Trending Topic Twitter #DemokrasiMati

Trending Topic #DemokrasiMati yang belakangan ini populer di Twitter membuat saya tergelitik untuk menanggapi nya. Sebagai seorang yang punya sedikit dasar ilmu politik, saya melihat trending #DemokrasiMati ini mempunyai tujuan baik, terlahir dari ketidakpuasan terhadap demokrasi di Indonesia namun sayangnya para penggagas trending ini sepertinya kurang memiliki pemahaman komprehensif mengenai arti demokrasi ini sendiri dari sudut pandang ilmu politik. Maka dari itulah dalam tulisan saya kali ini, sedikit akan saya jabarkan mengenai polemik ini dan bagaimana sikap saya pribadi atas hal ini.

Demokrasi dibentuk dari kata Demos dan Kratos. Demos yang berarti rakyat dan Kratos yang berarti kuat atau kekuatan. Secara sederhana dapat kita artikan bahwa demokrasi adalah suatu sistem politik yang menempatkan rakyat suatu negara sebagai pemegang kekuasaan tertinggi (terkuat) dalam negara tersebut. Artinya, baik buruknya suatu negara ditentukan oleh rakyat negara yang bersangkutan. Bagaimana negara itu berjalan juga ditentukan rakyat negara yang bersangkutan. Pemimpin (pemerintah atau government) hanya menjalankan apa yang didaulatkan rakyat kepadanya. Pemimpin juga dapat melakukan tindakan spontan atau kreatif, yang bukan merupakan mandat dari rakyat, yang diakibatkan oleh perilaku rakyat itu sendiri.

Bagaimanakah pemerintahan demokrasi itu?. Satu hal yang saya tekankan adalah Demokrasi itu sangat luas. Kita mungkin selama ini mengira bahwa demokrasi terbatas pada sistem politik seperti di AS, Inggris, Prancis, Belanda, Indonesia dan lain sebagainya. Namun faktanya, demokrasi jauh lebih luas daripada yang kita pikirkan itu. Demokrasi mencakup Komunisme, fasisme modern (NAZI Jerman) bahkan hingga monarki konstitusional juga termasuk ke dalam sebutan "Demokrasi".

Dalam pengamatan saya (yang mana bisa saja salah) terhadap trending #DemokrasiMati , kelompok pendukungnya cenderung menyeragamkan arti demokrasi sebagai sebuah sistem politik yang serupa dengan Amerika Serikat atau Indonesia seperti sekarang ini. Mereka melupakan bahwa demokrasi lebih luas dari negara-negara itu. Dari sinilah saya melihat sebuah kecacatan (falasi) dalam membahas polemik #DemokrasiMati : generalisasi.

Komunisme misalnya, bisa disebut sebagai demokrasi karena negara penganut komunisme memiliki partai komunis, dimana partai tersebut beranggotakan rakyat dari negara yang bersangkutan. Karena memiliki anggota rakyat dari negara tersebut, maka suara-suara yang muncul dari dewan perwakilan partai komunis dianggap sebagai suara rakyat (demos). Begitupun hal nya dengan fasisme modern yang diterapkan oleh rezim Adolf Hitler. Partai NAZI yang berkuasa dianggap sebagai perwakilan rakyat karena memang beranggotakan seluruh rakyat Jerman. Walaupun berbentuk totalitarian, namun totalitarisme Jerman kala itu dilihat sebagai kehendak rakyat Jerman, yang disuarakan melalui partai NAZI. Monarki konstitusional juga merupakan salah satu bentuk dari demokrasi. Negara-negara seperti Malaysia, Kuwait, Kamboja dan lain-lain walaupun memiliki seorang Raja yang baik itu dipilih oleh sang Raja langsung atau melalui mekanisme voting, namun tetap saja raja-raja tersebut dikontrol oleh dewan perwakilan rakyat. Dewan inilah yang dianggap sebagai perwujudan dari kekuatan rakyat (demos kratos).

Ada baiknya para penyeru #DemokrasiMati mengerucutkan demokrasi jenis apa yang masuk ke dalam #DemokrasiMati alih-alih menggeneralisasikan semua jenis demokrasi untuk mati. Mematikan semua jenis Demokrasi, tidak perduli bagaimana mekanisme partikularnya (yang jumlahnya luar biasa banyak), sama saja mematikan hak rakyat untuk mengontrol negara tempat mereka hidup. Rakyat dianggap sebagai objek mati yang tidak diberikan hak, bahkan untuk menyampaikan pendapatnya, kepada pemerintah karena pemerintah dianggap sebagai Tuhan: Maha Tahu, serba Tahu, Father knows the best state. Rakyat bukan lah siapa-siapa. Bahkan rezim sekeras Adolf Hitler atau Kim Jong il pun masih dikatakan demokrasi karena masih ada dewan rakyat, bayangkan sendiri jika dewan rakyat benar-benar dihapuskan dari suatu negara.

Contoh negara Monarki Absolut (setidaknya menurut negara itu sendiri) yang benar-benar tidak memberlakukan demokrasi adalah Arab Saudi. Di Arab Saudi, raja adalah hukum, raja diatas hukum dan raja menentukan hukum. Maka dari itu, tidak ada kontrol yang bisa berkuasa atas raja, bahkan saat raja melanggar hukum (ingat kasus anak-anak raja Arab yang menghamburkan uang negara untuk berpesta setiap malam). Rakyat dilarang memberi pendapat atau menyampaikan keluhan ke Raja, apalagi mengkritiknya. Namun uniknya, dalam perspektif studi politik terkait konsep demokrasi, Arab Saudi masih memberlakukan demokrasi karena ada peran unik Ulama. Ulama di Arab Saudi dianggap oleh pemerintah sebagai perwakilan dari suara umat (rakyat). Keluhan, ketidaksukaan, kritik umat dapat disalurkan kepada pemerintah melalui Ulama. Jadi walaupun mengklaim bukan negara demokrasi, Arab Saudi masih merupakan negara demokrasi yang ditandai dengan fungsi Ulama-ulama nya.

Jika kita memang pendukung #DemokrasiMati maka ada baiknya dukungan kita ditujukan karena idealisme politik alih-alih kekecewaan terhadap supremasi hukum di Indonesia, yang mengaku negara demokrasi, yang lemah. Perlu diketahui bahwa tidak ada korelasi antara sistem politik negara yang bersangkutan (demokrasi atau bukan) dengan supremasi hukum. Di Amerika Serikat, negara yang disebut-sebut sebagai pioneer demokrasi modern, mempunyai hukum yang sangat keras. Jangankan menyakiti manusia, menyakiti hewan peliharaan pun dapat dikenai pasal pidana. Di Cina (Demokrasi sosialis), seperti yang kita tahu, hukum luar biasa kejam dan tanpa pandang bulu: Pejabat yang terbukti korupsi langsung bisa dijatuhi hukuman mati (tembak), walaupun pejabat kelas atas sekalipun. Sedangkan di Arab Saudi, negara yang mengaku bukan demokrasi, hukuman pun sangat berat: Hukuman mati adalah hal biasa, bahkan untuk kejahatan-kejahatan yang menurut kita disini ringan (selingkuh, zina dan lain-lain). Dari contoh-contoh negara tersebut maka akan tampak bahwa tidak ada hubungan sistem politik (demokrasi atau bukan) dengan supremasi hukum negara bersangkutan.

Di Indonesia, bagiku pribadi, yang menjadi masalah utama bukan lah sistem politik, melainkan supremasi hukum yang lemah. Hukum dipermainkan oleh aparat penegak hukum dengan pengaruh para politikus. Walaupun rakyat sudah menghendaki perbaikan pada sektor hukum, namun tetap saja hukum kita sulit untuk dibenahi. Rusaknya sistem hukum kita tidak diakibatkan oleh demokrasi, namun justru diakibatkan oleh demokrasi yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Kembali ke #DemokrasiMati. Saya sangat setuju bila demokrasi kita sekarang tampak kurang pas dibeberapa bagian, seperti pemilihan anggota DPR/DPRD secara langsung yang terlalu rumit, membingungkan rakyat dan samasekali tidak efektif. Kemudian fungsi legislasi parlemen Indonesia yang tampak kurang berjalan sebagaimana mestinya dan berbagai permasalahan lainnya. Namun ketidakcocokan di banyak hal tersebut tidak membuat saya lantas menggeneralisasi bahwa semua bentuk dan konsep Demokrasi itu harus mati, karena saya yakin bahwa rakyat harus berpartisipasi dalam proses berkenegaraan.

Menerjemahkan Arti Iman

Seperti yang sudah saya pernah tuliskan berkali-kali sebelumnya, setiap manusia mempunyai pandangan unik terhadap definisi dan instrumen "Tuhan". Saking luasnya konsep Tuhan itu sendiri, dan setiap orang secara langsung dan tidak langsung mempunyai hubungan dengan entitas Tuhan, membuat mau tidak mau, suka tidak suka membuat diversifikasi penerjemahan arti Tuhan. Waktu SD kita mungkin diajari bahwa Tuhan adalah Dia yang menciptakan kita dan alam semesta. Namun semakin berkembang dan dewasa seorang manusia, maka definisi sederhana semacam itu sudah tidak dapat memuaskan dahaga rasa penasaran akan apa itu Tuhan sesungguhnya. Sebagai seorang yang berlatar belakang ilmu sosial dan politik, Tuhan pun tidak luput sebagai salah satu subjek studi saya.

Dalam mengartikan Tuhan, saya cenderung menerjemahkan Dia sebagai sosok transenden yang menciptakan alam semesta dengan segala dimensi nya (ruang dan waktu) dan isinya. Tuhan harus merupakan entitas yang sempurna tanpa cela karena dia berada diatas alam semesta ini, diatas kesempurnaan alam semesta ini. Dia adalah kausalitas (sebab) utama dari semua akibat yang terjadi di alam semesta beserta isinya ini. Eksistensinya tidak terelakkan, terbukti dari segala keteraturan mekanis yang terjadi di jagat raya ini. Kecepatan revolusi terhadap bintang, kemiringan sumbu, jarak, percepatan gravitasi, tekanan udara, kandungan udara para planet yang sangat presisi dan teratur merupakan produk dari suatu bentuk intelegensia alih-alih kebetulan semata. Walaupun keberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan melalui pengamatan indera manusia, namun eksistensinya dapat diketahui melalui penalaran.

Absennya kemampuan indera manusia dalam menangkap eksistensi Tuhan inilah yang kemudian kita menciptakan istilah "Iman". Iman, dalam definisi populer, adalah sebuah keyakinan dan kepercayaan terhadap suatu sosok Tuhan dan segala perintahnya yang terkompilasi dalam suatu ajaran yang disebut dengan "Agama". Iman diartikan sebagai alogika: sebuah kondisi dimana suatu hal yang tidak membutuhkan penalaran logika. Iman tidak perlu logika, katanya. Iman adalah sebuah fenomena ghaib dimana hati manusia disadarkan oleh Tuhan untuk menyembah dan mempercayainya. Hampir semua agama, kecuali Buddha  (karena memang Budha tidak mempunyai konsep entitas Tuhan), mempunyai definisi yang sama mengenai Iman, terutama agama-agama Samawi (Islam, Kristen dan Yahudi).

Definisi Iman mainstream ini, bagi saya, sangat merendahkan derajat kita sebagai manusia yang diberi kemampuan berpikir yang luar biasa. Tuhan telah menganugrahi manusia otak terbesar dari semua makhluk hidup di planet bumi untuk berpikir tanpa batas. Tidak restriksi (larangan) yang di-inject dalam otak kita untuk berpikir suatu hal. Tidak ada larangan yang tertulis di otak kita yang berbunyi "Dilarang berpikir tentang A". Otak kita adalah kebebasan kita, bahkan seorang budak belian pun, seterkekang apapun dia, masih dengan bebas berpikir apapun yang dia mau dan dia suka, walaupun nihil implementasi. Tuhan menciptakan otak kitapun tanpa restriksi. Kehebatan & kecerdasan yang dikandung otak manusia menciptakan konsekuensi logis bahwa kebebasan berpikir menjadi sebuah kekuatan yang tidak terhindarkan.

Saya kira, mengingat posisi Tuhan yang luar biasa, Dia pasti sudah berpikir bahwa manusia akan berpikir sedemikian kritis terhadap semua hal bahkan sebelum manusia berpikir tentang hal tersebut. Tuhan telah mengekspektasikan bahwa kita manusia akan sanggup berpikir sedemikian kreatif luar biasa, bahkan dalam mengartikan Tuhan sekaligus. Dalam konteks bahwa Tuhan adalah Maha Tahu, maka Dia pasti sudah paham konsekuensi bahwa makin tinggi pemikiran suatu makhluk maka semakin kritis pula daya pikirnya. Dan mengingat bahwa Tuhanku adalah Maha Logis (didasarkan pada fakta biblikal/kitab suci), maka saya mengasumsikan bahwa Tuhan mempunyai tanda-tanda yang masuk akal (logis) dalam menjelaskan dan menunjukkan eksistensinya.

Namun dalam tulisan saya sebelumnya, saya telah mengatakan bahwa terjemahan atas agama itu tergantung dari manusia di bumi. Beberapa kelompok manusia menerjemahkan bahwa "Tuhan melarang kita berpikir tentangNya". Saya akui ini adalah sebuah bentuk proses dialektika, dan wajar. Yang menjengkelkan adalah saat tesis ini, yang mengatakan "Tuhan melarang kita berpikir tentangNya", dianggap sebagai tesis absolut dan melarang adanya anti-tesis. Padahal mereka juga mengatakan bahwa manusia bisa saja salah karena memang manusia bukan makhluk super transenden. Inkonsistensi sikap ini menimbul polemik yang seringkali membuat kaum-kaum terpelajar menghindari berbicara ilmu pengetahuan dengan membawa agama. (Saya sendiri sedang berdialektika disini dan saya terbuka terhadap semua anti-thesis yang mungkin datang sebagai reaksi atas tulisan ini.)

Lalu bagaimana pandangan saya mengenai iman?. Bagi saya, iman adalah sebuah keyakinan yang berlandaskan logika terhadap eksistensi Tuhan beserta apa yang kita pikirkan sebagai perintahnya. Iman kepada Tuhan adalah saya meyakini Tuhan versi saya (Allah dalam Islam) adalah karena Dia terbentuk dalam logika melalui proses-proses yang logis. Mengapa saya tidak mengimani Tuhan agama lain? alasannya merupakan kebalikan dari iman terhadap Tuhan saya: Tuhan agama lain tidak dapat saya temukan/raih melalui proses-proses logis.

Kedua adalah iman terhadap ajaran Tuhan. Dalam status saya sebagai seorang muslim, ajaran Islam adalah ajaran yang paling logis menurut saya, walaupun saya akui ada polemik dalam pemikiran saya terkait apa yang disebut sebagai ajaran Islam (nanti akan saya bahas). Islam, menurut pendekatan logika saya, adalah kompilasi aturan yang paling masuk akal dan universal dari semua ajaran lain dimuka bumi. Istilahnya dalam dunia otomotif, bagi saya Islam adalah mobil Range Rover: multi fungsi, bisa mengangkut barang, mengangkut manusia, mengangkut hewan, bisa digunakan dalam segala medan, bisa untuk city car sekaligus untuk overland tour. Namun sama seperti mobil itu tadi, semua hanya masalah selera. Bagi saya Range Rover mungkin baik, tapi bagi orang lain, dengan logika sendiri, mungkin lebih menyukai mobil Kijang Innova atau merek-merek lain.

Polemik dalam ajaran agama, seperti yang saya tulis diatas, tidak dapat saya sangkal sering terjadi dalam hidup saya. Seperti aksi-aksi terorisme yang juga selalu mengatasnamakan Tuhan (dan juga tertulis dalam kitab suci & Hadist) kadang membuat saya "terpaksa" harus berpikir super kritis dalam menyikapi perintah agama saya sendiri. Contohnya seperti "betulkah orang kafir yang terang-terangan memusuhi Islam harus dibunuh?". Argumen Islam-islam ekstrim yang mengatakan demikian ternyata juga melandaskan pemikirannya kepada kitab-kitab Islam. Disinilah saya menggunakan daya kritisi saya. Saya memperbandingkan statemen tersebut (Orang kafir yang terang-terangan memusuhi Islam harus dibunuh) dengan berbagai macam pendekatan studi: mulai dari sejarah, sosiologi, psikologi, antropologi, hingga filosofi dan saya berkesimpulan bahwa statemen tersebut sangan kondisional dan tergantung kepada situasi (tidak absolut). Walaupun kelompok ekstrim yang meyakini bahwa statemen ini benar dan mengancam saya masuk neraka jika tidak percaya pada statemen tersebut, namun berdasarkan logika saya, statemen itu tidak dapat diterima akal sehat. Toh, mereka bukan pemilik neraka....

Tidak hanya sampai disitu, saya pun sering berpikir kritis terhadap ayat-ayat Quran yang saya baca, walaupun so far so good. Mungkin yang kerap saya temui polemik adalah di dalam Hadis. Namun mengingat dosen komunikasi saya pernah berkata "hadis itu ditulis oleh manusia dan didengar oleh manusia, jadi bisa saja salah", maka saya berpikir wajar bila ada kesalahan dalam hadis. Tapi sebelumnya, marilah kita hentikan polemik dalam hadis dan bergeser membahas hal selanjutnya, yaitu distorsi antara komunikator (Tuhan) dengan komunikan (saya dan manusia lain disaat sekarang), yang mana saya disini menggunakan landasan berpikir pada teori ilmu komunikasi.

Dalam teori ilmu komunikasi, distorsi yang terjadi dalam medium komunikasi adalah yang lumrah terjadi. Dalam bentuk komunikasi, terutama komunikasi tidak langsung seperti Tuhan dengan umatnya, peran medium komunikasi memegang peranan sangat krusial. Sayangnya, medium komunikasi tidak selalu 100% secara sempurna mampu membawa partikel-partikel pesan yang dimaksudkan oleh Komunikator. Kita ambil contoh dalam Islam, perintah Allah kepada saya sekarang ini melalui banyak sekali medium, pertama adalah Jibril, disusul Muhammad, kemudian sahabat dan para Hafidzh, sistem rezim Turki Utsmani (yang bertanggungjawab atas pembakaran beberapa jenis Mushaf Quran), distributor Quran, rezim kerajaan Arab Saudi, rezim Hindia Belanda (yang kemudian tergantikan oleh rezim Indonesia), pencetak Quran, distributor dan akhirnya penjual. Banyaknya medium itu mengakibatkan semakin tingginya potensi distorsi (gangguan) dari isi Quran. Klaim sepihak Quran yang menjamin bahwa isi Quran tidak akan berganti juga merupakan falasi, karena siapapun manusia dibumi bisa menuliskan klaim seperti itu jika memang dia pernah mengedit isi Quran. Distorsi terparah menurut saya pribadi adalah pembakaran & pemusnahan mushaf-mushaf Quran yang punya versi berbeda dengan yang diakui oleh rezim Turki Utsmani.

Distorsi-distorsi tersebut diatas merupakan pesan implisit kepada kita bahwa belum tentu apa yang kita pikir sebagai sebuah kebenaran adalah benar secara mutlak. Di dunia nyata, tidak ada yang disebut dengan kebenaran mutlak, bahkan apa yang saya tulis disini juga belum tentu tepat. Yang bisa manusia lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada kebenaran adalah dengan apa yang tadi kita sebut sebagai proses dialektika. Proses dialektika secara sederhana dapat saya artikan sebagai sebuah proses berdiskusi dalam rangka mendekatkan diri kepada kebenaran. Saya mengimplementasikan prinsip dialektika ini dalam berbagai hal dalam hidup saya, termasuk agama. Kalau memang agama dan Tuhan ku adalah yang benar, maka proses dialektika tidak akan berpengaruh apapun.

Kembali ke masalah Iman: Bagaimana iman diperoleh? Kelompok tradisionalis mengatakan bahwa iman diperoleh melalui suatu proses eskatologis, sebuah proses ghaib yang tidak terjelaskan oleh manusia. Iman dipandang sebagai rahasia Tuhan. Untuk kelompok reliji muslim mengatakan bahwa iman kepada Allah dapat diperoleh melaksanakan rukun Islam dan Iman dengan baik dan benar. Kelompok kristen mengatakan bahwa iman kepada Tuhan dapat diperoleh dengan melaksanakan ajaran Yesus di alkitab dan sering memohon kepadaNya. Begitupun untuk agama-agama lainnya. Penjelasan semacam itu dapat memuaskan rasa penasaran kenapa keimanan itu ada. Alih-alih disebut sebagai Iman, aku melihat definisi "Iman" semacam itu lebih mirip kepada Fanatik. Karena baik "fanatik" ataupun "Iman" menurut kelompok tradisionalis mempunyai esensi yang sama: Kepercayaan penuh terhadap sesuatu yang bersifat mutlak, tanpa ada kritik dan ada cela, tidak perduli itu masuk akal atau tidak.

Bagiku, Iman dapat diperoleh melalui ilmu pengetahuan. Terutama sekali dalam agamaku, Islam, umatnya diperintahkan untuk menuntut ilmu pengetahuan tanpa batas dalam hal apapun (tidak terbatas). Bagiku, perintah tersebut mengandung arti bahwa hanya dengan ilmu pengetahuan lah maka kita dapat memahami makna sesungguhnya dari Islam (agama) dan hanya dengan ilmu pengetahuan lah maka manusia dapat menemukan, memahami, mencintai, dan mengimani Tuhannya.

Sikapku yang tidak sealiran dengan orang kebanyakan di lingkunganku membuat beberapa orang menyatakan bahwa saya sesat atau bahkan atheist, yang mana hal itu tentu saja ngawur besar. Justru dengan melalui tahap-tahapan logis untuk menemukan Tuhanku, kini saya dapat memahami dan mengimani Tuhanku (Allah) dengan benar. Saya telah mencapai tingkatan dimana pada akhirnya saya meyakini dengan kemampuan nalarku bahwa memang Allah adalah penciptaku. Namun demikian, tidak masalah dengan agama lain karena seperti yang pernah saya tuliskan dalam tulisanku sebelum ini, semua agama sama saja, yakni menyembah sosok Tuhan yang satu tidak perduli siapapun nama dan panggilannya.

Melihat Agama Dan Tuhan

Agama adalah suatu hal yang sederhana bagiku. Dia (Agama) adalah sebuah instrumen untuk menuju entitas Tuhan. Dia adalah serangkaian tata cara, peraturan, hukum yang bertujuan memposisikan diri sebagai "pengikut" suatu aliran theistik (berketuhanan). Agama adalah masalah lingkungan hidup dan selera. Aku tidak akan bilang agama adalah masalah "Iman" karena aku tidak pernah percaya dengan konsep Iman mainstream (pasaran). Agama tidak rumit tidak pula eksklusif. Agama adalah global, universal, umum, publik. Dia tidak terkotak-kotak dalam kemajemukan yang pluralist, karena manusialah yang membuatnya terkotak-kotak. Perspektif manusia di bumi telah me-reposisikan agama sebuah sebuah hal yang eksklusif dan terkhususkan sebagai sebuah instrimen partikular tertentu.


Iman bagiku adalah sebuah kesimpulan yang diraih karena pendekatan-pendekatan logika. Iman itu tidak buta, bukan pula sekedar agama turunan orang tua: Iman itu dapat membedakan antara baik buruk dan salah benar. Kebutaan apa yang diklaim sebagai Iman bagiku hanya fanatisme belaka, dan sifat fanatisme telah men-degradasi-kan martabat kita sebagai manusia yang diberkahi oleh kemampuan berlogika. Iman itu lahir dari sifat kritis, seperti layaknya Ibrahim (Abraham) yang mempertanyakan eksistensi Tuhan. Apakah dia disebut kurang ajar karena mempertanyakan entitas Tuhan? Justru karena mempertanyakan Tuhan itulah dia menemukan Tuhannya dan mengimaninya. Proses mencapai keimanan itu harus melalui keterbukaan pikiran, bersedia menerima berbagai masukan-masukan. Layaknya Ibrahim yang berhipotesis bahwa Tuhan adalah Matahari, Bulan dan sebagainya: sebagai pengikut salah satu percabangan agama Ibrahim (Abrahamic Religion: agama dengan Tuhan Allah, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi), aku berusaha mencontoh beliau, yaitu dengan berhipotesis mengenai berbagai macam konsep dan bentuk Tuhan dan akhirnya berimanlah aku terhadap suatu Tuhan. Itulah mengapa dalam agamaku, Islam, sangat mengagungkan pentingnya menuntut ilmu pengetahuan: untuk meningkatkan kemampuan berlogika umat manusia, yang pada akhirnya dapat digunakan untuk mengenal Tuhannya.

Namun entah bagaimana, "Iman" telah mengalami pergeseran implementasi. Iman diartikan sebagai sebuah "pencerahan" yang tidak dapat dipahami secara spesifik: Pencerahan oleh siapa? Bagaimana? Kapan? Dari Siapa? bagaimana kita tahu itu pencerahan alih-alih hanya sebuah mimpi atau khayalan kita sendiri?. Penjelasan eskatologis yang membawa determinan ke-ghaib-an tidak dapat aku terima sebagai seorang yang mengutamakan logika. Kalaupun kita memaksa menggunakan kata "pencerahan", maka bagiku pencerahan itu adalah sebuah ide, pemikiran, ilham baik itu yang bersifat seketika ataupun proses pemikiran bertahun-tahun yang telah menemukan konsep Tuhannya.

Faktanya, kita manusia justru adalah pihak yang seakan-akan berkuasa penuh atas bagaimana agama itu bertindak. Lihat bagaimana Kristen Katolik pada zaman kegelapan membantai kaum Kristen Protestan dengan cap "Heresy" atau Penistaan agama. Lihat pula bagaimana beberapa kelompok agama di Indonesia seakan-akan punya "License to Kill" (Lisensi untuk membunuh) terhadap kelompok-kelompok kepercayaan lain, katakanlah seperti Ahmadiyah atau Islam Syiah. Dengan cap Penistaan agama, kelompok agama dan orang-orang di dalamnya seakan-akan mewakili ke-agung-an Tuhan di muka bumi.

Tanpa kita sadari, kita telah, sedang dan akan selalu mengartikan perintah Tuhan menurut logika kita yang tidak absolut. Contohnya aku, seorang muslim, akan menjalankan ibadah umat Muslim sesuai yang aku tahu dan yakini, sedangkan hal-hal yang aku tahu tidaklah bersifat absolut (mutlak). Contohnya aku Solat, walaupun menurutku Solat adalah perintah Tuhan, namun apakah Allah dalam Islam mengatakan demikian langsung dari mulutnya? Dalam teori komunikasi kita tentu tahu distorsi (gangguan, halangan) dalam medium komunikasi. Ucapan Allah hingga ke telinga dan mata saya telah melalui banyak sekali medium (Jibril, Muhammad, Sahabat, Penulis Quran, Birokrasi Rezim Turki Utsmani, penghafal Quran, Editor, dan percetakan). Semakin banyak pihak yang menjadi medium, maka makin pula resiko distorsi nya. Kita mungkin bisa saja yakin bahwa Quran atau kitab suci apapun dijamin keasliannya oleh Allah atau Tuhan, namun hal itu merupakan falasi. Saya bisa saja, seandainya saya hidup 1000 tahun lalu, mengedit Quran atau kitab suci dan mengatakan (menuliskan dalam kitab tersebut) bahwa kitab ini dijamin keasliannya oleh Tuhan....sangat mudah.

Interpretasi terhadap agama dan kebenaran sangatlah beraneka ragam, maka dari itulah tercipta proses dialektika untuk mendekatkan diri kepada kebenaran (walaupun kebenaran mutlak itu tidak akan pernah didapat). Dari sinilah muncul istilah bahwa "Tuhan berada dalam pikiran kita masing-masing". Maksudnya, bagaimana kita menerjemahkan Tuhan dan segala perangkatnya (termasuk agama, kitab suci dll) adalah berbeda untuk masing-masing orang. Ada yang menerjemahkan bahwa Tuhan itu maha mengasihi dan melarang balas dendam, ada yang menerjemahkan Tuhan itu tegas dan galak, ada yang menerjemahkan Tuhan itu suka berbalas dendam, dan lain sebagainya. Terjemahan-terjemahan itu mungkin saja berbeda untuk setiap orangnya. Jangankan dengan agama lain, untuk sesama agama saja banyak aliran-aliran yang terbentuk. Islam misalnya ada Syiah dan Sunni. Syiah itu sendiri masih terbagi lagi, begitupun dengan Sunni. Bagiku, itu bukan masalah karena memang tiap orang mempunyai interpretasi yang spesifik partikular terhadap konsep Tuhan dan ajarannya.

Ketidakmampuan umat beragama untuk memahami diversifikasi interpretasi inilah yang menyebabkan agama, selain sebagai sebuah sumber kedamaian, juga berperan sebagai sumber peperangan. Perang salib yang berlangsung selama berabad-abad adalah produk egoisme manusia yang merasa agamanya paling benar (walaupun pada tingkat elitenya mempunyai motivasi berbeda, yaitu motivasi ekonomi). Rakyat kedua kubu, Rakyat Eropa dan Rakyat Timur Tengah, merasa bahwa perang memperebutkan Jerusalem adalah perang suci untuk membela Tuhannya masing-masing. Itu hanya salah satu contoh, ada banyak perang lainnya yang tercipta karena mengatasnamakan agama.

Konflik agama bukanlah hal baru. Sejak turunnya agama Samawi yang pertama, Yahudi, konflik reliji sudah menjadi makanan sehari-hari peradaban di muka bumi. Karen Armstrong dalam bukunya "Sejarah Para Tuhan" menulis bahwa karena sifatnya yang universal (diperuntukkan untuk semua manusia di dunia), agama Samawi lebih mempunyai sifat intoleran dan memaksa terhadap agama lain. Agama Samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) adalah agama yang etnosentris, merasa dirinya paling benar, tanpa cela, dan melihat agama lain selalu salah. Disinilah sumber masalahnya, dengan sifat-sifatnya tersebut diatas, agama-agama Samawi sangat rawan gesekan...dimana gesekan-gesekan itu seringkali menjadi konflik terbuka.

Dan disinilah kesimpulan sementara saya.....

Dalam opini saya pribadi, semua agama sama saja. Sama saja dalam artian menuju Tuhan, tidak ada agama yang menuju kekuatan Setan atau Iblis. Untuk ritual keagamaan tentu saja semua agama berbeda: Islam Solat di Masjid, Kristen kebaktikan di Gereja, Yahudi berdoa di Sinagog dan lain-lain. Nama Tuhan dan Jumlahnya pun berbeda: Islam, Kristen & Yahudi mempunyai jumlah Tuhan 1 (meskipun Kristen mengenal konsep Trinitas). Namun inti agama itu sendiri, yakni menuju kepada zat transenden (penyebab utama dari semua akibat), adalah sama untuk semua agama. Maka, debat agama apalagi hingga konflik terbuka antar agama sungguh suatu hal yang tidak diperlukan karena bagaimana kita sama-sama makhluk ciptaan Dia, Sang Pencipta yang super.

Berbicara Mengenai Israel Dan Palestina

Israel kembali menggempur Palestina, Gaza tepatnya. Puluhan orang telah tewas, baik itu di pihak Israel ataupun Palestina (meskipun jumlah korban dari Palestina jauh lebih banyak ketimbang jumlah korban dari pihak Israel). Masyarakat dunia seakan terbagi menjadi dua kubu dalam melihat tragedi ini: Mereka yang membela Israel dan mereka yang membela Palestina. Debat tidak berkesudahan mewarnai berbagai macam forum, sementara setiap harinya selalu ada korban di Israel - Palestina.


Baik di Indonesia ataupun di AS, saya tidak menyalahkan opini publik mainstream yang membela salah satu negara. Indonesia misalnya yang sebagian besar warganya membela Palestina, entah itu karena rasa kesamaan agama atau karena murni rasa kemanusiaan. Di AS pun demikian, sebagian besar rakyat Amerika setia untuk membela Israel, entah itu juga karena rasa kesamaan latar belakang agama atau murni rasa kemanusiaan. Bagiku, masalah Israel - Palestina adalah sebuah polemik super kompleks yang terlah mengalami distorsi dalam pesan-pesan tersiratnya kepada rakyat dunia oleh awak media.

Pertama kita lihat di Indonesia. Mengapa sebagian rakyat Indonesia membela Palestina? jawaban pertama jelas adalah karena faktor agama. Baik Indonesia dan Palestina adalah sama-sama negara dengan mayoritas penduduk Islam Sunni. Kesamaan agama ini tidak dapat kita ingkari sebagai sebuah pengikat rasa senasib sepenanggungan antara rakyat Indonesia muslim dengan rakyat Palestina. Rakyat Indonesia melihat Palestina adalah sebuah bangsa berdaulat yang dengan seenaknya diserang, dibagi-bagi, dan menjadi korban aneksasi Inggris dan Israel. Rakyat Indonesia juga melihat Palestina sebagai sebuah negara yang banyak menjadi korban pelanggaran HAM oleh Israel, dibombardir setiap hari tanpa henti oleh militer Israel.

Di Amerika Serikat (AS), opini yang beredar berkebalikan. Rakyat AS melihat Palestina sebagai kelompok teroris yang menganggu keamanan Israel. Segala bentuk serangan roket Hamas ke wilayah Israel dilihat sebagai aksi terorisme yang wajib diberantas oleh aparat Israel. Serangan Israel ke wilayah Palestina dianggap hanya sebagai serangan balasan atas roket-roket Hamas. AS juga melihat bahwa Israel secara sah bisa menempati wilayahnya sekarang karena merupakan pemberian Inggris. Selain itu seperti halnya di Indonesia, sentimen reliji menjadi faktor utama mengapa negara Paman Sam ini membela Israel.

Saya sendiri adalah seorang muslim Indonesia yang pernah sempat berdiri dalam konsep Good (Palestina) vs Evil (Israel) ini. Saya melihat bahwa Palestina dengan Hamasnya adalah "All good" dan Israel adalah "All wrong". Namun kini, saya melihat ternyata banyak hal-hal yang ternyata jauh lebih kompleks daripada apa yang pernah saya pikirkan. Everything is not as simple as it seen.

Hal pertama yang paling saya khawatirkan adalah tendensi media. Di AS, media seperti CNN, Fox, BBC dan lain-lain cenderung untuk tidak memberitakan jumlah dan kondisi korban sipil dari pihak Palestina. Katakanlah CNN yang nyaris tidak pernah mengcover berita dari wilayah Gaza. CNN hanya menampilkan korban sipil Israel akibat dari roket-roket Hamas. Sebaliknya, media-media Timur seperti Al-Jazeera, yang mana Al-Jazeera ini banyak menjadi referensi satu-satunya media di wilayah Timur, hanya mengcover berita dari pihak Palestina. Al-Jazeera banyak menampilkan paparan visual atas korban-korban di Palestina (anak kecil yang tewas, mayat-mayat masyarakat sipil Palestina dll) namun tidak mengcover bagaimana korban sipil dari masyarakat Israel.

Opini publik pun tercipta dari tendensi 2 jenis media ini. CNN dkk yang lebih banyak beroperasi dibelahan bumi bagian barat berhasil menggiring opini masyarakat Amerika Utara dan Eropa bahwa Israel adalah korban dari terorisme Hamas yang bercokol dan bahkan dilindungi oleh rakyat Palestina. Sedangkan Al-Jazeera dkk yang banyak disiarkan dibelahan bumi bagian timur (dan negara-negara Islam) dengan sukses menciptakan opini publik mayoritas penduduk Asia bahwa Palestina adalah negara yang sedang dijajah oleh agresor Israel. Perbedaan cara pandang ini, menurut pendapat saya, adalah biang kerok dari tidak selesainya permasalahan di Palestina - Israel selama berpuluh-puluh tahun. Masing-masing pihak (Opini publik) merasa paling benar dengan pengetahuan yang sangat terbatas (hanya bersumber dari media yang tendensius) tanpa mencover kedua sisi.

Kekhawatiran saya yang kedua adalah kesengajaan untuk memelihara perang ini. Mungkin bagi pembaca yang pernah belajar tentang bisnis Internasional atau studi Hubungan Internasional akan sangat paham bahwa sesungguhnya perang itu adalah bisnis. Bisnis senjata adalah bisnis raksasa yang bernilai ratusan milyar dollar, hampir setara dengan bisnis perminyakan. Kelompok kapitalis yang oportunistik tentu sangat tergiur untuk mengambil untung dari isu-isu perang yang seksi, seperti Palestina - Israel ini contohnya. Disatu sisi, Palestina mempersenjatai dengan senjata-senjata produksi Rusia. Sedangkan disisi lain Israel mempersenjatai diri dengan persentajaan produksi Eropa dan AS. Semua senjata masing-masing pihak tersebut dibeli dengan harga yang pastinya tidak murah. Untuk menjaga sumber utama kehidupan bisnis senjatanya, masing-masing perusahaan persenjataan tentu ingin agar perang terus berlangsung. Berbagai bentuk manuver, salah satunya yang dapat dengan mudah kita temui adalah lobi-lobi ke pemerintah negara yang terlibat dalam perang atau negara-negara yang punya peran penting dalam suatu peperangan.

Kekhawatiran terakhir dan yang paling menyeramkan adalah sentimen agama. Suka tidak suka, sentimen agama memainkan peranan yang sangat krusial dalam membentuk opini atas masalah di Palestina - Israel. Kelompok Eropa dan Amerika yang didominasi Kristen rata-rata membela kebijakan Israel, sedangkan kelompok Timur tengah & Asia Tenggara yang didominasi Islam rata-rata membela perjuangan kemerdekaan Palestina. Dalam beberapa kondisi tertentu, beberapa orang bahkan mulai berpikir ekstrim bahwa perang Palestina - Israel tidak akan pernah berakhir hingga akhir zaman karena Biblical Prophecy  (ramalan kitab suci). Pesimisme dan sikap permisif atas perang tentu suatu hal yang sangat berbahaya bagi peradaban manusia, dan parahnya, skeptisme tersebut "disokong" oleh ajaran agama. Entah mungkin interpretasi atas suatu statemen dalam kitab suci yang salah atau memang begitu apa adanya.

Sebagai orang Indonesia yang berjarak ribuan kilometer dari zona perang di Palestina - Israel, prinsip pertama yang perlu kita camkan dalam benak kita adalah baik itu rakyat Palestina atau Israel, mereka semua adalah manusia. Tidak semua rakyat Israel adalah Yahudi, disana juga ada orang Islam, Buddha, Kristen dan sebagainya. Rakyat Israel itu, yang terdiri dari banyak agama, selama bertahun-tahun menjadi korban roket-roket Hamas. Begitupun di Palestina, tidak selamanya yang menjadi korban adalah orang Islam, banyak orang Kristen & Yahudi, dan bahkan beberapa gereja juga menjadi korban bom Israel hingga hancur total. Dari sedikit gambaran ini maka dapat kita pahami bahwa perang tidak mengenal agama dan kepercayaan. Apapun agamamu, jika roket sudah diluncurkan dan bom telah dijatuhkan maka siapapun bisa menjadi korban.

Korban tidak hanya dari pihak Palestina, tapi Israel pun mengalami kerugian korban jiwa yang tidak sedikit (walaupun secara jumlah lebih banyak korban Palestina). Namun apakah kita mempermasalahkan jumlah korban lantas bersikap permisif terhadap konflik berkepanjangan seperti di Palestina - Israel ini? Membiarkan perang berlangsung selama beberapa dekade hanya karena nafsu balas dendam menyamakan jumlah Korban? Dalam status kita yang mempunyai KTP Islam, lantas kita merasa harus menyamakan jumlah korban antara pihak Palestina yang jumlahnya ratusan dengan jumlah korban pihak Israel yang sejauh ini hanya berjumlah 10 orang?

Kitapun harus membuka mata bahwa Hamas, salah satu faksi kuat di Palestina tidak selamanya sempurna. Hamas adalah kelompok militer yang berlindung dibalik perisai manusia rakyat sipil Palestina. Mereka meluncurkan roket ke arah tanah Israel namun sesaat setelahnya mereka membaurkan diri diantara rakyat sipil Palestina. Begitupun saat peristiwa tembak menembak, mereka menembak pasukan Israel dari balik bangunan sipil...bahkan Masjid dan Gereja, berlindung dibalik perisai manusia sipil yang tidak tahu apapun.

Saya memang tidak menuliskan kejahatan dari Pihak Israel karena di Indonesia sangat mudah menemukan artikel-artikel semacam itu, maka saya tidak perlu menuliskan kembali.

Intinya saya hanya ingin mengatakan bahwa untuk melihat masalah Palestina - Israel ini kita harus melihat dengan cara pandang yang lebih luas, lebih lebar alih-alih hanya melihatnya dalam perspektif yang sempit. Kita harus dapat melihat dari perspektif masyarakat Israel dan Palestina sekaligus. Karena kenyataannya, konflik Palestina - Israel ini tidak sesederhana yang mungkin selama ini kita bayangkan.

Urgensitas Bahasa Sebagai Alat Logika

Kita semua tentu tahu pentingnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saat kita masih bayi, kita diajarkan bentuk bahasa yang paling sederhana: Kata. Pada awalnya, orang tua kita mengajarkan kata-kata paling sederhana seperti "Mama" atau "Papa". Lanjut saat kita masuk playgroup, maka kita akan belajar bentuk bahasa yang lebih kompleks: kalimat. Guru kita mengajari kita berbagai bentuk kalimat sederhana seperti "Ibu pergi ke Pasar", "Budi bermain Bola" dan kalimat-kalimat lain sejenis. Berlanjut ke sekolah dasar, kita akan mempelajari teknis pembentukan kalimat-kalimat positif, negatif, dan tanya. Sekolah menengah dan menengah atas adalah tingkat kita mempelajari bahasa lebih lanjut: bahasa sebagai sebuah pengantar logika. Dan jika anda mengambil jurusan sastra saat kuliah, maka anda akan tahu fungsi penting bahasa melebihi apa yang saya pernah tahu.

Sebagai seorang yang suka menulis, saya menyadari betul pentingnya penggunaan kata, frasa, klausa, dan kalimat dalam menyatakan sesuatu. Kita semua sudah tahu bahwa bahasa lisan berbeda dengan bahasa tertulis, apalagi bahasa tertulis ilmiah. Kesalahan menempatkan kata saja sudah memiliki makna berbeda. Misalnya "Ibu budi tidak mungkin pergi ke supermarket" dengan "Ibu budi mungkin tidak pergi ke supermarket" tentu punya makna yang sangat berbeda. Kesalahan menempatkan titik atau koma juga dapat berakibat fatal, misal "Ibu, kambing anda digigit anjing gila" tentu berbeda makna dengan "Ibu kambing, anda digigit anjing gila". Bahkan dengan kata yang sama pun kita masih bisa mendapatkan arti yang berbeda seperti "Budi bisa menyetir mobil" dengan "bisa ular Kobra sangat mematikan".

Dalam tulisan, bahasa berfungsi menghantarkan pemikiran sang penulis agar dapat dipahami oleh para pembacanya. Agar tidak terjadi salah paham dan misinterpretasi, penulis wajib menggunakan bahasa dan tata bahasa yang benar. Dalam debat-debat online yang sering saya perhatikan, kerap terjadi salah paham antara pihak pertama dengan pihak kedua terkait sebuah statement yang diakibatkan oleh penggunaan kata/kalimat yang kurang tepat atau kurang lengkapnya kalimat penjelas. Dalam kasus spesifik seperti di twitter, yang hanya memperbolehkan penulis menuliskan karakter sebanyak 140 buah, salah paham adalah hal yang biasa. Banyak "twitwar" (sebuah istilah yang bermakna debat dalam twitter) yang hanya berputar-putar sekitar penggunaan kalimat alih-alih substansi masalah yang sedang dibicarakan.

Lebih jauh, bahasa juga berpengaruh bagi proses berlogika, misalnya: "Kucing makan Ikan di rumah di Bekasi" mempunyai arti ambigu. Orang bisa mengartikan kucing makan ikan di rumah atau makan ikan di bekasi atau bahkan keduanya. kalimat "Ani tidak jelek" tidak dapat disimpulkan bahwa si Ani cantik. "Basuki menduduki kursi malas" tentu tidak dapat diterjemahkan maknanya sebagai Basuki menduduki sebuah kursi yang mempunyai sifat malas. "Kursi Malas" dalam kalimat tersebut adalah sebuah perumpamaan untuk benda yang menyerupai kursi. Masih banyak contoh-contoh lain yang tidak bisa saya tuliskan disini, namun tetap mempunyai kesimpulan yang sama, yakni menunjukkan pentingnya menggunakan bahasa yang benar dalam meraih sebuah kesimpulan.

Ironisnya, generasi muda sekarang banyak yang sudah melupakan hakikat bahasa sebagai pengantar logika. Maraknya penggunaan SMS, Twitter, ataupun BBM yang mempunyai karakter terbatas telah berkontribusi dalam rangka menumpulkan kemampuan berbahasa kita. Belum lagi fenomenon bahasa alay yang walaupun hanya terjadi dalam lingkup tertentu, namun tetap memiliki kontribusi "merusak" secara dini atas kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Budaya Instant dalam menggunakan bahasa secara umum telah berakibat pada dekonstruksi bahasa Indonesia.

Namun permasalahan pokok miskinnya kemampuan tata bahasa masyarakat negeri ini adalah rendahnya minat baca. Mari kita merenung sejenak: kapan terakhir kali kita membaca buku? Apakah hari ini, kemarin, minggu lalu atau bahkan tahun lalu? Kapan terakhir kali kita membaca buku bukan karena tuntutan UTS atau UAS tapi kerena kita memang ingin meresapi makna dari buku itu? Kapan terakhir kali kita baca karya-karya sastra terkemuka Indonesia alih-alih komik Jepang? Kapan terakhir kali kita mengunjungi perpustakaan?

Mesti kita akui bahwa salah satu masalah kronis negeri ini adalah rendahnya minat baca. Generasi muda negeri ini lebih tertarik membaca buku-buku komik ketimbang karya-karya sastra berkualitas. Dapat kita saksikan bersama di toko-toko buku betapa komik merajai rak-rak tulisan fiksi. Dan mungkin beberapa dari kita juga dapat merasakan betapa sulitnya mendapatkan buku-buku karya sastra Indonesia yang berkualitas. Apalagi mendapatkan buku referensi karya ilmiah yang berkualitas, mau tidak mau kita harus rela mencari dalam bahasa asing karena ketiadaan buku referensi dalam bahasa Indonesia (Mungkin bagi rekan-rekan yang masih berstatus mahasiswa akan merasakan hal tersebut).

Miskinnya minat baca ini berimbas pada kemampuan kita berlogika. Simplifikasi (menyederhanakan) masalah adalah kasus yang paling sering saya jumpai. Kemampuan kita menghubungkan suatu masalah dengan hal-hal lain sangatlah miskin, sehingga seringkali perumusan penyelesaian masalah yang diciptakan justru akan menimbulkan masalah lain. Sebagai contoh adalah tuntutan larangan merokok. Jika larangan merokok secara total diberlakukan, maka jutaan orang yang bergantung hidupnya pada industri rokok akan kehilangan pekerjaan. Kita dapat berwacana bahwa pemerintah RI dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru untuk mereka, tapi apa? Menciptakan lapangan pekerjaan tidak serta merta dapat terjadi begitu saja, perlu ada analisis pasar yang mendalam: Produk apa yang diciptakan, bagaimana pangsa pasarnya, berapa biayanya, ketersediaan anggaran, periode penentuan APBN, pajak, inflasi, tenaga ahli, kemampuan tenaga kerja dan lusinan variabel lainnya yang mungkin bahkan tidak terpikirkan oleh saya. Semua masalah-masalah tersebut terangkai menjadi satu dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Ketidakmampuan untuk menciptakan hubungan logis antara satu masalah dengan masalah lain mempengaruhi kemampuan memecahkan masalah (solvabilitas) kita. Itulah mungkin alasan utama mengapa bangsa kita sangat sulit untuk memecahkan suatu masalah secara utuh dan menyeluruh tanpa menimbulkan masalah baru. Dalam bidang sosial politik (yang merupakan latar belakang pendidikan saya), teori-teori dan berbagai macam konsep yang dipelajari di Universitas adalah hasil karya intelektual ilmuwan-ilmuwan Eropa dan Amerika. Sangat sulit untuk menemukan teori-teori yang berasal dari ilmuwan Indonesia. Bahkan dalam beberapa hal malah tidak ada penjelasan samasekali dari ilmuwan Indonesia. Kasus yang dihadapi oleh saya pribadi itu mungkin juga terjadi dalam sektor-sektor lain dikehidupan sehari-hari kita. Skill solvabilitas yang rendah membuat kita "terpaksa" mencontek metode penyelesaian masalah dari negara lain.

Berdasarkan pengalaman saya, makin kompleks suatu bahasa maka makin mudah untuk menjelaskan suatu permasalahan dan makin mudah pula dalam menyajikan solusi. Sebagai contoh bahasa Inggris: menurut Oxford English Dictionary, bahasa Inggris mempunyai 171.000 kata. Bandingkan dengan jumlah kosakata bahasa Indonesia yang hanya berjumlah 83.000 kata. Dengan jumlah kata yang lebih banyak, bahasa Inggris lebih mudah dipahami dalam konteks menjelaskan suatu penyelesaian masalah. Jurnal berbahasa Inggris jauh lebih mudah saya mengerti ketimbang jurnal dalam bahasa Indonesia. Hal itu karena bahasa Inggris memiliki lebih banyak kata yang bermakna khusus ketimbang bahasa Indonesia, yang kadang saya artikan ambigu. Ini menunjukan bahwa sifat partikular kata juga berpengaruh kepada efisiensi bahasa dalam menghantarkan sebuah bentuk logika.

Terlihat sepele namun kenyataannya cukup penting, itulah bahasa. Kita sehari-hari mungkin biasa berbahasa "asal" yang tidak memperhatikan struktur kalimat dan itu tidak jadi masalah. Namun dalam sisi lain, kemampuan berbahasaa ternyata cukup mempengaruhi kemampuat kita berlogika. Kemampuan berlogika tersebut berperan sangat penting, bahkan dapat disebut sebagai alat utama dalam proses penyelesaian masalah.

Bagaimanapun, saya bukan pakar bahasa. Tulisan ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi saya sebagai seseorang yang mempunyai hobi menulis dan penerjemah profesional. Banyak pakar-pakar bahasa di luar sana yang jauh lebih iqra dan faham mengenai seluk beluk pentingnya bahasa dalam fungsinya sebagai alat untuk logika. Tulisan ini pun saya yakini masih tidak bisa terlepas dari kesalahan-kesalahan dalam berbahasa. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menyulut keinginan kita semua, terutama saya sendiri, untuk semakin rajin membaca.

"Kenapa Kamu ngga Nulis Cerita Jie?"

Berawal dari pertanyaan seorang kawan lama, kawan SMA tepatnya, yang bertanya kepada saya "kenapa kamu ngga nulis cerita jie?". Pertanyaan yang diajukan karena kami sama sama tahu bahwa kami berdua suka menulis. Pertanyaan itu tidak langsung saya jawab, karena jujur saja, saya juga bingung dengan jawaban yang akan saya berikan. Dia sendiri adalah seorang penulis amatir yang sangat suka menulis cerita-cerita fiksi, yang beberapa kali sudah masuk media online. Sedangkan saya juga seorang penulis amatir yang justru lebih suka menulis non-fiksi ketimbang fiksi. Dari pertanyaan itulah (yang mana sampai hari ini belum saya jawab), saya akan mencoba menjawabnya dalam tulisan ini untuk diri saya sendiri.

Sebenarnya bertahun-tahun silam, saya suka menulis cerita-cerita fiksi seperti orang lain kebanyakan. Saat SD - SMP saya bahkan sudah bisa menulis cerita sepanjang 30 halaman ukuran A4, yang bercerita tentang perang Robot dimasa depan (entah hilang kemana naskah itu sekarang). Ceritanya cukup bagus menurut saya untuk ukuran anak SD. Selain cerita perang robot itu, saya juga banyak menulis cerita-cerita fantasi di buku tulis sekolah saya. Biasanya saya menulis saat jam istirahat atau jam pelajaran yang banyak nganggurnya. Saya mencicil tulisan-tulisan itu bertahun-tahun sehingga menghasilkan lusinan cerita fiksi versi anak SD - SMP.

Saya sempat rehat sejenak dari kegiatan tulis menulis saat memasuki kelas 3 SMP. Selain disibukkan oleh tugas-tugas sekolah, kegiatan les yang padat juga membuat saya tidak bisa melanjutkan kegiatan hobi saya itu. Well, disaat itulah naskah naskah "berharga" saya mulai hilang. Di kelas 3 SMP inilah saya menjadi tergila-gila dengan pelajaran Sejarah, terutama pada topik perang dunia. Selain membaca buku sejarah dari sekolah, saya juga menghabiskan uang jajan hanya untuk beli buku-buku sejarah di toko buku. Buku-buku sejarah tentang perang dunia I dan II yang berisi ratusan bahkan ribuan halaman itu kulahap semua. Dan tampaknya, disinilah titik balik antara kesukaanku dengan cerita fiksi yang kemudian beralih ke cerita non-fiksi.

Memasuki SMA, praktis saya absen dari kegiatan tulis menulis. Tidak ada waktu samasekali untuk menulis karena selain sibuk kegiatan sekolah, saya juga disibukkan dengan bisnis warnet yang sangat menghabiskan waktu saya.

Baru saat memasuki dunia perkuliahan, hasrat menulis saya kembali lahir. Bedanya, kali ini saya tidak tertarik menulis cerita-cerita fiksi dan justru menggilai tulisan-tulisan ilmiah. Saya kerap menghabiskan uang untuk pergi ke pasar buku bekas Senen dan membeli buku-buku politik-sosial disana. Semester-semester akhir masa perkuliahan saya, saya memperluas objek bacaan saya yang tadinya buku-buku berbahasa Indonesia saja menjadi jurnal-jurnal asing berbahasa Inggris (ini juga diakibatkan faktor ekonomi: Jurnal berbahasa Inggris dapat gratis diunduh dari internet, sedangkan buku berbahasa Indonesia harus beli).

Dan kini saat saya sudah berada di dunia kerja, saya sempat kembali tergoda untuk menulis fiksi. Selain karena pasar yang cukup menjanjikan, beberapa kawan penulis juga membujuk saya untuk menulis cerita fiksi. Sempat tertarik sih, tapi pada akhirnya saya berprinsip untuk tetap teguh berkonsentrasi pada karya tulis non-fiksi saya. Ada beberapa alasan mengapa saya tetap bersiteguh menulis non-fiksi:

Pertama adalah kecintaan saya pada dunia pendidikan. Saya yakin, paling tidak menurut pendapat saya, bahwa salah satu cara untuk mendukung dunia pendidikan Indonesia adalah dengan menulis karya tulis yang bermanfaat pagi wawasan manusia. Mengingat dunia pendidikan di Indonesia yang masih sangat tertinggal ketimbang negara-negara lain, hal terkecil yang dapat saya lakukan adalah dengan turut menyumbangkan pemikiran saya melalui tulisan-tulisan semi ilmiah dan ilmiah. Saya juga menyadari bahwa referensi ilmiah lokal bagi ilmu politik dan sosial di Indonesia masih sangat rendah (berdasarkan pada pengalaman pribadi saat menulis essay dan skripsi) dan menyulitkan bagi akademisi-akademisi kita untuk menyusun karya ilmiah. Maka dari itu, saya pribadi merasa akan lebih bermanfaat bila saya bisa menyajikan tulisan-tulisan baik ilmiah ataupun semi-ilmiah untuk memperluas wawasan pelajar-pelajar Indonesia.

Kedua, saya melihat bahwa kita sudah terlalu banyak penulis fiksi. Dalam tulisan saya di Kita Terlalu Banyak Menelan Fiksi saya sudah cukup menjelaskan jurang perbedaan antara pasar fiksi dan non-fiksi. Dengan banyaknya penulis fiksi yang bertebaran di bumi Indonesia, tidak perlu lagi saya menambah jumlah penulis fiksi tersebut. Walaupun saya sadari bahwa jumlah penulis tersebut belum cukup untuk permintaan pasar buku fiksi Indonesia yang luar biasa banyak, namun paling tidak sampai hari saya menulis blog ini, saya belum tertarik untuk mengikuti permintaan pasar.

Ketiga, saya merasa lebih baik saya tidak menulis cerita fiksi apapun ketimbang menghasilkan cerita yang sampah. Tentu kita semua tahu tidak semua buku-buku cerita fiksi yang kita temui di toko buku adalah buku cerita berkualitas dan bermisi, sebagian diantaranya hanya kisah kisah mainstream yang minus nilai moral. Mengingat kemampuan menulis fiksi saya dibawah rata-rata (menurut pendapat saya pribadi), maka lebih baik saya serahkan cerita fiksi-fiksi berkualitas itu kepada orang yang lebih berkompeten.

Fiksi dan Non-fiksi adalah dua hal yang saling melengkapi, disatu sisi dapat melengkapi kemampuan berlogika dan objektifitas dan disisi lain dapat memupuk sifat humanisme kita. Perbedaannya hanyalah, saya lebih berdiri pada pihak yang berfungsi untuk mengembangkan logika dan objektifitas, itu saja.

Dari tulisan ini setidaknya saya sudah menjawab pertanyaan kawan lama saya tersebut diatas untuk diri saya sendiri. Sedangkan jawaban untuk kawan saya tersebut kurang lebih akan sama dengan jawaban untuk diri saya, hanya saja saya belum sempat menemuinya.

Rasionalisasi Harapan Terhadap Jokowi

Kemenangan Jokowi sebagai gubernur baru DKI Jakarta sudah di depan mata, walaupun masih versi quick count, namun mengingat akurasi quick count cukup mendekati real count KPU, maka kemenangan ini sudah hampir menjadi kepastian. Harapan setinggi langit yang pernah diberikan kepada pasangan Jokowi Ahok dari rakyat Jakarta makin mendekati titik kulminasi nya. Janji-janji yang pernah dilontarkan oleh Jokowi beserta Ahok pada masa kampanye dulu akan segera terbukti realisasinya di lapangan dengan rakyat Jakarta sebagai saksinya. Dari sini lah saya hendak memperingatkan rakyat Jakarta dan diri saya sendiri khususnya bahwa ada baiknya kita menjaga "tingkat harapan" pada level sewajarnya.

Jokowi bukan Tuhan, bukan pula seorang manusia super. Dia hanyalah manusia biasa dari Solo yang dapat melakukan kesalahan dan kealpaan. Sejauh ini memang dia adalah walikota terbaik di Indonesia (saya katakan terbaik karena dia mendapatkan pernghargaan individu & kota terbanyak dari semua walikota di Indonesia), yang mungkin saja akan gagal dalam memimpin provinsi DKI Jakarta. Jokowi bisa saja terlena dengan jabatan sehingga justru membuat dia kurang serius dalam menggarap berbagai permasalahan di Jakarta. Entah apapun yang terjadi nantinya dengan Jokowi, yang pasti harapan rakyat Jakarta pada saat kampanye tidak akan pernah terlupakan.

Itulah mengapa ada baiknya rakyat Jakarta sedikit merasionalkan harapannya kepada Jokowi. Jangan kita berharap berlebihan bahwa Jakarta akan seperti New York, Berlin atau Sydney yang begitu rapi dan bersih. Jakarta adalah Jakarta, Jakarta adalah bagian dari negara Indonesia, Jakarta diisi oleh orang-orang Indonesia yang seperti ini. Jakarta bukan Berlin yang penduduknya adalah bangsa Jerman yang terkenal rajin dan berpikir maju. Jakarta bukan pula New York yang diisi bangsa Amerika yang sangat disiplin. Jakarta diisi oleh orang Indonesia yang sama-sama kita tahu semua...begini-begini saja. Maka dari itu, harusnya kita juga mengharapkan Jakarta akan lebih baik sesuai dengan level kita sendiri, level bangsa Indonesia.

Mungkin masalah yang paling diharapkan oleh sebagian besar penduduk Jakarta untuk dapat diselesaikan oleh Jokowi dalam tenggat waktu secepatnya adalah masalah kemacetan. Walaupun saya tidak paham apapun tentang manajemen transportasi, saya yakin bahwa masalah kemacetan di DKI Jakarta ini tidak bisa selesai dalam waktu 1 periode Jokowi. New York, Los Angeles, London adalah beberapa kota besar dunia yang mempunyai manajemen kota begitu canggih namum masih tetap saja berkutat dalam problematika kemacetan. Mungkin untuk "mencairkan" kemacetan di Jalan-jalan protokol seperti MH. Thamrin, Sudirman, & Gatot Soebroto kita bisa berharap 3-4 tahun kepemimpinan Jokowi. Namun untuk menghilangkan macet dari ibu kota secara total, masa jabatan Jokowi 2 periode pun tidak akan cukup untuk melakukannya.

Masalah banjir adalah masalah runner-up di Ibu Kota. Menurut saya, masalah banjir atau genangan air ini paling tidak perlu waktu satu tahun sebelum kita semua bisa merasakan hasilnya. Pengerukan atau pelebaran saluran air, pembuatan saluran baru dan semacamnya tentu butuh waktu yang tidak sebentar. Selain itu perlu partisipasi aktif dari pemerintah setempat daerah Bogor yang merupakan daerah "pembuang" air ke Jakarta, yang tentu hal tersebut juga sangat tergantung kepada kualitas pemkab Bogor.

Paling tidak ada beberapa hal yang dapat dengan segera kita buktikan dari janji-janji Jokowi. Pertama adalah layanan masyarakat di kantor-kantor pemprov. kepengurusan KTP, KK surat nikah dan hal-hal lain yang berkaitan dengan birokrasi seharusnya dapat kita rasakan paling lambat 3 bulan setelah Jokowi berkuasa di DKI. Mungkin bukan hal aneh bagi kita warga Jakarta kalau mengurus surat-surat maka akan butuh "uang pelicin" dan waktu yang sangat lama. Jokowi bisa menghapus itu semua dari DKI dengan reformasi birokrasi dan maksimalisasi kinerja PNS. Reformasi dan perbaikan kinerja PNS relatif lebih cepat dan mudah dilakukan Jokowi karena sifatnya yang internal (Pegawai Pemprov) ketimbang mengurus banjir dan macet yang sifatnya multi-side dan multi-subject.

Begitupun masalah jaminan kesehatan masyarakat. Mengingat bahwa RSUD berada dibawah langsung pemprov DKI Jakarta, maka untuk mengatur hal ini relatif lebih cepat (sama seperti mengatur kinerja Birokrasi). Menurut opini saya, paling 2 sampai 3 bulan warga miskin DKI sudah dapat fasilitas pengobatan dan perawatan gratis di Ibu kota.

Ketiga, sekaligus yang menurut saya paling krusial adalah menghapus birokrat-birokrat korup di DKI Jakarta. Jokowi selaku gubernur sekaligus pemimpin tertinggi untuk wilayah DKI Jakarta mempunyai kuasa penuh untuk memecat, me-mutasi dan men-demosi bawahannya yang dianggap tidak bekerja dengan benar. Jokowi sebagai atasan mereka tentu tahu kalau ada bawahannya yang "tidak beres", dapat langsung bertindak keras bilamana ada pegawainya tidak beres. Untuk mulai melakukan hal ini, Jokowi dapat langsung membuktikan kepada rakyat Jakarta hanya dalam hitungan hari.

Sebagai warga DKI Jakarta yang cerdas, adalah suatu hal yang sangat bijak bila kita mulai merasionalisasi ekspektasi terhadap Jokowi. Jokowi tidak dapat melakukan keajaiban di Kota Jakarta yang maha kompleks ini. Tidak ada istilahnya perubahan positif yang datang secara instant dan cepat, semua memerlukan proses dan waktu yang tidak sebentar. Mungkin kita memang sudah muak dengan kerusakan di Jakarta sehingga kita tidak sabar lagi untuk menikmati Jakarta yang manusiawi. Namun hendaknya hal tersebut tidak merusak akal sehat (rasio) kita bahwa semua itu butuh proses dan kerja yang tidak mudah, baik dari pihak pemprov dan warga Jakarta itu sendiri.

Rohis Sarang Teroris: Falasi Logika?

"ROHIS SARANG TERORIS" seakan-akan menjadi sebuah fakta yang dinyatakan oleh Metro TV. Demonstrasi anak-anak Rohis hari minggu lalu, yang notabenenya masih anak-anak polos yang belum "tercemari" oleh strategi-strategi propaganda dan politik praktis, banyak menyedot perhatian media massa lokal. Posisi Metro TV pun terpojok, hingga harus mengklarifikasi beritanya itu ke KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Saya sendiri posisinya seorang muslim yang memang tidak pernah ikut organisasi Rohis namun hampir semua teman saya dulu waktu SMA adalah anggota Rohis hingga kini, tidak ingin terbawa dalam justifikasi apakah benar Rohis sarang teroris atau bukan. Namun coba mari kita bahas berita ini dari sudut pandang lain, yaitu logika linguistik, yang mungkin selama ini mungkin terlupakan dalam melihat permasalahan antara Metro TV dengan Rohis kali ini.


Pertama saya tegaskan disini dengan sejelas-jelasnya bahwa pernyataan ROHIS SARANG TERORIS adalah saya dapatkan dari berbagai sumber berita ataupun foto aksi demonstrasi kemarin (ini, ini, ini, ini dan lain sebagainya, dapat anda googling). Mungkin ada beberapa pertanyaan yang muncul, seperti: 1). Mengapa  berita yang berjudul ROHIS BUKAN SARANG TERORIS juga dimasukkan? karena pernyataan tersebut (Rohis bukan sarang teroris) adalah sebuah kalimat reaksi dari kalimat aksi sebelumnya. Dalam konteks bahasa tertulis, bila sebuah kalimat reaksi mengandung sisipan "bukan", maka subjek dan pelengkapnya mengikuti kalimat aksi sebelumnya. Contoh: Ada kalimat reaksi denial "Budi bukan maling" maka sebelumnya ada kalimat aksi yang berupa "Budi adalah maling". "Bukan" menunjukkan anti thesa dari sebuah statemen sebelumnya (aksi-reaksi). "Bukan" tidak bisa berdiri sendiri, karena tanpa atribut anti thesa yang menyertainya dia tidak punya makna apapun. Dari sinilah saya mengambil konklusi bahwa pernyataan Rohis Bukan Sarang Teroris lahir dari pernyataan (entah fakta atau sekedar asumsi) Rohis Sarang Teroris. 2). Kenapa saya mengambil sumber dari berita alih-alih menyaksikan langsung? Dalam dunia penelitian, kita tidak selalu harus terjun langsung dilapangan bila sudah ada sumber kredibel yang dapat menyajikan informasi. Media yang saya ambil contohnya diatas juga sudah cukup ternama kredibilitasnya sehingga saya rasa tidak perlu kita ragukan kebenaran berita faktanya. Namun seperti biasa, selalu ada anomali dalam sebuah fenomenon. Bisa saja istilah Rohis Sarang Teroris adalah pelintiran media-media lain yang MUNGKIN karena hal tidak disengaja atau disengaja untuk menjatuhkan Metro TV. Namun kesimpulannya, saya beranggapan (dengan berdasarkan pada penalaran-penalaran diatas) bahwa beberapa pihak disana (termasuk MUI) berpikir bahwa Metro TV mengatakan Rohis sebagai sarang teroris.

Kedua, tulisan ini tidak menggeneralisasi bahwa semua pendukung Rohis Vs Metro TV ini mengatakan bahwa Metro TV mengeluarkan pernyataan bahwa Rohis Sarang Teroris. Ada beberapa kawan yang memang mengakui bahwa Metro TV tidak bicara seperti itu samasekali. Jadi tulisan ini ditujukan untuk membicarakan mereka yang berpikir bahwa Metro TV menuduh (saya sebut menuduh karena tidak/belum terbukti secara hukum) Rohis Sarang Teroris. Cukup jelas saya rasa.

Ketiga, Framing. Saya membatasi tulisan ini hanya pada kesesatan dalam membuat konklusi ROHIS SARANG TERORIS tanpa dasar premis yang valid. Saya tidak membicarakan apakah benar Rohis di berbagai sekolah di Indonesia menjadi sarang gerakan terorisme (walaupun secara subjektif saya tidak berpendapat demikian).

Baiklah, mari kita masuk kedalam inti pembahasan Falasi logika ini. ROHIS SARANG TERORIS kita pisah menjadi tiga kata: Rohis, Sarang dan Teroris. Untuk kata "Rohis" dan "Teroris" saya kira jelas maksudnya. Sedangkan untuk kata "Sarang" inilah yang perlu kita kaji lebih jauh. Sarang pada dasarnya adalah tempat dimana hewan dapat beristirahat, bersembunyi, berkembang biak, merawat anak, menyimpan makanan atau berkumpul dengan kawanannya. Kita lihat bahwa tidak semua binatang mempunyai sarang: Kuda, kucing, beruang, Ikan Paus, Kerbau dll adalah hewan-hewan yang tidak memiliki sarang. Sedangkan Semut, laba-laba, Lebah, Tawon, Berang-berang dan lain-lain adalah contoh hewan yang memiliki sarang. Maka definisi  ROHIS SARANG TERORIS, dengan berkaca dari definisi "sarang" pada dunia animalia, maka kurang lebih diartikan sebagai "Tempat dimana teroris beristirahat, bersembunyi, berkembang biak, merawat anak, atau berkumpul dengan kawanannya".

Sekarang mari kita lihat screenshot editorial 5 September 2012 di Metro TV sebagai berikut ini:
Yang dipermasalahkan mereka yang merasa Metro TV mengatakan Rohis Sarang Teroris adalah point nomor tiga "Masuk melalui Program Ekstra Kurikuler Di Masjid-Masjid Sekolah". Apakah kalimat tersebut mempunyai arti identik bahwa "Rohis adalah Tempat dimana teroris beristirahat, bersembunyi, berkembang biak, merawat anak, atau berkumpul dengan kawanannya"? Apakah benar bahwa jika saya "masuk melalui pintu A" maka Pintu A adalah tempat saya beristirahat, bersembunyi dan lain sebagainya? Apakah benar jika "Rekruitmen TNI masuk melalui organisasi Paskibra di SMA-SMA unggulan di Jakarta" maka diartikan Paskibra itu adalah sarang TNI? Saya kira itu loncatan berpikir yang luar biasa ngawur dan tidak masuk akal samasekali.

Selain itu, yakinkah kita bahwa Rohis hanyalah satu-satunya Ekstra Kurikular di masjid-masjid sekolah dan berlaku universal? Sayangnya, pengalaman saya sendiri membantah hal ini: Di sekolah saya, masjid sekolah juga dimanfaatkan kelompok ekstra kurikuler Rebana untuk berlatih. Jadi generalisasi kelompok yang mengatakan bahwa di masjid hanya ada Rohis terbukti salah, paling tidak disekolah saya.

Sejauh ini, hanya kedua hal itulah yang cukup mengganggu pemikiran saya. Sejauh yang saya amati, pernyataan presenter juga tidak menunjukkan gejala yang menuduh Rohis adalah sarang Teroris. Namun bagaimanapun saya bisa salah jika ada kalimat atau kata-kata dari Metro TV yang terlewati oleh saya. Bisa saja juga media-media lain yang memelintir pernyataan narasumber terkait statement yang menuduh Metro TV mengatakan Rohis Sarang Teroris, atau faktor hambatan informasi lainnya.

Bagaimana pendapat saya secara subjektif mengenai kebenaran apakah Rohis tempat teroris berkumpul? Pengalaman saya menunjukkan bahwa Rohis BUKAN tempat teroris berkumpul dan bersembunyi. Pengalaman saya menunjukkan bahwa Rohis adalah tempat pendidikan berorganisasi, bersosialisasi, dan pendidikan agama yang baik. Di Rohis sekolah saya pada zaman saya SMA, yang saya tahu tidak pernah ada gerakan-gerakan radikal yang masuk. Secara emosional pun saya cukup attached dengan Rohis walaupun saya tidak pernah menjadi anggota Rohis karena banyak kawan-kawan saya yang ikut organisasi Rohis. Namun kedekatan dan pengalaman baik saya dengan Rohis bukan berarti membutakan logika saya untuk berpikir rasional dan tidak membela Rohis secara membabi buta bahkan tidak menyambung.

Proud Of You Jakartan !

Pilgub DKI akhirnya selesai dan dengan sukses menempatkan jagoan saya, Joko Widodo alias Jokowi beserta wakilnya Ahok sebagai pemenang Pilgub DKI putaran kedua 2012 dengan masa jabatan 2012 - 2017. Untuk sementara ini (sampai hari saya menulis tulisan ini) belum ada pengumuman resmi dari KPU DKI mengenai pemenang pilgub DKI putaran kedua, yang ada hanyalah Quick Count dari berbagai pihak yang secara seragam menunjukkan hasil yang sama, yaitu kemenangan Jokowi Ahok. Terlepas dari siapapun pemenangnya, rasa bangga luar biasa tinggi saya tujukan kepada penduduk kota Jakarta yang telah dengan ikhlas dan dewasa berpartisipasi dalam pesta demokrasi terbesar dalam tingkat provinsi ini.

Kenapa saya bangga?

Pertama: Saya melihat sudah mulai terbit kesadaran politik dari kelompok muda (17-30) untuk berpartisipasi dalam sebuah sistem demokrasi. Baik itu dari omongan di kampus-kampus, kantor, dan teman-teman rumah, mulai menunjukkan bahwa pemuda kita mulai perduli dengan konstelasi politik Indonesia. Walaupun pembicaraannya masih sangat mendasar, namun paling tidak terlihat bahwa mereka mempunyai kepedulian dan kemauan untuk merubah lingkungannya melalui jalur politik. Mereka mulai rajin mengikuti program-program cagub yang diutarakan baik itu di televisi, internet ataupun media massa lainnya. Mereka seakan-akan mulai punya pikiran "gimana ya caranya milih pemimpin yang bisa bikin Jakarta makin bagus?", suatu hal yang sulit saya temui dikalangan muda pada pilgub atau pilpres sebelumnya.

Dulu, argumen mereka (termasuk saya juga dulu) adalah siapapun pemimpinnya tidak akan berpengaruh ke hidup saya. Politik hanyalah masalah elit-elit, rakyat tiada perlu ikut campur apalagi merasakan hasilnya. Dulu kami hanya berpikir bagaimana memenuhi kebutuhan hidup kami tanpa pernah mempertimbangkan faktor pemimpin.

Kini, mereka dan termasuk saya sadar bahwa bagaimanapun kualitas kehidupan rakyat tidak bisa dilepaskan dari faktor pemimpinnya. Rakyat butuh pemimpin yang adil, skillful, dan bijak agar dapat hidup sejahtera. Dan inilah yang saya banggakan dari Jakarta: kedewasaan berpolitik kita relatif lebih baik dari pada yang sebelum-sebelumnya. Paling tidak dalam konteks tertentu, kepedulian rakyat pada proses politik dapat mencegah lahirnya kembali rezim Otoritarian dan bisa mengembangkan demokrasi pada level yang tinggi.

Alasan kedua mengapa saya bangga kepada warga Jakarta adalah Pilgub 2012 ini relatif damai dan tidak ada konflik horizontal terbuka. Mungkin memang ada kecurangan dan sedikit tensi disana-sini, namun tidak pernah benar-benar terjadi sebuah benturan. Rakyat Jakarta seakan-akan sadar bahwa perbedaan pandangan politik ini hanya sementara, toh pada akhirnya mereka akan bersatu lagi sebagai tetangga, kawan, rekan kerja, atasan, klien dan lain-lain sebagai warga Jakarta yang satu. Rakyat Jakarta tahu bahwa pada akhirnya mereka hanya akan punya 1 gubernur, yang siapapun dia, semua harus mengikhlaskannya sebagai pemimpinnya yang sah. Kesimpulannya, Pilgub DKI tahun ini relatif damai dan tanpa ada konflik-konflik yang berarti.

Ketiga: Jumlah golput menurun di putaran ke dua. Dalam sejarah pemilu di Indonesia, belum pernah ada pemilu putaran kedua yang dimana jumlah Golputnya berkurang. Selalu dalam putaran kedua pemilu apapun (Presiden atau kepala daerah) jumlah Golputnya senantiasa meningkat. Namun dalam fenomenon pilgub DKI 2012, jumlah Golput diputaran kedua justru berkurang (sekitar 0,3 persen) ketimbang putaran pertama. Hal ini menggambarkan betapa tinggi harapan warga Jakarta terhadap perubahan. Fenomenon ini sekaligus mengisyaratkan bahwa penduduk Jakarta mulai sadar bahwa Jakarta tidak akan berubah jika mereka sendiri tidak melalukan aksi nyata terkecil (nyoblos).

Keempat, khusus untuk relawan kotak-kotak yang telah melakukan Flashmob minggu lalu tanggal 16 September 2012, ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Indonesia sebuah event yang cukup rapi dan terkoordinir yang diikuti oleh ribuan manusia, tanpa dibayar (termasuk saya) dan demi seorang calon pemangku jabatan politik. Entah apa artinya ini, yang pasti dari acara itu terlihat harapan warga Jakarta yang sedemikian besar kepada salah seorang calon gubernur. Ini juga memperlihatkan pada kita bahwa relawan-relawan gerilyawan pendukung kandidat politik juga bisa berkreasi secara luar biasa, tidak kalah dengan acara-acara terkoordinasi dari parpol.

Akhir kata, PROUD OF YOU JAKARTAN ! Semoga semangat fair play dan kedewasaan berdemokrasi ini bisa menular ke daerah-daerah lain di Indonesia

Kita Terlalu Banyak Menelan Fiksi


Beberapa hari lalu saya "survey" sederhana ke beberapa toko buku di Jakarta, baik yang sudah terkenal maupun yang baru-baru buka, termasuk toko-toko buku import juga saya sambangi: dari Jakarta Barat, Timur, Selatan dan Pusat (utara ngga sempat, keburu malam). Banyak hal yang saya cermati dari survey seadanya itu, namun dalam tulisan ini saya ingin menggaris bawahi satu hal, yaitu jumlah buku fiksi (teenlit, novel, komik dsb) yang jauh lebih banyak ketimbang buku non-fiksi (buku sejarah, buku referensi dsb). Penerbitnya pun lebih beranekaragam ketimbang penerbit buku non-fiksi.
Saya tidak menyalahkan siapapun, baik itu penerbit, toko buku ataupun penulis. Saya tahu persis posisi penerbit dan toko buku yang berorientasi bisnis, dimana buku-buku yang diterbitkan dan dijual sesuai dengan keinginan pasar. Tidak mungkin sebuah penerbit atau toko buku menerbitkan dan menjual buku-buku yang tidak ada peminatnya di pasar, tentu bukunya tidak akan laku. Posisi seorang penulis saya tahu persis karena saya juga sedikit lama berkecimpung dalam dunia tulis menulis, sehingga sayapun memahami bahwa mustahil untuk bisa memaksakan seseorang (penulis) untuk menulis sesuatu yang tidak dia sukai, paling tidak dalam rangka menghasilkan sebuah karya yang baik. Selain itu juga, penulis juga (kadangkala) berorientasi pada pasar, sehingga akan percuma bilamana sang penulis menulis suatu karya namun tidak ada pembacanya.

Kalaupun saya "dipaksa" untuk mencari kambing hitam dari miskinnya buku non-fiksi dipasaran buku Indonesia, maka saya lebih suka untuk menyalahkan sistem pendidikan kita. Salah seorang dosen saya, seorang penulis buku, pernah berkata saya "Seorang mahasiswa S1 itu seharusnya bisa menghasilkan paling tidak satu buku!". Saya tidak tahu maksud pasti dari dosen saya tersebut, namun tampaknya kini saya dapat memahami maksud beliau: Saya 3 kali terlibat dalam proyek penulisan ilmiah secara formal: 1). Penulisan Essay Lomba; 2). Penulisan Skripsi; 3). Penulisan buku (sedang berlangsung). Sedangkan penulisan semi-ilmiah saya sulit dihitung jumlahnya, puluhan hingga bahkan ratusan artikel (sebagian diantaranya hilang karena website saya terblokir). Dari kesemua tulisan yang telah saya tulis, ada dua kesamaan dalam menulis semua tulisan non-fiksi: Verifikasi data (kalau mustahil dilakukan, verifikasi sumber data) dan cara berpikir yang urut dan logis.

Saya pribadi merasa bersyukur 2 kali mendapatkan mata kuliah yang berhubungan dengan logika: Dasar-dasar Logika dan Filsafat Ilmu Politik. Kedua mata kuliah inilah yang paling besar jasanya dalam membentuk diriku yang dapat memahami runtutan logika. Dan beruntungnya lagi, selama saya kuliah saya selalu mendapatkan dosen yang suka memerintah muridnya untuk berdialektika (berdiskusi), sehingga saya belajar banyak cara mengeluarkan argumen ilmiah dengan benar tanpa melakukan hominem (kesesatan) atau framing yang tendensius. Kemudian saya coba tanyakan kepada rekan-rekan mahasiswa lain kala itu yang kuliah di kampus negeri dan swasta lainnya, ternyata tidak semua kampus memberikan mata kuliah dasar-dasar logika atau ilmu yang berkaitan dengan pelatihan kemampuan mengembangkan logika. Bahkan di beberapa kampus, berdasarkan cerita rekan-rekan saya, banyak dosen yang jarang mengadakan diskusi ilmiah alias hanya mendiktekan materi untuk dicatat.

Dari situ saya kemudian apa yang dimaksud oleh dosen saya tadi, ternyata beliau hendak mengatakan bahwa seorang mahasiswa, dimana kemampuan logikanya seharusnya telah terasah melalui proses dialektik dan kegiatan belajar di dalam kelas, bisa membuktikannya dalam bentuk buku. Kenapa buku? karena di dalam bukulah segala runtutan sebab akibat, verifikasi data, kemampuan untuk menghubungkan antara satu fenomenon dengan fenomena lainnya dengan logis dan kemampuan berdialektika sekaligus dijadikan satu, suatu hal yang tidak dapat kita temukan dalam cerita fiksi.

Lalu apa hubungannya semua cerita diatas dengan banyak buku fiksi ketimbang non-fiksi. Sederhana saja, sistem pendidikan kita yang seakan-akan kurang mementingkan kemampuan berlogika, sehingga mahasiswa pun seakan-akan "tidak tahu" dan tidak terbiasa dengan bagaimana cerita menghubungkan secara logis antar fenomena dan mencari data valid. Walhasil ketika lulus, mahasiswa itupun tetap mewarisi ketidaktahuannya dan saat dia menulis, menulis fiksilah dia. Begitupun dengan permintaan pasar yang penuh dengan fiksi: Iwan Piliang, seorang Citizen Reporter Senior pernah menulis bahwa minat baca mahasiswa dan pelajar sekarang ini sangat menyedihkan. Sontak saya pun mengamini 1000 kali pernyataan beliau ini. Kemiskinan niat baca ini lahir akibat sistem pendidikan yang berorientasi kepada hasil nilai di raport alih-alih ilmu pengetahuan sendiri. Pelajar, termasuk mahasiswa menjadi terjebak dalam jurusannya sendiri, merasa perlu membaca buku hanya yang berguna untuk mengatrol nilai ataupun IPK nya. Makna ilmu pengetahuan diartikan begitu sempit bak katak dalam tempurung: wawasan menyempit, kemampuan memahami masalah pun menjadi miskin, seakan-akan tahu padahal tidak tahu, seakan-akan paham padahal mengertipun tidak. Hasilnya, pelajar dan mahasiswa merasa tidak perlu memperkaya wawasan lagi melalui buku. Rasa puas terhadap wawasan diri sendiri ini mengakibatkan mereka "malas" menambah ilmu dengan membaca hal-hal yang mengandung wawasan, mereka lebih suka menghabiskan (sebagian besar, sangat besar bahkan) waktunya untuk membeli dan membaca cerita-cerita khayalan.

Perlu dicatat bahwa saya bukan seorang anti fiksi. Saya sendiri penggemar berat hasil-hasil karya Dan Brown, Enid Blyton, dan Jules Verne. Namun, saya setidaknya sadar diri untuk mengimbangi diri saya antara fiksi dan fakta, antara khayalan dan realita, antara utopia dan pragmatist. Terlalu banyak menyerap fakta akan membuat kreatifitas dan idealisme saya terkikis. Namun sebaliknya, menyerap terlalu banyak fiksi bisa membuat saya buta akan realita dan melayang dalam mimpi sendiri.

Well, All right, kembali lagi ke topik utama: Banyaknya buku fiksi di rak-rak toko buku Indonesia adalah ekses dari permintaan pasar kita yang lebih suka menghibur diri ketimbang memperkaya diri dengan ilmu. Saudara saya yang belajar di AS pernah berkata bahwa, di AS, bazar buku hampir tiap bulan diadakan dan sebagian besar adalah buku-buku non-fiksi. Toko-toko buku pun banyak yang menjual buku-buku referensi di raknya alih-alih buku novel (itulah mengapa banyak publisher non-fiksi di AS, jauh lebih banyak daripada di Indonesia). Tidak usah jauh-jauh keluar negeri, tahun 1992 - 1995 adalah masa-masanya saya rajin ke toko buku Gramedia & Gunung Agung di Jakarta. Waktu itu saya hobi ke toko buku itu karena ingin membeli buku-buku tentang Dinosaurus. Seingat saya (dan ingatan saya masih sangat amat jelas), rak buku fiksi di Toko Gramedia Matraman ketika masih jauh sangat sedikit ketimbang buku-buku non-fiksi (yang mana waktu itu saya tidak paham apa maksud dari buku-buku njelimet itu). Coba bandingkan sekarang, zona rak komik/buku fiksi bahkan lebih luas hingga 2 kali lipat ketimbang rak buku-buku referensi.

Bagaimanapun ini hanyalah hipotesis saya berdasarkan referensi tokoh ternama, pengalaman pribadi, observasi rekan-rekan dan kesaksian teman. Saya bisa salah, tapi bisa juga benar atau bahkan bisa kedua-keduanya. Intinya adalah saya berharap bahwa mudah-mudahan pemuda negeri ini tidak selamanya terjembab dalam dunia fantasi.

Tiga Macam Orang di Pilgub DKI.

Ada hal unik yang terjadi selama masa kampanye Pilgub DKI tahun ini: Orang-orang yang tadinya tidak kentara orientasi atau pemahaman politiknya mulai terlihat aslinya, baik itu dalam sosial media ataupun dunia nyata. Kawan-kawan saya yang tadinya terlihat seperti tidak menaruh perhatian terhadap politik, mulai mengeluarkan opininya terkait pilgub DKI ini. Secara garis besar, ada 3 macam manusia di Indonesia ini dalam menyikapi strategi-strategi politik terkait pilgub DKI ini (berdasarkan pengamatan saya di twitter dan lingkungan rumah - kantor)

1. Orang yang Mengerti politik.
Kelompok masih sangat sedikit, mungkin perbandingannya hanya 1 dari 10 orang yang faham mengenai dinamika dunia politik. Orang-orang ini mengerti studi politik atau politik praktis di lapangan, maka dari itu mereka dapat dengan tegas dan jelas menyuarakan opininya: ada yang memilih Foke, ada yang memilih Jokowi dan ada pula yang memilih netral. Tidak jarang ketika orang-orang yang paham politik ini saling berseberangan pendapat, muncullah debat-debat (kalau di twitter disebut dengan Twitwar). Orang yang mengerti politik ini mengerti dengan jelas resiko, kelebihan, kekurangan dan konsekuensi masing-masing calon, dan mereka mempunyai kesiapan lebih atas apa yang akan terjadi di masa mendatang terkait output pilgub mendatang. Hampir semua kelompok ini tidak ingin menjadi bagian dari Golput.

2. Orang Tanggung
Kelompok tanggung ini adalah kelompok yang "sangat sedikit" paham tentang politik. Kemungkinan kelompok ini adalah didominasi simpatisan baru partai politik atau mahasiswa ilmu politik tingkat awal yang mana level-level itu masih banyak disodori dengan idealisme-idealisme politik klasik, dimana istilah - istilah subjektif "seharusnya", "sebaiknya" dan sebagainya masih sangat mendominasi. Kelompok ini mengisi 3 dari 10 orang yang berbicara mengenai pilgub. Kelompok ini, pada beberapa individu masih dirundung rasa kebingungan untuk memilih cagub yang mana. Kelompok punya punya pendirian sendiri, walaupun pendirian tersebut sangat rapuh bila di counter dengan argumen lain (ketidakmampuan menciptakan counter argument). Ciri kelompok ini adalah mereka sudah berorientasi pada program alih-alih kepribadian.

3. Orang Tidak Paham
Parahnya, 6 dari 10 orang yang berbicara pilgub DKI tidak tahu samasekali mengenai studi politik. Yang unik, 80% dari kelompok ini skeptis dan apatis dengan pilgub DKI 2012 (ingin golput). Berbeda dengan kelompok Orang Tanggung yang tidak begitu vokal, kelompok ini justru lebih vokal. Namun karena ketidaktahuannya, suara kelompok ini tidak pernah dianggap sebagai pertimbangan serius dalam meletakkan fondasi dalam rangka memilih salah satu calon. Kelompok ini sangat mudah termakan kampanye-kampanye sesat dan manipulasi data, termasuk kampanye oldschool yang mengedepankan kesukuan dan agama.

Demikianlah kiranya sedikit opini dari saya mengenai tipe-tipe orang menjelang Pilgub DKI berdasarkan tingkat pemahamannya. Jadi, di kelompok manakah anda berada?

HAM Itu Tidak Mutlak (Konklusi)

Banyak artikel berbahasa Indonesia, baik itu yang tercetak ataupun online, yang mengatakan HAM (Hak Asasi Manusia) itu mutlak. Saya mendefinisikan mutlak disini secara luas, yang artinya mutlak dari berbagai macam perspektif, mutlak dari dimensi waktu dan mutlak dari dimensi tempat. Namun bagaimanapun, berdasarkan pengamatan dan apa yang saya pelajari, fakta menunjukkan bahwa sesungguhnya sifat kemutlakan HAM itu tidak pernah ada. Kemutlakan HAM hanya terdapat dalam tulisan-tulisan hukum seperti UDHR atau UUD 45, namun praktiknya sangat sulit bahkan untuk dibilang mendekati absolutisme HAM.

Kita mulai dari perspektif itu sendiri. Dalam tulisan ini saya akan gunakan perspektif ilmu sosial dan politik. Mungkin pembaca sekalian kenapa saya tidak menggunakan perspektif hukum. Alasan saya jelas: Hukum bersifat lokal dan sekaligus merupakan hasil rekayasa manusia yang disengaja. Kalaupun saya menggunakan Hukum internasional, maka sifatnya mendadak dan didasarkan pada satu-dua peristiwa, yaitu Perang Dunia I dan Perang Dunia II sekaligus dengan holocaust nya dan sifatnya yang "rekayasa tersengaja" itulah yang tetap menjadi kendalanya. Sedangkan dua perspektif lainnya, yakni sosial dan politik sifatnya lebih human nature, tidak secara sengaja terjadi dan merupakan sebuah proses internal yang tidak terelakkan (inevitable process) dalam dinamika sosial. Hukum (tertulis) selain itu juga merupakan rekayasa kelompok intelektual, apalagi jika kita berbicara dalam konteks abad 20-21. Kelompok intelektual inipun terbatas, tidak dapat mewakili semua kelompok masyarakat, bahkan dalam bentuk demokrasi paling ideal sekalipun. Seperti PBB contohnya, hukum HAM yang tertuang dalam Universal Decralation of Human Rights atau Piagam Hak Asasi Manusia tercipta dengan wawasan Europecentrism alih alih mewakili masyarakat komunal Afrika, Asia dan Amerika Latin.

Mari kita mulai dari analisa sosial dan dimensi ruang. Masyarakat primordial ataupun tradisional, yang mungkin bisa lebih dengan mudah kita pahami dengan istilah "suku", mempunyai kebiasaan atau kebudayaan yang berbeda satu sama lain. Dalam tulisan saya di http://www.dagelanwayang.com/2012/03/tinjauan-kritis-terhadap-universalisme.html saya memberikan contoh teori serta perbedaan cara pandang terhadap suatu aktivitas antar kultur (kebudayaan). Masyarakat Eropa secara umum beserta dengan kultur yang menjadi atributnya, tentu berbeda dengan kultur masyarakat Afrika pada umumnya. Budaya dari bangsa Papua tentu berbeda dengan kebudayaan dari bangsa Nordik di Norwegia. Itulah apa yang saya sebut dengan Relativisme Kultural (partikularisme kebudayaan).

Apakah relativisme kultural merupakan sebuah rekayasa tersengaja seperti hukum (tertulis)? Tentu tidak. Relativisme kultural tercipta karena adanya pengalaman-pengalaman kelompok masyarakat yang tidak terencana sebelumnya dan saling berbeda satu sama lain. Pengalaman itu bisa karena faktor sumber daya makanan, cuaca, iklim, binatang buas, penyakit dan lain sebagainya. Pengalaman-pengalaman itu, yang tentunya berbeda untuk tiap kelompok kebudayaan, menimbulkan perbedaan antara kelompok budaya satu dengan kelompok budaya lainnya. Relativisme kultural tidak terencanakan dan dirumuskan oleh segelintir orang seperti hukum tertulis modern, dia terjadi secara tiba-tiba dengan proses yang cenderung lambat (Lintas generasi) dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat tanpa masyarakat tersebut menyadarinya.

Maka mari kita lihat dari dimensi waktu. Seperti yang telah saya paparkan diatas, pengalaman lah yang membuat komunitas satu berbeda dengan komunitas lainnya. Pengalaman terbentuk karena ada usia peradaban. Namun yang jadi pertanyaan apakah pengalaman selalu berbanding lurus dengan usia peradaban (komunitas tersebut). Jawaban dan penjabaran atas pertanyaan seputar dimensi waktu dalam memahami HAM bisa anda baca di http://www.dagelanwayang.com/2012/05/evolusi-ham-sebuah-perjalanan-panjang.html. Dalam tulisan tersebut saya menuliskan mengenai evolusi standar Hak Manusia secara global, mulai dari Codex Hammurabi hingga UDHR. Evolusi HAM inilah yang merupakan salah satu poin mengapa saya menyebut HAM tidak mutlak: Jika bersifat absolut maka dia akan mengalahkan dimensi waktu dimana sebuah evolusi tidak akan dibutuhkan karena dia telah mencapai titik kesempurnaan dan kemutlakan (absolut).

Demikian kiranya secara singkat kesimpulan saya untuk mengatakan bahwa HAM tidak akan pernah bersifat mutlak. Walaupun dalam teks hukum sering tertulis bahwa HAM adalah sebuah hak yang integral dengan umat manusia, namun fakta dilapangan yang telah, sudah, dan akan terjadi menunjukkan bahwa HAM tidak bisa bersifat absolut.

Ngawurnya Akun Twitter TRIOMACAN2000 Terkait Hubungan Jokowi Dengan Prabowo

Anda sekalian mungkin tahu dengan akun twitter kontroversial pseudonim @triomacan2000 yang seringkali kultwit hal-hal yang sangat bombastis. Terakhir kultwit TM2000 yang saya stalking (karena saya bukan follower dia) adalah kultwit mengenai hubungan antara Jokowi dengan Prabowo. Menurut pemikiran TM2000, Jokowi sangat berbahaya bila terpilih menjadi gubernur DKI 2012 karena digadang-gadang akan membawa agenda kepentingan Prabowo Subianto pada pilpres 2014. Perlu dicatat bahwa TM2000 melihat Prabowo Subianto sebagai sosok yang anti-demokrasi, baik itu karena faktor sejarahnya (Tragedi '98) ataupun latar militer yang merupakan sebuah kombinasi dari watak pemimpin otoriter ala Soeharto. Link kumpulan kultwit TM2000 tentang hubungan Jokowi dan Prabowo ini bisa anda sekalian baca di http://chirpstory.com/li/18486 .

Sebelum saya membahas cacatnya argumen TM2000 dalam kultwit Jokowi - Ahok dengan Prabowo tersebut diatas, saya akan sedikit gambarkan mengapa akun pseudonm seperti TM2000 tidak layak dipercaya apalagi menjadi landasan hipotesis atas suatu masalah.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pertama adalah kredibitas sumber akun itu sendiri. Yang pertama tentu kita semua merasa absurd mengenai siapakah TM2000 itu sebenarnya. Ada banyak praduga diluar sana, salah satunya menunjuk kepada Raden Nuh (Silahkan Googling siapakah dia itu), namun secara mendasar, TM2000 sendiri tidak pernah mengakui siapa dirinya. Faktor anonimitas inilah yang membuat data-data yang disajikan TM2000 menjadi kurang terpercaya, karena seperti yang kita tahu, sebuah data (dalam konteks keilmu pengetahuan)  akan valid saat narasumbernya sendiri diketahui siapa (sederhananya: narasumber itu harus jelas orangnya). Bayangkan saja kita sedang membuat buku ilmiah, skripsi atau thesis, tidak mungkin kan kita pakai data yang dipaparkan oleh sumber yang tidak jelas orangnya? Prinsip-prinsip keilmuan itulah yang harus kita pegang teguh dalam memahami cacatnya akun pseudonim TM2000. 
Kedua, TM2000 sendiri mengandalkan datanya dari sumber lain, yakni yang "katanya" sumber intelejen. Saya juga kurang paham dengan maksud dia dengan "intelejen", namun saya menangkap bahwa ini semacam sekumpulan orang (atau grup) pribadi, yang juga termasuk dalam tim TM2000 yang bertugas mencari informasi dilapangan. Namun sekali lagi, TM2000 juga tidak pernah membeberkan bukti shahih bahwa tim Intel ini eksis di dunia. Singkatnya, tidak ada satupun cara di planet ini untuk membuktikan bahwa Tim Intelejen khusus TM2000 ini benar-benar ada di dunia. Walaupun TM2000 sering berkata bahwa dia punya Tim Intel, namun ini sama saja mempercayai sesuatu hal yang tidak jelas atas suatu hal yang tidak jelas pula: jadi yah semacam tertipu dua kali jika anda salah satu fans nya. 
Ketiga, dalam membeberkan apa yang disebutnya dengan "fakta", TM2000 telah kehilangan akal sehatnya, terutama bila kita melihatnya dari segi hukum. Dalam hukum, fakta atau disebut dengan fakta hukum adalah sebuah kenyataan yang telah melalui proses pengujian data yang bernama pengadilan. Tanpa proses pengadilan, semua bentuk pelanggaran hukum baru sampai pada tahap "dugaan". Masalahnya adalah, belum sampai pengadilan alias masih pada data intel fiktifnya, TM2000 sudah memvonis seseorang melakukan tindak pelanggaran hukum (praduga bersalah). Saya rasa, sebagai seorang yang menjunjung tinggi prinsip keilmuan,, cara berpikir TM2000 merupakan cara berpikir sesat yang justru membodohi orang-orang (alih-alih "pencerahan" seperti yang tertera pada bio nya). 
Ketiga prinsip kesesatan dasar terkait akun TM2000 tersebut diatas adalah dasar dari kekacauan twit-twit dia dari dulu hingga hari ini. Sekarang marilah kita membahas secara spesifik kesesatan pikir TM2000 terkait hubungan Jokowi - Ahok (Jokohok) dengan Prabowo.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pertama, TM2000 mengatakan bahwa Taufik Kiemas pada dasarnya tidak setuju dengan pencalonan Jokowi dengan 2 alasan: 1). Tidak mau PDIP didikte oleh Prabowo. 2). Keislaman Taufik Kiemas kuat. 3). Jokohok alat untuk membesarkan Prabowo dan Gerindra. 4). Takut Jokowi (sebagai kader PDIP) akan lebih loyal ke Gerindra dan Prabowo.

Argumen pertama TM2000 yang mengatakan bahwa Taufik Kiemas pada dasarnya tidak setuju dengan pencalonan Jokowi tidak dapat terbukti. Taufik Kiemas sendiri tidak pernah menyatakan bahwa dia tidak setuju dengan pencalonan Jokowi. Justru yang ada, dalam berbagai pernyataannya di media massa, secara semiotika dia mengisyaratkan mendukung pasangan yang diangkat oleh PDIP, yaitu Jokowi Ahok. Otomatis dengan mentahnya argumen utama ini (Taufik Kiemas tidak setuju Jokowi) maka membuat 4 poin turunan yang merupakan penjelasan dari argumen utama, juga otomatis mental alias tidak valid.

Seandainya pun jika memang Taufik Kiemas menyatakan demikian (yang mana hal tersebut tidak ada buktinya), maka menurut saya, kekhawatiran Taufik Kiemas pun salah total karena, pertama: Dengan diangkatnya Jokowi menjadi cagub DKI yang didukung oleh Gerindra juga, maka hal ini tetap akan menaikkan pamor PDIP. Alasannya adalah sesuai dengan teori polarisasi dalam dunia ilmu politik, seorang figur atau tokoh yang menjadi kader suatu partai akan menaikkan pamor dan elektabilitas partai yang bersangkutan. Dalam kata-kata yang lebih sederhana, selama Jokowi masih menjadi kader PDIP, maka selama itu juga PDIP yang akan diuntungkan oleh figur Jokowi. Sedangkan kekhawatiran Taufik Kiemas bahwa Jokowi selaku kader potensial PDIP akan lebih loyal ke Gerindra meskipun cukup beralasan namun saya melihat sebagai ketakutan yang berlebihan karena Jokowi sendiri mengatakan bahwa dia selalu setia kepada PDIP.

Selanjutnya, Triomacan2000 salah total dalam menjelaskan bahwa populernya Jokowi juga akan menaikkan nama Prabowo Subianto. Dengan berlandaskan pada teori pembentukan pemerintahan Fasisme maka akan dapat kita pahami bahwa bahkan tanpa adanya sosok Jokowi pun, seorang Prabowo akan meningkat popularitasnya. Kenapa? Karena pertama, demokrasi Indonesia sudah menimbulkan kekecewaan Rakyat secara umum yang termanifestasikan dalam tingginya jumlah Golput. Pemilu Nasional 2009, yaitu lebih dari 30% golput (golput: tidak memilih walaupun sudah memiliki hak pilih yang sah). Ditambah lagi tahun 2012, DKI Jakarta, sebagai sebuah wilayah yang menggambarkan keanekaragaman dan ciri Indonesia, mempunyai angka lebih dari 30% golput juga.

Dalam teori pembentukan Fasis, dikatakan bahwa fasisme terbentuk di negara non miskin (bisa negara maju atau negara berkembang) yang didominasi oleh kelas menengah. Fasisme terbentuk karena rakyat negara yang bersangkutan sudah dan telah merasakan bentuk pemerintahan demokrasi, namun kecewa dengan prestasi semasa demokrasi. Kekecewaan ini yang menggiring rakyat kepada bentuk pemerintahan yang lebih otoriter dan lahir lah fasisme. Hal ini, dalam opini saya, sama dengan apa yang terjadi di Indonesia: Demokrasi sejauh ini tidak berhasil meningkatkan kesejahteraan dan rasa aman rakyat. Konflik horizontal dan vertikal dengan begitu gamblangnya dapat rakyat saksikan, bahkan kadang secara live, melalui siaran televisi. Kasus KKN hampir setiap hari dapat kita baca di koran dan internet. Inflasi yang tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan semakin mempersulit kehidupan rakyat. Semua ini berakumulasi selama bertahun-tahun dan menimbulkan rasa skeptisme rakyat. Dari sinilah rakyat Indonesia mulai beralih melirik
pemimpin alternatif yang lebih tegas, lebih tangan besi, lebih mampu menyelesaikan masalah melalui kekuatan penegak hukum (aparat negara)...dan semua itu dimiliki oleh Prabowo Subianto.

Teori tersebut diatas didukung oleh model siklus bentuk pemerintahan Plato yang menyebutkan bahwa dalam kehidupannya, sebuah negara memiliki siklus pemerintahan, dan siklus tersebut menunjukkan bahwa setelah Demokrasi adalah bentuk pemerintahan Tirani. Indonesia sendiri, pernah merasakan demokrasi (gagal) yang pada gilirannya kini adalah masuk ke masa-masa Tirani.

Namun bagaimanapun, kita baru "akan" atau berpotensi "akan" masuk ke lingkungan fasis, kita belum masuk kedalamnya. Jadi sebenarnya masih ada harapan besar untuk tetap berada dalam lingkungan demokrasi. Maka dari itu, seandainya memang Prabowo Subianto identik dengan fasis seperti yang dituduhkan oleh TM2000 (dan marilah kita untuk sementara berasumsi seperti itu), maka tetap tidak perlu ada kekhawatiran bahwa Jokowi lah yang mempromosikan Prabowo. Justru yang mempromosikan Prabowo adalah kegagalan demokrasi kita: partai politik (terutama partai-partai penguasa), parlemen (DPR dan MPR) serta para institusi penegakkan hukum yang telah memamerkan kepada rakyat Indonesia betapa hancurnya demokrasi di negeri ini.

Jadi menurut saya, akun TM2000 ini memang seakan-akan cerdas dalam menghubung-hubungkan antar variabel, namun tidak punya landasan pemikiran ilmiah, baik itu teori ataupun model...hanya reka-reka belaka. Dan maka dari itu, saya merasa sudah tidak ada alasan lagi bagi mereka yang menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan untuk mempercayai dan menjadikan kultwit TM2000 sebagai dasar dalam melakukan hipotesis ataupun landasan dalam melakukan suatu aktivitas.

MW5KBRR2Z98B