Kelas Menengah dan Kaum Buruh "Ngehe"

Tulisan ini pada dasarnya merupakan respon dari tulisan yang tercantum dalam http://www.kandhani.net/2013/11/surat-terbuka-seorang-buruh-tentang.html yang yah, saya pahami adalah buruh (atau pura-pura menjadi buruh) yang suka merendahkan dirinya sendiri (dengan favorite tag line menganggap dirinya sendiri bodoh, pekok, dan kalimat-kalimat yang menunjukkan kelainan kerendahan diri lainnya, kasihan sebenarnya kok ada manusia yang hobinya merendahkan dirinya sendiri). Sebenarnyapun saya setuju beberapa poin dalam tulisan itu, tapi rasanya ngga akan seru kalau tulisan ini hanya meng-iya-kan tulisan tersebut. Tapi jangan khawatir, kalau para pembaca malas membaca tulisan tersebut diatas, maka pembaca akan tetap bisa memahami tulisan sederhana ini.

Perkenalkan saya Mr. Pelari Marathon, saya beritahu dulu ya kalau saya tidak pernah menganggap saya kelas proletarian (buruh), kelas menengah kebawah, kelas menengah sedeng, kelas menengah atas, kelas atas ataupun kelas atas banget. Kalau sampeyan bilang saya adalah kelas menengah ngehek, ya monggo kulo persilahken, kalau sampeyan nuduh saya orang kelas atas sombong yang saya hanya bisa berdoa semoga itu jadi kenyataan (bagian sombongnya enggak lho), kalau sampeyan nganggep saya kelas bawah yang bodoh, sok tahu dan ngga ngerti apa-apa ya saya terima dengan senang hati juga

Sanikem, si penulis yang ngakunya bernama seperti itu, mengaku sebagai seorang buruh menyindir soal menutup jalan karena acara Jakarta Marathon. Beliau membandingkannya dengan penutupan jalan yang dilakukan para buruh yang berdemonstrasi. Maaf ya mas/mbak Sanikem yang terhormat, tapi jujur saja, yang namanya manusia itu  human nature nya (alaminya) lebih rela berkorban untuk hiburan dari pada hal lainnya. Lihat saja, berapa juta manusia yang rela mengeluarkan uang lebih untuk wisata, beli telepon genggam, beli motor CBR yang dipakai buruh-buruh berdemo dari pada untuk amal atau disumbang ke Panti Asuhan, ya tho? Kalau belanja baju menjelang lebaran gila-gilaan, tapi begitu mau amal Rp. 20.000 saja rasanya berat sekali. Beli HP harga 2 juta kuat, tapi saat mau kurban kambing Rp. 1.500.000 rasanya seperti mau mati. Mau kelas bawah kek sampai kelas atas semuanya ya sama saja, lebih suka menghambur-hamburkan untuk hiburan.

Mbandingin demonstrasi kok dengan Jakarta Marathon ya jauh toh mas/mbak Sanikem. Yang satu bikin macet untuk kepentingan kelompok tertentu, yang satu bikin macet karena hiburan untuk semua kalangan (situ aja yang mengidap inferiority complex sehingga merasa tidak pantas ikut Jakarta Marathon, padahal anak kampung pinggir Ciliwung kawan saya juga banyak yang ikut dengan modal sepatu 60 ribuan sepasang), ya jauh tho mas/mbak. Orang lebih rela jalan ditutup untuk acara hiburan. Coba situ rasain aja, saat jalan kampung sampeyan ditutup karena buat acara pasar kaget malam. Pasti tingkat kekesalannya lebih rendah dari pada kalau jalanan ditutup untuk kawinan satu orang doang, ya kan? Situ tidak suka? Ya mau apa, toh situ juga melakukan hal yang sama, begitupun halnya dengan milyaran manusia lain di bumi (walaupun mungkin tidak semuanya) yang lebih suka berkorban demi hiburan.

Selanjutnya mas/mbak Sanikem ini juga menyentil soal hidup layak. Maaf sebelumnya, tapi kalau memang tidak mampu ya sudah tidak perlu belagu sok kaya. Kalau miskin, ngga kuat beli mobil atau motor baru, ya belilah motor bekas yang irit, kan bisa? Ngaku miskin, bodoh, teraniaya tapi kredit motor 2 juta per bulan selama 2 tahun kuat, ya bagaimana orang mau simpati? Maunya dianggap orang teraniaya, tapi beli telepon genggam Blackberry atau Iphone 3 - 4 atau Android Nexus/Samsung... bagaimana orang mau memahami perjuangan sampeyan? Mbok kalau berjuang tuh yang sinkron dengan gaya hidup gitu lho supaya orang-orang bisa bersimpati

Mas/Mbak Sanikem yang terhormat, definisi "Layak" itu subjektif mas/mbak Sanikem. Bagi saya yang pas-pasan ini, telepon genggam Nokia Asha 500 ribuan sudah lebih dari cukup (Kalau ndak dibayari kantor saya untuk wajib beli hp sekarang ini, saya juga ndak akan beli hp saya yang sekarang ini). Bagi saya yang "hidup tidak layak" ini ini, Mio sporty lawas tahun 2008 yang harganya 5,5 juta sudah lebih dari cukup untuk pergi mencari nafkah, ndak perlu berlagak seperti orang kaya naik motor 150 cc ke atas.

Maaf mas/Sanikem, hitungan Komponen Hidup Layak Buruh (KHL-Buruh) 2014 yang anda tuntut ke pemerintah itu tidak masuk akal. Sampeyan kok tega-teganya memasukkan TV 19 inch per tiga tahun? Lha wong saya punya TV tabung kotak sudah 6 tahun lebih saja ngga rusak-rusak kok, situ mau nonton TV apa nimbun TV? Situ juga minta dompet kulit 1 biji per tahun, lha wong dompet saya sudah 8 tahun sejak SMA sampai sekarang ngga pernah ganti saja tidak apa-apa kok, hayo ngaku saja, situ mau jualan dompet kan?! Belum lagi Jam tangan, jam dinding, payung dan topi yang masing-masing satu buah per tahun.... situ mau bikin toko kelontong ya?

Untuk lebih jelas hitung-hitungan KHL ala Buruh yang teraniaya ini, silahkan intip di http://forum.detik.com/-t824552.html untuk lebih jelasnya. Yang pasti, bila semua poin itu dijadikan acuan hidup layak di Indonesia, bisa disimpulkan bahwa hidup saya masih sangat jauh dari kata layak, saya bilang sangat lho yah, bukan hanya jauh.

Sentilan Sanikem tentang demonstrasi juga perlu saya kritisi. Kalau demo 1-2 kali yah saya masih bisa saya maklumi, tapi kalau kita ikuti berita mulai dari 2 minggu terakhir ini (Oktober - November), demonstrasi buruh yang hampir terjadi setiap hari. Saya jadi kepikiran bagaimana perusahaan mau tidak bangkrut kalau kerja pegawainya hanya demo, demo dan demo? Mungkin mas/mbak Sanikem dan buruh lainnya tidak tahu kalau yang namanya pabrik tidak beroperasi satu hari saja kerugiannya sudah bisa milyaran rupiah, apalagi kalau berhari-hari, ya bisa gulung tikar itu tempatmu bekerja. Tapi situ ndak perduli, situ hanya dengar propaganda "majikan" KSPI tentang gaji besar, persis seperti tikus yang terjebak lem tikus gara-gara iming-iming makanan: Kepingin makan tapi malah semaput, kepingin gaji besar malah kena PHK.

Situ juga ndak mau tahu toh pada semester pertama 2013 (Januari - Juni), 44 ribu rekan-rekan buruh sampeyan sudah di PHK karena perusahaan tempat mereka bernaung mengalami kerugian karena tingginya UMP. Saya tahu situ mikirnya semua orang yang punya pabrik pasti kaya: ya memang kaya, tapi kalau pengeluaran lebih besar dari pemasukan ya tetap saja ujung-ujungnya gulung tikar karena rugi.

Mas/mbak Sanikem juga "mungkin" lupa bahwa yang punya hak bukan hanya sampeyan para buruh lho, pengusaha juga punya hak. Kalo sampeyan punya hak nuntut gaji besar (menurut saya 3,7 juta itu besar lho), maka pengusaha (investor, atau gampangnya si bos yang memberi sampeyan pekerjaan) juga punya hak untuk pindah pabrik kemanapun yang dia mau. Kalau si pengusaha berpendapat kondisi di Jabotabek sudah sudah tidak kondusif (buruh minta gaji besar, sering bolos demonstrasi, kinerja loyo, infrastruktur buruk dan lain-lain), bisa saja si pengusaha memindahkan pabriknya ke Jawa tengah, Jawa timur atau provinsi-provinsi lain di luar Jawa. Atau bahkan kalau memang kondisi se-Indonesia sudah tidak kondusif semua, boleh-boleh saja si pengusaha kabur ke luar negeri dengan kondisi yang lebih kondusif seperti Malaysia, Thailand atau Vietnam. Jangan lupa mas/mbak Sanikem, sekarang zamannya sudah terbuka, justru negara lain rebutan investor dari negara kita. Jadi maaf ya mas/mbak Sanikem, yang punya hak bukan hanya sampeyan, jangan mentang-mentang situ wong cilik lantas yang orang kaya (yang memberi sampeyan pekerjaan) jadi tidak punya hak.

Yang terhormat mas/mbak Sanikem, waktu sampeyan menutup jalan, yang protes bukan cuma kelas menengah ngehe dan orang kaya yang penghasilannya lebih besar dari sampeyan lho. Apakah mas/mbak Sanikem lupa bahwa ada ribuan kendaraan umum, mulai dari Metromini, angkot hingga Transjakarta yang juga terhalangi saat sampeyan memblokir jalan? Sampeyan tahu manusia-manusia yang mengisi kendaraan-kendaraan umum itu banyak yang penghasilannya jauh dibawah sampeyan? Sampeyan tahu kan satu bus mini (Metromini/kopaja) bisa diisi berapa puluh manusia? Nah, apa sampeyan berpikir mereka juga tidak misuh-misuh saat kendaraan umum yang mereka tumpangi harus berhenti karena demo sampeyan? Mereka yang gajinya lebih kecil dari sampeyan, kalau sampai mereka terlambat kerja dengan ancaman pemotongan gaji, skorsing atau bahkan pecat, apa sampeyan juga mikir sampai situ? Kecuali kalau sampeyan memblokir jalan khusus mobil dan motor, sedangkan kendaraan umum tetap boleh lewat, maka baru situ boleh nuduh kelas menengah yang misuh-misuh, tapi situ ngga pernah kan? Wong mobil Jenazah & Ambulan saja tetap anda larang lewat kok.

Belum lagi kalau sampeyan demonstrasi suka memaksa buruh yang rajin bekerja untuk turut serta. Melakukan sweeping ke pabrik-pabrik, seperti preman saja. Saya kasih tahu ya mas/mbak Sanikem serta para buruh yang terhormat, yang namanya manusia itu berbeda-beda, termasuk gaji. Ada buruh yang kerja di perusahaan besar sehingga memang gajinya diatas sampeyan sehingga merasa ndak perlu ikut demonstrasi lagi. Ada juga buruh yang memang lebih suka bekerja ketimbang demonstrasi dengan gaji yang sama dengan sampeyan. Sampeyan ngga perlu maksa orang lain mengikuti kemauan sampeyan atau majikan KSPI kalian itu, orang ingin bekerja kok dilarang, wong edyan! Satu lagi, saya emoh menyebut mereka yang sweeping itu OKNUM, ratusan orang kok disebut oknum.

Maaf lho mas/mbak Sanikem, situ menyebut "kelas menengah ngehe" tapi situ sendiri mengikuti gaya hidup kelas menengah. Situ menulis kalau kelas menengah belagu gaya-gayaan pakai kendaraan/gadget mahal lebih dari kemampuannya, lah tapi kok sampeyean memakai alasan tersebut untuk membenarkan sifat konsumtif kalian untuk kredit barang mahal diluar kemampuan kalian, ya ndak salah kalau saya bilang sampeyan adalah "kelas proletarian ngehe" dong? Artinya kalian para buruh podo wae dengan kelas menengah yang kalian benci itu: "Saya ngehe, anda ngehe, kita semua ngehe"

Maaf lho mas/mbak Sanikem dan para buruh yang terhormat bila ada yang tersinggung karena tulisan ini. Sekali lagi, saya persilahkan para hadirin kelas proletarian ngehe untuk mencaci maki saya karena tulisan ini. Seperti yang sudah saya sebutkan di awal, saya ndak keberatan dihujat, sudah biasa kok seumur hidup saya. Sebagai catatan, Saya, Mr. Pelari Marathon, penghasilan saya lebih kecil dari sampeyan yang nuntut 3,7 juta perbulan, tapi saya ngga pernah menganggap diri saya kelas menengah, kelas buruh atau kelas atas. Saya juga ndak selera demonstrasi bukan karena ndak berani seperti yang sampeyan tuduh, tapi karena saya merasa cukup dengan gaji sekian. Saya juga ndak merasa berkewajiban untuk beli motor baru, beli gadget baru tiap tahun, beli baju di department store setiap bulan, beli jam tangan dan jam dinding tiap tahun (wong jam dinding saya sudah 23 tahun lebih masih jalan kok), beli TV 19 inch tiap 3 tahun, mesin cuci setiap 3 tahun dan lain-lain. Alhamdulillah sejauh ini cukup untuk hidup di kota Jakarta yang keras ini. Kadang saya juga nyambi jualan baju online untuk nambah-nambah uang, lumayanlah untuk bayar premi asuransi hari tua saya.

Cukuplah sekian tulisan saya kali ini, semoga para kelas proletarian ngehe dan kelas menengah ngehe bisa memahami maksud tulisan saya ini terlepas dari gaya bahasa yang, maaf sekali, agak blak-blakan ini. Mohon dimaafkan juga bila ada salah tulis atau hal-hal yang terlewat, saya hanya Homo sapiens biasa yang tidak lepas dari kesalahan


Salam



Mr. Pelari Marathon.

Rebutan Surga Macam Anak TK Rebutan Mainan!!!

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِي

Saya mo nanya nih kumendan?

Siapa yang dapat menentukan anda atau saya yang akan masuk surga? Jika saya katakan anda masuk surga apakah benar anda akan masuk surga? jika saya katakan saya masuk surga apakah benar saya nanti akan masuk surga? jika anda doakan saya masuk surga apakah benar nanti saya akan masuk surga? yakiiin bisa?? — pede banget yak –

Jadi siapa sesungguhnya yang berhak menentu suatu makhluk itu masuk ke dalam surga? Anda kah?? saya kah?? Nabi saw kah?? atau hanya Allah semata ??

Kajian Bib Novel Al Aydrus setelah solat tarawih di Majelis Ar Raudhah Solo, yang juga dapat panjenengan nikmati melalui link berikut ::
http://www.ar-raudhah.info/mp3-kajian/mp3-ramadhan-1434-h2013-m/ dengan spesifik file mp3 bisa anda donlod disini http://www.ar-raudhah.info/unduh/KajianRamadhan1434H-HikmahKisahNabiSulaimanBag2.mp3

Tidak ada orang yang masuk surga kecuali dengan rahmad Nya, bukan dengan amalNya. Apakah engkau ya Rasulullah. Aku juga begitu, aku juga tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmad Nya, hanya saja Allah sudah melingkupi dengan Rahmad Nya.

Hoorootooo,, Nabi saw yang ibadahnya luar biasa masih menyampaikan begitu, masuk surga bukan dengan amalan ibadah nya Rasulullah saw, padahal ibadahnya Beliau saw adalah panutan seluruh manusia..

lha saya ini ibadah e awur awuran mau claim paling berhak masuk surga.. ini parahhh pake superr paraahhh..  Lha Nabi saw saja tidak bisa memasukkan seseorang kedalam surga apalagi panjenengan.. lak pede tingkat pake akuttt njenengan kie…

Jadi pertanyaannya adalah… *kata2 temen2 sy yg sering nanya ini tentang ini dan itu hehe..

Apa urusan anda mengatakan amalan ibadah saya ini tidak lebih baik dari amalan anda. Apa jaminan anda mengatakan amalan anda paling baik atau setidaknya lebih baik dari amalan saya? trus kalo ada pernyataan begitu apa efeknya antara saya anda dan ridhanya Allah.

Saya tanya bener inii.. ada yang tau nda amalan kita itu pasti benar benar dan sungguh diterima Allah swt, selain diterima kemudian Allah ridha dengan amalan itu?? njenengan tau kaaahhhhhhhhh? ciyus banget nanya iniii……

Apakah Anda tau amalan seseorang itu diterima Allah??

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِالله

~ :: ~

ِإِلهِي لََسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاَ# وَلاَ أَقوى عَلَى النّارِ الجَحِيم

Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi

Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim

فهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذنوبِي # فَإنّكَ غَافِرُ الذنْبِ العَظِيْم

Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi

Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar

ذنوبِي مِثلُ أَعْدَادٍ الرّمَالِ # فَهَبْ لِي تَوْبَةً يَاذَاالجَلاَل

Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali

Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ # وَذنْبِي زَائِدٌ كَيفَ احْتِمَالِي

Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumi wa dzambii zaa-idun kaifah timaali

Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya

َإلهي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذنوبِ وَقَدْ دَعَاك

Ilaahii ‘abdukal ‘aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qad da’aaka

Wahai, Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu

َفَإِنْ تَغْفِرْ فَأنْتَ لِذاك أَهْلٌ # فَإنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاك

Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun wa in tathrud faman narjuu siwaaka

Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni. Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

 

Tulisan asli dari posting blog ini dapat anda baca di http://fadlilsangaji.wordpress.com/2013/07/26/rebutan-surga-macam-anak-tk-rebutan-mainan/

Something That Will Kill You


No, it’s not cancer neither heart attack. It’s not stroke or car accident as well. It’s something that far below that, something that seems trivial but crucial at same moment: Lonesome.

FPI Dan Manifestasi Kebodohan

Bukan FPI namanya jika tidak mencari sensasi. Entah disengaja atau tidak, organisasi massa yang mengatasnamakan Islam ini (saya tidak pernah dan tidak akan pernah menyebut FPI sebagai organisasi Islam, organisasi yang memperjuangkan Islam dan semacamnya) sering sekali melakukan aksi vandalisme, tidak perduli di kota besar atau kampung-kampung. Nama FPI sudah sangat melekat dengan aksi yang berorientasikan pada otot alih-alih otak, walaupun perlu diakui bahwa tidak semua aksi FPI selalu berkaitan dengan Sweeping dan tawuran. Namun ada satu hal yang pasti adalah saya yakin se-yakin yakinnya saya dalam kapasitas sebagai manusia adalah keyakinan bahwa FPI adalah sebuah organisasi yang banyak diisi oleh orang "bodoh".

Saya bilang bodoh karena FPI telah memanifestasikan kebodohannya sendiri melalui aksi-aksinya. Hanya orang bodoh yang mengutamakan kekuatan otot dan mengatasnamakan agama untuk mencari pembenaran atas perilaku kebinatangannya. Ya sederhana saja, bagi saya dan bagi beberapa orang lain di luar sana, perilaku FPI yang sering melakukan pengerusakan sudah lebih dari cukup untuk disebut dan dikategorikan sebagai implementasi insting kebinatangan manusia yang mengklaim dirinya beragama. Namun yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah "Apakah saya menyalahkan para manusia setengah hewan yang bodoh itu?"

"Apakah saya menyalahkan anggota FPI yang bodoh itu?", jawabannya adalah "Tidak". Mereka adalah manusia bodoh dan maka dari itu saya memahami dan mengerti perilaku bodoh itu. Orang bodoh hanya bisa melakukan hal bodoh, mana ada manusia bodoh yang bisa bertindak pintar? Saya maklum mereka sanggup melakukan hal yang paling tidak masuk akal sekalipun karena memang mereka tidak dikarunai (atau tidak memanfaatkan karunia) kecerdasan akal dari Allah SWT untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang bermanfaat bagi umat manusia dan mana yang tidak bermanfaat bagi umat manusia. Justru yang terjadi adalah saya merasa kasihan kepada mereka, kasihan karena mereka telah tanpa sadar dengan sukses dibodohi oleh para big boss FPI yang cerdas.

Saya yakin para dedengkot dan big boss FPI adalah orang-orang yang cerdas. Kalau tidak cerdas mana mungkin FPI bisa berdiri dan bisa lolos dari jeratan hukum selama ini? Para dedengkot dan big boss FPI ini dengan cerdasnya memanfaatkan segerombolan manusia-manusia bodoh untuk melakukan agenda dan kepentingannya. Perduli setan apa agenda dan kepentingan mereka apakah itu mereguk kekayaan, kekuasaan atau ingin menjadikan Indonesia seperti Afghanistan dengan Taliban-nya, yang pasti mereka telah sukses menggunakan manusia-manusia bodoh ini sebagai alat.

Maka dari itu jika saya ingin menyalahkan FPI, alih-alih menyalahkan mereka yang hobi berkelahi di jalanan saya cenderung untuk menyalahkan para big boss nya. Mereka lah otak dan biang keladi yang selama ini termanifestasikan oleh FPI dalam bentuk kekerasan fisik dan vandalisme. Mereka lah aktor dibelakang semua perilaku biadab FPI. Mereka yang menggerakkan segerombolan massa Kerbau-dicocok-hidung itu berbuat apa yang mereka inginkan dengan menggunakan iming-iming dan bujuk rayu agama...

Jadi marilah kita yang masih waras dan sehat secara jiwa ini berhenti mengutuki anggota FPI yang suka merusuh di jalan itu. Mereka hanyalah korban yang mengenaskan. Mereka adalah korban dari kebodohannya. Kita justru seharusnya merasa kasihan kepada mereka karena faktanya mereka telah diperalat oleh para dedengkot FPI yang tertawa lucu karena melihat kekonyolan anggotanya di jalan. Saat kita melihat tingkah polah anggota FPI yang "menggemaskan" itu di TV ataupun diberita, perasaan yang melintas ke pikiran kita pertama kalinya seharusnya adalah "Kasihan...". Tujukkanlah kemarahan dan kekesalan kita untuk Habib Rizieq, Munarman dan para Godfather diatasnya yang dengan tega memperalat orang-orang bodoh yang malang itu.

Jadi intinya, tak perlu menyalahkan anggota FPI yang merusuh dijalanan, mereka hanya korban dari kebodohan mereka sendiri sehingga mereka bisa dengan mudah dibodohi oleh para big boss diatasnya yang terbukti sukses membodohi mereka dengan melakukan aksi vandalisme. Mereka terlalu bodoh untuk tahu mana yang salah dan mana yang benar, dan mereka juga terlalu bodoh untuk menyadari bahwa mereka itu bodoh. Bahkan mungkin mereka terlalu bodoh untuk memahami tulisan bodoh ini.

Sedikit Pertanyaan Mengenai Khilafah

"Khilafah" seakan-akan menjadi sebuah mantra yang bisa menyelesaikan segala persoalan rumit dalam kehidupan bernegara. Khilafah menjadi sebuah mimpi utopis beberapa kalangan karena bayangan yang muncul adalah suatu sistem politik yang bebas dari konflik ataupun gesekan kepentingan. Mengapa orang begitu terbius dengan kata sakti Khilafah ini? Tidak lain dan tidak bukan karena propaganda/kampanye berwawasan sempit tanpa landasan ilmiah dan hanya berpartokan pada mimpi nostalgia masa keemasan Islam pada masa kekaisaran Turki Utsmani hingga Ottoman. Kerumitan yang terkandung dalam konsep Khilafah disembunyikan sedemikian rapi dari setiap kampanye sehingga muncul anggapan pada masyarakat awam bahwa Khilafah adalah solusi instant dari semua permasalahan negara di bumi

Satu hal yang saya yakini dan saya pelajari selama 6 tahun di kampus terkait dengan sistem politik adalah tidak ada sistem politik yang sempurna, termasuk khilafah. Semua sistem politik yang pernah lahir di muka bumi mempunyai tingkat dan ciri permasalahannya masing-masing tidak perduli itu komunisme, demokrasi liberal, monarki dan lain sebagainya. Khilafah, seperti halnya sistem politik lain, juga mempunyai kendalanya sendiri. Namun dalam tulisan ini saya tak akan menjelaskan kendala apa yang terjadi bila "seandainya" kita menerapkan Khilafah, saya hanya akan merinci beberapa pertanyaan sederhana (beberapa, tidak semua. Mustahil saya menulis pertanyaan yang berkaitan dengan sistem politik karena akan sangat panjang lebar) yang terkandung dalam sebuah sistem Khilafah yang mana selama ini hampir selalu diabaikan oleh mereka yang mengkampanyekan penerapan sistem politik Khilafah.

1. Pembagian Kekuasaan.
Pembagian kekuasaan adalah hal yang menurut saya mutlak diperlukan dalam proses berjalannya suatu negara agar tidak terjadi apa yang disebut dengan penyalahgunaan kekuasaan lembaga negara. Dalam dunia modern, ada 3 kekuasaan terpisah dalam menjalankan negara: A. Eksekutif. B. Legislatif. C. Yudikatif.

1.A Eksekutif.
Lembaga Eksekutif, sesuai dengan namanya, adalah eksekutor dari kebijakan dalam sebuah negara. Eksekutif dipimpin oleh seorang kepala negara yang sebutannnya bisa beraneka ragam, mulai dari presiden hingga kanselir. Dalam sistem yang tidak menganut pembagiaan kekuasaan, kepala negara ekskutif juga membawahi lembaga Legislatif dan Yudikatif. Di negara monarki absolut seperti Arab Saudi misalnya, seorang raja berhak untuk membuat undang-undang sekaligus mengeksekusinya tanpa ada kontrol dari siapapun menurut peraturan perundang-undangan Arab Saudi. Jadi bila terjadi penyimpangan dalam eksekusi kebijakan maka tidak ada yang bisa mengawasi dan mengontrolnya karena semua hak tersebut telah dikuasai oleh eksekutif (Raja).

Konsep Khilafah yang diusung selama ini belum menjawab sub-poin ini. Apakah khilafah akan menerapkan kekuasaan kepala negara tidak terbatas seperti Arab Saudi atau pembagian kekuasaan seperti banyak negara lain di dunia? Jika menerapkan kekuasaan kepala negara tidak terbatas maka apakah jaminan bahwa terdapat controller agar sang kepala negara tidak menyalahgunakan kekuasaannya? Badan/lembaga/institusi apakah yang dapat mengontrol kinerja Eksekutif? Bagaimanakah mekanisme pemilihan kepala negara? Apakah berdasarkan keturunan (heredity) seperti negara Inggris, Brunei Darussalam dll atau dengan cara lainnya?

Bila Khilafah menerapkan prinsip pembagian kekuasaan maka pertanyaannya siapakah yang berhak mengawasi kinerja Eksekutif? Apa pula hak-hak dan kewajiban lembaga pengontrol tersebut? Lalu apa kewenangan lembaga pengontrol ini terhadap eksekutif? Bisakah lembaga pengontrol ini intervensi terhadap susunan kepemimpinan eksekutif? Bila iya, maka sejauh apa intervensi itu bisa dilakukan?

1.B Legislatif
Legislatif, sebagaimana namanya, adalah lembaga legislature atau lembaga pembuat undang-undang. Namun faktanya, lembaga ini tidak hanya berkewajiban membuat dan mengawasi pelaksanaan undang-undang namun juga merupakan representasi dari rakyat suatu negara. Keanekaragaman bentuk dari lembaga legislatif ini jauh lebih banyak ketimbang eksekutif: mulai dari jumlah partai (Unipartai, bipartai hingga multipartai) hingga jumlah kamar dalam parlemen (Unikameral & Bikameral), dari mekanisme teknis terpilihnya seorang anggota lembaga legislatif dan lain-lain sebagainya.

Detail inilah yang banyak tidak dibahas oleh kampanye penerapan sistem Khilafah. Tidak masalah jika memang ingin menerapkan non-pembagian kekuasaan (absolutisme eksekutif), namun tentu akan menjadi sebuah masalah besar bila ingin menerapkan pembagian kekuasaan. Apakah perlemen berfungsi ganda? yakni sebagai pembuat undang-undang dan perwakilan rakyat atau hanya mempunyai fungsi salah satunya saja? Bagaimana dengan keanggotaan parlemen? Apakah melalui partai politik ataukah independen? Bagaimana teknis pelaksaan pemilihan anggota parlemen? Bagaimana pengesahaan keanggotaan parlemen? dan lain sebagainya. Belum masalah tingkat keterwakilan masyarakat, apakah itu provinsi, kotamadya, kotapraja atau yang lainnya.

1.C Yudikatif
Yudikatif seperti yang kita tahu adalah lembaga yang bertugas mengawasi jalannya pemerintahan dan negara secara keseluruhan, mengintepretasikan undang-undang bila terjadi sengketa serta menjatuhkan sanksi bagi lembaga ataupun perseorangan yang melanggar undang-undang. Peran Yudikatif adalah peran moderat yang bisa disubstitusikan (dibeberapa negara) oleh Eksekutif maupun Legislatif. Namun demikian seperti halnya di Indonesia, Yudikatif dibuat terpisah adalah lembaga yang dibuat secara sengaja terpisah dari Eksekutif dan Legislatif karena dia mempunyai potensi mempunyai wewenang, seperti yang tercantum dalam UU, untuk menuntut secara hukum kedua lembaga tersebut sekaligus merdeka dalam melakukan aktivitas dari pengaturan kedua lembaga lainnya.

Ada beberapa pertanyaan sederhana yang mencuat seputar lembaga Yudikatif ini bilamana Khilafah dijalankan. Apakah Khilafah akan melahirkan lembaga Yudikatif atau tidak? Bila ya, maka bagaimana mekanisme penunjukkan ketua MK & MA? Apakah dilakukan oleh parlemen dan presiden seperti di Indonesia ataukah berbeda? Bila tidak ada, maka siapakah yang berperan sebagai "hakim" bila terjadi persengketaan dalam undang-undang, terutama yang berkaitan dengan pihak pemerintah (Eksekutif)? Bagaimana penjabaran teknis kekuasaan Yudikatif terkait hukum negara?

Hal tersebut adalah beberapa hal yang bisa dipertanyakan terkait implementasi Khilafah di Indonesia. Tentu saja pertanyaan tersebut sangat sedikit, kemungkinan tidak ada seperseratus dari seluruh pertanyaan yang bisa diajukan terkait 3 Lembaga negara...

2. Sistem Hukum
Dengan menggunakan sistem politik Khilafah, maka otomatis negara juga akan menerapkan hukum Islam. Hukum islam jauh lebih mendetail dan komprehensif dalam penjelasannya ketimbang Sistem politik Khilafah yang menurutku agak seperti "disembunyikan" beberapa elemennya. Hukum Islam, merujuk pada kebijakan Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin sudah cukup lengkap, walaupun ada beberapa yang perlu diperjelas kembali.

Seperti masalah terkait Hak Asasi Manusia (HAM). Tidak perlu ribut HAM itu buatan barat karena makna "HAM" itu sendiri esensinya adalah Hak dasar manusia yang juga terdapat dalam Islam. Hak untuk mempunyai keluarga, hak untuk mendapat ilmu pengetahuan, hak untuk hidup, hak untuk hidup bebas dan lain-lain yang dijelaskan dalam UDHR "Versi barat" juga dijelaskan dalam Islam. Namun demikian ada beberapa unsur Hak manusia yang juga belum begitu mendetail dijelaskan dalam Islam seperti Hak para narapidana, hak-hak dalam pengadilan (seperti Pledoi, hak didampingi oleh kuasa hukum dll), hak dalam proses penyelesaian sengketa hukum baik pidana ataupun perdata dan lain sebagainya.

Yang saya sesalkan adalah tidak adanya penjelasan mengenai hukum dalam konteks negara Khilafah. Sejauh ini para pendukung Khilafah hanya membatasi dirinya dalam sebuah wacana yang tak kunjung berkembang, itu itu saja. Hanya dijelaskan bahwa Khilafah akan berlandaskan hukum Islam, hukum Islam yang apa? Bagaimana dengan hukum-hukum yang mungkin (belum) di jelaskan dalam dunia Islam?

3. Sistem Ekonomi
Sistem ekonomi yang digunakan dalam negara Khilafah adalah sistem Syariah yang berazaskan pada prinsip berbagi. Menurutku, sistem ekonomi Syariah adalah yang paling masuk akal sejauh ini ketimbang Sistem politik & hukum Islam (Khilafah) karena banyak buku yang telah menjelaskan prinsip kerja ekonomi Syariah. Namun mengingat bahwa konstelasi dunia saat ini bukan berdasarkan pada Syariah, maka harus dipertimbangan cara menciptakan hubungan ekonomi antara sistem Syariah dan sistem kapitalis yang telah ada saat ini. Bagi saya adalah hal mustahil bagi negara Khilafah untuk mengisolasi diri 100% dari negara lain dalam bidang ekonomi dalam era yang serba interdependen seperti saat ini.

Jikalaupun hubungan itu berhasil dibangun, maka negara Khilafah juga harus memikirkan regulasi yang mengatur dinamika pasar: apakah bersifat sentralistik atau melepas sesuai permintaan pasar sepenuhnya, atau apakah disertai kontrol pemerintah. Penentuan harga pasar dilakukan berdasarkan tingkat permintaan-penawaran ataukah pemerintah yang sudah menentukan. Dengan ditutupnya pasar modal (karena dianggap tidak sesuai dengan Syar'i) maka bentuk inventasi alternatif apakah yang bisa digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar yang butuh investasi raksasa?

Demikian sedikit pertanyaan yang meradang di otak penulis karena tak kunjung mendapat update mendetail mengenai negara Khilafah. Sebenarnya saya sudah cukup lama mengikuti dan tertarik dengan konsep negara Khilafah ini, yakni sejak 5 - 6 tahun lalu. Namun karena ide ini tidak pernah berkembang, maka hilang sudah ketertarikan itu dan yang muncul justru rasa skeptis dan menganggap ide Khilafah sekarang yang banyak di kampanyekan sekarang adalah sebuah ide konyol yang alih-alih berdasarkan pada sains namun lebih kepada mimpi nostalgia.

Bila memang pengusung ide khilafah berniat serius mendirikan kembali kekuatan khilafah seperti pada masa Khulafaur Rasyidin, maka ada baiknya dimulai dengan menjawab pertanyaan sangat sederhana dan sangat sedikit yang terdapat dalam tulisan ini. Namun perlu kuingatkan bahwa pertanyaan dalam tulisan ini, seandainya dituliskan dalam sebuah buku, maka jumlahnya mungkin hanya kurang dari 2% dari pertanyaan-pertanyaan yang dapat mencuat terkait implementasi negara Khilafah.

Ketika Agama Mematikan Akal Manusia

"Anti-Kritik" adalah sebuah kata yang paling tepat menggambarkan perilaku penganut Islam, sebuah agama yang kuanut sejak lahir, yang sejauh ini sering aku temui. Mulai dari keluarga, sekolah, mimbar keagamaan hingga organisasi religius yang aku temui semua mendewakan pendapat atas kebenaran personal absolut dan menolak proses dialektik dalam implementasi ajaran eskatologis Islam ke dalam kehidupan. Aku dilarang bertanya mengenai apapun yang mungkin menurut para anti-kritis membahayakan absolutisme kebenaran yang sebenarnya ada pendapat mereka saja. Satu-satunya tempat aku bisa berpikir dan mengucap pendapat kritis mengenai agama Islam adalah di dalam sebuah kelas kampusku, 5 tahun lalu

Sikap anti-kritik yang ditunjukkan orang-orang inilah yang menjauhkan diriku dari kegiatan keagamaan massa di masyarakat, kecuali sholat jumat tentunya. Aku menolak ikut acara pengajian, atau bahkan mendengarkan ceramah lokal karena mengalami kondisi traumatik dimana aku yakin saat orang merasa dirinya paling benar, termasuk merasa paling benar dalam beragama, adalah orang yang sudah mengangkat derajat dirinya menjadi Demigod (setengah Tuhan) dan menjadi bebal terhadap masukan dan saran orang lain. Para penceramah, walaupun aku tahu tidak semua, sering melakukan justifikasi negatif terhadap manusia atau kelompok manusia dengan ciri khusus yang tidak sesuai dengan pendapat mereka. Ini yang benar-benar aku benci.

Saat agama mematikan kemampuan berpikir penganutnya, maka disitulah agama akan menuju pada instabilitasnya. Hal ini tampak pada agama kristen yang terbelah 2: Katolik & Protestan. Kristen Protestan lahir karena ketidakpuasan masyarakat dan tokoh intelektual terhadap perilaku semena-mena gereja yang secara tidak langsung mematikan daya kritis umatnya. Mulai hukuman mati bagi ilmuwan-ilmuwan yang berseberangan pendapat dengan gereja hingga hukuman kurungan bagi mereka yang berani mengkritik gereja. Islam kini, bagiku, sedang mengarah pada arah itu. Sepertinya umat islam tidak pernah belajar pada sejarah bahwa masa-masa keemasan Islam adalah pada saat daya kritis manusia dibiarkan berkembang dengan pesat...

Kerajaan Turki Utsmani adalah kerajaan yang menggambarkan superioritas Islam di masa silam. Tidak ada kerajaan lain di muka bumi pada saat itu yang sanggup menandingi kehebatan Turki Utsmani, bahkan kerajaan-kerajaan Eropa pun bertekuk lutut dibawah kedigdayaan Turki Utsmani. Ilmu berkembang pesat saat itu mulai dari Matematika hingga Astronomi, mulai dari Sosiologi hingga filsafat. Ilmu pengetahuan berkembang pesat kala itu seakan tanpa batasan. Ilmuwan dibiarkan berpikir, masyarakat dibiarkan bertindak kritis agar terjadi proses dialektik dan akhirnya kita semua mencatat bahwa Turki Utsmani (Abbasiyah) hingga Ottoman adalah era keemasan Islam yang mungkin tak akan kembali lagi di masa depan.

Lihatlah sekarang, organisasi Islam besar justru adalah organisasi yang melarang perbedaan berpikir. Seperti MUI (MUI sudah mulai menampakkan gejala penyeragaman perbedaan pendapat), FPI, HTI semua organisasi-organisasi "robot" (aku sebut robot karena melarang perbedaan berpendapat) yang berkuasa di negeri ini. Akupun sudah cukup kenyang mendengarkan ceramah di masjid yang cenderung berbau rasis dan tidak mengenal perbedaan dalam perbedaan cara pandang. Walaupun aku tahu ada organisasi Islam besar seperti Muhammadiyah yang tidak anti-dialektis, namun sayangnya dan sialnya aku tak pernah berurusan dengan organisasi seperti itu.

Mediapun sama saja. Walaupun ada Republika yang lebih moderat, namun ada 2 media lainnya yang sangat ekstrim yakni Arrahmah dan VOA-Islam. Arrahmah dan VOA-Islam adalah 2 media kiri yang sangat ekstrim dan tidak objektif dalam menulis beritanya. Sayangnya, kawanku banyak yang lebih menyukai islam versi Arrahmah dan VOA-Islam ketimbang Republika atau media moderat lainnya.

Ketaatan penuh terhadap peraturan agama memang diperlukan, tapi sikap kritis tetap diperlukan. Kita manusia di bumi perlu sikap kritis karena Allah tidak menurunkan pasukan malaikatnya untuk memberitahukan hal-hal apa sajakah yang perlu dilakukan dan yang jangan dilakukan. Kita manusia dibiarkan berkeliaran di muka bumi hanya dengan kitab suci Quran yang bahkan mempunyai banyak tafsiran (dan parahnya masing-masing penafsir merasa tafsirannya paling benar). Tidak ada polisi, tidak ada hakim Allah di bumi yang mengingatkan kita mana yang salah yang benar. Kita hanya mengandalkan para ulama yang mana kini banyak dari mereka yang sudah masuk ke ranah ekstrimisme. Bahkan dalam tulisan terdahuluku dengan gamblang aku menemukan kesalahan fatal seorang da'i, berusaha menghubunginya namun seperti yang aku katakan tadi, dia seorang anti kritik dan tidak merespon protesku.

Teroris lahir karena ketaatan buta tanpa akal. Dia hanya tahu bahwa kiai-nya menyuruhnya membuat bom atas nama Allah dan si teroris pun menurutinya karena otaknya tidak dipakai. Dia tidak berani mengkritisi ucapan propaganda kiai-nya karena embel-embel kata "Islam". Dengan paradigma bahwa apapun yang berhubungan dengan Islam, bahkan itu hanya simbol sekalipun, dilarang di kritik, maka manusia telah jatuh kedalam lubang kebodohan yang sedalam-dalamnya: Itulah teroris yang mengatasnamakan Islam.

Itulah mengapa aku selalu menjauhi perbincangan mengenai agama, karena menurutku itu samasekali tidak menyenangkan. Tidak ada yang bisa didiskusikan, semuanya sudah ditentukan secara subjektif oleh mereka yang merasa benar. Aku tidak tahu sejak kapan manusia, terutama umat islam, merasa dirinya menjadi Tuhan (karena merasa paling benar) dan mulai mau menyaingi Tuhan Allah. Lihat saja perilaku habib-habib yang beberapa diantara sok berkuasa, bahkan memperlakukan orang lain seperti binatang. Atas nama Tuhan mereka bertingkah polah seenaknya: menginjak harkat martabat orang lain tanpa kata maaf dan tetap dengan bangga menggunakan gelar "habib" mereka, menyedihkan!

Bisa dibilang aku adalah seorang muslim yang tidak percaya dengan sesama muslim lainnya, apalagi organisasi-organisasi keislaman di Indonesia. Aku tidak akan mau percaya dengan seonggok "mesin berdaging" tanpa kemampuan berpikir yang akan mudah diprovokasi menjadi sebuah mesin pembunuh efisien bila dibacakan hadis atau Quran yang bahkan tafsirnya bisa beranekaragam.

Seandainya Setiap Bulan Adalah Ramadhan....

Jam tangan menunjukkan pukul 17.55, waktunya untuk membatalkan puasa yang membuat haus dan lapar. Namun, kondisi jalan yang macet dan stagnan tidak memungkinkan bagi motor dan mobil bahkan untuk sekedar berhenti berbuka, karena selain tidak ada toko tapi juga tidak membawa bekal puasa. Memang musti kita akui, melakukan puasa di Jakarta bukanlah suatu kegiatan yang mudah....

Namun dari kejauhan terlihat kerumunan motor ke sebelah kiri jalan. Ada apa gerangan? Karena penasaran aku pun mengarahkan motor ke sisi kiri jalan dan ternyata tidak lain dan tidak bukan, ada orang yang membagikan takjil gratis. Takjil ini sangat sederhana, hanya Aqua gelas 1 buah untuk 1 orang. Tidak ada makanan atau cemilan bukan masalah bagi para pengendara motor itu, termasuk bagiku. Cukup menenggak air yang bila kita membeli di toko hanya seharga Rp. 500 itu sudah merupakan kenikmatan tak terkatakan bagiku dan mungkin sama halnya dengan pengendara motor/mobil lainnya yang terjebak dalam keganasan kondisi lalu lintas di Jakarta.

Selesai berbuka dengan segelas Aqua, aku melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Di jalanan lagi-lagi aku disuguhi pemandangan yang praktis hanya bisa aku nikmati saat bulan Ramadhan: Pembagian takjil untuk anak-anak jalanan. Takjil ini jauh lebih komplit daripada yang ku terima barusan, ada nasi, ayam dan lauk lain yang tidak terlihat dari balik helm dan kacamataku. Kebahagiaan terpancar dari wajah anak-anak itu yang mungkin hanya bisa menikmati menu "mewah" seperti itu setahun sekali.

Ya, itulah sekilas gambaran di jalanan tentang apa yang hanya bisa terjadi di bulan puasa. Bulan yang oleh orang Islam disebut sebagai bulan berjuta rakhmat memang benar adanya. Tidak hanya dari segi pahala yang memang tidak kutulis dalam postingan ini, namun juga dari hal lain, yakni "berbagi".

Berbagi adalah hal yang sangat indah, bagiku. Yang kaya berbagi yang miskin, yang mampu berbagi dengan yang tidak mampu, yang kuat berbagi dengan yang lemah, yang hebat berbagi dengan yang kurang hebat adalah keindahan yang jarang dipertontonkan negeri ini. Di saat bulan-bulan lain manusia menjadi "Homo homini lupus" dan   saling menindas satu sama lain, di bulan puasa ini kita ditunjukkan oleh sebuah kondisi yang oleh Karl Marx diamini sebagai sebuah kondisi ideal komunitas manusia. Sebuah kondisi dimana manusia saling membantu sama lain tanpa mengharap "kapital" atau uang, dan hanya murni mengharap suatu ganjaran eskatologis berupa "Pahala".

Belum lagi perihal zakat fitrah yang seandainya pemerintah mau mengaturnya dengan benar dan orang yang mempunyai kepercayaan Islam juga mau melakukannya sesuai dengan regulasi keagamaan yang ada, dapat lumayan membantu orang miskin. Kita hitung saja (hitungan kasar): 3,5 liter beras. Jika dikali dengan jumlah orang dengan pendapatan minimal Rp. 3.000.000,-/bulan saja (kelas menengah hingga atas) yakni sebesar 100.000 juta orang (jauh dibawah hitungan kelas menengah oleh pemerintah RI), maka total beras yang diperoleh adalah 350.000.000 kilogram atau 350.000 ton. Mengingat konsumsi beras rata-rata per kapita nasional RI adalah sebesar 0,14 ton per tahun atau sama dengan 0,02 ton per bulan maka dengan adanya 350 ribu ton dalam sebulan dapat memberi makan sebanyak 17 juta orang dalam waktu sebulan! Suatu kekuatan berbagi yang luar biasa menurutku... bayangkan seandainya itu hal ini terjadi sepanjang tahun, tentu tak akan ada anak negeri ini yang kelaparan.

Aku mungkin hanya bisa berharap dan bahkan cenderung utopis bahwa ada suatu zaman, entah itu atas nama Islam atau agama nanti yang akan terlahir ke bumi ribuan tahun kedepan, dimana ada konsep "Ramadhan" setiap bulannya tanpa perduli suku, ras, agama, kebangasaan dan lain sebagainya. Zaman dimana "saling berbagi" adalah adalah nilai yang dianggap lebih penting ketimbang status sosial berdasarkan kepemilikan harta benda di mata masyarakat. Zaman dimana "kehormatan" tidak lagi dinilai berdasar semahal apa mobil dan rumah yang dia miliki, tapi berdasarkan pada seberapa banyak dia berbagi kepada sesamanya.

Akhir kata, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan! Jangan lupa untuk selalu menghormati mereka yang tidak berpuasa. Wasalam.

Have You Ever Been In Love.....

Have you ever been in love for someone you love so much but you know she isn't and will never belong to you?

Kau Pikir Dirimu Jatuh Cinta?

Siapa sih dari kita yang belum pernah jatuh cinta? Bahkan anak berumur dibawah 10 tahun saja kini sudah mengerti perkataan cinta. Kata Titik Puspa dalam lagunya, jatuh cinta itu berjuta rasanya: ada senang, ada sedih, ada bahagia, ada rindu...pokoknya Nano-nano rasanya! Namun yakinkah kita bahwa jatuh cinta memang benar-benar sebuah "cinta" yang selama ini tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan? Disini penulis ingin bahas sedikit tentang fakta gelap jatuh cinta yang pernah tertulis dalam berbagai artikel ilmiah mulai dari psikologi, biologi, hingga kimia. So, prepare yourself for the shock!

Manusia, layaknya makhluk hidup lain, mempunyai insting untuk mempertahankan keturunan. Sebagian besar manusia tidak perduli dimanapun dia berada selalu menginginkan seorang anak. Hal ini adalah wajar karena memang insting kita sebagai Homo sapiens adalah berkembang biak dan mempertahankan spesies kita (Homo sapiens). Namun bagaimanapun, kita sedikit berbeda dengan hewan atau tumbuhan yang jika memang sudah saatnya menghasilkan keturunan ya lakukan saja (berkopulasi) tanpa tedeng aling-aling. Manusia sebagai makhluk yang super cerdas membuat proses menghasilkan keturunan ini menjadi lebih rumit.


Langkah 1: Rasa Ketertarikan
Seperti hewan, faktor utama yang membuat kita tertarik dengan lawan jenis adalah pengelihatan. Untuk pria, jika kita melihat perempuan dengan paras cantik maka kita akan langsung tertarik. Begitupun dengan wanita yang melihat pria tampan juga akan tertarik. Sebenarnya prinsip kerja melalui pengelihatan ini juga dilakukan oleh binatang: Seekor burung Merak hanya akan tertarik dengan buruk merak lain yang mempunyai bulu terindah. Seekor Harimau hanya memilih Harimau lain yang punya tubuh sehat dan terlihat bugar.

Pertanyaannya adalah: Mengapa?

Sesuai dengan teori survival of the fittest Charles Darwin, dimana hanya mereka yang terbaik yang layak untuk meneruskan keturunan, maka ketertarikan manusia dengan manusia lain yang mempunyai penampilan terbaik adalah wajar. Hal ini kita lakukan demi menghasilkan keturunan (anak) yang mempunyai daya saing tinggi sehingga kemungkinan untuk bertahan dalam persaingan hidup (seleksi alam) cukup tinggi.

Yang membuat kita berbeda dengan hewan adalah kita menempatkan instrumen-instrumen tambahan lain seperti kecerdasan, kekayaan, karakteristik individu, kemapanan, ras, suku dll sebagai kondisi ideal manusia yang layak untuk mendapatkan rasa tertarik kita. Karakter fisik bukan penentu segalanya bagi kita dalam menetapkan rasa tertarik kepada individu lain seperti layaknya hewan. Manusia hidup di bumi tidak mengandalkan kemampuan fisik semata tapi juga kecerdasan, skill, kekayaan dan lain-lain, dimana hal itu secara tidak langsung telah mengkonsepsikan standar kualifikasi manusia "unggul" yang berbeda dengan dunia hewan.

Langkah 2: Pendekatan
Setelah kita tertarik dengan seseorang, maka langkah selanjutnya adalah pendekatan. Di dunia hewan, pendekatan ini dilakukan oleh pejantan kepada para betina. Di dunia manusia, kurang lebih juga terjadi hal yang sama walaupun dalam budaya kontemporer telah sering terjadi pembiasan terhadap perilaku ini (wanita yang mendekati pria). Di dunia hewan, pendekatan yang dilakukan adalah, sekali lagi, melalui peragaan fisik semata: Seekor Bison jantan "pamer" kekuatan dengan para betina dengan cara beradu kekuatan dengan pejantan lain. Seekor burung Cendrawasih jantan menari-menari dan menunjukkan keindahan bulunya saat musim kawin kepada para betina.

Di dunia manusia, pendekatan tidak melulu menggunakan peragaan fisikal. Karena seperti yang telah dijelaskan tadi bahwa standar ketertarikan manusia juga termasuk kecerdasan, kekayaan dll, maka dalam pendekatan ini Pria juga bisa memaksimalkan semua potensi kecerdasaan, kekayaan dan lain-lain yang dia miliki untuk menarik wanita. Misalnya seorang pria yang tertarik dengan seorang wanita maka pria itu akan membuat si wanita terkesan dengan cara mengajaknya kencan, bersikap menarik, memakai mobil bagus, menggunakan pakaian yang bagus dan lain sebagainya.

Langkah 3: Menghasilkan Keturunan
Bila proses pendekatan ini sudah berjalan dan berhasil alias kedua pihak sama-sama saling tertarik, maka proses selanjutnya adalah menghasilkan keturunan. Dalam dunia hewan, "penebaran" benih sperma kedalam ovum betina bisa dilakukan dimanapun, mulai dari pinggir jalan sampai di tengah lapangan tergantung habitatnya. Hewan juga melakukan proses penebaran benih sperma (baca: kopulasi) ini tanpa ikatan tertentu diantara mereka: selesai berkopulasi maka selesai sudah semuanya tak ada ikatan tersisa (walaupun beberapa binatang merupakan monogami yang hanya punya 1 pasangan seumur hidup, namun mereka melakukan itu murni karena insting).

Manusia sebagai makhluk berbudaya, yang dimana mayoritas budaya mengatur bahwa aktivitas sexual hanya dapat dilakukan secara legal dengan ikatan pernikahan. Pernikahan adalah sebuah aktivitas evolusioner yang hanya dilakukan manusia dalam rangka legalisasi hubungan intim. Walaupun diskursus pernikahan ini telah mengalam reduksi urgensitas dengan banyaknya hubungan sex yang dilakukan tanpa landasan pernikahan, namun tetap saja pernikahan adalah solusi dominan dalam pembentukan keturunan manusia di bumi.

Itu adalah langkah-langkah yang bikin kita "merasa" sedang jatuh cinta yang sebenarnya adalah permainan otak kita saja untuk mendapatkan keturunan.

Ada lagi pertanyaan mengapa kita bisa deg-degan saat ketemu orang yang kita suka, terus kenapa bisa merasa kangen, tenang dan lain sebagainya yang katanya tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Well, sebenarnya itu hanya permainan hormon saja, dimana hormon ini mempengaruhi psikologi kita juga dalam rangka menghasilkan keturunan (baca: anak). Berikut adalah 6 hormon yang mungkin selama ini kita pikir sebagai "cinta"....

1. Dopamin
Punya efek yang sama seperti kokain: menimbulkan rasa ketagihan. Dengan hormon inilah kenapa kau dan pacar/kekasihmu merasa "ketagihan" untuk selalu ingin bertemu setiap saat.

2. Fenylethylamin.
Membuat efek deg-degan, keringat dingin & merasa senang. Persis waktu zaman kita SMA (atau sampai sekarang? bertemu gebetan atau orang yang kita suka.

3. Adrenalin.
Hampir mirip dengan Fenylethylamin plus rasa lapar yang berkurang.

4. Endorfin.
Menciptakan rasa senang/bahagia. Inilah hormon yang bikin kenapa kita merasa senang saat jatuh cinta

5. Vasopressin.
Menciptakan rasa setia (itulah mengapa manusia cenderung monogami) dan mencegah ejakulasi dini (pria)

6. Oxitosin.
Terkenal dengan nama hormon cinta: menciptakan rasa terikat dengan orang yang kita kasihi.

Gabungan dari 6 hormon inilah yang membuat kita manusia bisa merasa "Jatuh Cinta" yang pada akhirnya, dalam konteks insting dasar manusia, bertujuan untuk menghasilkan keturunan.

Jadi, selamat jatuh cinta! Semoga sukses menghasilkan keturunan!

BLSM "Balsem" Yang Tidak Manjur

Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mengalami perubahan proporsi subsidi dari Rp. 4500/ltr menjadi Rp. 6.500/ltr (Premium) mengundang pro-kontra. Saya sendiri menyetujui pengurangan subsidi ini karena memang tidak efektif, memanjakan rakyat Indonesia yang sudah terkenal malas ini dan membebani APBN. Namun ada hal yang saya kurang suka dari dampak kenaikan harga BBM bersubsidi ini, yaitu pemberian BLSM (banyak orang menyebutnya dengan "Balsem") kepada mereka yang dianggap pemerintah sebagai orang tidak mampu.

Saya tahu pemerintah membagikan Balsem ini adalah untuk meringankan beban rakyat miskin. Namun apakah caranya benar? Bagi saya Balsem ini hanya omong kosong pemerintah rezim SBY dengan alibi membantu orang miskin namun justru menghamburkan uang negara.

Kenapa saya bilang "menghamburkan"?

Pertama, Balsem tidak menyelesaikan masalah kemiskinan. Kemiskinan di Indonesia lahir karena: 1). tidak memiliki pekerjaan/mata pencaharian dan 2). tidak memiliki skill/kemampuan/daya saing.

Ketiadaan pekerjaan bisa ditanggulangi dengan penyediaan lapangan kerja. Istilah "penyediaan lapangan kerja" tidak harus orang miskin itu berstatus pegawai/buruh perusahaan, namun bisa juga mencakup wiraswasta. Dan salah satu syarat sebuah negara menjadi sebuah negara yang kuat secara ekonomi adalah setidaknya 10% rakyatnya adalah pengusaha (berstatus wiraswasta) seperti di AS, Inggris, China dan lain-lain. Di Indonesia sendiri jumlah pengusaha dibawah 1% yang tentu masih jauh sekali dari syarat sebuah negara dengan ekonomi kuat.

Kita juga tahu betapa sering pemerintah Indonesia berwacana menjalankan program-program untuk menambah jumlah pengusaha. Namun wacana hanyalah wacana: Suku bunga kredit perbankan yang setinggi langit (bahkan rencananya bulan depan BI Rate akan naik lagi) dan syarat yang njelimet, serta izin usaha yang luar biasa rumit (antar departemen bahkan kadang harus sampai tingkat kementrian), berbelit-belit dan butuh uang izin (atau uang pelicin?) yang banyak adalah hal-hal yang menghalangi pertumbuhan jumlah pengusaha Indonesia. Gampangnya sih, negara ini samasekali tidak bersahabat bagi pengusaha, itu saja.

Pendidikan juga sejauh ini juga merupakan hal yang mungkin dianggap tidak penting bagi pemimpin bangsa ini. Padahal semua orang tahu bahwa pendidikan menentukan tingkat kemampuan (skill) seseorang serta juga meningkatkan daya saing. Carut marut fasilitas pendidikan mulai dari Sabang sampai Merauke sudah berpuluh-puluh tahun tidak dapat diselesaikan. Tidak perlu melihat jauh ke pelosok luar jawa, di Tangerang - Bekasi yang berjarak hanya beberapa kilometer dari ibu kota negara saja masih banyak sekolah yang rubuh atau mempunyai ruang kelas yang tidak layak (baca: bobrok).

Masalah tidak hanya di fasilitas fisik saja, metode pendidikan kita yang "memesinkan manusia" juga merupakan masalah yang lebih parah. Kompetensi guru yang kesannya abal-abal, kurikulum yang bergonta-ganti namun tidak ada kejelasan hingga metode penilaian kemampuan murid yang murni berdasarkan angka dan beberapa pelajaran yang telah ditentukan dari pusat membuat peserta didik makin merana. Sering saya merasa kasihan dengan anak-anak sekolah yang saya bilang mirip dengan "budak" tanpa bisa mengekspresikan kecerdasan atau kemampuan mereka yang sesungguh dan justru dipaksa melakukan sesuatu yang diluar kemampuannya.

Saya tidak paham nalar pemerintah kita menghambur-hamburkan uang sekian triliun untuk Balsem yang tidak ada dampaknya ini. Triliunan uang "dibuang" begitu saja padahal kebutuhan negara masih banyak mulai dari fasilitas pendidikan, kesehatan, perumahan, pangan dan lain sebagainya. Mereka di pemerintahan adalah orang-orang tercerdas di negeri ini (mungkin) tapi mengapa mereka melakukan tindakan sebodoh ini?

Tidak ada efek positif Balsem, sebut saja jika ada: Membantu orang miskin? Membantu meringankan kemiskinan mereka selama 4 bulan lalu apa? kembali miskin lagi? Bukankah lebih baik jika orang miskin diberi akses kepada sumber mata pencaharian?

Balsem juga tidak bisa mencegah inflasi.

Balsem tidak pula mampu meningkatkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Indonesia.

Sebut saja apa efek positif Balsem jika memang ada!

Balsem ini adalah solusi seporadis, tidak teratur, tidak punya efek ekonomi makro. Tidak masuk akalnya kebijakan Balsem ini tentu saja mengundang kecurigaan banyak pihak, termasuk saya: "Masa sih pemerintah membuat kebijakan segoblok ini? pasti ada sesuatu yang tersembunyi". Prasangka dan tuduhan pun tak bisa terhindarkan: Menyuap rakyat untuk pemilu 2014.

Namun sudahlah, tampaknya pemerintah kita tidak terlalu perduli dengan solusi jangka panjang. Yang penting orang miskin diam selama 4 bulan karena dijejali dengan uang Rp.300.000/bulan yang setelah 4 bulan mau matipun pemerintah tak akan perduli.

Sesuai namanya, BLSM "Balsem" ini hanyalah sebuah Balsem yang tidak bisa mengobati penyakit (kemiskinan) tapi hanya meringankan sementara.

Tinjauan Kritis Terhadap Pandangan Politik Felix Siauw

Saya sangat menghormati Felix Siauw sebagai Da'i dan sebagai saudara muslim yang wajib saling mencintai. Tapi sebagai seorang yang mempunyai latar belakang ilmu dalam bidang politik, saya melihat Felix Siauw, dengan segala hormat, telah menjerumuskan umat awam kedalam lubang kefakiran ilmu politik. Dengan sadar saya memahami posisi beliau yang tidak punya latar belakang studi politik dan mungkin juga dia kurang membaca atau memahami bahwa politik bukan sekedar kira-kira, asumsi apalagi khayalan tapi merupakan sebuah ilmu yang mempunyai pola angka, historik, metodologi dan lain-lain. Maka dari itu tulisan ini bertujuan untuk membuka wawasan saudara Felix Siauw yang saya hormati, mudah-mudahan beliau bisa membaca postingan ini dan bisa bermanfaat kedepannya baik bagi saudara Felix Siauw sendiri ataupun bagi Umat.

Pertama perlu diketahui bahwa saya membahas ini MURNI dari spektrum keilmuan, ilmu politik tepatnya. Saya hanya menganalisa dan meninjau dari sudut pandang ilmu pengatahuan sosial dan politik, tidak ada sangkutpautnya dengan agama dalam konteks eskatologis apalagi menggunakan referensi biblikal (kitab suci).

1. #AntiDemokrasi
Fakta bahwa saudara Felix Siauw (selanjutnya saya singkat dengan inisial FS) pernah menampilkan kultwit yang bertopik #antidemokrasi , maka saya disini mengkritisi mengenai konsep demokrasi apa yang dia maksud. Jujur saya sudah berusaha mendalami maksud beliau dengan "Anti Demokrasi", tapi yang saya dapatkan hanya konsep demokrasi yang menurut saya sebagai non-awam, terlalu di-simplifikasi-kan, cenderung meremehkan mekanisme rumit dalam kehidupan manusia yang serba kompleks dan interdependen.

Demokrasi adalah sebuah "term" atau pengertian yang sangat amat luas. Demokrasi tidak melulu pemilu langsung: datang ke TPS, ambil kertas, coblos foto Capres/Caleg dan siapa Capres/Caleg yang dapat suara terbanyak adalah sang juara. Tidak! Demokrasi lebih luas dari itu. Apakah anda tahu bahwa Fasisme Nazi Jerman, Komunisme Uni Soviet dan Monarki Absolut Arab Saudi masuk ke dalam sistem pemerintahan Demokrasi?

Fasisme NAZI Jerman masuk ke dalam demokrasi karena Jerman kala itu punya perangkat negara/institusi yang "mewakili" suara rakyat Jerman, yaitu partai politik NAZI. Partai NAZI mempunyai perwakilan di tiap distrik (sama seperti Provinsi) hingga tingkatan Kotamadya atau bahkan dibawahnya. Dari hal tersebut itu saja maka NAZI sudah bisa dimasukkan kedalam demokrasi karena mereka memiliki perangkat/alat yang dapat dipergunakan rakyat untuk turut andil dalam jalannya pemerintahan Jerman kala itu. Terlepas dari bagaimana realita dilapangan, dimana alih-alih Partai dapat mengatur negara dan justru Hitler yang mengatur semua sektor bernegara, secara de jure tetap saja Fasisme NAZI masuk dalam demokrasi.

Uni Soviet kurang lebih sama seperti Fasisme NAZI. Dengan partai komunis yang berlaku sebagai partai tunggal dan mempunyai representasi rakyat hingga tingkatan pemerintahan terkecil, telah memenuhi syarat untuk masuk dalam kategori. Terlepas bagaimana implementasinya (de facto), yang pasti komunisme juga masuk ke dalam demokrasi: Ada parlemen tinggi (MPR), ada presiden dan ada perwakilan daerah (DPRD).

Untuk monarki Absolut seperti Arab Saudi, demokrasi nyaris tidak terlihat. Tapi saat dilihat lebih mendalam ternyata unsur demokrasi juga terdapat di Arab Saudi. Ulama-ulama Arab secara unik telah menggantikan posisi Parpol dalam demokrasi kontemporer sebagai perwakilan suara rakyat. Walaupun tidak diatur dalam undang-undang Arab Saudi, namun realitanya Ulama Arab Saudi telah berperan cukup banyak dalam perubahan-perubahan modern di negeri Arab seperti memperbolehkan wanita menyetir mobil, penggunaan fasilitas Socmed dll.

Dari ketiga contoh diatas kita bersama lihat bahwa inti Demokrasi bukan terletak pada mekanismenya (pemilu, parlemen, jumlah parpol, wewenang legislatif, ekesekutif & Yudikatif dll) tapi terletak pada filosofi substruktur bagaimana demokrasi itu muncul: kontrol rakyat terhadap keberlangsungan proses bernegara. Masalah mekanisme itu baru muncul kemudian, apakah itu fasis, komunis, despotis, republik, liberal, demokrasi parlementer, demokrasi presidensial, republik islam, republik rakyat, republik federal, monariki konstitusional, persemakmuran dan lain sebagainya, adalah perkembangan dari demokrasi itu sendiri. (Secara sederhana saya jelaskan seperti itu untuk menghemat waktu dan tulisan. Untuk penjelasan lebih detail mengenai filosofi demokrasi silahkan baca buku Filsafat Ilmu Politik)

FS, dari tulisan-tulisan beliau yang saya simak, seakan-akan menyamaratakan bahwa demokrasi selalu dan pasti pemilu, bebas bicara dan berbuat, rakyat yang seenaknya, ada DPR/MPR dll. Saya tidak tahu darimana FS dapat pengetahuan bahwa Demokrasi selalu identik dengan hal tersebut, namun yang pasti saya bisa katakan bahwa hal itu salah besar. FS sepertinya kurang paham mengenai demokrasi, atau bahkan ilmu politik itu sendiri. Katakanlah FS memang anti-demokrasi, lantas sistem pemerintahan apa yang dia maksud? Saya belajar selama 6 tahun mengenai politik dan saya tak bisa (mungkin karena memang saya dulu mahasiswa bodoh) membayangkan sebuah negara modern, dengan jumlah penduduk 230 juta jiwa, membuat suatu sistem politik yang benar-benar terlepas dari demokrasi.

2. Khilafah
Hal yang lebih membuat saya terbengong-bengong adalah setelah membaca cerita saudara Felix Siauw tentang anti-demokrasi, saya membaca mengenai ide khilafah. Ide khilafah saudara FS adalah menciptakan United Governance atas nama Islam seperti era kekhalifahan. Baik, memang terdengar luar biasa dan bertujuan mulia. Namun yang jadi masalah luar biasa bagi saya adalah inkonsistensi saudara FS dalam penjelasan Khilafah dan demokrasi.

Khilafah, sesuai dengan namanya, adalah sistem politik yang dipraktekan pada era sahabat-sahabat Rasul pasca meninggalnya Rasul. Sistem khilafah ini memang prestasi luar biasa dalam sejarah Islam, membentang dari Persia hingga Eropa, sistem Khilafah mampu mempersatukan semuanya dengan stabilitas politik - ekonomi yang kokoh dan merupakan masa keemasan perkembangan iptek umat manusia. Sistem Khilafah, jika memang Khilafah planet Bumi yang saudara FS maksud, adalah jelas sekali merupakan bagian dari demokrasi.

Khilafah mengandung unsur demokrasi adalah fakta historis. Bila kita runut embrio dari khilafah, yakni pada saat Rasullullah memimpin Medinah & Mekah, dimana Rasullullah menerapkan sistem dimana semua warga, tidak perduli agama/kepercayaannya, mempunyai hak yang sama dalam menyuarakan pendapat kepada Nabi selaku kepala pemerintahan. Rasullullah bersedia mendengar pendapat rakyatnya atau sahabatnya itu sudah termasuk dalam unsur demokrasi, sederhana saja.

Begitupun dengan masa kekhalifahan Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan & Ali bin Abi Thalib) yang kurang lebih menerapkan mekanisme dan prinsip yang sama dengan Rasullullah, yakni demokrasi langsung: mendengarkan keluh kesah rakyatnya secara langsung (tanpa perwakilan/representatif) dimana saat itu demokrasi langsung masih sangat mungkin dilakukan karena jumlah penduduk yang relatif masih sedikit.

Bila kita maju lagi, yakni pada masa Bani Ummayah hingga kekaisaran Usmaniyah, kekhalifahan telah mengalami pergeseran makna. Perang antar-bangsa hingga perang saudara, instabilitas politik, pemberontakan hingga kudeta mewarnai masa-masa ini hingga pada akhirnya runtuh total karena perlawanan dari rakyat sendiri pada awal abad ke 20. (Dari sini terlihat bahwa kekhalifahan hanya sekedar sistem, bukan juru selamat. Dan saat sistem dijalankan oleh manusia yang tidak mampu maka sistem itupun akan beroperasi secara tidak normal).

Jadi bila saudara FS menyuarakan anti demokrasi tapi sekaligus menyuarakan menghidupkan kembali Khilafah maka bagi saya agak menggelikan sekaligus miris. Menggelikan karena paradoks antara ide FS tentang demokrasi - Khalifah dan miris karena secara tidak langsung telah membodohi ummat awam yang mendengarnya.

Kedua, saudara FS juga tidak (mudah-mudahan belum atau memang saya yang tidak bisa menemukan tulisannya) menjelaskan bagaimana mekanisme Khilafah, apakah itu republik federal atau kesatuan, apakah itu Monarki konsitusional atau absolut, apakah itu persemakmuran ataukah negara berdaulat dll. Bagaimana mekanisme penegakkan hukumnya, bagaimana mekanisme memilih pemimpin, bagaimana mekanisme penyuaraan rakyat dan institusi yang menampung suara rakyat dan lain-lain. Jika memang saudara FS tidak menjelaskan ini maka sederhana saja ide Khilafah ini hanya akan jadi wacana dan sebatas mentok di website atau koran saja.

Disinilah kebutuan saya dalam mencari tahu ide Khilafah menurut saudara FS karena tulisan beliau yang berada di websitenya hanya menunjukkan Khilafah dari segi biblikal (Quran) tanpa menjelaskan detilnya. Istilahnya, tulisan dan ide FS sejauh yang saya tahu dan telah baca, hanya terbatas pada dalil-dalil Quranic yang memerintahkan pendirian sistem Khilafah alih-alih menjelaskan bagaimana Khilafah itu sendiri.

3. Statement Tendensius
Walaupun keluar dari topik tulisan ini namun hal inilah yang menjadi kritik terbesar saya terhadap saudara FS karena jujur saja, tendensi FS ini sangat jauh dari prinsip keilmuan yang saya pelajari di kampus. Berikut adalah screenshoot akun twitter Felix Saiuw yang saya tangkap malam ini


Dalam akun twitter terlihat bahwa saudara FS menulis: "Makar dibuat massa anti-pemerintah (baca: anti-islam) di Mesir | namun Allah pasti membuat makar yang lebih baik".

Bagi saya kali ini saudara FS sudah sangat keterlaluan, terlalu berlebihan. Ada puluhan ribu orang yang berdemo anti-pemerintah dan dengan entengnya saudara FS menyebut mereka semua sama dengan Anti-Islam! Saudara FS telah melakukan suatu kesalahan fatal dalam berargumen, yakni generalisasi. Logika yang dipakai FS adalah sama dengan "Mereka tidak suka daging kucing, pasti mereka tidak suka kucing", atau "Kamu benci Tim Sepakbola Arab Saudi, kamu pasti benci Islam", atau "Kamu benci Hitler pasti kamu benci semua orang Jerman", konyol kan?

Saya tidak tahu apakah saudara FS alpha, lupa atau memang sengaja menulis seperti itu. Jika memang alpha atau lupa maka masih bisa saya maklumi, namun jika disengaja maka saudara FS telah berpotensi menggiring umat (followernya) kedalam lubang kebodohan dan prasangka buruk serta fitnah (sebagai orang yang anti Islam) terhadap mereka yang tidak suka dengan Morsi. Dan dalam kapasitasnya sebagai seorang da'i, penggiringan opini semacamnya ini tentu bukan suatu hal yang bisa saya maklumi saat agama yang saya anut dipergunakan untuk menciptakan fitnah berskala massif.

Semoga saja tulisan sederhana ini saja dapat dibaca oleh saudara FS dan dapat menjadi bahan pertimbangan & koreksi untuk berdakwah dikemudian hari. Itupun jika saudara FS bersedia menerima masukan dan kritik dari saya dan mau membaca tulisan ini.

Note: Dalam 24 Jam terakhir sejak tulisan ini diterbitkan, saya sudah beberapa kali meminta saudara Felix Siauw untuk mengoreksi tulisannya mengenai demokrasi dan terutama sekali twitnya mengenai Anti-Islam itu, namun belum ada respon dari yang bersangkutan. Dengan menerbitkan tulisan ini saya bertujuan menarik perhatian saudara FS agar merespon permintaan saya tersebut.

Cintaku Dalam Almari

Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film "Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013.

Tiga belas tahun lalu aku berjalan dalam diam. Hening, dengan iringan gemerisik Beringin rimbun. Tiga meter depanku berjalan sesosok gadis berambut panjang hitam. Kala kulihat dia pertama, tak pernah terbesit dalam nalarku bahwa gadis berambut hitam legam ini yang kelak menjadi cinta tak berkesudahanku.

Dua tahun kemudian, kelas terakhirku dengan celana pendek biru, aku dipadu bersatu dengan Putri dalam sebuah kelas. Kami dekat dan kami teman, tidak lebih. Inilah juga saat dia memberiku Pensil itu, sebuah pensil penanda awal cinta abadiku padanya 11 tahun silam. Pensil yang masih kusimpan hingga detik aku menulis kisah ini tanpa pernah kugunakan kembali.

Pertemuanku dengan Putri singkat saja, terpisah oleh status pelajar bercelana biru yang telah usai. Aku tinggalkan biru untuk Sang abu-abu, menderu maju demi hidup baru. Namun tak pernah kukira, diriku kembali bersatu padu dengan Putri dalam kelas. Tak pernah timbul kesempatan & nyali untuk berkata rasa hatiku pada yang terkasih. Ku hanya mampu berkirim puisi tanpa nama, terpampang dalam mading sekolah yang hingga hari ini tak ada yang tahu itulah aku sang pujangga puisi.

Perpisahan tak pelak berlangsung, walaupun hatiku tak pernah terpisah. Perbedaan almameter pun bukan penghalang, antara Jakarta dan Depok, cinta ini tetap bersemi. Saat diriku memiliki kekasih, Mawar, relung hati tergelapku tak pernah bisa memisahkan Putri dari cintaku. Pertemuan pertama setelah 3 tahun kujalani dengan Mawar & Putri disebuah kantin penuh kenangan, diwarnai dengan keelokan Sang Putri yang makin mempesona & melenakan hati ini. Aku jahat, memang, saat masih menyimpan rasa Putri dengan kekasih nyata Mawar. Namun ku bukan Tuhan yang berkuasa atas rasa, ku manusia yang penuh nista dan suka.

Tak terhitung berapa tahun tak bertemu Putri sejak itu, namun ku tak pernah kehilangan asa atas Putri. Putri kini berada 5000 kilometer dari tempatku, sebuah negeri yang umum disebut negeri Gingseng, menuntut ilmu. Tak tahu apakah Putri akan kembali ke tempatnya besar yang terenggang hanya 0,8 kilometer dari gubug kecilku, ku bulatkan niat untuk melamarnya jika ia kembali ke tanah airnya, menetapkan cinta abadiku padanya tanpa ragu.

Dan Putri pun kembali

Ku tetapkan hati, beranikan diri, ikhlaskan hati untuk menjadikannya sebagai landasan cinta terakhirku. Ku ragu dia akan mau, tapi ku tak pantang maju. Hari itu pun tiba, dengan hentakan jantung yang nyaris meluluhlantakkan seluruh rusuk, ku nyatakan rasa yang telah terpendam 13 tahun lamanya dalam tirai besi hati. Dengan cincin berkaligrafikan My Angel, sebutan yang kupakai sebagai penanda arti dirinya bagiku, ku curahkan segala rasa dan cita ku padanya.

Dia menolakku

"Maaf aku tak bisa...aku harus kembali ke Korea, lanjutkan studi"

Baik apapun alasannya, Putri telah menolakku.

"Nanti saat sekolahku usai, mungkin..."

Apa? Sebuah Isyarat?

Baiklah Putri, seperti harapanmu, aku akan mencoba lagi nanti.

Jadi kini cincin dan pensil kenanganku dengan Putri masih ku simpan dalam almari, disebuah kardus kenangan. Sang cincin yang menunggu untuk disematkan ke dalam jari manisnya, dan sang pensil yang menunggu untuk kembali digunakan oleh pemiliknya yang terdahulu. Aku tak pernah sedikit pun merubah asa ini, bahwa cita cintaku ada dalam almari.

Jadi aku disini Putri, menunggu sediamu, karena cintaku belum usai.

Cintaku Dalam Almari

"Tidak perduli sejauh apa kita pergi, akan ada saat kita akan kembali ke kamar dan membuka Sang Almari, kadang untuk menyimpan barang berharga yang kita miliki..."

Banyak orang bilang, cinta anak kecil itu cinta monyet: bisa benar tapi juga tidak mungkin selalu benar. Aku tidak tahu apakah jika waktu kecil jatuh cinta dengan orang lain maka aku adalah monyet atau bagaimana, pastinya secara biologi aku tidak pernah masuk ke dalam spesies monyet

Namun lupakanlah sejenak perihal kemonyet-monyetan itu, dimana cerita ini semua bermula berbelas tahun silam saat aku masih duduk dengan polosnya dengan kemeja putih bersematkan kuningnya logo Tut Wuri Handayani. Saat diri ini masih kecil dan pemalu, saat itulah aku pertama kali merasa jatuh cinta. Bukan jatuh cinta biasa yang jatuh melayang lalu sakit menghantam bumi. Bukan pula cinta 1 Cawu yang akan terhempas ke tong sampah begitu terbang ke Cawu berikutnya. Cinta ini adalah cinta yang dengan sombongnya aku proklamasikan sebagai cinta seumur hidup!

Bunga, itulah nama perempuan itu. Pertama kali kulihat Bunga saat dia berjalan denganku disebuah gang menuju sekolah. Aku belum tahu namanya, apalagi tertarik padanya. Kami berdua saja berjalan dalam sunyi diiringi desir pohon Beringin yang kini telah ditebang. Aku hanya memperhatikannya sembari mengucap dalam sanubari:

"Cewek aneh ini suka aksesori yang serba besar, resliting tas yang besar dan jam tangan yang gigantisme".

Tidak pernah terlintas dalam pikiranku kala itu bahwa Perempuan yang kusebut aneh inilah yang sukses membuatku jatuh cinta hingga belasan tahun mendatang...

***

Di sebuah kelas yang diklaim oleh kepala sekolahku secara sepihak sebagai kelas unggulan yang berisi 39 manusia + 1 guru di sebuah sekolah menengah di Jakarta, disitulah aku duduk dengan malu-malunya. Terkejut namun biasa saja, saat tahu si gadis penyuka aksesori besar yang sering berpadu dalam gang sekolah kini bersatu ruang denganku.

Benih ketertarikan itu mulai lahir, walaupun belum ada sebuah percakapan pun muncul dari kami karena posisi duduk yang terpisah lorong antar meja. Tercetak dengan jelas dalam otak ini, ucapan pertama yang tinggal landas dari mulutku dan meluncur dengan kecepatan 350 meter per detik menuju telinga Bunga adalah:

"Bunga, pinjam pensilnya dong kalau ada?"

5 jam kemudian saat aku nawaitu mengembalikan si pensil, dia bilang

"Ambil aja, buat lw ngga apa apa, gw udah ada ini"

Dan mulai dari benda sesederhana pensil itulah Sang benih ketertarikan mulai bertunas.

Pensil itu masih kusimpan hingga hari ini, tanpa pernah kugunakan lagi....

***

Seminggu kemudian aku pindah tempat duduk, yang secara menegangkan, berada tepat dibelakang Bunga. Hanya terpisahkan oleh meja kayu yang bolong sana-sini, cukup menyenangkan untuk bisa melihat Bunga, walaupun sebagian besar hanya menatap geraian rambut panjangnya yang hitam pekat. Tidak butuh waktu lama untuk mendekatkan diri kepadanya, karena dia ternyata seorang sangat periang dan bersahabat.

Waktu berlalu dan kini tunas rasa suka terhadap Bunga telah tumbuh menjadi sebuah pohon. Pohon kecil yang masih tertutup belukar gengsi dan takut. Pohon yang masih terpayungi rimbunnya sensasi hormon masa pra-remaja. Meskipun demikian, pohon ini tidak pernah benar-benar kuabaikan dan justru kupelihara dengan penuh kasih sayang.

Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan telah berlalu. Ujian Sekolah telah usai dan aku sadar ketika itu bahwa kesempatanku bercengkerama dengan Bunga tinggal sebanyak hitungan jari manusia, tidak termasuk jari kaki. Dan saat perpisahan itu tiba, aku bahkan tak sempat mengatakan kepada Bunga bahwa selama ini aku telah menyimpan rasa padanya, rasa yang belum berani kusebut cinta.

Ya semua terlewat begitu saja, seakan benih dan tunas romansa itu tidak pernah terciptakan....

Tiba-tiba, aku sudah duduk dengan pakaian putih abu-abu!

***

Ini lah aku, dalam dunia baru, tanpa ragu meninggalkan yang biru dan menyongsong Sang abu-abu. Bukan sulap bukan juga sihir, hanya proses penuaan yang normal. Yang tidak normal adalah, aku kembali berada dalam satu sekolah dengan Bunga. Meskipun begitu kami tidak sekelas, untuk tahun pertama. Dan selama tahun pertama ini, aku hanya bisa menatap Bunga dari seberang kelasnya lewat celah pintu yang terbuka.

Ketidaknormalan mulai muncul saat tahun kedua masuk. Tanpa ada firasat apapun, aku masuk ke kelas baru dengan mahkluk-makhluk penghuninya yang asing bagiku. Namun aku tercenung saat menjejak lantai kelas, terdiam sedetik dua detik saat melihat sebuah wajah yang kukenal baik, sangat baik malah: Bunga!

Hormon Fenylethylamine dan Adrenalin mengalir deras dalam sistem peredaran darahku. Detak jantung yang melonjak seketika, keringat yang bercucuran secara drastis padahal cuaca masih dingin melengkapi kegelisahan. Seorang Bunga, yang selama setahun belakangan hanya bisa kucuri pandang tanpa bisa mencuri hatinya, kini sedang duduk tepat di dalam kelas yang sama denganku, hanya terpisah oleh 3 tempat duduk.

Namun dengan bodohnya, bagaikan keledai yang terperosok pada lubang yang sama, aku kembali gagal menyatakan rasa yang ku miliki kepada Bunga. Dan kembali terulang: setahun telah terlewati, dan aku pun kembali terpaut jarak yang jauh saat memasuki tahun ketiga. Kami kembali berbeda kelas. Tak bisa disesali, satu tahun yang indah bersama Bunga telah kusia-siakan.

Sadar tak dapat bisa terus berlaku pengecut, cepat harus kusampaikan ledakan rasa yang terus mengembang tiap harinya. Pertama, aku mengirimkan sebuah kode: sebuah puisi. Sebuah puisi picisan sederhana yang dengan bantuan juniorku berhasil kusematkan ke dalam Mading sekolah. Sebuah puisi anonim yang sempat menjadi gosip 1 angkatan, walaupun pada akhirnya mereka tidak pernah tahu siapa penulis puisi itu, kecuali 6 orang kawanku yang entah dapat wangsit dari siapa bisa tahu bahwa puisi itu adalah ulahku. Namun gosip yang sudah menjalar menyebut bahwa puisi itu buatan orang lain. Biarkanlah, ku tak perduli, tak perlu tahu khalayak siapa penulisnya.

Akhirnya terlepaslah seragam abu-abu itu, melepas haru biru dalam hidup baru, namun tak bisa ku terus bisu pada pujaan hatiku. Akhirnya, dengan provokasi seorang sahabat yang sudah kuanggap seperti adik sendiri walaupun beda ayah ibu, kunyatakan luapan rasa yang selama 4 tahun terakhir kusimpan rapat dalam tirai besi hati. Melalui telpon Nokia prasejarah, kukatakan semuanya kepada Bunga.

Reaksi Bunga? kalimat pertama yang dia lontarkan:

"Terima kasih Ki..."

Dan seterusnya kami bicara hingga kurang lebih 5 menit dengan paket telepon im3. Aku memang tak pernah meminta dia jadi kekasihku, ku hanya katakan bahwa aku punya rasa padanya sejak dulu, dan itu sudah lebih dari cukup.

***

Tahun demi tahun telah terlewati dengan sukses, tiga tahun tepatnya. Aku telah memiliki seorang kekasih, Mawar. Mawar tahu dengan jelas walau kita berstatus, namun dia faham selalu ada Bunga dalam hatiku. Jahat? Iya mungkin, namun diriku pun tak kuasa enyahkan jejak Bunga, harus bagaimana?

Bahkan pada tahun itu adalah tahun aku bertemu kembali tatap muka dengan Bunga setelah sekian lama. Berada di Kantin Sastra UI bersama Sang kekasih, menikmati semilir angin sore dengan segelas es teh dan sepiring Siomay, tak pernah terpikir bahwa Bunga akan hadir diantara kami.

Bunga mendadak lewat, dengan kaus putih, celana jeans hitam, rambut poni kuda dan kalung etnik yang besar dan pancaran pesona yang tidak berubah sedikitpun sejak dulu pertama ku melihatnya. Dia melihatku dan langsung menghampiri. Mungkin dia ingin bicara juga denganku, sebagai kawan lama tentunya. Dengan susah payah kusembunyikan rasa bahagia dan gugup, kami bertiga akhirnya menikmati senja indah bersama. Tak kusangka Mawar dan Bunga bisa akrab dan berteman cukup lama, bahkan hingga diriku berpisah dengannya 7 bulan kemudian.

enam puluh bulan telah berlalu sejak terakhir aku bertemu Bunga dan Mawar pun sudah menjadi kekasih pria lain. Bunga sedang berada di negeri Gingseng, menuntut ilmu, 5000 kilometer dari tempatku berada, entah dia akan disana selamanya atau akan kembali ke rumahnya yang terenggangkan 0,8 kilometer dari gubugku. Selama empat tahun terakhir, tak pernah kutemui celah dimana aku bisa mengenyahkan Bunga dari pikiranku walau kami tak pernah bersua, begitupun mendapat penggantinya. Tak pernah pula ku berhasil mengalihkan rasa ini dari Bunga, walaupun sudah banyak wanita yang menjadi pelampiasan. Bilakah aku berhasil melupakannya?

***

Tidak ingat lagi berapa tahun semenjak terakhir aku pertama kali bertemu Bunga, kini semuanya tampak seperti kilatan mimpi. Bagai menatap layar perak saat semua cerita teringkas dalam 90 menit, seluruh ceritaku dengan Sang Bunga juga seakan terekspos dalam guratan waktu yang begitu singkat dalam realita maya.

Berawal dari pulangnya Bunga dari negeri Korea, semua cerita ini mulai berubah...

Bunga bukan lagi bunga yang dulu. Dia berganti menjadi seorang Bunga yang jauh lebih elok: Cerdas, mempesona, periang, ramah, sebuah kondisi yang akan membuat pria manapun jatuh hati, termasuk aku sejak belasan tahun silam. Namun sebagai pria yang punya ego tinggi, aku tak pernah menyerah sebelum mencoba. Aku akan mencoba, walaupun dalam relung hati terdalam aku yakin gagal, untuk memintanya menjadi cinta pertama dan terakhirku...

Dengan mengandalkan kemampuan stalking dan insting detektif picisanku, aku tahu Bunga telah pulang kembali ke Jakarta, untuk selamanya, setidaknya menurut asumsiku. Disinilah mungkin kesempatan pertamaku terbentang, tanpa perlu kembali menjadi Keledai dungu yang terjembab di kubangan yang sama untuk ketiga kalinya.

Aku bersiap secara mental, spiritual dan fisikal untuk memintanya menjadi landasan tempat jangkar cintaku berlabuh. Mengadakan meeting darurat dengan para sahabat dalam rangka menyukseskan mega proyek ini, modal yang kukeluarkan tidak pernah sedikit, terutama untuk konsumsi para konsultan lamaran ini. Akhirnya disetujuilah proposal untuk melamar Bunga dengan memanfaatkan sebuah moment buka bersama. Dengan alibi acara buka bersama kawan-kawan dekat sekelas dulu, aku dengan suksesnya mengundang Bunga untuk hadir dalam acara yang kelak menentukan jalan hidup ku hingga liang lahat.

Tibalah hari H, dengan tingkat kegugupan yang belum pernah kurasakan seumur hidup, aku menunggu Bunga di restoran tempat acara "bukber" dan lamaran ini berlangsung. Semua peserta kecuali Bunga sudah paham bahwa acara ini adalah sejatinya sebuah acara konspirasi tingkat tinggi. Berkali-kali memandangi cincin emas entah berapa karat yang berukirkan tulisan "My Angel", aku menunggu sembari berharap cemas.

Akhirnya Bunga menunjukkan dirinya...

Sambil berakting seakan tidak ada agenda super rahasia yang akan kujalankan, aku menunggu waktu paling pas, yakni saat acara ini sudah hampir berakhir.

Dan tibalah waktu itu....

Kuhampiri dia dengan langkah kaku dan degup jantung yang nyaris meluluhlantakkan seluruh rusuk dadaku.

"Bunga, kau tahu aku dengan baik. Kau tahu apa rasaku padamu. Dan kau tahu, rasa itu tidak pernah hilang...berubah pun tidak"

Dia diam

"Dan kurasa kini saatnya aku menyingkap seluruh niat yang kumau atas dirimu..."

Bunga masih terdiam, begitupun hadirin yang berada di tempat itu

"Maka dengan ini aku ingin menanyakan suatu hal...."

suasana masih hening, mengalahkan heningnya pemakaman

"Maukah dirimu.....menemaniku dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, dalam sedih ataupun senang selama sisa hidupku?"

tidak ada suara, sepi, mencekam

dia menjawab lima detik kemudian, yang terasa seperti jutaan tahun....

"Terimakasih ki, terimakasih banget.... tapi sejujurnya, aku masih belum ingin berada dalam komitmen keluarga....."

sebuah jeda

".....selain itu aku juga akan segera kembali ke Korea, Sekolahku belum selesai disana. Aku ingin selesai sekolah dulu baru setelahnya aku berpikir hal lain"

Oke aku telah ditolak, persis seperti apa yang aku yakini.

"Jujur aku belum ada gambaran menikah..mungkin suatu saat nanti, yang pasti bukan sekarang"

Hah?!

Kalimat terakhir seakan menampilkan sebuah sandi tertentu bagi telingaku, namun bias. Antara yakin dan tidak yakin, pikiranku sibuk melayang dalam upaya menerjemahkan kalimat terakhirnya. Aku sampai pada sebuah ikhtisar, Bunga tidak mau menjadi kekasihku, untuk sekarang. Aku setengah meyakinkan diriku bahwa Bunga telah memancarkan isyarat bahasa, yang merupakan keahliannya, kepadaku untuk mencoba lagi di lain waktu.

Baiklah Bunga, seperti harapanmu, aku akan mencoba lagi nanti.

Jadi, hingga hari ini cincin dan pensil kenanganku dengan Bunga masih ku simpan dalam almari. Sang cincin yang menunggu untuk disematkan ke dalam jari manisnya, dan sang pensil yang menunggu untuk kembali digunakan oleh pemiliknya yang terdahulu. Aku tak pernah sedikit pun merubah asa ini, bahwa cita cintaku ada dalam almari.

Jadi aku disini Bunga, menunggu sediamu.


versi pendeknya (Competition Mode) di http://www.dagelanwayang.com/2013/06/cintaku-dalam-almari_27.html

Hizbut Tahrir Indonesia: Demokrasi Dan Khilafah

Sebagai orang luar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) saya kerap mendengar dan membaca mengenai konsep Khilafah yang dibicarakan oleh anggota HTI. Terlepas dari apa agama, kepercayaan, dan aliran saya, secara jujur saya akui perbincangan mengenai Khilafah ini cukup menarik untuk diikuit dan (kini) dikritisi. Namun saya menyadari dengan posisi saya sebagai orang luar dari keluarga dan lingkungan HTI, informasi dan pemahaman komprehensif saya mengenai campaign Khilafah yang dibawakan HTI ini sangatlah terbatas dan selalu ada kemungkinan tidak lengkap. Maka dari itu tulisan ini saya batasi pada sumber-sumber bawah (akar rumput) yang langsung saya terima dalam kehidupan sehari-hari saya

Salah satu substansi yang sering dibicarakan oleh kelompok HTI selain Khilafah adalah anti-demokrasi. Bahkan beberapa ustadz populer juga turut berbicara tentang anti-demokrasi ini (walaupun saya tidak tahu apakah beliau anggota HTI atau bukan) Beberapa bulan lalu, hashtag (istilah dalam dunia twitter) #antidemokrasi bahkan sempat melejit menjadi trending topicTwitter, dan dipopulerkan oleh seorang ustadz mualaf yang tidak perlu saya sebut namanya. Kelompok HTI menganggap bahwa demokrasi adalah suatu dosa: produk gagal dari kebudayaan barat yang liberal dan jauh dari peraturan keislaman. Mereka memberikan contoh kondisi Indonesia sekarang ini sebagai bukti kegagalan demokrasi dalam misi membawa kesejahteraan bagi komunitas muslim. Karena itulah HTI melihat bahwa demokrasi tidak cocok bagi bangsa Indonesia dan mulai mengkampanyekan Khilafah sebagai sistem pemerintahan alternatif bagi Indonesia.

Satu hal yang menjadi pertanyaan besar saya: Demokrasi apakah yang mereka maksud?. Bagi pembaca yang pernah belajar ilmu politik atau pernah kuliah FISIP tentu tahu bahwa makna demokrasi itu sangat luas: mulai dari komunisme hingga republik, dari fasisme hingga monarki semuanya bisa disebut demokrasi. Memang ada semacam stigma dalam masyarakat awam bahwa demokrasi adalah sistem politik ala Amerika Serikat dimana selalu ada Presiden, parlemen, parlemen daerah, pemilu, pembagian kekuasaan dan lain-lain, dan stigma inilah yang menurut asumsi saya, digunakan oleh HTI untuk mengkampanyekan ide anti demokrasi.

Apakah hal itu salah? Bagi saya hal itu adalah kesalahan besar dan fatal. Secara peyoratif bahkan saya bisa katakan hal itu adalah proses pembodohan publik yang dilakukan oleh HTI kepada anggotanya sendiri. Karena dengan mengkampanyekan anti demokrasi tanpa penjelasan lebih lanjut (yang terbukti dari tidak pahamnya para anggota HTI akar rumput tentang substansi demokrasi) maka HTI telah menjebak anggotanya dalam suatu kondisi paradoks: membenci demokrasi tapi menggunakan produk demokrasi.

Sederhananya seperti ini: HTI kemarin (02-06-2013) menggelar muktamar akbar di Senayan dengan topik sama, Khilafah. Dalam muktamar itu tentu saja ada selipan-selipan kalimat yang bernuansa anti demokrasi. Lucu sebenarnya, karena mereka bisa menggelar Muktamar adalah berkat lingkungan demokrasi di Indonesia. Bila kita turunkan level demokrasi itu, katakanlah seperti di Korea Utara, mana mungkin HTI bisa menggelar muktamar? Bicara didepan publik saja bisa ditembak mati apalagi muktamar akbar yang dihadiri ribuan orang? HTI bisa berdemo, bisa berkhotbah, melakukan muktamar, melakukan pertemuan dan bahkan mendirikan organisasi HTI itu sendiri adalah berkat demokrasi Indonesia pasca reformasi 1998. Andaikan kita menganut demokrasi komunisme ala China, belum tentu HTI bisa lahir ke bumi.

HTI juga kembali melakukan blunder besar dengan mengkampanyekan ide anti demokrasi namun mendukung Khilafah. Apakah Khilafah adalah demokrasi? Sebenarnya saya pun kurang mengerti konsep sistem politik Khilafah karena memang sebenarnya (sepengetahuan saya) tidak ada yang namanya sistem politik Islam. Yang ada adalah sistem politik kontemporer dengan landasan hukum Islam. Jikapun HTI ingin menggunakan Khilafah sebagai sistem operasi negara Indonesia, maka sistem politik yang dipakaipun bisa macam-macam mulai demokrasi parlementer, demokrasi presidensial, monarki absolut, monarki konstitusional, komunisme, despotisme (monarki absolut), negara federal dan lain sebagainya.

Argumen jawaban mereka yang menjawab sistem khilafah adalah sistem pemerintahan yang digunakan oleh Baginda Rasullullah ketika memimpin Medinah dan Mekah, maka itu jelas adalah demokrasi. Nabi Muhammad yang dalam pemerintahannya mendengar aspirasi pengikutnya secara langsung dari mulut ke telinga sebenarnya sudah masuk dalam demokrasi, walaupun dalam bentuk primitif (demokrasi langsung). Lantas apakah HTI ingin mempraktekkan demokrasi langsung di Indonesia? Silahkan saja kalau sang pemimpin siap (dan mampu) mendengarkan kritik, masukan, kecaman dari 210 juta rakyat Indonesia secara satu per satu tanpa perwakilan dan tanpa agregasi kepentingan yang mana menurut akal sehat saya sebagai manusia tidak mungkin bisa dilakukan manusia.

Ide HTI tentang anti demokrasi dan khilafah terdengar dangkal dan jujur saja, menjadi bahan olok-olok mahasiswa dan dosen-dosen politik karena konsepnya yang tidak jelas dan kabur seperti yang telah sedikit saya tuliskan diatas. Ada baiknya HTI memperdalam konsepnya mengenai khilafah Indonesia yang disintesiskan dengan demokrasi, karena khilafah itu sendiri adalah demokrasi. Kecuali jika kaum intelek HTI mampu membuat sebuah teori dan ide baru yang diakui oleh komunitas ilmuwan ilmu politik internasional mengenai sebuah sistem politik dan sistem pemerintahan yang terpisah dari demokrasi dan sesuai dengan istilah Khilafah mereka. Atau HTI sederhanakan saja idenya, tidak perlu muluk-muluk kampanye anti demokrasi namun cukup kampanyekan ide mengenai hukum Islam di Indonesia. Tidak lucu bagi organisasi sebesar HTI saat kader-kader dibawahnya berapi-api menyuarakan anti demokrasi tapi ternyata ide khilafah dan perilaku mereka sendiri memanfaatkan lingkungan demokrasi.

Sekian kritik saya mengenai gagasan HTI mengenai Demokrasi dan Khilafah, semoga menjadi masukan berguna untuk gerakan HTI kedepannya bila memang HTI serius ingin merubah sistem pemerintahan dan hukum bangsa ini.