"ROHIS SARANG TERORIS" seakan-akan menjadi sebuah fakta yang dinyatakan oleh Metro TV. Demonstrasi anak-anak Rohis hari minggu lalu, yang notabenenya masih anak-anak polos yang belum "tercemari" oleh strategi-strategi propaganda dan politik praktis, banyak menyedot perhatian media massa lokal. Posisi Metro TV pun terpojok, hingga harus mengklarifikasi beritanya itu ke KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Saya sendiri posisinya seorang muslim yang memang tidak pernah ikut organisasi Rohis namun hampir semua teman saya dulu waktu SMA adalah anggota Rohis hingga kini, tidak ingin terbawa dalam justifikasi apakah benar Rohis sarang teroris atau bukan. Namun coba mari kita bahas berita ini dari sudut pandang lain, yaitu logika linguistik, yang mungkin selama ini mungkin terlupakan dalam melihat permasalahan antara Metro TV dengan Rohis kali ini.
Pertama saya tegaskan disini dengan sejelas-jelasnya bahwa pernyataan ROHIS SARANG TERORIS adalah saya dapatkan dari berbagai sumber berita ataupun foto aksi demonstrasi kemarin (ini, ini, ini, ini dan lain sebagainya, dapat anda googling). Mungkin ada beberapa pertanyaan yang muncul, seperti: 1). Mengapa berita yang berjudul ROHIS BUKAN SARANG TERORIS juga dimasukkan? karena pernyataan tersebut (Rohis bukan sarang teroris) adalah sebuah kalimat reaksi dari kalimat aksi sebelumnya. Dalam konteks bahasa tertulis, bila sebuah kalimat reaksi mengandung sisipan "bukan", maka subjek dan pelengkapnya mengikuti kalimat aksi sebelumnya. Contoh: Ada kalimat reaksi denial "Budi bukan maling" maka sebelumnya ada kalimat aksi yang berupa "Budi adalah maling". "Bukan" menunjukkan anti thesa dari sebuah statemen sebelumnya (aksi-reaksi). "Bukan" tidak bisa berdiri sendiri, karena tanpa atribut anti thesa yang menyertainya dia tidak punya makna apapun. Dari sinilah saya mengambil konklusi bahwa pernyataan Rohis Bukan Sarang Teroris lahir dari pernyataan (entah fakta atau sekedar asumsi) Rohis Sarang Teroris. 2). Kenapa saya mengambil sumber dari berita alih-alih menyaksikan langsung? Dalam dunia penelitian, kita tidak selalu harus terjun langsung dilapangan bila sudah ada sumber kredibel yang dapat menyajikan informasi. Media yang saya ambil contohnya diatas juga sudah cukup ternama kredibilitasnya sehingga saya rasa tidak perlu kita ragukan kebenaran berita faktanya. Namun seperti biasa, selalu ada anomali dalam sebuah fenomenon. Bisa saja istilah Rohis Sarang Teroris adalah pelintiran media-media lain yang MUNGKIN karena hal tidak disengaja atau disengaja untuk menjatuhkan Metro TV. Namun kesimpulannya, saya beranggapan (dengan berdasarkan pada penalaran-penalaran diatas) bahwa beberapa pihak disana (termasuk MUI) berpikir bahwa Metro TV mengatakan Rohis sebagai sarang teroris.
Kedua, tulisan ini tidak menggeneralisasi bahwa semua pendukung Rohis Vs Metro TV ini mengatakan bahwa Metro TV mengeluarkan pernyataan bahwa Rohis Sarang Teroris. Ada beberapa kawan yang memang mengakui bahwa Metro TV tidak bicara seperti itu samasekali. Jadi tulisan ini ditujukan untuk membicarakan mereka yang berpikir bahwa Metro TV menuduh (saya sebut menuduh karena tidak/belum terbukti secara hukum) Rohis Sarang Teroris. Cukup jelas saya rasa.
Ketiga, Framing. Saya membatasi tulisan ini hanya pada kesesatan dalam membuat konklusi ROHIS SARANG TERORIS tanpa dasar premis yang valid. Saya tidak membicarakan apakah benar Rohis di berbagai sekolah di Indonesia menjadi sarang gerakan terorisme (walaupun secara subjektif saya tidak berpendapat demikian).
Baiklah, mari kita masuk kedalam inti pembahasan Falasi logika ini. ROHIS SARANG TERORIS kita pisah menjadi tiga kata: Rohis, Sarang dan Teroris. Untuk kata "Rohis" dan "Teroris" saya kira jelas maksudnya. Sedangkan untuk kata "Sarang" inilah yang perlu kita kaji lebih jauh. Sarang pada dasarnya adalah tempat dimana hewan dapat beristirahat, bersembunyi, berkembang biak, merawat anak, menyimpan makanan atau berkumpul dengan kawanannya. Kita lihat bahwa tidak semua binatang mempunyai sarang: Kuda, kucing, beruang, Ikan Paus, Kerbau dll adalah hewan-hewan yang tidak memiliki sarang. Sedangkan Semut, laba-laba, Lebah, Tawon, Berang-berang dan lain-lain adalah contoh hewan yang memiliki sarang. Maka definisi ROHIS SARANG TERORIS, dengan berkaca dari definisi "sarang" pada dunia animalia, maka kurang lebih diartikan sebagai "Tempat dimana teroris beristirahat, bersembunyi, berkembang biak, merawat anak, atau berkumpul dengan kawanannya".
Sekarang mari kita lihat screenshot editorial 5 September 2012 di Metro TV sebagai berikut ini:
Yang dipermasalahkan mereka yang merasa Metro TV mengatakan Rohis Sarang Teroris adalah point nomor tiga "Masuk melalui Program Ekstra Kurikuler Di Masjid-Masjid Sekolah". Apakah kalimat tersebut mempunyai arti identik bahwa "Rohis adalah Tempat dimana teroris beristirahat, bersembunyi, berkembang biak, merawat anak, atau berkumpul dengan kawanannya"? Apakah benar bahwa jika saya "masuk melalui pintu A" maka Pintu A adalah tempat saya beristirahat, bersembunyi dan lain sebagainya? Apakah benar jika "Rekruitmen TNI masuk melalui organisasi Paskibra di SMA-SMA unggulan di Jakarta" maka diartikan Paskibra itu adalah sarang TNI? Saya kira itu loncatan berpikir yang luar biasa ngawur dan tidak masuk akal samasekali.
Selain itu, yakinkah kita bahwa Rohis hanyalah satu-satunya Ekstra Kurikular di masjid-masjid sekolah dan berlaku universal? Sayangnya, pengalaman saya sendiri membantah hal ini: Di sekolah saya, masjid sekolah juga dimanfaatkan kelompok ekstra kurikuler Rebana untuk berlatih. Jadi generalisasi kelompok yang mengatakan bahwa di masjid hanya ada Rohis terbukti salah, paling tidak disekolah saya.
Sejauh ini, hanya kedua hal itulah yang cukup mengganggu pemikiran saya. Sejauh yang saya amati, pernyataan presenter juga tidak menunjukkan gejala yang menuduh Rohis adalah sarang Teroris. Namun bagaimanapun saya bisa salah jika ada kalimat atau kata-kata dari Metro TV yang terlewati oleh saya. Bisa saja juga media-media lain yang memelintir pernyataan narasumber terkait statement yang menuduh Metro TV mengatakan Rohis Sarang Teroris, atau faktor hambatan informasi lainnya.
Sejauh ini, hanya kedua hal itulah yang cukup mengganggu pemikiran saya. Sejauh yang saya amati, pernyataan presenter juga tidak menunjukkan gejala yang menuduh Rohis adalah sarang Teroris. Namun bagaimanapun saya bisa salah jika ada kalimat atau kata-kata dari Metro TV yang terlewati oleh saya. Bisa saja juga media-media lain yang memelintir pernyataan narasumber terkait statement yang menuduh Metro TV mengatakan Rohis Sarang Teroris, atau faktor hambatan informasi lainnya.
Bagaimana pendapat saya secara subjektif mengenai kebenaran apakah Rohis tempat teroris berkumpul? Pengalaman saya menunjukkan bahwa Rohis BUKAN tempat teroris berkumpul dan bersembunyi. Pengalaman saya menunjukkan bahwa Rohis adalah tempat pendidikan berorganisasi, bersosialisasi, dan pendidikan agama yang baik. Di Rohis sekolah saya pada zaman saya SMA, yang saya tahu tidak pernah ada gerakan-gerakan radikal yang masuk. Secara emosional pun saya cukup attached dengan Rohis walaupun saya tidak pernah menjadi anggota Rohis karena banyak kawan-kawan saya yang ikut organisasi Rohis. Namun kedekatan dan pengalaman baik saya dengan Rohis bukan berarti membutakan logika saya untuk berpikir rasional dan tidak membela Rohis secara membabi buta bahkan tidak menyambung.


No comments:
Post a Comment