Iran dihadapan AS. Hal ini terbukti dari penolakan banyak negara di dunia terhadap rencana penyerangan AS ke Iran. Tapi yang menjadi pernyataan: apakah pencitraan itu salah?
Mari kita lihat dari kacamata ilmu Psikologi. Dalam psikologi, pencitraan adalah suatu yang sangat lumrah dilakukan oleh manusia, baik itu dalam level individu ataupun kelompok. Pencitraan adalah sebuah ekspresi dari aktualisasi diri manusia, dimana aktualisasi diri adalah salah satu kebutuhan dasar psikologi manusia. Bahasa mudahnya, tidak ada yang salah dengan pencitraan karena itu adalah kebutuhan dasar manusia, layaknya makan atau minum. Contoh sederhana, kita cenderung berpakaian bagus walaupun mungkin pekerjaan kita tidak menghasilkan uang yang begitu besar. Kita juga dengan suka rela kredit mobil/motor baru walaupun gaji kita sebenarnya pas-pasan. Bahkan saya pun sekarang sedang melakukan pencitraan dengan menulis tulisan ini. Semua hal tersebut adalah proses pencitraan yang dilakukan manusia dan merupakan suatu hal yang wajar dan lumrah.
Dalam kaitannya dengan pencitraan yang dilakukan Iran, maka saya melihat tidak ada hal yang salah dari Iran. Iran, seperti halnya Arab Saudi, Indonesia, Amerika dan seluruh negara lainnya di dunia yang juga melakukan politik Pencitraan. Pencitraan adalah suatu perilaku yang wajar dilakukan oleh suatu negara dalam rangka meraih simpati dan kepercayaan serta asumsi positif dari negara lain. Simpati, kepercayaan dan asumsi positif dapat berguna dalam kerjasama antar bangsa dalam berbagai sektor yang berakibat pada terpenuhinya kepentingan nasional masing-masing negara.
Ketiga, berkaitan dengan klaim Ust. Bambang Sukirno bahwa permusuhan Iran dengan AS serta Israel hanyalah pengalih perhatian dari tragedi kemanusiaan di Suriah. Ust. Bambang mungkin melewatkan sejarah bahwa sejak Rezim Syi'ah berkuasa di Iran, ketegangan dengan negara-negara barat terutama AS selalu dalam kondisi terpanasnya. Ketegangan dimulai sejak awal revolusi Iran yakni tahun 1979 hingga hari ini. Tidak terhitung kerugian kedua belah pihak akibat perseteruan ini. Kerjasama ekonomi yang nyaris terhenti total karena embargo ekonomi dari AS menyebab Iran kehilangan milyaran USD akibat tidak bisa import ataupun eksport komoditi ke banyak negara (terutama negara Eropa & AS). AS pun mengalami kerugian banyak karena tidak bisa memasarkan produknya ke Iran, sebuah negara dengan populasi terbanyak di wilayah Timur Tengah. Semua ini terjadi selama puluhan tahun hingga hari ini, sehingga sulit kita bayangkan kerugian kedua belah pihak akibat ketegangan ini.
Dengan kerugian yang sedemikian besar, rasanya tidak masuk akal bahwa semua ketegangan selama beberapa dekade hanya bertujuan menghabisi segelintir rakyat Suriah (saya katakan segelintir karena memang jumlahnya yang hanya ratusan/ribuan dari 1 milyar muslim diseluruh dunia). Tidak ada keuntungan pun yang didapatkan dari pembantaian warga Suriah ini: AS tidak menjual senjata ke Suriah dan begitupun juga dengan Iran. Hubungan ekonomi antara Iran dengan Suriah pun tidak begitu intens, sehingga terguling atau tidaknya rezim Bashar tidak akan terlalu berpengaruh kepada kondisi ekonomi Iran. Teori decoy yang diajukan Ust. Bambang telah mencapai titik kegagalan karena tidak bisa menjelaskan titik ekuivalen antara kerugian dan keuntungan yang diperoleh dari decoy ketegangan Iran - AS ini.
Dalam tulisannya juga Ust. Bambang seakan-akan Iran tidak serius melawan Israel karena tidak berani menyerang. Justru saya melihat adalah suatu hal yang baik saat Iran tidak memilih jalan perang terbuka dengan Israel. Karena jika Iran menyerang Israel maka akan menghasilkan banyak konsekuensi, diantaranya adalah:
Pertama adalah resiko kekalahan Iran. Israel adalah sebuah negara kuat walaupun luas wilayahnya tidak lebih besar dari pulau Sumatera. Dalam ranking kekuatan militer negara-negara di dunia, Israel menempati urutan 10 sedangkan Iran berada di urutan ke 12. Tidak masuk akal rasanya, bahkan dengan alasan apapun jika sebuah negara yang lebih lemah menyerang negara lain yang lebih kuat.
Kedua, jika memang Iran menyerang Israel maka konsekuensinya adalah pencitraan yang dilakukan oleh Iran sebelumnya akan gagal total. Iran akan semakin dimusuhi oleh dunia karena dianggap sebagai negara agressor yang pada akhirnya, akan semakin mengecilkan kemungkinan Iran menang melawan Israel karena adanya bantuan terhadap Israel dari dunia dalam rangka melawan Iran. Sekutu terdekat Iran yaitu Rusia dan Cina juga tidak akan membantu Iran karena memang ideologi non-agresif yang dianut kedua negara raksasa tersebut.
Ketiga adalah korban jiwa. Perang modern tidak terbantahkan lagi selalu membawa dampak collateral damage. Collateral damage adalah kerusakan / korban yang muncul dari pihak non-kombatan akibat dari efek senjata yang menyebar. Contoh collateral damage paling mudah kita temui adalah saat pesawat menjatuhkan bom ke instalasi militer yang dekat dengan pemukiman sipil. Saat bom tersebut meledak, maka efek mematikannya akan menyebar ke rumah-rumah warga sekitar yang tentu akan ikut menjadi korban. Faktanya collateral damage tidak hanya terjadi pada senjata bom dari pesawat tapi juga peluru biasa, artileri, tank, peluru kendali dan lain sebagainya. Pada perang dunia kedua saja, collateral damage telah menewaskan 40 juta manusia di seluruh dunia.
Belum lagi terhitung penderitaan rakyat Iran & Israel jika perang benar-benar meletus. Mengingat kedua negara ini adalah negara "raksasa" dalam bidang militer di Timur Tengah, maka efeknya dalam bidang stabilitas ekonomi dan politik negara-negara sekitar juga pasti akan terasakan. Ekonomi Timteng bisa kolaps, harga minyak dunia bisa meroket, membuat kerugian milyaran dollar bagi negara pengimport minyak termasuk Indonesia. Belum lagi instabilitas politik di Timur Tengah yang berpotensi muncul akibat pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi dari peperangan yang penuh dengan sentimen agama ini yang semakin merusak perekonomian dan stabilitas politik dunia.
Maka kesimpulan yang saya dapatkan disini adalah bahwa tidak ada teori konspirasi antara Iran dengan AS - Israel. Teori konspirasi bahwa ketagangan selama ini hanya decoy (pengalih perhatian) sulit untuk diterima akal sehat jika melihat kerugian kedua belah pihak selama ketegangan ini terjadi. Tidak ada bukti kentungan timbal balik yang diterima kedua pihak seandainya pun kerugian tersebut muncul akibat teori konspirasi ini. Jadi menurut saya pribadi, teori konspirasi ala Ust. Bambang sangat mengada-ada dan tanpa landasan analisa ilmiah.
Ketiga, berkaitan dengan klaim Ust. Bambang Sukirno bahwa permusuhan Iran dengan AS serta Israel hanyalah pengalih perhatian dari tragedi kemanusiaan di Suriah. Ust. Bambang mungkin melewatkan sejarah bahwa sejak Rezim Syi'ah berkuasa di Iran, ketegangan dengan negara-negara barat terutama AS selalu dalam kondisi terpanasnya. Ketegangan dimulai sejak awal revolusi Iran yakni tahun 1979 hingga hari ini. Tidak terhitung kerugian kedua belah pihak akibat perseteruan ini. Kerjasama ekonomi yang nyaris terhenti total karena embargo ekonomi dari AS menyebab Iran kehilangan milyaran USD akibat tidak bisa import ataupun eksport komoditi ke banyak negara (terutama negara Eropa & AS). AS pun mengalami kerugian banyak karena tidak bisa memasarkan produknya ke Iran, sebuah negara dengan populasi terbanyak di wilayah Timur Tengah. Semua ini terjadi selama puluhan tahun hingga hari ini, sehingga sulit kita bayangkan kerugian kedua belah pihak akibat ketegangan ini.
Dengan kerugian yang sedemikian besar, rasanya tidak masuk akal bahwa semua ketegangan selama beberapa dekade hanya bertujuan menghabisi segelintir rakyat Suriah (saya katakan segelintir karena memang jumlahnya yang hanya ratusan/ribuan dari 1 milyar muslim diseluruh dunia). Tidak ada keuntungan pun yang didapatkan dari pembantaian warga Suriah ini: AS tidak menjual senjata ke Suriah dan begitupun juga dengan Iran. Hubungan ekonomi antara Iran dengan Suriah pun tidak begitu intens, sehingga terguling atau tidaknya rezim Bashar tidak akan terlalu berpengaruh kepada kondisi ekonomi Iran. Teori decoy yang diajukan Ust. Bambang telah mencapai titik kegagalan karena tidak bisa menjelaskan titik ekuivalen antara kerugian dan keuntungan yang diperoleh dari decoy ketegangan Iran - AS ini.
Dalam tulisannya juga Ust. Bambang seakan-akan Iran tidak serius melawan Israel karena tidak berani menyerang. Justru saya melihat adalah suatu hal yang baik saat Iran tidak memilih jalan perang terbuka dengan Israel. Karena jika Iran menyerang Israel maka akan menghasilkan banyak konsekuensi, diantaranya adalah:
Pertama adalah resiko kekalahan Iran. Israel adalah sebuah negara kuat walaupun luas wilayahnya tidak lebih besar dari pulau Sumatera. Dalam ranking kekuatan militer negara-negara di dunia, Israel menempati urutan 10 sedangkan Iran berada di urutan ke 12. Tidak masuk akal rasanya, bahkan dengan alasan apapun jika sebuah negara yang lebih lemah menyerang negara lain yang lebih kuat.
Kedua, jika memang Iran menyerang Israel maka konsekuensinya adalah pencitraan yang dilakukan oleh Iran sebelumnya akan gagal total. Iran akan semakin dimusuhi oleh dunia karena dianggap sebagai negara agressor yang pada akhirnya, akan semakin mengecilkan kemungkinan Iran menang melawan Israel karena adanya bantuan terhadap Israel dari dunia dalam rangka melawan Iran. Sekutu terdekat Iran yaitu Rusia dan Cina juga tidak akan membantu Iran karena memang ideologi non-agresif yang dianut kedua negara raksasa tersebut.
Ketiga adalah korban jiwa. Perang modern tidak terbantahkan lagi selalu membawa dampak collateral damage. Collateral damage adalah kerusakan / korban yang muncul dari pihak non-kombatan akibat dari efek senjata yang menyebar. Contoh collateral damage paling mudah kita temui adalah saat pesawat menjatuhkan bom ke instalasi militer yang dekat dengan pemukiman sipil. Saat bom tersebut meledak, maka efek mematikannya akan menyebar ke rumah-rumah warga sekitar yang tentu akan ikut menjadi korban. Faktanya collateral damage tidak hanya terjadi pada senjata bom dari pesawat tapi juga peluru biasa, artileri, tank, peluru kendali dan lain sebagainya. Pada perang dunia kedua saja, collateral damage telah menewaskan 40 juta manusia di seluruh dunia.
Belum lagi terhitung penderitaan rakyat Iran & Israel jika perang benar-benar meletus. Mengingat kedua negara ini adalah negara "raksasa" dalam bidang militer di Timur Tengah, maka efeknya dalam bidang stabilitas ekonomi dan politik negara-negara sekitar juga pasti akan terasakan. Ekonomi Timteng bisa kolaps, harga minyak dunia bisa meroket, membuat kerugian milyaran dollar bagi negara pengimport minyak termasuk Indonesia. Belum lagi instabilitas politik di Timur Tengah yang berpotensi muncul akibat pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi dari peperangan yang penuh dengan sentimen agama ini yang semakin merusak perekonomian dan stabilitas politik dunia.
Maka kesimpulan yang saya dapatkan disini adalah bahwa tidak ada teori konspirasi antara Iran dengan AS - Israel. Teori konspirasi bahwa ketagangan selama ini hanya decoy (pengalih perhatian) sulit untuk diterima akal sehat jika melihat kerugian kedua belah pihak selama ketegangan ini terjadi. Tidak ada bukti kentungan timbal balik yang diterima kedua pihak seandainya pun kerugian tersebut muncul akibat teori konspirasi ini. Jadi menurut saya pribadi, teori konspirasi ala Ust. Bambang sangat mengada-ada dan tanpa landasan analisa ilmiah.

karena dia memang bermaksud melakukan decoy kepada rakyat islam di indonesia yang mayoritas sunni agar membenci Iran yang mayoritas syiah. Dengan begitu misi Amerika kan bisa terbantu :)
ReplyDelete