Ironi saat sebuah toko dan penerbit buku terbesar di Indonesia justru melakukan tindakan yang menjadi aib dalam dunia ilmu pengetahuan: Pembakaran buku! Berita ini awalnya saya dapatkan dari website jejaring sosial Twitter. Saya pikir ini hanya kabar-kabar burung. "Masak sih sebuah toko buku justru membakar buku terbitannya sendiri?". Namun setelah melakukan berbagai bentuk verifikasi akhirnya kabar ini saya buktikan sendiri benar apa adanya (bahkan ada foto-fotonya yang sangat jelas). Hal ini tentu saja semakin membuat saya terkejut sekaligus sedih: "ada yah toko dan penerbit yang tega membakar habis buku-bukunya sendiri?" Ibarat manusia, toko buku itu adalah orang tua dan buku adalah anak-anaknya, luar biasa kejam kalau sampai orang tua membakar habis anak-anaknya.
Dari berita-berita yang saya baca buku ini dibakar karena ada tekanan dari FPI (Front Pembela Islam). FPI melihat bahwa isi buku yang berjudul "5 Kota Paling Berpengaruh Di Dunia" ini mencemarkan nama nabi Muhammad. Dalam salah satu halamannya disebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang perompak atau perampok. Hanya karena satu halaman dengan tulisan itu saja (karena memang buku tidak membahas tentang nabi Muhammad) FPI langsung mengadili bahwa buku ini adalah buku sesat dan harus dibakar. Entah apa yang dipikiran manusia-manusia berjubah dan bersorban putih itu.
Pihak Gramedia pun menurut saya pribadi layak dan harus dipersalahkan oleh kejadian ini. Mereka adalah sebuah toko buku, sebuah toko yang membagikan ilmu pengetahuan tak terhingga kepada umat manusia melalui buku-buku yang mereka terbitkan tapi pada saat yang sama mereka menghabisi sumber ilmu pengetahuan itu sendiri dengan membakarnya. Dengan santainya pihak Gramedia seakan-akan membanggakan tindakannya ini. Tidak terucapkan satu patah kata maaf sekalipun dari pihak Gramedia kepada masyarakat yang marah melihat pembakaran buku ini. Gramedia justru meminta maaf kepada FPI karena telah teledor menerbitkan buku ini, suatu tindakan yang menurut saya sungguh menjijikan dalam kapasitasnya sebagai sebuah perusahaan penerbit buku.
Dalam sejarah manusia, hanya kelompok-kelompok diktatorial dan tidak beradab saja yang tega membakar buku. Seperti ratu Isabella dari Spanyol yang membakar habis buku-buku perpustakaan Cordoba, Nazi Jerman yang membakar buku-buku yang dianggap tidak sepaham dengan Nazisme dan Cina pasca revolusi Komunisme yang juga membakar secara massal buku-buku yang dianggap membahayakan komunisme. Pada abad 21 ini, setahu saya, tidak ada satupun negara di planet bumi yang melakukan pembakaran buku, termasuk negeri-negeri yang dianggap diktator seperti Iran, Korut, Arab Saudi dan lain-lain. Dalam sejarah Islam (yang berafiliasi dengan FPI), hanya rezim Utsman yang melakukan pembakaran buku secara massal, yaitu Mushaf Quran yang dianggap salah, dan bagi sayapun itu suatu blunder dalam sosio-histori Islam.
Untuk saya pribadi, pembakaran buku ini adalah benar-benar tidak beradab dan merupakan kebalikan dari sikap pro ilmu pengetahuan. Pembakaran buku adalah sebuah bentuk pengkhianatan terhadap perkembangan peradaban umat manusia. Seharusnya FPI pun juga bersikap dewasa dan cerdas dengan menerbitkan buku ciptaan mereka sendiri yang dapat menyanggah isi buku 5 Kota Paling Berpengaruh di dunia ini. Karena toh pada hakikatnya percuma saja FPI dan Gramedia dengan diamini oleh MUI ini membakar buku sebanyak apapun karena softcopy dari buku masih eksis dan mungkin ada yang menggandakan hardcopy dan menguploadnya ke Internet, jadi softcopy yang bertebaran secara gratis di dunia maya.
Kesimpulannya, saya merasa sangat kecewa dengan ulah Gramedia dan FPI yang mana tidak menunjukkan perilaku cerdas samasekali. Bagi saya pribadi yang sudah benar-benar jatuh cinta dengan dunia tulis menulis, FPI dan Gramedia sudah melakukan kejahatan nilai-nilai peradaban manusia dengan melakukan pembakaran buku. Semoga para penulis buku di seluruh dunia dapat mengampuni perbuatan nista kalian Gramedia dan FPI

No comments:
Post a Comment