Pertama perlu diketahui bahwa saya membahas ini MURNI dari spektrum keilmuan, ilmu politik tepatnya. Saya hanya menganalisa dan meninjau dari sudut pandang ilmu pengatahuan sosial dan politik, tidak ada sangkutpautnya dengan agama dalam konteks eskatologis apalagi menggunakan referensi biblikal (kitab suci).
1. #AntiDemokrasi
Fakta bahwa saudara Felix Siauw (selanjutnya saya singkat dengan inisial FS) pernah menampilkan kultwit yang bertopik #antidemokrasi , maka saya disini mengkritisi mengenai konsep demokrasi apa yang dia maksud. Jujur saya sudah berusaha mendalami maksud beliau dengan "Anti Demokrasi", tapi yang saya dapatkan hanya konsep demokrasi yang menurut saya sebagai non-awam, terlalu di-simplifikasi-kan, cenderung meremehkan mekanisme rumit dalam kehidupan manusia yang serba kompleks dan interdependen.
Demokrasi adalah sebuah "term" atau pengertian yang sangat amat luas. Demokrasi tidak melulu pemilu langsung: datang ke TPS, ambil kertas, coblos foto Capres/Caleg dan siapa Capres/Caleg yang dapat suara terbanyak adalah sang juara. Tidak! Demokrasi lebih luas dari itu. Apakah anda tahu bahwa Fasisme Nazi Jerman, Komunisme Uni Soviet dan Monarki Absolut Arab Saudi masuk ke dalam sistem pemerintahan Demokrasi?
Fasisme NAZI Jerman masuk ke dalam demokrasi karena Jerman kala itu punya perangkat negara/institusi yang "mewakili" suara rakyat Jerman, yaitu partai politik NAZI. Partai NAZI mempunyai perwakilan di tiap distrik (sama seperti Provinsi) hingga tingkatan Kotamadya atau bahkan dibawahnya. Dari hal tersebut itu saja maka NAZI sudah bisa dimasukkan kedalam demokrasi karena mereka memiliki perangkat/alat yang dapat dipergunakan rakyat untuk turut andil dalam jalannya pemerintahan Jerman kala itu. Terlepas dari bagaimana realita dilapangan, dimana alih-alih Partai dapat mengatur negara dan justru Hitler yang mengatur semua sektor bernegara, secara de jure tetap saja Fasisme NAZI masuk dalam demokrasi.
Uni Soviet kurang lebih sama seperti Fasisme NAZI. Dengan partai komunis yang berlaku sebagai partai tunggal dan mempunyai representasi rakyat hingga tingkatan pemerintahan terkecil, telah memenuhi syarat untuk masuk dalam kategori. Terlepas bagaimana implementasinya (de facto), yang pasti komunisme juga masuk ke dalam demokrasi: Ada parlemen tinggi (MPR), ada presiden dan ada perwakilan daerah (DPRD).
Untuk monarki Absolut seperti Arab Saudi, demokrasi nyaris tidak terlihat. Tapi saat dilihat lebih mendalam ternyata unsur demokrasi juga terdapat di Arab Saudi. Ulama-ulama Arab secara unik telah menggantikan posisi Parpol dalam demokrasi kontemporer sebagai perwakilan suara rakyat. Walaupun tidak diatur dalam undang-undang Arab Saudi, namun realitanya Ulama Arab Saudi telah berperan cukup banyak dalam perubahan-perubahan modern di negeri Arab seperti memperbolehkan wanita menyetir mobil, penggunaan fasilitas Socmed dll.
Dari ketiga contoh diatas kita bersama lihat bahwa inti Demokrasi bukan terletak pada mekanismenya (pemilu, parlemen, jumlah parpol, wewenang legislatif, ekesekutif & Yudikatif dll) tapi terletak pada filosofi substruktur bagaimana demokrasi itu muncul: kontrol rakyat terhadap keberlangsungan proses bernegara. Masalah mekanisme itu baru muncul kemudian, apakah itu fasis, komunis, despotis, republik, liberal, demokrasi parlementer, demokrasi presidensial, republik islam, republik rakyat, republik federal, monariki konstitusional, persemakmuran dan lain sebagainya, adalah perkembangan dari demokrasi itu sendiri. (Secara sederhana saya jelaskan seperti itu untuk menghemat waktu dan tulisan. Untuk penjelasan lebih detail mengenai filosofi demokrasi silahkan baca buku Filsafat Ilmu Politik)
FS, dari tulisan-tulisan beliau yang saya simak, seakan-akan menyamaratakan bahwa demokrasi selalu dan pasti pemilu, bebas bicara dan berbuat, rakyat yang seenaknya, ada DPR/MPR dll. Saya tidak tahu darimana FS dapat pengetahuan bahwa Demokrasi selalu identik dengan hal tersebut, namun yang pasti saya bisa katakan bahwa hal itu salah besar. FS sepertinya kurang paham mengenai demokrasi, atau bahkan ilmu politik itu sendiri. Katakanlah FS memang anti-demokrasi, lantas sistem pemerintahan apa yang dia maksud? Saya belajar selama 6 tahun mengenai politik dan saya tak bisa (mungkin karena memang saya dulu mahasiswa bodoh) membayangkan sebuah negara modern, dengan jumlah penduduk 230 juta jiwa, membuat suatu sistem politik yang benar-benar terlepas dari demokrasi.
2. Khilafah
Hal yang lebih membuat saya terbengong-bengong adalah setelah membaca cerita saudara Felix Siauw tentang anti-demokrasi, saya membaca mengenai ide khilafah. Ide khilafah saudara FS adalah menciptakan United Governance atas nama Islam seperti era kekhalifahan. Baik, memang terdengar luar biasa dan bertujuan mulia. Namun yang jadi masalah luar biasa bagi saya adalah inkonsistensi saudara FS dalam penjelasan Khilafah dan demokrasi.
Khilafah, sesuai dengan namanya, adalah sistem politik yang dipraktekan pada era sahabat-sahabat Rasul pasca meninggalnya Rasul. Sistem khilafah ini memang prestasi luar biasa dalam sejarah Islam, membentang dari Persia hingga Eropa, sistem Khilafah mampu mempersatukan semuanya dengan stabilitas politik - ekonomi yang kokoh dan merupakan masa keemasan perkembangan iptek umat manusia. Sistem Khilafah, jika memang Khilafah planet Bumi yang saudara FS maksud, adalah jelas sekali merupakan bagian dari demokrasi.
Khilafah mengandung unsur demokrasi adalah fakta historis. Bila kita runut embrio dari khilafah, yakni pada saat Rasullullah memimpin Medinah & Mekah, dimana Rasullullah menerapkan sistem dimana semua warga, tidak perduli agama/kepercayaannya, mempunyai hak yang sama dalam menyuarakan pendapat kepada Nabi selaku kepala pemerintahan. Rasullullah bersedia mendengar pendapat rakyatnya atau sahabatnya itu sudah termasuk dalam unsur demokrasi, sederhana saja.
Begitupun dengan masa kekhalifahan Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan & Ali bin Abi Thalib) yang kurang lebih menerapkan mekanisme dan prinsip yang sama dengan Rasullullah, yakni demokrasi langsung: mendengarkan keluh kesah rakyatnya secara langsung (tanpa perwakilan/representatif) dimana saat itu demokrasi langsung masih sangat mungkin dilakukan karena jumlah penduduk yang relatif masih sedikit.
Bila kita maju lagi, yakni pada masa Bani Ummayah hingga kekaisaran Usmaniyah, kekhalifahan telah mengalami pergeseran makna. Perang antar-bangsa hingga perang saudara, instabilitas politik, pemberontakan hingga kudeta mewarnai masa-masa ini hingga pada akhirnya runtuh total karena perlawanan dari rakyat sendiri pada awal abad ke 20. (Dari sini terlihat bahwa kekhalifahan hanya sekedar sistem, bukan juru selamat. Dan saat sistem dijalankan oleh manusia yang tidak mampu maka sistem itupun akan beroperasi secara tidak normal).
Jadi bila saudara FS menyuarakan anti demokrasi tapi sekaligus menyuarakan menghidupkan kembali Khilafah maka bagi saya agak menggelikan sekaligus miris. Menggelikan karena paradoks antara ide FS tentang demokrasi - Khalifah dan miris karena secara tidak langsung telah membodohi ummat awam yang mendengarnya.
Kedua, saudara FS juga tidak (mudah-mudahan belum atau memang saya yang tidak bisa menemukan tulisannya) menjelaskan bagaimana mekanisme Khilafah, apakah itu republik federal atau kesatuan, apakah itu Monarki konsitusional atau absolut, apakah itu persemakmuran ataukah negara berdaulat dll. Bagaimana mekanisme penegakkan hukumnya, bagaimana mekanisme memilih pemimpin, bagaimana mekanisme penyuaraan rakyat dan institusi yang menampung suara rakyat dan lain-lain. Jika memang saudara FS tidak menjelaskan ini maka sederhana saja ide Khilafah ini hanya akan jadi wacana dan sebatas mentok di website atau koran saja.
Disinilah kebutuan saya dalam mencari tahu ide Khilafah menurut saudara FS karena tulisan beliau yang berada di websitenya hanya menunjukkan Khilafah dari segi biblikal (Quran) tanpa menjelaskan detilnya. Istilahnya, tulisan dan ide FS sejauh yang saya tahu dan telah baca, hanya terbatas pada dalil-dalil Quranic yang memerintahkan pendirian sistem Khilafah alih-alih menjelaskan bagaimana Khilafah itu sendiri.
3. Statement Tendensius
Walaupun keluar dari topik tulisan ini namun hal inilah yang menjadi kritik terbesar saya terhadap saudara FS karena jujur saja, tendensi FS ini sangat jauh dari prinsip keilmuan yang saya pelajari di kampus. Berikut adalah screenshoot akun twitter Felix Saiuw yang saya tangkap malam ini
Dalam akun twitter terlihat bahwa saudara FS menulis: "Makar dibuat massa anti-pemerintah (baca: anti-islam) di Mesir | namun Allah pasti membuat makar yang lebih baik".
Bagi saya kali ini saudara FS sudah sangat keterlaluan, terlalu berlebihan. Ada puluhan ribu orang yang berdemo anti-pemerintah dan dengan entengnya saudara FS menyebut mereka semua sama dengan Anti-Islam! Saudara FS telah melakukan suatu kesalahan fatal dalam berargumen, yakni generalisasi. Logika yang dipakai FS adalah sama dengan "Mereka tidak suka daging kucing, pasti mereka tidak suka kucing", atau "Kamu benci Tim Sepakbola Arab Saudi, kamu pasti benci Islam", atau "Kamu benci Hitler pasti kamu benci semua orang Jerman", konyol kan?
Saya tidak tahu apakah saudara FS alpha, lupa atau memang sengaja menulis seperti itu. Jika memang alpha atau lupa maka masih bisa saya maklumi, namun jika disengaja maka saudara FS telah berpotensi menggiring umat (followernya) kedalam lubang kebodohan dan prasangka buruk serta fitnah (sebagai orang yang anti Islam) terhadap mereka yang tidak suka dengan Morsi. Dan dalam kapasitasnya sebagai seorang da'i, penggiringan opini semacamnya ini tentu bukan suatu hal yang bisa saya maklumi saat agama yang saya anut dipergunakan untuk menciptakan fitnah berskala massif.
Semoga saja tulisan sederhana ini saja dapat dibaca oleh saudara FS dan dapat menjadi bahan pertimbangan & koreksi untuk berdakwah dikemudian hari. Itupun jika saudara FS bersedia menerima masukan dan kritik dari saya dan mau membaca tulisan ini.
Note: Dalam 24 Jam terakhir sejak tulisan ini diterbitkan, saya sudah beberapa kali meminta saudara Felix Siauw untuk mengoreksi tulisannya mengenai demokrasi dan terutama sekali twitnya mengenai Anti-Islam itu, namun belum ada respon dari yang bersangkutan. Dengan menerbitkan tulisan ini saya bertujuan menarik perhatian saudara FS agar merespon permintaan saya tersebut.


Assalamu'alaikum, maaf sebagai muslim alangkah baiknya anda menghubungi langsung fs. Sesama muslim ada kewajiban untuk selalu mengingatkan.Ke orangnya langsung. Jika lewat socmed begini... seperti menyindir.. bahkan akan muncul fitnah juga. Semoga anda dan fs mengerti. Wassalam.
ReplyDeleteWaalaikumsalam. Saya dalam 24 Jam terakhir sudah menghubungi saudara FS beberapa kali untuk mengoreksi tulisannya, terutama twitnya ttg anti-islam yg fatal. Tapi belum ada tanggapan ke saya padahal beliau sudah sempat OL twittet. Namun terimakasih atas sarannya :) Wassalam.
DeleteGila ji, gue juga pernah nih nanya sama dia pas dia bahas ttg Bank Syariah. Di twit ga dibales. Gue buzz via email setiap hari seminggu kemudian baru dibalas dengan alasan ga etis jawab di twitter.
DeleteIya ini udah 2 hari dan masih belum direspon. Sibuk mungkin...
Delete""saya melihat Felix Siauw, dengan segala hormat, telah menjerumuskan umat awam kedalam lubang kefakiran ilmu politik""
DeleteKalau menurut Kang Ajie hal ini di anggap fatal, kenapa tidak langsung ke kediaman FS aja, terus diskusi dengan gamblang tentang bagaimana pola pirkir FS ini. kalaupun lewat blog ini, ya orang yang tidak memiliki background ilmu politik asal kopas, tanya dosen hukumnya, revisi bisa melakukan hal itu.
Namun, kalau lewat diskusi langsung akan lebih terlihat kompetensi keilmuan perpolitikan yang Kang Aji punyai.
Oh iya, bener kata mbak Amelie Rahm. Perlu dituliskan Sumber Valid, kalau mau menulis. apalagi ini Analisis kritis.
Anda bilang Ilmu politik memiliki metodologi, Tampakkan hal itu kalau memang Kang Aji memiliki background Ilmu politik yang bermetodologi itu.
Ada macam2 cara yang dicontohkan Rassul dalam menghadapi kesalahan orang lain. Dari menyindir secara umum ketika dakwah, menyindir secara khusus, bertatap muka langsung, menegur langsung, bahkan langsung menghukum secara sosial. Tepatnya ada 38 cara yang dibukukan oleh M.Shalih Al-Munajjid soal cara Nabi menghadapi kesalahan orang lain. Dalam konteks ini, Mas Ajie sudah berlaku benar. Karena untuk menyadarkan FS sekaligus umat, baiknya dibuat tulisan terbuka seperti ini, bukan cuma privat. Untuk saran datang ke kediamannya, saya rasa itu tdk dibutuhkan. Lagipula itu agaknya ga rasional kecuali kalau beliau saling bertetangga.
Deletedemokrasi berasal dari bahasa yunani demos kratos, kedaulatan ditangan rakyat. pengertian ini merupakan pengertian yang khas berasal dari sebuah ideologi. jadi bukan ide yang bebas nilai
ReplyDeletewajar jika anda bingung dengan sistem politik apa yang di terapkan selain demokrasi. wajar karena kita lahir ketika khilafah (Sistem politik Islam) telah runtuh 1924 silam. wajar juga sistem khilafah ini tidak di ajarkan di kuliah perpolitikan. karena barat sebagai adidaya akan menjadikan sumber politik berasal dari negaranya dan menjaganya dari sistem ideologi lain.
ReplyDeletedemokrasi berasal dari bahasa yunani demos kratos, kedaulatan ditangan rakyat. pengertian ini merupakan pengertian yang khas berasal dari sebuah ideologi. jadi bukan ide yang bebas nilai
ReplyDeleteKhilafah adalah omong kosong Hizbut Tahrir (Indonesia) yg tidak lain sebenarnya cuma menginginkan kekuasaan (pada akhrinya) sambil mendompleng nama Islam dan slogan2 syariat Islam. Dalam sejarah peradaban Islam, ada begitu banyak sistem pemerintahan dan tradisi lokal yang diapresiasi untuk memakmurkan Islam. Ust. Felix gak pernah jawab reply twit saya juga. Padahal dia gembar-gembor begitu juga karena hak demokrasi yg dia miliki kan?
ReplyDeletepola pikir, tindakan, dan prilaku manusia dibentuk dan ditentukan oleh cakupan informasi yg dia terima sepanjang sejarah hidupnya. orang yang hanya menyadarkan hidupnya dari informasi dari barat, berita barat, pendidikan barat, buku-buku barat, pengetahuan barat, pergaulan barat, tanpa mau mencari informasi lain selain barat, tentu saja hidupnya hanya berisi pandangan2 barat.
ReplyDeleteseolah-olah, jika tidak barat, dunia akan kiamat.
sptnya saya seide dgn saudara Fauzi, bagaimanapun terminologi deomokrasi tak lepas dari budaya dan worldview yang melahirkan istilah tersebut,jadi belum tentu pas dan tepat jika diterapakan dalam konteks bduaya lain,,saya kira itu hanya alternatif daiantara sekian banyak alternatif..keebtulan wordlview sekarang dipegang oleh peradaban barat denga sisetm demokrasinya,d an dimana2 kita beralajr dan menelaahnya , daiajrkan, maka alternatif lain seakan tak tepat...tapi di sisi lain bisa jadi ada sisi universalitas dari demokrasi itu sendiri yang bisa diterapkan dengan sebuah rekontekstualitas, atau interpretasi baru, sebagaimana sistem kekalifaahn tentu ada sisi universaltiasnya...
ReplyDeleteptnya saya seide dgn saudara Fauzi, bagaimanapun terminologi deomokrasi tak lepas dari budaya dan worldview yang melahirkan istilah tersebut,jadi belum tentu pas dan tepat jika diterapakan dalam konteks bduaya lain,,saya kira itu hanya alternatif daiantara sekian banyak alternatif..keebtulan wordlview sekarang dipegang oleh peradaban barat denga sisetm demokrasinya,d an dimana2 kita beralajr dan menelaahnya , daiajrkan, maka alternatif lain seakan tak tepat...tapi di sisi lain bisa jadi ada sisi universalitas dari demokrasi itu sendiri yang bisa diterapkan dengan sebuah rekontekstualitas, atau interpretasi baru, sebagaimana sistem kekalifaahn tentu ada sisi universaltiasnya...
ReplyDeletemenurut saya yang benar2 membedakan sistem demokrasi dengan khilafah adalah dasar kebenarannya. demokrasi : kedaulatan ada di tangan rakyat. aturan dibuat bukan pemikiran manusia.
ReplyDeleteSedang khilafah, aturan dibuat hanya berdasar syariat islam, berdasar Qur'an dan Sunnah. Ukuran kebenarannya ya berdasar 2 sumber itu. jadi ya jelas beda sangat, pondasinya saja jauh sekali. Wallahu'alam...
Jika memang ini yg dimaksud oleh FS, maka seharusnya dia menyebutnya Hukum, bukan sistem politik. Negara apapun, tidak perduli Monarki, Komunis, Demokrasi, Republik Parlementer, Republik Federal bisa saja menggunakan Hukum Islam
DeleteDalam pandangan saya akan sulit diterapkan pada yang anda sebutkan karena terlihat membatasi, sementara Qur'an dan Sunnah bersifat menyeluruh dan memang bukan sistem politik. Dalam memimpin shalat berjamaah saja ada aturan jelas kriterianya, lantas bagaimana dengan pemimpin negara? Bukan sesederhana jargon 'atas pilihan terbanyak/terkuat' - yang mana demikianlah yang saya lihat tentang demokrasi (yang digemborkan oleh barat). Wallahu'alam
DeleteDalam pandangan saya akan sulit diterapkan pada yang anda sebutkan karena terlihat membatasi, sementara Qur'an dan Sunnah bersifat menyeluruh dan memang bukan sistem politik. Dalam memimpin shalat berjamaah saja ada aturan jelas kriterianya, lantas bagaimana dengan pemimpin negara? Bukan sesederhana jargon 'atas pilihan terbanyak/terkuat' - yang mana demikianlah yang saya lihat tentang demokrasi (yang digemborkan oleh barat). Wallahu'alam
DeleteMau disebut apapun sistem pemerintahan nanti, Khilafah kek, monarki kek, tekek kek selama bisa dijelaskan sistemnya secara logis dan menguntungkan bagi semua warga negara tanpa kecuali pasti akan didukung habis2an.
ReplyDeleteSaya setuju sekali dengan Mas Adjie, Khilafah hanyalah sebuah sistem bukan juru selamat. Saya malah merinding membayangkan kalau sistem Khilafah dipegang oleh kaum2 munafikun seperti 'oknum2' PKS atau bahkan Rhoma Irama. Hiiiiii..
intinya hanya politisasi agama kan ya dan prakteknya sudah banyak
ReplyDeleteAfwan..Ini yang nulis belum baca buku Sirah Nabawiyah, yg anda refernsikan dari barat... saya melihat tulisan anda seakan anda menampakan kebodohan dan kekurang tahuan anda dalam ilmu politil islam... berlisanlah yg baik saudaraku itu tampilan dirimu, minimal anda nonton film Omar y full episode...wasslm
ReplyDeleteHamba Allah
pendek kali pikiran kau kalau mempelajari politik islam dari sebuah film, anda memulai kalimat dengan bahasa arab, tapi kemudian mengolok penulis dengan bodoh dan kurang tau, emang anda sudah pintar?
Deletetahu kenapa iblis dilaknat sama Allah kawan?
anda sudah paham betul tentang islam?
maaf aja pake afwan, sirah nabawiyah karangan siapa mas? pernah baca kitab2 fiqh juga? apa referensinya cuma film Omar? :)
DeleteKalau memang anda merasa lebih pintar dan lebih tau, tulislah mengenai politik Islam. Boleh saja menggunakan Sirah Nabawiyah ataupun film Omar sebagai narasumber (asalkan dicantumkan). Kemudian berikan link nya kepada penulis blog ini sebagai pembanding, alih2 menyatakan orang lain bodoh dan kurang pengetahuan.
DeleteGaya tulisan seolah2 cuma sarjana politik yg berhak bicara substansi demokrasi.
ReplyDeleteYet another bully comment.
DeleteYet another bully comment
Deletesangat luasnya makna demokrasi shg demokrasi bisa diartikan berbeda pada setiap orang. sikap anti demokrasi FS itu terletak pada hal kompromi hukum. sebagaimana legeslatif spt DPR msh berdebat msh pornography, miras dll. padahal dlm islam ini sdh dijelaskan sbgmn pornography hny melihat batas aurat dan miras jelas tak perlu pengaturan pajak atau lokalisasi krn miras hkmnya haram. nilai2 kompromi spt ini yg ditolak FS knp menjadi sikap anti demokrasi .
ReplyDeletedalam hal pemilihan itu hanya mekanisme sj dlm sistem khilafah voting jg ada tp pny aturan baku. spt pemimpin negara itu harus beragama islam dan laki2. jd calon yg tdk memenuhi slh satu syarat itu akan ditolak dan tdk pny hak utk dipilih, maka tdk prl ada voting.
Hal ini sungguh berbeda dgn mekanisme pemilihan sistem "demokrasi" tdk memandang kedua syarat tsb. asal layak dinilai oleh publik atau lembaga yg berwenang maka bisa ikut nyalon dan punya hak utk dipilih.
sangat luasnya makna demokrasi shg demokrasi bisa diartikan berbeda pada setiap orang. sikap anti demokrasi FS itu terletak pada hal kompromi hukum. sebagaimana legeslatif spt DPR msh berdebat msh pornography, miras dll. padahal dlm islam ini sdh dijelaskan sbgmn pornography hny melihat batas aurat dan miras jelas tak perlu pengaturan pajak atau lokalisasi krn miras hkmnya haram. nilai2 kompromi spt ini yg ditolak FS knp menjadi sikap anti demokrasi .
ReplyDeletedalam hal pemilihan itu hanya mekanisme sj dlm sistem khilafah voting jg ada tp pny aturan baku. spt pemimpin negara itu harus beragama islam dan laki2. jd calon yg tdk memenuhi slh satu syarat itu akan ditolak dan tdk pny hak utk dipilih, maka tdk prl ada voting.
Hal ini sungguh berbeda dgn mekanisme pemilihan sistem "demokrasi" tdk memandang kedua syarat tsb. asal layak dinilai oleh publik atau lembaga yg berwenang maka bisa ikut nyalon dan punya hak utk dipilih.
Hi mas Adjie! Sebagai sesama sarjana ilmu politik, aku cuma ingin mengingatkan, jika ingim menulis artikel analisis kritis, tulislah dengan penuh validitas. Nggak boleh loh mas bikin pernyataan seenaknya dengan mengatakan bahwa fasisme, komunisme, monarki, dan demokrasi itu sama TANPA memberikan referensi yang kredibel. Wah kamu bisa dimarahin para filsuf dan dosen kampusku. Formal atau informal, setiap menyajikan artikel kritis apalagi menyeret sejarah, tokoh, fakta, (apalagi) suatu judgmental, you have to put your reference. Dari buku Baylis kah, Karl Marx kah, Aristoteles kah, dll. Tentu kamu ingat, theory is always for someone and for some purposes (Robert W. Cox). Apa yang sudah susah2 dibuat para theorists ini, janganlah kamu simpulkan dengan asumsi tanpa dasar pengetahuan yang dapat dipercaya. By generalizing (or can I say claiming?) their theories, what do you think the key-thinkers might say about it?
ReplyDeleteBegini nih, pendidikan di kita, di mana-mana harus kutip referensi. Jadinya bangsa penjiplak. Berani taruh argumentasi dan ide orisinil dianggap haram.
Deletemungkin bukan maksudnya untuk menjadi seorang penjiplak mas, tapi agar semua jelas dari mana penulis mendapatkan pemikirannya,,
Deletesaya kira penulis mendapatkan pemikirannya dari hasil pemikiran-pemikiran lain ataupun kejadian yang ia alami sehingga dapat merumuskannya dalam pemikiran baru, sehingga dari sana kita bisa belajar bersama darimana kesalahan ataupun kebenaran teorinya :)
saya pikir bukan maksudnya untuk menjiplak mas, tapi untuk memberikan kejelasan dari mana penulis mendapatkan pemikirannya..
Deletesaya yakin kalau penulis mendapatkan pemikirannya dari pemikiran-pemikiran lain atau kejadian yang ada di sekitarnya dalam merumuskan idenya sendiri, sehingga dari sumber itulah kita dapat membahas kelebihan ataupun kelemahan dari idenya dengan penalaran bersama :)
Hi mas Adjie! Sebagai sesama sarjana ilmu politik, aku cuma ingin mengingatkan, bahwa jika ingin menulis artikel analisis kritis, tulislah dengan sumber yang valid. Nggak boleh loh mas bikin pernyataan seenaknya dengan mengatakan bahwa fasisme, komunisme, monarki, dan demokrasi itu sama TANPA memberikan referensi yang kredibel. Wah kamu bisa dimarahin para filsuf dan dosen kampusku. Formal atau informal, setiap menyajikan artikel kritis apalagi menyeret sejarah, tokoh, fakta, dan suatu judgmental, you have to put your reference. Dari buku Baylis kah, Karl Marx kah, Aristoteles kah, dll. Tentu kamu ingat, theory is always for someone and for some purposes (Robert W. Cox). Apa yang sudah susah2 dibuat para theorists ini, janganlah kamu simpulkan dengan asumsi tanpa dasar pengetahuan yang reliable. By generalizing their theorists, what do you think the key-thinkers might say about it?
ReplyDeleteSungguh ironis, anda yang katanya belajar politik malah tidak mencantumkan dasar dari opini-opini anda itu. Anda bahkan tidak dapat membedakan mana ajaran islam, mana demokrasi. Dari tulisan anda, tampaknya niat anda ingin menyamakan atau mencampurkan sehingga terlihat kabur antara demokrasi dan Islam.
ReplyDeleteterlepas dari kekurangan penulis artikel ini. udah jelas lah kalo FS ini orang HTI.. yang artinya FS pro khilafah. pro negara ber-asas kan syariah untuk NKRI. yang sudah jelas MAKAR!.. anda bayangkan Indonesia yang kemajemukan suku budaya dan agama ini di jadikan Negara berdasar 1 agama/golongan. saya pun seorang muslim, tapi saya berusaha menempatkan diri saya seakan-akan saya adalah saudara2 kita yg non-muslim.. sungguh ironis FS seorang yang bisa bebas berdakwah soal negara khilafah dan anti demokrasi... padahal dia bisa berucap, bercuap2 bebas di negara yang dia anti-kan!!. saya analogikan bagai parasit yang hidup dari inang(Demokrasi).. namun pelan2 menggerogoti dan ingin menghancurkannya.. akhir kata apapun sistemnya. jika orang2 didalamnya tidak ahli, egois dan korup. maka akan sama saja bahkan lebih parah (perang saudara) jika diganti sistemnya. . apapun mobilnya, jika supirnya bodoh akan menabrak juga. bukan mobilnya diganti. tapi edukasi, dan kepribadian rakyatnya dibenahi. dari keluarga sendiri! wassalam
ReplyDeleteIroni nya adalah, pemerintah orde baru mati2an mempertahankan Pancasila dari berbagai ideologi yang menyerangnya , seperti komunis; namun pemerintahan di zaman reformasi menutup mata pada usaha2 penggantian ideologi negara seperti ini (yang bebas untuk tumbuh di era reformasi dan kebebasan seperti ini).
Deleteterlepas dari kekurangan penulis artikel ini. udah jelas lah kalo FS ini orang HTI.. yang artinya FS pro khilafah. pro negara ber-asas kan syariah untuk NKRI. yang sudah jelas MAKAR!.. anda bayangkan Indonesia yang kemajemukan suku budaya dan agama ini di jadikan Negara berdasar 1 agama/golongan. saya pun seorang muslim, tapi saya berusaha menempatkan diri saya seakan-akan saya adalah saudara2 kita yg non-muslim.. sungguh ironis FS seorang yang bisa bebas berdakwah soal negara khilafah dan anti demokrasi... padahal dia bisa berucap, bercuap2 bebas di negara yang dia anti-kan!!. saya analogikan bagai parasit yang hidup dari inang(Demokrasi).. namun pelan2 menggerogoti dan ingin menghancurkannya.. akhir kata apapun sistemnya. jika orang2 didalamnya tidak ahli, egois dan korup. maka akan sama saja bahkan lebih parah (perang saudara) jika diganti sistemnya. . apapun mobilnya, jika supirnya bodoh akan menabrak juga. bukan mobilnya diganti. tapi edukasi, dan kepribadian rakyatnya dibenahi. dari keluarga sendiri! wassalam
ReplyDeleteanti-demokrasi tapi bisa hidup dan berpendapat bebas disini. lempar dia ke arab saudi. liat apa yang akan dilakukan oleh clan saud pada si FS ini.. buih2 perpecahan, peperangan sunni-syiah sudah mulai timbul di negeri ini.. sudah cukup darah para pahlawan tertumpah untuk sebuah bangsa bernama Indonesia. dengan pancasila sebagai dasar negara kita.. cukuplah kita sebagai bangsa Indonesia, berkepribadian dan berbudaya sebagai mana adanya. tak perlu impor budaya! baik budaya arab maupun budaya barat!!. NKRI HARGA MATI!
ReplyDeleteanda bilang khilafah adl bagian dr demokrasi !! itu salah besar pak !!
ReplyDeletecoba anda fikir duluan mana antara khilafah sama demokrasi si biang korupsi itu ??
dan anda kayaknya hrs bnyak belajar tntang sejarah islam dulu deh klo anda ngaku agamanya islam.
apakah anda tw kalo wktu masa khilafah itu. tdk ditemukan 1 org miskinpun, yaitu saat masa kholifah umar aziz. namun skrng bgmna dgn demokrasi si biang demokrasi itu ?? cob aanda htung brpa org miskin ??. 1 kah, 2 kah atau 100juta kah ??
Kata siapa dimasa khilafah nggak ada orang miskin..Di Jaman Rasul dan Sahabat2nya ada orang yang miskin, Umar bin Khattab tiap hari selalu membawa gandum untuk dibagikan kepada orang yang miskin.
Deletepenulisnya hanya ingin mengatakan, "khilafah itu sistem, bukan juruselamat"
Deletesampeyan coba pelajari khilafah secara utuh. pelajari sejarahnya secarah utuh.
pada masa khilafah ada kudeta, ada perang saudara, ada pembunuhan, ada perbudakan, ada harem (gundik berjumlah ribuan), ada lain-lain.
bagaimana mungkin bisa dikatakan adil pada semua?
makanya., penulis juga berharap FS menjelaskan khilafah seperti apa yang beliau maksud.
saya juga berharap FS menuliskan dengan penjabaran mengenai sistem khilafah yang beliau maksud. tentu dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua.
salam.
Orang bodoh ga tau sejarah tapi bicara sejarah. DEMOKRASI udah ada dari zaman Yunani, 200an tahun sebelum masehi. SYARIAT, KHILAFAH, itu baru lahir 600 tahun sesudah masehi. Tolol!
Deleteperang dulu,baru khilafah.
ReplyDeleteYg nulis kurang ilmunya.. mangkanya baca al-qur'an. jangan kuliah mulu. pelajaran DUNIA Aja di gedein... harus seimbang mangkanya kaka
ReplyDeleteKELIHATAN ANDA MENUNJUKAN KEBODOHAN ANDA SENDIRI
Hahaha ketawa saja baca beginian..
Semoga Allah SWT cepat memberikan anda hidayah. dan di berikan keterangan hati
amiin
Setujuh dengan Sist ini Amelie Rahm
ReplyDeleteKetawa ngakaak mengkritik orang ternyata anda sendiri salah dalam mengkritik.. hahahaaa goqil euy
Yang beliau bicarakan itu soal agama. Kalau Anda dan kalian mengkritisi dari sisi hasil pemikiran-pemikiran, maka yang terjadi hanyalah "Otak manusia takkan pernah sampai pada kesempurnaan pemahaman Ilahiyyah".
ReplyDeleteDasar mau-maunya dibodohi sama agama buatan bangsa onta
DeleteAssalamu'alaikum, ane saranin ente belajar dulu sejarah islam, politik islam, tanya kepada syabab Hizb Tahrir Indonesia yang terdekat, ikuti kajian/halqoh mereka. Insya Allah ente bakal dijelasin secara sistematis dan mereka juga terbuka untuk pertanyaan kritis ente, tapi siap2 ente juga harus woles jika dikritik
ReplyDeleteIni perlu saya luruskan sedikit kepada syabab-syabab HTI yang suka membantah & menolak setiap pendapat orang lain seperti tanya dulu dengan syabab-syabab HTI & jangan asal ngomong. Coba jadinya dismpaikan kepada mantan syabab-syabab HTI & ulama besar indonesia yang kita kenal misal seperti Buya Hamka pasti terlihat kedangkalan pemikirannya. Saya rasa tidak mesti tanya syabab-syabab HTI untuk mencari validasinya ama mantan syabab-syabab HTI & ulama besar juga bisa jadi acuannya asal punya bukti di validasi. Walaupun sudah jumpa ama syabab-syabab HTI mereka tetap membantah semu padahal sudah banayak artikel2 mengenai ketidakjelasan hizbut tahrir tapi sayngnya masih ngeyel juga seperti dilink ini: http://aslibumiayu.wordpress.com/2013/12/05/ada-apa-dengan-hizbut-tahrir-khilafah-model-siapa-yang-akan-diusungnya/
DeleteYang jelas HTI itu lebih banyak mudharatnya & saya ada pengalaman kelam ama syabab HTI yang notabene kawan dekat ane. Paham?
http://aslibumiayu.wordpress.com/2013/12/06/akibat-tidak-adanya-khilafah-betulkah-sebagai-renungan-bagi-pendamba-khilafah/
Assalamu'alaikum, ane saranin ente belajar dulu sejarah islam, politik islam, tanya kepada syabab Hizb Tahrir Indonesia yang terdekat, ikuti kajian/halqoh mereka. Insya Allah ente bakal dijelasin secara sistematis dan mereka juga terbuka untuk pertanyaan kritis ente, tapi siap2 ente juga harus woles jika dikritik
ReplyDeleteemamng syabat HTI siape paling juga disbut ulama cuma sama konco2nya doang, apa ada syabat2 HTI yg jadi tokoh di masyarakatnya
DeleteAssalamu'alaikum, ane saranin ente belajar sejarah dan politik Islam dari sumber islam bukan dari pemikiran barat. Klo bingung tanya langsung ke syabab HTI terdekat, ikuti kajian/ halqoh mereka. Mereka juga menerima pertanyaan kritis dari ente, tapi ente juga siap2 harus menerima kritik.
ReplyDeletesaya mencoba berpikiran netral di sini. di satu sisi saya tidak memahami bidang keilmuwan politik. dan sebagaimana yg anda tulis sebagai judul, analisis kitis, maka anda telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dengan tidak menyertakan sumber. jika anda telah mengemukakakn sesuatu yang bukan pendapat anda sudah sepantasnya anda menyertakan sumber bukan?ini sama menyanggah bualan dengan bualan lain. oiya, variabelnya juga ada baiknya ditunjukan. kalo anda bilang FS twit tentang ini itu, maka masukan twit tersebut sebagai kutipan di tulisan anda, agar semua tau konteks yang anda perbincangkan
ReplyDeletedan untuk FS, well, saya sudah berkali2 mengingatkan untuk tidak menggeneralisasi sesuatu. analoginya bisa seperti yang anda katakan. dan saya baca ulasan FS memang satu kelemahan utama FS adalah pandangan subjektif tanpa adanya sumber. mutlak untuk seorang yang mengultus dirinya motivator atau da'i, harusnya ia menyertakan sumber dan berpikir objektif.
ini bukan perkara pemikiran barat atau timur. kebenaran tak mengenal asal. tidak semua yang berasal dari arab bisa diterapkan dan tidak semua yang berasal dari barat itu harus dijauhkan.
saya mencoba berpikiran netral di sini. di satu sisi saya tidak memahami bidang keilmuwan politik. dan sebagaimana yg anda tulis sebagai judul, analisis kitis, maka anda telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dengan tidak menyertakan sumber. jika anda telah mengemukakakn sesuatu yang bukan pendapat anda sudah sepantasnya anda menyertakan sumber bukan?ini sama menyanggah bualan dengan bualan lain. oiya, variabelnya juga ada baiknya ditunjukan. kalo anda bilang FS twit tentang ini itu, maka masukan twit tersebut sebagai kutipan di tulisan anda, agar semua tau konteks yang anda perbincangkan
ReplyDeletedan untuk FS, well, saya sudah berkali2 mengingatkan untuk tidak menggeneralisasi sesuatu. analoginya bisa seperti yang anda katakan. dan saya baca ulasan FS memang satu kelemahan utama FS adalah pandangan subjektif tanpa adanya sumber. mutlak untuk seorang yang mengultus dirinya motivator atau da'i, harusnya ia menyertakan sumber dan berpikir objektif.
ini bukan perkara pemikiran barat atau timur. kebenaran tak mengenal asal. tidak semua yang berasal dari arab bisa diterapkan dan tidak semua yang berasal dari barat itu harus dijauhkan.
Setuju dgn mba amelia rahm..
ReplyDeleteMaaf.. Perlu dipertanyakan gelar sarjana anda.. Justru kelihatan bodohnya kalo gini mas..
Maaf ya.
Sebaiknya kita semua terbuka dalam menerima kesalahan. Kritis itu perlu. kalo semisal pernyataan penulis juga salah, kenapa FS tidak meluruskan? bukankah kita semua sama-sama belajar? Semoga orang-orang semakin rasional dalam beragama :) Aaamiin.
ReplyDeleteSebaiknya kita semua terbuka dalam menerima pendapat. Kritis itu perlu. tapi jika penulis juga salah, mengapa FS tidak segera meluruskan? Toh kita semua sama-sama masih belajar :) semoga kita terus rasional dalam beragama. Aamiin.
ReplyDeleteakan segera datang masannya politik islam bangkit kembali.... #KHILAFAH
ReplyDeletesebagai gagasan mungkin sah2 saja siapa tahu setelah 500 tahun yang akan datang HTI baru bisa mewujudkan impian2nya itupun jika orang2 semacam FS panjang umur, wkwkwkwkwkwkwk
ReplyDeletetulisan yang sangat bagus sekali...
ReplyDeleteizin repost :)
Al-qur'an mengajarkan kita untuk saling mengingatkan dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Hindarilah perdebatan sekalipun kita dalam posisi yang benar. Jadikan ini sebagai bahan diskusi dan diskusikanlah dengan baik tanpa merendahkan orang lain juga diri sendiri dengan menggunakan kata-kata yang tidak baik. Jika agama itu untuk kebenaran, berhentilah menyalahkan :)
ReplyDeleteWassalam :)
Assalamu'alaikum, sebenarnya gampang kl mau buat khilafah..yg ngaku2 aktivis HT (dan HTI) kenapa gak berkoar2 di Arab Saudi, Iran, Mesir, Uni Emirat Arab dan negara muslim lainnya di Timur Tengah? kenapa gak minta Raja Arab atau para Emir bentuk Khilafah...mereka kan langsung keturunan Nabi pula dan lebih Arab dari pada orang-orang kita yang ke-arab2an..bukannya lebih dahsyat kalau seluruh negara Timur Tengah bersatu dibawah bendera khilafah skrng??? Gak usah berlindung dibalik alasan klasik 'konspirasi zionis/Yahudi' lah...udah basi...konkrit dong..kl gak berhasil..silahkan aktivis HTI cari pulau kosong dan dirikan khilafah, pengen lihat apakah negara Islam lainnya ataupun Raja Fahd atau para Emir mau ikutan atau gak...
ReplyDeletesemoga siapa saja yang menulis artikel ini, mendapat petunjuk dari Allah SWT.
ReplyDeletememang seharusny bpk ajie adnan (pengirim artikel) akan bijaksana duduk bersama tatapmuka dengan FS (kata dia) dibanding dengan menulis srtikel seperti ini
biar ga dibilang pengecut...
Tahu tulisan ini dari FP di facebook. saya senang penjelasan langsung dari orang berilmu seperti ini. Bukan orang yang teriak-teriak seakan tahu, padahal hanya berdasarkan hasutan-hasutan dari orang lain.
ReplyDeleteLebih menarik lagi komen-komen disini. Ada beberapa kritik membangun thd tulisannya. Tapi banyak juga yang asal tuduh. merendahkan penulis, beralasan kurangnya pemahanan penulis terhadap ilmu politik maupun islam. Sedangkan si penulis komen sendiri tidak mengemukakan pendapatnya ataupun pengetahuannya. seperti tong kosong nyaring bunyinya. Atau lebih tidak bertanggung jawab lagi pakai akun anonim sambil maki-maki.
Semoga orang-orang seperti ini mau belajar, bukan hanya mengkritik merasa paling tahu.
Buat nambah referensi, terutama temen yg anti demokrasi
ReplyDeletehttp://bangdani.wordpress.com/2013/01/23/menyalakan-lilin-bersama-raja-ibn-haiwah/
Buat nambah referensi, terutama bagi temen yang anti demokrasi
ReplyDeletehttp://bangdani.wordpress.com/2013/01/23/menyalakan-lilin-bersama-raja-ibn-haiwah/
Saya apresiasi artikel kritiknya mas, cukup membuka pikiran orang-orang awam yang memang ingin berpikiran terbuka dan mencari kebenaran. Hanya satu saran dari saya coba artikelnya diupdate dengan beberapa referensi agar pembaca di sini bisa membaca lebih lanjut :)
ReplyDeleteUntuk saudara-saudara dari HTI mohon artikel ini dilihat secara netral tanpa tendensi, agar kita mengerti maksud penulis. Lalu untuk kawan-kawan yang menyarankan penulis agar mempelajari sejarah Islam, saya sarankan juga kawan-kawan untuk lebih memahami sejarah Islam (mengingat kemungkinan distorsi informasi terjadi sejak 1400-an tahun wafatnya Rasulullah), mungkin bisa tanya-tanya ke para pemimpin / mantan pemimpin organisasi Anda yang sudah lebih dulu dan lebih dalam mempelajari dan memahami sejarah Islam dan konsep kekhilafahan dalam Islam.
Salam. Maaf, saya sama sekali bukan penggemar Felix Siauw. Bahkan banyak hal-hal yang saya tidak setuju dengan beliau. Saya juga seorang yang anti-HT. Namun sebagai seorang dosen asal Indonesia jurusan politik Islam di salah satu universitas di Timur Tengah, menurut saya, anda perlu belajar lebih dalam lagi mengenai konsep khilafah sebelum berkomentar. Karena dari yang saya mengerti dari penjelasan anda diatas, anda punya pengertian yang sangat salah terhadap konsep khilafah dan relasinya terhadap konsep demokrasi.
ReplyDeleteSaya melihat tulisan di blog ini hanya sebagai kritik. Memang, untuk melengkapinya diperlukan kajian yang lebih komprehensif. Tapi setidaknya, ini memberikan gambaran bahwa konsep khilafah yang digadang-gadangkan FS atau HTI masih belum dipahami sepenuhnya oleh ummat Islam Indonesia. :)
DeletePak Abu Ali, boleh lah dituliskan seperti apa konsep khilafah berdasar latar belakang keilmuan pak Abu Ali. Jika berkenan, mohon di email ke saya : bungjendralgagah@gmail.com
Deletethanks
berbicara tentang HTI, ada sesuatu yang aneh...
ReplyDeletedi dalam buletin2 dakwah HTI (Al Islam) biasanya selalu mengkritik habis2an tentang pemerintahaan yang ada sekarang, entah itu kebijakan, aturan ataupun yang lainnya...
anehnya banyak orang2 HTI yang jadi PNS, terus makan dari gaji pemerintah, bener2 ga konsisten, aneh pokoknya.. :)
Assalamu 'alaikum Sy setuju jika FS anda tegur mengenai artian secara luas,baik secara filosofi maupun sampai mekanisme demokrasi yg anda paparkan di atas.monggo anda tegur....monggo...silahkan....tp dgn cara diplomatis spertinya lbh bijak.. Tapi.... Sbelumnya sy mohon maaf,ini juga masukan utk anda.maaf sy harus tegas...(bismillah sy harus pro kpd kbenaran)... Nah perlu dpertanyakan tujuan anda.Bila anda mmbuat isi blog sperti ini,ptanyaan sy,apa menjamin FS akan membaca?blum tentu... Jika tujuan murni anda ingin menyampaikan kbenaran masalah demokrasi,sampaikan juga dgn cara yg bijak & benar.sy sangat setuju dgn pendapat teman2 di atas,kirim melalui email,surat atw brtemu langsung lewat pengajian atw dimana pun.lalu diskusikan.kalau anda sempat menemuinya. jika anda mengandalkan via email,anda harus BERSABAR... tp jika anda ingin cepat mdapat respon,datangi!!,dgn cara itu sy rasa anda yg buat sendiri kesempatan utk komunikasi dgn FS.(istilahnya: menjemput bola) Menurut sy cara ini lbh 'diplomatis' ktimbang mmbeberkan ksalahan si A si B didepan khalayak.sy tdk mmbela FS ktika bbuat ksalahan,monggo tegur FS,tp apa sy harus mmbela saat anda bbuat ksalahan????dan apa sy senang mendengar ada saudara sy meng-ghibah sdra sy yg lain...perlu anda ketahui ghibah adalah membeberkan smua aib dan ksalahan yg benar2 dlakukan saudara anda. Ini sama dgn makan bangkai saudara anda yg sendiri. Terpuji kah? Anda bisa menilai sendiri Herannya: Anda mminta FS utk bijak menilai demokrasi lebih ke arah luas,tapi anda sendiri kurang bijak dalam menyampaikan.. Mohon maaf jika bhsa sy terlalu keras pd anda. Tp sy yakin anda pasti mngerti mksd sy. Trima kasih Wassalam...
ReplyDeleteAssalamu 'alaikum Sy setuju jika FS anda tegur mengenai artian secara luas,baik secara filosofi maupun sampai mekanisme demokrasi yg anda paparkan di atas.monggo anda tegur....monggo...silahkan....tp dgn cara diplomatis spertinya lbh bijak.. Tapi.... Sbelumnya sy mohon maaf,ini juga masukan utk anda.maaf sy harus tegas...(bismillah sy harus pro kpd kbenaran)... Nah perlu dpertanyakan tujuan anda.Bila anda mmbuat isi blog sperti ini,ptanyaan sy,apa menjamin FS akan membaca?blum tentu... Jika tujuan murni anda ingin menyampaikan kbenaran masalah demokrasi,sampaikan juga dgn cara yg bijak & benar.sy sangat setuju dgn pendapat teman2 di atas,kirim melalui email,surat atw brtemu langsung lewat pengajian atw dimana pun.lalu diskusikan.kalau anda sempat menemuinya. jika anda mengandalkan via email,anda harus BERSABAR... tp jika anda ingin cepat mdapat respon,datangi!!,dgn cara itu sy rasa anda yg buat sendiri kesempatan utk komunikasi dgn FS.(istilahnya: menjemput bola) Menurut sy cara ini lbh 'diplomatis' ktimbang mmbeberkan ksalahan si A si B didepan khalayak.sy tdk mmbela FS ktika bbuat ksalahan,monggo tegur FS,tp apa sy harus mmbela saat anda bbuat ksalahan????dan apa sy senang mendengar ada saudara sy meng-ghibah sdra sy yg lain...perlu anda ketahui ghibah adalah membeberkan smua aib dan ksalahan yg benar2 dlakukan saudara anda. Ini sama dgn makan bangkai saudara anda yg sendiri. Terpuji kah? Anda bisa menilai sendiri Herannya: Anda mminta FS utk bijak menilai demokrasi lebih ke arah luas,tapi anda sendiri kurang bijak dalam menyampaikan.. Mohon maaf jika bhsa sy terlalu keras pd anda. Tp sy yakin anda pasti mngerti mksd sy. Trima kasih Wassalam...
ReplyDeleteAssalamu 'alaikum Sy setuju jika FS anda tegur mengenai artian secara luas,baik secara filosofi maupun sampai mekanisme demokrasi yg anda paparkan di atas.monggo anda tegur....monggo...silahkan....tp dgn cara diplomatis spertinya lbh bijak.. Tapi.... Sbelumnya sy mohon maaf,ini juga masukan utk anda.maaf sy harus tegas...(bismillah sy harus pro kpd kbenaran)... Nah perlu dpertanyakan tujuan anda.Bila anda mmbuat isi blog sperti ini,ptanyaan sy,apa menjamin FS akan membaca?blum tentu... Jika tujuan murni anda ingin menyampaikan kbenaran masalah demokrasi,sampaikan juga dgn cara yg bijak & benar.sy sangat setuju dgn pendapat teman2 di atas,kirim melalui email,surat atw brtemu langsung lewat pengajian atw dimana pun.lalu diskusikan.kalau anda sempat menemuinya. jika anda mengandalkan via email,anda harus BERSABAR... tp jika anda ingin cepat mdapat respon,datangi!!,dgn cara itu sy rasa anda yg buat sendiri kesempatan utk komunikasi dgn FS.(istilahnya: menjemput bola) Menurut sy cara ini lbh 'diplomatis' ktimbang mmbeberkan ksalahan si A si B didepan khalayak.sy tdk mmbela FS ktika bbuat ksalahan,monggo tegur FS,tp apa sy harus mmbela saat anda bbuat ksalahan????dan apa sy senang mendengar ada saudara sy meng-ghibah sdra sy yg lain...perlu anda ketahui ghibah adalah membeberkan smua aib dan ksalahan yg benar2 dlakukan saudara anda. Ini sama dgn makan bangkai saudara anda yg sendiri. Terpuji kah? Anda bisa menilai sendiri Herannya: Anda mminta FS utk bijak menilai demokrasi lebih ke arah luas,tapi anda sendiri kurang bijak dalam menyampaikan.. Mohon maaf jika bhsa sy terlalu keras pd anda. Tp sy yakin anda pasti mngerti mksd sy. Trima kasih Wassalam...
ReplyDeletejadi dari tulisan ini yang pro khilafah kurang paham demokrasi, yang demokrasi kurang paham khilafah.
ReplyDeletenamaya juga dogma "pokoknya wes"
kalo misal rasullulah mengatakan setelah beliau wafat umatnya memiliki 4 jaman. he he. lha demokrasi kan jaman fase ke 3 neh. takdir kui. lha kalo jaman keemasan khilafah dateng. jaman fase terakhir kui. mau kiamat artinya.
Demokrasi itu buatan manusia, Khilafah itu system bernegara yg di buat Pencipta Manusia (Allah SWT), secara tidak langsung yg paling sempurna ya dari yg menciptakan,..
ReplyDeletekarna demokrasi yg menciptakan aturan manusia, kalo khilafah yg menciptakan aturan Allah langsung,..
sebenernya menuhankan Allah atau manusia...??
Jelas jelas Allah udah memberi system aturan bernegara, malah di tolak lebih milih demokrasi..
baca lagi mas yang bener, demokrasi itu bukan sistem, tapi istilah bagi pemerintahan yang melibatkan rakyat dalam kekuasaannya. Khilafah juga termasuk demokrasi. Baca lagi yang bener. -_______-a
DeleteSaya juga agak bingung tentang konsep kekhalifahan yang mencoba mengganti sistem pemerintahan demokrasi yang di bawah oleh HTI. Dulu saya beberapa ikut kajian HTI.. tapi yang saya ambil adalah keteladanan islam yang kita pegang ketika kita masuk ke dalam bagian pemerintahan. Tapi kok tiba tiba sekarang jadi terkesan bahwa sistem kekhalifahan HTI yang menjelekkan dan menganggap hukum semua harus "hukum Allah", tidak ada yg namanya parlemen dll dll dll dengan nama "khalifah"
ReplyDeleteDan saya agak kurang suka aja patokannya jaman kekhalifahan, padahal saya cuman orang awam yang baru mulai membaca Sejarah Rosulullah ketika hijrah ke Madinah, kemudian terbentuklah "Piagam Madinah" dari 10++ golongan yang membentuk beberapa pasal. Bukankah itu contoh demokrasi? Bukankah itu contoh adanya sebuah parlemen dalam konstitusi?
"Aturan Allah" yang bagaimana? kekhalifahan yang nantinya di pegang oleh seorang imam yang paling bisa di pegang agama nya di Indonesia? Atau apakah HTI ingin mengambil alih Indonesia secara tidak langsung? Dengan beberapa sikap para pendukung HTI yang sekarang ini apakah yakin bisa "mengayomi" seluruh rakyat Indonesia yang mempunyai banyak mazhab, agama dan kepercayaan?
Untuk masalah mazhab, yang saya rasakan orang orang pendukung HTI juga lebih dominan ke hadist yang dirawikan oleh para sahabat, dan bagaimana dengan golongan yang mengambil hadist mayoritas dari keluarga Nabi? Apakah sejarah Rosulullah seperti itu? karena saya tidak percaya 100% sejarah setelah meninggalkan Rosulullah. Sejarah bisa diganti sesuai dengan redaksi masing masing golongan.
Dan yang saya yakinin dari sebuah golongan HTI hanya sebuah alasan politik yang mengatasnamakan agama. Jangan salahkan sistem demokrasi, salahkan saja oknum nya.
Saya tidak yakin dengan para pendukung HTI yang belum belum saja sudah menjelek-jelekkan. Ini produk orang kafir, ini produk barat, ini produk bla bla bla yang sehingga bla bla bla. Jika Anda ingin memperkenalkan hukum islam, maka lakukan dengan cara islami, seperti dalam Al-Qur'an (saya tidak mengambil hadist, beda golongan, beda redaksi, beda alur politik juga ) :
Al-Hujurat 11
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
saya tidak mempunyai ormas dan hampir semua ormas sudah saya masuk tetapi saya belum menemukan ormas yang jelas, oleh karena itu pandangan saya mengenai demokrasi bisa dibaca secara jelas di blog: http://amriadicyber.blogspot.com/
ReplyDeletehttp://amriadicyber.blogspot.com/
ReplyDelete