Rumitnya Membantu Rakyat Suriah

Jika kita sering memperhatikan berita internasional akhir-akhir ini maka kita akan tahu sedang ada tragedi kemanusiaan yang terjadi di Suriah (Syria). Negara Timur tengah ini sedang dilanda pergolakan politik yang menggoyang rezim presiden Bashar Al-ashad. Gelombang unjuk rasa rakyat Suriah selama berbulan-bulan yang disertai dengan aksi kekerasan baik itu oleh aparat keamanan Suriah atau dari peserta unjuk rasa semakin meningkatkan keprihatinan masyarakat internasional. Ratusan orang telah tewas dan ribuan lainnya mengalami cedera fisik. Pemerintah berbagai negara pun sudah menekan presiden Bashar untuk menghentikan tindakan kekerasan dalam menghadapi para demonstran. Tekanan pun datang dari beberapa kelompok untuk mulai melakukan operasi militer guna menggulingkan pemerintahan Bashar secara paksa guna menghindari pertumpahan darah lebih lanjut sesama rakyat Suriah, salah satu tekanan tersebut datang dari Amerika Serikat.

Sebagai orang yang mempunyai latar belakang pendidikan hubungan internasional, saya melihat wacana Amerika Serikat beserta sekutu untuk membantu masyarakat Suriah tidak sesederhana seperti kita membantu orang lain dilingkungan kita. Ada banyak variabel yang memperumit bentuk bantuan yang mungkin saja tidak terlihat oleh orang-orang diluar itu. Selain itu, berbagai macam konsekuensi yang bisa mempengaruhi masa depan negara-negara yang terlibat dalam perbantuan terhadap Suriah juga menjadi pertimbangan matang bagi AS atau bagi negara lain di dunia. Dalam tulisan ini saya mencoba untuk menjabarkannya satu per satu serta mendeskripsikannya dengan bahasa sesederhana mungkin sehingga diharapkan dapat dimengerti oleh siapapun

Perang Adalah Bisnis
Prinsip pertama yang harus kita benar-benar pahami adalah kenyataan bahwa perang adalah sebuah bisnis modern. Bisnis perang, kalau saya boleh menyebutnya demikian, adalah sebuah bisnis raksasa bernilai milyaran Dollar Amerika. Perang bukan lagi sebuah aksi untuk mempertahankan diri atau aksi untuk menguasai negara lain, tapi lebih ke arah sebuah strategi untuk meraup untung milyaran dollar melalui peristiwa konflik antara dua kubu pasukan yang mempunyai kepentingan berbeda. Kalau anda pernah menonton film Ironman yang pertama, dimana Stark Company menjual senjata kepada dua belah pihak yang bertikai: Pemerintah AS & teroris.

Cerita Stark Company diatas kira-kira sama dengan yang terjadi di dunia nyata. Hanya saja kejadian di dunia nyata jauh lebih tersembunyi dan penuh intrik (tidak sesederhana di film). Contohnya begini: X membeli senjata dari perusahaan Y dinegara Z. X membayar senjata ke Y dengan cara berhutang dengan angka fiktif ke negara Z, misal: X berhutang negara Y sebesar 800 milyar USD (di kertas) namun pada kenyataannya hanya berkisar 500 milyar USD. 300 milyar USD sisanya dipergunakan untuk membayar negara Z sebagai makelar dan membayar nominal senjata kepada perusahaan Y (contoh ini hanyalah contoh yang sederhana, aslinya bisa jauh lebih rumit ketimbang itu).

Tidak seperti pemahaman umum bahwa senjata-senjata hi-tech yang dimiliki negara-negara besar dimiliki oleh negara, faktanya perusahaan senjata seperti Boeing, Colt, Lockheed dan lain sebagainya dimiliki oleh swasta. Mereka mempunyai privilege untuk menjual senjata-senjata tertentu (beberapa lainnya dilarang oleh pemerintah AS) ke negara lain yang punya hubungan baik dengan AS seperti Jerman, Israel, Inggris, Filipina dan lain-lain. Pemerintah AS disini hanya sebagai pengawas agar perusahaan-perusahaan tersebut tidak menjual senjatanya ke negara yang menjadi lawan kepentingan AS.

Namun status "Bisnis" ini tidak hanya berlaku untuk perusahaan senjata itu sendiri, tapi juga negara yang bersangkutan. Kita tentu masih ingat invasi AS ke Irak awal abad 21 lalu. Amerika Serikat menghabiskan lebih dari 100 milyar USD untuk mengobarkan perang di Irak, suatu jumlah yang tidak sedikit. Apakah kita lantas percaya bahwa ratusan milyar yang terbuang ini hanya digunakan untuk menolong rakyat Irak dari rezim Saddam Hussein? Bayangkan begini: adakah seorang yang rela menyumbang mobil barunya untuk diberikan kepada tetangganya yang tidak mampu membeli rumah tembok padahal anak si pemberi mobil ini kesulitan untuk membayar uang sekolah?

Perang AS ke Irak ini tidak gratis, ada imbalan yang selalu diharapkan. Kini kita bisa dengan jelas melihat betapa berton-ton barrel minyak negeri seribu satu malam ini mengalir dengan harga sangat murah ke perusahaan-perusahaan minyak AS. Minyak yang tadinya menjadi sumber devisa utama Irak kini dihisap dengan harga jauh dibawah standar oleh Amerika Serikat. Inilah imbalan yang diharapkan AS dari perang Irak, bukan karena faktor rasa kemanusiaan.

Dalam kasus Suriah ini, kita harus melihatnya sebagai kesempatan bisnis pula bagi pemerintah AS (dan juga pemerintah negara sekutu) atau bagi perusahaan-perusahaan senjata. AS melihat Suriah dapat menjadi pasar baru bagi produk-produknya. Belum lagi Suriah sebuah negara penghasil minyak bumi, yang tentunya bila AS dan sekutu bisa menguasai negara ini maka pundi-pundi cadangan minyak buminya akan semakin meningkat. Namun AS dan sekutu juga sadar bahwa jika kampanye militer mereka ke Suriah gagal maka resikonya adalah kerugian jutaan dollar, yang mana adalah suatu hal yang sangat menakutkan bagi mereka atau bagi negara manapun di dunia.

Perimbangan Hagemoni
Posisi negara Amerika Serikat sebagai negara superpower bukannya tanpa tantangan. Berbagai negara di dunia seperti Cina, Rusia dan Iran sedang berusaha untuk menangkis pengaruh kekuasaan AS di dunia. Perebutan pengaruh inilah yang menyebabkan mengapa menguasai suatu negara, baik itu menguasai dalam artian militer ataupun pengaruh, sangat penting bagi negara-negara tersebut. Disaat Amerika Serikat ingin menyerang Suriah, negara-negara lain seperti Iran, Cina dan Rusia menolak rencana AS tersebut karena dikhawatirkan Suriah akan menjadi kepanjangan tangan AS. Selain itu, Rusia juga tegas menolak intervensi asing di Suriah karena sadar bahwa Suriah kini adalah salah satu konsumen terbesar militer Rusia yang telah memberikan banyak uang untuk membeli persenjataan Rusia. Iran sendiri yang secara geografis berada tidak begitu jauh dari Suriah juga khawatir intervensi AS & Sekutu ke Suriah hanya akan semakin memperkuat pengaruh AS di Timur Tengah.

Perimbangan hagemoni harus dilakukan secara berhati-hati dan bertahap. Perimbangan hagemoni yang dilakukan tergesa-gesa dan ceroboh dapat menimbulkan reaksi keras seketika dari negara lawan, yang bisa berbentuk perang ekonomi atau bahkan perang terbuka. Amerika Serikat yang sedang berusaha menancapkan hagemoni di Suriah dari Rusia dan Cina juga tentu harus melakukannya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kemurkaan Rusia dan Cina. Amerika Bisa saja langsung menyerang pemerintahan Bashar dengan armada militernya, tapi sikap demikian dapat menimbulkan balasan dari Rusia yang memiliki instalasi militer disana. Cina yang juga ingin menjaga sumber minyaknya di Timur tengah tentu juga akan bereaksi keras dengan operasi militer macam ini dengan cara misal embargo produk AS, mengalihkan satuan valasnya ke mata uang lain atau lain sebagainya.

Politik Dalam Negeri Suriah
Apa yang terjadi ketika seandainya rezim Bashar Al-ashad runtuh? Yang pasti disana akan ada perebutan kekuasaan. Dalam keadaan vakum of power, kelompok-kelompok politik akan saling bersaing untuk mendapatkan kekuasaan Suriah. Persaingan ini bila tidak terakomodir dan terarah akan mengakibatkan konflik horizontal, konflik sektarian seperti yang terjadi di Irak sejak rezim Saddam Hussein runtuh. Perang saudara justru akan meluas, makin memperparah kondisi negara di negara yang bersangkutan.

Amerika Serikat tentu juga telah mempertimbangkan hal ini. Pertama, mereka pastinya tidak mau dipersalahkan jika ada perang saudara di Suriah pasca Bashar karena hanya menurunkan citra AS dalam pergaulan internasional. Penurunan citra ini dalam berefek buruk terutama terhadap hubungan AS dengan negara-negara teluk yang notabenenya merupakan geopolitik paling strategis bagi AS. Kedua, perang saudara berarti AS harus bertanggungjawab atas stabilitas keamanan disana, yang artinya sama saja dengan mengeluarkan uang lebih banyak lagi. Mengingat kondisi ekonomi AS yang sedang mengalami resesi, pengeluaran ekstra untuk menjaga keamanan negara lain tentu bukanlah suatu keadaan yang bagus. Ketiga, resiko atas berkuasanya rezim yang anti-AS. Seandainya rezim Bashar runtuh, terjadi perebutan kekuasaan yang ternyata dimenangkan oleh pihak anti-AS, maka percumalah semua kampanye peperangan yang diselenggarakan oleh AS. Modal milyaran dollar untuk berperang yang dikeluarkan AS akan terbuang percuma jika rezim yang berkuasa di Suriah adalah anti-AS

No comments:

Post a Comment