Kalaupun saya "dipaksa" untuk mencari kambing hitam dari miskinnya buku non-fiksi dipasaran buku Indonesia, maka saya lebih suka untuk menyalahkan sistem pendidikan kita. Salah seorang dosen saya, seorang penulis buku, pernah berkata saya "Seorang mahasiswa S1 itu seharusnya bisa menghasilkan paling tidak satu buku!". Saya tidak tahu maksud pasti dari dosen saya tersebut, namun tampaknya kini saya dapat memahami maksud beliau: Saya 3 kali terlibat dalam proyek penulisan ilmiah secara formal: 1). Penulisan Essay Lomba; 2). Penulisan Skripsi; 3). Penulisan buku (sedang berlangsung). Sedangkan penulisan semi-ilmiah saya sulit dihitung jumlahnya, puluhan hingga bahkan ratusan artikel (sebagian diantaranya hilang karena website saya terblokir). Dari kesemua tulisan yang telah saya tulis, ada dua kesamaan dalam menulis semua tulisan non-fiksi: Verifikasi data (kalau mustahil dilakukan, verifikasi sumber data) dan cara berpikir yang urut dan logis.
Saya pribadi merasa bersyukur 2 kali mendapatkan mata kuliah yang berhubungan dengan logika: Dasar-dasar Logika dan Filsafat Ilmu Politik. Kedua mata kuliah inilah yang paling besar jasanya dalam membentuk diriku yang dapat memahami runtutan logika. Dan beruntungnya lagi, selama saya kuliah saya selalu mendapatkan dosen yang suka memerintah muridnya untuk berdialektika (berdiskusi), sehingga saya belajar banyak cara mengeluarkan argumen ilmiah dengan benar tanpa melakukan hominem (kesesatan) atau framing yang tendensius. Kemudian saya coba tanyakan kepada rekan-rekan mahasiswa lain kala itu yang kuliah di kampus negeri dan swasta lainnya, ternyata tidak semua kampus memberikan mata kuliah dasar-dasar logika atau ilmu yang berkaitan dengan pelatihan kemampuan mengembangkan logika. Bahkan di beberapa kampus, berdasarkan cerita rekan-rekan saya, banyak dosen yang jarang mengadakan diskusi ilmiah alias hanya mendiktekan materi untuk dicatat.
Dari situ saya kemudian apa yang dimaksud oleh dosen saya tadi, ternyata beliau hendak mengatakan bahwa seorang mahasiswa, dimana kemampuan logikanya seharusnya telah terasah melalui proses dialektik dan kegiatan belajar di dalam kelas, bisa membuktikannya dalam bentuk buku. Kenapa buku? karena di dalam bukulah segala runtutan sebab akibat, verifikasi data, kemampuan untuk menghubungkan antara satu fenomenon dengan fenomena lainnya dengan logis dan kemampuan berdialektika sekaligus dijadikan satu, suatu hal yang tidak dapat kita temukan dalam cerita fiksi.
Lalu apa hubungannya semua cerita diatas dengan banyak buku fiksi ketimbang non-fiksi. Sederhana saja, sistem pendidikan kita yang seakan-akan kurang mementingkan kemampuan berlogika, sehingga mahasiswa pun seakan-akan "tidak tahu" dan tidak terbiasa dengan bagaimana cerita menghubungkan secara logis antar fenomena dan mencari data valid. Walhasil ketika lulus, mahasiswa itupun tetap mewarisi ketidaktahuannya dan saat dia menulis, menulis fiksilah dia. Begitupun dengan permintaan pasar yang penuh dengan fiksi: Iwan Piliang, seorang Citizen Reporter Senior pernah menulis bahwa minat baca mahasiswa dan pelajar sekarang ini sangat menyedihkan. Sontak saya pun mengamini 1000 kali pernyataan beliau ini. Kemiskinan niat baca ini lahir akibat sistem pendidikan yang berorientasi kepada hasil nilai di raport alih-alih ilmu pengetahuan sendiri. Pelajar, termasuk mahasiswa menjadi terjebak dalam jurusannya sendiri, merasa perlu membaca buku hanya yang berguna untuk mengatrol nilai ataupun IPK nya. Makna ilmu pengetahuan diartikan begitu sempit bak katak dalam tempurung: wawasan menyempit, kemampuan memahami masalah pun menjadi miskin, seakan-akan tahu padahal tidak tahu, seakan-akan paham padahal mengertipun tidak. Hasilnya, pelajar dan mahasiswa merasa tidak perlu memperkaya wawasan lagi melalui buku. Rasa puas terhadap wawasan diri sendiri ini mengakibatkan mereka "malas" menambah ilmu dengan membaca hal-hal yang mengandung wawasan, mereka lebih suka menghabiskan (sebagian besar, sangat besar bahkan) waktunya untuk membeli dan membaca cerita-cerita khayalan.
Perlu dicatat bahwa saya bukan seorang anti fiksi. Saya sendiri penggemar berat hasil-hasil karya Dan Brown, Enid Blyton, dan Jules Verne. Namun, saya setidaknya sadar diri untuk mengimbangi diri saya antara fiksi dan fakta, antara khayalan dan realita, antara utopia dan pragmatist. Terlalu banyak menyerap fakta akan membuat kreatifitas dan idealisme saya terkikis. Namun sebaliknya, menyerap terlalu banyak fiksi bisa membuat saya buta akan realita dan melayang dalam mimpi sendiri.
Well, All right, kembali lagi ke topik utama: Banyaknya buku fiksi di rak-rak toko buku Indonesia adalah ekses dari permintaan pasar kita yang lebih suka menghibur diri ketimbang memperkaya diri dengan ilmu. Saudara saya yang belajar di AS pernah berkata bahwa, di AS, bazar buku hampir tiap bulan diadakan dan sebagian besar adalah buku-buku non-fiksi. Toko-toko buku pun banyak yang menjual buku-buku referensi di raknya alih-alih buku novel (itulah mengapa banyak publisher non-fiksi di AS, jauh lebih banyak daripada di Indonesia). Tidak usah jauh-jauh keluar negeri, tahun 1992 - 1995 adalah masa-masanya saya rajin ke toko buku Gramedia & Gunung Agung di Jakarta. Waktu itu saya hobi ke toko buku itu karena ingin membeli buku-buku tentang Dinosaurus. Seingat saya (dan ingatan saya masih sangat amat jelas), rak buku fiksi di Toko Gramedia Matraman ketika masih jauh sangat sedikit ketimbang buku-buku non-fiksi (yang mana waktu itu saya tidak paham apa maksud dari buku-buku njelimet itu). Coba bandingkan sekarang, zona rak komik/buku fiksi bahkan lebih luas hingga 2 kali lipat ketimbang rak buku-buku referensi.
Bagaimanapun ini hanyalah hipotesis saya berdasarkan referensi tokoh ternama, pengalaman pribadi, observasi rekan-rekan dan kesaksian teman. Saya bisa salah, tapi bisa juga benar atau bahkan bisa kedua-keduanya. Intinya adalah saya berharap bahwa mudah-mudahan pemuda negeri ini tidak selamanya terjembab dalam dunia fantasi.
Ajie >.<
ReplyDeleteBanyak kok fiksi yang bagus.
Dari SMP, gw adalah salah satu pecinta fiksi garis keras, makanya tahu beberapa penulis yg menulis cerita "kacangan" dan penulis "bermisi". Yang kacangan emang jumlahnya lebih buanyak daripada yang "bermisi". Tapi makin lama gw perhatikan, penulis "bermisi" ini jumlahnya bertambah.
Banyak kok penulis novel dengan rentang usia jenis teenlit, chicklit, ataupun roman yang mengajarkan moral dan logika berpikir. Kayak Sitta Karina atau Dewi Lestari.
Yang ceritanya nggak melulu soal cinta yang "komersil" tapi juga ada pelajarannya. Nah, fiksi "kacangan" emang musti dikurangin, tapi fiksi "bermisi" ini nggak buruk2 amat kok :D
Yo.. gw tau banyak fiksi bagus, karena adek gw suka baca novel2 gitu & gw juga jadi suka baca-bacain. Yg dipermasalahin bukan "kualitas" fiksi/non-fiksi atau gampang/susahnya bikin buku fiksi/non-fiksi, tapi ketertarikan pasar terhadap jenis buku dan skala perbandingan jumlah bacaan fiksi & non-fiksi. Pasar ini gw kerucutkan lagi ke kelompok muda (17-30), yg sebagian didominasi mahasiswa (D3, S1 atau S2).
DeleteKenapa gw bisa berhipotesis 17-30? Karena dari jenis ceritanya, kelihatan itu untuk kelompok muda (cerita cinta, cerita pencarian jati diri, cerita passion dll), sangat beda dengan cerita utk umur > 30 (konflik keluarga dan semacamnya) walaupun as usual, selalu ada anomali.
Dari situlah gw agak menyayangkan. Disaat kelompok muda seharusnya diisi oleh berbagai wawasan & ilmu pengetahuan, tp mereka lebih tertarik beli - baca buku fiksi.. Skala perbandingannya ga seimbang bgt, 2-3 novel bisa habis dlm seminggu tp 1 jurnal aja lum tentu kelar sebulan. Dr segi empirisnya juga, penjualan buku fiksi (novel teenlit, serial cantik, novel motivasional & komik remaja) di Gunung Agung dlm sebulan tahun 2012 ini rata2 mencapai 2,5x lipat buku non-fiksi (ga dihitung buku pelajaran / bank soal sekolah). Ini berarti kelompok muda kita belum bisa menyeimbangkan antara hiburan dgn ilmu pengetahuan.
Bukti mudahnya, dalam perbulan, ada sekitar 50-70 naskah fiksi layak baca di KPG (Penerbit gramedia)saja. Sedangkan Jurnal berbahasa Indonesia kita, mana? Dalam setahun dari 1 disiplin ilmu pengetahuan belum tentu bisa menerbitkan 5 jurnal, bahkan ada yg ga menerbitkan jurnal samasekali (ini uda dihitung kampus swasta & negeri lho).
Bukan berarti gw menyalahkan penulis2 fiksi karena memang mereka menyesuaikan dengan pasar dan minat publik, apalagi Penerbit yang jelas2 orientasinya kapital. Gw hanya menyayangkan sistem edukasi kita yg kurang menjunjung tinggi posisi kemampuan berlogika dalam solvabilitas masalah, dan cenderung mengutamakan solvabilitas hasil hapalan. Dari orientasi pendidikan yg ngawur itu knp orang2 kurang tertarik membaca buku2 pengetahuan karena diartikan sebagai hafalan semata, bukan sebagai landasan berpikir yg selanjutnya bisa dikembangkan dan diperluas sendiri. Sedangkan fiksi, lebih membebaskan pembacanya untuk membayangkan apa yang mereka suka (bukan hafalan)..itulah mengapa kelompok muda lebih suka fiksi ketimbang non-fiksi.