Ngawurnya Akun Twitter TRIOMACAN2000 Terkait Hubungan Jokowi Dengan Prabowo

Anda sekalian mungkin tahu dengan akun twitter kontroversial pseudonim @triomacan2000 yang seringkali kultwit hal-hal yang sangat bombastis. Terakhir kultwit TM2000 yang saya stalking (karena saya bukan follower dia) adalah kultwit mengenai hubungan antara Jokowi dengan Prabowo. Menurut pemikiran TM2000, Jokowi sangat berbahaya bila terpilih menjadi gubernur DKI 2012 karena digadang-gadang akan membawa agenda kepentingan Prabowo Subianto pada pilpres 2014. Perlu dicatat bahwa TM2000 melihat Prabowo Subianto sebagai sosok yang anti-demokrasi, baik itu karena faktor sejarahnya (Tragedi '98) ataupun latar militer yang merupakan sebuah kombinasi dari watak pemimpin otoriter ala Soeharto. Link kumpulan kultwit TM2000 tentang hubungan Jokowi dan Prabowo ini bisa anda sekalian baca di http://chirpstory.com/li/18486 .

Sebelum saya membahas cacatnya argumen TM2000 dalam kultwit Jokowi - Ahok dengan Prabowo tersebut diatas, saya akan sedikit gambarkan mengapa akun pseudonm seperti TM2000 tidak layak dipercaya apalagi menjadi landasan hipotesis atas suatu masalah.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pertama adalah kredibitas sumber akun itu sendiri. Yang pertama tentu kita semua merasa absurd mengenai siapakah TM2000 itu sebenarnya. Ada banyak praduga diluar sana, salah satunya menunjuk kepada Raden Nuh (Silahkan Googling siapakah dia itu), namun secara mendasar, TM2000 sendiri tidak pernah mengakui siapa dirinya. Faktor anonimitas inilah yang membuat data-data yang disajikan TM2000 menjadi kurang terpercaya, karena seperti yang kita tahu, sebuah data (dalam konteks keilmu pengetahuan)  akan valid saat narasumbernya sendiri diketahui siapa (sederhananya: narasumber itu harus jelas orangnya). Bayangkan saja kita sedang membuat buku ilmiah, skripsi atau thesis, tidak mungkin kan kita pakai data yang dipaparkan oleh sumber yang tidak jelas orangnya? Prinsip-prinsip keilmuan itulah yang harus kita pegang teguh dalam memahami cacatnya akun pseudonim TM2000. 
Kedua, TM2000 sendiri mengandalkan datanya dari sumber lain, yakni yang "katanya" sumber intelejen. Saya juga kurang paham dengan maksud dia dengan "intelejen", namun saya menangkap bahwa ini semacam sekumpulan orang (atau grup) pribadi, yang juga termasuk dalam tim TM2000 yang bertugas mencari informasi dilapangan. Namun sekali lagi, TM2000 juga tidak pernah membeberkan bukti shahih bahwa tim Intel ini eksis di dunia. Singkatnya, tidak ada satupun cara di planet ini untuk membuktikan bahwa Tim Intelejen khusus TM2000 ini benar-benar ada di dunia. Walaupun TM2000 sering berkata bahwa dia punya Tim Intel, namun ini sama saja mempercayai sesuatu hal yang tidak jelas atas suatu hal yang tidak jelas pula: jadi yah semacam tertipu dua kali jika anda salah satu fans nya. 
Ketiga, dalam membeberkan apa yang disebutnya dengan "fakta", TM2000 telah kehilangan akal sehatnya, terutama bila kita melihatnya dari segi hukum. Dalam hukum, fakta atau disebut dengan fakta hukum adalah sebuah kenyataan yang telah melalui proses pengujian data yang bernama pengadilan. Tanpa proses pengadilan, semua bentuk pelanggaran hukum baru sampai pada tahap "dugaan". Masalahnya adalah, belum sampai pengadilan alias masih pada data intel fiktifnya, TM2000 sudah memvonis seseorang melakukan tindak pelanggaran hukum (praduga bersalah). Saya rasa, sebagai seorang yang menjunjung tinggi prinsip keilmuan,, cara berpikir TM2000 merupakan cara berpikir sesat yang justru membodohi orang-orang (alih-alih "pencerahan" seperti yang tertera pada bio nya). 
Ketiga prinsip kesesatan dasar terkait akun TM2000 tersebut diatas adalah dasar dari kekacauan twit-twit dia dari dulu hingga hari ini. Sekarang marilah kita membahas secara spesifik kesesatan pikir TM2000 terkait hubungan Jokowi - Ahok (Jokohok) dengan Prabowo.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pertama, TM2000 mengatakan bahwa Taufik Kiemas pada dasarnya tidak setuju dengan pencalonan Jokowi dengan 2 alasan: 1). Tidak mau PDIP didikte oleh Prabowo. 2). Keislaman Taufik Kiemas kuat. 3). Jokohok alat untuk membesarkan Prabowo dan Gerindra. 4). Takut Jokowi (sebagai kader PDIP) akan lebih loyal ke Gerindra dan Prabowo.

Argumen pertama TM2000 yang mengatakan bahwa Taufik Kiemas pada dasarnya tidak setuju dengan pencalonan Jokowi tidak dapat terbukti. Taufik Kiemas sendiri tidak pernah menyatakan bahwa dia tidak setuju dengan pencalonan Jokowi. Justru yang ada, dalam berbagai pernyataannya di media massa, secara semiotika dia mengisyaratkan mendukung pasangan yang diangkat oleh PDIP, yaitu Jokowi Ahok. Otomatis dengan mentahnya argumen utama ini (Taufik Kiemas tidak setuju Jokowi) maka membuat 4 poin turunan yang merupakan penjelasan dari argumen utama, juga otomatis mental alias tidak valid.

Seandainya pun jika memang Taufik Kiemas menyatakan demikian (yang mana hal tersebut tidak ada buktinya), maka menurut saya, kekhawatiran Taufik Kiemas pun salah total karena, pertama: Dengan diangkatnya Jokowi menjadi cagub DKI yang didukung oleh Gerindra juga, maka hal ini tetap akan menaikkan pamor PDIP. Alasannya adalah sesuai dengan teori polarisasi dalam dunia ilmu politik, seorang figur atau tokoh yang menjadi kader suatu partai akan menaikkan pamor dan elektabilitas partai yang bersangkutan. Dalam kata-kata yang lebih sederhana, selama Jokowi masih menjadi kader PDIP, maka selama itu juga PDIP yang akan diuntungkan oleh figur Jokowi. Sedangkan kekhawatiran Taufik Kiemas bahwa Jokowi selaku kader potensial PDIP akan lebih loyal ke Gerindra meskipun cukup beralasan namun saya melihat sebagai ketakutan yang berlebihan karena Jokowi sendiri mengatakan bahwa dia selalu setia kepada PDIP.

Selanjutnya, Triomacan2000 salah total dalam menjelaskan bahwa populernya Jokowi juga akan menaikkan nama Prabowo Subianto. Dengan berlandaskan pada teori pembentukan pemerintahan Fasisme maka akan dapat kita pahami bahwa bahkan tanpa adanya sosok Jokowi pun, seorang Prabowo akan meningkat popularitasnya. Kenapa? Karena pertama, demokrasi Indonesia sudah menimbulkan kekecewaan Rakyat secara umum yang termanifestasikan dalam tingginya jumlah Golput. Pemilu Nasional 2009, yaitu lebih dari 30% golput (golput: tidak memilih walaupun sudah memiliki hak pilih yang sah). Ditambah lagi tahun 2012, DKI Jakarta, sebagai sebuah wilayah yang menggambarkan keanekaragaman dan ciri Indonesia, mempunyai angka lebih dari 30% golput juga.

Dalam teori pembentukan Fasis, dikatakan bahwa fasisme terbentuk di negara non miskin (bisa negara maju atau negara berkembang) yang didominasi oleh kelas menengah. Fasisme terbentuk karena rakyat negara yang bersangkutan sudah dan telah merasakan bentuk pemerintahan demokrasi, namun kecewa dengan prestasi semasa demokrasi. Kekecewaan ini yang menggiring rakyat kepada bentuk pemerintahan yang lebih otoriter dan lahir lah fasisme. Hal ini, dalam opini saya, sama dengan apa yang terjadi di Indonesia: Demokrasi sejauh ini tidak berhasil meningkatkan kesejahteraan dan rasa aman rakyat. Konflik horizontal dan vertikal dengan begitu gamblangnya dapat rakyat saksikan, bahkan kadang secara live, melalui siaran televisi. Kasus KKN hampir setiap hari dapat kita baca di koran dan internet. Inflasi yang tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan semakin mempersulit kehidupan rakyat. Semua ini berakumulasi selama bertahun-tahun dan menimbulkan rasa skeptisme rakyat. Dari sinilah rakyat Indonesia mulai beralih melirik
pemimpin alternatif yang lebih tegas, lebih tangan besi, lebih mampu menyelesaikan masalah melalui kekuatan penegak hukum (aparat negara)...dan semua itu dimiliki oleh Prabowo Subianto.

Teori tersebut diatas didukung oleh model siklus bentuk pemerintahan Plato yang menyebutkan bahwa dalam kehidupannya, sebuah negara memiliki siklus pemerintahan, dan siklus tersebut menunjukkan bahwa setelah Demokrasi adalah bentuk pemerintahan Tirani. Indonesia sendiri, pernah merasakan demokrasi (gagal) yang pada gilirannya kini adalah masuk ke masa-masa Tirani.

Namun bagaimanapun, kita baru "akan" atau berpotensi "akan" masuk ke lingkungan fasis, kita belum masuk kedalamnya. Jadi sebenarnya masih ada harapan besar untuk tetap berada dalam lingkungan demokrasi. Maka dari itu, seandainya memang Prabowo Subianto identik dengan fasis seperti yang dituduhkan oleh TM2000 (dan marilah kita untuk sementara berasumsi seperti itu), maka tetap tidak perlu ada kekhawatiran bahwa Jokowi lah yang mempromosikan Prabowo. Justru yang mempromosikan Prabowo adalah kegagalan demokrasi kita: partai politik (terutama partai-partai penguasa), parlemen (DPR dan MPR) serta para institusi penegakkan hukum yang telah memamerkan kepada rakyat Indonesia betapa hancurnya demokrasi di negeri ini.

Jadi menurut saya, akun TM2000 ini memang seakan-akan cerdas dalam menghubung-hubungkan antar variabel, namun tidak punya landasan pemikiran ilmiah, baik itu teori ataupun model...hanya reka-reka belaka. Dan maka dari itu, saya merasa sudah tidak ada alasan lagi bagi mereka yang menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan untuk mempercayai dan menjadikan kultwit TM2000 sebagai dasar dalam melakukan hipotesis ataupun landasan dalam melakukan suatu aktivitas.

MW5KBRR2Z98B

No comments:

Post a Comment